scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

The Desian Development of Islamic Religious Education Learning Based on Bloom's Taxonomy and the DIck & Carey Model

Azizah Putriana, Welma Daswita, Gusmaneli G

Full text

2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Pengembangan Desian Pembelajaran (Azizah, et., al) | 37-46 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Volume 1, Issue 4, OCtober 2025, P. 37-46 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17383762 Pengembangan Desian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Taksonomi Bloom dan Model DIck & Carey The Desian Development of Islamic Religious Education Learning Based on Bloom’s Taxonomy and the DIck & Carey Model Azizah Putriana¹,Welma Daswita²,Gusmaneli³ Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang E-mail: azizahputrian[email protected], [email protected] [email protected]³ Abstrak Penelitian ini memiliki tujuan utama mengembangkan desain pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang mengintegrasikan Taksonomi Bloom dan model Dick & Carey guna meningkatkan efektivitas serta mutu proses pembelajaran secara menyeluruh. Dalam hal ini, Taksonomi Bloom digunakan untuk menyusun tujuan pembelajaran yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang, sehingga dapat membentuk kompetensi holistik peserta didik. Sedangkan model Dick & Carey dipilih karena kerangka kerja sistematisnya yang terdiri atas langkah-langkah identifikasi kebutuhan, analisis tugas, perancangan instruksi, pengembangan materi, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran secara terstruktur dan mendetail.Pembahasan lebih lanjut menyoroti pentingnya integrasi kedua pendekatan tersebut dalam menciptakan desain pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu, tetapi juga pada pembentukan sikap religius dan keterampilan peserta didik. Desain ini mempertimbangkan karakteristik fitrah manusia yang meliputi jasad (raga), akal (pikiran), dan ruh (jiwa), yang harus dipelihara keseimbangannya (tawazun) melalui proses pembelajaran yang komprehensif dan sistematik. Dengan demikian, desain pembelajaran ini diharapkan mampu memfasilitasi pencapaian tujuan utama PAI, yakni penguasaan ilmu pengetahuan, pembentukan akhlak mulia, serta pengembangan keterampilan yang mendukung kehidupan beragama dan bermasyarakat secara harmonis.Hasil pengembangan ini sekaligus menyajikan panduan praktis dan terukur bagi para pendidik dalam mendesain pengalaman belajar yang efektif, memotivasi, serta mampu meningkatkan pemahaman dan sikap religius peserta didik secara optimal. Kata kunci : Pendidikan Agama Islam, desain pembelajaran, Taksonomi Bloom, model Dick & Carey, pembelajaran holistik, pembentukan karakter. Abstract This study aims to develop an instructional design for Islamic Religious Education (PAI) by integrating Bloom's Taxonomy and the Dick & Carey model to enhance the overall effectiveness and quality of the learning process. Bloom's Taxonomy serves as a framework for formulating learning objectives that equally encompass cognitive, affective, and psychomotor domains, fostering the holistic competence of learners. The Dick & Carey model is utilized due to its systematic framework, which includes stages such as needs identification, task analysis, instructional design, material development, implementation, and evaluation in a detailed and structured manner.The study further discusses the crucial integration of these two approaches to create a learning design focused not only on knowledge acquisition but also on nurturing students' religious attitudes and skills. The design considers the fundamental human nature comprising the body (jasad), mind (akal), and soul (ruh)whose balance (tawazun) must be maintained through a comprehensive and systematic learning process. Consequently, this instructional design is expected to facilitate the main goals of PAI: mastery of knowledge, development of noble character, and cultivation of skills that support harmonious religious and social life.The outcomes of this development provide practical and measurable guidelines for educators to design effective, motivating learning experiences that optimally enhance learners' understanding and religious attitudes. Keywords: Islamic Religious Education, instructional design, Bloom’s Taxonomy, Dick & Carey model, holistic learning, character building. Article Info Received date: 25 September 2025 Revised date: 27 September 2025 Accepted date: 16 October 2025 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Pengembangan Desian Pembelajaran (Azizah, et., al) | 37-46 PENDAHULUAN Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran vital dalam membentuk karakter dan kompetensi peserta didik secara menyeluruh, yang mencakup aspek keimanan, akhlak, serta keterampilan sosial dan keagamaan. Keberhasilan pembelajaran PAI sangat dipengaruhi oleh perencanaan dan pengembangan desain pembelajaran yang tepat dan efektif. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya kendala seperti keterbatasan variasi metode pembelajaran, keberagaman karakteristik peserta didik, serta kurangnya media dan materi pembelajaran yang sesuai kebutuhan. Oleh sebab itu, diperlukan model desain pembelajaran yang terstruktur, komprehensif, dan sistematis untuk mengatasi permasalahan tersebut. Model Dick & Carey merupakan pendekatan sistematis yang mengandung sepuluh langkah utama mulai dari identifikasi tujuan pembelajaran, analisis instruksional, analisis karakteristik peserta didik dan konteks pembelajaran, perumusan tujuan khusus, pengembangan instrumen penilaian, penyusunan strategi pembelajaran, pengembangan bahan ajar, evaluasi formatif, revisi program, hingga evaluasi sumatif. Pendekatan ini memungkinkan perancangan pengalaman belajar yang efektif dan menyeluruh. Sementara itu, Taksonomi Bloom digunakan sebagai landasan merumuskan tujuan pembelajaran yang seimbang dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik, sehingga mampu membentuk kompetensi holistik peserta didik. Dalam pengembangan desain pembelajaran, aspek fitrah manusia berupa jasad (raga), akal (pikiran), dan ruh (jiwa) juga menjadi pertimbangan utama dengan prinsip keseimbangan (tawazun). Dengan mengintegrasikan model Dick & Carey dan Taksonomi Bloom, desain pembelajaran PAI yang dikembangkan diharapkan tidak hanya meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan akhlak mulia serta keterampilan sosial keagamaan secara harmonis dan komprehensif. Pendekatan ini sekaligus memberikan panduan bagi para pendidik untuk merancang pembelajaran yang bermakna, efektif, dan responsif terhadap kebutuhan zaman serta karakter peserta didik. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) yang bertujuan mengembangkan desain pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis Taksonomi Bloom dan model Dick & Carey. Metode ini mengadopsi langkah-langkah sistematis model Dick & Carey yang meliputi perencanaan, analisis kebutuhan, perancangan instruksional, pengembangan bahan ajar, implementasi, dan evaluasi pembelajaran. Awal proses penelitian dimulai dengan pengumpulan data melalui studi literatur dan observasi lapangan guna mendapatkan informasi tentang kondisi pembelajaran PAI, karakteristik peserta didik, serta kebutuhan belajar yang harus dipenuhi. Selanjutnya dilakukan analisis kebutuhan dan tugas untuk merumuskan tujuan pembelajaran yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang sesuai taksonomi Bloom. Peneliti kemudian merancang desain instruksional serta materi pembelajaran yang mengintegrasikan konsep Taksonomi Bloom dan langkah-langkah model Dick & Carey. Produk desain ini diuji melalui uji coba terbatas dan uji coba lapangan guna mengukur efektivitas dan kesesuaian penggunaan dalam konteks pembelajaran sebenarnya. Evaluasi dilakukan secara berkelanjutan, baik secara formatif selama pengembangan maupun sumatif setelah implementasi, menggunakan instrumen khusus yang dirancang untuk mengukur pencapaian tujuan pembelajaran serta respons peserta didik. Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar revisi untuk menyempurnakan desain agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Melalui metode penelitian ini, diharapkan dapat tercipta desain pembelajaran PAI yang holistik, sistematis, dan mampu beradaptasi dengan dinamika kebutuhan peserta didik dan konteks pendidikan saat ini, sehingga secara signifikan meningkatkan kualitas pembelajaran. HASIL DAN PEMBAHASAN Tantangan Desain Pembelajaran PAI di Era Modern Pendidikan Agama Islam (PAI) memainkan peran utama sebagai landasan moral dan spiritual dalam sistem pendidikan nasional. Namun, kenyataan di lapangan masih menunjukkan penggunaan metode pembelajaran yang tradisional, seperti ceramah satu arah, penghafalan dogmatis, serta penilaian 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Pengembangan Desian Pembelajaran (Azizah, et., al) | 37-46 yang hanya terfokus pada aspek kognitif. Hal ini kurang efektif dalam menghadapi tuntutan era globalisasi dan digitalisasi, di mana peserta didik diharapkan mampu berpikir kritis, kreatif, dan mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari yang kompleks (Akhyar, A., dkk. 2024). Salah satu tantangan utama dalam desain pembelajaran PAI di era modern adalah keterbatasan akses teknologi, perbedaan kompetensi guru dalam penggunaan teknologi digital, dan kurangnya kesiapan dalam mengintegrasikan nilai agama ke dalam pembelajaran yang berbasis teknolog (Jauhari, M. 2020).i. Kesenjangan digital ini terutama terasa di daerah terpencil yang infrastrukturnya masih minim, sehingga berdampak pada kualitas dan keberlanjutan pembelajaran agama Islam yang perlu adaptif terhadap perkembangan zaman (Nugraha, M.S. 2024). Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan reformasi pedagogis berupa penerapan desain pembelajaran yang terencana, sistematis, dan berlandaskan teori ilmiah. Dua pendekatan yang sangat relevan adalah Taksonomi Bloom sebagai dasar pengembangan tujuan pembelajaran yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik secara holistik, serta model Dick & Carey sebagai kerangka kerja sistematis untuk merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran (Farida, N., & Nursikin, A. 2024). Taksonomi Bloom tak hanya membatasi tujuan pembelajaran pada penguasaan materi, tetapi juga menitikberatkan pada pengembangan sikap dan keterampilan peserta didik (Sari, D. 2020). Ini penting agar pembelajaran PAI tidak sekadar menjadi hafalan teks, melainkan menghasilkan internalisasi nilai dan penerapan dalam kehidupan nyata. Model Dick & Carey berperan mengarahkan langkah-langkah rinci, mulai dari analisis kebutuhan, pengembangan materi, strategi pembelajaran, hingga evaluasi yang terintegrasi sebagai kontrol kualitas (Misbah, M. 2023). Integrasi kedua model ini pada desain pembelajaran PAI mendukung terbentuknya peserta didik yang cerdas intelektual, berkarakter religius, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan teknologi. Desain pembelajaran berbasis teknologi yang terintegrasi memanfaatkan media interaktif, platform e-learning, dan aplikasi digital untuk meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan hasil belajar siswa.Keberhasilan implementasi desain ini memerlukan pelatihan terus-menerus bagi guru guna meningkatkan kemampuan mereka dalam penggunaan teknologi pendidikan. Keterlibatan keluarga dan masyarakat juga penting untuk mendukung pembentukan karakter Islami yang kuat sekaligus mengendalikan dampak negatif teknologi digital. Secara keseluruhan, transformasi desain pembelajaran PAI yang mengintegrasikan prinsip Taksonomi Bloom dan model Dick & Carey adalah keniscayaan agar pendidikan agama tetap relevan, efektif, dan mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai inti keislaman. Konsep Dasar Taksonomi Bloom dalam Pendidikan Agama Islam Taksonomi Bloom, yang dikembangkan oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956, merupakan kerangka kerja yang mapan untuk mengklasifikasikan tujuan pembelajaran ke dalam tiga ranah utama: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), ketiga ranah ini dikombinasikan secara integral untuk membentuk insan yang berilmu (‘alim), beriman (mu’min), dan beramal shalih (muslih). Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran yang sangat fundamental dalam membentuk karakter dan kepribadian peserta didik agar menjadi insan yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Dalam konteks pendidikan modern, pendekatan terhadap proses belajar mengajar tidak lagi cukup hanya berorientasi pada hafalan atau penyampaian informasi semata. Diperlukan kerangka sistematis yang mampu mengarahkan guru dalam merancang tujuan pembelajaran, mengukur hasil belajar, dan menumbuhkan perkembangan spiritual serta intelektual siswa secara seimbang. Salah satu kerangka yang paling berpengaruh di dunia pendidikan adalah Taksonomi Bloom yang dikembangkan oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956 (Sutrisno, 2019). Taksonomi Bloom pada hakikatnya merupakan sebuah sistem klasifikasi tujuan pendidikan yang mencakup tiga ranah utama: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiga ranah ini tidak hanya mengukur seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai siswa, tetapi juga sejauh mana nilai dan keterampilan tersebut dapat dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perspektif pendidikan Islam, ketiga ranah tersebut menggambarkan proses pembentukan manusia seutuhnya yaitu insan yang berilmu (‘alim), beriman (mu’min), dan beramal shalih (muslih) (Zainuddin, 2021). 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Pengembangan Desian Pembelajaran (Azizah, et., al) | 37-46 Landasan filosofis dari Taksonomi Bloom sesungguhnya memiliki keselarasan mendalam dengan ajaran Islam. Islam menekankan bahwa pendidikan adalah proses bertahap (tadarruj) menuju kesempurnaan manusia. Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan agar manusia senantiasa menggunakan akalnya untuk berpikir dan merenungi ciptaan-Nya (QS. Al-‘Alaq: 1–5) Tafsir singkat mengenai ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menekankan perintah membaca dengan menyebut nama-Nya sebagai sumber segala ilmu dan pencipta manusia. Manusia berasal dari proses penciptaan yang sederhana, yaitu segumpal darah, namun Allah memberikan kemampuan belajar dan memahami yang luar biasa, yang melampaui keterbatasan awal penciptaannya. Pembelajaran ini melalui “pena” sebagai simbol ilmu dan tulisan yang menjadi media utama pewarisan pengetahuan. Ayat ini menegaskan pentingnya ilmu pengetahuan dan pendidikan dalam Islam sebagai bagian dari tugas manusia untuk terus belajar dan mengembangkan diri dengan bimbingan Allah. Jadi, Prinsip ini senada dengan gagasan Bloom yang menempatkan pembelajaran sebagai proses berpikir bertingkat dari yang paling sederhana menuju yang kompleks (Al-Faruqi, 2020). Ranah pertama yang diperkenalkan Bloom adalah ranah kognitif (cognitive domain). Ranah ini mencakup kemampuan berpikir dan penguasaan pengetahuan. Dalam Pendidikan Agama Islam, ranah kognitif diwujudkan melalui pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, hadis, konsep akidah, ibadah, serta akhlak. Pembelajaran pada ranah ini tidak hanya berhenti pada hafalan dalil, tetapi juga menuntut kemampuan memahami, menganalisis, dan menerapkan nilai-nilai Islam dalam konteks kehidupan nyata (Rahmawati & Amin, 2020). Bloom membagi ranah kognitif ke dalam enam jenjang kemampuan: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Keenam tahapan ini dapat dijadikan pedoman bagi guru PAI dalam merancang tujuan pembelajaran yang terukur. Misalnya, dalam pembelajaran zakat, guru dapat mengajak siswa untuk tidak hanya menghafal dalil zakat (mengingat), tetapi juga memahami maknanya (memahami), menghitung kadar zakat (menerapkan), menelaah dampaknya terhadap kesejahteraan sosial (menganalisis), menilai efektivitas pengelolaan zakat di Indonesia (mengevaluasi), hingga merancang program sosial berbasis zakat di sekolah (mencipta) (Hidayatullah, 2022). Pada tahap mengingat (remembering), peserta didik dilatih untuk mengenali dan menghafal informasi dasar, seperti ayat dan hadis. Misalnya, menghafal QS. Al-Baqarah ayat 43. Selanjutnya, pada tahap memahami (understanding), siswa diarahkan untuk menafsirkan dan menjelaskan makna dari pengetahuan yang diperoleh. Misalnya, mereka memahami bahwa zakat tidak hanya kewajiban individual, tetapi juga sarana pemerataan ekonomi yang menumbuhkan solidaritas sosial (Salsabila & Rasyid, 2021). Tahap menerapkan (applying) menuntut siswa untuk menggunakan pengetahuan agama dalam situasi nyata. Misalnya, mereka dapat mengelola kegiatan sosial di sekolah yang meneladani sistem zakat. Hal ini mengasah kemampuan berpikir aplikatif sekaligus menumbuhkan empati sosial (Hakim, 2020). Pada tahap menganalisis (analyzing), siswa dilatih membedakan antara fakta dan opini, mengidentifikasi hubungan antar konsep, dan menemukan pola logis di balik ajaran Islam. Misalnya, menganalisis mengapa Islam mewajibkan zakat dan bagaimana kewajiban itu dapat mengatasi kemiskinan (Rahmatullah, 2022). Tahap mengevaluasi (evaluating) mendorong siswa menilai suatu tindakan berdasarkan nilainilai Islam. Mereka belajar berpikir kritis dan etis, menimbang baik dan buruk suatu perbuatan dengan ukuran syariat, bukan hanya opini pribadi (Hasanah, 2021). Sementara itu, tahap tertinggi dalam ranah kognitif adalah mencipta (creating), di mana siswa mampu menggabungkan ide dan informasi untuk menciptakan solusi baru. Misalnya, siswa membuat proyek “Gerakan Sedekah Sekolah” sebagai bentuk penerapan konsep zakat. Ini menandai integrasi antara pengetahuan dan tindakan (Fauziyah, 2023). Selain ranah kognitif, Bloom juga menekankan pentingnya ranah afektif (affective domain). Ranah ini berhubungan dengan sikap, nilai, dan perasaan siswa terhadap proses belajar. Dalam konteks PAI, ranah afektif berarti pembentukan kesadaran spiritual dan moral peserta didik. Mereka tidak hanya mengetahui kebaikan, tetapi juga mencintai dan berkomitmen terhadapnya (Mutmainnah, 2020). Bloom mengklasifikasikan ranah afektif ke dalam lima tingkatan: menerima, merespons, menghargai, mengorganisasi, dan menginternalisasi. Tahapan ini menggambarkan proses bertahap dalam menumbuhkan kesadaran nilai (Latifah, 2021). 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Pengembangan Desian Pembelajaran (Azizah, et., al) | 37-46 Tahap pertama, menerima (receiving), mengajarkan peserta didik untuk membuka hati terhadap kebenaran ajaran Islam. Misalnya, dengan mendengarkan ayat Al-Qur’an dengan penuh perhatian dan ketenangan (Mulyadi, 2019). Tahap merespons (responding) menunjukkan bahwa siswa mulai aktif dalam kegiatan keagamaan, seperti berpartisipasi dalam kajian, berdiskusi tentang akhlak, atau melaksanakan salat berjamaah di sekolah (Asrori, 2022). Tahap menghargai (valuing) menunjukkan munculnya penghargaan terhadap nilai-nilai Islam. Siswa mulai menganggap kejujuran, amanah, dan keikhlasan sebagai prinsip moral yang harus dijaga (Nurdin, 2020). Tahap mengorganisasi (organizing) menggambarkan usaha siswa dalam menyusun sistem nilai pribadi yang konsisten. Mereka belajar menyeimbangkan antara nilai duniawi dan ukhrawi, antara tanggung jawab individu dan sosial (Aisyah, 2021). Tahap tertinggi, menginternalisasi (characterizing), adalah ketika nilai-nilai Islam telah meresap dalam kepribadian seseorang. Siswa tidak lagi perlu diingatkan untuk berbuat baik karena kebaikan telah menjadi bagian dari dirinya (Rohmah, 2023). Sementara itu, ranah terakhir yaitu psikomotorik (psychomotor domain) berhubungan dengan keterampilan fisik dan tindakan nyata. Dalam PAI, ranah ini mencakup kemampuan melaksanakan ibadah secara benar, seperti wudhu, salat, dan membaca Al-Qur’an. Ranah ini memastikan bahwa pemahaman agama tidak berhenti pada teori, tetapi diwujudkan dalam perilaku nyata (Yusuf, 2021). Ranah psikomotorik memiliki makna spiritual yang mendalam. Misalnya, saat siswa melaksanakan salat, mereka tidak hanya menggerakkan tubuh, tetapi juga menyadari kehadiran Allah SWT di dalam hati. Ini menunjukkan keterpaduan antara fisik, akal, dan spiritualitas (Azizah & Huda, 2019). Ketiga ranah dalam Taksonomi Bloom kognitif, afektif, dan psikomotorik jika diintegrasikan dengan baik dalam PAI, akan melahirkan pendidikan Islam yang utuh. Ranah kognitif mengembangkan akal dan pengetahuan, ranah afektif menumbuhkan keimanan dan sikap, sedangkan ranah psikomotorik melatih pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari (Fathurrahman, 2022). Melalui pendekatan ini, PAI tidak hanya berfungsi sebagai mata pelajaran, tetapi sebagai proses pembentukan manusia yang berpikir, beriman, dan berakhlak. Taksonomi Bloom membantu guru PAI memahami bahwa tujuan pendidikan Islam bukan sekadar mencetak siswa cerdas secara akademik, tetapi juga yang memiliki kesadaran spiritual dan sosial (Wahyudi, 2021). Guru dalam konteks ini berperan bukan sekadar pengajar, melainkan murabbi — pembimbing spiritual yang menuntun peserta didik untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan (Ismail, 2023). Dengan demikian, penerapan Taksonomi Bloom dalam PAI menjadi langkah strategis untuk menciptakan keseimbangan antara akal (‘aql), hati (qalb), dan amal (amal shalih). Ketiganya bersinergi dalam membentuk insan kamil manusia paripurna yang berpikir dengan hikmah, beriman dengan ketulusan, dan beramal dengan keikhlasan (Zuhdi, 2018). Penerapan Model Dick & Carey: Kerangka Sistematik dalam Desain Pembelajaran PAI Model Dick & Carey merupakan salah satu pendekatan sistematik yang banyak digunakan dalam merancang pembelajaran modern. Model ini dikembangkan oleh Walter Dick dan Lou Carey pada tahun 1978, kemudian disempurnakan pada edisi revisi berikutnya untuk menjawab tantangan perubahan dunia pendidikan. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada aktivitas mengajar, melainkan menekankan pada proses sistematis yang mencakup analisis kebutuhan, perancangan tujuan, pengembangan materi, pelaksanaan, hingga evaluasi menyeluruh terhadap hasil pembelajaran (Dick & Carey, 2015). Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), penerapan model ini sangat relevan. Sebab, PAI memiliki dimensi yang kompleks—tidak hanya mengajarkan aspek kognitif seperti pengetahuan tentang Al-Qur’an dan hadis, tetapi juga menanamkan nilai spiritual, moral, dan keterampilan beragama (Amin, 2020). Oleh karena itu, dibutuhkan rancangan pembelajaran yang menyeluruh, terukur, dan mampu menyentuh seluruh aspek perkembangan peserta didik. Model Dick & Carey memandang pembelajaran sebagai suatu sistem yang saling berkaitan antara tujuan, materi, strategi, media, peserta didik, dan evaluasi (Wibowo, 2021). Artinya, keberhasilan pembelajaran tidak ditentukan oleh satu komponen saja, tetapi oleh keterpaduan seluruh elemen yang 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Pengembangan Desian Pembelajaran (Azizah, et., al) | 37-46 dirancang secara terstruktur. Pendekatan sistematik ini membantu guru PAI dalam mengelola setiap tahap agar proses belajar lebih efektif dan efisien. Langkah pertama dalam model ini adalah mengidentifikasi tujuan pembelajaran secara umum (Identify Instructional Goals). Guru perlu menetapkan kompetensi utama yang ingin dicapai oleh peserta didik. Misalnya, tujuan pembelajaran PAI bisa berupa “memahami makna dan hikmah zakat dalam Islam serta menerapkannya dalam kehidupan sosial” (Rohmah, 2022). Tujuan ini menjadi landasan bagi seluruh proses berikutnya, sekaligus tolok ukur keberhasilan pembelajaran. Penetapan tujuan tidak boleh bersifat abstrak atau normatif semata, melainkan harus konkret dan terukur. Guru PAI perlu menghubungkan tujuan pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata agar nilai-nilai Islam benar-benar dapat diinternalisasi oleh peserta didik (Latifah, 2021). Misalnya, pembelajaran tentang zakat dapat diarahkan untuk membentuk sikap empati sosial dan kesadaran berbagi di lingkungan sekolah. Setelah tujuan umum dirumuskan, langkah berikutnya adalah melakukan analisis pembelajaran (Conduct Instructional Analysis). Pada tahap ini, guru menguraikan secara rinci keterampilan, konsep, dan pengetahuan yang dibutuhkan peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Fauziyah, 2023). Dalam konteks PAI, guru perlu menelusuri keterkaitan antar materi, misalnya hubungan antara iman, ibadah, dan akhlak dalam praktik kehidupan sehari-hari. Analisis pembelajaran membantu guru memahami struktur logis dari materi ajar. Misalnya, sebelum peserta didik dapat memahami hikmah zakat, mereka harus terlebih dahulu memahami pengertian, hukum, syarat, dan rukun zakat. Proses berpikir yang bertahap seperti ini sejalan dengan prinsip tadarruj dalam pendidikan Islam, yaitu pembelajaran yang berkembang secara bertingkat dan berkesinambungan (Hidayatullah, 2022). Tahap selanjutnya adalah analisis karakteristik peserta didik (Analyze Learners and Contexts). Dalam pendidikan Islam, memahami kondisi peserta didik menjadi kunci utama keberhasilan pembelajaran. Guru perlu mengetahui latar belakang sosial, budaya, tingkat pengetahuan, minat, dan motivasi spiritual siswa (Zainuddin, 2021). Analisis ini memastikan bahwa pembelajaran tidak hanya menyentuh aspek kognitif, tetapi juga relevan dengan kebutuhan emosional dan spiritual mereka. Misalnya, dalam mengajarkan topik “kejujuran dalam Islam”, guru perlu mengetahui sejauh mana peserta didik memahami nilai moral tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, guru dapat menentukan pendekatan yang paling efektif, apakah dengan kisah teladan Nabi, video edukatif, atau diskusi reflektif (Suryana, 2019). Pendekatan yang sesuai karakteristik peserta didik akan membuat nilai-nilai Islam lebih mudah dihayati dan diamalkan. Analisis karakteristik peserta didik juga mencakup pemahaman terhadap aspek budaya dan konteks sosial. Pendidikan Agama Islam tidak dapat dilepaskan dari realitas sosial yang melingkupinya (Fathurrahman, 2022). Oleh sebab itu, guru PAI perlu merancang kegiatan belajar yang kontekstual, misalnya dengan mengaitkan ajaran Islam tentang tolong-menolong dengan kegiatan gotong royong di lingkungan sekolah. Setelah memahami peserta didik, guru kemudian melanjutkan ke tahap merumuskan tujuan dan indikator pembelajaran (Write Performance Objectives). Tujuan pembelajaran harus dirumuskan secara spesifik, terukur, dan sesuai dengan kompetensi dasar. Misalnya: “Peserta didik mampu menjelaskan pengertian zakat, menyebutkan jenis-jenis zakat, dan menunjukkan sikap peduli sosial melalui praktik zakat sederhana.” (Mulyadi, 2021). Tujuan dan indikator yang jelas akan memudahkan guru dalam menyiapkan materi, metode, dan penilaian yang sesuai. Dalam model Dick & Carey, tujuan pembelajaran menjadi kompas utama yang mengarahkan seluruh kegiatan instruksional (Wahyudi, 2021). Setelah tujuan dirumuskan, langkah selanjutnya adalah mengembangkan instrumen penilaian (Develop Assessment Instruments). Penilaian ini berfungsi untuk mengukur sejauh mana peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Dalam pembelajaran PAI, asesmen tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga mencakup afektif dan psikomotorik (Amin, 2020). Guru PAI dapat mengembangkan berbagai bentuk asesmen, seperti tes pemahaman konsep, refleksi nilai keagamaan, hingga penilaian praktik ibadah. Penilaian semacam ini mencerminkan karakter pendidikan Islam yang holistik—menilai aspek knowing, doing, dan being (Yusuf, 2021). Langkah berikutnya dalam model Dick & Carey adalah mengembangkan strategi pembelajaran (Develop Instructional Strategy). Strategi harus dirancang berdasarkan hasil analisis dan karakteristik 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Pengembangan Desian Pembelajaran (Azizah, et., al) | 37-46 peserta didik. Dalam konteks PAI, strategi yang efektif adalah yang mampu mengintegrasikan nilainilai Islam dengan pengalaman belajar yang aktif dan partisipatif (Latifah, 2021). Guru dapat menggunakan strategi seperti problem-based learning, cooperative learning, atau contextual teaching and learning yang disesuaikan dengan tema keislaman. Misalnya, guru meminta siswa memecahkan masalah sosial seperti kemiskinan dengan menerapkan konsep zakat atau infaq (Hakim, 2020). Setelah strategi dirancang, guru masuk ke tahap mengembangkan bahan ajar dan media pembelajaran (Develop and Select Instructional Materials). Tahap ini merupakan jantung dari model Dick & Carey karena menentukan kualitas pengalaman belajar siswa (Wibowo, 2021). Dalam era digital, bahan ajar PAI dapat dikembangkan dalam bentuk video interaktif, e-modul, infografik nilai-nilai Islam, atau aplikasi pembelajaran berbasis Al-Qur’an. Media digital yang menarik akan membantu siswa memahami ajaran agama dengan lebih kontekstual dan menyenangkan (Salsabila & Rasyid, 2021). Guru perlu memastikan bahwa bahan ajar yang dikembangkan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam yang autentik dan bersumber dari Al-Qur’an serta hadis. Integrasi teknologi di sini bukan untuk menggantikan substansi agama, tetapi untuk memperkuat daya jangkau dan efektivitas penyampaian nilai (Rohmah, 2023). Tahap berikutnya adalah implementasi pembelajaran (Design and Conduct Instruction). Pada tahap ini, seluruh rancangan yang telah dibuat diaplikasikan di kelas. Guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing spiritual, bukan sekadar penyampai informasi (Ismail, 2023). Peserta didik diajak aktif melalui diskusi, simulasi, praktik ibadah, dan proyek sosial berbasis nilai Islam. Selama pelaksanaan pembelajaran, guru melakukan observasi dan dokumentasi proses belajar, yang kemudian digunakan sebagai bahan evaluasi (Nurdin, 2020). Proses ini membantu guru melihat dinamika kelas secara nyata dan menilai sejauh mana pembelajaran telah berjalan sesuai rencana. Setelah pelaksanaan, langkah penting selanjutnya adalah evaluasi formatif dan sumatif (Conduct Formative and Summative Evaluation). Evaluasi formatif dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung untuk memperbaiki kekurangan secara langsung, sedangkan evaluasi sumatif dilakukan di akhir pembelajaran untuk menilai hasil secara keseluruhan (Aisyah, 2021). Dalam PAI, evaluasi harus bersifat komprehensif—menilai pengetahuan, sikap, dan keterampilan ibadah. Misalnya, selain memberikan tes tulis tentang zakat, guru juga menilai partisipasi siswa dalam kegiatan amal sekolah sebagai bentuk penerapan nilai (Wahyudi, 2021). Langkah terakhir dalam model ini adalah revisi desain pembelajaran (Revise Instruction). Berdasarkan hasil evaluasi dan umpan balik dari siswa, guru dapat memperbaiki komponen pembelajaran seperti media, metode, atau asesmen (Latifah, 2021). Proses revisi menjadikan pembelajaran sebagai sistem yang terus berkembang dan menyesuaikan dengan kebutuhan zaman. Integrasi seluruh tahapan ini menjadikan proses pembelajaran PAI lebih sistematik, berorientasi hasil, dan kontekstual. Guru tidak lagi mengajar secara spontan, tetapi berdasarkan analisis dan rancangan yang matang (Amin, 2020). Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memahami ajaran agama secara teoritis, tetapi juga mampu menginternalisasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. Selain itu, penerapan model Dick & Carey juga mendukung pengembangan kompetensi profesional guru PAI. Guru dilatih untuk berpikir analitis, reflektif, dan inovatif dalam merancang pembelajaran (Fathurrahman, 2022). Guru menjadi agen perubahan yang mampu merespons kebutuhan spiritual dan intelektual siswa di tengah tantangan era digital. Keberhasilan penerapan model ini tidak hanya bergantung pada guru, tetapi juga memerlukan dukungan dari berbagai pihak, seperti kepala sekolah, orang tua, dan lembaga pendidikan (Rohmah, 2023). Kolaborasi ini memastikan proses pembelajaran berjalan selaras dengan visi pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan akhlak mulia. Dengan pendekatan yang komprehensif ini, model Dick & Carey memberikan kontribusi nyata dalam mengembangkan desain pembelajaran PAI yang efektif, efisien, dan bernilai spiritual tinggi. Model ini menjembatani antara teori pendidikan modern dan nilai-nilai keislaman, menghasilkan proses pembelajaran yang berimbang antara akal, hati, dan amal (Zuhdi, 2018). SIMPULAN Pengembangan desain pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis Taksonomi Bloom dan Model Dick & Carey merupakan langkah strategis dalam membangun sistem pembelajaran 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Pengembangan Desian Pembelajaran (Azizah, et., al) | 37-46 yang terencana, menyeluruh, dan berorientasi pada pembentukan kepribadian Islami yang harmonis antara ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam pandangan pendidikan Islam, proses pembelajaran bukan sekadar kegiatan mentransfer ilmu agama, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang mencakup tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), ta‘līm (pengajaran ilmu), dan tarbiyah (pendidikan nilai dan moral). Ketiganya berperan dalam membentuk insan kāmil—manusia paripurna yang berilmu, beriman, dan beramal saleh. Kerangka Taksonomi Bloom memberikan dasar filosofis dan pedagogis dalam mengklasifikasikan tujuan pembelajaran secara komprehensif. Ranah kognitif menumbuhkan kemampuan peserta didik untuk memahami, menalar, dan menganalisis ajaran Islam secara mendalam; ranah afektif membentuk kepekaan spiritual, cinta terhadap nilai-nilai Islam, serta keikhlasan dalam beramal; sedangkan ranah psikomotorik menegaskan pentingnya penerapan ajaran Islam dalam tindakan nyata. Dengan keseimbangan ketiga ranah tersebut, pembelajaran PAI diarahkan untuk menumbuhkan kesatuan antara ‘aql (akal), qalb (hati), dan ‘amal (perbuatan), sehingga ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada tataran teori, tetapi terwujud dalam bentuk perubahan sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai keislaman. Sementara itu, Model Dick & Carey memberikan kerangka kerja yang sistematis dan aplikatif dalam proses perancangan pembelajaran PAI. Model ini menekankan pentingnya analisis kebutuhan belajar, penetapan tujuan yang jelas, pemahaman terhadap karakteristik peserta didik, pengembangan strategi pembelajaran yang kontekstual, serta pelaksanaan evaluasi berkelanjutan. Melalui tahapantahapan tersebut, guru PAI dapat memastikan keterpaduan antar komponen pembelajaran sehingga proses belajar berjalan efektif, terarah, dan relevan dengan tujuan pendidikan Islam: mencetak generasi beriman, berilmu, dan bertakwa yang siap menghadapi dinamika zaman. Integrasi antara Taksonomi Bloom dan Model Dick & Carey menghadirkan sinergi yang ideal antara filsafat pendidikan dan praktik pembelajaran. Taksonomi Bloom memberikan orientasi konseptual tentang capaian belajar berdasarkan tingkat berpikir dan nilai spiritual, sedangkan Dick & Carey menawarkan panduan teknis dalam perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi pembelajaran. Ketika keduanya diterapkan secara terpadu, pembelajaran PAI akan berkembang menjadi proses yang holistik, terstruktur, inovatif, dan humanis, sekaligus adaptif terhadap perubahan sosial dan perkembangan teknologi di era modern. Penerapan pendekatan ini mengubah peran guru PAI dari sekadar penyampai materi menjadi perancang pengalaman belajar religius yang menyentuh aspek spiritual dan intelektual secara seimbang. Peserta didik tidak hanya dituntun untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis, tetapi juga diajak untuk menginternalisasi nilai-nilai ilahiah di balik setiap ajaran, merasakannya dalam batin, serta mewujudkannya dalam perilaku sosial yang beradab. Secara keseluruhan, penerapan desain pembelajaran berbasis Taksonomi Bloom dan Model Dick & Carey menandai pergeseran paradigma pendidikan Islam dari orientasi transfer of knowledge menuju transformation of character and spirituality. Artinya, pendidikan tidak lagi berhenti pada penguasaan konsep, tetapi bergerak menuju pembentukan pribadi Muslim yang memiliki kecerdasan intelektual, kematangan emosional, kemuliaan akhlak, serta ketangguhan spiritual. Dengan demikian, pengembangan desain pembelajaran PAI yang sistematis, terukur, dan berlandaskan nilai-nilai Ilahiah akan menjadi fondasi kokoh bagi lahirnya peradaban Islam yang madaniyyah (berkeadaban), ‘ilmiyyah (berilmu pengetahuan), dan akhlaqiyyah (berakhlak mulia). Melalui sinergi antara kerangka teoritis Taksonomi Bloom dan pendekatan sistematis Dick & Carey, pendidikan agama Islam dapat bertransformasi menjadi kekuatan spiritual dan intelektual yang menuntun umat menuju kemajuan dan kesejahteraan hakiki. REFERENSI Aisyah, N. (2021). Implementasi Evaluasi Formatif dalam Pembelajaran Pendidikan Islam. Jurnal AlTarbiyah, 9(1), 55–70. Aisyah, N. (2021). Internalisasi Nilai-Nilai Islam dalam Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah. Jurnal Tarbawi, 18(2), 134–148. Akhyar, A., dkk. (2024). Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Era Digital. Jurnal Bhinneka. Al-Faruqi, I. R. (2020). Islamization of Knowledge: Contemporary Educational Framework. Kuala Lumpur: IIIT Press. 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Pengembangan Desian Pembelajaran (Azizah, et., al) | 37-46 Amalia, R. (2020). Authentic Assessment dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 5(1), 45–59. Amin, M. (2020). Model Pembelajaran Efektif dalam Pendidikan Agama Islam di Era Digital. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 7(2), 80–94. Asrori, A. (2022). Afektif Learning dalam Pendidikan Islam Kontemporer. Jurnal At-Tarbiyah, 9(1), 22–35. Azizah, L., & Huda, M. (2019). Dimensi Spiritual Ibadah dalam Perspektif Psikologi Islam. Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, 10(1), 56–72. Dick, W., & Carey, L. (2015). The Systematic Design of Instruction (8th ed.). New York: Pearson Education. Farida, N., & Nursikin, A. (2024). Desain Pembelajaran PAI Berbasis Sufistik di Era Digital. Jurnal Tarbiah. Fathurrahman, M. (2022). Inovasi Guru dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal Pendidikan dan Karakter Islam, 6(3), 211–229. Fathurrahman, M. (2022). Integrasi Nilai Keislaman dalam Kurikulum Pendidikan Nasional. Jurnal Pendidikan Karakter Islami, 7(3), 210–227. Fauziyah, F. (2023). Desain Pembelajaran PAI Berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS). Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Islam, 14(2), 88–104. Fauziyah, F. (2023). Desain Pembelajaran PAI Berbasis Sistematik dan HOTS. Jurnal Pendidikan Islam Modern, 15(1), 97–114. Hakim, L. (2020). Aplikasi Taksonomi Bloom dalam Pengajaran Akhlak Islam. Jurnal Filsafat Pendidikan Islam, 11(1), 33–47. Hakim, L. (2020). Strategi Pembelajaran Kontekstual dalam Pendidikan Islam. Jurnal Edu-Islamika, 12(1), 47–63. Hasanah, U. (2021). Evaluasi Pembelajaran PAI Berbasis Taksonomi Bloom. Jurnal Ta’dibuna, 6(2), 111–126. Hidayatullah, A. (2022). Analisis Tahapan Pembelajaran Berbasis Nilai Islam. Jurnal Al-Muaddib, 10(3), 99–118. Hidayatullah, A. (2022). Pengembangan Kognitif dalam Pendidikan Islam. Jurnal Al-Tarbiyah, 8(4), 56–73. Ismail, N. (2023). Guru Sebagai Fasilitator Spiritual dalam Pembelajaran PAI. Jurnal Tarbawi Global, 5(2), 76–90. Ismail, N. (2023). Guru Sebagai Pembimbing Spiritual dalam Pembelajaran PAI. Jurnal Pendidikan Islam Global, 4(1), 90–108. Jauhari, M. (2020). Etika Digital Islami dalam Pendidikan. Jurnal Pendidikan Islam Digital. Kemdikbud. (2022). Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka untuk PAI dan Budi Pekerti. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Latifah, R. (2021). Afektif Domain dalam Pendidikan Islam Modern. Jurnal Edu-Islam, 15(2), 65–78. Latifah, R. (2021). Perancangan Tujuan Pembelajaran PAI dengan Model Dick & Carey. Jurnal Pendidikan Islam Kontekstual, 8(2), 134–150. Mahfudz, S. (2023). Tantangan Implementasi Taksonomi Bloom di Madrasah. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 17(1), 41–58. Marzuki, H. (2020). Pembelajaran Berbasis Amal dalam Pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan Karakter, 10(3), 230–244. Misbah, M. (2023). Transformasi Digital dalam Pendidikan Agama Islam. Jurnal Talimuna. Mulyadi, T. (2021). Formulasi Tujuan dan Indikator Pembelajaran dalam PAI. Jurnal Edukasi Islam Nusantara, 14(1), 44–59. Mutmainnah, S. (2020). Penerapan Afektif Domain dalam Pendidikan Islam. Jurnal Tarbiyah dan Pendidikan Islam, 8(2), 112–128. Nugraha, M. S. (2024). Implementasi Model Dick & Carey dalam Pendidikan Agama Islam. Jurnal Munawwarah. Nurdin, S. (2020). Nilai dan Sikap dalam Pembelajaran PAI. Jurnal Edukasia Islamika, 9(1), 77–91. Nurdin, S. (2020). Observasi Proses Pembelajaran Agama di Sekolah Menengah. Jurnal Tarbiyatuna, 11(3), 201–217.