Implementasi Program Kegiatan Keagamaan dalam Meningkatkan Karakter Religius Siswa di MTsN 5 Jombang
Full text
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 2, Oktober 2025, Halaman 130-141 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17296443 *Corresponding author Email: [email protected] Implementasi Program Kegiatan Keagamaan dalam Meningkatkan Karakter Religius Siswa di MTsN 5 Jombang Implementation of the Religious Activity Program to Improve the Religious Character of Students at MTsN 5 Jombang Rahmatulloh, Ammar Zainuddin Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam. Pascasarjana Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto A B S T R A K Karakter religius merupakan karakter pertama dan utama yang harus ditanamkan kepada anak sedini mungkin yang menjadi dasar agama dalam kehidupan individu, masyarakat dan bangsa Indonesia. Karakter religius bukan saja terkait dengan hubungan ubudiyah saja tetapi juga menyangkut hubungan antar sesama manusia. Pembiasaan program keagamaan di sekolah memiliki peranan yang sangat penting dalam penanaman pembentukan karakter anak di usia beranjak dewasa, karena sekolah merupakan lembaga formal yang menjadi pondasi awal siswa untuk jenjang setelahnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana implementasi program kegiatan keagamaan khususnya yang ada di MTsN 5 Jombang dalam mengembangkan karakter religius siswa. Jenis dan pendekatan penelitian ini menggunakan kualititif dengan jenis penelitian studi kasus. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan melalui tahap reduksi data, display data, dan verifikasi data serta penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data dilakukan dengan menggunakan metode triangulasi. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa: 1) Bentuk program kegiatan keagamaan di MTsN 5 Jombang diantaranya: tadarus Al-Qur’an dan membaca asmaul khusna, sholat dhuha, menghafal Al-Qur’an, sholat dzuhur berjama’ah di masjid sekolah, , infaq yang dilakukan pada setiap hari jum’at. 2) Implementasi program kegiatan keagamaan dalam mengembangkan karakter religius di MTsN 5 Jombang adalah sebagai berikut: Pertama, kebijakan sekolah di mana dalam hal ini seluruh warga sekolah berpartisipasi dalam semua bentuk kegiatan keagamaan yang diimplementasikan oleh sekolah. Kedua, komitmen warga sekolah yang diwujudkan dengan partisipasi dan kerjasama seluruh warga sekolah yang dipimpin oleh kepala MTsN 5 Jombang. Ketiga, terciptanya suasana religius dengan menetapkan jadwal pelaksanaan program kegiatan keagamaan. A B S T R A C T Religious character is the first and main character that must be instilled in children as early as possible, which becomes the basis of religion in the lives of individuals, society and the Indonesian nation. Religious character is not only related to religious relationships but also to relationships between human beings. Familiarization with religious programs in schools has a very important role in cultivating the character formation of children as they grow older, because schools are formal institutions that are the initial foundation for students at the next level. This research was conducted to find out how the implementation of religious activity programs, especially at MTsN 5 Jombang, develops students' religious character. This type and approach to research uses qualitative research with a case study type. Data collection methods were carried out using interviews, observation and documentation. Data analysis was carried out through the stages of data reduction, data display, data verification and drawing conclusions. The data validity test was carried out using the triangulation method. The results of this research illustrate that: 1) The forms of religious activity programs at MTsN 5 Jombang include: tadarus Al-Qur'an and reading asmaul khusna, dhuha prayers, memorizing the Al-Qur'an, midday prayers in congregation at the school mosque, infaq which is held every Friday. 2) Implementation of the religious activity program in developing religious character at MTsN 5 Jombang is as follows: First, school policy in which all school members participate in all forms of religious activities implemented by the school. Second, the commitment of the school community is realized through the participation and cooperation of all school residents led by the head of MTsN 5 Jombang. Third, creating a religious atmosphere by setting a schedule for implementing religious activity programs. A R T I C L E I N F O Article history: Received September 20, 2025 Revised 25 September 2025 Accepted 25 September 2025 Available online 04 Oktober. 2025 Kata Kunci: Implementasi, Program Kegiatan keagamaan, Karakter religius, Keywords: Implementation, Religious Activity Program, Religious Character This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2023 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 130-141 Socius E-ISSN: 3025-6704 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Karena dengan adanya pendidikan maka manusia mampu mengangkat derajat dan martabat dirinya serta merubah kualitas kehidupannya yang lebih baik. Pendidikan merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap manusia untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Melalui pendidikan pula akhlak manusia dapat terbentuk dengan baik. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Hadits. Hal tersebut dikarenakan di dalamnya terdapat suatu petunjuk sebagai landasan dalam membangun pendidikan yang memiliki akhlak yang terpuji. 1 Dewasa ini, mudah marah dan terprovokasi sehingga berujung pada tawuran antar pelajar atau tawuran antar mahasiswa merupakan problem remaja terutama pelajar dan mahasiswa, seperti yang seringkali diberitakan di televisi dan media cetak. Mahasiswa dan pelajar terlibat dalam penyalahgunaan obatan-obatan terlarang, seperti narkoba dengan berbagai jenisnya. Dan adanya perilaku penyimpangan sosial yang mereka lakukan dalam bentuk pergaulan bebas (free sex, aborsi, homoseksual, lesbian dan lainlain). Kurangnya rasa hormat kepada orang tuanya, guru (dosen), orang lebih tua dan tokoh masyarakat. Kondisi split personality (kepribadian yang pecah, tidak utuh) merupakan gambaran ilustras sosok anak bangsa masa kini. 2 Adanya krisis moral, akhlak (karakter), yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan pendidikan. Kerusakan individu-individu masyarakat yang terjadi secara kolektif sehingga menjadi budaya merupakan penyebab adanya krisis karakter yang dialami bangsa ini. Adanya arus globalisasi yang kurang difilter juga merupakan penyebab degradasi moral dan akhlak yang kurang sopan. Dengan begitu, program kegiatan keagamaan maupun proses pembelajaran merupakan salah satu alternatif pemecahan masalahnya. Ketika praktik pendidikan hanya fokus pada kognitif saja dan abai terhadap pembinaan aspek afektif dan konaktif-volitif, yakni keinginan dan tekad untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama, maka disitulah kegalagan dalam pendidikan. 3 Salah satu usaha dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan adanya pendidikan karakter. Pendidikan karakter yang memadukan antara kegiatan pendidikan informal di lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di lingkungan sekolah. Maka, dalam pembentukan karakter peserta didik, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan sebagai upaya peningkatan mutu hasil belajar dan pendidikan karakter dapat dicapai. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 menjelaskan tentang sistem Pendidikan Nasional, bahwa : Fungsi pendidikan nasional yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 4 Dengan pelaksanaan pendidikan agama Islam disekolah membuat lembaga pendidikan harus mempunyai strategi dalam menetralisir perkembangan globalisasi yang pesat ini dalam dunia pendidikan. Maka dari itu, lembaga pendidikan juga mempunyai kebijakan progam atau rencana kegiatan dalam menghadapi perkembangan globalisasi tersebut dan dapat menimbulkan karakter religius. Kegiatan keagamaan tersebut diharapkan mampu membentuk siswa mempunyai nilai-nilai religius yang dapat diterapkan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Nilai religius adalah nilai-nilai yang bersumber dari ajaran agama. Nilai-nilai ini mencakup keyakinan, kepercayaan, dan perilaku yang sesuai dengan ajaran agama. Nilai religius penting untuk ditanamkan dalam diri setiap individu, karena dapat menjadi dasar bagi pembentukan karakter yang baik. Adanya kegiatan program keagamaan merupakan salah satu upaya membentuk siswa berperilaku religius. Program keagamaan dapat diimplementasikan melalui berbagai kegiatan, seperti: • Kegiatan ibadah dan ritual keagamaan, seperti shalat, puasa, haji, dan ibadah lainnya. • Kegiatan pendidikan agama, seperti pengajian, ceramah, dan kegiatan belajar mengajar di sekolah. • Kegiatan sosial dan kemasyarakatan, seperti bakti sosial, santunan, dan kegiatan lainnya yang bertujuan untuk membantu sesama Di MTsN 5 Jombang terdapat keunggulan diantaranya adalah sholat duhur berjama’ah, Sholat dhuha berjamaah, sholat ashar berjamaah, sholat jum’at berjamaah , setiap siswa apabila ketemu dianjurkan 1 Zulkipli Nasution, Konsep Pendidikan Akhlak Dalam Al-Qur’an untuk membangun karakter peserta didik, Jurnal Pendidikan dan Keislaman, Vol.II, No. 1, (Medan: FTIK, UIN Sumatera Utara, 2019), 51-52 2 Agus Zaenul Fitri, Pendidikan Karakter berbasis Nilai dan etika di sekolah, (Yogyakarta: ArRuzz Media, 2012), 10 3 Muhaimin, Rekontruksi Pendidikan Islam: Dari Paradigma Pengembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), 182. 4 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 131-140 Rahmatulloh, et., al / Implementasi Program Kegiatan mengucapkan salam, bata tulis Al Qur’an (BTQ), hafalan juz 30, pembelajaran kitab ta’lim, dan setiap kegiatan agama atau hari besar Islam siswa berpakaian muslim, adanya doa bersama setiap bulan, ekstrakurikuler BDI (Badan Dakwah Islam) dan istighosah serta adanya kegiatan yang khusus guru. Dan diantara program keunggulannya di MTsN 5 Jombang yaitu membaca asmaul husna bersama-sama selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Namun ketika peneliti observasi awal di MTsN 5 Jombang, bahwasannya masih ditemukannya siswa yang membeli jajan di kantin sekolah ketika adzan sudah dikumandangkan, tidak mengikuti kegiatan dengan membuat sepenuh hati. Kesadarannya dari masingmasing siswa masih minim, dan ajakan dari tenaga pendidik maupun warga sekolah belum bisa memberikan contoh teladan kepada siswanya untuk semua siswa dalam berjama’ah. Padahal sesuatu harus didasari dengan sikap teladan dari warga sekolah. Dari permasalahan disekolah yang ditemui bahwasannya peran dari lembaga sangat penting mengatasi permasalahan disekolah tersebut. Salah satunya merencanakan program kegiatan keagamaan. Kegiatan keagamaan merupakan progam kegiatan keagamaan diartikan sebagai suatu usaha mempertahankan, melestarikan dan menyempurnakan umat manusia agar mereka tetap beriman kepada Allah SWT dengan menjalankan syariat Islam sehingga mereka menjadi manusia yang hidup bahagia di dunia dan akhirat. 5 Maka dari itu, kegiatan keagamaan di lembaga pendidikan dengan tujuan untuk internalisasi karakter religius siswa, memberikan inspirasi, motivasi dan stimulasi agar potensi remaja berkembang dan diaktifkan secara maksimal, menambah ilmu pengetahuan Agama Islam dan menjalin silaturahmi. Implementasi karakter religius dalam kegiatan keagamaan diatas dengan tujuan memberikan pemahaman tentang agama kepada para siswa, terutama tanggung jawab manusia sebagai pemimpin yang harus arif dan bijaksana, selain itu juga mereka diharapkan memiliki pemahaman Islam yang inklusif tidak ekstrim yang menyebabkan Islam menjadi agama eksklusif. 6 Faktor utama dalam implementasi nilai-nilai karakter religius dalam kegiatan keagamaan ini harus mendapat dukungan oleh berbagai pihak sekolah, terutama yang ada disekolah seperti kepala sekolah, tenaga pendidik, guru mata pelajaran agama, guru bidang studi lain, staff dan pegawai. Sebagai keteladanan ini akan menjadikan contoh bagi siswa untuk giat dalam melaksanakan kegiatan keagamaan dan untuk membentuk pribadi siswa memiliki kepribadian yang tangguh, mempunyai kedisiplinan yang tinggi. Dengan begitu kebijakan dari sekolah dan dukungan dari semua lingkungan sekolah terutama guru mata pelajaran agama untuk mengembangkan kegiatan agama yang nantinya bisa membiasakan siswa disiplin dalam kegiatan ibadah maupun kegiatan lainnya. Dengan pembiasaan kegiatan keagamaan ini diharapkan hasilnya sebagai mutu lulusan sekolah madrasah dengan lulusan yang berkualitas dan bermutu kelak nantinya akan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Karena dalam pendekatan penelitian inilah yang sesuai dengan kondisi objek yang diteliti. Telah diungkapkan oleh Bogdan dan Taylor tentang metode penelitian yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orangorang dan perilaku yang dapat diamati. 7 Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian studi kasus dengan rancangan studi multi kasus yaitu strategi penelitian yang mengkaji secara rinci lebih dari satu latar, subyek atau tempat penyimpanan dokumen. Studi multi kasus ini dimaksudkan untuk mencoba mengamati dan berupaya mencari kebenaran dari perkembangan dan fenomena yang terjadi pada suatu kelompok atau lembaga atau instansi pendidikan. Dalam hal ini instansi yang menjadi obyek penelitian adalah MTsN 5 Jombang. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian kasus (case study) yang sifat utamanya adalah mempertahankan keutuhan dari subyek. Maka data yang dikumpulkan dalam rangka studi kasus dipelajari sebagai satu keseluruhan yang terintegrasi yang bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan yang mendalam mengenai subjek penelitian yang ada. Dalam penelitin ini menggunakan Purposive sampling. Teknik purposive sampling akan memberikan keluasan bagi peneliti untuk menentukan kapan penggalian informasi dihentikan dan diteruskan. Biasanya hal ini dilakukan dengan menetapkan informan kunci sebagai sumber data, yang kemudian dikembangkan ke informan lainnya dengan teknik snowball sampling. Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data, yang pada awalnya jumlahnya sedikit, lama-lama menjadi besar. Hal ini dilakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit itu tersebut belum mampu memberikan data 5 Asymuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabayat : Al-Ikhlas, 1983), 20 6 Asmaun Sahlan, Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah (Upaya Mengembangkan PAI dari Teori ke Aksi), (Malang : UIN PRESS, 2010), 100 7 Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2002), 4
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 130-141 Socius E-ISSN: 3025-6704 yang memuaskan, maka mencari orang lain lagi yang dapat digunakan sebagai sumber data. Dalam penelitian ini yang menjadi informan kunci (key informan) atau informan utama yaitu siswa, kepala sekolah, waka kurikulum, dan guru PAI. Analisa data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang telah diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi sehingga mudah untuk dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis yang dimaksud merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang persoalan yang diteliti dan menyajikan temuan lapangan bagi orang lain yang akan membaca. HASIL Bentuk Kegiatan Program Keagamaan di MTsN 5 Jombang Kegiatan program keagamaan merupakan salah satu bentuk dari budaya religius baik yang dilakukan secara harian maupun rutinan dan ada pula yang berbentuk aktivitas sehari-hari. Kegiatan keagamaan juga merupakan suatu program yang dikembangkan oleh suatu lembaga sekolah untuk mengembangkan karakter religius dan tanggung jawab sosial yang ada pada diri siswa. Setelah dilakukan penelitian, maka dapat diketahui bahwa kegiatan keagamaan yang ada di MTsN 5 Jombang diantaranya: Pembacaan al Qur’an dan Asmaul Husna sebelum sholat dhuha berjamaah, kegiatan sholat dhuha setiap pagi, kegiatan Sholat dhuhur dan ashar berjamaah, Sholat Jum’at berjama’ah di masjid sekolah, Baca tulis Al Qur’an, Program tahfidz juz 30, Infaq yang dilakukan pada setiap hari jum’at, pembelajaran kitab ta’lim, istighosah, dan kegiatan keagamaan ketika peringatan hari besar Islam. Kegiatan tersebut diprogramkan oleh kepala sekolah sebagai wujud dari praktik kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di MTsN 5 Jombang dalam meningkatkan nilai religius. “Setelah diskusi dengan guru yang ada di MTsN 5 Jombang, kami menerapkan berbagai kegiatan keagamaan yang dapat mengembangkan karakter religius dan tanggung jawab sosial yang ada pada diri siswa, karena seperti yang kita ketahui bahwa sekolah kami kan bernaung kepada Kementrian Agama jadi sebagai kepala madrasah saya mengembangkan konsep kegiatan agama tersebut yang nantinya berguna untuk diri siswa itu sendiri sebagai bekal ilmu pengetahuan agama. Kegiatan keagamaan ini juga sangat bermanfaat baik di lingkungan madrasah ataupun setelah mereka lulus dari madrasah, sedikit banyak mereka memiliki bekal yang mereka pelajari dan mereka biasakan semasa di madrasah. Kegiatan ini tidak akan berjalan dengan baik jika tidak ada kebijakan dari sekolah, komitmen dari warga sekolah, dan juga usaha untuk menciptakan suasana religius itu sendiri.” 8 Sebagaimana juga yang dipaparkan oleh Bapak Zainal Abidin, S.Pd.I selaku wakil kepala madrasah bidang kesiswaan yang menyebutkan bahwa: “MTsN 5 Jombang ini mempunyai program keagamaan yang diantaranya sebelum proses belajar mengajar dimulai siswa dibiasakan terlebih dahulu untuk berdoa bersama, membaca asmaul husna, kemudian dilanjutkan dengan siswa melaksanakan sholat dhuha, kegiatan Baca tulis Al Quran dan setoran hafalan juz 30 di akhir pekan, kemudian untuk belajar kitab juga di ajarkan kitab ta’lim muta’allim. Ketika siang siswa melaksanakan sholat dzuhur secara berjama’ah. Selain yang saya sebutkan tadi, ada satu kegiatan yang bisa mengajarkan siswa untuk belajar berbagi dengan menyisihkan uang jajannya setiap satu kali dalam satu minggu yaitu infaq yang dilakukan setiap hari jum’at” 9 Berdasarkan hasil observasi, dokumentasi, dan diperkuat dengan wawancara yang dilakukan oleh peneliti bersama Kepala Madrasah dan wakil kepala Madrasah bidang kesiswaan MTsN 5 Jombang, dapat disimpulkan bahwa telah disusun beberapa program kegiatan sejak awal dalam mengembangkan karakter religius dan tanggung jawab sosial sejak dini pada diri siswa. Dalam usaha untuk meningkatkan nilai-nilai karakter religius siswa, MTsN 5 Jombang menerapkan beberapa kegiatan keagamaan dengan pembiasaan dalam sholat berjama’ah, kegiatan PHBI, pembelajaran dikelas juga. Dari rangkaian beberapa kegiatan keagamaan diharapkan karakter siswa lebih baik sesuai dengan ajaran agama. Pembiasaan tidak hanya kegiatan wajib saja, namun dalam hal kegiatan lain juga ada yang membangkitkan motivasi dan membersihkan hati. Hal senada juga disampaikan oleh Bapak Riza Andriant Misbach selaku penanggung jawab program kegiatan keagamaan dan juga merupakan guru mapel agama : “Banyak kegiatan keagamaan di sekolah. Strategi dalam pelaksanaannya ini banyak juga mbaak dengan melalui kegiatan-kegiatan seperti halnya dalam sholat dhuha dan sholat duhur berjama’ah. Dengan kesadaran diri melaksanakannya. Hanya saja saya hanya memberikan pembinaan dimana dalam semua bidang keagamaan adanya pembinaan dan arahan dari koordinator guru masing-masing. Dan dengan 8 Harnoto, “wawancara”, (Jombang, 25 Juli 2024). 9 Zainal Abidin, “wawancara”, (Jombang, 25 Juli 2024).
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 131-140 Rahmatulloh, et., al / Implementasi Program Kegiatan melalui ajakan untuk rajin mengikuti kegiatan keagamaan baik dalam kegiatan rutin maupun bulanan maupun ketika peringatan hari besar Islam (PHBI).” 10 Implementasi Program Kegiatan Keagamaan dalam Meningkatkan Karakter Religius di MTsN 5 Jombang Religius menurut Islam adalah melaksanakan segala sesuatu yang telah diperintahkan dan diajarkan dalam syari’at Islam, baik dari tingkah laku, bertutur kata, dan bersikap. Dan semata-mata hal tersebut dilakukannya untuk beribadah kepada Allah SWT. Perintah tersebut mengharuskan bagi setiap muslim untuk selalu berIslam dimanapun tempat dan segala keadaan apapun tanpa tekecuali. Implementasi kegiatan keagamaan di lembaga pendidikan, khususnya di MTsN 5 Jombang ini sudah dirumuskan oleh pihak tataran pengelolaanmadrasah dan kepala madrasah beserta guru bertanggungjawab penuh dalam merumuskan dan melakasanakan kegiatan keagamaan dalam mengembangkan karakter religius dan tanggung jawab sosial. Kegiatan ini juga di dukung penuh oleh seluruh pendidik dan tenaga kependidikan yang ada di Madrasah. Khususnya di MTsN 5 Jombang seorang guru tidak hanya terfokus pada kegiatan proses belajar mengajar di kelas, tetapi juga mengarahkan kepada peserta didiknya dalam bentuk implementasi keagamaan yang diterapkan. Misalnya, para peserta didik diajak mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan dalam sekolah yang sedang dilaksanakan. Diantara kegiatan yang dimaksud adalah : a. Doa bersama dengan membaca Al Qur’an dan Asmaul Husna Do'a bersama dengan membaca Al qur’an dan asmaul khusna serta sholat dhuha berjamaah sebelum memulai proses pembelajaran, manfaat dari kegiatan tersebut untuk melancarkan hafalan juz 30 serta asmaul husna, dan untuk melatih keistiqomahan siswa dalam melaksanakan sholat dhuha di lingkungan sekolah dan harapannya menjadi bisa istiqomah ketika kelak sudah lulus. MTsN 5 Jombang juga melaksanakan kegiatan tadarus Al-Qur’an dan BTQ, disampaikan Ibu Anik Zuroidah, S.Pd selaku penanggung jawab program BTQ di MTsN 5 Jombang sebagai berikut: “Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu kegiatan keagamaan yang ada di madrasah kami untuk melatih pelafalan bacaan Al-Qur’an dan makharijul huruf siswa dengan benar, saya selaku penanggung jawab program kegiatan tidak mengajar sendirian, tetapi juga mengajak guru-guru TPQ yang ada di sekitar Madrasah untuk ikut menjadi pengajar. Dalam pembelajarannya Saya terlebih dahulu membaca kemudian yang saya baca diikuti oleh siswa, dengan begitu mereka bisa mengetahui apakah bacaan mereka sudah benar atau belum benar. Kami segenap guru yang bertanggungjawab penuh kepada siswa, maka dari itu kami berkomitmen segenap warga sekolah terlebih dahulu harus menciptakan suasana religius agar bisa di teladan oleh siswa”. 11 Sebagaimana juga dikatakan oleh Ibu Ima Rakhmahwati, M.Pd.I selaku wali kelas VIII, yang mengatakan bahwa: “Saya selaku wali kelas VIII, kegiatan pembiasaan membaca Al Qur’an dan BTQ ini saya lihat sangat bermanfaat dan berperan penting serta berpengaruh untuk hafalan siswa. Kenapa demikian? Karena ketika siswa siswi belajar Al Qur’an, hal ini terkait dengan program sekolah yang lain juga yaitu hafalan surat-surat yang ada di juz 30, apabila mereka membaca dengan benar dan tau panjang pendeknya serta makhorijul hurufnya bacaan Al-Qur’an, maka akan lebih memudahkan guru dalam menyimak bacaan dan pelafalan AlQur’an mereka. 12 b. Sholat Dhuha Diantara program kegiatan keagamaan yang diterapkan di MTsN 5 Jombang dalam meningkatkan karakter religius dan tanggung jawab sosial siswa adalah sholat dhuha berjama’ah. Berdasarkan observasi yang peneliti temukan bahwasannya kegiatan sholat dhuha ini dilakukan setiap hari selain hari Senin oleh seluruh siswa yang jumlahnya 732 siswa. Hal ini diungkapkan oleh Ibu Dewi Virdaus, S.Ag yang merupakan guru mata pelajaran Fiqih di MTsN 5 Jombang. Ibu dewi yang menyampaikan bahwa: “Sholat dhuha ini amerupakan salah satu kegiatan keagamaan yang wajib laksanakan oleh seluruh siswa-siswa MTsN 5 Jombang setiap hari, kecuali hari senin. Karena setiap hari senin diadakan upacara bendera. Sebelum melaksanakan sholat dhuha siswa terlebih dahulu mengambil air wudhu, sholat dhuha ini dilakukan secara berjamaah setiap hari mulai pukul 07.00 sampai pukul 07.20. Dalam kegiatan sholat dhuha ini, setelah melaksanakan sholat dhuha siswa membaca doa setelah sholat dhuha dan beberapa do’a yang lain secara bersama. Dengan pembiasaan sholat dhuha dan doa sholat dhuha secara bersama, harapan kami seluruh siswa mampu melaksanakan sholat dhuha dengan baik dan hafal beberapa doa untuk mengembangkan karakter religius siswa di dalam lingkungan madrasah dan di masyarakat”. 13 10 Riza Andriant Misbach, “wawancara”, (Jombang, 25 Juli 2024). 11 Anik Zuroidah, “wawancara”, (Jombang, 22 Juli 2024). 12 Ima Rakhmahwati, “wawancara”, (Jombang, 19 Juli 2024). 13 Dewi Virdaus, “wawancara”, (Jombang, 19 Juli 2024).
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 130-141 Socius E-ISSN: 3025-6704 Peneliti juga melakukan wawancara dengan siswa terkait dengan pelaksanaan sholat dhuha di sekolah, adapun siswa kelas IX yang bernama Igna Vantika Aghniningtyas mengatakan bahwa: “Kegiatan Sholat dhuha di MTsN Jombang dilaksanakan setiap hari mulai jam 07.00, setelah sholat dhuha kami membaca doa secara bersama-sama dan dipandu oleh Bapak guru yang menjadi imam sholat dhuha. Saya yang sebelumnya sekolah di SD, dan dalam seminggu kegiatan sholat dhuha dilaksanakan hari jumat saja, merasakan manfaat dari sholat dhuha secara berjamaah ini. Karena di sekolah terbiasa melaksanakan sholat dhuha, ketika libur saya juga melaksanakannya di rumah”. 14 Berdasarkan hasil observasi, dokumentasi, dan diperkuat dengan wawancara maka disimpulkan bahwa sholat dhuha ini menjadi kegiatan keagamaa rutin yang dilaksanakan di MTsN 5 Jombang. Seluruh siswa dan gurunya diwajibkan untuk melaksanakan sholat dhuha berjama’ah. Dari kegiatan ini, siswa akan menyadari kewajibannya untuk sholat. Dan juga guru melakukan penguatan mengenai manfaat sholat dhuha setiap sebelum dan sesudah sholat dhuha bahwasannya kegiatan sholat dhuha ini dapat melancarkan rezeki supaya dapat berbagi kepada sesama agar menumbuhkan jiwa sosial yang tinggi dan kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap hari akan membekas menjadi kebiasaan baik yang diterapkan setiap hari di lingkungan masyarat oleh siswa c. Hafalan Al-Qur’an Juz 30 Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti di sekolah, ditemukan bahwa kegiatan menghafal Al-Qu’an hanya difokuskan pada juz 30. Dari kelas VII sampai kelas IX sudah ada daftar surat-surat yang harus dihafalkan pada tiap-tiap jenjang. 15 Berdasarkan wawancara dengan Ibu Zuliatin Nafisah, S.Ag selaku wakil kepala bidang kurikulum mengatakan bahwa: “Salah satu kegiatan keagaman untuk mengembangkan karakter religius di MTsN 5 Jombang yaitu menghafal Al-Quran yang difokuskan pada juz 30. Kenapa? Karena kami menitik beratkan juz 30 sebagai salah satu syarat lulus dari madrasah ini. Tingkatan hafalan surahnya berbeda setiap jenjang kelas. Kalau di kelas VII menghafalnya dari surah An naas sampai dengan surah Adh dhuha. Sedangkan untuk hafalan kelas VIII dari surah Al lail sampai dengan surah Al buruj, dan hafalan untuk kelas IX mulai surah Al Insyiqaq sampai dengan surah An naba’. 16 Pernyataan ini selaras dengan pernyataan siswa kelas IX bernama Assyifa’un Nurul Mawati, yang menyatakan bahwa: “Kami sudah dikasih tugas untuk menghafal surah-surah tertentu dan diberi batas waktu untuk kami menghafalnya. Dalam satu tahun ada beberapa surah dalam juz 30 yang harus di hafalkan. Nah kami boleh menyetorkan hafalan kami itu sesuai dengan kemampuan kami. Biasanya setiap seminggu sekali ada waktu khusus untuk menyetorkan hafalan, jika tidak hafal satu surat penuh boleh menyetorkan beberapa surat saja”. 17 d. Sholat dzuhur dan ashar berjama’ah Kegiatan sholat dzuhur dan ashar secara berjamaah ini dilaksanakan di Masjid madrasah. Sholat dzuhur dilaksanakan pada saat istirahat kedua dan sholat ashar dilaksanakan setelah pembelajaran selesai, sebelum semua siswa pulang. Sholat dzuhur dan ashar secara berjamaah ini bertujuan untuk menanamkan pembiasaan dan wawasan bahwasannya sholat dzuhur dan ashar itu wajib dan baiknya dilaksanakan di awal waktu secara berjamaah. Hal ini disampaikan oleh wakil kepada madrasah bidang kesiswaan, Bapak Zainal Abidin, S.Pd.I., beliau mengatakan bahwa: “Kegiatan sholat dzuhur dan ashar dilaksanakan ketika adzan berkumandang yang dilakukan secara berjama’ah oleh seluruh warga sekolah. Kegiatan ini diwajibkan sebagaimana hukum sholat itu sendiri, dari kegiatan ini guru dan siswa dapat menerapkan sholat dengan berjama’ah dan diharapkan siswa menjadi sadar betapa pentingnya melaksanakan sholat. Dari kegiatan ini juga, melatih siswa untuk disiplin dan menumbuhkan rasa kesadaran terhadap akhlak yang baik”. 18 Selanjutnya, pernyataan ini juga disampaikan oleh guru mata pelajaran Akidah di MTsN 5 Jombang: “Sholat dzuhur dan ashar ini, kita mengutamakan untuk sholat berjama’ah bersama dengan guruguru, alasannya kegiatan ini menjadi patokan untuk anak supaya mereka sadar sholat fardhu harus dilaksanakan setiap hari, sehingga menjadi kebiasaan yang baik. jadi anak-anak itu sadar ketika bel mereka langusng bergegas tanpa harus diperintah. Mereka terlebih dahulu mengambil air wudhu dan bersiap-siap untuk melaksanakan sholat. Sebelum sholat dilaksanakan, siswa laki-laki mengumandangkan adzan dan 14 Igna Vantika, Siswa kelas IX, “wawancara”, (Jombang, 25 Juli 2024). 15 Observasi di MTsN 5 Jombang, 19 Juli 2024. 16 Zuliatin Nafisah, “wawancara”, (Jombang, 25 Juli 2024). 17 Assyifaun Nuru Mawati, Siswa kelas IX, “wawancara”, (Jombang, 25 Juli 2024). 18 Zainal Abidin, “wawancara”, (Jombang, 25 Juli 2024).
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 131-140 Rahmatulloh, et., al / Implementasi Program Kegiatan yang bertugas menjadi imam adalah guru laki-laki di MTsN 5 Jombang, bergantian setiap hari sesuai jadwal yang telah ditentukan”. 19 Berdasarkan hasil observasi, dokumentasi, dan diperkuat dengan wawancara, dapat disimpulkan bahwa kegiatan sholat dzuhur dan ashar secara berjam’ah ini dapat menimbulkan kesadaran pada diri siswa bahwasannya melaksanakan sholat wajib seperti sholat dzuhur dan ashar ini merupakan tiang agama bagi umat Islam dan dikerjakannya setiap lima kali dalam satu hari di luar sholat sunnah. Sholat juga merupakan rukun islam yang kedua bagi uman Islam. Sholat juga mengajarkan kedisiplinan dan bisa meningkatkan sikap religius siswa di lingkungan sekolah dan masyarakat. e. Infaq pada hari Jum’at Infaq yang laksanakan setiap hari jum’at di MTsN 5 Jombang, hal ini untuk melatih dan membiasakan siswa menyisihkan uang saku mereka untuk berinfaq dengan tujuan untuk menanamkan sifat tanggung jawab sosial bagi siswa. Infaq ini dilakukan seminggu sekali pada hari Jum’at. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibu Dewi Virdaus, A. Ag selaku bendahara Masjid yang ada di Madrasah, beliau mengatakan bahwa: “Salah satu kegaitan keaamaan di sekolah kami adalah infaq mingguan, dimana infaq ini dilakukan satu kali dalam satu minggu, khususnya pada hari jumat. Melalui kegiatan ini, kami para guru secara tidak langsung mengajarkan siswa untuk belajar berbagi kepada sesama”. 20 Sebagaimana yang disampaikan oleh wakil kepala madrasaah bidang kesiswaan, yang mengatakan bahwasannya: “Kami membuat suatu kegiatan keagamaan yang kalau di sekolah ini dikenal dengan infaq mingguan, nah infaq ini dilakukan satu kali dalam satu minggu pada hari jumat, kami mengajarkan siswa untuk berbagi terhadap sesama dan juga siswa dapat menyisihkan sedikit uang jajannya. Uang infaq ini digunakan untuk kegiatan sosial, missal ada musibah/bencana alam seperti: kebakaran, dan juga bantuan ketika ada orang yang meninggal dunia. Serta kegiatan sosial lainnya.” 21 Dari pernyataan yang telah dipaparkan, peneliti mewawancarai siswa kelas IX F yang bernama Alfino Mahardika, mengatakan bahwa: “kami menyisihkan uang 2000 setiap hari jum’at untuk berinfaq, setiap pagi di hari Jum’at, ketua kelas mengabil kotak infaq yang sudah ditandai kelasnya di kantor guru, setelah terkumpul, ketua kelas menyetorkan kotak uang tersebut. Setelah itu kami mengumpulkan uang tersebut kepada Ibu Dewi Virdaus sebagai bendahara Masjid. 22 Berdasarkan hasil observasi, dokumentasi, dan wawancara yang dilakukan peneliti dapat disimpulkan bahwa kegiatan infaq ini merupakan kegiatan yang dapat mengembangkan karakter religius dan pada diri siswa melalui uang 2000 rupiah yang disisihkan oleh siswa pada setiap hari jum’at. dapat membantu orang yang sedang membutuhkan pertolongan pada saat terkena musibah. Dampak Implementasi Program Kegiatan Keagamaan dalam Meningkatkan Karakter Religius Siswa di MTsN 5 Jombang Dampak dari program kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di MTsN 5 Jombang yaitu dapat membantu siswa lebih mudah dalam melakukan sesuatu yang bersifat religius. Dari hasil penelitian yang telah peneliti lakukan diperoleh data mengembangkan karakter religius siswa melalui kegiatan keagamaan memberikan pengaruh banyak hal terhadap karakter religius siswa. Seperti: tingkah laku yang dilakukan siswa di dalam lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Dampaknya juga telah melekat pada diri siswa dan akan diterapkan dimanapun mereka berada. Adapun beberapa dampak dari kegiatan agama ini, dintaranya: 1) akhlak siswa menjadi baik ketika bertemu guru dan orag yang lebih tua, 2) dengan adanya program kegiatan keagamaan dalam mengembangkan karakter religius ini akan tertanam sikap religius siswa ketika di madrasah atau di masyarakat, 3) yang paling terlihat perubahan dalam diri siswa ini adalah kejujuran dari diri siswa contohnya ketika siswa menemukan barang yang bukan hak mereka, siswa tersebut akan langsung bergegas untuk memberitahukan kepada guru untuk diumumkan siapa pemilik barang tersebut. 4) Memiliki keimanan dan ketaqwaan yang semakin mendalam setelah melakukan kegiatan pembeajaran dan juga setelah ditanamkan nilai-nilai religius kepada diri siswa. Dalam meningkatkan karakter religius siswa di MTsN 5 Jombang, diantaranya: meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dan meningkatkan kedisiplinan siswa sebagaimana pernyataan tersebut disampaikan oleh kepala Madrasah, Bapak H. Harnoto, S.Pd yang mengatakan bahwa: “Dampak dari kegiatan keagamaan yang telah diterapkan di MTsN 5 Jombang anak-anak ini, Alhamdulillah berpengaruh sangat baik mba. Terutama berdampak pada diri siswa sendiri, lingkungan 19 Ima Rakhmahwati, “wawancara”, (Jombang, 19 Juli 2024). 20 Dewi Virdaus, “wawancara”, (Jombang, 19 Juli 2024). 21 Mariadi, “wawancara”, (Jombang, 19 Juli 2024). 22 Alfino Mahardika, Siswa kelas VIII, “wawancara”, (Jombang, 25 Juli 2024).
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 130-141 Socius E-ISSN: 3025-6704 sekolah, dan lembanga sekolah, dengan mengembangkan karakter religius ini membawa prestasi dengan baik. hal ini terihat ketika masuk kelas, mereka langsung menyiapkan diri untuk bertadarus Al-Qur’an, mereka mengerti pada saat jadwal sholah dhuha mereka, tidak lupa juga mereka menyetorkan hafalan surah-surah yang ada di juz 30, ketika waktu sholat dzuhur dan ashar mereka segera mengambil wudhu untuk menunaikan sholat dzuhur berjama’ah, dan untuk kegiatan infaq siswa terbiasa untuk menyisihkan sedikit rezekinya pada setiap hari jum’at. Berdasarkan yang saya lihat sebagai kepala madrasah di sini, dampak dari kegiatan keagamaan ini yang sangat menonjol ada tiga poin, yaitu: 1) akhlak siswa yang baik ketika bertemu guru, ketika mereka langsung bersalaman dan mereka tau jika ada orang yang lebih tua mereka tau cara bersikap yang sopan dan santun untuk menghargai orang yang lebih tua. 2) dari kegiatan keagamaan ini juga jiiwa saling tolong menolong siswa terlihat karena kegiatan infaq yang dilakukan setiap hari jum’at. Dan yang 3) dari kegiatan keagamaan ini juga siswa memiliki sifat kejujuran yang sangat baik karena bisa mengetahui yang mana hak dan kewajiban mereka sendiri.” 23 Dampak kegiatan keagamaan dalam meningkatkan karakter religius siswa juga dipaparkan oleh Ibu Zuliatin Nafisah, S.Ag, beliau mengatakan bahwa: “Kalau berbicara mengenai dampak kegiatan keagamaan dalam mengembangkan karakter religius siswa ini sangat baik ya pastinya, ketika karakter religius yang ada pada diri siswa telah berkembang maka anak-anak sudah bisa menjalankan tugas dan kewajibannya sendiri berdasarkan kesadaran dirinya sendiri tanpa adanya paksaan dari luar diri siswa seperti guru. Hal ini juga bisa dikarenakan siswa sudah terbiasa dengan kegiatan keagamaan yang ada di sekolah akhirnya siswa ingat jadwal mereka seperti “Oh, habis ini setoran hafalan” dan seterusnya, selain itu anak-anak sering mengingatkan satu sama lain mengenai giliran imam sholat dzuhur di masjid”. 24 Lebih lanjut mengenai dampak program kegiatan keagamaan dalam meningkatkan karakter religius siswa juga dijelaskan oleh Ibu Ima Rakhmahwati, M.Pd.I selaku guru Akidah Akhlak di MTsN 5 Jombang: “Dampak dari kegiatan keagamaan ini tentunya sangat baik ya dalam berbagai macam aspek kereligiusan dan juga tanggung jawab sosial yang ada pada diri siswa, banyak juga perubahan dari siswanya itu sendiri, seperti lebih sopan terhadap gurunya, baik sama temen-temennya, tidak pelit, mungkin ada satu atau dua yang belum terlihat aspek kereligiusan dan juga tanggung jawab sosial tadi, tapi tidak apa-apa insyaAllah karena anak itu berada di lingkungan yang baik, maka sedikit demi sedikit siswa akan terpengaruh oleh apa yang telah diterapkan oleh temannya”. 25 Dari pernyataan di atas, dampak dari adanya implementasi program kegiatan keagamaan dalam peningkatan karakter reigius siswa adalah siswa lebih disiplin dari sebelumnya, lebih giat dalam beribadah, dan semakin bertambah pengetahuan agamanya. Dampaknya juga ditunjukkan oleh sifat dan perilaku siswa sehari-hari baik dalam bergaul bersama teman sebayanya maupun sikap hormat dan sopan santun terhadap guru atau orang yang lebih tua baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah di kehidupan sehari-hari. Ada empat dampak yang paling menonjol yang terlihat dari diri siswa, yaitu: 1) Akhlak baik siswa kepada guru dan orang yang lebih tua 2) Mempunyai jiwa saling tolong menolong yang tinggi. 3) Memiliki sifat jujur dan disiplin yang tinggi. 4) Memiliki keimanan dan ketaqwaan yang semakin mendalam. Mengenai dampak implementasi kegiatan keagamaan dalam meningkatkan karakter religius siswa diperoleh melalui wawancara dengan Bianda Mumtaza Rahma siswa kelas XI sebagai berikut: “Sekarang kami lebih teratur, soalnya setiap bel kegiatan sholat dhuha, kami langsung menuju ke masjid sekolah untuk mengambil air wudhu, kemudian membaca asmaul husna, doa bersama dan sholat dhuha tanpa harus disuruh sama bapak dan ibu guru, jadi bapak dan ibu guru hanya mengawasi kami saja”. 26 M. Kevin Aldiansyah, siswa kelas IX menambahkan: “Jadi kalua yang saya rasakan dampak kegiatan keagamaan ini memang sangat berpengaruh di kehidupan sehari-hari kami, misalnya kan disekolah ini setiap hari sholat dzuhur dan ashar berjamaah ketika adzan berkumandang, terus pas hari minggu kan kami libur, nah aku tetep sholat dzuhur dan ashar tepat waktu, bahkan setiap adzan menunjukkan jadwal sholat aku langsung menunaikan sholat wajib”. 27 Dari keterangan tersebut dapat dilihat bahwa siswa berusaha untuk semakin disiplin dengan adanya kegiatan keagamaan ini. Tidak hanya dalam kedisiplinan ketika ada guru yang mengawasi saja, tetapi sudah tertanam dalam karakter religius siswa itu sendiri. Selain itu, dampak implementasi program kegiatan keagamaan dalam meningkatkan karakter religius siswa di MTsN 5 Jombang ini adalah 23 Harnoto, “wawancara”, (Jombang, 22 Juli 2024). 24 Zuliatin Nafisah, “wawancara”, (Jombang, 25 Juli 2024). 25 Ima Rakhmahwati, “wawancara”, (Jombang, 22 Juli 2024). 26 Bianda Mumtaza Rahma, Siswa kelas IX, “wawancara”, (Jombang, 25 Juli 2024). 27 M. Kevin Aldiansyah, Siswa kelas IX, “wawancara”, (Jombang, 25 Juli 2024).
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 131-140 Rahmatulloh, et., al / Implementasi Program Kegiatan menumbuhkan kesadaran terhadap siswa untuk saling mengingatkan. Mengenai dampak implementasi program kegiatan keagamaan dalam meningkatkan karakter religius siswa ini disebutkan juga oleh guru wali kelas VII yaitu Syeha Ramadhan, M.Pd. sebagai berikut: “Untuk dampak dari implementasi program kegiatan keagamaan dalam meningkatkan karakter religius siswa secara umum sudah bisa dikatakan berhasil ya, karena bisa kita lihat dari siswa yang terlihat sudah mengikuti tata tertib itu, walaupun awalnya harus ekstra sabar dalam membentuk karakter religius ini sehingga kalau sudah terbentuk maka akan lebih mudah mengembangkannya seperti sekarang ini ya. Memang awalannya siswa mengikutinya dengan keterpaksaan akan tetapi lama kelamaan siswa akan sudah terbiasa. Nah dari yang kita lihat baik sedikit atau banyaknya yang jelas sudah ada perubahan yang postif terhadap diri siswa karena dapat meningkatkan kedisiplinan siswa, pemahaman mereka tentang agama Islam meningkat, dan juga keimaman dan ketaqwaan mereka semakin mendalam terutama dalam mengembangkan karakter religius dan pembiasaan amalan-amalan ibadah”. 28 Dari beberapa pernyataan yang telah disampaikan mengenai dampak kegaitaan keagamaan dalam mengembangkan karakter religius ini sudah berdampak positif bagi diri siswa di MTsN 5 Jombang. PEMBAHASAN Bentuk Kegiatan Program Keagamaan di MTsN 5 Jombang Program kegiatan keagamaan dalam konteks penelitian yang diterapkan di MTsN 5 Jombang adalah yang mencakup seluruh kegiatan yang diprogramkan oleh sekolah untuk siswanya. Dengan kegiatan keagamaan ini secara sadar maupun tidak sadar sudah menjadi tindakan dalam bertingkah laku. Menurut Madjid kegiatan keagamaan mempunyai pengertian seluruh tingkah laku yang terpuji, yang dilakukan demi memperoleh ridho Allah. Dengan kata lain, tingkah laku tersebut membentuk keutuhan manusia dalam kehidupan sehari-hari yang berlandaskan iman kepada Allah, sehingga akan membentuk akhlakul karimah yang menjadi kebiasaan pribadi dalam berperilaku sehari-hari. 29 Program kegiatan keagamaan adalah segala tingkah laku atau usaha terencana dan terkendali yang meliputi perbuatan, perkataan, lahir batin individu yang didasarkan pada norma-norma yang berpangkal pada ajaran-ajaran agama, yang telah menjadi kebiasaan hidup sehari-hari untuk mencapai tujuan yang diinginkan dari pelaksanaan suatu kegiatan, yang mana dalam hal ini adalah penanaman nilai-nilai religius. Adapun bentuk kegiatan keagamaan dalam mengembangkan karakter religius yang ada di MtsN 5 Jombang, diantaranya: 1. Doa bersama dengan membaca Al Qur’an dan Asmaul Husna Tadarus Al-Qur’an atau membaca Al Qur’an mempunyai arti mempelajari bersama-sama. Sehingga tadarus dapat diartikan membaca, membaca bersama-sama, dalam Al-Qur’an. Tadarus menurut bahasa artinya belajar. Istilah ini diartikan dan digunakan dengan pengertian khusus, yaitu membaca Al-Qur’an semata-mata untuk ibadah kepada Allah dan memperoleh pemahaman terhadap ajaran Al-Qur’an. Selain itu tadarus juga berarti membaca, mempelajari, dan mengaktualisasikan kandungan isi Al-Qur’an. Hal itu merupakan ibadah yang sangat mulia di sisi Allah SWT. 30 Tadarus Al-Qur’an ini merupakan salah satu bentuk kegiatan keagamaan yang ada di MTsN 5 Jombang. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi diri siswa karena siswa bisa belajar Al-Qur’an dengan baik, bisa memfasihkan bacaan mereka, dan juga siswa bisa tahu apakah bacaan mereka sudah benar atau belum benar yang akan diperbaiki langsung oleh Bapak/Ibu guru yang mengawasinya. 2. Sholat Dhuha Sholat dhuha adalah suatu sholat yang dilakukan pada pagi hari, yang mana waktu-waktu seseorang sedang sibuk beraktivitas. Namun di sinilah kenikmatan sholat dhuha terasa, karena disibukkan dengan suasana, maka akan mengasyikkan dan nikmat apabila kita sanggup melepaskan hambatan tersebut. Karena sholat dhuha merupakan sholat yang banyak mengandung hikmah dan fadhillahnya. Sehingga seseorang yang mampu melaksanakan sholat dhuha baginya surge dan di dalam-Nya terdapat istanah yang megah, berjiwa dermawan, terhindar dari nafsu duniawi dan sebagainya. 31 Berdasarkan temuan penelitian, bahwa sholat dhuha sudah menjadi kegiatan rutin bagi siswa yang dilakukan pada pukul 07.00 sampai dengan 07.20 WIB. Sholat dhuha merupakan hal yang harus diketahui dan dikerjakan agar memperoleh pengetahuan tentang sholat seja dini pada siswa. Pada kegiatan ini, siswa juga dilatih kesabarannya ketika mengambil air wudhu mereka bergantian secara tertib. Menurut hasil temuan Khoirul Anwar dalam jurnal Ninik Haryani, dkk, disebutkan bahwa kegiatan sholat dhuha merupakan salah satu kegiatan yang dapat dilakukan siswa di sekolah untuk meningkatkan 28 Syaha Ramadhan, “wawancara”, (Jombang, 22 Juli 2024). 29 Fathurrohman, Budaya Religius dalam Peningkatan Mutu Pendidikan: Tinjauan Teoritik dan Praktik Kontekstualisasi Pendidikan Agama di Sekolah, 49. 30 Bramma Aji Putra, Berpuasa Sunnah Senikmat Puasa Ramadhan (Yogyakarta: Wahana Insani, 2010), 99–100 31 Muhammad Makhdlori, Berdhuha Akan Membuat Benar-Benar Sukses dan Kaya, 18 ed. (Jogjakarta: Diva Press, 2014), 26–27