scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Kreativitas Guru PAI Dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa Pada Pembelajaran SKI di MTs PP Al-Washliyah Tanjung Haloban Kecamatan Bilah Hilir Kabupaten Labuhanbatu

Priono1, Sokon Saragih2, Ahmad Darlis3

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 2, Oktober 2025, P. 278-284 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17379529 *Corresponding author Email: [email protected], [email protected], [email protected] Kreativitas Guru PAI Dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa Pada Pembelajaran SKI di MTs PP Al-Washliyah Tanjung Haloban Kecamatan Bilah Hilir Kabupaten Labuhanbatu Priono1, Sokon Saragih2, Ahmad Darlis3 1,2,3 Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan A B S T R A K Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kreativitas guru dalam meningkatkan keaktifan siswa pada pembelajaran sejarah kebudayaan Islam di MTs PP Al-Washliyah Tanjung Haloban, dan faktor pendukung dan penghambat kreativitas guru serta strategi pembelajaran guru dalam meningkatkan keaktifan siswa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah menunjukkan bahwa kreativitas guru dalam meningkatkan keaktifan siswa tergolong cukup baik. Karena guru SKI mampu merancang dan menyiapkan bahan ajar, mengelola kelas, seta menggunakan media pembelajaran sekreatif mungkin. Kreativitas guru SKI dalam meningkatkan keaktifan siswa itu dipengaruhi oleh beberapa Faktor pendukung yaitu: (1) sarana dan prasarana madrasah, (2) Adanya dukungan dari rekan guru dan kepala madrasah, (3) memliki ruang kelas atau ruang belajar yang cukup baik. Sehingga guru mampu meningkatkan kreativitasnya dalam meningkatkan siswa. Strategi guru untuk meningkatkan keaktifan siswa yaitu dalam pengembangan lingkungan belajar yang menarik yaitu membuat desain kelas yang kreatif, menata ruang kelas dengan cara merubah posisi tempat duduk siswa menjadi berkelompok, dan mengajak siswa untuk aktif. Dengan lingkungan belajar yang baik dapat mempengaruhi keaktifan siswa. A B S T R A C T This study aims to know teachers’ creativity in increasing students’ engagement on Islamic cultural history learning in MTs PP Al-Washliyah Cape Haloban, and the supporting and hindering factors of teachers’ creativity as well as teachers’ learning strategies in increasing students’ engagement. The study used a qualitative method with a descriptive approach. The data collection techniques used were observation, interview, and documentation. The data analysis techniques used in this study were data reduction, data presentation, and inference drawing. The result of this study is to show that teachers’ creativity in increasing students’ activity is classified quite well. Because SKI teachers are able to design and prepare teaching materials, manage classes, peta use creative learning media is possible. The creativity of SKI teachers in enhancing students’ activity was influenced by several Supporting factors namely: (1) means and infrastructure of madrasah, (2) Availability of support from co-teachers and principals, (3) having adequate classrooms or study rooms. So that teachers are able to increase their creativity in improving students. Teachers’ strategies for increasing student activity are in the development of an engaging learning environment that includes creating a creative classroom design, mapping the classroom by changing students’ seating positions into groups, and inviting students to be active. With a good learning environment can affect student activity. How to Cite: Priono, et.,al. (2025). Kreativitas Guru PAI Dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa Pada Pembelajaran SKI di MTs PP Al-Washliyah Tanjung Haloban Kecamatan Bilah Hilir Kabupaten Labuhanbatu. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Vol 3, Issue 3, PENDAHULUAN Pendidikan merupakan komponen penting dalam kehidupan manusia dan sangat berguna untuk kelangsungan hidupnya. sehingga memungkinkan orang untuk menggali, mempertahankan, dan meningkatkan derajat dan nilai mereka sebagai individu untuk mengoptimalkan bakat. Kegiatan A R T I C L E I N F O Article history: Received September 20, 2025 Revised 25 September 2025 Accepted 25 September 2025 Available online 12 Oktober. 2025 Kata Kunci: Kreativitas Guru, Keaktifan Siswa. Keywords: Teacher Creativity, Student Engagement. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2023 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 278-284 Socius E-ISSN: 3025-6704 pendidikan tidak terlepas dari keterlibatan manusia karena melibatkan interaksi antara manusia, baik pengajar maupun siswa. Guru memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi mereka tidak sendirian karena faktor lain seperti peserta didik, lingkungan, sarana prasarana, dan dana juga berpengaruh. Peran guru sangat penting untuk keberhasilan praktik pendidikan. Walau bagaimanapun, guru dianggap sebagai komponen penting dalam meningkatkan kualitas Pendidikan (Dardiri et al., 2021:202-203). Menurut Undang-Undang RI Nomor 20 Pasal 1 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan nasional bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Undang-Undang RI Nomor 20-Tahun 2003:1). Oleh karena itu, dalam suatu proses pembelajaran seorang guru harus berinovasi dan berkreasi dengan menciptakan perubahan baik pada dirinya serta pada peserta didiknya. Berbagai macam upaya telah dilakukan dalam dunia Pendidikan, seperti contoh kecilnya adalah terciptanya berbagai model pembelajaran yang memang dirancang untuk melihat perkembangan dan keaktifan siswa di dalam kelas selama pembelajaran. Guru harus mengembangkan berbagai pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa berpartisipasi secara aktif selama proses pembelajaran. Sangat mungkin untuk melacak keterlibatan siswa dalam pembelajaran melalui aktivitas yang dilakukan oleh guru dan siswa sendiri. Metode pembelajaran adalah istilah yang mengacu pada cara memasukkan rencana pembelajaran ke dalam kegiatan nyata untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam perspektif Islam ditegaskan dalam Surah Ar-Rad: 11. َف اًءْْۤ وُ س ٍ مْ وَ قِب ُهٰ للّا َداَ رَا ٓاَذِاَ و ْْۗ مِ هِ سُ فْ نَِ بِ اَ م ا ْ وُِ ٰ يَّغُ ي هٰ تَّ ح ٍ مْ وَ قِب اَ م ُِ ٰ يَّغُ ي َ لَ َهٰ للّا َّ نِا ٍ لاَّ و ْ نِ م هِنْ وُد ْ نِ ٰ م ْ مَُ لَ اَ مَ و هَل َّ دَ رَ م َ لَ۝ Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Qs. Ar-Rad:11) (Departemen Agama RI, 2010: 350). Mengenai makna ayat ini, M. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah jilid 6 menjelaskan “sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka” Dalam arti Allah menjadikan para mu”aqqibat itu melakukan apa yang ditugaskan kepadanya yaitu memelihara manusia, sebagaimana dijelaskan diatas karena Allah telah menetapkan bahwa Allah tidak mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka(Shihab, 2002:565-568). Guru yang baik dan bertanggung jawab selalu berusaha untuk membuat kelas menjadi hidup dan menyenangkan. Sangat penting bahwa guru yang berpengalaman mengelola kelas. Guru harus mampu memilih metode pembelajaran yang akan menginspirasi, menarik minat, dan memotivasi siswa untuk membuat proses pembelajaran lebih dinamis dan efektif dan mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan (Hasibuan & Darlis, 2019:152). Guru yang memiliki keterampilan kreatif dalam mengajar akan menemukan metode dan model pembelajaran yang efektif dan berhasil. Semakin jelas tujuan pembelajarannya, semakin besar kemungkinan metode yang tepat ditemukan. Dalam upaya untuk meningkatkan partisipasi dan keaktifan siswa, guru memilih dan menerapkan metode atau kombinasi metode yang menarik. Sebenarnya, setiap metode pembelajaran memerlukan siswa untuk berpartisipasi dalam aktivitas, meskipun tingkat aktivitas tersebut berbeda-beda. Keaktifan dapat datang dalam berbagai bentuk, seperti banyaknya aktivitas anak yang mungkin sulit dilihat orang lain tetapi tetap penting. Berdasarkan hasil observasi pra penelitian di MTs PP Al-Washliyah Tanjung Haloban Kecamatan Bilah Hilir Kabupaten Labuhanbatu, peneliti menemukan bahwasannya dalam proses pembelajaran SKI guru sudah menerapkan berbagai strategi pembelajaran guna menunjang keaktifan dan standar kompetensi lulusan. Kreativitas yang dilakukan oleh guru diantaranya menggunakan strategi game dan ice breaking. Disamping hal tersebut terdapat juga permasalahan yang sedikit menghambat kreativitas guru yaitu dalam penerapan kreativitas nya tidak selalu berjalan mulus, guru menghadapi kendala seperti kurangnya sumber daya sarana dan prasarana, serta terbatasnya waktu. Selain itu, tidak semua strategi yang diterapkan oleh guru berhasil dalam meningkatkan keaktifan siswa. Oleh karena itu penting untuk mengeksplorasi dan memahami berbagai pendekatan kreatif yang dapat diterapkan secara efektif untuk meningkatkan keaktifan siswa. (Observasi pada Senin 22 Januari 2024). Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 278-284 Daman Huri / Manajemen Kepala Sekolah METODE PENELITIAN Lokasi tempat penelitian ini ialah di MTs PP Al-Washliyah Tanjung Haloban Kecamatan Bilah Hilir Kabupaten Labuhanbatu. Pada penelitian di MTs PP Al-Washliyah Tanjung Haloban, peneliti menggunakan data berupa narasi yang diperoleh dari lapangan untuk dianalisis dan diuji kebenarannya. Data-data dari lapangan didapatkan melalui hasil wawancara, observasi dan dokumentasi yang dituliskan dalam bentuk kata, kalimat dan gambar oleh peneliti. Terkait sumber data dalam penelitian di MTs PP Al-Washliyah Tanjung Haloban ini terdiri dari dua sumber data yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah jenis penelitian kualitatif. Dalam hal ini, penerapan penelitian kualitatif oleh peneliti bertujuan untuk memperoleh informasi dan data dari subjek penelitian dengan menggunakan metode kualitatif selama proses penelitian. Dengan demikian, diharapkan hasil penelitian dapat memberikan deskripsi yang mendalam mengenai permasalahan yang sedang diteliti. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data berupa reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kreativitas Guru dalam Proses Pembelajaran SKI di MTs PP Al-Washliyah Tanjung Haloban Kecamatan Bilah Hilir Kabupaten Labuhanbatu Kreativitas guru di MTs PP Al-Washliyah Tanjung Haloban dalam meningkatkan keaktifan siswa di kelas bisa katakan cukup baik. Karena guru sudah melakukan upaya pada kemampuannya untuk menciptakan hal-hal baru serta menggabungkan ide-ide yang sudah ada dengan ide-ide-ide yang baru. Seorang guru yang kreatif harus mampu menghasilkan solusi kreatif untuk meningkatkan proses pembelajaran, termasuk merancang metode, menyiapkan bahan ajar serta dapat mengelola kelas. Agar siswa lebih bersemangat dan senang dalam mengikuti pembelajaran. Untuk mengetahui bagaimana kreativitas guru pada pembelajaran SKI dalam meningkatkan keaktifan siswa di Kelas VIII-A MTs PP Al-Washliyah Tanjung Haloban, penulis akan mendeskripsikan hasil temuan melalui wawancara dan observasi dengan para responden, yaitu sebagai berikut: Kreativitas Guru dalam Mengelola Kelas Untuk menciptakan lingkungan belajar yang optimal, seorang guru harus memahami bagaimana mengelola kelas dengan baik. Mengelola kelas adalah salah satu tugas penting seorang guru, karena guru harus memastikan bahwa semua siswa berada dalam kondisi belajar terbaik dan memperbaikinya jika terjadi masalah. Oleh karena itu, guru harus mampu mengelola kelas dengan baik selama kegiatan belajar mengajar, mulai dari kegiatan awal, inti, dan penutup. Hal ini sesuai dengan observasi bahwa sebelum memulai pembelajaran, guru melakukan serangkaian kegiatan pendahuluan. Ini meliputi membuka pelajaran dengan mengucapkan salam, membaca doa sebelum belajar yang dipimpin oleh ketua kelas, melakukan absensi siswa, dan memaparkan materi pembelajaran serta mengulang kembali sacara ringkas mengenai materi yang diajarkan sebelumnya. Sebagaimana sesuai dengan wawancara dengan guru bidang studi SKI yaitu: “Sebelum siswa datang, saya memastikan lingkungan kelas siap untuk mendukung pembelajaran yang efektif. Ini mencakup memeriksa ketersediaan ruang, memastikan alat-alat dan materi pelajaran tersedia. Kemudian dalam pembelajaran, langkah awal sebelum memulai pembelajaran yaitu saya mengucapkan salam, berdo’a, mengecek kehadiran siswa dan mengulang materi sebelumnya” (Wawancara dengan Bapak Agus Salim, S.Pd. Guru Bidang Studi SKI MTs PP AlWashliyah Tanjung Haloban, 6 Juni 2024). Kemudian hal ini ini juga didukung oleh pernyataan siswa yaitu sebagai berikut: “Iya benar. Sebelum mulai Pelajaran, bapak agus salim selalu mengucapkan salam dan berdo’a bersama dan kami memulai Pelajaran dengan bersholawat juga. Tapi biasanya sebelum masuk ke kelas, kami berbaris dulu di depan kelas dan menyalami guru” (Wawancara dengan siswa kelas VIII-A, 11 Juni 2024). Selain itu, dalam proses pembelajaran berlangsung guru menata ruangan kelas seperti meja, bangku. Dibuat menjadi perkelompok, dalam satu susunan meja terdiri dari 4 orang siswa. Hal ini disampaikan oleh guru bidang studi SKI berikut: “Saya menyuruh anak-anak untuk Menyusun bangkunya menjadi susunan perkelompok, dan setiap susunan meja nya itu saya bagi menjadi 4 orang siswa atau lebih. Dengan cara mengelola kelas yaitu menyusun bangku di dalam kelas dengan cara berkelompok, saya lihat keaktifan siswa meningkat hingga 40-60%” (Wawancara dengan Bapak Agus Salim, S.Pd. Guru Bidang Studi SKI MTs AlWashliyah Tanjung Haloban, 6 Juni 2024). Dari data dan pernyataan oleh guru bidang studi SKI, sejalan dan di dukung dengan pernyataan oleh siswa. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 278-284 Socius E-ISSN: 3025-6704 “Bapak menyuruh kami untuk menyusun bangku dan menyusun nya jangan ada yang bersuara, jangan ribut. Agar kami lebih konsentrasi dan bisa diskusi bersama teman yang lain” (Wawancara dengan siswa Kelas VIII-A. 11 Juni 2024). Dari hasil observasi dan wawancara dengan para informan diatas bahwa Kreativitas guru SKI dalam mengelola kelas di kelas VIII-A MTs Al-Washliyah Tanjung Haloban tergolong sudah menerapkan dengan baik. Seperti menatata posisi tempat duduk, kemudian menyiapakan lingkungan belajar yang nyaman sebelum siswa datang agar kegiatan belajar mengajar menjadi kondusif, dan efektif serta aktif. Serta dapat meningkat keaktifan siswa hingga 40-60%. Kreativitas Guru dalam Penggunaan Media Pembelajaran Berkenaan dengan kreativitas guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dalam penggunaan media pembelajaran, Informan menyatakan bahwa media pembelajaran haruslah disesuaikan dengan materi pelajaran yang diajarkan. Hal ini sesuai dengan paparan dari wawancara dengan bapak Agus Salim, S.Pd. selaku guru bidang studi SKI: “Media yang sering saya gunakan dalam proses pembelajaran yaitu buku pegangan guru dan buku pegangan sumber belajar siswa, baik buku paket maupun buku Lembar Kerja Siswa (LKS). Maupun buku-buku yang berhubungan dengan materi sejarah kebudayaan Islam. Selain itu, saya juga menggunakan media pembelajaran berupa proyek. Yaitu saya membuat media dari kertas karton mapun hvs yang saya buat sendiri dengan sekreatif mungkin. Untuk media karton saya beli dengan uang pribadi, namun terkadang di siapkan juga oleh pihak madarasah. Agar untuk saya jelaskan di proses pembelajaran. Dikarenakan infokus di madrasah terbatas, jadi saya berinisiatif membuat dan menggunakan media pembelajaran” (Wawancara dengan Bapak Agus Salim, S.Pd. Guru Bidang Studi SKI MTs Al-Washliyah Tanjung Haloban, 6 Juni 2024). Dari wawancara dengan informan diatas bahwa kreativitas guru SKI ditandai dengan penggunaan berbagai media pembelajaran untuk mendukung kegiatan belajar mengajar dan membangkitkan minat serta keaktifan siswa untuk belajar di kelas. Dalam hal ini peneliti juga memfokuskan wawancara dengan siswa kelas VIII-A, sesuai dengan pernyataannya yaitu: “Iya benar, biasanya bapak itu dalam pembelajaran di kelas menggunakan media buku-buku pelajaran, terus papan tulis, sama buat media dari kertas karton atau hvs gitu yang dijelaskan di depan. Sesekali juga menampilakn video pembelajaran mengenai sejarah Islam, seperti kisah-kisah nabi dan sahabatnya. Dan cara mengajar bapak menyenangkan dan tidak membosankan” (Wawancara dengan Della Srimulianti, Siswa Kelas VIII-A, 11 Juni 2024). Dari hasil observasi dan wawancara dengan informan, dapat diketahui bahwa media pembelajaran yang digunakan guru sejarah kebudayaan Islam dalam proses pembelajaran di kelas VIII-A MTs AlWashliyah Tanjung Haloban. Seperti pada umumnya media yang digunakan guru yaitu seperti buku paket pegangan guru, buku paket pegangan siswa dan buku lembar kerja siswa (LKS), papan tulis, spidol dan terkadang menampilkan video pembelajaran untuk memudahkan siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Media pembelajaran yang bervariasi diterapkan dengan desain yang berbeda dari media sebelumnya. Dan memiliki langkah-langkah yang menarik dapat mendorong keaktifan siswa. Keaktifan siswa dapat diukur dari bagaimana mereka mengikuti instruksi guru dengan tepat dan baik. Media pembelajaran sangat mendukung proses pembelajaran sehingga dapat berlangsung secara efektif dan efisien (Khoirin 2023:3). Kreativitas Guru dalam Merancang dan Menyiapkan Bahan Ajar Berkenaan dengan kreativitas guru SKI dalam merancang dan menyiapkan bahan ajar, informan menyatakan dalam merancang dan menyiapkan bahan ajar di persiapan dan diselesaikan di malam hari sebelum esok hari kegiatan pembelajaran. Hal ini sesuai denga pernyataan wawancara oleh informan bapak Agus salim, S.Pd. selaku guru bidang studi SKI yaitu: “Untuk merancang kegiatan yang kreatif itu, saya menyediakan dan menyiapkan bahan ajar pada malam hari ketika besok ada mata Pelajaran saya(Wawancara dengan Bapak Agus Salim, S.Pd. Guru Bidang Studi SKI MTs Al-Washliyah Tanjung Haloban, 6 Juni 2024). Persiapan yang dilakukan guru sebelum mengajar, termasuk merancang dan menyiapkan bahan ajar, merupakan fondasi utama dalam menyusun komponen-komponen pembelajaran yang efektif. Hal ini tidak hanya menyangkut penyusunan materi yang akan disampaikan, tetapi juga strategi pengajaran yang dipilih untuk memfasilitasi proses belajar mengajar. Pernyataan dari Bapak Agus Salim, S.Pd., yang menunjukkan bahwa ia menghabiskan malam hari sebelumnya untuk merancang bahan ajar, mencerminkan dedikasi dan komitmen dalam menciptakan pengalaman belajar yang kreatif dan berarti bagi siswa. Proses ini mencakup evaluasi matang terhadap kebutuhan dan gaya belajar siswa serta implementasi metode pengajaran yang inovatif, yang menggambarkan bahwa kreativitas dalam persiapan mengajar adalah kunci untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 278-284 Daman Huri / Manajemen Kepala Sekolah Sebagai seorang guru, kesiapan untuk mengajar tidak hanya mencakup masuk kelas dan langsung memulai pembelajaran, tetapi juga melibatkan persiapan administratif yang disebut sebagai perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran ini berisi metode, strategi, dan rencana yang akan digunakan dalam setiap tahap proses pembelajaran, mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Perangkat pembelajaran ini dijadikan sebagai acuan perencanaan, proses, hingga evaluasi pembelajaran. Disaat guru tidak memiliki bahan ajar seperti buku, metode, strategi, metode dan evaluasi, maka proses pembelajaran akan menjadi tidak terarah (Muslih et al. 2021:123). Hal ini juga didukung dan dikuatkan kembali dalam Journal Of Education: Kreativitas Guru PAI dalam Mengembangkan Bahan Ajar edisi 2023 yang diungkapan oleh Muhammad Yusron Maulana bahwa: Bahan ajar yang kreatif membutuhkan banyak langkah penting. Pertama, guru harus memahami karakteristik siswa, kebutuhan belajar, dan gaya belajar yang beragam. Dengan memahami setiap siswa secara individual, guru dapat menyusun bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa. Selanjutnya, guru harus dapat menggunakan berbagai pendekatan, strategi, dan sumber daya pembelajaran. Misalnya, dengan menggunakan teknologi pendidikan, guru dapat meningkatkan pembelajaran siswa dengan menggunakan permainan, diskusi kelompok, atau proyek (Insyirah and El-yunusi 2023:128). Kemudian dalam meningkatkan keaktifan siswa, selain merancang, menyiapkan bahan ajar, dan memilih media pembelajaran. Selanjutnya yaitu kreativitas guru dalam meningkatkan keaktifan siswa yaitu mengelola kelas dengan baik. Kegiatan utama guru dalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan mengelola jelas. Kegiatan mengajar biasanya diorientasikan terhadap peningkatan kemampuan kognitif siswa. Berbeda dengan kegiatan mengelola kelas, kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana kelas agar kegiatan mengajar itu dapat berlangsunf secara efektif dan efisien (Nana Suryana 2022:167). Faktor Pendukung dan Penghambat Kreativitas Guru SKI Dalam melaksanakan kreativitas proses pembelajaran, terdapat faktor pendukung dan juga penghambat yang berkaitan dengan kreativitas guru dalam proses pembelajaran SKI. Adapun hal yang menjadi faktor pendukung dan juga faktor penghambat kreativitas guru dalam proses pembelajaran SKI di MTs PP Al-Washliyah Tanjung Haloban: a. Faktor Pendukung Adapun faktor-faktor pendukung yang dapat menunjang keberhasilan kreativitas guru yaitu: 1) Sarana dan prasarana Adanya sarana dan prasarana sekolah yang tersedia merupakan komponen yang mendorong kreativitas guru dalam proses pembelajaran. Ketersediaan fasilitas sekolah sangat membantu pendidikan dalam pencarian model atau pendekatan pembelajaran yang inovatif. Adanya buku pelajaran, perpustakaan, alat pembelajaran seperti papan tulis, spidol, meja dan kursi yang baik. Di sisi lain, gedung sekolah yang baik dan ruang belajar yang nyaman adalah prasarana. Selain ruang belajar yang nyaman dan cukup memadai, MTs Al-Washliyah Tanjung Haloban juga memiliki musholla yang bisa digunakan untuk shalat berjama’ah dan kegiatan-kegiatan keIslaman yang lain. Kemudian pimpinan madrasah juga berusaha untuk memadai sarana dan prasarana untuk meningkatkan kreativitas guru-guru yang ada di MTs Al-Washliyah Tanjung Haloban. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan Bapak Zulpikri Nasution, S.Pd.I. Selaku kepala madrasah di MTs Al-Washliyah Tanjung Haloban yaitu: “Faktor pendukungnya, kita dari pihak madrasah kemudian guru juga dibantu dengan sarana dan prasarana dan printer untuk mencetak tugas serta penilaian-penilaian”(Wawancara dengan Bapak Zulpikri Nasution, S.Pd.I. selaku kepala Madrasah, 3 Juni 2024). Pernyataan informan diatas, menggambarkan bahwa Faktor pendukung pertama ialah sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah. Sarana seperti buku pelajaran, perpustakaan, serta alat-alat pembelajaran seperti papan tulis, spidol, meja, dan kursi yang baik, memberikan fondasi yang diperlukan bagi guru untuk mengembangkan model pembelajaran yang inovatif. Dengan adanya fasilitas ini, guru dapat lebih mudah menciptakan suasana belajar yang menarik dan efektif bagi siswa. Selain sarana, faktor pendukung lainnya adalah prasarana yang mencakup gedung sekolah yang baik dan ruang belajar yang nyaman. 2) Kerjasama Antara Guru dan Kepala Madrasah Dalam pelaksanaan kreativitas guru, pastilah dibutuhkan kerjasama yang baik antara semua pendidik, efisiensi proses pembelajaran tercermin dengan adanya kerjasama yang baik antara sesama pendidik. Kemudian dukungan dari kepala madrasah serta dari rekan guru lain nya juga mempengaruhi kreativitas yang dimiliki oleh guru dalam mengembangkan proses pembelajaran. Hal ini juga dinyatakan oleh guru bidang studi yaitu bapak Agus Salim, S.Pd. melalui wawancara beliau mengatakan bahwa: Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 278-284 Socius E-ISSN: 3025-6704 “Kalau dukungan dari rekan sesama guru, mereka selalu mendukung dan mensupport. Kemudian kita juga bisa sharing sama mereka mengenai pengembangan metode atau hal-hal lain nya dalam pembelajaran. Misalnya ada sih, paling ya kita melihat guru yang lebih aktif dan kreatif dalam menggunakan metode. Jadi bisa kita ambil dan kita ikuti untuk tertarik mengikutinya. Palingan ada juga rekan guru yang menyarankan agar lebih ditambahkan lagi penggunaan bahan ajar. Itu sih dukungan dari sesama rekan guru” (Wawancara dengan bapak Agus Salim, S.Pd. Selaku guru bidang studi SKI, 6 Juni 2024). Salah satu pendukung kreativitas guru dengan adanya dukungan sosial dari beberapa pihak, harapan memiliki hubungan yang kuat dengan dukungan sosial diibaratkan seperti pasien yang menderita penyakit kronis. Keluarga dan teman pada dasarnya merupakan sumber harapan untuk kesembuhan penderita penyakit kronis seperti beberapa aktivitas yang memberikan stimulus kesembuhan pasien yaitu mengunjungi suatu tempat, mendengarkan, berbicara dan memberikan bantuan secara fisik. b. Faktor Penghambat Di samping faktor pendukung, ada beberapa faktor penghambat yang dapat membatasi kreativitas guru dalam proses pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Al-Washliyah Tanjung Haloban. Salah satu faktor penghambat yang mungkin dihadapi guru adalah Kurangnya dalam sumber daya dan sarana prasarana juga bisa menjadi faktor penghambat. Jika guru tidak memiliki akses yang memadai terhadap teknologi, bahan ajar, atau fasilitas yang mendukung pembelajaran inovatif, mereka mungkin merasa terbatas dalam menerapkan ide-ide kreatif mereka dalam praktik sehari-hari. Hal ini juga ditegaskan oleh guru bidang Studi Sejarah Kebudayaan Islam bapak Agus Salim, S.Pd. mengenai faktor penghambat kreativitas guru yaitu: “Kemudian untuk faktor penghambatnya yaitu masih kurang nya infocus ya di madrasah ini, sehingga kita harus bergantian sama guru yang lain jika kita mau memakai infocus. Dan biasanya itu yang menjadi penghambat” (Wawancara dengan bapak Agus Salim, S.Pd. Selaku guru bidang studi SKI, 6 Juni 2024). Selain itu, Salah satu faktor yang dapat menghambat proses pembelajaran adalah kurangnya kesadaran siswa tentang melaksanakan tanggung jawab mereka sebagai anggota kelas. Ini sesuai dengan apa yang diamati peneliti di MTs Al-Washliyah Tanjung Haloban: ada siswa yang duduk di belakang bercerita dengan temannya dan tidak memperhatikan guru saat mereka berbicara. Pada saat wawancara, Bapak Agus Salim, S.Pd., guru SKI, juga menyatakan bahwa salah satu faktor penghambat adalah rendahnya tingkat kesadaran dalam belajar. (Hasil Observasi di Kelas VIII-A). Kemudian hal tersebut sesuai dengan pernyataan bapak Agus Salim, S.Pd. selaku guru bidang studi SKI. Dalam mengatasi siswa yang berbicara atau tidak mendegarkan Ketika guru sedang menjelaskan pembelajaran yaitu beliau mengatakan bahwa: “Disaat pembelajaran sedang berlangsung, jika terdapat murid yang berbicara atau tidak mendegarkan Ketika saya lagi menjelaskan materi. Maka saya akan menegurnya dan menasehati, serta akan saya Kembali kepada mereka yang rebut di kelas tersebut. Karena hal itu dapat menggangu pembelajaran dan merusak konsentrasi saya serta teman-teman yang lainnya” (Wawancara dengan bapak Agus Salim, S.Pd. Selaku guru bidang studi SKI, 6 Juni 2024) Dari deskripsi hasil wawancara dengan bapak Agus Salim, S.Pd. dan observasi peneliti di kelas VIIIA dapat diambil kesimpulan yaitu menunjukkan bahwa kreativitas guru dalam proses pembelajaran terkadang terbatas oleh beberapa faktor penghambat. Salah satunya adalah sarana pembelajaran yang kurang memadai, seperti infocus, yang harus digunakan bergantian dengan guru lain. Selain itu, rendahnya kesadaran dan minat belajar siswa juga menjadi faktor penghambat yang signifikan, mempengaruhi konsentrasi dan efektivitas pembelajaran di kelas. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan oleh peneliti tentang kreativitas guru PAI dalam meningkatkan keaktifan siswa pada pembelajaran SKI di MTs PP Al-Washliyah Tanjung Haloban, dapat disimpulkan bahwa: 1. Kreativitas guru di MTs PP Al-Washliyah Tanjung Haloban dalam meningkatkan keaktifan siswa di kelas bisa katakan cukup baik. Karena guru sudah melakukan upaya pada kemampuannya untuk menciptakan hal-hal baru serta menggabungkan ide-ide yang sudah ada dengan ide-ide-ide yang baru. Seperti dalam mengelola kelas, merancang dan menyiapkan bahan ajar, kemudian Kemudian juga kreativitas guru tercermin dalam penggunaan berbagai media pembelajaran, seperti buku pembelajaran, kertas karton, dan hvs, untuk mendukung proses pembelajaran yang interaktif dan menarik bagi siswa. 2. Adapun keberhasilan dari kreativitas guru yaitu karena adanya faktor pendukung kreativitas guru serta adanya dukungan dari rekan guru dan kepala madrasah dalam menyediakan fasilitas yang Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 278-284 Daman Huri / Manajemen Kepala Sekolah diperlukan. Namun, terdapat juga faktor penghambat salah satunya adalah kurangnya akses terhadap teknologi dan sarana pembelajaran yang memadai, seperti infocus, yang harus digunakan bergantian dengan guru lain. Selain itu, rendahnya kesadaran dan minat belajar siswa juga menjadi faktor penghambat yang signifikanseperti kondisi siswa dan keterbatasan sarana pembelajaran. 3. Kemudian yang terakhir yaitu bentuk kreativitas guru SKI serta strategi untuk meningkatkan keaktifan siswa di MTs PP Al-Washliyah Tanjung Haloban yaitu Beberapa bentuk kreativitas antara lain adalah pembelajaran aktif, penggunaan teknologi, diferensiasi pembelajaran, kolaborasi dan diskusi, pembuatan rencana pembelajaran yang terstruktur, pemberian umpan balik konstruktif, dan penggunaan materi pembelajaran. Serta strategi kreativitas guru dalam pengembangan lingkungan belajar yang menarik yaitu membuat desain kelas yang kreatif, menata ruang kelas dengan cara merubah posisi tempat duduk siswa menjadi berkelompok. Dengan lingkungan belajar yang baik dapat mempengaruhi keaktifan siswa. REFERENSI Handayani, Risma. 2019. “Kreativitas Guru Pendidikan Agama Islam.” Tarbawi, Jurnal Pendidikan Agama Islam. Harahap, Nursapiah. 2020. Penelitian Kualitatif. edited by H. Sazal. Sumatera Utara: Wal ashri Publishing. Hardani, Helmina Andriani, Jumari Ustiawaty, Evi Fatmi Utami, Ria Rahmatul Istiqomah, and Roushandy Asri Fardani. 2022. Buku Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Hasan Asari, Muaz Tanjung, Zaini Dahlan. 2020. Tapak Tilas Peradaban Islam. Medan: Perdana Publishing. Hasan, Muhammad, Milawati, Darodjat, HarahapTuti Khairani, and Tasdin Tahrim. 2021. Media Pembelajaran. Hasibuan, Marhan, and Ahmad Darlis. 2019. “Implementasi Metode Discovery Inquiry Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Bagi Siswa Smp Swasta Tunas Mandiri Tanjung Pura.” As-Syar’i: Jurnal Bimbingan & Konseling Keluarga 1(2):151–59. doi: 10.47467/assyari.v1i2.237. Khoirin, Lukman. 2023. “Pengembangan Media Pembelajaran Scrapbook Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa.” Attanwir : Jurnal Keislaman Dan Pendidikan 14(2):68–79. doi: 10.53915/jurnalkeislamandanpendidikan.v14i2.435. Kosasih, E. 2021. Pengembangan Bahan Ajar. cetakan pe. edited by B. S. Fatmawati. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Kunandar. 2007. “Guru Profesional Dan Implementasi KTSP.Pdf.” Kusdiana, Ading. 2017. Sejarah Dan Kebudayaan Islam Periode Pertengahan. Cetakan 2. Jawa Barat: Cv. Pustaka Setia. Lubis, Dwi Muthia Ridha, Elawati Manik, Mardianto, and Nirwana Anas. 2021. “Strategi Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.” Islamic Education