Full text
7 | R a g o m : V o l . 3 N o . 1 E-ISSN 3021-8306 Eksplorasi Dan Internalisasi Kesadaran Pentingnya Hospitality Dalam Pariwisata Bandar Lampung Fitri Juliana Sanjaya1, Fahmi Tarumanegara2, Hasbi Sidik3, Luerdi4, dan Michael Rizky5 1,2,3,4,5Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung; e-mail: [email protected] ABSTRAK Bandar Lampung merupakan salah satu kota destinasi di Sumatra yang tengah fokus mengembangkan potensi pariwisata dan menggelar berbagai kegiatan kepariwisataan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Kunjungan wisatawan dari daerah sekitar belum menunjukkan Bandar Lampung dan Lampung sebagai prioritas destinasi kunjungan. Capaian yang belum optimal ini mengindikasikan adanya faktor lain, selain infrastruktur dan kelayakan destinasi, yang dibutuhkan oleh wisatawan. Tim PkM menemukan kemungkinan penyebabnya adalah kurang maksimalnya internalisasi nilai-nilai dan praktik hospitality yang diterapkan sesuai target pasar wisata. Kegiatan PkM ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menginternalisasi kesadaran akan pentingnya hospitality dalam pariwisata di Bandar Lampung. Tiga kelompok pemuda dilibatkan sebagai sasaran dan peserta kegiatan. Kegiatan PkM ini berhasil meningkatkan pemahaman peserta mengenai praktik hospitality. Komitmen untuk membentuk komunitas 'Lampung Puun' juga digagas sebagai upaya untuk mempromosikan nilai-nilai hospitality secara lebih luas. Kata kunci: Bandar Lampung, hospitality, pariwisata, pemuda ABSTRACT Bandar Lampung is one of the destinations in Sumatra that is developing tourism potential and hosting events to increase visitor numbers. Tourist visits from neighborhood areas have demonstrated that both the city of Bandar Lampung and the province of Lampung are not priorities among destinations. Such low achievement indicates another factor besides infrastructure and destination eligibility that is needed by tourists or visitors. The community service team assumed the contributing factors, such as value internalization and hospitality practices far from compliant with the market target. This community service program aimed to explore and internalize awareness of the importance of hospitality in tourism in Bandar Lampung. Three different groups of youth participants were involved. The program can leverage the participants’ understanding of hospitality practices. In addition, the commitment to creating the ‘Lampung Punn’ community has been conceived to promote hospitality values more widely. Keywords: Bandar Lampung, hospitality, tourism, youths 1. Pendahuluan Pariwisata telah menjadi sektor penting bagi perekonomian negara di era globalisasi dan era digital saat ini. Di tahun 2023, kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian global di proyeksikan sebesar 9,20% hingga 11,60% Produk Domestik Bruto dunia, atau sebesar US$ 9,5 trilyun–15,5 trilyun. Meskipun pertumbuhan sektor ini mengalami dampak besar di masa Covid-19 yang mengakibatkan pertumbuhan
8 | R a g o m : V o l . 3 N o . 1 pendapatan sektor ini turun hingga puncaknya di 49,40% pada tahun 2019-2020, di tahun 2023 sektor ini kembali tumbuh hingga 23,30% dibandingkan tahun sebelumnya. Diprediksi pariwisata adalah salah satu sektor pembuka lapangan kerja terbesar dengan porsi 11,80% atau sebesar 430 juta lapangan pekerjaan (WTTC, 2024). Dampak positif pariwisata bagi perekomonian, hadir karena adanya daya tarik negara, kota, destinasi wisata yang menjadikan wisatawan berminat untuk hadir. Di tahun 2023 jumlah perjalanan wisatawan internasional sebesar 1285,66 juta, dimana 11,68 juta atau 0,908% porsi perjalanan wisata dunia (UNWTO, 2024). Indonesia menjadi negara tujuan wisata ke 34 dibandingkan 190 negara lainnya. Hal tersebut sejalan dengan posisi Indonesia dalam daya saing pariwisata menurut Word Economic Forum yang berada urutan 32 dunia, dengan performa terbaik Indonesia berada pada faktor sumber daya alam pada posisi 8 dunia, dan sumber daya budaya di posisi 16 dunia. Faktor lainnya seperti: infrastruktur, kebijakan, lingkungan masyarakat dan bisnis berada pada level menengah dan rendah (WEF, 2024). Lampung, termasuk kota Bandar Lampung, sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia juga turut mengembangkan sektor pariwisatanya (Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, 2023). Rencana Kerja Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung Tahun 2023 menyebutkan rencana tersebut bertujuan mendorong kesadaran terhadap kekayaan budaya dengan memperkenalkan produk-produk wisata seperti seni dan tradisi kerakyatan dan sekaligus sebagai upaya yang efektif bagi pelestarian budaya daerah. Dalam rencana kerja tersebut dijelaskan pula target indikator sasarannya adalah peningkatan daya saing berupa peningkatan jumlah wisatawan, lama tinggal dan peningkatan pengeluaran wisatawan (Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Pemerintah Provinsi Lampung, 2023). Rencana kerja tersebut tidak menjelaskan pembangunan lingkungan bisnis dan iklim kepariwisataan yang salah satunya mendorong hospitality kepariwisataan di Provinsi Lampung khususunya kota Bandar Lampung. Di dalam sektor pariwisata hospitality melingkupi seluruh aspek pariwisata. Hospitality menjembatani elemen fisik dengan wisatawan (Bell, 2009). Hospitality merupakan budaya yang dibangun dari bahasa, kebiasaan, kepercayaan, dan sangat erat kaitannya dengan identitas masyarakat di suatu wilayah (Claviez, 2022; Goeldner & Ritchie, 2012; Jayanti, 2023). Pemberitaan pariwisata Lampung dalam platform dinas pariwisata didominasi penyelenggaran acara dan promosi destinasi. Kondisi ini sangat disayangkan manakala Lampung secara geografis memiliki letak dekat dengan Provinsi Sumatera Selatan, Bengkulu, Banten, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, dan Jawa Barat; yang keseluruhannya dapat menjadi target pasar pariwisata nusantara Lampung. Jumlah kunjungan dari berbagai provinsi tersebut sebesar 250,76 juta dari keseluruhan kunjungan wisatawan nusantara sebanyak 734,86 juta kunjungan (Badan Pusat Statistika, 2023). Ini berarti pangsa pasar pariwisata provinsi Lampung sebesar 34,12% keseluruhan kunjungan wisatawan nusantatara Indonesia (Badan Pusat Statistika, 2023). Uniknya Lampung hanya menjadi tujuan utama bagi Provinsi Sumatera Selatan dengan kunjungan hanya sebesar 14,16% kunjungan keseluruhan dari Provinsi tersebut, sedangkan tingkat kunjungan dari provinsi lainnya hanya sebesar 0,67% hingga 1,79% (Badan Pusat Statistika, 2023). Pembangunan pariwisata sebagaimana paparan di atas masih difokuskan pada pembangunan objek wisata, promosi destinasi wisata, promosi budaya, dan penyelengaraan kegiatan. Penciptaan daya saing yang seyogianya merupakan proses memampukan berbagai stakeholder pariwisata di berbagai dimensi pariwisata, seperti penciptaan kondisi lingkungan wisata yang nyaman dan implementasi nilai dan praktik hospitality, belum menjadi perhatian utama pemerintah khususnya dan masyarakat. Hal ini kontras dengan prinsip utama kepariwisataan yaitu untuk memberikan pelayanan prima dan pengalaman tak terlupakan di benak para wisatawan, baik saat berada di lokasi wisata atau di kota dan daerah tempat berbagai destinasi wisata berada (Bell, 2009). Hepple, Kipps, dan Thompson (1990) mengidentifikasi empat karakter utama hospitality, yaitu: pertama, hospitality merupakan tindakan yang diberikan oleh tuan rumah kepada
9 | R a g o m : V o l . 3 N o . 1 tamu yang berada jauh dari rumah; kedua, hospitality bersifat interaktif karena melibatkan interaksi langsung antara penyedia dan penerima layanan, termasuk perpaduan produk, perilaku pegawai, dan lingkungan; ketiga, hospitality terdiri dari perpaduan unsur nyata dan tidak nyata; dan keempat, tuan rumah bertanggung jawab memberikan rasa aman serta kenyamanan psikologis dan fisiologis bagi tamu. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini mencoba untuk mengangkat cakupan permasalahan “Eksplorasi dan Internalisasi Kesadaran Pentingnya Hospitality dalam Pariwisata Bandar Lampung.” Kegiatan ini juga dilandasi hasil pengamatan best practice berbagai kota dan daerah tujuan utama pariwisata di Indonesia, secara umum menunjukan bahwa internalisasi nilai dan praktik hospitality telah menjadi bagian dari nilai dan praktik kehidupan sehari-hari pelaku usaha dan masyarakatnya. 2. Metode Pelaksanaan Adapun sasaran peserta kegiatan PKM ini terdiri dari tiga kelompok; yaitu kelompok pemuda pelaku usaha, kelompok pemuda pengurus organisasi, dan kelompok pemuda mahasiswa. Kegiatan PKM dilaksanakan dari Juni sampai September 2024 dengan beberapa tahapan, seperti berikut: 1. Tahap 1 kegiatan PkM yaitu tahap persiapan berupa penyusunan materi kegiatan, instrumen evaluasi pre-test dan post-test, serta penyiapan alat dan bahan; telah berlangsung dari tanggal 1 Juni hingga 27 Juli 2024. Dari waktu tersebut, tim PkM kemudian mulai menjaring peserta tahap 2 kegiatan PkM yaitu workshop mengenai best practice dan pentingya hospitality bagi kota Bandar Lampung. Penjaringan peserta kegiatan dilakukan dari tanggal 29 Juli hingga 24 Agustus 2024. 2. Tahap ke 2 kegiatan PkM dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 30 Agustus 2024. Kegiatan ini dihadiri oleh 42 orang pesera kegiatan, dilaksanakan di Gedung E FISIP Unila dari pukul 13.30 sampai dengan 16.10. Kegiatan pada tahap kedua ini juga menghimpun berbagai masukan mengenai model penerapan hospitality yang ideal bagi Bandar Lampung. 3. Tahap ke 3 kegiatan PkM juga telah dilaksanakan dari tanggal 30 Agustus hingga 6 September 2024. Di tahap ini tim PkM telah melakukan evaluasi hasil kegiatan dan melakukan analisis umpan balik sebagai bagian perbaikan penyelenggaraan kegiatan di waktu yang akan datang Untuk kegiatan kegiatan inti berupa workshop dibuka dengan pemaparan materi mengenai “Hospitality dan Pariwisata Lampung” dari Ketua Kegiatan PkM yaitu Fitri Juliana Sanjaya, yang berisi kondisi terkini berlakukan hospitality di berbagai objek pariwisata di Provinsi Lampung, serta peran pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan level hospitality. Materi dilanjutkan dengan materi yang dibawakan Luerdi berupa pemaparan mengenai “Paradiplomasi dan Hospitality Bandarlampung”. Materi ini menjelaskan konsep paradiplomasi dan penerapannya oleh pemerintah Kota Bandarlampung dan Provinsi Lampung. Paradiplomasi pada dasarnya dapat membuka peluang kota dan provinsi untuk bekerjasama dengan kota dan provinsi dari negara lain untuk mendukung kemajuan daerah. Materi selanjutnya diberikan oleh Hasbi Sidik yang memaparkan “Kompleksitas Konsep Hospitality” dan Fahmi Tarumanegara yang memaparkan “Best Practice penerapan Hospitality di berbagai daerah di Indonesia”. Kedua materi ini disajikan bersamaan dengan tanya jawab dan diskusi kegiatan. 3. Pembahasan 3.1 Hasil Evaluasi kegiatan telah dilaksanakan dengan mengajak peserta kegiatan terlibat dalam mengisi sejumlah instrumen evaluasi pre-test dan posttest kegiatan. Secara umum dari seluruh 42 peserta kegiatan terdapat 37 orang yang terlibat dalam pre-test (sejumlah 90,48% dari peseta kegiatan) dan 30 orang terlibat dalam post-test (sejumlah 71,43% dari peserta kegiatan). Peserta kegiatan PkM ini secara umum adalah mahasiswa yang juga merupakan pelaku usaha atau pengurus organisasi di kampus dan di luar kampus. Jumlah peserta kegiatan yang merupakan pengurus organisasi merupakan yang terbesar yaitu sebanyak 13 orang (35,1% dari peserta terlibat pre-test) dan 10 orang (33,3% dari peserta yang terlibat post-test). Sedangkan jumlah peserta yang merupakan pelaku usaha adalah sebanyak
10 | R a g o m : V o l . 3 N o . 1 12 orang (32,4% dari peserta yang terlibat pretest) dan 6 orang (20,0% dari peserta yang terlibat post-test). Persentase peserta kegiatan di kedua katergori tersebut yang relatif besar (sebesar 67,5% dan 53,3%), diharapkan dapat membantu penyebarluasan nilai hospitality dan hasil kegiatan lainnya, dikarenakan peserta kegiatan di kedua kategori ini meiliki peran ganda dalam masyarakat. Tabel 1. Jumlah peserta kegiatan mengisi Pre-Test dan Post-Test kegiatan Pre-Test Post-Test Jumlah % Jumlah % Pelaku Usaha 12 32.4 6 20.0 Pengurus Organisasi 13 35.1 10 33.3 Mahasiswa 12 32.4 14 46.7 Total 37 100.0 30 100.0 Sumber: Diolah oleh tim PkM, 2024 Pada evaluasi ini, tim PkM mencoba mengukur tingkat pemahaman peserta kegiatan di 7 aspek penilaian, dengan instrumen ukur dimana peserta kegiatan diminta memberikan penilaian antara 1 (sangat tidak memahami) sampai dengan 6 (sangat memahami) untuk keseluruhan aspek penilaian tersebut. Di saat pre-test, secara umum rerata pemahaman peserta untuk keseluruhan aspek penilaian hospitality adalah sebesar 3,842 poin atau sebesar 64,03%, dimana dapat disimpulkan bahwa pemahaman peserta mengenai hospitality berada pada kategori sedang. Pemahaman peserta pada aspek faktor pembangun hospitality berada pada kategori rendah yaitu sebesar 2,892 dari 6 poin, atau sebesar 48,20% poin capaian. Aspek lainnya yaitu pemahaman mengenai konsep hospitality berada pada kategori sedang, yaitu sebesar 3,216 poin atau 53,60% poin capaian. Pemahaman peserta pada 5 aspek lainnya cukup tinggi yaitu pada pemahaman hospitality dalam layanan pemerintah (4,081 poin), bagi citra daerah (4,081 poun), hubungan masyarakat (4,135 poin), aktivitas bisnis (4,216 poin), dan dalam kepariwisataan (4,270 poin) atau sebagai yang terbesar. Tabel 2. Pemahaman peserta kegiatan mengenai berbagai faktor hospitality Pemahaman peserta kegiatan mengenai Pre-Test Post-Test Peningkatan Poin % Poin % Poin % Konsep hospitality 3,216 53,60% 4,633 77,22% 1,417 44,06% Faktor pembangun hospitality 2,892 48,20% 4,900 81,67% 2,008 69,44% Pentingnya hospitality dalam kepariwisataan 4,270 71,17% 5,167 86,11% 0,896 20,99% Pentingnya hospitality dalam aktivitas bisnis 4,216 70,27% 4,933 82,22% 0,717 17,01% Pentingnya hospitality dalam hubungan antar masyarakat 4,135 68,92% 4,967 82,78% 0,832 20,11% Pentingnya hospitality dalam layanan pemerintah 4,081 68,02% 4,767 79,45% 0,686 16,80% Pentingnya hospitality bagi citra daerah 4,081 68,02% 5,067 84,45% 0,986 24,15% Rerata 3,842 64,03% 4,919 81,98% 1,077 30,37% Sumber: Diolah oleh tim PkM, 2024
11 | R a g o m : V o l . 3 N o . 1 Pemahaman peserta kegiatan di 7 aspek penilaian mengalami peningkatan di akhir kegiatan. Hasil post-test kegiatan memperlihatkan nilai pemahaman di keseluruhan aspek berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi atau sebesar 4,919 poin setara dengan 81,98% capaian. Sejumlah 5 aspek penilaian berada pada kategori tinggi yaitu: pemahaman mengenai konsep hospitality (4,633 poin), pemahaman pentingnya hospitality dalam layanan pemerintah (4,767 poin), faktor-faktor pembangun hospitality (4,900 poin), pentingnya hospitality dalam aktivitas bisnis (4,933 poin), dan dalam hubungan masyarakat (4,967 poin). Sejumlah dua aspek yang berada di level sangat tinggi adalah pentingnya hospitality bagi citra daerah (5,067) dan bagi kepariwisataan (5,167). Keseluruhan hasil evaluasi di atas juga menunjukan bahwa peningkatan pemahaman peserta terbesar terjadi pada aspek pemahaman mengenai faktor-faktor pembangun hospitality (meningkat 2,008 poin atau 69,44%) dan konsep hospitality itu sendiri (meningkat 1,417 poin atau sebesar 44,06%). Pemahaman peserta pada aspek pentingnya hospitality dalam layanan pemerintah, aktivitas bisnis, hubungan masyarakat, kepariwisataan, dan bagi citra daerah secara keseluruhan juga mengalami peningkatan yaitu meningkat antara 0,686 poin hingga 0,986 poin, atau setara dengan 16,80% hingga 24,15% Gambar 1. Gambaran Pemahaman Hospitality Kelompok Responden Pre-Test dan Post-Test Sumber: Diolah oleh Tim PkM, 2024 Pemahaman peserta kegiatan di atas memiliki gambaran yang berbeda bila dilihat berdasarkan kelompok responden. Peningkatan pemahaman terbesar terjadi di kelompok mahasiswa. Kelompok ini mengalami peningkatan lebih dari 1 poin pemahaman atau dari berada di level menengah menjadi berada pada level sangat tinggi. Kelompok kedua yang mengalami peningkatan serupa adalah kelompok pelaku usaha yang juga mengalami pergeseran pemahaman dari level menengah ke level sangat tinggi. Uniknya meski mengalami peningkatan pemahaman yang cukup tinggi, sebaran pemahaman di kelompok ini lebih lebar atau sangat beragam. Kelompok pelaku organisasi adalah kelompok dengan peningkatan pemahaman terkecil dibandingkan dua kelompok lainnya. Peningkatan ini menempatkan pemahaman peserta dari kelompok ini masih berada di level pemahaman yang sama atau relatif tinggi. Keunikan kelompok ini adalah, level pemahaman yang sebelumnya sangat beragam menjadi lebih seragam di akhir kegiatan. Survey evalausi PkM juga dilakukan untuk menampung penilaian peserta kegiatan mengenai kondisi aktual berlakunya hospitality di berbagai cakupan aktivitas di Kota Bandarlampung. Peserta kegiatan memberikan penilaian sedang untuk berlakunya hospitality di aktivitas: bisnis (3,757 poin atau sebesar 62,61%) sebagai yang terbesar, hubungan antar masyarakat (3,405 poin atau sebesar 56,76%), dan pariwisata di Bandarlampung (3,378 poin atau sebesar 56,31%). Sedangkan hospitality di layanan pemerintah dinilai relatif rendah (2,576 poin atau sebesar 44,60%), termasuk hospitality sebagai citra kota Bandarlampung (2,892 atau sebesar 48,20%). Secara umum nilai rerata keseluruhan cakupan area kegiatan di atas adalah sebesar 3,222 atau sebesar 53,70%.
12 | R a g o m : V o l . 3 N o . 1 Tabel 3. Penilaian Kondisi dan Optimisme Peserta mengenai berlakunya Hospitality di Bandar Lampung Penilaian Kondisi Bandarlampung Penilaian Kondisi Hospitality Optimisme Perubahan Hospitality Selisih Nilai % St Dev Nilai % St Dev Kepariwisataan 3,378 56,31% 1,063 4,633 77,22% 1,188 1,255 Aktivitas bisnis 3,757 62,61% 1,038 4,600 76,67% 0,855 0,843 Hubungan masyarakat 3,405 56,76% 1,117 4,267 71,11% 1,048 0,861 Layanan pemerintah 2,676 44,60% 0,914 4,200 70,00% 1,214 1,524 Citra Bandarlampung 2,892 48,20% 0,906 4,400 73,33% 1,113 1,508 Rerata 3,222 53,70% 1,008 4,420 73,70% 1,084 1,198 Sumber: Diolah oleh Tim PkM, 2024 Di sisi lain peserta kegiatan juga memberikan penilaian keyakinan dan optimismenya mengenai kemungkinan perbaikan berlakunya hospitality di berbagai cakupan kegiatan tersebut. Seluruh penilaian peserta kegiatan berada pada level relatif tinggi, dimana sesuai cakupan aktivitas sesuai penilaian dari yang terbaik yaitu: layanan pariwisata (4,633 poin atau sebesar 77,22%), aktivitas bisnis (4,600 poin atau 76,67%) hubungan antar masyarakat (4,267 poin atau sebesar 71,11%), layanan pemerintah (4,200 poin atau sebesar 70,00%), serta hospitality menjadi bagian dari citra kota Bandarlampung (4,400 poin atau 73,33%). Gambaran penilaian dan optimism kelompok responden peserta kegiatan PkM menunjukan gambaran yang sangat beragam. Kelompok pelaku organisasi adalah kelompok yang memberikan penilaian rendah pada penerapan hospitality di Bandarlampung, namun menunjukan oprimisme tertinggi mengenai kemungkinan meningkatnya penerapan hospitality di berbagai aspek. Perbedaan antara penilaian dan optimism kelompok ini juga paling besar diantara kelompok lainnya. Kelompok pelaku usaha dan mahasiswa memiliki penilaian yang relatif sama mengenai kondisi pemberlakuan hospitality di Bandarlampung. Penilaian di masing-masing kelompok juga seragam dimana memberikan penilaian sedang bagi pemberlakukan hospitality. Uniknya kedua kelompok meski memiliki optimism yang relatif tinggi, namun optimism ini sangat ragam diberikan oleh responden di masing-masing kelompok. Dengan kata lain, tidak seluruh anggota di masing-masing dari kedua kelompok tersebut, yakin bahwa hospitality di berabagi aspek kehidupan kota Bandarlampung dapat mengalami perbaikan yang signifikan. Gambar 2. Gambaran Penilaian dan Optimisme Penerapan Hospitality Sumber: Diolah oleh Tim PkM, 2024 Peserta PkM juga memberikan tanggapan mengenai berbagai hal yang sangat mereka anggap berhubungan erat dengan hospitality. Dari ragamnya tanggapan peserta, sejumlah kata yang berkaitan erat dengan hospitality antara lain adalah: pelayanan, ramah atau keramahan,
13 | R a g o m : V o l . 3 N o . 1 senyum, keamanan, dan kesopanan. Beberapa cakupan kata lain menyangkut industri juga muncul yang terdiri dari: wisata dan pariwisata, transportasi, hotel dan akomodasi, serta restoran. Kata tamu dan tuan rumah (host) juga muncul berkaitan erat dengan kata-kata utama dari hasil pemetaan ini. Kata paradiplomasi juga disebutkan oleh beberapa peserta kegiatan dan cukup memperlihatkan hubungan yang kuat dengan kata tamu dan pelayanan. Gambar 3. Peta kata utama menggambarkan hospitality dibenak peserta kegiatan Sumber: Diolah oleh Tim PkM, 2024 Peserta kegiatan juga diminta pendapatnya untuk menyebutkan nama-nama daerah yang dalam benak mereka sangat menunjukan citra hospitality yang prima. Sejumlah nama daerah seperti: Bandung, Yogyakarta, Denpasarar atau Bali, Solo, dan Jakarta dan nama-nama daerah khususnya di Pulau Jawa lainnya mendominasi tanggapan peserta kegiatan. Sejumlah nama daerah lain di luar pulau Jawa juga diberikan oleh peserta kegiatan, seperti dari wilayah Sumatera diantaranya: Palembang, Aceh, Medan dan Pangkalpinang. Daerah lainnya yang juga masuk dalam tanggapan peserta kegiatan sebagai contoh daerah yang memiliki citra hospitality terbaik adalah: Manado, Makassar, Lombok, dan Flores. Lampung sendiri dalam hal ini hanya disebut oleh oleh 4 peserta kegiatan. Daerah tersebut merupakan daerah dengan best practice penerapan hospitality di berbagai aspek. Gambar 4. Kota dengan gambaran citra Hospitality terbaik menurut peserta kegiatan Sumber: Diolah oleh Tim PkM, 2024 Pada akhir kegiatan peserta juga diminta tanggapannya menyangkut minat dan ketertarikannya untuk terlibat dalam memberlakukan hospitality. Tiga konteks minat peserta kegiatan berada pada level sangat tinggi khsusunya keinginan untuk menerapkan hospitality di dalam kehidupan sehari-hari. Penilaian pada elemen ini sebesar 5,300 atau sebesar 88,33%. Sedangkan untuk dua konteks lainnya yaitu penerapan di organisasi, bisnis, atau
14 | R a g o m : V o l . 3 N o . 1 kegiatan yang diikuti peserta kegiatan, serta keingingan untuk terlibat dalam mempromosikan hospitality kepada masyarakat luas berada pada level yang sama yaitu sebesar 5,167 poin atau sebesar 86,11%. Tabel 4. Minat peserta kegiatan untuk terlibat memberlakukan Hospitality Ketertarikan Peserta Kegiatan Poin % St Dev Memberlakukan hospitality di organisasi/bisnis/kegiatan 5,167 86,11% 0,949 Menerapkan hospitality dalam kehidupan sehari-hari 5,300 88,33% 1,022 Menjadi penggiat/terlibat aktif mempromosikan hospitality di kota Bandarlampung 5,167 86,11% 0,985 Sumber: Diolah oleh Tim PkM, 2024 Gambaran penilaian dari kelompok kelompok peserta kegiatan dalam minat untuk menerapkan dan terlibat mempromosikan hospitality di keseluruhan penilaian relatif seragam. Kelompok pelaku usaha, pengurus organisasi, dan mahasiswa secara umum memiliki minat sangat tinggi untuk menerapkan hospitality di kehidupan sehari-hari, dalam usaha atau organisasi yang dikelolanya, termasuk untuk menjadi penggiat atau tergabung pada institusi yang mempromosikan hospitality. Performa penilaian pada bagian ini juga menjadi salah satu landasan awal dari rencana pembentukan komunitas “Lampung Punn”. Peserta kegiatan juga bersedia untuk memenuhi undangan di waktu mendatang untuk mematangkan ide tersebut. Gambar 5. Gambaran Minat Penerapan dan Keterlibatan Mempromosikan Hospitality Kelompok Responden Pre-Test dan Post-Test Sumber: Diolah oleh Tim PkM 3.2 Pembahasan Praktik hospitality ditengah era pasar bebas dan globalisasi tidak dapat dielakan menjadi salah satu bagian penting dalam pengelolaan suatu usaha dan bisnis, hubungan antar Masyarakat, pelayaan pemerintah daerah dan negara, termasuk bagian pembangun citra suatu daerah atau negara. Praktik hospitality menjadi penting karena ditengah kompetisi bisnis dan persaingan antar daerah dan negara, hospitality menjadi salah satu nilai keunggulan. Praktik hospitality menjadikan pihak lain, yaitu konsumen dan mitra, akan mendapat perlakuan yang layak dan pelayanan prima ketika berhubungan dengan pelaku praktik hospitality yaitu pelaku usaha di berbagai industri, termasuk pemerintah daerah dan negara. Di tengah kondisi ini, tim PkM melihat di Provinsi Lampung termasuk Kota Bandarlampung, praktik hospitality belum dilakukan secara maksimal oleh seluruh pelaku usaha, masyarakat, termasuk pemerintah. Hal ini dibuktikan dari belum
15 | R a g o m : V o l . 3 N o . 1 hadirnya hospitality sebagai citra utama Provinsi Lampung dan Kota Bandarlampung, bila dibandingkan dengan kota dan daerah lain di Indonesia. Hal serupa juga terbukti dalam data yang dikumpulkan tim PkM sepanjang kegiatan ini. Hasil survey kegiatan Pk Mini menunjukan daerah-daerah yang dipersepsikan erat dengan hospitality umumnya berasal dari daerah di Pulau Jawa, seperti: Bandung, Jakarta, Solo, Bali, Yogyakarta. Tim PkM di awal perencanaan kegiatan mendiskusikan bahwa partisipasi inklusif yang hadir khususnya dari kelompok pemuda di Kota Bandarlampung dan Provinsi Lampung menjadi kunci keberhasilan promosi nilai-nilai hospitality termasuk menginsiasi praktik hospitality. Kelompok pemuda saat ini adalah kelompok yang memiliki kecakapan penggunaan teknologi informasi, serta didukung dengan semangat dan kreatifitas tinggi. Kelompok pemuda juga merupakan porsi penduduk terbesar dalam Masyarakat secara umum, serta menjadi bagian penting dalam suatu usaha dan bisnis dari berbagai industri, pegiat organisasi dan komunitas di berbagai bidang, yang umumnya juga merupakan pelajar dan mahasiswa yang menjadi generasi penerus dan ahli di suatu daerah atau negara. Dari paparan pada bagian sebelumnya beberapa hal dapat disimpulkan mengenai kondisi di ketiga kekompok pemuda tersebut: a. Kelompok Pemuda Pelaku Usaha - Kelompok ini memiliki level pemahaman paling beragam mengenai konsep hospitality dan faktor pembangunnya, serta peran pentingnya di berbagai aktivitas. - Praktik hospitality pada kelompok ini belum dianggap sebagai permasalahan strategis, dibanding permasalahan lainnya seperti pemasaran, pemodalan, dan pengelolaan produksi di usahanya. - Rendahnya keterlibatan pelaku usaha untuk mempraktikan dan mempromosikan hospitality dalam promosi usahanya. b. Kelompok Pemuda Pengurus Organisasi - Kelompok ini memiliki level pemahaman paling seragam mengenai konsep hospitality dan faktor pembangunnya, serta peran pentingnya di berbagai aktivitas. - Uniknya di kelompok ini dengan pemahaman yang relatif lebih tinggi seperti dalam, namun pemahaman pentingnya hospitality di berbagai aktivitas kehidupan justru kurang memahami pentingnya hal tersbeut bagi citra daerah. - Kelompok ini belum maksimal dalam menerapkan praktik hospitality dalam pengelolaan organisasi yang diikutinya. Praktik hospitality dipromosikan terbatas untuk menjadi aturan sosial kehidupan internal antar anggota organisasi. c. Kelompok Pemuda Mahasiswa - Merupakan kelompok yang memiliki level pemahaman mengenai konsep dan faktor pembangun hospitality relatif rendah dan sangat beragam, termasuk dalam melihat pentingnya hospitality di berbagai aktivitas. - Kelompok ini relatif memandang hospitality sebagai bagian tradisi yang diturunkan dan butuh dibudayakan kehidupan bermasyarakat. - Praktik hospitality dengan begitu dilakukan sebagai bagian dari kepatuhan pada norma yang berlaku dalam berhubungan dengan keluarga, guru, dan kehidupan pertemanan.