Pengaruh Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik Smp Muhammadiyah 2 Taman
Full text
2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Pengaruh Pembelajaran Problem (Fernanda1, et., al) | 19-24 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Volume 1, Issue 4, OCtober 2025, P. 19-24 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17359409 Pengaruh Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik Smp Muhammadiyah 2 Taman Aprillita Eka Fernanda1, Muhammad Ilyas Marzuqi 2 1,2Universitas Negeri Surabaya, Indonesia Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik di SMP Muhammadiyah 2 Taman Sidoarjo. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya pendidikan dalam membentuk mutu manusia yang unggul serta perlunya penguasaan keterampilan abad ke-21, terutama kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen kuantitatif dengan populasi peserta didik kelas VIII B dan VIII E tahun ajaran 2024/2025. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara non-probability sampling, sedangkan analisis data mencakup uji validitas, reliabilitas, normalitas, homogenitas, N-Gain, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning (PBL) berpengaruh signifikan terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis peserta didik. Peserta didik yang belajar melalui model PBL menunjukkan kemampuan lebih baik dalam menganalisis, mengevaluasi, dan menginterpretasikan informasi dibandingkan dengan peserta didik yang mengikuti pembelajaran konvensional. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learning (PBL) efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik dan dapat dijadikan alternatif strategi pembelajaran yang relevan dalam menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21. Kata Kunci: Pendidikan, Berpikir Kritis, Problem Based Learning (PBL) Abstract This study aims to determine the effect of the Problem Based Learning (PBL) model on students’ critical thinking skills at SMP Muhammadiyah 2 Taman Sidoarjo. The background of this research is based on the importance of education in shaping the quality of human resources and the necessity for mastering 21st-century skills, particularly critical thinking, creativity, communication, and collaboration. This research employed a quantitative experimental method with a population consisting of students from classes VIII B and VIII E in the 2024/2025 academic year. The sampling technique used was non-probability sampling, and data analysis included validity testing, reliability testing, normality testing, homogeneity testing, N-Gain testing, and hypothesis testing. The results showed that the implementation of the Problem Based Learning (PBL) model had a significant effect on improving students’ critical thinking skills. Students who were taught using the PBL model demonstrated better abilities in analyzing, evaluating, and interpreting information compared to those who experienced conventional learning methods. Therefore, it can be concluded that the implementation of the Problem Based Learning (PBL) model is effective in enhancing students’ critical thinking skills and can serve as a relevant learning strategy to address the challenges of 21st-century education. Keywords: Education, Critical Thingking, Problem Based Learning (PBL) Article Info Received date: 25 September 2025 Revised date: 27 September 2025 Accepted date: 12 October 2025 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan aspek fundamental dalam pembangunan bangsa yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter, watak, serta kualitas sumber daya manusia. Ki Hajar Dewantara mendefinisikan pendidikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak, di mana pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka, sebagai manusia dan anggota masyarakat, dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pemikiran ini menunjukkan bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya proses transfer ilmu, tetapi juga proses pembentukan pribadi yang berkarakter, beretika, dan berdaya guna bagi masyarakat dan negara. Dengan demikian, pendidikan yang baik tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, melainkan juga pada pengembangan nilai moral, spiritual, dan sosial yang menyeluruh.
2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Pengaruh Pembelajaran Problem (Fernanda1, et., al) | 19-24 Dalam konteks Indonesia, pendidikan memiliki peran strategis dalam meningkatkan mutu manusia dan memajukan bangsa di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi yang sangat cepat. Namun, kondisi pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius. Perubahan yang begitu cepat di era globalisasi menuntut sistem pendidikan untuk mampu beradaptasi, berinovasi, dan menyiapkan peserta didik agar tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga siap menghadapi tantangan kehidupan abad ke-21. Tantangan ini mencakup kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, serta kolaborasi lintas bidang dan budaya. Akan tetapi, pada kenyataannya, mutu pendidikan nasional masih belum sepenuhnya mampu menyiapkan peserta didik untuk memiliki keterampilan tersebut. Menurut Hurri dan Widiyanto (2018), pendidikan seharusnya tidak hanya bertujuan mencetak individu yang cerdas, tetapi juga membentuk karakter, sikap, dan watak yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila serta nilai agama. Tujuan tersebut menjadi semakin penting karena dunia saat ini tengah memasuki era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, di mana kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) menjadi kunci keberhasilan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin kompleks, peserta didik harus dibekali dengan keterampilan berpikir kritis agar mampu memecahkan berbagai persoalan yang muncul secara mandiri dan rasional. Keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi utama abad ke-21 yang sangat penting untuk dimiliki peserta didik. Haryanti (2017) menyatakan bahwa praktik kelas modern telah mengalami banyak perubahan dibandingkan satu dekade lalu, dan keberhasilan pendidikan kini tidak hanya diukur dari penguasaan konten semata, tetapi juga dari kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kompetensi interpersonal. Peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik akan lebih mampu memahami masalah, menganalisis informasi, menyusun argumen logis, dan menghasilkan solusi yang kreatif serta inovatif. Sebaliknya, peserta didik yang kurang memiliki keterampilan ini cenderung pasif, mudah menerima informasi tanpa analisis, dan kesulitan menghadapi situasi baru yang menuntut penalaran mendalam. Namun, berdasarkan observasi awal di SMP Muhammadiyah 2 Taman, keterampilan berpikir kritis peserta didik masih tergolong rendah. Kondisi ini tampak dari kurangnya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran. Banyak siswa yang tidak berani mengajukan pertanyaan, enggan menanggapi permasalahan yang diberikan guru, serta kurang percaya diri dalam mengemukakan pendapat atau ide di kelas. Aktivitas belajar masih didominasi oleh guru, sementara siswa berperan sebagai penerima informasi pasif. Situasi ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran belum mendorong siswa untuk berpikir kritis dan aktif mengeksplorasi ide secara mandiri. Jika kondisi ini dibiarkan, maka akan berdampak pada rendahnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah, mengevaluasi informasi, serta mengembangkan kreativitas dan inovasi yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan abad ke-21. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan strategi pembelajaran yang inovatif dan berpusat pada siswa (student-centered learning). Salah satu model yang relevan dan terbukti efektif adalah Problem Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah. Menurut Muhson (2009), PBL merupakan pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks bagi peserta didik untuk belajar berpikir kritis dan memecahkan masalah. Melalui PBL, siswa diajak untuk belajar secara aktif dengan cara mengidentifikasi masalah, mencari informasi yang relevan, mendiskusikan solusi, serta menyajikan hasil pemikiran mereka secara kolaboratif. Proses ini tidak hanya menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, tetapi juga membentuk kemandirian, tanggung jawab, dan keterampilan sosial. Hosnan (2014) menegaskan bahwa pembelajaran berbasis masalah memiliki keunggulan dalam mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi karena memberikan pengalaman belajar yang bermakna melalui penyelesaian masalah kontekstual. Dalam lingkungan PBL, siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai teori, tetapi juga memahami bagaimana menerapkan konsep tersebut dalam situasi nyata. Dengan demikian, PBL dapat menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dengan kehidupan praktis. Anugraheni (2018) juga menyebutkan bahwa melalui kegiatan kolaboratif dalam PBL, peserta didik berkesempatan untuk berinteraksi, bertukar ide, dan saling menanggapi secara kritis, sehingga keterampilan berpikir kritis mereka meningkat secara signifikan. Beberapa penelitian terdahulu juga menunjukkan efektivitas PBL dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh Qomariyah (2016)
2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Pengaruh Pembelajaran Problem (Fernanda1, et., al) | 19-24 menunjukkan bahwa penerapan PBL dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa melalui peningkatan kemampuan berpikir kritis. Hasil serupa juga ditemukan oleh Septikasari dan Frasandy (2018), yang menyatakan bahwa PBL mampu menumbuhkan kemampuan peserta didik untuk berpikir logis, analitis, dan kreatif dalam menghadapi permasalahan nyata di lingkungan belajar. Berdasarkan berbagai temuan tersebut, penerapan model pembelajaran PBL dapat menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi rendahnya keterampilan berpikir kritis di sekolah. Mengingat pentingnya keterampilan berpikir kritis dalam pendidikan modern, maka penelitian ini dilakukan untuk menganalisis sejauh mana penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik di SMP Muhammadiyah 2 Taman. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas proses pembelajaran, khususnya dalam membentuk peserta didik yang aktif, kreatif, dan mampu berpikir kritis dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik SMP Muhammadiyah 2 Taman. Adapun hipotesis penelitian yang diajukan ialah bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis peserta didik. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen. Tujuan dari penerapan metode ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik. Penelitian dilaksanakan di SMP Muhammadiyah 2 Taman, yang beralamat di Jalan Belakang Pasar Lama No. 135, Sepanjang, Kelurahan Wonocolo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII B dan VIII E tahun ajaran 2024/2025, dengan jumlah keseluruhan 60 siswa. Kelas VIII B ditetapkan sebagai kelas eksperimen yang mendapatkan perlakuan dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), sedangkan kelas VIII E ditetapkan sebagai kelas kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional. Pemilihan subjek dilakukan dengan teknik non-probability sampling berdasarkan pertimbangan kesetaraan kemampuan akademik dan kemudahan akses penelitian. Prosedur penelitian dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah perencanaan, meliputi penyusunan perangkat pembelajaran seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar aktivitas siswa, dan instrumen tes keterampilan berpikir kritis. Tahap kedua adalah pelaksanaan pembelajaran, di mana kelas eksperimen mendapatkan pembelajaran berbasis masalah (PBL) yang terdiri atas tahapan: (1) orientasi peserta didik pada masalah, (2) pengorganisasian peserta didik untuk belajar, (3) penyelidikan mandiri maupun kelompok, (4) pengembangan dan penyajian hasil, serta (5) analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah. Kelas kontrol memperoleh pembelajaran dengan metode ceramah dan tanya jawab seperti biasa. Tahap ketiga adalah pengumpulan data yang dilakukan melalui pemberian tes keterampilan berpikir kritis kepada kedua kelompok sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) proses pembelajaran. Data yang diperoleh dari hasil tes dianalisis menggunakan serangkaian uji statistik. Langkah pertama adalah uji validitas oleh ahli untuk memastikan kelayakan butir soal tes. Selanjutnya dilakukan uji reliabilitas untuk mengukur konsistensi instrumen. Data hasil pretest dan posttest kemudian diuji normalitas dan homogenitas untuk menentukan distribusi data dan kesamaan varians antar kelompok. Setelah memenuhi syarat, dilakukan uji N-Gain untuk mengetahui peningkatan keterampilan berpikir kritis sebelum dan sesudah perlakuan, serta uji hipotesis (uji t) untuk menguji signifikansi pengaruh model pembelajaran PBL terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik. Proses analisis data dilakukan secara kuantitatif menggunakan bantuan perangkat lunak statistik. Hasil dari analisis ini dijadikan dasar dalam menarik kesimpulan mengenai efektivitas model pembelajaran Problem Based Learning terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis peserta didik. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik di SMP Muhammadiyah 2 Taman Sidoarjo. Penelitian ini dilakukan pada dua kelas yang memiliki karakteristik akademik relatif seimbang, yakni kelas VIII B sebagai kelas eksperimen yang diberikan perlakuan dengan model
2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Pengaruh Pembelajaran Problem (Fernanda1, et., al) | 19-24 pembelajaran Problem Based Learning, dan kelas VIII E sebagai kelas kontrol yang diajar dengan metode pembelajaran konvensional. Kedua kelas mendapatkan materi dan durasi pembelajaran yang sama, sehingga perbedaan hasil yang diperoleh dapat ditinjau sebagai akibat dari perbedaan model pembelajaran yang diterapkan. Sebelum pelaksanaan kegiatan pembelajaran, peneliti memberikan tes awal (pretest) untuk mengukur kemampuan berpikir kritis peserta didik. Hasil pretest menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas eksperimen sebesar 63,25 sedangkan kelas kontrol memperoleh nilai rata-rata sebesar 62,10. Nilai ini memperlihatkan bahwa kemampuan berpikir kritis awal antara kedua kelas tidak memiliki perbedaan yang signifikan, sehingga dapat dinyatakan bahwa kemampuan awal peserta didik dalam kedua kelompok relatif sama. Kondisi ini penting agar perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen dapat dibandingkan secara objektif terhadap kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional. Setelah tahap pretest selesai, proses pembelajaran dengan model Problem Based Learning dilaksanakan di kelas eksperimen selama beberapa pertemuan. Dalam penerapan PBL, peserta didik dihadapkan pada permasalahan kontekstual yang berkaitan dengan kehidupan nyata dan relevan dengan materi pembelajaran. Peserta didik diminta untuk memahami permasalahan, mencari informasi yang diperlukan, berdiskusi dalam kelompok, dan mengembangkan solusi berdasarkan hasil penyelidikan. Sementara itu, peran guru berfungsi sebagai fasilitator yang memandu jalannya diskusi, memberikan arahan, serta membantu peserta didik dalam menyimpulkan hasil pembelajaran. Di sisi lain, kelas kontrol tetap melaksanakan pembelajaran seperti biasanya melalui metode ceramah dan tanya jawab yang bersifat satu arah, di mana guru lebih dominan dalam memberikan informasi dan siswa cenderung menjadi penerima pasif. Setelah proses pembelajaran selesai, dilakukan tes akhir (posttest) untuk mengukur kembali keterampilan berpikir kritis peserta didik. Hasil posttest menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata yang cukup signifikan pada kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol. Rata-rata nilai posttest pada kelas eksperimen mencapai 85,75, sedangkan pada kelas kontrol hanya mencapai 73,40. Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis peserta didik. Analisis lanjutan menggunakan uji N-Gain menunjukkan hasil peningkatan keterampilan berpikir kritis pada kelas eksperimen sebesar 0,71 yang termasuk dalam kategori tinggi, sedangkan kelas kontrol memperoleh nilai sebesar 0,45 yang berada dalam kategori sedang. Hasil ini memperlihatkan bahwa model PBL tidak hanya mampu meningkatkan nilai akhir peserta didik, tetapi juga meningkatkan kecepatan dan efektivitas proses belajar mereka dalam memahami konsep serta menerapkan pemikiran logis dan sistematis. Selanjutnya dilakukan uji normalitas dan homogenitas untuk memastikan bahwa data terdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen. Setelah data memenuhi syarat, dilakukan uji-t untuk mengetahui signifikansi perbedaan antara kedua kelompok. Berdasarkan hasil uji-t diperoleh nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pembelajaran menggunakan model PBL dan pembelajaran konvensional. Hal ini menandakan bahwa pembelajaran berbasis masalah secara statistik memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis peserta didik. Temuan ini sejalan dengan teori pembelajaran konstruktivistik yang dikemukakan oleh Piaget dan Vygotsky, yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif oleh peserta didik melalui interaksi dengan lingkungan dan teman sejawatnya. Dalam proses PBL, peserta didik berperan sebagai pembangun pengetahuan, bukan sekadar penerima informasi. Mereka belajar melalui pengalaman langsung, menganalisis permasalahan, dan menciptakan solusi yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Hal ini terbukti meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan ide baru. Selain itu, penelitian ini mendukung temuan Hosnan (2014) yang menyatakan bahwa PBL menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dengan memberikan konteks pembelajaran yang menuntut peserta didik untuk mengkaji, mengidentifikasi, dan mengevaluasi masalah secara mendalam. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Anugraheni (2018) yang menunjukkan bahwa keterlibatan aktif peserta didik dalam kegiatan kolaboratif selama proses pembelajaran PBL dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka secara signifikan. Peserta didik yang terlibat dalam kegiatan diskusi kelompok, debat argumentatif, dan pemecahan masalah bersama akan memiliki kesempatan untuk mengemukakan ide, mendengarkan pandangan lain, serta memperbaiki argumen
2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Pengaruh Pembelajaran Problem (Fernanda1, et., al) | 19-24 mereka berdasarkan bukti dan logika. Kegiatan ini secara tidak langsung melatih peserta didik untuk berpikir reflektif, sistematis, dan rasional. Selain mendukung teori dan penelitian terdahulu, hasil penelitian ini juga menunjukkan keunggulan PBL dalam konteks sekolah menengah pertama. Di tingkat SMP, peserta didik berada pada fase perkembangan kognitif operasional formal menurut Piaget, di mana mereka mulai mampu berpikir secara abstrak dan logis. Model pembelajaran PBL yang menuntut mereka untuk memahami masalah nyata dan mencari solusi konkret sesuai konteks kehidupan mereka terbukti mampu menstimulasi proses berpikir tersebut. Dengan kata lain, model ini sesuai dengan tahap perkembangan kognitif mereka dan membantu mengoptimalkan potensi berpikir kritis yang dimiliki. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian oleh Qomariyah (2016) yang menyatakan bahwa penerapan PBL dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sekaligus memperkuat keterampilan berpikir kritis melalui pembelajaran kontekstual. Dalam penelitian ini, peserta didik menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi selama proses pembelajaran. Mereka menjadi lebih aktif dalam bertanya, berpendapat, dan berdiskusi, serta menunjukkan keberanian untuk mengemukakan gagasan baru di hadapan teman-teman mereka. Hal ini berbeda dengan kondisi pada kelas kontrol, di mana peserta didik cenderung pasif dan menunggu penjelasan dari guru tanpa mencoba menggali informasi secara mandiri. Perbedaan hasil antara kedua kelas ini juga dapat dijelaskan melalui konsep student-centered learning yang menjadi prinsip utama PBL. Model pembelajaran konvensional yang bersifat teachercentered menempatkan guru sebagai pusat informasi dan kontrol utama, sehingga peserta didik kurang memiliki ruang untuk mengembangkan kemandirian berpikir. Sementara itu, dalam model PBL, peserta didik memiliki otonomi yang lebih besar untuk mengatur proses belajar mereka sendiri. Mereka belajar untuk merumuskan masalah, mengembangkan hipotesis, mengumpulkan data, serta menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang diperoleh. Proses ini secara alami melatih mereka untuk berpikir kritis dan analitis. Selain itu, keberhasilan penerapan PBL dalam penelitian ini tidak hanya terletak pada peningkatan hasil akademik, tetapi juga pada perubahan sikap belajar peserta didik. Selama penelitian berlangsung, peserta didik dalam kelas eksperimen menunjukkan peningkatan kepercayaan diri, rasa ingin tahu yang lebih besar, serta kemampuan bekerja sama yang lebih baik. Mereka menjadi lebih terbuka terhadap pendapat orang lain, belajar untuk menyampaikan argumen secara santun, dan menilai suatu informasi berdasarkan bukti, bukan asumsi. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat membentuk karakter ilmiah dan sikap reflektif yang penting bagi pembelajaran abad ke-21. Berdasarkan hasil penelitian ini menegaskan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik SMP Muhammadiyah 2 Taman. PBL terbukti mampu menciptakan suasana belajar yang aktif, kolaboratif, dan bermakna, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, memecahkan masalah secara kreatif, dan mengambil keputusan berdasarkan penalaran logis. Model pembelajaran ini tidak hanya meningkatkan hasil belajar secara kuantitatif, tetapi juga memberikan dampak kualitatif terhadap pola pikir dan sikap belajar peserta didik. Oleh karena itu, PBL dapat direkomendasikan sebagai alternatif strategi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran dan mempersiapkan peserta didik menghadapi tuntutan kompetensi abad ke21. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis peserta didik di SMP Muhammadiyah 2 Taman. Pembelajaran berbasis masalah mampu menciptakan situasi belajar yang aktif, kolaboratif, dan bermakna, sehingga mendorong peserta didik untuk lebih mandiri dalam berpikir, berani mengemukakan ide, serta mampu memecahkan permasalahan secara sistematis dan rasional. Melalui keterlibatan langsung dalam proses pembelajaran dan diskusi kelompok, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan konseptual, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti menganalisis, mengevaluasi, dan menyimpulkan informasi berdasarkan bukti yang diperoleh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa PBL efektif meningkatkan kualitas proses belajar dan hasil belajar peserta didik dibandingkan dengan metode konvensional yang bersifat satu arah. Dengan demikian, model pembelajaran Problem Based Learning dapat dijadikan alternatif strategi pembelajaran yang
2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Pengaruh Pembelajaran Problem (Fernanda1, et., al) | 19-24 relevan untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam menghadapi tantangan pembelajaran abad ke-21. REFERENSI Anugraheni, I. (2018). The effectiveness of problem based learning in improving students’ critical thinking skill in primary schools. Journal of Education and Learning (EduLearn), 12(3), 562–570. Azizah, N., Sulianto, J., & Cintang, N. (2018). The development of critical thinking skills through problem-based learning in elementary school. Journal of Primary Education, 7(3), 302–310. Dewantara, K. H. (1962). Pendidikan. Yogyakarta: Taman Siswa. Haryanti, A. (2017). The influence of modern learning practices on students’ critical thinking and interpersonal competence. International Journal of Educational Research Review, 2(2), 34–42. Hosnan, M. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia. Hurri, I., & Widiyanto, M. (2018). Pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila dalam pembentukan watak peserta didik. Jurnal Pendidikan Karakter, 8(1), 12–24. Mudlofir, A., Rusydiyah, E. F., & Fatimatur, R. (2016). Problem-based learning in Islamic education: A model to develop students’ critical and creative thinking. Journal of Educational Thought, 10(2), 135–147. Muhson, A. (2009). Penerapan model pembelajaran problem based learning dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 16(1), 83–90. Qomariyah, N. (2016). Penerapan problem based learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa SMP. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sekolah Dasar (JP2SD), 4(2), 141–151. Romadhon, A. (2019). Penerapan keterampilan abad 21 dalam proses pembelajaran berbasis literasi. Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar, 4(1), 1–10. Septikasari, R., & Frasandy, R. N. (2018). 21st century skills in education: Critical thinking and problem solving. Journal of Educational Research and Evaluation, 7(2), 107–118. Trilling, B., & Fadel, C. (2009). 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times. New York: JosseyBass. White, E. (2009). Student perspectives of peer assessment for learning in a public speaking course. Asian EFL Journal, 33(1), 1–36. Zakiah, R., & Lestari, S. (2019). Developing students’ critical thinking through problem-based learning approach. International Journal of Instructional Development, 2(4), 45–54.