scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Penggunaan Singkatan, Akronim, dan Campuran Kode Bahasa Indonesia di Media Sosial (Use of Abbreviations, Acronyms, and Mixed Indonesian Language Codes On Social Media)

Ahmad Latief Devid Prakoso1, Ahmad Najmal Kusyasi2, Angela Mericia Romaulina Rumapea3, Dian Daniel Castro Sihombing4, George Felix Purba5, Tyara Alini Putri6, Hendra Kurnia Pulungan7

Full text

2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Penggunaan Singkatan, Akronim (Prakoso, et., al) | 63-69 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 8, September 2025, P. 63-69 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17314996 Penggunaan Singkatan, Akronim, dan Campuran Kode Bahasa Indonesia di Media Sosial (Use of Abbreviations, Acronyms, and Mixed Indonesian Language Codes On Social Media) Ahmad Latief Devid Prakoso1, Ahmad Najmal Kusyasi2, Angela Mericia Romaulina Rumapea3, Dian Daniel Castro Sihombing4, George Felix Purba5, Tyara Alini Putri6, Hendra Kurnia Pulungan7 Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Medan, Indonesia Email: devidprakoso.524[email protected]imed.ac.id1, ahmadnajmal.5[email protected].ac.id2, angelar[email protected]imed.ac.id3, dian.5243[email protected].ac.id4, georg[email protected].ac.id5, tyara.52432500[email protected].ac.id6 hend[email protected]7 Abstract This study examines the rapidly growing use of abbreviations, acronyms, and code-mixing in Indonesian on social media. This phenomenon reflects the linguistic creativity of the younger generation, but also poses challenges to the preservation of good and correct Indonesian. This study aims to describe popular forms of abbreviations, acronyms, and code-mixing, analyze their impact on community language patterns, and provide recommendations regarding the wise use of Indonesian in the digital space. This research method is descriptive qualitative with a literature review of various related studies. The results show that abbreviations, acronyms, and code-mixing are not only forms of language efficiency but also symbols of identity, creativity, and social expression. However, excessive use can potentially reduce awareness of standard language. Therefore, education and collective awareness are needed to maintain the function of Indonesian in the digital era. Keywords: Abbreviations, Acronyms, Code Mixing, Social Media, Indonesian. Abstrak Penelitian ini membahas fenomena penggunaan singkatan, akronim, dan campur kode dalam bahasa Indonesia yang berkembang pesat di media sosial. Fenomena ini merefleksikan kreativitas bahasa generasi muda, tetapi juga menimbulkan tantangan bagi kelestarian bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk singkatan, akronim, dan campur kode yang populer, menganalisis dampaknya terhadap pola berbahasa masyarakat, serta memberikan rekomendasi terkait penggunaan bahasa Indonesia yang bijak di ruang digital. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan studi literatur dari berbagai penelitian terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa singkatan, akronim, dan campur kode bukan hanya sebagai bentuk efisiensi bahasa, melainkan juga simbol identitas, kreativitas, dan ekspresi sosial. Namun, penggunaan berlebihan dapat berpotensi mengurangi kesadaran berbahasa baku. Oleh karena itu, dibutuhkan edukasi dan kesadaran kolektif untuk menjaga fungsi bahasa Indonesia di era digital. Kata Kunci: Singkatan, Akronim, Campur Kode, Media Sosial, Bahasa Indonesia. Article Info Received date: 30 August 2025 Revised date: 17 September 2025 Accepted date: 5 Oktober 2025 PENDAHULUAN Bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena menjadi alat utama untuk berkomunikasi, menyampaikan informasi, mengekspresikan ide, serta membangun interaksi sosial. Bahasa Indonesia, sebagai bahasa persatuan, telah mengalami perkembangan seiring dengan dinamika sosial, budaya, dan teknologi. Kehadiran media sosial pada era digital menambah warna baru dalam pola penggunaan bahasa masyarakat. Media sosial bukan hanya 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Penggunaan Singkatan, Akronim (Prakoso, et., al) | 63-69 menjadi sarana hiburan dan interaksi, tetapi juga membentuk tren, gaya bahasa, dan bahkan menggeser pola komunikasi tradisional menuju cara yang lebih instan, kreatif, dan fleksibel (Dewi, 2021). Fenomena yang paling terlihat dalam penggunaan bahasa di media sosial adalah maraknya penggunaan singkatan, akronim, serta praktik campur kode. Masyarakat, khususnya generasi muda, cenderung menggunakan bahasa yang lebih praktis, cepat, dan ringkas. Misalnya penggunaan singkatan seperti “btw” (by the way), “otw” (on the way), “yg” (yang), atau akronim baru yang populer di kalangan warganet seperti “mager” (malas gerak), “gabut” (tidak ada kerjaan), serta “baper” (bawa perasaan). Di sisi lain, penggunaan campur kode—yakni percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa asing (terutama bahasa Inggris)—menjadi fenomena yang sangat lazim. Contohnya “Aku lagi meeting dulu ya, nanti aku update,” atau “Besok kita nongkrong bareng, deal?” (Nasution, 2019). Fenomena ini pada satu sisi memperlihatkan kreativitas linguistik masyarakat di era digital. Namun, di sisi lain, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran terkait berkurangnya kesadaran berbahasa Indonesia secara baik dan benar. Penggunaan singkatan yang tidak sesuai kaidah, akronim yang lahir tanpa mengikuti aturan linguistik, serta percampuran bahasa yang tidak terkendali dapat berpotensi menggeser fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Hal ini sejalan dengan temuan Siregar (2020) yang menegaskan bahwa media sosial berkontribusi besar dalam melahirkan perubahan pola komunikasi, termasuk dalam cara masyarakat menggunakan bahasa sehari-hari. Kajian mengenai pengaruh media sosial terhadap bahasa juga semakin marak dilakukan. Beberapa penelitian terdahulu, seperti yang ditulis dalam artikel *Pengaruh Media Sosial terhadap Perubahan Pola Berbahasa Masyarakat Aceh Singkil*, menunjukkan adanya pergeseran dari bahasa baku menuju bahasa yang lebih populer, ringkas, dan tidak jarang penuh dengan inovasi linguistik (Hidayat, 2020). Penelitian lain, seperti *Pengaruh Media Sosial (Facebook) Terhadap Pola Kebahasaan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun*, menyoroti kecenderungan mahasiswa menggunakan bentuk singkatan dan campur kode dalam interaksi akademik maupun non-akademik (Rahman, 2021). Fenomena ini menarik untuk dikaji lebih dalam karena melibatkan aspek linguistik, sosiolinguistik, bahkan psikolinguistik. Media sosial kini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan generasi muda, khususnya generasi Z yang tumbuh di tengah arus digitalisasi. Mereka terbiasa mengakses informasi dengan cepat, berkomunikasi singkat, dan memanfaatkan berbagai platform digital seperti WhatsApp, Instagram, TikTok, Facebook, hingga Twitter/X. Dalam proses komunikasi itu, bahasa Indonesia bertransformasi: bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media kreativitas dan identitas digital (Putri, 2022). Namun, apakah fenomena ini merupakan bentuk kemajuan bahasa atau justru kemunduran? Pertanyaan ini menjadi titik tolak dari penelitian mengenai penggunaan singkatan, akronim, dan campur kode bahasa Indonesia di media sosial. LANDASAN TEORI Konsep Singkatan dalam Bahasa Indonesia Singkatan merupakan bentuk ringkas dari kata atau gabungan kata yang digunakan untuk mempermudah komunikasi, terutama dalam konteks yang membutuhkan kecepatan dan efisiensi. Dalam bahasa Indonesia, singkatan sering kali muncul di ruang digital, khususnya media sosial. Misalnya, “yg” untuk “yang”, atau “dll” untuk “dan lain-lain”. Penggunaan singkatan di media sosial dapat dipahami sebagai bentuk adaptasi bahasa terhadap media komunikasi yang serba cepat (Nasution, 2021). Di sisi lain, penggunaan singkatan yang berlebihan berpotensi mengaburkan pemahaman dan melemahkan penerapan bahasa baku, khususnya di kalangan pelajar dan remaja (Rohim, 2020). Akronim sebagai Bentuk Kreativitas Bahasa Akronim berbeda dari singkatan karena terbentuk dari huruf awal beberapa kata yang kemudian dirangkai menjadi kata baru. Dalam konteks bahasa Indonesia di media sosial, akronim 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Penggunaan Singkatan, Akronim (Prakoso, et., al) | 63-69 menjadi bagian dari kreativitas pengguna dalam menciptakan identitas linguistik tertentu. Contohnya, “gabut” dari “gaji buta” atau “baper” dari “bawa perasaan”. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya sarana komunikasi, melainkan juga ruang lahirnya inovasi bahasa (Sari, 2020). Meski begitu, penggunaan akronim sering kali dianggap menyebabkan pergeseran norma bahasa formal, karena bahasa baku cenderung ditinggalkan demi kepopuleran bahasa gaul (Putra, 2022). Campur Kode dalam Komunikasi di Media Sosial Fenomena campur kode semakin marak seiring meningkatnya interaksi lintas budaya di media sosial. Pengguna sering mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, dalam percakapan sehari-hari. Misalnya, ungkapan “lagi healing” atau “aku vibesnya happy banget”. Campur kode ini dianggap sebagai cerminan globalisasi bahasa, tetapi sekaligus memunculkan kekhawatiran akan tergerusnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar (Simanjuntak, 2021). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa remaja cenderung menggunakan campur kode sebagai bentuk gaya hidup modern sekaligus identitas sosial (Lestari, 2022). Media Sosial dan Pola Perubahan Bahasa Media sosial menjadi faktor dominan yang mendorong perubahan pola berbahasa masyarakat. Bahasa di ruang digital cenderung fleksibel, ekspresif, dan tidak terikat pada kaidah baku. Perubahan ini tampak dalam meningkatnya penggunaan emotikon, singkatan, akronim, hingga bahasa campur kode (Fadilah, 2021). Pola komunikasi tersebut menunjukkan adanya pergeseran budaya berbahasa dari formal ke nonformal, yang dalam jangka panjang dapat berpengaruh terhadap standar bahasa di masyarakat (Yusuf, 2020). Implikasi Media Sosial terhadap Bahasa Indonesia Implikasi dari penggunaan singkatan, akronim, dan campur kode di media sosial bersifat ganda. Di satu sisi, fenomena ini memperkaya khazanah bahasa Indonesia dengan kosakata baru yang kreatif. Namun di sisi lain, hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap penurunan kualitas penggunaan bahasa baku, terutama dalam ranah akademik dan formal (Wulandari, 2021). Jika tidak ada kesadaran kolektif, bahasa Indonesia berpotensi semakin kehilangan fungsinya sebagai alat komunikasi yang efektif dan terstandar (Rahman, 2022). Oleh karena itu, pemanfaatan media sosial perlu diimbangi dengan literasi bahasa yang baik agar bahasa Indonesia tetap lestari di tengah arus globalisasi digital. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menganalisis fenomena kebahasaan berupa penggunaan singkatan, akronim, dan campur kode di media sosial. Pendekatan ini dipilih karena lebih tepat dalam menjelaskan fenomena sosial dan bahasa yang bersifat dinamis, serta membutuhkan penjelasan yang mendalam mengenai konteks dan makna (Creswell, 2018). Sumber Data Sumber data utama berasal dari dua kategori. Pertama, studi pustaka yang meliputi artikel, jurnal, dan karya ilmiah terkait pengaruh media sosial terhadap bahasa. Kedua, data lapangan virtual berupa teks unggahan, komentar, dan percakapan yang terjadi di media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter. Data dari media sosial ini dipilih karena representatif untuk menggambarkan pola komunikasi generasi digital (Nasution, 2021). Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi dan studi literatur. Dokumentasi dilakukan dengan mencatat bentuk singkatan, akronim, dan campur kode yang ditemukan dalam unggahan media sosial. Sementara studi literatur digunakan untuk memperkuat analisis, dengan mengacu pada penelitian terdahulu yang relevan (Sugiyono, 2019). Teknik Analisis Data Data dianalisis menggunakan analisis isi (content analysis). Proses analisis dilakukan dengan mengkategorikan data berdasarkan jenis fenomena kebahasaan (singkatan, akronim, atau 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Penggunaan Singkatan, Akronim (Prakoso, et., al) | 63-69 campur kode). Setelah itu, dilakukan interpretasi fungsi, konteks penggunaan, dan dampaknya terhadap perkembangan bahasa Indonesia (Krippendorff, 2019). Alasan metode kualitatif deskriptif dipilih adalah karena fenomena penggunaan singkatan, akronim, dan campur kode di media sosial bersifat alami dan lebih tepat dipahami melalui uraian mendalam. Metode ini memungkinkan peneliti menggambarkan variasi bahasa yang muncul tanpa manipulasi data serta menafsirkan makna sosial di balik praktik kebahasaan digital tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Fenomena Singkatan di Media Sosial Penggunaan singkatan dalam komunikasi daring telah menjadi bagian integral dari cara masyarakat berinteraksi di media sosial. Singkatan digunakan untuk mempercepat proses pengetikan, menghemat ruang, serta mengikuti tren kebahasaan yang sedang populer. Misalnya, kata yang sering disingkat menjadi “yg”, karena menjadi “krn”, dan terima kasih menjadi “tq” atau “mksh”. Meskipun singkatan ini awalnya muncul dalam pesan singkat (SMS), namun keberadaannya kini semakin masif di berbagai platform media sosial seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, hingga TikTok (Damanik, 2021). Penggunaan singkatan juga berkaitan erat dengan perkembangan teknologi komunikasi yang serba cepat. Generasi digital, khususnya Generasi Z, lebih menyukai bentuk komunikasi yang singkat, padat, namun tetap mudah dipahami. Hal ini diperkuat oleh penelitian Hasibuan (2020) yang menyatakan bahwa mahasiswa di Aceh Singkil cenderung mengadopsi singkatan untuk menyesuaikan diri dengan pola interaksi yang cepat dan dinamis di media sosial. Dari sisi linguistik, singkatan memberikan tantangan tersendiri. Di satu sisi, singkatan mencerminkan kreativitas berbahasa dan efisiensi komunikasi. Namun, di sisi lain, penggunaan singkatan secara berlebihan dapat mengurangi pemahaman bahasa baku, terutama bagi kalangan anak dan remaja yang masih dalam tahap pembelajaran bahasa (Nurdin, 2021). Akronim sebagai Kreativitas Bahasa Digital Selain singkatan, akronim juga menjadi fenomena penting dalam komunikasi di media sosial. Akronim bukan hanya berfungsi sebagai bentuk kependekan, tetapi juga mencerminkan kreativitas pengguna bahasa dalam membentuk istilah-istilah baru. Misalnya, “OTW” yang berarti on the way, “BTW” yang berarti by the way, serta akronim lokal seperti “gabut” (gaji buta), “mager” (malas gerak), dan “baper” (bawa perasaan). Menurut penelitian Yusuf (2019), akronim berperan sebagai simbol identitas kelompok, terutama di kalangan remaja. Dengan menggunakan akronim tertentu, individu merasa menjadi bagian dari komunitas digital yang memiliki “kode bahasa” tersendiri. Akronim ini juga dapat menjadi bentuk resistensi terhadap bahasa baku yang dianggap kaku, sekaligus menunjukkan dinamika bahasa Indonesia yang adaptif. Namun demikian, akronim juga menimbulkan konsekuensi terhadap pembelajaran bahasa Indonesia. Siswa dan mahasiswa yang terbiasa menggunakan akronim sering kali mengalami kesulitan ketika diminta untuk menulis dengan kaidah bahasa baku. Penelitian Arifin (2021) menegaskan bahwa kebiasaan menggunakan akronim di media sosial berpengaruh pada keterampilan menulis formal, sehingga perlu ada kesadaran untuk membedakan antara bahasa sehari-hari di media sosial dengan bahasa akademik. Campur Kode di Era Globalisasi Campur kode merupakan fenomena lain yang sangat menonjol dalam interaksi bahasa di media sosial. Masyarakat, khususnya generasi muda, sering memadukan bahasa Indonesia dengan bahasa asing seperti Inggris. Contohnya, kalimat “Aku lagi healing nih, soalnya lagi stress banget” atau “Besok meeting dulu, baru lanjut nugas”. Faktor utama yang mendorong campur kode adalah globalisasi informasi dan pengaruh budaya populer. Media sosial memfasilitasi interaksi lintas budaya, sehingga wajar jika bahasa 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Penggunaan Singkatan, Akronim (Prakoso, et., al) | 63-69 Inggris yang dominan di dunia digital memengaruhi cara berbahasa pengguna di Indonesia (Rahman, 2020). Selain itu, penggunaan campur kode dianggap lebih gaul, modern, dan prestisius dibandingkan dengan menggunakan bahasa Indonesia sepenuhnya (Lestari, 2021). Fenomena ini juga tampak dalam penelitian Mulyadi (2021) yang menemukan bahwa siswa SMA sering menggunakan campur kode untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan pertemanan di media sosial. Dengan kata lain, campur kode bukan sekadar fenomena linguistik, tetapi juga berkaitan dengan identitas sosial dan upaya membangun citra diri di ruang digital. Namun demikian, campur kode yang tidak terkendali berpotensi melemahkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa. Jika generasi muda terlalu terbiasa dengan campur kode, mereka bisa saja menganggap bahasa Indonesia baku sebagai bahasa yang ketinggalan zaman. Oleh karena itu, diperlukan literasi bahasa yang baik agar penggunaan campur kode tetap proporsional dan tidak mengikis kemampuan berbahasa Indonesia. Dampak Sosial dan Budaya Fenomena singkatan, akronim, dan campur kode tidak hanya berdampak pada aspek linguistik, tetapi juga pada aspek sosial dan budaya. Dari sisi positif, media sosial telah memberikan ruang kreativitas bagi pengguna bahasa untuk mengekspresikan diri dengan cara yang lebih fleksibel. Bahasa menjadi lebih cair, dinamis, dan mudah menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Misalnya, akronim seperti “baper” atau “mager” yang awalnya hanya populer di kalangan remaja, kini sudah masuk ke dalam percakapan sehari-hari masyarakat luas, bahkan diakui dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dari sisi negatif, terlalu sering menggunakan bahasa nonbaku dapat menurunkan kemampuan berbahasa formal, khususnya dalam konteks akademik dan profesional. Hal ini sesuai dengan temuan Hidayat (2020) yang menunjukkan bahwa kebiasaan menggunakan singkatan dan akronim di media sosial membuat siswa kesulitan menulis esai formal dengan baik. Selain itu, fenomena campur kode juga membawa dampak budaya. Masuknya kosakata asing tanpa filter dapat memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap bahasa nasional. Jika tidak diimbangi dengan kebijakan bahasa yang tepat, dikhawatirkan bahasa Indonesia akan kehilangan perannya sebagai simbol identitas dan pemersatu bangsa (Rahayu, 2022). Tabel Analisis Tambahan Untuk memperjelas pembahasan, berikut adalah tabel berisi contoh penggunaan singkatan, akronim, dan campur kode populer di media sosial: Tabel 1. Contoh Singkatan Populer di Media Sosial Bentuk Singkatan Asli Makna Yg Yang Kata penghubung Krn Karena Penjelasan sebab Tq/mksh Terima kasih Ungkapan apresiasi Smg Semoga Doa/harapan Tabel 2. Contoh Akronim Populer di Media Sosial Akronim Bentuk Asli Makna OTW On the way Sedang dalam perjalanan BTW By the way Ngomong-ngomong Baper Bawa perasaan Terlalu sensitif Mager Malas gerak Enggan melakukan sesuatu 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Penggunaan Singkatan, Akronim (Prakoso, et., al) | 63-69 Tabel 3. Contoh Campur Kode Populer di Media Sosial Kalimat di Media Sosial Kode Campur Makna “Aku lagi healing ini, soalnya stress banget” Healing (Inggris) Liburan/ Penyembuhan “Besok meeting dulu, baru lanjut nugas” Meeting (Inggris) Rapat/ Pertemuan “Fix banget, aku setuju sama dia” Fix (Inggris) Pasti/ Benar-benar “OOTD aku hari ini simpel banget” OOTD (Inggris) Pakaian yang dipakai hari itu SIMPULAN Penggunaan singkatan, akronim, dan campur kode di media sosial telah menjadi fenomena kebahasaan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat digital. Singkatan muncul sebagai bentuk efisiensi komunikasi, akronim menjadi sarana kreativitas dalam membangun identitas komunitas, sedangkan campur kode mencerminkan adanya pengaruh globalisasi dan keterhubungan lintas budaya. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia terus mengalami dinamika dan transformasi, seiring perkembangan teknologi komunikasi. Dampak dari fenomena ini bersifat ganda. Di satu sisi, media sosial mendorong kreativitas berbahasa, memunculkan ekspresi baru, dan memperkaya variasi komunikasi. Namun, di sisi lain, penggunaan berlebihan singkatan, akronim, dan campur kode berpotensi melemahkan penggunaan bahasa baku, menurunkan kesadaran berbahasa formal, serta menimbulkan kesenjangan antar generasi. Oleh karena itu, perlu ada keseimbangan antara kreativitas bahasa di media sosial dan pelestarian bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama dalam konteks akademik, pendidikan, dan komunikasi resmi. Dengan demikian, fenomena kebahasaan di media sosial bukan sekadar bentuk penyimpangan, melainkan cerminan dari perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang sedang berlangsung. Tugas generasi muda dan dunia pendidikan adalah memanfaatkan kreativitas tersebut secara bijak, tanpa mengabaikan pentingnya menjaga kelestarian bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa. REFERENSI Arifin, Z. (2021). Pengaruh Penggunaan Akronim di Media Sosial terhadap Keterampilan Menulis Formal. Jurnal Pendidikan Bahasa, 10(2), 45-60. Creswell, J. W. (2018). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (5th ed.). SAGE Publications. Damanik, R. (2021). Evolusi Singkatan Bahasa Indonesia dari SMS ke Media Sosial. Prosiding Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia, 112-125. Dewi, S. (2021). Dinamika Bahasa di Era Digital: Peran Media Sosial dalam Perubahan Pola Komunikasi. Jurnal Ilmu Komunikasi, 15(1), 33-48. Fadilah, R. (2021). Bahasa Fleksibel di Ruang Digital: Kajian atas Penggunaan Emotikon dan Singkatan. Linguista: Jurnal Ilmiah Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya, 5(2), 88-102. Hasibuan, A. (2020). Adaptasi Bahasa: Penggunaan Singkatan oleh Mahasiswa Aceh Singkil di Media Sosial. Jurnal Socius, 8(1), 77-89. Hidayat, T. (2020). Pengaruh Media Sosial terhadap Perubahan Pola Berbahasa Masyarakat Aceh Singkil. Jurnal Basastra, 9(3), 210-225. Krippendorff, K. (2019). Content Analysis: An Introduction to Its Methodology (4th ed.). SAGE Publications. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Penggunaan Singkatan, Akronim (Prakoso, et., al) | 63-69 Lestari, D. (2021). Campur Kode sebagai Simbol Gaya Hidup Modern dan Identitas Sosial Remaja. Jurnal Psikologi Sosial, 18(2), 155-170. Lestari, D. (2022). Konstruksi Identitas Digital melalui Campur Kode Bahasa pada Generasi Z. Jurnal Studi Pemuda, 11(1), 45-62. Mulyadi, I. (2021). Campur Kode Bahasa Indonesia-Inggris di Kalangan Siswa SMA: Sebuah Studi Sosiolinguistik. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 6(1), 112-128. Nasution, R. (2019). Fenomena Campur Kode dalam Komunikasi Sehari-hari di Media Sosial. Jurnal Literasi Digital, 3(2), 89-104. Nasution, R. (2021). Media Sosial sebagai Ruang Adaptasi Bahasa: Kajian Singkatan dan Akronim. Jurnal Komunikasi Indonesia, 12(3), 201-215. Nurdin, J. (2021). Dampak Penggunaan Singkatan terhadap Pemahaman Bahasa Baku pada Anak dan Remaja. Jurnal Bahasa dan Sastra, 7(2), 134-149. Putra, A. (2022). Pergeseran Norma Bahasa Formal akibat Popularitas Bahasa Gaul di Media Sosial. Jurnal Linguistik Terapan, 9(1), 56-72. Putri, W. (2022). Bahasa Indonesia sebagai Media Kreativitas dan Identitas Digital Generasi Z. Jurnal Kajian Media, 5(2), 178-195. Rahayu, S. (2022). Ancaman terhadap Peran Bahasa Indonesia sebagai Simbol Pemersatu Bangsa di Era Global. Jurnal Kebijakan Bahasa, 4(1), 33-48. Rahman, F. (2020). Pengaruh Globalisasi dan Dominasi Bahasa Inggris terhadap Campur Kode di Media Sosial Indonesia. Jurnal Lingua Cultura, 14(2), 211-220. Rahman, F. (2021). Pengaruh Media Sosial (Facebook) Terhadap Pola Kebahasaan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun. Jurnal Ilmu Budaya, 19(1), 45-60. Rahman, F. (2022). Masa Depan Bahasa Indonesia di Tengah Arus Digital: Antara Kreativitas dan Standardisasi. Jurnal Futura, 8(3), 301-318. Rohim, A. (2020). Dampak Negatif Penggunaan Singkatan Berlebihan terhadap Kemampuan Berbahasa Baku Pelajar. Jurnal Edukasi, 12(4), 567-582. Sari, M. (2020). Media Sosial sebagai Ruang Inovasi Bahasa: Kelahiran Akronim Baru. Jurnal Literasi, 4(1), 22-37. Simanjuntak, B. (2021). Globalisasi Bahasa dan Kekhawatiran akan Tergerusnya Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Jurnal Wacana, 15(2), 144-159. Siregar, I. (2020). Kontribusi Media Sosial dalam Perubahan Pola Komunikasi dan Kebahasaan Masyarakat. Jurnal Komunikasi Global, 7(1), 88-105. Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta. Wulandari, D. (2021). Implikasi Ganda Penggunaan Bahasa Nonbaku di Media Sosial terhadap Ranah Akademik dan Formal. Jurnal Akademika, 10(2), 201-218. Yusuf, M. (2019). Akronim sebagai Simbol Identitas Kelompok dan Komunitas Digital Remaja. Jurnal Sosiologi Dialektika, 14(1), 67-84. Yusuf, M. (2020). Pergeseran Budaya Berbahasa dari Formal ke Nonformal di Media Sosial dan Implikasinya. Jurnal Bahasa dan Budaya, 8(3), 290-305.