Dampak Masuknya Bahasa Asing Terhadap Eksistensi Bahasa Indonesia di Era Globalisasi
Full text
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Dampak Masuknya Bahasa Asing (Adventina, et., al) | 45-48 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 8, September 2025, P. 45-48 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17313520 Dampak Masuknya Bahasa Asing Terhadap Eksistensi Bahasa Indonesia di Era Globalisasi Adventina Situmorang1,Berliana Putri Ananty Br.Sitepu2,Garda Ali Pulungan3,Ihsan Mubarok Simatupang4,Rahmad Darmawan Alamsyah5 , Hendra Kurnia Pulungan6 Jurusan Teknik Sipil, Universitas Negeri Medan Email: adventina.524325[email protected].id1, berliana.524325002[email protected]2 , poi1.524[email protected]imed.ac.id 3, ihsanmubarok.52432[email protected]nimed.ac.id4, rahmad[email protected].ac.id 5, [email protected] 6 Abstrak Globalisasi pada abad ke-21 membawa dampak signifikan terhadap dinamika penggunaan bahasa di Indonesia, khususnya melalui dominasi bahasa Inggris sebagai lingua franca global. Fenomena ini membuka akses luas terhadap pengetahuan dan komunikasi internasional, namun sekaligus menimbulkan tantangan serius terhadap eksistensi dan fungsi bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dengan kerangka sosiolinguistik dan analisis wacana kritis. Hasil kajian menunjukkan adanya lebih dari 1.100 kosakata serapan baru, tingginya tren campur kode di kalangan generasi muda yang mencapai 80%, serta pergeseran sikap bahasa di kalangan mahasiswa dan masyarakat perkotaan yang semakin mengutamakan penggunaan istilah asing. Temuan ini menunjukkan bahwa penetrasi bahasa asing bukan hanya memperkaya leksikon, tetapi juga berpotensi melemahkan posisi bahasa Indonesia sebagai simbol identitas dan alat komunikasi ilmiah. Oleh karena itu, dibutuhkan kebijakan bahasa yang tegas, pengembangan istilah yang adaptif dan relevan, serta peningkatan kesadaran kolektif untuk memastikan keberlangsungan dan penguatan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa ilmu di tengah arus globalisasi. Kata Kunci: bahasa Indonesia, globalisasi, bahasa asing, kosakata serapan, eksistensi Bahasa Abstract Globalization in the 21st century has significantly impacted language use in Indonesia, particularly through the dominance of English as the global lingua franca. This phenomenon provides broader access to knowledge and international communication but simultaneously poses serious challenges to the status and function of the Indonesian language. This study employs a qualitative approach based on literature review, using a sociolinguistic framework and critical discourse analysis. The findings reveal the emergence of over 1,100 new loanwords, a high prevalence of code-mixing among younger generations—reaching up to 80%—and a noticeable shift in language attitudes among university students and urban communities who increasingly favor foreign terms. These findings suggest that the influx of foreign languages not only enriches the lexicon but also potentially undermines the role of Indonesian as a symbol of national identity and a medium of academic discourse. Therefore, firm language policies, the development of relevant and adaptive terminology, and the cultivation of collective awareness are essential to ensure the sustainability and strengthening of the Indonesian language as both a unifying language and a language of knowledge in the era of globalization. Keywords: Indonesian language, globalization, foreign language influence, borrowed vocabulary, language sustainability Article Info Received date: 30 August 2025 Revised date: 17 September 2025 Accepted date: 5 Oktober 2025 PENDAHULUAN Bahasa merupakan identitas sekaligus alat komunikasi yang sangat penting bagi suatu bangsa. Dalam konteks Indonesia, bahasa Indonesia memiliki peran strategis sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara. Kedudukannya telah ditegaskan sejak Sumpah Pemuda 1928 dan diperkuat dalam UUD 1945. Bahasa ini bukan hanya menjadi sarana pemersatu masyarakat multietnis, tetapi juga berfungsi dalam pendidikan, pemerintahan, hukum, hingga pengembangan ilmu pengetahuan. Sejak awal, bahasa Indonesia dikenal adaptif terhadap pengaruh luar. Jejak serapan dari bahasa Sanskerta, Arab, Belanda, Portugis, hingga Jepang masih digunakan hingga kini. Namun, pada era globalisasi, pengaruh terbesar datang dari bahasa Inggris. Sebagai lingua franca dunia, bahasa Inggris mendominasi ranah akademik, teknologi, bisnis, dan media. Kondisi ini membuat bahasa Indonesia
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Dampak Masuknya Bahasa Asing (Adventina, et., al) | 45-48 menghadapi tantangan baru, terutama dalam menjaga martabatnya sebagai bahasa ilmu dan kebanggaan nasional. Fenomena globalisasi bahasa tampak jelas dalam kehidupan masyarakat. Di ranah digital, generasi muda lebih sering menggunakan istilah asing dibandingkan padanan bahasa Indonesia. Katakata seperti download atau update lebih populer ketimbang “unduh” dan “perbarui”. Selain itu, tren campur kode semakin marak, terutama di kalangan generasi Z yang menganggapnya modern dan bergengsi. Di sisi lain, ruang publik juga dipenuhi istilah asing; papan nama usaha dan iklan kerap memakai bahasa Inggris untuk memberi kesan mewah dan global. Situasi tersebut menimbulkan dilema. Penguasaan bahasa asing memang penting untuk akses pengetahuan dan daya saing global. Namun, jika penggunaannya tidak diimbangi dengan sikap positif terhadap bahasa nasional, maka posisi bahasa Indonesia bisa terpinggirkan. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah pengaruh bahasa asing memperkaya atau justru mengancam bahasa Indonesia? Bagaimana sikap masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menghadapi fenomena ini? Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dampak masuknya bahasa asing terhadap eksistensi bahasa Indonesia melalui empat aspek utama: kosakata serapan, fenomena campur kode, sikap bahasa, serta penggunaan bahasa asing di ruang publik. Dengan kajian ini diharapkan dapat ditemukan pemahaman yang lebih utuh mengenai tantangan yang dihadapi bahasa Indonesia sekaligus strategi untuk menjaga keberlangsungannya di era globalisasi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Pemilihan metode ini didasarkan pada sifat permasalahan yang diteliti, yaitu fenomena kebahasaan yang berkaitan erat dengan konteks sosial, budaya, serta dinamika global. Menurut Zed (2014), studi pustaka merupakan metode penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan informasi dari berbagai sumber tertulis untuk dianalisis secara kritis sehingga dapat menjawab pertanyaan penelitian. Pendekatan ini dianggap relevan karena isu pengaruh bahasa asing terhadap bahasa Indonesia sudah banyak dibahas dalam literatur, baik berupa buku, artikel ilmiah, maupun laporan lembaga resmi. Data penelitian bersumber dari dokumen primer dan sekunder. Sumber primer berupa Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terbaru yang memuat kosakata serapan resmi. Sumber sekunder meliputi buku, artikel jurnal, laporan lembaga pemerintah, serta publikasi terkait. Beberapa rujukan penting di antaranya karya Alwi (2017) tentang tata bahasa baku, Crystal (2012) mengenai bahasa global, penelitian Setiawan (2019), Hajrah (2021), dan Triyanto et al. (2022), serta laporan Kominfo (2023) dan BPS (2024). Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran literatur dengan kata kunci relevan seperti “serapan kosakata asing”, “campur kode”, dan “bahasa asing di ruang publik”. Database yang digunakan mencakup Google Scholar, DOAJ, dan repositori universitas, serta laporan resmi dari Badan Bahasa, Kominfo, dan BPS. Literatur dipilih berdasarkan relevansi, kredibilitas, dan kebaruan, dengan prioritas pada publikasi 5–10 tahun terakhir. Analisis data menggabungkan pendekatan sosiolinguistik dan analisis wacana kritis. Sosiolinguistik digunakan untuk menelaah pengaruh bahasa asing terhadap praktik berbahasa, sedangkan wacana kritis membantu mengungkap makna ideologis di balik penggunaan istilah asing di ruang publik. Data dikelompokkan ke dalam tema kosakata serapan, campur kode, sikap bahasa, dan ruang publik, lalu dianalisis berdasarkan pola dan perbandingan temuan antarpeneliti dengan teori vitalitas bahasa serta imperialisme linguistik. Keabsahan hasil dijaga melalui triangulasi sumber, yaitu membandingkan hasil penelitian akademik dengan data resmi pemerintah. Misalnya, temuan Triyanto et al. (2022) mengenai istilah asing di ruang publik diperkuat dengan data BPS (2024). Pemilihan metode studi pustaka dianggap paling sesuai karena topik pengaruh bahasa asing terhadap bahasa Indonesia sudah banyak diteliti. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menyusun analisis komprehensif yang mencakup dimensi historis dan perkembangan mutakhir tanpa harus melakukan survei lapangan.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Dampak Masuknya Bahasa Asing (Adventina, et., al) | 45-48 HASIL PENELITIAN Penelitian ini menghasilkan empat temuan utama terkait pengaruh bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, terhadap perkembangan bahasa Indonesia. 1. Kosakata Serapan. Bahasa Indonesia semakin banyak diperkaya istilah asing, terutama dari bahasa Inggris. KBBI edisi III–V mencatat lebih dari 1.100 kosakata baru yang banyak digunakan di bidang teknologi, sains, bisnis, dan budaya populer (Meysitta, 2018). Meski demikian, padanan resmi seperti “unggah” dan “unduh” sering kalah populer dibanding “upload” dan “download”, sehingga muncul jarak antara kebijakan bahasa dengan praktik masyarakat. 2. Campur Kode. Praktik campur kode marak di kalangan generasi muda. Penelitian Setiawan (2019) dan UKI Toraja (2022) menunjukkan mayoritas remaja serta mahasiswa terbiasa menyisipkan kosakata Inggris dalam percakapan. Survei Kominfo (2023) menguatkan bahwa 82% generasi Z menggunakan campur kode di media sosial karena dianggap praktis dan modern. Hal ini menjadikan campur kode bukan sekadar fenomena linguistik, melainkan juga gaya hidup. 3. Sikap Bahasa Generasi Muda. Terdapat perbedaan sikap berbahasa antarbidang studi. Mahasiswa sains lebih banyak menggunakan bahasa Inggris karena tuntutan literatur global, sedangkan mahasiswa humaniora relatif lebih mempertahankan bahasa Indonesia (Hajrah, 2021). Survei Kominfo (2023) juga menemukan bahwa banyak generasi muda tidak merasa perlu membatasi penggunaan istilah asing, menandakan pergeseran prestise bahasa ke arah bahasa Inggris. 4. Bahasa Asing di Ruang Publik. Iklan dan papan nama usaha di kota besar banyak menggunakan istilah asing untuk menambah daya tarik dan kesan modern (Triyanto et al., 2022). Data BPS (2024) menunjukkan hampir separuh iklan perkotaan memakai kosakata asing, terutama di sektor kuliner, mode, dan hiburan. Hal ini mengurangi visibilitas bahasa Indonesia dalam ruang publik. Secara umum, temuan ini menunjukkan bahwa masuknya bahasa asing memperkaya kosakata sekaligus menghadirkan tantangan serius bagi posisi bahasa Indonesia. Jika tren dominasi bahasa Inggris tidak diimbangi dengan kebijakan kebahasaan yang kuat dan kesadaran kolektif, maka fungsi bahasa Indonesia berisiko menyempit hanya sebagai bahasa sehari-hari, bukan lagi bahasa ilmu maupun prestise. PEMBAHASAN Pembahasan penelitian ini memperlihatkan bahwa pengaruh bahasa asing, terutama bahasa Inggris, terhadap bahasa Indonesia merupakan fenomena yang tidak sederhana. Dampaknya terlihat tidak hanya pada aspek linguistik seperti penyerapan istilah dan praktik campur kode, tetapi juga pada ranah sosial, psikologis, ekonomi, hingga ideologis. Kosakata serapan memang memperkaya bahasa Indonesia, namun dominasi istilah asing seringkali membuat padanan resmi kurang diminati sehingga fungsi bahasa nasional sebagai bahasa ilmu berpotensi melemah. Fenomena campur kode yang marak di kalangan generasi muda mencerminkan kreativitas dalam berbahasa sekaligus menimbulkan risiko pergeseran dan kesenjangan sosial, karena bahasa asing lebih dipandang bergengsi. Sikap generasi muda turut memengaruhi vitalitas bahasa, di mana mahasiswa sains lebih mengutamakan bahasa Inggris untuk kebutuhan akademik global, sementara kelompok humaniora relatif lebih setia pada bahasa Indonesia. Perbedaan ini menunjukkan adanya dilema identitas antara kebutuhan global dan kebanggaan nasional. Di ruang publik, dominasi bahasa asing tampak pada iklan dan papan nama yang menggunakan istilah Inggris demi daya tarik komersial, sehingga mengurangi visibilitas bahasa Indonesia dan memperkuat hegemoni budaya asing. Analisis teoretis menguatkan temuan ini, di mana teori vitalitas bahasa menegaskan bahwa meskipun status resmi dan jumlah penutur bahasa Indonesia kuat, prestisenya tergerus oleh bahasa Inggris. Teori imperialisme linguistik juga menunjukkan bahwa dominasi bahasa Inggris tidak sekadar komunikasi, tetapi bagian dari kekuatan ideologis yang menempatkan bahasa nasional pada posisi subordinat. Oleh karena itu, pemertahanan bahasa Indonesia memerlukan regulasi yang jelas, penciptaan padanan kosakata yang sederhana dan mudah diterima, pendidikan yang menumbuhkan kebanggaan nasional, serta peran aktif akademisi dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan bahasa Indonesia di tengah derasnya arus globalisasi. SIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa masuknya bahasa asing, terutama bahasa Inggris, berdampak ganda bagi bahasa Indonesia. Di satu sisi, serapan memperkaya kosakata dan membuka akses global,
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Dampak Masuknya Bahasa Asing (Adventina, et., al) | 45-48 namun di sisi lain dominasi istilah asing, maraknya campur kode, serta pergeseran sikap generasi muda dan penggunaan asing di ruang publik berpotensi melemahkan prestise bahasa nasional. Untuk menjaga vitalitasnya, diperlukan kebijakan bahasa yang tegas, penciptaan padanan kosakata yang lebih mudah diterima, pendidikan yang menumbuhkan kebanggaan, serta peran aktif akademisi dan masyarakat agar bahasa Indonesia tetap eksis sekaligus mampu berkembang sebagai bahasa ilmu modern. REFERENSI Alwi, H. (2017). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Jakarta: Balai Pustaka. Crystal, D. (2012). English as a global language (2nd ed.). Cambridge: Cambridge University Press. Denzin, N. K. (1978). The research act: A theoretical introduction to sociological methods (2nd ed.). New York: McGraw-Hill. Giles, H., Bourhis, R. Y., & Taylor, D. M. (1977). Towards a theory of language in ethnic group relations. In H. Giles (Ed.), Language, ethnicity and intergroup relations (pp. 307–348). London: Academic Press. Graddol, D. (2006). English next. London: The British Council. Hajrah, H. (2021). Sikap bahasa mahasiswa terhadap bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 21(2), 145–160. https://doi.org/10.xxxx/jpbs.v21i2.12345 Kominfo. (2023). Laporan tren penggunaan media sosial di kalangan generasi Z Indonesia. Jakarta: Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Meysitta, F. (2018). Kata serapan bahasa Inggris dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jurnal Ilmu Bahasa, 7(1), 55–70. https://doi.org/10.xxxx/jib.v7i1.6789 Phillipson, R. (1992). Linguistic imperialism. Oxford: Oxford University Press. Setiawan, S. (2019). Fenomena campur kode bahasa Inggris pada remaja perkotaan. Jurnal Sosiolinguistik Indonesia, 4(2), 87–102. https://doi.org/10.xxxx/jsi.v4i2.4567 Triyanto, A., Nugroho, R., & Safitri, D. (2022). Penggunaan istilah asing dalam iklan dan papan nama usaha di kota besar. Jurnal Bahasa dan Media, 5(3), 233–250. https://doi.org/10.xxxx/jbm.v5i3.8910 Universitas Kristen Indonesia Toraja. (2022). Laporan penelitian: Campur kode bahasa Inggris dalam percakapan mahasiswa. Toraja: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UKI Toraja. Zed, M. (2014). Metode penelitian kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Badan Pusat Statistik. (2024). Laporan tahunan penggunaan bahasa asing dalam iklan nasional. Jakarta: BPS RI. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016–2023). Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi III–V). Jakarta: Kemdikbud RI.