Meningkatkan Minat Belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) Melalui Model Problem Based Learning (Studi Kasus di Kelas XI MIPA I SMAPLUS Ar-Raudhah Purwakarta)
Full text
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 2, Oktober 2025, Halaman 126-129 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17291398 *Corresponding author Email: [email protected] Meningkatkan Minat Belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) Melalui Model Problem Based Learning (Studi Kasus di Kelas XI MIPA I SMAPLUS ArRaudhah Purwakarta) Diah Ayu Sekar Kinanthi Pendidikan Agama Islam, Tarbiyah, STAI Dr.Kh.Ez Muttaqien, Purwakarta, Indonesia A B S T R A K Guru memegang peranan penting dalam menumbuhkan minat belajar siswa agar suasana belajar menjadi nyaman dan materi pelajaran lebih mudah dipahami. Salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan materi yang diajarkan. Media memiliki peran penting terutama bagi siswa sekolah dasar kelas rendah, karena pada tahap ini kemampuan berpikir abstrak mereka belum berkembang secara optimal sehingga materi perlu divisualisasikan dalam bentuk konkret. Dari sudut pandang psikologis, media pembelajaran membantu perkembangan kognitif sekaligus memberikan pengalaman belajar yang bermakna. Implikasi penggunaan media tidak hanya berdampak pada siswa, tetapi juga pada guru serta dinamika proses pembelajaran di kelas. Dalam merancang media pembelajaran, terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) media harus sederhana, jelas, dan mudah dipahami; (2) media disesuaikan dengan pokok bahasan yang diajarkan; (3) media tidak boleh terlalu rumit agar tidak membingungkan siswa; (4) media sebaiknya dibuat dari bahan sederhana dan mudah diperoleh, tanpa mengurangi fungsi serta maknanya; (5) media dapat berupa model, gambar, bagan, atau bentuk visual lainnya yang praktis dan terjangkau. Selain itu, penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat menjadi alternatif yang efektif. Model ini mendorong siswa untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran melalui pemecahan masalah nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. PBL tidak hanya meningkatkan minat belajar siswa melalui tantangan berpikir kritis, tetapi juga memberi ruang kolaborasi antarpeserta didik. Jika dikombinasikan dengan media pembelajaran yang tepat, penerapan PBL akan semakin memudahkan siswa memahami konsep abstrak secara konkret, sehingga hasil belajar dan motivasi belajar mereka dapat meningkat secara signifikan. A B S T R A C T Teachers hold an important role in fostering the learning interest of students so that the learning atmosphere becomes comfortable and the lesson material is easier to understand. One passable strategy is to use learning media that are interesting and appropriate to the material being taught. Media has an important role especially for lower grade primary school students, because at this stage their abstract thinking ability has not developed optimally so the material needs to be visualized in a concrete form. From a psychological point of view, learning media aid cognitive development while providing meaningful learning experiences. The implications of media use impact not only students, but also teachers as well as the dynamics of the learning process in the classroom. In designing learning media, several principles are noteworthy, namely: (1) media should be simple, clear, and easy to understand; (2) the medium is tailored to the subject being taught; (3) media should not be too complicated so as not to confuse students; (4) media should be made of simple and easily obtainable materials, without diminishing their function as well as their meaning; (5) Media can be models, drawings, charts, or other practical and affordable visual forms. Additionally, the application of the Problem Based Learning (PBL) model can be an effective alternative. This model encourages students to actively engage in the learning process through solving real problems relevant to daily life. PBL not only increases students’ learning interest through critical thinking challenges, but also provides a space for collaboration among learners. If combined with the right learning medium, the application of PBL will increasingly make it easier for students to grasp abstract concepts concretely, so their learning outcomes and learning motivation can be significantly improved. A R T I C L E I N F O Article history: Received September 20, 2025 Revised 25 September 2025 Accepted 25 September 2025 Available online 04 Oktober. 2025 Kata Kunci: Minat Belajar, Pendidikan Agama Islam (PAI), Model Problem Based Learning Keywords: Learning Interest, Islamic Religious Education (PAI), Problem Based Learning Model This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2023 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 126-129 Socius E-ISSN: 3025-6704 PENDAHULUAN Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peranan penting dalam membentuk karakter religious siswa. Namun, hasil obeservasi di kelas XI MIPA I SMAPLUS Ar-Raudhah menunjukkan minat belajar siswa rendah. Hal ini terlihat dari kurangnya keaktifan bertanya, tidak tepat waktu masuk kelas. Metode pembelajaran yang cenderung konvensional menjadi salah satu penyebabnya. Untuk mengatasi permasalahan ini, ditetapkan model problem based learning (PBL) yang berpusat pada siswa dengan menekankan pemecahan masalah nyata melalui kelompok dan presentasi. Diharapkan, PBL dapat menumbuhkan keterlibatan aktif, berfikir kritis dsan tanggung jawab siswa dalam belajar. Rumusan masalah penelitian ini meliputi : 1. Bagaimana penerapan metode PBL dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas XI MIPA I? 2. Apa saja Langkah-langkah penerapan metode PBL dalam pembelajaran PAI? 3. Factor apa sajakah yang mendukung dan menghambat penerapan metode PBL? Tujuan penelitian ini Adalah untuk meningkatkan minat belajar siswa, mendeskripsikan Langkahlangkah penerapan PBL serta mengidentifikasikan factor pendukung dan dan penghambatnya. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain penelitian Tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Subjek penelitian Adalah siswa kelas XI MIPA I sebanyak 32 orang. Instrument penelitian meliputi angket minat angket, lembar observasi, dokumentasi, dan catatan refleksi. Tahap perencanaan, penyusunan perangkat pembelajaran PBL, LKS, dan media pendukung. Tahap pelaksanaan, penerapan pembelajaran berbasis masalah, diskusi kelompok dan presentasi hasil. Tahap observasi dan presentasi hasil. Tahap observasi, pengamatan aktivitas siswa, keaktifan bertanya, keterlibatan diskusi serta pengisian angket. Tahap refleksi, evaluasi hasil tiap siklus untuk perbaikan pada siklus berikutnya. Teknik analisis data dilakukan secara kuantitatif (persentase hasil angket) dan kualitatif (deskripsi observasi). HASIL PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan minat belajar siswa dari pra-survei ke siklus I dan II. 1. Pra-survei : sebelum Tindakan, Sebagian besar siswa menunjukan respon negative terhadap pembelajaran Pendidikan agama islam. mayoritas respon siswa berada pada kategori “kurang suka” (32,73%) dan “tidak suka” (26,69%). Dari hasil observasi, siswa jarang bertanya, tidak masuk kelas tepat waktu, tidak aktif dalam diskusi dan tidak antusias mengikuti Pelajaran. Hal ini sejalan dengan temuan awal bahwa metode ceramah membuat siswa pasif dan kurang termotivasi. 2. Siklus I : pada siklus I penerapan PBL dimuali dengan pemantik berupa kasus nyata, pembagian kelompok, dan diskusi berbasis LKS. Hasilnya menunjukan peningkatan meskipun belum optimal. Angket menunjukan terjadi peningkatan respon positif, kategori “suka” mencapai 25,39% dan “cukup suka” 25,78% Namun, keaktifan bertanya dan keterlibatan dalam diskusi masih rendah. 3. Siklus II : padsa siklus II dilakukan perbaikan dengan menyederhakan LKS, meningkatkan pendampingan guru dan memberikan permasalahan sesuai fakta social. setelah perbaikan berupa penggunaan model PBL dan bimbingan aktif guru, respon siswa meningkat signifikan. Kategori siswa “suka” naik menjadi 32,11% dan “cukup suka” 25,69% dengan penurunan respon negative. Observasi juga menunjukan perubahan perilaku : siswa lebih fokus mendengarkan penjelasan guru, lebih berani bertanya, aktif berdiskusi, serta lebih puas dengan hasil pembelajaran. Penerapan PBL terbukti mendorong keterlibatan aktif siswa. Model ini membuat pembelajaran lebih kontekstual, sehingga siswa tidak hanya menerima informasi tetapi juga memecahkan masalah nyata. Perubahan perilaku belajar juga terlihat, seperti meningkatnya keberanian bertanya, partisispasi dalam diskusi, ketekunan dalam mengerjakan tugas, serta kepuasan terhadap hasil belajar. Hal ini sejalan dengan teori bahwa PBL mampu meningkatkan motivasi belajar, keterampilan berfikir kritis dan kerja sama kelompok. Selain itu, indicator minat belajar seperti kehadiran, perhatian, keaktifan bertanya, ketekunan, serta kepuasan hasil belajar mengalami peningkatan pada siklus II. Siswa merasa lebih tertantang karena pembelajaran tidak hanya berupa ceramah, tetapi melibatkan mereka dalam diskusi, analisis, dan presentasi. Factor pendukung keberhasilan antara lain, media kontekstual seperti pengediaan masalah yang memerlukan problem solving yang diperoleh dari diskusi para peserta didik, bimbingan guru yang lebih aktif sehingga semua anggota kelompok terlibat. Penyederhanaan instrument (LKS) sehingga lebih mudah dipahami.
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 126-129 Kinanthi / Meningkatkan Minat Belajar Sementara hambatan yang dihadapi meliputi ; waktu pembelajaran yang terbatas untuk menerapkan seluruh tahapan PBL, perbedaan kemampuan siswa dalam berpartisioasi, ada yang masih pasif. Keterbatasan media pembelajaran interaktif yang tersedia di sekolah. Penerapan Problem Based Learning (PBL) terbukti mendorong keterlibatan aktif siswa. Model ini membuat pembelajaran lebih kontekstual, sehingga peserta didik tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga terlatih untuk memecahkan masalah nyata yang relevan dengan kehidupan seharihari. Perubahan perilaku belajar juga terlihat jelas, seperti meningkatnya keberanian bertanya, partisipasi dalam diskusi, ketekunan dalam mengerjakan tugas, serta kepuasan terhadap hasil belajar. Hal ini sejalan dengan pendapat Hmelo-Silver (2004) yang menyatakan bahwa PBL efektif dalam menumbuhkan keterampilan berpikir kritis, kemampuan berkolaborasi, dan motivasi belajar. Selain itu, indikator minat belajar seperti kehadiran, perhatian, keaktifan bertanya, ketekunan, dan kepuasan hasil belajar menunjukkan peningkatan pada siklus II. Siswa merasa lebih tertantang karena proses pembelajaran tidak hanya berupa ceramah, melainkan melibatkan mereka dalam diskusi, analisis, dan presentasi. Menurut Savery (2006), salah satu keunggulan PBL adalah memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan menumbuhkan rasa kepemilikan (ownership) terhadap proses belajar. Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan penerapan PBL antara lain: 1. Penggunaan media pembelajaran kontekstual, berupa penyediaan masalah yang memerlukan pemecahan melalui diskusi kelompok, sehingga siswa merasa pembelajaran lebih dekat dengan realitas mereka. 2. Bimbingan guru yang intensif, di mana guru berperan sebagai fasilitator yang memastikan seluruh anggota kelompok terlibat aktif. 3. Penyederhanaan instrumen seperti Lembar Kerja Siswa (LKS) sehingga mudah dipahami dan mampu mengarahkan siswa untuk berpikir sistematis. 4. Adanya kerja sama kelompok yang kondusif, karena PBL menuntut setiap anggota berperan sesuai tugasnya, sehingga keterampilan komunikasi dan tanggung jawab bersama meningkat (Arends, 2012). 5. Lingkungan belajar yang mendukung, baik dari segi fasilitas maupun suasana kelas, membuat siswa lebih fokus dan termotivasi mengikuti kegiatan belajar (Hosnan, 2014). Namun demikian, penerapan PBL juga memiliki tantangan, misalnya manajemen waktu yang lebih panjang dibanding metode konvensional, kebutuhan kesiapan guru dalam merancang skenario masalah, serta perbedaan kemampuan siswa yang terkadang membuat diskusi tidak berjalan seimbang. Meski demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang matang, PBL mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan. Secara umum, penelitian ini menguatkan bahwa PBL merupakan strategi efektif untuk meningkatkan minat belajar siswa pada mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam khususnya materi bukti beriman. SIMPULAN Penerapan model problem based learning (PBL) terbukti efektif dalam meningkatkan minat belajar siswa kelas XI MIPA I SMPLUS Ar-Raudhah mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam materi bukti beriman, hal ini ditujukkan oleh peningkatan respon positif siswa dari pra-survei hingga siklus II. Factor pendukung keberhasilan antara lain penggunaan media kontekstual, bimbingan aktif guru, dan pentederhanaan LKS, sedangkan hambatannya meliputi keterbatasan waktu, variasi kemampuan siswa dan keterbatasan media. Dengan demikian, model PBL layak dijadikan alternatif inovasi pembelajaran untuk meningkatkan minat belajar siswa pada mata Pelajaran PAI maupun mata Pelajaran Lainnya. Penerapan model Problem Based Learning (PBL) terbukti efektif dalam meningkatkan minat belajar siswa kelas XI MIPA I SMPLUS ArRaudhah pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) materi Bukti Beriman. Hal ini ditunjukkan melalui peningkatan respon positif siswa mulai dari pra-survei hingga siklus II. Faktor pendukung keberhasilan antara lain penggunaan media kontekstual, bimbingan aktif guru, serta penyederhanaan LKS, sedangkan hambatannya mencakup keterbatasan waktu, variasi kemampuan siswa, dan keterbatasan media. Secara keseluruhan, penerapan PBL tidak hanya meningkatkan minat belajar, tetapi juga berdampak pada perkembangan keterampilan berpikir kritis, keberanian bertanya, kerja sama kelompok, dan rasa tanggung jawab siswa dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, PBL layak dijadikan alternatif inovasi pembelajaran, baik pada mata pelajaran PAI maupun bidang studi lainnya, karena mampu menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual, bermakna, dan sesuai dengan tuntutan abad 21.
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 126-129 Socius E-ISSN: 3025-6704 REKOMENDASI 1. Bagi guru, disarankan lebih sering menggunakan model PBL atau model inovatif lainnya yang menekankan keaktifan siswa, serta menyiapkan media kontekstual yang sederhana namun relevan. 2. Bagi sekolah, penting memberikan dukungan berupa sarana dan prasarana, termasuk penyediaan waktu yang cukup agar proses PBL dapat berjalan optimal. 3. Bagi siswa, diharapkan dapat lebih aktif dalam diskusi, terbuka dalam menyampaikan pendapat, serta bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. 4. Bagi peneliti selanjutnya, dapat mengembangkan penerapan PBL pada mata pelajaran lain atau jenjang pendidikan berbeda, serta menambahkan variabel seperti pengaruh PBL terhadap hasil belajar atau keterampilan abad 21. REFERENSI Arends, R,I. (20080. Learning to Teach, Yogyakarta ; Pustaka Belajar Sanjaya, W. (2010). Strategi Pembelajaran : Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Kencana. Sugiono, (2015)., Metode penelitian Pendidikan (pendekatan Kualitatif, kuantitafif dan R&D). Bandung : alfabeta Yunin Nurun Nafiah. Penerapan Model Problem Based Learning untuk meningkatkan keterampilan berfikir kritis dan hasil belajar siswa, jurnal Pendidikan Vokasi-125 Anik Handayani dan henry Dewi koesmawati Meta Analisis model pembelajaran problem based learning (PBL) untuk meningkatkan kemampuan kreatif, Jurnal BASICEDU Vol 5 No.3 2021 hlm 1349-1355. Arends, R. I. (2012). Learning to Teach. New York: McGraw-Hill. Hmelo-Silver, C. E. (2004). Problem-Based Learning: What and How Do Students Learn? Educational Psychology Review, 16(3), 235–266. Hosnan, M. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Jakarta: Ghalia Indonesia. Savery, J. R. (2006). Overview of Problem-Based Learning: Definitions and Distinctions. Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning, 1(1), 9–20. Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Tan, O. S. (2003). Problem-Based Learning Innovation: Using Problems to Power Learning in the 21st Century. Singapore: Cengage Learning Asia. Trianto. (2010). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Uno, H. B. (2016). Teori Motivasi dan Pengukurannya: Analisis di Bidang Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Yew, E. H. J., & Goh, K. (2016). Problem-Based Learning: An Overview of its Process and Impact on Learning. Health Professions Education, 2(2), 75–79. Zubaidah, S. (2017). Keterampilan Abad 21: Keterampilan yang Diajarkan Melalui Pembelajaran. Seminar Nasional Pendidikan dengan Tema “Isu-isu Strategis Pembelajaran MIPA Abad 21”, Universitas Negeri Malang.