Pengembangan Program Penghafalan Al- Qur'an Surat-Surat Pendek Pada Anak-Anak di Kelurahan Belawan Sicanang
Full text
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 3, Oktober 2025, P. 488-495 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17446274 *Corresponding Author Email: khairunnisaxiaomi[email protected]om Pengembangan Program Penghafalan AlQur’an Surat-Surat Pendek Pada Anak-Anak di Kelurahan Belawan Sicanang Khairunnisa Mifta Ababil Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara A B S T R A C T This study aims to develop an effective and engaging program for memorizing short Surahs of the Qur’an among children in Belawan Sicanang Village. The background of this research stems from the low interest and ability of children to memorize the Qur’an, particularly in coastal communities with limited access to religious education facilities. This study employs a qualitative approach using a Research and Development (R&D) model, which includes the stages of needs analysis, program design, implementation, and evaluation. Data were collected through observation, interviews with Qur’an teachers, parents, and children, as well as documentation of learning activities. The results show that the memorization program developed through play-based learning, storytelling, and the use of audio-visual media effectively increased children’s motivation and memorization ability. Moreover, family and teacher support played a vital role in the program’s success. Therefore, this developed program can serve as a relevant and contextual model for Qur’an memorization learning in coastal communities, particularly in Belawan Sicanang. A B S T R A K Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan program penghafalan Al-Qur’an surat-surat pendek yang efektif dan menarik bagi anak-anak di Kelurahan Belawan Sicanang. Latar belakang penelitian ini berangkat dari keprihatinan terhadap rendahnya minat dan kemampuan anak-anak dalam menghafal Al-Qur’an, terutama di lingkungan masyarakat pesisir yang memiliki keterbatasan fasilitas pendidikan keagamaan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan model pengembangan (Research and Development) yang melibatkan tahap analisis kebutuhan, perancangan program, implementasi, serta evaluasi hasil. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan guru mengaji, orang tua, dan anakanak, serta dokumentasi kegiatan belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program penghafalan yang dikembangkan dengan pendekatan bermain, bercerita, dan penggunaan media audio-visual mampu meningkatkan motivasi dan kemampuan hafalan anak secara signifikan. Selain itu, dukungan lingkungan keluarga dan guru berperan penting dalam keberhasilan program. Dengan demikian, pengembangan program ini dapat dijadikan sebagai model pembelajaran tahfidz Al-Qur’an yang relevan dan kontekstual bagi masyarakat pesisir, khususnya di Belawan Sicanang. PENDAHULUAN Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi umat Islam yang mengandung ajaran moral, spiritual, dan sosial yang menjadi dasar pembentukan kepribadian seorang muslim. Salah satu upaya untuk menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an sejak dini adalah melalui kegiatan tahfidz atau penghafalan Al-Qur’an. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan agar anak mampu menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga untuk menumbuhkan kecintaan terhadap kitab suci serta membentuk karakter religius dan disiplin. Oleh karena itu, diperlukan suatu program penghafalan yang menarik, sistematis, dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Fenomena yang terjadi di masyarakat, khususnya di Kelurahan Belawan Sicanang, menunjukkan bahwa minat anak-anak dalam menghafal Al-Qur’an masih tergolong rendah. Kondisi lingkungan masyarakat pesisir yang cenderung lebih fokus pada aktivitas ekonomi serta terbatasnya lembaga pendidikan keagamaan menjadi salah satu faktor penghambat. Selain itu, metode pembelajaran yang monoton dan kurang inovatif menyebabkan anak-anak mudah bosan dalam mengikuti kegiatan menghafal. Padahal, pada usia anak-anak inilah kemampuan daya ingat dan penerimaan informasi sangat tinggi, sehingga penting untuk mengoptimalkannya melalui pendekatan yang sesuai. Pengembangan program penghafalan Al-Qur’an surat-surat pendek bagi anak-anak di wilayah ini menjadi solusi yang diharapkan mampu meningkatkan motivasi dan kemampuan hafalan mereka. Suratsurat pendek dipilih karena lebih mudah diingat dan dipahami oleh anak-anak, sekaligus menjadi dasar A R T I C L E I N F O Article history: Received September 30, 2025 Revised 10 Oktober 2025 Accepted 15 Oktober 2025 Available online 22 Oktober. 2025 Keywords Program development, Qur’an memorization, short Surahs Kata Kunci: Pengembangan program, hafalan AlQur’an, surat-surat pendek This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 488-495 Socius E-ISSN: 3025-6704 bagi tahapan hafalan selanjutnya. Dengan menerapkan metode yang kreatif, seperti pendekatan bermain, bernyanyi, bercerita, dan pemanfaatan media audio-visual, proses penghafalan dapat berlangsung dengan lebih menyenangkan dan bermakna. Selain itu, keberhasilan program penghafalan tidak hanya ditentukan oleh metode pembelajaran, tetapi juga oleh dukungan lingkungan sekitar, terutama keluarga dan guru. Peran orang tua dalam memberikan motivasi serta menyediakan waktu belajar di rumah sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan hafalan anak. Begitu pula peran guru mengaji yang mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif dan penuh semangat akan mendorong anak untuk lebih giat menghafal. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berfokus pada upaya pengembangan program penghafalan Al-Qur’an surat-surat pendek yang sesuai dengan karakteristik anak-anak di Kelurahan Belawan Sicanang. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan keagamaan di masyarakat pesisir serta menjadi model pembelajaran tahfidz yang dapat diterapkan di berbagai daerah dengan kondisi serupa. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode Research and Development (R&D) yang bertujuan untuk mengembangkan program penghafalan Al-Qur’an surat-surat pendek yang efektif dan sesuai dengan karakteristik anak-anak di Kelurahan Belawan Sicanang. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah pesisir Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, dengan subjek penelitian meliputi anak-anak usia 6–12 tahun, guru atau ustaz pengajar tahfidz, serta orang tua yang mendampingi anak dalam proses belajar di rumah. Prosedur penelitian mengacu pada model Borg and Gall yang disederhanakan menjadi beberapa tahapan, yaitu analisis kebutuhan, perancangan program, uji coba terbatas, revisi program, uji coba lapangan, dan evaluasi hasil. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap proses pembelajaran, wawancara dengan guru, orang tua, dan anak-anak, serta dokumentasi kegiatan belajar dan hasil hafalan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui proses reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan validitas data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan model program penghafalan surat-surat pendek yang menarik, kontekstual, serta mampu meningkatkan kemampuan dan motivasi anak-anak dalam menghafal Al-Qur’an di lingkungan masyarakat pesisir. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Program Hafalan Al-Qur’an di Kelurahan Belawan Sicanang Program hafalan Al-Qur’an di Kelurahan Belawan Sicanang merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan nonformal berbasis keagamaan yang lahir dari inisiatif masyarakat setempat untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap Al-Qur’an. Program ini biasanya dilaksanakan di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), musholla, atau rumah guru mengaji. Sasaran utama kegiatan ini adalah anakanak usia sekolah dasar, terutama mereka yang belum memiliki akses ke lembaga pendidikan Islam formal. Tujuan utamanya adalah agar anak-anak mampu menghafal surat-surat pendek dalam Juz ‘Amma sekaligus memahami maknanya secara sederhana. Kegiatan hafalan ini juga menjadi upaya membangun karakter spiritual dan moral anak-anak di tengah lingkungan sosial ekonomi pesisir yang penuh tantangan. Berdasarkan hasil observasi, kegiatan hafalan di Belawan Sicanang masih menggunakan metode tradisional seperti talaqqi (menyimak langsung bacaan guru) dan tikrar (pengulangan ayat). Setiap anak menyetorkan hafalan mereka secara bergiliran, sementara guru mengoreksi bacaan dan tajwidnya. Meskipun metode ini efektif dalam menjaga ketepatan bacaan, namun sering kali dianggap monoton oleh anak-anak sehingga minat belajar mudah menurun. Selain itu, keterbatasan sarana seperti media audiovisual, buku panduan, dan ruang belajar juga menjadi kendala yang cukup besar. Sebagian guru mengaji masih mengandalkan hafalan secara manual tanpa adanya sistem evaluasi terstruktur. Hal ini menyebabkan kemampuan hafalan anak-anak tidak merata, di mana sebagian besar hanya mampu menghafal beberapa surat pendek seperti Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas. Menuru (Laili,2019) yang menyatakan bahwa metode hafalan konvensional kurang efektif dalam menarik minat siswa. Dalam penelitiannya, penggunaan media digital seperti game edukasi Al-Qur’an Ratsel Bambini terbukti meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa sekolah dasar. Validasi media menunjukkan tingkat kelayakan sebesar 91,6%, menandakan bahwa pendekatan interaktif mampu membantu anak-anak dalam menghafal surat-surat pendek dengan lebih menyenangkan. Jika pendekatan semacam ini diterapkan di Belawan Sicanang, anak-anak akan lebih antusias karena proses hafalan dikemas dalam bentuk permainan edukatif. Program hafalan yang dikombinasikan dengan media digital juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan memperkuat daya ingat anak-anak yang tumbuh di era teknologi. Selain itu, penelitian (Yoga Surya,2025) memperkuat temuan tersebut dengan menekankan
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 488-495 Khairunnisa Mifta Ababil/ Pengembangan Program Penghafalan pentingnya permainan interaktif dalam pembelajaran hafalan. Metode permainan kelompok yang diterapkan dalam kegiatan tahfidz terbukti meningkatkan perhatian, kerja sama, dan keterlibatan emosional anak dalam proses belajar. Anak-anak menjadi lebih fokus, termotivasi, dan saling mendukung dalam menghafal ayat demi ayat. Pendekatan seperti ini sesuai dengan karakter anak-anak di Belawan Sicanang yang gemar beraktivitas di luar ruangan dan belajar melalui interaksi sosial. Melalui metode permainan edukatif seperti lomba hafalan, tebak surat, atau permainan puzzle ayat, kegiatan tahfidz dapat menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna. Hasil dari kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa inovasi dalam metode pembelajaran sangat berpengaruh terhadap efektivitas hafalan anak. Namun, selain metode, aspek manajemen program juga memegang peranan penting. Hal ini ditegaskan dalam penelitian (Dewi,2022), Penelitian tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan program tahfidz tidak hanya bergantung pada metode hafalan, tetapi juga pada sistem manajemen yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi (POAC). Dalam konteks Belawan Sicanang, empat aspek manajemen ini dapat dijadikan pedoman untuk memperbaiki sistem pembelajaran hafalan yang masih sederhana, yaitu: 1) Perencanaan Pada aspek perencanaan, program hafalan di Belawan Sicanang umumnya belum memiliki struktur yang sistematis. Guru mengaji biasanya menentukan target hafalan berdasarkan kemampuan masing-masing anak tanpa perencanaan waktu yang jelas. Berdasarkan pendekatan Rustiana dan Ma’arif, perencanaan seharusnya mencakup penentuan target hafalan, jadwal kegiatan, alokasi sumber daya, serta strategi pengajaran yang disesuaikan dengan tingkat usia dan kemampuan anak. Dengan perencanaan yang baik, program tahfidz di Belawan Sicanang dapat memiliki arah yang lebih jelas, misalnya menetapkan target hafalan 10 surat dalam enam bulan dengan indikator keberhasilan yang terukur. 2) Pengorganisasian Pada aspek pengorganisasian, (Rustiana,2022) menekankan pentingnya pembagian tugas yang jelas antara guru, koordinator, dan pendamping anak. Di Belawan Sicanang, kegiatan hafalan masih bergantung pada satu atau dua guru mengaji, sehingga keberlangsungan program sangat bergantung pada kehadiran mereka. Jika diterapkan model pengorganisasian seperti di MA NU NAFA, setiap kelompok anak dapat dibimbing oleh pendamping atau mentor hafalan (misalnya remaja masjid atau santri senior), sehingga proses pembelajaran menjadi lebih terstruktur dan berkesinambungan. Selain itu, pelatihan bagi guru mengaji dalam hal metode tahfidz modern dan psikologi anak perlu dilakukan agar pembelajaran menjadi lebih profesional. 3) Pelaksanaan Dari sisi pelaksanaan, kegiatan hafalan di Belawan Sicanang dapat mengadopsi pendekatan wahdah dan muroja’ah sebagaimana diterapkan di MA NU NAFA (Rustiana & Ma’arif, 2022). Metode wahdah yaitu menghafal satu ayat secara berulang hingga lancar sebelum melanjutkan ke ayat berikutnya, sedangkan muroja’ah digunakan untuk menjaga hafalan yang telah diperoleh. Kedua metode ini sangat cocok untuk anak-anak yang baru belajar karena tidak menuntut hafalan panjang dalam waktu singkat. Dalam konteks Belawan Sicanang, penerapan dua metode ini bisa dikombinasikan dengan kegiatan evaluasi mingguan berbasis permainan agar anak-anak lebih bersemangat. 4) Evaluasi Sementara itu, aspek evaluasi dalam program hafalan di Belawan Sicanang masih terbatas pada penilaian lisan. Padahal menurut Rustiana dan Ma’arif, evaluasi seharusnya mencakup pemantauan harian, penilaian tengah program, dan penilaian akhir. Guru perlu menggunakan buku catatan hafalan atau jurnal monitoring seperti yang diterapkan di MA NU NAFA untuk mencatat perkembangan masing-masing anak. Catatan ini tidak hanya menilai kuantitas hafalan (jumlah surat yang diingat), tetapi juga kualitas bacaan, ketepatan tajwid, dan konsistensi muroja’ah. Dengan sistem evaluasi yang teratur, guru dan orang tua dapat memantau perkembangan hafalan anak secara objektif. Selain faktor manajemen dan metode, dukungan lingkungan sosial juga berperan penting dalam keberhasilan program hafalan di Belawan Sicanang. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru dan orang tua, dukungan keluarga sangat menentukan semangat anak dalam menghafal. Ketika orang tua memberikan dorongan moral, mendengarkan hafalan anak, dan menciptakan suasana rumah yang religius, kemampuan anak dalam menghafal meningkat secara signifikan. Melihat kondisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa program hafalan Al-Qur’an di Kelurahan Belawan Sicanang memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi model pembelajaran tahfidz berbasis masyarakat pesisir. Namun, agar program ini berjalan efektif, perlu dilakukan penguatan dalam tiga aspek utama: pertama, inovasi metode pembelajaran dengan mengintegrasikan pendekatan tradisional dan digital; kedua, manajemen program yang sistematis mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi; dan ketiga, partisipasi aktif masyarakat dan keluarga sebagai mitra dalam mendukung keberlanjutan hafalan anak. Dengan demikian, pengembangan program hafalan Al-Qur’an di Belawan Sicanang diharapkan mampu
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 488-495 Socius E-ISSN: 3025-6704 meningkatkan kualitas hafalan sekaligus membentuk generasi muda yang cinta Al-Qur’an dan berakhlak Qur’ani. Pelaksanaan Program Penghafalan Surat-Surat Pendek Pelaksanaan program penghafalan surat-surat pendek di Kelurahan Belawan Sicanang merupakan bentuk kegiatan keagamaan yang berfokus pada upaya menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak usia dini. Program ini menjadi bagian dari kegiatan pembinaan moral dan spiritual masyarakat pesisir, yang dilaksanakan secara rutin di berbagai Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), musholla, serta rumahrumah guru mengaji. Berdasarkan hasil observasi, kegiatan penghafalan dilaksanakan pada sore hari setelah salat Ashar, dengan durasi sekitar satu hingga dua jam. Anak-anak belajar dalam kelompok kecil di bawah bimbingan ustaz atau ustazah yang berperan tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai motivator spiritual. Pelaksanaan kegiatan penghafalan di Belawan Sicanang mengikuti pola umum tahapan pembelajaran, yaitu pembukaan, kegiatan inti, dan penutup. Tahap pembukaan dimulai dengan pembacaan doa, tilawah bersama, dan muroja’ah hafalan sebelumnya. Kegiatan ini berfungsi untuk menciptakan suasana religius serta mempersiapkan mental dan fokus anak-anak. Pada tahap kegiatan inti, guru memperkenalkan ayat baru dengan metode talaqqi (menyimak dan menirukan bacaan guru) dan tikrar (pengulangan berulang-ulang). Anak-anak membaca ayat baru secara serempak, kemudian secara individual menyetorkan hafalan mereka. Guru memperhatikan ketepatan makhraj, panjang pendek bacaan, serta kelancaran hafalan. Pada tahap penutup, anak-anak diajak untuk mengulang kembali seluruh surat yang telah dihafal secara bersama-sama sambil membaca doa khatmil Qur’an. Metode hafalan yang diterapkan di Belawan Sicanang bersifat kombinatif. Selain metode talaqqi dan tikrar yang bersumber dari tradisi pesantren, beberapa guru juga mulai menerapkan pendekatan simā‘ī (pendengaran) dengan menggunakan rekaman murottal dari qari terkenal seperti Syaikh Mishari Rasyid atau Syaikh Al-Ghamidi. Metode ini memungkinkan anak-anak yang memiliki gaya belajar auditori untuk lebih mudah menyerap ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam praktiknya, anak-anak mendengarkan ayat beberapa kali melalui pengeras suara, kemudian menirukan secara bersama-sama. yang menyebutkan bahwa metode simā‘ī efektif meningkatkan ketepatan pelafalan huruf dan membantu memperkuat daya ingat jangka panjang penghafal. (Khoirun,2020). Selain itu, pendekatan gerakan tangan (kinestetik) mulai diperkenalkan dalam beberapa kelompok belajar, terinspirasi dari penelitian (Lestari,2019) Dalam metode ini, setiap ayat dihafalkan dengan diiringi gerakan tangan yang menggambarkan makna dari ayat tersebut. Misalnya, untuk lafaz ArRahman, anak-anak meletakkan kedua tangan di dada sebagai simbol kasih sayang Allah, sedangkan untuk Ar-Rahiim, tangan diletakkan di bawah dagu seolah menahan kelembutan. Metode ini terbukti membuat anak-anak lebih mudah memahami makna ayat sekaligus menghafalnya dengan menyenangkan. Hasil observasi menunjukkan bahwa anak-anak di Belawan Sicanang merespons positif metode ini karena mereka dapat bergerak aktif, bermain, dan berinteraksi selama kegiatan belajar. Hal ini memperkuat teori multiple intelligences yang dikemukakan oleh Howard Gardner, di mana kecerdasan kinestetik, visual, dan auditori dapat dikombinasikan untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Selain faktor metode, pelaksanaan program juga dipengaruhi oleh manajemen waktu dan struktur kegiatan. Berdasarkan wawancara dengan beberapa ustazah, kegiatan penghafalan dilakukan selama lima hari dalam seminggu, dengan alokasi satu surat baru setiap dua hingga tiga hari, disesuaikan dengan kemampuan anak. Kegiatan muroja’ah (pengulangan hafalan lama) dilakukan setiap hari Jumat atau malam Sabtu. Sistem evaluasi masih sederhana, di mana setiap anak menyetorkan hafalan kepada guru dan dicatat dalam buku catatan tahfidz. Catatan tersebut berisi nama surat, jumlah ayat, tanggal setoran, serta keterangan “lancar” atau “ulangi.” (Khoirun,2020), yang menekankan pentingnya pencatatan perkembangan hafalan untuk memantau konsistensi siswa. Dengan berbagai metode dan strategi yang dikembangkan, pelaksanaan program penghafalan surat-surat pendek di Kelurahan Belawan Sicanang tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter anak. Melalui pembiasaan membaca dan menghafal, anak-anak diajarkan nilai-nilai kedisiplinan, ketekunan, dan rasa cinta terhadap agama. Dengan dukungan masyarakat yang religius dan peran aktif guru tahfidz, program ini memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi model pembelajaran tahfidz berbasis masyarakat yang adaptif terhadap kebutuhan anak-anak di wilayah pesisir. Strategi Pengembangan Program Hafalan Al-Qur’an Pengembangan program hafalan Al-Qur’an pada anak-anak di Kelurahan Belawan Sicanang merupakan langkah penting dalam memperkuat nilai-nilai keislaman dan membentuk karakter religius generasi muda di wilayah pesisir. Dalam konteks sosial masyarakat Belawan Sicanang, di mana tantangan modernisasi, arus digitalisasi, dan perubahan gaya hidup semakin kuat, dibutuhkan strategi pengembangan program yang kreatif, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan anak-anak. Strategi
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 488-495 Khairunnisa Mifta Ababil/ Pengembangan Program Penghafalan pengembangan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan menghafal, tetapi juga mencakup penguatan motivasi, pembentukan karakter, serta optimalisasi lingkungan sosial yang mendukung proses tahfidz Al-Qur’an secara berkelanjutan. 1) Inovasi Metode dan Media Pembelajaran Salah satu strategi utama dalam pengembangan program hafalan adalah penerapan metode yang variatif dan media pembelajaran yang menarik. Berdasarkan penggunaan game edukasi dan media digital interaktif terbukti efektif dalam meningkatkan minat serta hasil hafalan anak. Anak-anak lebih antusias ketika proses menghafal dilakukan melalui permainan atau aplikasi yang memadukan warna, suara, dan gerakan. Hal ini relevan dengan karakter anak usia dini di Belawan Sicanang yang cenderung cepat bosan dan lebih tertarik pada aktivitas visual dan auditori. Dalam praktiknya, program hafalan dapat dikembangkan melalui pendekatan multi-sensori yang menggabungkan unsur visual (gambar huruf Arab dan ilustrasi makna), auditori (rekaman murottal), dan kinestetik (gerakan tangan untuk mengingat makna ayat). Pembelajaran berbasis gerak dan makna ayat membantu anak memahami isi surat sekaligus memperkuat daya ingat hafalan. Inovasi ini dapat diterapkan di TPA dan rumah mengaji di Belawan Sicanang dengan memanfaatkan media sederhana seperti kartu ayat, papan hafalan, dan rekaman audio (Sudarsri, 2019). 2) Penerapan Sistem Reward dan Token Economy Strategi efektif berikutnya adalah penerapan sistem penghargaan atau reward system untuk membangun motivasi dan semangat belajar anak. Berdasarkan penelitian (Pingky, 2024) di TPQ An-Najah Jombang, penerapan metode Token Economy terbukti meningkatkan minat dan keterlibatan anak dalam menghafal surat-surat pendek dan doa sehari-hari. Dalam metode ini, anak diberikan token berupa bintang atau stiker setiap kali berhasil menyetorkan hafalan dengan baik. Token-token tersebut dapat ditukar dengan hadiah kecil di akhir pekan, seperti alat tulis atau makanan ringan. Metode Token Economy bukan sekadar memberikan hadiah, tetapi juga membangun perilaku positif melalui penguatan (reinforcement). Anak belajar bahwa usaha, kedisiplinan, dan semangat dalam menghafal akan menghasilkan penghargaan. Di Belawan Sicanang, metode ini dapat diterapkan dengan menyesuaikan konteks lokal, misalnya melalui lomba hafalan mingguan antar kelompok TPA atau “papan prestasi hafidz kecil” yang menampilkan nama anak-anak berprestasi, indikator perasaan senang meningkat hingga 12 poin, dan keterlibatan meningkat 15 poin setelah penerapan Token Economy. Hal ini menunjukkan bahwa reward yang sederhana namun konsisten mampu menumbuhkan motivasi intrinsik dan rasa percaya diri anak-anak dalam menghafal AlQur’an. 3) Penguatan Peran Guru dan Pelatihan Metodik Tahfidz Keberhasilan program hafalan tidak dapat dilepaskan dari kualitas guru tahfidz sebagai fasilitator dan motivator. Menurut (Yoga,2025), guru tahfidz perlu dilatih dalam menerapkan metode pembelajaran berbasis interaksi sosial dan permainan edukatif untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Di Belawan Sicanang, sebagian besar guru mengaji berasal dari masyarakat lokal yang belajar secara otodidak, sehingga pelatihan tentang strategi tahfidz anak menjadi kebutuhan penting. Program pelatihan dapat difokuskan pada tiga kompetensi utama: a. penguasaan metode tahfidz modern seperti talaqqi, simā‘ī, dan tikrar berbasis teknologi b. kemampuan memotivasi dan menanamkan nilai keagamaan melalui pendekatan afektif; serta c. teknik evaluasi perkembangan hafalan berbasis portofolio anak. Pelatihan semacam ini dapat diselenggarakan bekerja sama dengan lembaga tahfidz kota Medan atau Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) setempat. Penguatan kompetensi guru tahfidz akan memperkuat kontinuitas program serta meningkatkan kualitas interaksi pembelajaran. 4) Integrasi Kegiatan Hafalan dengan Pendidikan Karakter Strategi pengembangan program hafalan juga harus mencakup pembinaan karakter islami. Berdasarkan temuan (Dewi,2022), hafalan Al-Qur’an bukan hanya kegiatan kognitif, melainkan juga media untuk menanamkan nilai-nilai disiplin, kejujuran, dan ketekunan. Dalam konteks Belawan Sicanang, integrasi ini dapat diwujudkan dengan menekankan aspek adab tahfidz, seperti menjaga kebersihan hati dan lisan, menghormati guru, dan menjauhi perilaku tercela. Kegiatan harian di TPA dapat diawali dengan pembacaan doa, tadarus bersama, dan nasihat singkat (mau’izhah) yang dikaitkan dengan tema surat yang dihafal. Misalnya, ketika anak menghafal surat Al-Ikhlas, guru dapat menjelaskan makna keesaan Allah dan pentingnya ikhlas dalam beramal. Melalui cara ini, anak tidak hanya menghafal secara mekanis tetapi juga memahami nilai moral yang terkandung di dalam ayat. Integrasi hafalan dan karakter ini akan memperkuat tujuan pendidikan Islam sebagai proses pembentukan insan kamil. 5) Pengembangan Komunitas Tahfidz dan Dukungan Sosial Aspek sosial juga menjadi faktor penting dalam pengembangan program hafalan, keberhasilan program tahfidz dipengaruhi oleh dukungan keluarga dan lingkungan masyarakat yang kondusif. Di Belawan Sicanang, peran masyarakat dapat dimaksimalkan melalui pembentukan komunitas tahfidz anak
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 488-495 Socius E-ISSN: 3025-6704 pesisir yang beranggotakan guru, orang tua, dan tokoh agama setempat. Komunitas ini berfungsi sebagai wadah koordinasi kegiatan tahfidz, lomba, atau pengajian bersama yang menumbuhkan semangat kolektif menghafal Al-Qur’an. Selain itu, penerapan program “Orang Tua Sahabat Tahfidz” juga dapat menjadi strategi efektif. Orang tua dilibatkan secara aktif untuk mendengarkan hafalan anak di rumah, menyediakan waktu muroja’ah, serta memberikan motivasi spiritual. Pendekatan kolaboratif ini sesuai dengan teori ecological system dari Bronfenbrenner, yang menegaskan bahwa perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh interaksi antar-lingkungan (keluarga, sekolah, dan masyarakat). Faktor Pendukung dan Penghambat Program Penghafalan Al-Qur’an di Kelurahan Belawan Sicanang 1. Faktor Pendukung a. Peran Guru Tahfidz yang Kompeten dan Penuh Dedikasi Faktor paling dominan dalam keberhasilan program hafalan Al-Qur’an di Belawan Sicanang adalah keberadaan guru tahfidz yang memiliki komitmen tinggi dan dedikasi dalam membimbing anak-anak. Para guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing moral dan spiritual yang memberikan motivasi, bimbingan, serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan temuan (Azizatul,2023) yang menunjukkan bahwa guru memiliki peran sentral dalam membangkitkan motivasi dan disiplin santri melalui penerapan metode talaqqi, talqin, dan bin-nazar disertai dengan nasihat dan dorongan spiritual. Di Belawan Sicanang, sebagian besar guru merupakan alumni pesantren atau lembaga pendidikan Islam yang sudah terbiasa dengan tradisi tahfidz. Meskipun sarana masih terbatas, keikhlasan dan kesabaran para guru menjadi kekuatan utama yang menjaga keberlangsungan kegiatan. Mereka secara konsisten membimbing hafalan setiap sore, memantau setoran anak-anak, dan memberikan evaluasi lisan tanpa pamrih. Nilai keteladanan ini menumbuhkan kecintaan anak terhadap AlQur’an dan mendorong terciptanya atmosfer religius di lingkungan belajar. b. Dukungan Keluarga dan Lingkungan Sosial Keluarga memiliki peran penting dalam memperkuat motivasi anak untuk menghafal AlQur’an. Sebagian besar orang tua di Belawan Sicanang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap kegiatan ini. Mereka menyediakan waktu untuk mendengarkan hafalan anak di rumah, memutar murottal, atau bahkan ikut muroja’ah bersama. Berdasarkan hasil penelitian (Mawaddah,2022), dukungan keluarga merupakan faktor eksternal paling berpengaruh terhadap keberhasilan hafalan anak, terutama dalam hal pengulangan hafalan di luar jam belajar formal. Selain keluarga, lingkungan masyarakat Belawan Sicanang yang religius juga menjadi faktor pendukung. Kegiatan pengajian ibu-ibu, remaja masjid, dan komunitas tahfidz lokal menciptakan suasana sosial yang positif. Adanya sinergi antara rumah, masjid, dan sekolah membentuk ekosistem tahfidz yang kuat, di mana anak-anak didorong untuk terus belajar dan berinteraksi dengan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. c. Dukungan Lembaga dan Tokoh Agama Keberadaan lembaga seperti TPA, mushalla, dan madrasah diniyah menjadi sarana yang efektif dalam menjalankan program tahfidz di Belawan Sicanang. Tokoh agama setempat juga turut berperan aktif dengan memberikan ceramah, motivasi, serta menjadi panutan bagi masyarakat. Keterlibatan mereka memperkuat legitimasi sosial terhadap program hafalan dan memastikan keberlangsungannya. Beberapa lembaga bahkan menjalin kerja sama dengan pesantren di luar daerah untuk kegiatan pelatihan guru tahfidz dan lomba tahfidz antar-TPA. 2. Faktor Penghambat a. Keterbatasan Tenaga Pengajar Salah satu kendala utama yang dihadapi program hafalan di Belawan Sicanang adalah keterbatasan jumlah guru tahfidz yang terlatih. Rasio antara guru dan peserta masih tinggi, mencapai 1:20 bahkan 1:25 di beberapa TPA. Kondisi ini menyulitkan guru memberikan perhatian dan koreksi individual kepada setiap anak, khususnya dalam pembenahan tajwid dan makhraj.pentingnya jumlah halaqah kecil (10–15 siswa) agar guru dapat memantau perkembangan hafalan secara optimal (Azizatul,2023). b. Keterbatasan Sarana dan Prasarana Faktor berikutnya adalah minimnya fasilitas pendukung, seperti ruang belajar yang memadai, perlengkapan audio-visual, serta buku panduan tahfidz anak. Di beberapa lokasi, kegiatan dilakukan di teras rumah atau halaman masjid tanpa fasilitas yang nyaman. Hal ini berdampak pada konsentrasi dan ketahanan belajar anak. Penelitian (Mawaddah,2022) menekankan bahwa lingkungan belajar yang kondusif tenang, bersih, dan tertata berpengaruh besar terhadap efektivitas hafalan. Dengan demikian, peningkatan sarana belajar menjadi kebutuhan mendesak bagi keberlanjutan program di Belawan Sicanang.
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 488-495 Khairunnisa Mifta Ababil/ Pengembangan Program Penghafalan c. Perbedaan Kemampuan dan Motivasi Anak Tingkat kemampuan menghafal anak di Belawan Sicanang sangat bervariasi. Sebagian anak memiliki kemampuan auditori yang baik dan cepat menghafal, sementara yang lain mengalami kesulitan dalam mengingat ayat-ayat panjang. Faktor ini sering diperburuk oleh kurangnya disiplin dalam muroja’ah di rumah., perbedaan gaya belajar anak memerlukan pendekatan personal dan sabar dari guru agar tidak menimbulkan rasa frustrasi. Motivasi anak juga dipengaruhi oleh dukungan emosional keluarga; anak yang tidak mendapat perhatian cenderung kehilangan semangat untuk melanjutkan hafalan (Rustiana,2022). d. Pengaruh Lingkungan Sosial dan Teknologi Sebagai daerah pesisir dengan aktivitas ekonomi tinggi, sebagian orang tua di Belawan Sicanang bekerja sepanjang hari, sehingga pengawasan terhadap anak menjadi terbatas. Anakanak lebih sering bermain gadget atau menonton televisi daripada muroja’ah. Kondisi ini menjadi hambatan signifikan terhadap kontinuitas hafalan. Penelitian (Khoirun,2020) menemukan bahwa media digital yang tidak terkontrol dapat mengalihkan fokus anak dari kegiatan religius, sehingga perlu pengawasan ketat dari orang tua. e. Kurangnya Program Pembinaan dan Evaluasi Terstruktur Kendala lain yang cukup menonjol adalah belum adanya sistem pembinaan terstruktur dan pelatihan rutin bagi guru tahfidz. Sebagian besar kegiatan masih bersifat sukarela dan tidak memiliki kurikulum baku. Hal ini membuat variasi metode antar lembaga berbeda-beda dan kurang terstandar. Evaluasi program juga belum dilakukan secara menyeluruh biasanya hanya terbatas pada penilaian hafalan anak, belum mencakup aspek manajemen dan efektivitas program secara keseluruhan. 3. Upaya Mengatasi Hambatan Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, beberapa langkah strategis telah dilakukan oleh pengelola program tahfidz di Belawan Sicanang. Pertama, penguatan kolaborasi dengan lembaga pesantren dan LPTQ setempat untuk pelatihan metode tahfidz bagi guru. Kedua, optimalisasi peran masyarakat melalui pembentukan komunitas sahabat tahfidz yang membantu penyediaan fasilitas dan jadwal muroja’ah bersama. Ketiga, pemanfaatan media digital secara produktif dengan memperkenalkan anakanak pada aplikasi hafalan Qur’an berbasis audio dan visual. Keempat, pemberian penghargaan rutin kepada guru dan siswa berprestasi untuk menumbuhkan semangat dan keberlanjutan program. SIMPULAN Program penghafalan Al-Qur’an surat-surat pendek yang dilaksanakan di Kelurahan Belawan Sicanang merupakan bentuk nyata dari upaya masyarakat pesisir dalam menanamkan nilai-nilai keislaman dan membentuk karakter religius pada anak-anak sejak usia dini. Program ini tumbuh dari kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya mengenalkan dan menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an di tengah tantangan sosial dan budaya modern yang semakin kompleks. Melalui kegiatan rutin di TPA, mushalla, dan rumah guru mengaji, program ini telah berperan besar dalam membangun generasi Qur’ani yang cinta ibadah, berakhlak mulia, dan memiliki kedekatan spiritual dengan kitab suci. Pelaksanaan program ini menggunakan kombinasi metode tradisional dan modern seperti talaqqi, tikrar, simā‘ī, serta pendekatan berbasis permainan dan teknologi. Inovasi ini terbukti mampu meningkatkan minat dan motivasi anak dalam menghafal, sebagaimana didukung oleh berbagai hasil penelitian yang menunjukkan efektivitas pembelajaran interaktif dan multi-sensori. Penggunaan media audio-visual, sistem penghargaan seperti Token Economy, serta kegiatan muroja’ah kelompok telah memperkuat semangat dan kedisiplinan anak dalam menjaga hafalan. Dukungan keluarga, guru, dan masyarakat turut menjadi faktor kunci keberhasilan, karena terciptanya lingkungan sosial yang religius sangat membantu anak mempertahankan hafalan dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan, pengembangan program hafalan Al-Qur’an di Kelurahan Belawan Sicanang menunjukkan bahwa pendidikan keagamaan yang dirancang dengan pendekatan kontekstual dan berbasis komunitas mampu menjadi solusi dalam meningkatkan kecintaan anak terhadap Al-Qur’an sekaligus memperkuat karakter moral dan spiritual generasi muda. Dengan perencanaan yang matang, metode yang inovatif, serta dukungan sosial yang berkelanjutan, program ini berpotensi menjadi model pembelajaran tahfidz yang adaptif dan inspiratif bagi masyarakat pesisir di berbagai daerah lainnya di Indonesia. SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa program penghafalan Al-Qur’an surat-surat pendek di Kelurahan Belawan Sicanang merupakan bentuk nyata
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 488-495 Socius E-ISSN: 3025-6704 pembinaan keagamaan masyarakat pesisir yang memiliki peran penting dalam menanamkan nilai religius dan membentuk karakter anak sejak usia dini. Pelaksanaan program ini berjalan cukup efektif berkat dukungan guru tahfidz yang berdedikasi, metode pembelajaran yang bervariasi, serta partisipasi aktif keluarga dan masyarakat. Namun demikian, beberapa kendala seperti keterbatasan tenaga pengajar, sarana prasarana yang minim, dan kurangnya pembinaan berkelanjutan masih menjadi tantangan utama. Oleh karena itu, pengembangan program perlu diarahkan pada peningkatan kompetensi guru tahfidz melalui pelatihan metodik, penyusunan kurikulum tahfidz yang terstruktur, serta penyediaan fasilitas belajar yang memadai. Keterlibatan orang tua dan masyarakat juga perlu diperkuat melalui kegiatan muroja’ah bersama dan dukungan sosial berkelanjutan, sedangkan pemerintah daerah diharapkan memberikan perhatian dalam bentuk bantuan dan pembinaan kelembagaan. Dengan sinergi semua pihak, program penghafalan Al-Qur’an di Belawan Sicanang berpotensi menjadi model pembelajaran tahfidz yang inspiratif, kontekstual, dan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir dalam membentuk generasi Qur’ani yang berakhlak mulia serta cinta terhadap Al-Qur’an. REFERENSI Afifah, A. F. (2023). Implementasi Metode Talaqqi dalam Meningkatkan Hafalan Al-Qur’an Siswa di SD Islam Al-Azhaar Tulungagung. Jurnal Pendidikan Islam, 8(2), 112–126. Dewi Rustiana, & Ma’arif, M. A. (2022). Manajemen Program Unggulan Tahfidzul Qur’an di MA NU Nahdlatul Fata Jepara. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 7(1), 45–60. Khoirun Nisa’, & Chusnul Chotimah. (2020). Pelaksanaan Program Tahfidz Al-Qur’an di SMP Islam Mbah Bolong Jombang. Jurnal Pendidikan Islam, 6(2), 55–68. Laili Qurrotul ‘Uyun. (2019). Pengembangan Media Pembelajaran Game Edukasi Al-Qur’an Ratsel Bambini untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan dan Teknologi, 4(1), 10–20. Lestari, S., & Wahyono, I. (2019). Penerapan Metode Kinestetik dalam Meningkatkan Kemampuan Hafalan Al-Qur’an Siswa SDN 1 Genteng Wetan Banyuwangi. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 5(3), 203–214. Mawaddah, & Fitriani, N. (2022). Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pembelajaran Tahfidzul Qur’an di Pondok Pesantren Al-Hidayah Aceh Besar. Jurnal Pendidikan Islam, 7(2), 88–102. Pingky Yustyana, N. H., Arifin, M., & Anwar, S. (2024). Penerapan Token Economy untuk Meningkatkan Minat Hafalan Surat Pendek dan Doa Harian Anak di TPQ An-Najah Jombang. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 9(1), 34–48. Pramahdi, Y. S., & El-Yunusi, M. Y. M. (2025). Inovasi Permainan Interaktif dalam Meningkatkan Minat Hafalan Al-Qur’an pada Anak. Jurnal Pendidikan Islam Modern, 10(1), 77–92. Fauziah, A. A. (2023). Analisis Efektivitas Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an pada Siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu di Kota Malang. Jurnal Kajian Pendidikan Islam, 9(2), 65–79.