scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Penerapan Project Based Learning Melalui Pembuatan Video Percakapan untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Siswa Kelas X-3 MA MAI Purwakarta

Risma Diyaul Aulia, Dede Rizal Munir

Full text

2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 3 Penerapan Project Based learning (Risma, et,. al.) | 44-51 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Volume 1, Issue 3, September 2025, P. 44-51 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17264329 Penerapan Project Based Learning Melalui Pembuatan Video Percakapan untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Siswa Kelas X-3 MA MAI Purwakarta Risma Diyaul Aulia, Dede Rizal Munir STAI Dr.KH.EZ.Muttaqien, Indonesia Korespondensi penulis: rismadiy[email protected]m, [email protected] Abstract This research is motivated by the low Arabic speaking skills of students, especially in vocabulary mastery, pronunciation, and courage to communicate. The purpose of this study is to improve students' speaking skills through the application of the Project Based Learning (PjBL) model by making conversation videos. This study uses the Classroom Action Research (CAR) method of the Kemmis & McTaggart model which is implemented in two cycles with the stages of planning, action, observation, and reflection. The subjects of the study were 15 students of class X-3 MA MAI Purwakarta. Data were obtained through speaking skills tests, observation, and documentation, then analyzed descriptively quantitatively. The results showed an increase in the average score of students from 56 in the pre-cycle to 69.67 in the first cycle, and increased again to 75.53 in the second cycle. The percentage of classical completeness also increased from 20% to 40% in the first cycle and 66.67% in the second cycle. The implication of this study is that the application of Project Based Learning through making conversation videos is effective in improving students' speaking skills, motivation, and confidence in using Arabic. Keywords: Arabic speaking skills, Project Based Learning, conversation videos Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan berbicara bahasa Arab siswa, khususnya dalam penguasaan kosakata, pelafalan, dan keberanian untuk berkomunikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa melalui penerapan model Project Based Learning (PjBL) dengan pembuatan video percakapan. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis & McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 15 siswa kelas X-3 MA MAI Purwakarta. Data diperoleh melalui tes keterampilan berbicara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata siswa dari 56 pada pra siklus menjadi 69,67 pada siklus I, dan meningkat lagi menjadi 75,53 pada siklus II. Persentase ketuntasan klasikal juga mengalami peningkatan dari 20% menjadi 40% pada siklus I dan 66,67% pada siklus II. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa penerapan Project Based Learning melalui pembuatan video percakapan efektif untuk meningkatkan keterampilan berbicara, motivasi, serta kepercayaan diri siswa dalam menggunakan bahasa Arab. Kata kunci: keterampilan berbicara bahasa arab, Project Based Learning, video percakapan Article Info Received date: 25 September 2025 Revised date: 27 September 2025 Accepted date: 04 Oktober 2025 PENDAHULUAN Bahasa Arab adalah salah satu bahasa yang memiliki peran penting dalam dunia pendidikan, khususnya di Madrasah Aliyah Swasta (MAS) di mana bahasa Arab dijadikan bagian penting dalam kurikulum. Di antara keterampilan yang harus benar-benar dikuasai siswa adalah keterampilan berbicara. Dengan keterampilan ini, mereka tidak hanya mampu berkomunikasi secara efektif, tetapi juga bisa memahami budaya Arab dengan lebih dekat. Namun, pada kenyataannya masih banyak siswa yang mengalami kesulitan, terutama dalam melafalkan mufradat (kosakata) dengan baik serta menjaga motivasi belajar mereka. Brown (2007) menyebutkan bahwa keterampilan berbicara merupakan kemampuan yang kompleks karena menuntut penguasaan kosakata, tata bahasa, pelafalan, sekaligus keberanian untuk berkomunikasi langsung. 1 Dalam pembelajaran bahasa Arab, pelafalan yang tidak tepat seringkali membuat komunikasi menjadi terhambat. Hal ini sejalan dengan pendapat Harmer (2001) yang 1 H. Douglas. Brown, Principles of Language Learning and Teaching (Pearson Longman, 2007). 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 3 Penerapan Project Based learning (Risma, et,. al.) | 44-51 menekankan bahwa kosakata dan pelafalan yang benar adalah fondasi utama untuk menguasai keterampilan berbicara bahasa asing. 2 Di samping itu, motivasi belajar juga memegang peranan penting dalam keberhasilan siswa. Teori Self-Determination dari Deci dan Ryan (1985) menjelaskan bahwa motivasi intrinsik yakni dorongan belajar yang datang dari dalam diri siswa sangat menentukan kualitas belajar mereka. Siswa yang termotivasi dari dalam dirinya cenderung lebih aktif, lebih kreatif, dan pada akhirnya mampu meraih hasil belajar yang lebih baik. Melihat kenyataan tersebut, tentu diperlukan cara belajar yang lebih menarik dan menyenangkan agar siswa dapat mengembangkan keterampilan berbicara mereka dengan lebih efektif. Salah satu metode yang bisa digunakan adalah proyek pembuatan video percakapan. Metode ini bukan hanya melatih siswa melafalkan mufradat dengan benar, tetapi juga menumbuhkan semangat belajar melalui kegiatan yang seru dan menantang. Dengan membuat video, siswa bisa berlatih berulang kali, memperbaiki kesalahan, serta mengekspresikan diri mereka dengan cara yang kreatif. Iqrail Muhabba dkk. (2023) menemukan bahwa penggunaan media pembelajaran berbasis video dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sekaligus melatih keterampilan berbicara melalui praktik langsung. 3 Senada dengan itu, Lina Husnul Karimah dkk. (2020) menunjukkan bahwa model Project Based Learning, seperti pembuatan video percakapan, terbukti mampu meningkatkan kreativitas siswa sekaligus keterampilan berbicara bahasa Arab. 4 Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan rancangan eksperimen. Penelitian bertujuan untuk mengukur pengaruh penerapan Project Based Learning melalui pembuatan video percakapan terhadap peningkatan keterampilan berbicara bahasa Arab siswa kelas X-3 MA MAI Purwakarta. Data dikumpulkan melalui tes keterampilan berbicara yang diadministrasikan sebelum dan sesudah perlakuan PjBL berupa pembuatan video percakapan. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan uji hipotesis untuk mengetahui sejauh mana metode ini efektif dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa, termasuk aspek pelafalan dan motivasi belajar. KAJIAN TEORITIS Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Keterampilan berbicara merupakan salah satu dari empat keterampilan utama dalam pembelajaran bahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Tarigan mendefinisikan berbicara sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. 5 Richards menambahkan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan untuk menghasilkan ujaran lisan yang bermakna dan dapat dipahami oleh lawan bicara dalam berbagai konteks komunikasi. Dalam pembelajaran bahasa Arab, keterampilan berbicara (maharah al-kalam) memiliki peran penting karena bahasa tidak hanya dipahami sebagai seperangkat aturan tata bahasa, melainkan juga alat komunikasi praktis yang harus digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penguasaan kosakata (mufradat), tata bahasa (qawa‘id), dan pelafalan (makhraj al-huruf) menjadi aspek yang harus benar-benar diperhatikan. Kesalahan dalam penguasaan aspek tersebut akan berdampak pada kurang efektifnya komunikasi. Dengan demikian, keterampilan berbicara menuntut latihan berulang, strategi pembelajaran yang tepat, serta media yang mendukung agar siswa lebih mudah menguasainya. Motivasi Belajar Secara etimologis, motivasi berasal dari kata motif yang berarti daya penggerak di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu demi mencapai tujuan. Sardiman menjelaskan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan semangat belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar, dan memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki dapat tercapai. 6 Dalam teori Self-Determination yang dikembangkan oleh Deci dan Ryan, motivasi dibagi menjadi motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah dorongan belajar yang muncul dari 2 Jeremy Harmer Pearson, The Practice of Nglish Languag Teaching Ftll (n.d.). 3 Iqrail Muhabba, Shaut Al-’Arabiyah Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Berbasis Video Dalam Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Bahasa Arab Peserta Didik Kelas XI MAN 1 Barru, 13, no. 1 (2025), https://doi.org/10.24252/saa.v13i1.39403. 4 Lina Husnul Karimah et al., Juli 2024 44 Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama Kab, 1, no. 2 (2024), https://journal.pcmaarifnubanyumas.org/index.php/harakah/index. 5 Henry Guntur Tarigan, Berbicara; Ssebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, Angkasa, 2019. 6 A Sardiman, “Sardiman, AM 2007. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers,” preprint, Rajawali Press, 2007. 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 3 Penerapan Project Based learning (Risma, et,. al.) | 22-29 dalam diri siswa, misalnya keinginan untuk bisa berbicara bahasa Arab dengan lancar. Sedangkan motivasi ekstrinsik berasal dari faktor luar seperti penghargaan dari guru, nilai yang baik, atau dorongan dari orang tua. Kedua jenis motivasi ini sangat menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari bahasa. Siswa yang memiliki motivasi tinggi cenderung lebih tekun, berani mengambil risiko, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dalam berbicara. Project Based Learning (PjBL) Project Based Learning adalah salah satu model pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan menekankan kegiatan proyek nyata sebagai inti dari proses belajar. Menurut Thomas, PjBL adalah model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja dalam jangka waktu tertentu dalam menghasilkan produk nyata, yang pada akhirnya dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kolaborasi. Larmer dan Mergendoller menjelaskan bahwa PjBL memiliki karakteristik utama, antara lain adanya pertanyaan mendasar (driving question), keterlibatan siswa secara aktif, kegiatan penelitian, penggunaan sumber daya nyata, serta adanya produk akhir yang dipresentasikan. Dalam pembelajaran bahasa, PjBL dapat diimplementasikan melalui berbagai bentuk proyek, salah satunya adalah pembuatan video percakapan. Dengan cara ini, siswa tidak hanya dituntut memahami kosakata dan tata bahasa, tetapi juga terlibat secara langsung dalam praktik komunikasi. Proses pembuatan video menuntut mereka untuk berlatih berulang kali, bekerja sama dengan teman, serta menilai dan memperbaiki kesalahan pengucapan. Hal ini sesuai dengan tujuan pembelajaran bahasa yang menekankan pada keterampilan komunikasi nyata. 7 Media Video dalam Pembelajaran Bahasa Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan sehingga merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan peserta didik dalam kegiatan belajar. Salah satu media yang saat ini banyak digunakan dalam pembelajaran bahasa adalah media video. Mayer menegaskan bahwa penggunaan multimedia seperti video mampu meningkatkan pemahaman siswa karena melibatkan unsur suara, gambar, dan teks secara bersamaan, sehingga informasi lebih mudah diterima dan diingat. Penelitian terbaru juga mendukung efektivitas penggunaan video dalam pembelajaran bahasa. Muhabba dkk. menemukan bahwa media video dapat meningkatkan motivasi belajar dan keterampilan berbicara siswa karena bersifat interaktif serta memungkinkan latihan berulang. Demikian pula, Karimah dkk. menyimpulkan bahwa penerapan PjBL melalui pembuatan video percakapan terbukti mampu meningkatkan kreativitas siswa sekaligus keterampilan berbicara bahasa Arab.Dengan demikian, media video bukan hanya alat bantu, tetapi juga sarana yang dapat membangun suasana belajar lebih menyenangkan, efektif, dan bermakna. METODE PENELITIAN Metode penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis & McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 15 siswa kelas X-3 MA MAI Purwakarta, dengan objek keterampilan berbicara bahasa Arab melalui penerapan Project Based Learning (PjBL) berupa pembuatan video percakapan. Data dikumpulkan melalui tes keterampilan berbicara, observasi, dokumentasi, dan wawancara, dengan instrumen berupa rubrik penilaian kosakata, pelafalan, kelancaran, keberanian, dan ekspresi. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan menghitung nilai rata-rata dan persentase ketuntasan klasikal serta secara deskriptif kualitatif dari hasil observasi. Penelitian dinyatakan berhasil apabila rata-rata nilai siswa minimal mencapai 75, ketuntasan klasikal ≥ 70%, dan terjadi peningkatan motivasi serta keberanian siswa dalam berbicara bahasa Arab. HASIL DAN PEMBAHASAN Pra Siklus Pada tahap pra siklus, kondisi pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Arab (hiwar) masih menunjukkan banyak kelemahan. Ketika guru meminta siswa untuk membaca teks percakapan sederhana, sebagian besar siswa terlihat kurang percaya diri. Ada yang berbicara dengan suara pelan, 7 Syamfa Agny Anggara, “PENERAPAN MODEL PROJECT BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS SISWA,” Arabi : Journal of Arabic Studies 2, no. 2 (2018): 186, https://doi.org/10.24865/ajas.v2i2.57. 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 3 Penerapan Project Based learning (Risma, et,. al.) | 44-51 ada pula yang sering terhenti karena lupa kosakata. Dari segi pelafalan, banyak siswa yang belum mampu membedakan bunyi huruf Arab yang mirip, misalnya anta Selain itu, kosakata yang dimiliki siswa masih sangat terbatas. Hal ini membuat mereka kesulitan ketika diminta mengembangkan dialog di luar teks yang sudah tersedia. Suasana kelas pun cenderung monoton karena pembelajaran masih menggunakan cara konvensional, yakni guru membaca, siswa menirukan, lalu beberapa siswa ditunjuk untuk maju ke depan. Akibatnya, hanya sebagian kecil siswa yang benar-benar terlibat aktif, sedangkan yang lain lebih banyak diam. Dari hasil tes awal keterampilan berbicara, rata-rata nilai siswa adalah 56. Dari 15 siswa yang menjadi subjek penelitian, hanya 3 siswa (20%) yang telah mencapai KKTP, sementara 12 siswa (80%) lainnya belum. Kondisi ini menunjukkan perlunya strategi pembelajaran yang lebih inovatif dan menyenangkan agar siswa lebih termotivasi dan berani berbicara dalam bahasa Arab. 1. Siklus I Pada siklus I, guru mencoba melakukan perbaikan dengan menerapkan modul ajar berbasis media video hiwar. Dalam kegiatan ini, siswa diperlihatkan contoh percakapan sederhana melalui tayangan video. Dengan adanya model visual dan audio tersebut, siswa memperoleh gambaran lebih jelas tentang cara pengucapan, intonasi, dan ekspresi dalam percakapan bahasa Arab. Selama pembelajaran berlangsung, suasana kelas tampak lebih hidup. Siswa lebih tertarik menyimak tayangan video dibanding hanya membaca teks di buku. Beberapa siswa bahkan spontan menirukan percakapan yang ditampilkan. Setelah tayangan selesai, guru meminta siswa berlatih berpasangan. Sebagian besar siswa mampu menirukan dialog, meskipun masih ada yang terbata-bata. Hasil tes di akhir siklus I menunjukkan nilai rata-rata siswa 67. Dari 15 siswa, terdapat 8 orang (53%) yang berhasil mencapai KKTP, sementara 7 orang (47%) belum. Peningkatan ini menegaskan bahwa penggunaan video hiwar efektif dalam menumbuhkan minat dan keterampilan berbicara siswa, meskipun belum semua mencapai target. Refleksi siklus I menunjukkan metode ini berhasil menarik perhatian siswa, tetapi sebagian besar masih cenderung menirukan isi video tanpa mengembangkan percakapan. Oleh karena itu, pada siklus II guru merancang pembelajaran berbasis proyek, yaitu membuat video hiwar sendiri. 2. Siklus II Pada siklus II, guru menerapkan pembelajaran berbasis proyek dengan menggunakan modul ajar yang memandu siswa untuk menyusun dan membuat video hiwar. Siswa dibagi ke dalam kelompok kecil, masing-masing beranggotakan dua orang. Setiap kelompok diminta menyusun naskah percakapan sesuai tema, berlatih, lalu merekam percakapan dalam bentuk video. Proses ini membuat siswa lebih aktif dan antusias. Mereka tampak serius berdiskusi dalam menyusun dialog, ada yang menulis teks, ada yang berlatih pelafalan, dan ada yang merekam. Ketika hasil video ditayangkan di kelas, siswa terlihat bangga dengan hasil kerja mereka. Bahkan siswa yang sebelumnya pasif menjadi lebih berani tampil karena merasa didukung oleh kelompoknya. Hasil tes keterampilan berbicara pada siklus II menunjukkan nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 75,6. Jumlah siswa yang mencapai KKTP juga bertambah menjadi 10 orang (66,7%), sedangkan 5 orang (33,3%) masih belum mencapai KKTP. Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran berbasis proyek melalui pembuatan video hiwar tidak hanya meningkatkan nilai rata-rata, tetapi juga jumlah siswa yang tuntas. Refleksi siklus II menegaskan bahwa strategi ini mampu meningkatkan motivasi, kreativitas, dan rasa percaya diri siswa. Namun, beberapa siswa yang masih lemah dalam penguasaan kosakata dan pelafalan membutuhkan bimbingan tambahan di luar kelas agar dapat menyamai capaian temantemannya. Hasil Tes penguasaan kosa kata pada Siklus I NO Uraian Pencapaian Hasil Hasil 1 Jumlah siswa mendapatkan nilai < 70 7 2 Jumlah siswa mendapatkan nilai ≥ 70 8 3 Rata-rata nilai keterampilan berbicara 67 4 Persentase ketuntasan klasikal 53% Hasil tes keterampilan berbicara bahasa Arab (hiwar) pada tabel di atas dapat dideskripsikan bahwa terdapat 7 siswa yang mendapat nilai kurang dari 70 sebagai batas ketuntasan yang ditetapkan. 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 3 Penerapan Project Based learning (Risma, et,. al.) | 22-29 Sedangkan siswa yang telah mencapai nilai ≥70 berjumlah 8 orang. Dengan demikian, tingkat ketuntasan klasikal pada siklus I sebesar 53%. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berbicara siswa dalam hiwar mulai mengalami peningkatan dibanding kondisi pra siklus. Nilai rata-rata kelas pada siklus I mencapai 67. Namun, secara umum ketuntasan klasikal masih berada di bawah standar yang diharapkan sehingga perlu dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya. Tabel I . Hasil nilai kemampuan penguasaan mufrodat pada siklus 1 X3 MA MAI Purwakarta No Nama Nilai 1 Ahmad bajry 65 2 Farah 67 3 Intan nazwa auliansyah 78 4 Kafa mukhtar rusydi 67 5 Keysha khalilah .S 60 6 Maelani 69 7 Maulana 65 8 Maulana ahmad yusuf 78 9 Muhamad ramdhan 77 10 M. syahid syahril ibrahim 77 11 Pirdaus uj 60 12 Raisya dwi restiawati 68 13 Raka adilla hermawan putra 65 14 Rd.zahratul rosliani. R 70 15 Syeha hanniyah 79 Rata-rata nilai 69,67 Jumlah siswa dengan nilai < 70 9 orang Jumlah siswa dengan nilai ≥ 70 6 orang Ketuntasan klasikal 40% Tabel II Rekap hasil ulangan Bahasa Arab pada Siklus I No Nilai Jumlah siswa Jumlah nilai 1 79 1 79 2 78 2 156 3 77 2 154 4 70 1 70 5 69 1 69 6 68 1 68 7 67 2 134 8 65 3 195 9 60 2 120 jumlah - 15 1045 Nilai rata-rata hasil ulangan siswa adalah 1045 : 15 = 69,67 ≈ 70. Hasil pembelajaran menunjukkan bahwa terdapat 1 siswa (6,67%) yang memperoleh nilai 79, 2 siswa (13,33%) memperoleh nilai 78, 2 siswa (13,33%) memperoleh nilai 77, 1 siswa (6,67%) memperoleh nilai 70, 1 siswa (6,67%) memperoleh nilai 69, 1 siswa (6,67%) memperoleh nilai 68, 2 siswa (13,33%) memperoleh nilai 67, 3 siswa (20,00%) memperoleh nilai 65, dan 2 siswa (13,33%) memperoleh nilai 60. Hasil Tes Keterampilan Berbicara Bahasa Arab pada Siklus II NO Uraian Pencapaian Hasil Hasil 1 Jumlah siswa mendapatkan nilai < 70 5 2 Jumlah siswa mendapatkan nilai ≥ 70 10 3 Rata-rata nilai keterampilan berbicara 75,53 4 Persentase ketuntasan klasikal 66,67% 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 3 Penerapan Project Based learning (Risma, et,. al.) | 44-51 Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa siswa yang belum mencapai nilai minimal sebanyak 5 orang, sedangkan siswa yang telah mencapai batas minimal sebanyak 10 orang. Rata-rata kemampuan berbicara bahasa Arab siswa adalah 75,53 dengan tingkat ketuntasan klasikal 66,67%. Pada Siklus II, pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Arab melalui Project Based Learning (PjBL) dengan pembuatan video percakapan berjalan lebih baik dibandingkan siklus sebelumnya. Siswa terlihat lebih aktif, percaya diri, dan berani mencoba berbicara dalam bahasa Arab. Latihan berulang-ulang dalam kelompok sebelum membuat video membantu siswa memperbaiki pengucapan dan menambah perbendaharaan kosakata. Tabel III Hasil Nilai Kemampuan Berbicara Bahasa Arab pada Siklus II X 3 MA MAI Purwakarta No Nama Nilai 1 Ahmad bajry 65 2 Farah 60 3 Intan nazwa auliansyah 89 4 Kafa mukhtar rusydi 75 5 Keysha khalilah .S 50 6 Maelani 88 7 Maulana 70 8 Maulana ahmad yusuf 88 9 Muhamad ramdhan 85 10 M. syahid syahril ibrahim 85 11 Pirdaus uj 60 12 Raisya dwi restiawati 75 13 Raka adilla hermawan putra 65 14 Rd.zahratul rosliani. R 89 15 Syeha hanniyah 89 Rata-rata nilai 75,53 Jumlah siswa dengan nilai < 70 5 orang Jumlah siswa dengan nilai ≥ 70 10 orang Ketuntasan klasikal 66,67% Tabel 5. Rekap Hasil Ulangan Bahasa Arab pada Siklus II No Nilai Jumlah siswa Jumlah nilai 1 89 3 267 2 88 2 176 3 85 2 170 4 75 2 150 5 70 1 70 6 65 2 130 7 60 2 120 8 50 1 50 jumlah - 15 1133 Nilai rata-rata pada siklus II adalah 1133 : 15 = 75,53 ≈ 76. Hasil pembelajaran pada siklus II menunjukkan bahwa terdapat 3 siswa (20,00%) yang memperoleh nilai 89, 2 siswa (13,33%) memperoleh nilai 88, 2 siswa (13,33%) memperoleh nilai 85, 2 siswa (13,33%) memperoleh nilai 75, 1 siswa (6,67%) memperoleh nilai 70, 2 siswa (13,33%) memperoleh nilai 65, 2 siswa (13,33%) memperoleh nilai 60, dan 1 siswa (6,67%) memperoleh nilai 50. 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 3 Penerapan Project Based learning (Risma, et,. al.) | 22-29 PEMBAHASAN Data yang diperoleh dalam penelitian ini berasal dari observasi aktivitas guru dan siswa serta tes keterampilan berbicara bahasa Arab. Data tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif untuk menggambarkan nilai hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung serta perkembangan kemampuan berbicara siswa setelah diterapkan model Project Based Learning melalui pembuatan video percakapan. Teknik analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk menyajikan data hasil tes berbicara siswa berupa ulangan harian keterampilan berbicara bahasa Arab. a. Analisis Data Kuantitatif Menurut Iskandar, analisis kuantitatif merupakan penelitian yang dilakukan untuk memperoleh jawaban dari suatu permasalahan atau gambaran umum tentang suatu fenomena yang dilandasi teori, asumsi, atau pandangan tertentu. Dalam konteks penelitian ini, analisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui perkembangan keterampilan berbicara siswa melalui data hasil tes pada setiap siklus. Analisis statistik deskriptif dilakukan dengan cara pencatatan, penyusunan, penyajian, dan peringkasan data hasil pengamatan sehingga dapat digambarkan perkembangan hasil belajar siswa dari pra siklus, siklus I, hingga siklus II. b. Analisis Ketuntasan Klasikal Persentase ketuntasan klasikal dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: KK=JSTJS×100%KK = \frac{JST}{JS} \times 100\%KK=JSJST×100% Keterangan: • KK : Persentase ketuntasan klasikal • JST : Jumlah siswa yang tuntas (nilai ≥ 70) • JS : Jumlah siswa keseluruhan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pra siklus ketuntasan hanya mencapai 20%, pada siklus I meningkat menjadi 40%, dan pada siklus II kembali meningkat menjadi 66,67%. Dengan demikian, terjadi peningkatan persentase ketuntasan klasikal pada setiap siklus meskipun belum mencapai 100%. c. Analisis Rata-rata Hasil Belajar Peningkatan hasil belajar siswa juga terlihat dari rata-rata nilai. Pada pra siklus, rata-rata nilai siswa hanya 56, kemudian meningkat pada siklus I menjadi 69,67, dan kembali meningkat pada siklus II menjadi 75,53. Peningkatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan model Project Based Learning melalui pembuatan video percakapan memberikan pengaruh positif terhadap keterampilan berbicara siswa. d. Analisis Aspek Keterampilan Berbicara Penilaian hasil belajar siswa dalam keterampilan berbicara mencakup tiga aspek, yaitu: 1. Aspek kognitif, yang meliputi penguasaan kosakata dan struktur kalimat. 2. Aspek afektif, yang meliputi sikap percaya diri, keberanian, serta partisipasi aktif dalam kelompok. 3. Aspek psikomotorik, yang meliputi pelafalan, intonasi, serta kelancaran berbicara. Berdasarkan hasil observasi, ketiga aspek ini menunjukkan perkembangan yang lebih baik dari pra siklus ke siklus I, dan semakin meningkat pada siklus II. Hal ini membuktikan bahwa penerapan Project Based Learning melalui pembuatan video percakapan efektif dalam meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab siswa. SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Project Based Learning melalui pembuatan video percakapan dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab siswa kelas X-3 MA MAI Purwakarta. Peningkatan terlihat dari rata-rata nilai yang semula 56 pada pra siklus menjadi 69,67 pada siklus I dan 75,53 pada siklus II, serta ketuntasan klasikal yang naik dari 20% menjadi 66,67%. Hal ini membuktikan bahwa model pembelajaran berbasis proyek tidak hanya mampu meningkatkan aspek kognitif siswa, tetapi juga memberikan dampak positif pada motivasi, kepercayaan diri, dan kreativitas mereka dalam berbicara bahasa Arab. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah subjek yang relatif kecil sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasikan dengan variasi tema percakapan yang lebih beragam, serta memberikan pendampingan tambahan kepada siswa yang masih mengalami kesulitan. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan melibatkan jumlah siswa yang lebih banyak dan 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 3 Penerapan Project Based learning (Risma, et,. al.) | 44-51 mempertimbangkan penggunaan media pendukung lain agar hasil yang diperoleh semakin komprehensif. REFERENSI Alfiyanti, R., & Hidayah, N. (2021). Penerapan model Project Based Learning untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab. https://doi.org/10.18860/jpba.v12i2.12045 Amalia, L., & Suryana, T. (2022). Pengaruh media video interaktif terhadap peningkatan kemampuan berbicara siswa. Jurnal Inovasi Pendidikan, 9(1), 33–42. https://doi.org/10.21009/jip.v9i1.23156 Anwar, M. (2020). Pembelajaran bahasa Arab berbasis proyek untuk meningkatkan kreativitas siswa. Arabiyat: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban, 7(1), 55–70. https://doi.org/10.15408/a.v7i1.15324 Apriani, L., & Prasetyo, R. (2021). Project based learning dalam pembelajaran bahasa: Studi literatur. Lingua, 17(2), 145–158. https://doi.org/10.34005/lingua.v17i2.1603 Astuti, N., & Rahayu, I. (2022). Video pembelajaran sebagai media inovatif meningkatkan keterampilan komunikasi siswa. Jurnal Teknologi Pendidikan, 24(3), 201–210. https://doi.org/10.21831/jtp.v24i3.42321 Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2017). Self-determination theory: Basic psychological needs in motivation, development, and wellness. New York: Guilford Press. Fauzi, A., & Hidayat, M. (2020). Penggunaan media audiovisual dalam pembelajaran bahasa Arab. AlTa’rib: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa Arab IAIN Palangka Raya, 8(1), 45–58. https://doi.org/10.23971/altarib.v8i1.1894 Fitriyah, S., & Kurniawan, A. (2021). Penerapan project based learning dalam meningkatkan hasil belajar bahasa asing. Lingua Cultura, 15(2), 167–174. Harmer, J. (2015). The practice of English language teaching (5th ed.). Harlow: Pearson Education. Iqrail, M., Setiawan, D., & Syahputra, A. (2023). Pengaruh penggunaan media video terhadap motivasi belajar siswa sekolah menengah. Jurnal Teknologi Pendidikan, 25(1), 77–89. https://doi.org/10.21831/jtp.v25i1.56712 Karimah, L. H., Wahyuni, R., & Sari, M. (2020). Project based learning dalam pembuatan video percakapan bahasa Arab. Arabiyatuna: Jurnal Bahasa Arab, 4(2), 189–205. Larmer, J., & Mergendoller, J. R. (2015). Setting the standard for project based learning. Alexandria: ASCD. Mayer, R. E. (2020). Multimedia learning (3rd ed.). Cambridge: Cambridge University Press. Muhabba, I., Hasanah, N., & Rizky, P. (2023). Efektivitas media video dalam meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab siswa madrasah aliyah. Jurnal Pendidikan Islam, 14(1), 101– 115. https://doi.org/10.21043/jpi.v14i1.16659 Nurdin, F., & Amelia, R. (2021). Project based learning untuk meningkatkan keterampilan abad 21 siswa. Jurnal Pendidikan Karakter, 11(2), 240–253. Richards, J. C. (2017). Teaching listening and speaking: From theory to practice. Cambridge: Cambridge University Press. Sardiman, A. M. (2020). Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta: Rajawali Pers. Sari, D. P., & Utami, W. (2022). Penggunaan model pembelajaran berbasis proyek dalam meningkatkan motivasi belajar. Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar, 7(1), 23–34. https://doi.org/10.21009/jipd.v7i1.26781 Tarigan, H. G. (2019). Berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung: Angkasa. Thomas, J. W. (2020). A review of research on project-based learning. San Rafael: Autodesk Foundation.