scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Implementing Character Education through School Religious Culture: Implications from Bangsal 1 Public Senior High School, Mojokerto

Muhamad Fathullah

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 4, November 2025, P. 335-348 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17678937 *Corresponding Author Email: [email protected] Implementasi dan Implikasi Pendidikan Karakter Berbasis School Religious Culture di Sekolah Menengah atas Negeri 1 Bangsal Mojokerto Implementing Character Education through School Religious Culture: Implications from Bangsal 1 Public Senior High School, Mojokerto Muhamad Fathullah Program Magister Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana Universitas KH Abdul Chalim Mojokerto A B S T R A C T Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi dan implikasi pendidikan karakter berbasis School Religious Culture di SMAN 1 Bangsal Mojokerto. Degradasi moral remaja yang ditandai dengan meningkatnya perilaku menyimpang menuntut pendidikan karakter yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk akhlak melalui keteladanan dan pembiasaan nilai-nilai luhur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi non-partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Keabsahan data diuji dengan triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter berbasis School Religious Culture di SMAN 1 Bangsal meliputi: (1) Penerapan budaya religius yang terstruktur dan berkelanjutan, (2) Integrasi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sekolah, (3) Pembiasaan nilai karakter sejak awal, (4) Peran aktif organisasi keagamaan (UKKI), dan (5) Sikap inklusif dan toleransi terhadap siswa non-Muslim. Adapun implikasi yang teridentifikasi adalah: (1) Pembentukan karakter disiplin, (2) Penguatan karakter religius, (3) Pengembangan karakter tanggung jawab, (4) Tumbuhnya karakter kepemimpinan, dan (5) Pembentukan karakter toleransi. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan School Religious Culture efektif dalam membentuk karakter peserta didik secara menyeluruh dan dapat direplikasi di sekolah lain dengan karakteristik serupa.. A B S T R A C T This study aims to analyze the implementation and implications of character education based on School Religious Culture at SMAN 1 Bangsal Mojokerto. The moral degradation of adolescents marked by increasing deviant behavior demands character education that not only teaches knowledge but also shapes morals through exemplary behavior and habituation of noble values. This research uses a qualitative approach with a case study design. Data collection techniques were conducted through non-participatory observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis used the Miles and Huberman model which includes data reduction, data presentation, and data verification. Data validity was tested using method triangulation. The results show that the implementation of character education based on School Religious Culture at SMAN 1 Bangsal includes: (1) Structured and sustainable implementation of religious culture, (2) Integration of religious values in school life, (3) Habituation of character values from the beginning, (4) Active role of religious organizations (UKKI), and (5) Inclusive attitudes and tolerance towards non-Muslim students. The identified implications are: (1) Formation of disciplinary character, (2) Strengthening of religious character, (3) Development of responsibility character, (4) Growth of leadership character, and (5) Formation of tolerance character. This research confirms that the School Religious Culture approach is effective in shaping students' character holistically and can be replicated in other schools with similar characteristics. PENDAHULUAN Pendidikan karakter merupakan respons strategis terhadap fenomena degradasi moral yang semakin mengkhawatirkan di kalangan remaja Indonesia. Berbagai laporan menunjukkan peningkatan perilaku menyimpang seperti tawuran, perundungan, penyalahgunaan narkoba, dan perilaku seksual pranikah yang mencerminkan krisis nilai moral dalam kehidupan generasi muda A R T I C L E I N F O Article history: Received November 05, 2025 Revised 10 November 2025 Accepted 15 November 2025 Available online 20 November 2025 Keywords Pendidikan Karakter, School Religious Culture, Budaya Religius, Karakter Religius, Toleransi Keywords: Character Education, School Religious Culture, Religious Culture, Religious Character, Tolerance This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 335-348 Socius E-ISSN: 3025-6704 (Subianto, 2013). Kondisi ini menuntut sistem pendidikan yang tidak hanya fokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moral peserta didik secara holistik. Pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmen serius terhadap pendidikan karakter dengan menjadikannya sebagai prioritas kebijakan pendidikan nasional. Hal ini tercermin dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan mulia ini menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter yang utuh dan bermoral. Dalam konteks implementasi pendidikan karakter, sekolah memiliki peran sentral sebagai lembaga formal yang bertanggung jawab membentuk kepribadian peserta didik. Guru sebagai ujung tombak pendidikan tidak hanya bertugas mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga menjadi teladan dalam bersikap dan berperilaku (Suyanto, 2013). Keteladanan ini menjadi sangat penting karena nilai-nilai karakter lebih efektif ditanamkan melalui tindakan nyata daripada sekedar teori. Peserta didik cenderung meniru apa yang mereka lihat dan alami dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah, sehingga konsistensi antara ucapan dan perbuatan guru menjadi kunci keberhasilan pendidikan karakter. Pendidikan karakter yang efektif memerlukan pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan. Lickona (1991) menekankan bahwa pendidikan karakter harus mencakup tiga dimensi: moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral action (tindakan moral). Ketiga dimensi ini harus terintegrasi dalam proses pendidikan sehingga peserta didik tidak hanya memahami nilai-nilai kebaikan secara kognitif, tetapi juga menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan holistik ini memastikan bahwa nilai-nilai karakter benar-benar terinternalisasi dalam diri peserta didik, bukan sekedar hafalan atau pengetahuan verbal yang tidak berdampak pada perilaku. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, pendidikan karakter memiliki tantangan dan keunikan tersendiri. Keberagaman suku, budaya, dan agama menuntut pendekatan pendidikan karakter yang inklusif dan menghargai perbedaan. Nilai-nilai universal seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi, dan kepedulian sosial harus menjadi landasan dalam pendidikan karakter, namun tetap memperhatikan nilai-nilai lokal dan keagamaan yang dianut oleh masyarakat setempat. Pendidikan karakter berbasis nilai religius menjadi salah satu pendekatan yang dianggap efektif dalam membentuk kepribadian peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki fondasi spiritual dan moral yang kuat (Fitrianis, Adha, & Gusmaneli, 2025). Pendidikan karakter berbasis nilai religius tidak berarti mengabaikan aspek pluralisme dan toleransi. Sebaliknya, nilai-nilai agama yang sejati justru mengajarkan penghormatan terhadap perbedaan, kasih sayang terhadap sesama, dan keadilan sosial. Implementasi pendidikan karakter berbasis religius yang inklusif dapat menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis di mana peserta didik dari berbagai latar belakang agama dan budaya dapat belajar bersama dengan saling menghargai dan menghormati. Hal ini sejalan dengan semangat Pancasila yang menjunjung tinggi keberagaman dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa. Salah satu pendekatan inovatif dalam implementasi pendidikan karakter berbasis nilai religius adalah School Religious Culture. Pendekatan ini menekankan pada penciptaan budaya sekolah yang sarat dengan nilai-nilai keagamaan yang diintegrasikan dalam seluruh aspek kehidupan sekolah. School Religious Culture tidak hanya berfokus pada pembelajaran agama Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 335-348 Muhamad Fathullah/ Implementasi dan Implikasi secara formal di kelas, tetapi lebih luas mencakup pembiasaan praktik keagamaan, keteladanan para guru dan tenaga kependidikan, serta penciptaan lingkungan fisik dan sosial yang mendukung pengembangan karakter religius peserta didik. Pendekatan ini dipandang efektif karena melibatkan seluruh komponen sekolah dalam upaya pembentukan karakter secara konsisten dan berkelanjutan. Penelitian tentang pendidikan karakter telah banyak dilakukan dengan berbagai fokus dan pendekatan. Nugroho (2012) membahas pengintegrasian pendidikan karakter ke dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMAN 3 Semarang, dengan fokus pada aspek perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam konteks pembelajaran formal. Abdulloh (2019) menyoroti penguatan pendidikan karakter melalui gerakan literasi sekolah di SMK Negeri 1 Rembang, yang menekankan pada pengembangan budaya membaca sebagai sarana pembentukan karakter. Sementara itu, Atik (2021) membahas pendidikan karakter spiritual berbasis alam di SMK Alam Pujon, yang mengintegrasikan lingkungan alam sebagai media pembelajaran karakter. Berbeda dengan penelitian-penelitian terdahulu yang berfokus pada aspek spesifik seperti integrasi kurikulum, gerakan literasi, atau pendekatan berbasis alam, penelitian ini memberikan perspektif baru dengan mengkaji pendekatan School Religious Culture sebagai strategi komprehensif dalam pembinaan karakter religius di sekolah negeri. Keunikan penelitian ini terletak pada konteksnya yang menerapkan budaya religius secara sistematis dan berkelanjutan di sekolah negeri yang secara alamiah memiliki karakteristik heterogen dalam hal latar belakang keagamaan peserta didik. SMAN 1 Bangsal Mojokerto dipilih sebagai lokus penelitian karena memiliki karakteristik unik sebagai sekolah negeri yang berhasil menerapkan pendekatan School Religious Culture secara efektif. Sekolah ini telah mengembangkan berbagai program pembinaan karakter berbasis nilai religius yang terintegrasi dalam seluruh aspek kehidupan sekolah. Visi sekolah yaitu "Terwujudnya peserta didik yang cerdas, bermoral, dan peduli lingkungan" mencerminkan komitmen sekolah terhadap pendidikan karakter yang holistik. Melalui berbagai kegiatan seperti salat Dhuha berjamaah, istigasah, pembiasaan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun), serta peran aktif Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI), sekolah ini telah menciptakan ekosistem pendidikan yang kondusif bagi pembentukan karakter religius peserta didik. Yang menarik dari SMAN 1 Bangsal adalah pendekatan inklusif yang diterapkan dalam implementasi budaya religiusnya. Meskipun mayoritas peserta didik beragama Islam, sekolah tetap memberikan ruang dan penghargaan kepada peserta didik non-Muslim untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Sikap inklusif ini mencerminkan pemahaman yang matang bahwa pendidikan karakter religius tidak berarti mengabaikan pluralisme, tetapi justru mengajarkan toleransi dan saling menghargai sebagai bagian dari nilai-nilai keagamaan yang sejati. Pendekatan ini sekaligus menjawab tantangan pendidikan karakter di era globalisasi yang menuntut generasi muda untuk mampu hidup bersama dalam keberagaman. Implementasi School Religious Culture di SMAN 1 Bangsal juga melibatkan peran aktif berbagai pihak, tidak hanya guru Pendidikan Agama Islam, tetapi juga seluruh guru mata pelajaran, tenaga kependidikan, organisasi siswa, dan bahkan orang tua. Kolaborasi ini menciptakan sinergi yang kuat dalam upaya pembentukan karakter peserta didik. Organisasi siswa seperti UKKI menjadi wadah bagi peserta didik untuk mengembangkan kepemimpinan, tanggung jawab, dan keterampilan sosial melalui pengelolaan kegiatan keagamaan. Pelibatan berbagai pihak ini memastikan bahwa nilai-nilai karakter tidak hanya diajarkan dalam konteks formal, tetapi juga dipraktikkan dalam berbagai situasi kehidupan sekolah. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 335-348 Socius E-ISSN: 3025-6704 Pentingnya penelitian ini terletak pada urgensi menemukan model pendidikan karakter yang efektif dan dapat diterapkan secara luas di sekolah-sekolah Indonesia. Degradasi moral remaja yang terus meningkat menuntut solusi yang komprehensif dan sistematis. Pendekatan School Religious Culture yang diterapkan di SMAN 1 Bangsal menawarkan alternatif model pendidikan karakter yang tidak hanya teoritis, tetapi telah terbukti efektif dalam praktiknya. Dokumentasi dan analisis mendalam terhadap implementasi pendekatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan teori dan praktik pendidikan karakter di Indonesia. Dari perspektif teoretis, penelitian ini akan mengkaji bagaimana konsepkonsep pendidikan karakter dari para ahli seperti Lickona, Koesoema, Zubaedi, dan lainnya diimplementasikan dalam konteks School Religious Culture. Analisis akan mencakup bagaimana dimensi moral knowing, moral feeling, dan moral action diwujudkan dalam berbagai program dan kegiatan sekolah. Selain itu, penelitian ini juga akan mengeksplorasi bagaimana teori pembelajaran sosial Bandura tentang observational learning termanifestasi dalam keteladanan guru dan pembiasaan nilai-nilai karakter di sekolah. Dari perspektif praktis, penelitian ini akan memberikan gambaran konkret tentang bagaimana School Religious Culture diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan sekolah. Dokumentasi tentang perencanaan program, pelaksanaan kegiatan, evaluasi, dan pemantauan akan memberikan panduan praktis bagi sekolah-sekolah lain yang ingin menerapkan pendekatan serupa. Identifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi juga akan memberikan pembelajaran berharga tentang kondisi dan strategi yang diperlukan untuk keberhasilan program. Penelitian ini juga penting dalam konteks kebijakan pendidikan nasional. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan penguatan pendidikan karakter sebagai salah satu prioritas, termasuk melalui implementasi Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka. Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan berharga tentang bagaimana nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dapat diintegrasikan dengan pendekatan School Religious Culture untuk menghasilkan luaran pendidikan yang optimal. Sinergi antara nilai-nilai universal dalam Profil Pelajar Pancasila dengan nilai-nilai religius dapat memperkuat fondasi karakter generasi muda Indonesia. Dalam konteks globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat, generasi muda menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Paparan terhadap berbagai nilai dan budaya melalui media sosial dan internet membawa pengaruh positif sekaligus negatif. Pendidikan karakter yang kuat menjadi benteng pertahanan bagi peserta didik dalam menghadapi arus informasi yang tidak selalu positif. School Religious Culture yang menanamkan nilai-nilai religius dan moral secara konsisten dapat membantu peserta didik memiliki filter nilai dalam menyikapi berbagai informasi dan pengaruh dari luar. Aspek penting lain yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana School Religious Culture berimplikasi terhadap pembentukan karakter spesifik seperti disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, dan toleransi. Pemahaman tentang hubungan kausal antara implementasi program dengan outcome karakter yang terbentuk akan memberikan justifikasi empiris tentang efektivitas pendekatan ini. Analisis implikasi ini juga akan mengungkap mekanisme psikologis dan sosial yang bekerja dalam proses internalisasi nilai-nilai karakter melalui budaya religius sekolah. Toleransi sebagai salah satu nilai karakter yang dikembangkan dalam School Religious Culture memiliki relevansi yang sangat tinggi dalam konteks Indonesia yang plural. Bagaimana sekolah mengakomodasi keberagaman agama peserta didik sambil tetap menjalankan program Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 335-348 Muhamad Fathullah/ Implementasi dan Implikasi pembinaan karakter berbasis religius menjadi pembelajaran penting tentang implementasi pendidikan multikultural. Pengalaman SMAN 1 Bangsal dalam mengelola keberagaman ini dapat menjadi model bagi sekolah-sekolah lain dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif namun tetap kuat dalam nilai-nilai religius. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini fokus pada dua pertanyaan utama: (1) Bagaimana implementasi pendidikan karakter berbasis School Religious Culture di SMAN 1 Bangsal Mojokerto? (2) Bagaimana implikasi pendidikan karakter berbasis School Religious Culture di SMAN 1 Bangsal Mojokerto? Kedua pertanyaan ini akan dijawab melalui kajian mendalam dengan pendekatan kualitatif yang memungkinkan peneliti menggali secara komprehensif fenomena yang diteliti dalam konteks alamiahnya. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan secara mendalam fenomena implementasi dan implikasi pendidikan karakter berbasis School Religious Culture dalam konteks alamiahnya (Sugiyono, 2015). Desain studi kasus memungkinkan peneliti untuk melakukan eksplorasi mendalam terhadap program, kejadian, proses, aktivitas, dan individu yang terlibat dalam implementasi pendidikan karakter di SMAN 1 Bangsal Mojokerto (Raco, 2010). Lokasi penelitian adalah SMAN 1 Bangsal yang terletak di Desa Peterongan, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Sekolah ini dipilih secara purposif berdasarkan pertimbangan bahwa SMAN 1 Bangsal telah menerapkan pendekatan School Religious Culture secara sistematis dan berkelanjutan, memiliki program-program pembinaan karakter yang terstruktur, serta menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pengembangan karakter religius peserta didik. Data penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi non-partisipatif dan wawancara mendalam dengan informan kunci yang meliputi: (1) Plt. Kepala Sekolah, (2) Wakil Kepala Sekolah bidang Humas, (3) Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, (4) Guru Pendidikan Agama Islam, (5) Pengurus UKKI, dan (6) Peserta didik yang terdiri dari siswa Muslim dan non-Muslim. Pemilihan informan dilakukan secara purposif dengan mempertimbangkan keterlibatan dan pemahaman mereka terhadap implementasi School Religious Culture di sekolah. Data sekunder diperoleh melalui dokumentasi yang meliputi: (1) Dokumen visi, misi, dan tujuan sekolah, (2) Program kerja dan jadwal kegiatan keagamaan, (3) Struktur organisasi UKKI, (4) Peraturan dan tata tertib sekolah, (5) Dokumentasi foto dan video kegiatan, dan (6) Poster dan slogan yang memuat nilai-nilai karakter di lingkungan sekolah. Dokumendokumen ini digunakan untuk melengkapi dan memvalidasi data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) Observasi nonpartisipatif dilakukan untuk mengamati secara langsung praktik pendidikan karakter berbasis School Religious Culture di lingkungan SMAN 1 Bangsal. Aspek yang diobservasi meliputi lingkungan fisik sekolah, pembiasaan religius harian, kegiatan keagamaan rutin, peran guru dan staf, perilaku siswa, keterlibatan UKKI, sikap terhadap siswa non-Muslim, dan kebijakan sekolah. Observasi dilakukan pada bulan Januari hingga Juni 2025. (2) Wawancara mendalam dilakukan untuk menggali informasi yang lebih dalam tentang implementasi dan implikasi School Religious Culture. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah disiapkan namun tetap fleksibel untuk mengeksplorasi Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 335-348 Socius E-ISSN: 3025-6704 informasi baru yang muncul. Wawancara dilakukan pada bulan Maret hingga Juni 2025. (3) Dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan data tertulis dan visual yang berkaitan dengan School Religious Culture. Dokumentasi mencakup pengumpulan dokumen resmi, pengambilan foto, dan perekaman video kegiatan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahap: (1) Reduksi data, yaitu proses pemilihan, penyederhanaan, dan transformasi data mentah yang diperoleh dari lapangan. Pada tahap ini, peneliti memilih data yang relevan dengan fokus penelitian dan membuang data yang tidak perlu. Data yang telah direduksi memberikan gambaran yang lebih jelas dan memudahkan peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya. (2) Penyajian data, yaitu proses mengorganisasikan data yang telah direduksi ke dalam bentuk yang lebih sistematis seperti tabel, bagan, dan narasi deskriptif. Penyajian data memudahkan peneliti untuk memahami pola hubungan antar data dan menarik kesimpulan. (3) Verifikasi data, yaitu proses penarikan kesimpulan berdasarkan data yang telah direduksi dan disajikan. Verifikasi dilakukan secara berkelanjutan selama proses penelitian untuk memastikan kesimpulan yang ditarik didukung oleh data yang kuat dan konsisten (Sugiyono, 2015). Keabsahan data dalam penelitian ini diuji menggunakan teknik triangulasi metode. Triangulasi metode dilakukan dengan menggabungkan tiga teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Melalui triangulasi ini, peneliti dapat membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh dari berbagai sumber dan metode yang berbeda. Jika terdapat konsistensi antara data yang diperoleh dari ketiga metode tersebut, maka data tersebut dianggap valid dan dapat dipercaya (Wijaya, 2018). Prosedur penelitian dilakukan dalam beberapa tahapan: (1) Tahap pralapangan, meliputi penyusunan proposal, konsultasi dengan dosen pembimbing, pengurusan izin penelitian, dan penjajakan lokasi penelitian. (2) Tahap pekerjaan lapangan, meliputi pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pada tahap ini peneliti hadir langsung di lokasi penelitian untuk mengamati dan berinteraksi dengan informan. (3) Tahap analisis data, meliputi reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data sesuai dengan model Miles dan Huberman. (4) Tahap penulisan laporan, meliputi penyusunan laporan hasil penelitian dalam bentuk tesis dan artikel jurnal. Etika penelitian dijaga dengan ketat selama proses penelitian. Peneliti meminta izin resmi dari pihak sekolah sebelum melakukan penelitian. Informan diberi penjelasan tentang tujuan penelitian dan diminta persetujuannya untuk diwawancarai dan datanya digunakan untuk kepentingan penelitian. Identitas informan dijaga kerahasiaannya dengan menggunakan inisial atau sebutan jabatan dalam laporan penelitian. Data yang diperoleh dijaga keamanannya dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis School Religious Culture Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter berbasis School Religious Culture di SMAN 1 Bangsal Mojokerto dilakukan melalui lima strategi utama yang saling terkait dan mendukung satu sama lain. Pertama, penerapan budaya religius yang terstruktur dan berkelanjutan. Budaya religius di SMAN 1 Bangsal dibangun melalui program-program yang dirancang secara sistematis dan dilaksanakan secara konsisten. Kegiatan harian seperti salat Dhuha berjamaah dan istigasah dilakukan setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai. Kegiatan mingguan mencakup salat Jumat berjamaah bagi siswa Muslim. Kegiatan bulanan dan tahunan meliputi peringatan Maulid Nabi, Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 335-348 Muhamad Fathullah/ Implementasi dan Implikasi Isra Mi'raj, pelaksanaan Pondok Ramadhan, dan penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha. Struktur program yang jelas dengan jadwal yang teratur memastikan nilai-nilai religius terus ditanamkan kepada peserta didik secara berkelanjutan (Nuraeni & Labudasari, 2021). Data wawancara dengan Waka Humas menunjukkan bahwa keseluruhan kegiatan keagamaan dirancang untuk mendukung visi sekolah dalam membentuk karakter siswa yang cerdas, bermoral, dan peduli lingkungan. Pendekatan School Religious Culture tidak hanya memperkuat spiritualitas siswa, tetapi juga membentuk karakter yang utuh. Pelibatan aktif guru dan siswa menjadikan nilai-nilai keagamaan lebih membumi dan kontekstual, sehingga pendidikan karakter tidak hanya menjadi wacana tetapi benar-benar terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Temuan ini sejalan dengan teori Lickona (1991) yang menekankan bahwa pendidikan karakter harus mencakup tiga dimensi: moral knowing, moral feeling, dan moral action. Melalui program-program yang terstruktur, siswa tidak hanya mengetahui nilai-nilai kebaikan (moral knowing), tetapi juga menghayatinya (moral feeling) dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari (moral action). Konsistensi dalam pelaksanaan program memungkinkan nilai-nilai religius terinternalisasi secara mendalam dalam diri peserta didik. Kedua, integrasi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sekolah. Nilainilai keagamaan tidak hanya diajarkan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, tetapi diintegrasikan dalam seluruh aspek kehidupan sekolah. Setiap kegiatan sekolah diawali dengan doa bersama. Guru-guru memberikan nasihat spiritual sebelum memulai pembelajaran. Pembiasaan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun) diterapkan dalam interaksi sehari-hari. Bahkan dalam pembelajaran mata pelajaran umum, guru menyisipkan nilai-nilai akhlak mulia dalam konteks materi yang diajarkan. Waka Kurikulum menjelaskan bahwa integrasi nilai-nilai religius dalam kurikulum dan kegiatan pembiasaan harian menjadi bagian dari penguatan Profil Pelajar Pancasila. Meskipun ada pengorbanan waktu belajar karena kegiatan keagamaan, hal ini dianggap sebagai investasi jangka panjang dalam membentuk karakter siswa yang utuh, tidak hanya cerdas akademik tetapi juga memiliki spiritualitas dan moralitas yang kuat. Guru PAI menegaskan bahwa integrasi nilai keagamaan bukan hanya tugas guru agama, tetapi menjadi tanggung jawab semua warga sekolah. Melalui pembiasaan seperti salat Dhuha, istigasah, dan kultum harian, siswa terbiasa dengan nilai-nilai religius. Keteladanan guru sebagai teladan moral yang hidup menjadi sangat penting, karena siswa lebih mudah menerima nilai keagamaan ketika mereka melihat langsung contoh nyata dari guru-guru mereka. Temuan ini memperkuat teori Bandura tentang pembelajaran sosial yang menyatakan bahwa individu belajar melalui observasi, imitasi, dan penguatan (Semiun, 2020). Ketika nilainilai keagamaan tidak hanya diajarkan tetapi juga dipraktikkan secara konsisten oleh seluruh warga sekolah, siswa akan lebih mudah mengadopsi nilai-nilai tersebut melalui proses observational learning. Integrasi nilai keagamaan dalam berbagai aspek kehidupan sekolah menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan karakter religius yang holistik (Mubarok et al., 2022). Ketiga, pembiasaan nilai karakter sejak awal. SMAN 1 Bangsal menerapkan strategi pembentukan karakter sejak hari pertama siswa masuk sekolah. Pada masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), siswa baru tidak hanya diperkenalkan dengan sarana prasarana sekolah, tetapi juga dengan budaya religius sekolah. Mereka langsung dilibatkan dalam kegiatan salat Dhuha, istigasah, pembiasaan 5S, penggunaan bahasa yang santun, dan edukasi menuntun kendaraan ke tempat parkir sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 335-348 Socius E-ISSN: 3025-6704 Waka Humas menekankan bahwa keberhasilan pembentukan karakter sangat bergantung pada konsistensi pembiasaan sejak awal masuk sekolah. Sejak hari pertama, siswa sudah dikenalkan dan dibiasakan dengan budaya karakter yang berbasis nilai-nilai religius. Pembiasaan ini tidak berhenti pada masa MPLS, tetapi terus dilakukan secara berkelanjutan dalam keseharian siswa. Data wawancara dengan guru menunjukkan bahwa pembiasaan nilai religius dilakukan sejak awal siswa masuk sekolah, mulai dari kegiatan orientasi, penguatan akhlak dalam pembelajaran, hingga kegiatan ekstrakurikuler seperti UKKI. Keberlanjutan budaya religius hanya bisa terjadi apabila didukung oleh keteladanan guru, komitmen manajemen sekolah, dan suasana spiritual yang konsisten. Pembentukan karakter melalui budaya religius bukan sekadar hafalan atau teori, tetapi harus dibiasakan dalam tindakan sehari-hari. Pengalaman siswa memperkuat temuan ini. Salah satu siswi menyatakan bahwa sejak awal masuk sekolah, ia langsung dikenalkan dengan kegiatan keagamaan seperti salat Dhuha dan istigasah bersama. Awalnya kegiatan tersebut terasa seperti rutinitas, namun lama kelamaan menjadi kebutuhan dan bagian dari keseharian. Pembiasaan sejak awal masuk sekolah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan karakter dan kedewasaan dalam bersikap. Strategi pembiasaan sejak dini ini sejalan dengan teori Doni Koesoema (2010) yang menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah proses pendampingan sosial yang memungkinkan siswa tumbuh dalam kesadaran dan kebebasan yang bertanggung jawab. Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten sejak awal membantu siswa membentuk pola pikir dan sikap yang sesuai dengan nilai karakter yang diharapkan. Hal ini juga sesuai dengan teori perkembangan moral Kohlberg yang menekankan bahwa pengalaman langsung yang dibarengi dengan pembiasaan positif akan mempercepat proses internalisasi nilai pada individu (Rizki et al., 2022). Keempat, peran aktif organisasi keagamaan (UKKI). Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) memiliki peran strategis dalam mendukung implementasi pendidikan karakter religius di SMAN 1 Bangsal. UKKI tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana kegiatan keagamaan formal, tetapi juga sebagai pusat pengembangan karakter siswa. Kegiatan seperti tilawah, sholawat, pelatihan kepemimpinan, dan pengelolaan masjid memberikan siswa kesempatan untuk membumikan nilai-nilai religius ke dalam praktik nyata. Waka Humas menyatakan bahwa UKKI menjadi ujung tombak dalam pelaksanaan budaya religius di sekolah. Organisasi ini tidak hanya mendukung kegiatan rutin seperti salat Dhuha dan istigasah, tetapi juga menjadi wadah pembinaan karakter siswa melalui pelatihan kepemimpinan, manajemen kegiatan, dan penguatan nilai-nilai keagamaan. UKKI aktif berkolaborasi dengan pihak sekolah dalam menyusun program-program keagamaan yang menyasar seluruh siswa, sehingga nilai religius bukan hanya milik individu tertentu, tapi menjadi budaya kolektif sekolah. Waka Kurikulum menambahkan bahwa UKKI berperan sebagai mitra strategis dalam mendukung penguatan karakter siswa secara non-formal. Kegiatan UKKI berjalan sejalan dengan kurikulum intrakurikuler, terutama dalam membentuk keterampilan sosial, kerja sama tim, dan sikap tanggung jawab. UKKI juga kerap dilibatkan dalam menyelenggarakan acara sekolah bernuansa religius seperti peringatan Maulid Nabi, Isra Miraj, dan Pondok Ramadan. Guru PAI menekankan bahwa UKKI adalah wadah yang sangat penting dalam membumikan nilai-nilai agama di kalangan siswa. Banyak siswa yang awalnya pasif dalam kegiatan keagamaan, mulai aktif dan berinisiatif setelah terlibat dalam UKKI. Dalam UKKI, siswa diajarkan cara menjadi imam salat, memimpin doa, membuat materi kajian, dan mengelola Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 335-348 Muhamad Fathullah/ Implementasi dan Implikasi kegiatan kerohanian. Pembinaan yang dilakukan di UKKI menjadi bagian penting dalam membentuk karakter religius, tangguh, dan bertanggung jawab di kalangan siswa. Pengalaman siswa yang aktif di UKKI menunjukkan dampak positif organisasi ini terhadap pengembangan karakter. Salah satu siswi menyampaikan bahwa keterlibatannya dalam UKKI memberikan banyak pelajaran hidup, seperti mengatur waktu, berbicara di depan umum, dan bekerja sama dalam tim. UKKI menjadi tempat untuk memperdalam nilai-nilai agama, membangun kepercayaan diri, dan mengasah kepemimpinan. UKKI bukan hanya organisasi ekstrakurikuler, melainkan juga keluarga yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan menjadi contoh bagi siswa lain dalam menjaga akhlak dan perilaku. Temuan ini sesuai dengan teori pembelajaran sosial Bandura yang menekankan bahwa keterlibatan dalam UKKI memungkinkan siswa untuk belajar melalui observasi, imitasi, dan pengalaman langsung dalam praktik nilainilai religius (Semiun, 2020). Peran UKKI juga sejalan dengan pendekatan pendidikan karakter oleh Aisyah M. Ali yang menekankan pembinaan secara terorganisir dan berkelanjutan (Ali, 2018). Melalui UKKI, siswa tidak hanya belajar nilai-nilai keislaman, tetapi juga mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, mengelola kegiatan, dan bekerja sama dalam tim. Kelima, sikap inklusif dan toleransi terhadap siswa non-Muslim. Meskipun menerapkan budaya religius yang kuat, SMAN 1 Bangsal tetap menunjukkan sikap inklusif terhadap siswa nonMuslim. Sekolah memberikan ruang dan fasilitas bagi siswa non-Muslim untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Dalam setiap kegiatan keagamaan, siswa non-Muslim tidak dipaksa mengikuti kegiatan keagamaan Islam, tetapi tetap dilibatkan dalam kegiatan pembinaan karakter yang bersifat universal. Waka Humas menegaskan bahwa sikap inklusif merupakan bagian penting dari budaya religius di SMAN 1 Bangsal. Sekolah telah berkomitmen menjadikan lingkungan pendidikan yang ramah dan terbuka bagi semua siswa, termasuk siswa non-Muslim. Dalam setiap kegiatan keagamaan, sekolah selalu menyiapkan ruang khusus bagi siswa non-Muslim untuk menjalankan ibadah sesuai agamanya masing-masing. Kebijakan ini selaras dengan nilai karakter toleransi dan saling menghormati yang terus dikembangkan di lingkungan sekolah. Waka Kurikulum menambahkan bahwa nilai-nilai toleransi sudah menjadi bagian dari perencanaan kurikulum dan kegiatan pembelajaran. Sekolah mengintegrasikan tema keberagaman dan nilai universal kemanusiaan ke dalam mata pelajaran seperti PKN dan Bahasa Indonesia. Dalam kegiatan ekstrakurikuler dan upacara, semua siswa dilibatkan tanpa diskriminasi, dan peran siswa non-Muslim dihargai secara setara. Guru PAI menyatakan bahwa meskipun mayoritas siswa di SMAN 1 Bangsal beragama Islam, pendekatan yang digunakan dalam pendidikan agama Islam tetap menghargai keberadaan siswa non-Muslim. Dalam pengajaran, menghindari diksi atau sikap eksklusif dan mengajak siswa Muslim untuk menjadi teladan dalam menghargai perbedaan. Salah satu bentuk konkret toleransi adalah ketika siswa non-Muslim diberikan kebebasan dan ruang untuk tidak mengikuti kegiatan keagamaan Islam tanpa tekanan, serta tetap dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan sekolah lainnya. Pengalaman siswa non-Muslim mengkonfirmasi sikap inklusif ini. Salah satu siswa nonMuslim menyatakan bahwa ia merasa nyaman dan diterima sepenuhnya di lingkungan sekolah. Ia tidak pernah merasa dikucilkan atau dipaksa mengikuti kegiatan keagamaan yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Ia senang dengan kebijakan sekolah yang memberikan ruang untuk beribadah, terutama saat siswa Muslim melaksanakan kegiatan rutin seperti salat Dhuha atau doa bersama. Pengalaman bersekolah di SMAN 1 Bangsal memperkuat nilai toleransi dalam dirinya. Sikap inklusif dan toleransi ini sejalan dengan teori pendidikan karakter multikultural yang menekankan pentingnya menghargai keberagaman dalam masyarakat plural (Bachrudin &