scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Penanaman Nilai Akhlak Santri Pondok Pesantren Mu'allimin Muhammadiyah Pakan Sinayan

Tri Wulan Dari

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 3, Oktober 2025, Halaman 475-479 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17445859 *Corresponding Author Email: triwulanndarii[email protected]om Penanaman Nilai Akhlak Santri Pondok Pesantren Mu’allimin Muhammadiyah Pakan Sinayan Tri Wulan Dari Universitas Islam Negeri Sjech Mdjamil Mdjambek Bukittinggi A B S T R A C T The purpose of this research is: (1) To describe and know how moral values are instilled in the students of Mu'allimin Muhammadiyah Feed Sinayan Boarding School (2) To know the supporting and hindering factors that support and hinder the behavior of Mu'allimin Boarding School Muhammadiyah students Allimin Muhammad Feed Sinayan Boarding School. The study was a field study using qualitative methods. Mu'allimin Muhammadiyah Boarding School Leadership and Ustadzah Research Topic, Sinayan Feed and Research Object: Mu'allimin Muhammadiyah Moral Value Development as well as Factors Supporting and Hindering the Moral Value Development. The data collection methods used included interviews, observation and documentation. The data collection method was conducted through data reduction, data presentation and conclusion drawing. The results of this study show that the development of moral values among the students of Mu’allimin Muhammadiyah Boarding House occurs through the study of the Qur’an, prophets, role models and habits inside and outside the classroom. method. The Quran, the Prophet, Examples and Customary Ways. Moral values instilled in the boarding school Mualimin Muhammadiyah feed among others: Moral values are taught in the classroom playground before learning begins, students greet the teacher every change of class, when the teacher comes, students sit when ustadzan accustomed to sit down to eat and drink, and if you meet the ustadzah you have to be polite in speaking and doing something. Supporting factors and inhibiting factors are equally environmental factors. A B S T R A K Tujuan penelitian ini : (1) Untuk mendeskripsikan dan mengetahui bagaimana nilai-nilai moral yang ditanamkan pada diri santri Pondok Pesantren Mu’allimin Muhammadiyah Feed Sinayan (2) Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat yang mendukung dan menghambat perilaku santri Mu'allimin Muhammadiyah Pakan Pondok Pesantren Sinayan allimin Muhammadiyah Pakan Pondok Pesantren Sinayan. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan metode kualitatif. Pondok Pesantren Mu'allimin Muhammadiyah Kepemimpinan dan Ustadzah Topik Penelitian, Pakan Sinayan dan Objek Penelitian: Pengembangan Nilai Akhlak Mu'allimin Muhammadiyah serta Faktor Pendukung dan Penghambat Pengembangan Nilai Akhlak Pondok Pesantren, Pakan Sinayan. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi wawancara, observasi dan dokumentasi. Metode pengumpulan data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan nilai-nilai moral dikalangan santri Pondok Pesantren Mu’allimin Muhammadiyah terjadi melalui kajian AlQur’an, nabawi, teladan dan kebiasaan di dalam dan di luar kelas. metode. Al Quran, Nabawi, Contoh dan Cara Adatnya. Nilai-nilai moral yang ditanamkan di Pondok Pesantren Mualimin Muhammadiyah pakan sinayan antara lain: Nilai-nilai moral diajarkan di taman bermain kelas sebelum pembelajaran dimulai, santri menyapa ustadzah setiap pergantian kelas, saat ustadzah datang, santri duduk saat ustadzah Santri dibiasakan berdiri dan duduk, santri dibiasakan duduk untuk makan dan minum, dan jika bertemu dengan ustadzah harus sopan dalam berbicara dan melakukan sesuatu. Faktor pendukung dan faktor penghambat sama-sama merupakan faktor lingkungan. PENDAHULUAN Akhlak memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Tanpa akhlak, manusia bisa saja berujung pada rendahnya harkat dan martabat hidup, baik dihadapan Allah SWT maupun manusia karena tidak mengenal perbedaan antara amal shaleh dan amal munkar. Tujuan pendidikan Islam adalah untuk membentuk pribadi yang utuh, sedangkan tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk membimbing akhlak dan menjadikan manusia menjadi muslim yang sejati, teguh imannya, beramal shaleh, berakhlak A R T I C L E I N F O Article history: Received September 30, 2025 Revised 10 Oktober 2025 Accepted 15 Oktober 2025 Available online 22 Oktober. 2025 Kata kunci: Akhlak, Santri, Pondok Pesantren Keywords Morality, Students, Boarding House This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 475-479 Socius E-ISSN: 3025-6704 mulia, dan bermanfaat bagi sesama. Kelompok agama dan negara. Salah satu tujuannya adalah masalah moral. Moralitas merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, karena moralitas menempati kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, moralitas merupakan hal yang utama. Hidup, inilah yang dituntut oleh agama. Akhlak menempati tempat khusus dalam Islam, berdasarkan prinsip bahwa Nabi SAW mengidentifikasi kesempurnaan akhlak sebagai misi utama risalah Islam. Seperti dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Artinya :“Sesugguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”(Hr. Baihaqi). Berdasarkan hadis di atas dapat dipahami bahwa untuk mencapai kesempurnaan akhlak (akhlakkul karimah) diperlukan pembinaan akhlak. Selain keluarga, dibutuhkan seorang anak. Sebab, moralitas merupakan hasil usaha sungguh-sungguh mendidik dan melatih potensi spiritual batin manusia. Akhlak memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, baik itu individu, masyarakat, atau suatu negara, karena naik turunnya suatu negara atau masyarakat tergantung pada moralitasnya dan baik atau tidaknya akhlak. Oleh karena itu, masih banyak anak-anak sekarang yang berani berbicara dengan orang tua atau gurunya, atau bahkan melakukan pergaulan bebas. Hal ini karena anak-anak belum menerima pendidikan moral sejak masih kecil. Penanaman nilai moral sejak dini akan menjadi landasan dan pedoman perilaku anak, terutama ketika menghadapi kerasnya hidup dan derasnya arus globalisasi dan modernisasi di masa depan. Akhlak menurut Imam Gazali adalah kondisi jiwa yang telah tertanam kuat, yang darinya terlahir sikap amal secara mudah tanpa membutuhkan pemikiran atau pertimbangan dan akhlak merupakan suatu tatanan hidup yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. (Mulyani Masan, Alfat 1994) Dalam rangka mencetak generasi penerus yang berakhlak mulia, sekolah memegang peranan yang sangat penting dalam membina akhlak peserta didik. Sebab sekolah merupakan tempat di luar lingkungan rumah yang ditanamkan nilai-nilai pada diri anak. Peran seorang pendidik tidak hanya terbatas pada peran guru yang memberikan ilmu pengetahuan dan menugaskan keterampilan saja, namun peran aktifnya diharapkan dapat membimbing, membentuk dan mengembangkan sikap psikologis siswa atau siswa ke arah yang lebih baik , pendidik harus mampu menanamkan nilai-nilai. Peran seorang pendidik dalam menanamkan nilai-nilai khususnya nilai akhlak kepada peserta didik dapat dilakukan dengan mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Secara langsung terhadap dalam diri Rasul, bersemi nilai-nilai akhlak yang mulia dan agung. Sebagaimana telah disebutkan dalam QS. Al-Ahzab ayat 21. Dalam Ayat tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memang mempunyai keteladanan (uswah). Namun kenyataannya akhlak generasi muda saat ini mulai menyimpang dari kerangka akhlak Nabi Muhammad SAW. Moralitas memegang peranan penting dalam kehidupan manusia,, baik sebagai individu maupun sebagai negara, karena naik turunnya suatu masyarakat bergantung pada moralitasnya. Moralitas yang baik akan makmur secara internal, dan moralitas akan makmur secara eksternal. Jika rusak, maka bagian dalam dan luarnya akan rusak. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini membuat pengaruh media dalam masyarakat menjadi sangat menonjol. Tanpa penyeleksi dan penyaring yang baik, salah satu dampak media adalah semakin menjauhkan generasi muda dari nilai-nilai moral. Banyak anak yang cenderung berbohong, berperilaku tidak sopan, mengambil barang yang bukan miliknya, melakukan pergaulan bebas, membela orang tua, siswa memprotes gurunya, dan perilaku lain yang jauh dari nilai moral yang tinggi. Dengan besarnya tantangan yang dihadapi negara saat ini, kita perlu menanamkan akhlak dan akhlak yang baik kepada siswa kita dalam kehidupan sehari-hari. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif, yaitu penelitian yang menggambarkan hubungan antara faktor-faktor, ciri-ciri, dan fenomena-fenomena situasi dan peristiwa yang bersifat faktual dan sistematis guna memahami pokok-pokoknya saja. Penelitian ini menyediakan data deskriptif berupa data tertulis atau lisan serta orang-orang dan perilaku yang diamati karena tujuan peneliti adalah memberikan pandangan yang lengkap dan mendalam terhadap subjek yang diteliti. Tujuan penelitian deskriptif adalah mendeskripsikan secara sistematis dan akurat fakta dan karakteristik subjek dan objek penelitian, sehingga diperoleh berbagai permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan dan perilaku manusia. Metode kualitatif terutama didasarkan pada observasi, wawancara, dan catatan dokumenter, serta memiliki banyak ciri, antara lain: menyajikan sudut pandang subjek penelitian dan memberikan gambaran menyeluruh serupa dengan pengalaman hidup seharihari pembaca. Penilaian atau konteks yang bermakna membantu untuk memahami makna fenomena dalam konteks yang diteliti. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 475-479 Tri Wulan Dari/ Penanaman Nilai Akhlak Santri HASIL DAN PEMBAHASAN Penanaman Nilai Akhlak Pada Santri di Dalam Kelas pondok pesantren Mu’allimin Muhammadiyah pakan sinayan. Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, proses pembelajaran di kelas nampaknya merupakan langkah awal dalam proses penanaman nilai-nilai moral yang saling berkaitan baik di dalam maupun di luar kelas. Di dalam kelas proses pembelajaran merupakan langkah awal dalam sebuah pesantren, dimana ilmu akhlak ditanamkan pada ustadzah, dimana diberikan materi tentang etika, setelah itu santri belajar menerapkannya di dalam dan di luar kelas. ustadzah Teori yang wajib ditanamkan kepada santri pada saat perkuliahan atau perkuliahan. 1. AkhlakTerpuji Akhlak yang terpuji yaitu sifat-sifat atau tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma ajaran islam. Contoh akhlak terpuji yaitu: a) AkhlakKedisiplinan Disiplin dalam menaati peraturan adalah merupakan salah satu akhlak yang terpuji. Pada dasarnya peraturan yang kita taati akan terasa manfaatnya baik bagi diri sendiri terlebih orang lain. Baik disiplin dalam menjalankan ibadah, bekerja, dan disiplin kegiatansehari-hari. b) AkhlakKebersihan Agama tidak menginginkan adanya perusakan dalam bentuk apapun di muka bumi ini, sehingga segala upaya yang mengarah kepada pelestarian dan kebersihan merupakan suatu sikap yang terpuji dan selalu dianjurkan oleh agama. c) AkhlakKejujuran Jujur artinya mengatakan atau melakukan sesuatu sesuai dengan sebenarnya. Orang yang jujur akan mengatakan atau berbuat sesuatu sesuai dengan apa adanya. Tanpa ditambahi atau dikurangi. d) Akhlak Kesopanan terhadap ucapan danperbuatan. Akhlak kesopanan terhadap ucapan dan perbuatan yaitu menjaga anggota badan terutama lisan dari perbuatan dosa. Lisan adalah alat untuk bicara, keselamatan manusia pada dasarnya akan tergantung kepada pemeliharaan lidahnya. Banyak orang yang terjerumus ke dalam lembah kehinaan, kenistaan, kesengsaraan, dan siksa api neraka, akibat ucapan-ucapan lisannya. 2. Akhlak tercela Akhlak tercela adalah segala tingkah laku manusia yang dapat membawa kehancuran dan kehancuran diri sendiri, yang tentunya bertentangan dengan kodratnya yang selalu mengarah pada kebaikan. Contoh perbuatan tercela meliputi: A. Pengkhianatan berarti tidak melakukan sesuatu yang dipercayakan atau disepakati. B. berbohong Kebohongan atau kepalsuan adalah pemberitaan yang berbeda dari kebenaran peristiwa sebenarnya. C. Zarim Zalim artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya. Zalim juga bisa berarti berbuat zalim atau bertindak kejam, keji, dan dengan sengaja Mengenali ruang lingkup akhlak, Imam Al-Ghozali menjelaskan bahwa bidang pembahasan ilmu akhlak adalah seluruh aspek kehidupan manusia, baik secara individu maupun kelompok. Oleh karena itu, ilmu moral tidak hanya membahas tentang perilaku individu tetapi juga perilaku sosial. Sesuai dengan tafsir Ustazah dan memberikan contoh ruang lingkup akhlak. Seorang Ustazah yang mengajarkan materi akhlak menggunakan kitab kuning yang disebut akhlakullibanin yang merupakan Ustazah lengkap untuk mengajarkan ruang lingkup akhlak yaitu bermoral terhadap Allah SWT, Rasul, orang lain dan diri sendiri. Penanaman Nilai Akhlak Pada Santri di Luar Kelas pondok pesantren Mu’allimin Muhammadiyah pakan sinayan Menanamkan konsep moral kepada peserta didik di luar kelas juga tidak terlepas dari metode adat dan metode demonstrasi. Dari hasil observasi yang saya lihat, penggunaan metode tersebut terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari para siswa di lingkungan asrama putri, baik itu keteladanan maupun kebiasaan siswa terhadap perilaku siswa, harap diingat bahwa kedua aspek ini juga termasuk dalam kategori ini. dalam lingkup etika Islam. Cara yang biasa dilakukan adalah dengan membiasakan siswa shalat berjamaah, membaca Al-Quran, mengaji, menunjuk dengan ibu jari, duduk makan dan minum, membersihkan piket, dan lain-lain. Metode keteladanan ustadzah mempunyai pengaruh yang besar terhadap santri, sikap yang dapat ditiru santri adalah sikap ustadzah terhadap ustadzah lain yang penuh dengan keramahan dan kekeluargaan. Setiap kata di antara guru, selalu pakaian rapi, dan ustadzah yang juga mentaati peraturan yang ada dipondok yang dicontoh oleh para santri pondok pesantren Mu’allimin Muhammadiyah. Akhlak yang baik tidak hanya diperoleh melalui mujahadah, latihan atau riadhoh dan diperoleh secara alami berdasarkan fitroh/alami, akan tetapi juga bisa diperoleh melalui teladan, yaitu mengambil contoh atau meniru orang yang dekat dengannya. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 475-479 Socius E-ISSN: 3025-6704 Faktor Penanaman Nilai Akhlak pada Santri Pondok Pesantren Mu’allimin Muhammadiyah pakan sinayan a. Faktor Pendukung Berdasarkan wawancara dan observasi yang dilakukan peneliti mengenai faktor pendukung dalam penanaman nilai akhlak pada santri yaitu belajar seharihari, musyawarah rutin, menitipkan anak sepenuhnya ke pesantren serta menerima nasehat dan tawaran ustadza langsung kepada santri. model atau contoh. b. Faktor penghambat Berdasarkan wawancara dan pengamatan para peneliti, penghambatnya adalah lingkungan sekitar dan telepon seluler serta alat media canggih yang banyak disalahgunakan oleh anak-anak saat ini. sekarang. SIMPULAN Penanaman Nilai Akhlak pada Santri di Pondok Pesantren Mu’allimin Muhammadiyah Pakan Sinayan, Dilaksanakan melalui pembelajaran di dalam dan di luar kelas dengan menggunakan metode Al-Qur’an, Nabawi, contoh dan pembiasaan. Penanaman nilai akhlak di Pondok Pesantren Mu’allimin Muhammadiyah meliputi: mengajarkan konsep akhlak di halaman kelas sebelum pembelajaran dimulai, santri menyapa ustadzah setiap pergantian kelas, dan santri menyapa santri ketika ustadzah datang. Saat ustadzah duduk, santri dibiasakan berdiri dan duduk kembali, santri terbiasa duduk untuk makan dan minum, dan jika bertemu dengan ustadzah, bersikaplah sopan dalam berbicara dan berperilaku. Faktor pendukung dan penghambat berkembangnya nilai moral dikalangan santri Pondok Pesantren Mu'allimin Muhammadiyah Sinayan. Faktor pendukungnya antara lain pembelajaran di kelas, pengajian yang teratur, ustadzah yang memberikan nasehat, dan ustadzah yang memberikan contoh yang baik kepada santri. Dilaksanakan melalui pembelajaran di dalam dan di luar kelas dengan menggunakan metode Al-Qur’an, Nabawi, contoh dan pembiasaan. Penanaman nilai-nilai akhlak di Pondok Pesantren Mu’allimin Muhammadiyah meliputi: mengajarkan konsep akhlak di halaman kelas sebelum pembelajaran dimulai, santri menyapa ustadzah setiap pergantian kelas, dan santri menyapa santri ketika ustadzah datang. Saat ustadzah duduk, santri dibiasakan berdiri dan duduk kembali, santri terbiasa duduk untuk makan dan minum, dan jika bertemu dengan ustadzah, bersikaplah sopan dalam berbicara dan berperilaku. Faktor pendukung dan penghambat berkembangnya nilai moral dikalangan santri Pondok Pesantren Mu'allimin Muhammadiyah Sinayan. Faktor pendukungnya antara lain pembelajaran di kelas, pengajian yang teratur, ustadzah yang memberikan nasehat, dan ustadzah yang memberikan contoh yang baik kepada santri. Sedangkan faktor penghambat yang penulis maksud dalam pengembangan konsep akhlak adalah santri non-asrama berdampak pada santri yang berada di rumah, banyak hal yang tidak dapat dikendalikan oleh orang tuanya, misalnya saja handphone telepon (media sosial) dan lingkungan. SARAN 1. Meningkatkan kualitas pondok pesantren termasuk guru agama dan sarana prasarana pendukungnya. 2. Lebih memperkuat koordinasi antar berbagai departemen agar kegiatan indoktrinasi moral mahasiswa lebih mendalam. 3. Meningkatkan kreativitas dan efektifitas kegiatan penanaman nilai moral. REFERENSI Abdul Nata. (2013). Akhlak Tasawuf. 155bdul Muid. (2020). Abdul Muid. (2020). Pemikiran Imam Ghazali Pada Kajian Al-Akhlaqul AlKarimah Dalam Kehidupan Ummat. Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Pendidikan Islam,6, 1-58. Abdul Rohman. (2012) Pembiasaan Sebagai Basis Penanaman Nilai Akhlak Remaja, Jurnal Nadwa 6, No. 1 Al Ghazali, Ihya' Ulum ad Din, 1, p.49. Chabib Thoha, (2000) Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 61 Muhammad Jamluddin Al-Qayimi Ad-Dimasyi, Mu "Izhatual-Mu'minimmin Ihya Ulum Ad-Din, Singapure : Dar Al-Ahd Al-Jadid, t.t.p 520 Mulyani, Masan Alfat. (1994). Akidah Akhlak Madrasah Aliyah Kelas Dua, Semarang. PT Toha Putra. 4 Mohammad Mustari. (2014). Nilai Karakter Refleksi untuk Pendidikan, Kakarta, Rajawali Pers, 10. Penelitian, B,, Email, K.A & Kunci, K. (2019). Implementasi prinsip - prinsip pendidkan dalam islam. Qiqi Yulianti dan Rusdiana. (2014),Pendidikan Nilai Kajaian Teori dan Praktik Sekolah, Bandung Pustaka Setia, 14. Rosihon Anwar. (2010). Akhlak Tasawuf, Bandung : Pustaka Setia, 87 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 475-479 Tri Wulan Dari/ Penanaman Nilai Akhlak Santri Yatimin Abdullah. (2007). Studi Akhlak dalam Perspektif Alquran. Jakarta: Amzah 44-46 Wahyudi, A. (2022). Upaya Penanaman Nilai Karakter Religius santri Melalui Kegiatan Sima'an Alquran Jumat Pahing di pondok pesantren Darul Huda Mayak Tonatan Ponogoro Wahya,dkk. (2013).Tim Penyusun Kamus Besar bahsa Indonesia, Bandunng : Kawan Mustofa 895 WJS, Purwadarminta.(1984).Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka. 895 Yahya Jaya. (1994).Spiritual Islam, Jakarta, Ruhama. 7-8 Yatmin Abdullah, (2007).Studi Akhlak dalam Pespektif Alquran, Jakarta Amzah.44-46