scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Enhancing Students' Learning Outcomes through the Make a Match Learning Model in Islamic Religious Education for Grade XII Students at SMA Plus Ar Raudhah

Adang Mulyana

Full text

2025 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Meningkatkan Hasil Belajar (Adang Mulyana) | 80-87 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Volume 1, Issue 4, Oktober 2025, P. 80-87 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17520693 Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Make A Match Pada Mata Pelajaran PAI di Kelas XII Sma Plus Ar Raudhah Enhancing Students’ Learning Outcomes through the Make a Match Learning Model in Islamic Religious Education for Grade XII Students at SMA Plus Ar Raudhah Adang Mulyana Program Studi Pendidikan Agama Islam, Stai Dr Khez Muttaqien Purwakarta Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII SMA Plus Ar Raudhah dalam pembelajaran Pendidikan agama Islam melalui penerapan metode make a match. Diketahui bahwa di kelas XII SMA Plus Ar Raudhah banyak siswa yang kurang memahami materi pembelajaran dan cenderung tidak antusias terhadap mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Hal ini terbukti dari hasil tes formatif maupun hasil tes yang diperoleh pada ulangan harian yang belum memenuhi ketuntasan belajar minimal (KKM = 72). Hasil tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu perbedaan strategi belajar siswa dan penggunaan metode yang digunakan oleh guru tidak sesuai dengan karakteristik siswa. Sehingga hasil belajar siswa kurang maksimal atau masih bisa ditingkatkan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XII SMA Plus Ar Raudhah yang berjumlah 13 orang, laki-laki dan 11 Perempuan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri atas dua siklus dengan desain setiap siklus terdiri atas empat tahapan, yaitu menyusun rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Data penelitian diperoleh dari pengamatan selama pelaksanaan tindakan dan tes akhir tindakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I dari 23 orang peserta tes, jumlah siswa yang tuntas 16 orang (69,56%) sedangkan pada siklus II jumlah siswa yang tuntas adalah 21 orang (91,86%). Kenyataan ini membuktikan bahwa penerapan teknik make a match dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII SMA Plus Ar Raudhah dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Hasil tersebut memberikan dampak positif terhadap kegiatan dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran sehingga hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI meningkat. Kata kunci: Model make a match, hasil belajar meningkat Abstract This study aims to improve the learning outcomes of Grade XII students at SMA Plus Ar Raudhah in Islamic Religious Education (PAI) through the implementation of the Make a Match learning method. It was found that many students in Grade XII had difficulty understanding the learning material and tended to show low enthusiasm toward the subject of Islamic Cultural History. This was evident from the results of formative and daily tests, which had not yet reached the minimum mastery criterion (KKM = 72). These results were influenced by several factors, including differences in students’ learning strategies and the use of teaching methods that did not match the students’ characteristics. Consequently, student learning outcomes were suboptimal and needed improvement.The subjects of this study were 23 students of Grade XII at SMA Plus Ar Raudhah, consisting of 13 males and 10 females. This research employed a classroom action research (CAR) design conducted in two cycles. Each cycle consisted of four stages: planning, action, observation, and reflection. The data were collected through observation during the implementation of the actions and final test results. The findings show that in the first cycle, 16 out of 23 students (69.56%) achieved mastery, while in the second cycle, 21 students (91.86%) achieved mastery. This demonstrates that the implementation of the Make a Match technique can improve the learning outcomes of Grade XII students at SMA Plus Ar Raudhah in Islamic Religious Education. The results also had a positive impact on students’ learning activities and engagement, leading to increased academic achievement in the PAI subject. Keywords: Make a Match Model, Learning Outcomes, Improvement Article Info Received date: 25 September 2025 Revised date: 27 September 2025 Accepted date: 04 Oktober 2025 PENDAHULUAN Dunia pendidikan menuntut profesionalisme seorang guru dalam melakukan inovasi pembelajaran. Saat ini pembelajaran sudah berubah dari kegiatan belajar mengajar yang teacher 2025 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Meningkatkan Hasil Belajar (Adang Mulyana) | 80-87 oriented (berpusat pada guru) menjadi student oriented (berpusat pada siswa). Dalam proses pembelajaran terjadi interaksi antara guru dan siswa serta komunikasi dua arah guna mencapai tujuan pembelajaran (Rustaman, 2001:461). Proses pembelajaran ini berperan dalam menentukan keberhasilan belajar siswa. Hasil yang baik menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang terjadi berjalan dengan baik dan berhasil. Sebaliknya, hasil belajar yang kurang menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran tersebut ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Hasil belajar siswa dapat dikatakan sebagai adanya sebuah perubahan dan peningkatan yang terukur dalam bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dalam perubahan tersebut terjadi peningkatan yang lebih baik dari sebelumnya dan dari yang tidak tahu menjadi tahu ataupun dari yang tahu menjadi lebih tahu (Hamalik, 2007:30). Hasil belajar tersebut bukan hanya sekedar nilai saja. Tetapi juga terdapat perubahan dalam tingkah laku, pemahaman, kedisiplinan, penalaran, kerja sama, dan keterampilan. Sejauh ini guru telah banyak menerapkan pembelajaraan kooperatif namun kompetensi atau hasil belajar siswa belum memadai khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di kelas VI SD Plus Ar Raudhah. Hal ini terbukti dari hasil tes formatif maupun hasil tes yang diperoleh pada ulangan harian yang belum memenuhi ketuntasan belajar minimal (KKM = 78). Siswa masih kesulitan dalam memahami materi pembelajaran. Sehingga hasil belajar siswa terbilang rendah. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Syah (2004: 144) Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran diantaranya : 1). faktor internal, faktor yang berasal dari diri siswa itu sendiri (seperti kondisi jasmani dan rohaninya), 2). Faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa (seperti lingkungan di sekitarnya, cara guru menyampaikan materi), 3). Faktor pendekatan belajar, yaitu strategi atau cara yang digunakan siswa dalam belajar). Diketahui bahwa sebelumnya di kelas XII guru menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran. Metode tersebut membuat siswa kurang antusias dan cenderung bosan terhadap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Terbukti dengan banyakn ya siswa yang mengantuk pada saat pembelajaran tersebut. Media yang digunakan di kelaspun kurang bervariatif, hanya mengandalkan buku pedoman siswa. Sebagai seorang guru, haruslah memahami karakteristik siswa dan melakukan perubahan dalam proses pembelajaran agar hasil belajar siswa dapat meningkat dan lebih baik. Guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi, pendekatan, metode, media dan teknik yang banyak melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, maupun sosial. Pada proses pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam siswa di Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 4 No. 8 ISSN 2354-614X 321 bahwa siswa belajar ke arah mengamati, menebak, berbuat, mencoba, mampu menjawab pertanyaan mengapa dan kalau mungkin mendebat. Prinsip belajar inilah yang diharapkan dapat menumbuhkan sasaran pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang aktif, kreatif dan menyenangkan. Berdasarkan beberapa temuan di atas, maka peneliti berupaya mencari salah satu solusi pemecahannya yaitu dengan menerapkan model make a match (mencari pasangan). Menurut Sugiyanto (2009) dalam model make a match, siswa dapat mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu materi, dan pembahasan dalam suasana yang menyenangkan. Metode make a match merupakan metode dimana guru menyiapkan sebuah kartu yang berisi permasalahan atau soal dan juga jawaban dari permasalahan tersebut kemudian siswa mencari pasangan kartu yang didapat dengan mencocokkan soal dan jawaban yang sesuai atau permasalahan dan solusi yang tepat (Suyatno, 2009:27). Metode make a match ini merupakan bagian dari pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif didasarkan atas falsafah homo homini socius, falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial yaitu manusia tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan orang lain (Lie, 2003: 27). Maka dari itu, karena hasil belajar siswa yang rendah tersebut, peneliti ingin melihat bagaimana hasil belajar SKI siswa setelah menggunakan metode make a match? Adapun, peneliti bermaksud melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Metode Make A Match Pada Mata Pelajaran PAI di Kelas XII SMA Plus Ar Raudhah.. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil merupakan suatu yang ada karena usaha. Artinya, saat seorang siswa belajar dari keadaan tidak tahu apapun, maka seiring berjalannya waktu akan mendapat hasil dari usaha belajarnya tersebut. Hasil yang seseorang peroleh bergantung pada usaha yang dilakukan. Begitu pula hasil belajar. Belajar merupakan suatu usaha individu untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya baik dari pengetahuan 2025 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Meningkatkan Hasil Belajar (Adang Mulyana) | 80-87 maupun pengalamannya (Gagne dalam Susanto, 2016: 1). Sedangkan menurut Susanto (2016: 4) Belajar merupakan perubahan tingkah laku individu dalam berpikir dan bertindak setelah individu tersebut mendapatkan suatu konsep, pengetahuan baru dan pemahaman dari aktivitas yang dilakukan secara sengaja dan dalam keadaan sadar. Berdasarkan pendapat para ahli diatas,penulis memberikan kesimpulan bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk melakukan perubahan di dalam diri dengan informasi, pengetahuan, dan pengalaman yang baru. Adapun pengertian hasil belajar ialah perubahan yang terjadi pada diri siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran baik dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. (Rusman, 2017: 129). Aspek kognitif merupakan ranah pengetahuan siswa, sedangkan aspek afektif merupakan ranah sikap siswa. dan aspek psikomotor adalah ranah keterampilan yang dimiliki siswa. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa bukan tergantung pada nilai pengetahuan atau kognitifnya saja, melainkan juga termasuk sikap dan keterampilan yang dimilikinya. Definisi hasil belajar juga dikemukakan oleh Nawawi (dalam Susanto, 2016: 5) yang mengemukakan bahwa hasil belajar adalah hasil keberhasilan siswa yang berupa skor dalam mata pelajaran tertentu. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli diatas, penulis menyimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang diperoleh oleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran baik dari aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Ternyata hasil belajar dapat dijadikan sebagai umpan balik bagi guru untuk melihat apakah materi pembelajaran yang disampaikan mampu diterima siswa atau tidak. Hal ini tergantung dari bagaimana guru menyampaikan materi pembelajaran dan bagaimana siswa mencerna materi tersebut. Namun dalam hal ini seorang guru yang harus mengupayakan berbagai cara agar materi pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik dan dapat diterima oleh siswa. Untuk itu diperlukan model pembelajaran yang tepat untuk mewujudkannya. Menurut Rusman (2012: 133) model pembelajaran adalah gambaran umum yang ada dalam pembelajaran guna tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Sedangkan menurut Joyce dan Weil (dalam Rusman, 2017:244) model pembelajaran merupakan perencanaan yang diterapkan untuk membuat kurikulum, menyusun perangkat pembelajaran, dan melakukan kegiatan belajar dikelas. Dalam model pembelajaran ini sudah terdapat banyak strategi dan langkah-langkah untuk melakukan kegiatan belajar di kelas. Adapun, model pembelajaran yang dipilih yaitu model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pendekatan yang lebih mengutamakan bekerjasama dengan kelompok (Savage dalam Rusman, 2017: 295) Pembelajaran kooperatif ini menuntun peserta didik untuk saling bekerjasama dan membantu dalam kelompok sesuai dengan metode pembelajaran yang dipilih guru (Huda, 2015: 32). Jadi, model pembelajaran kooperatif ini merupakan model pembelajaran yang melibatkan semua siswa dalam satu kelompok untuk belajar bersama dan bekerja sama. Adapun metode yang digunakan adalah metode make a match. Make a match adalah model pembelajaran dimana peserta didik belajar dengan asyik dan mencari pasangan dari sebuah topic atau konsep (Huda, 2015: 135). Sedangkan menurut Shoimin (2014:99) Make a match ialah model pembelajaran yang menggunakan kartu soal dan kartu jawaban dimana tiap siswa mencari pasangan kartu yang berisi soal maupun jawaban dari materi belajar tertentu. Dalam bukunya Hisyam Zaini mengatakan istilah Make a match dengan istilah Indeks Cartd Match yang mempunyai pengertian sama dengan make a match yaitu strategi menyenangkan yang digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Namun demikian materi barupun bisa diajarkan dengan strategi ini dengan catatan, peserta didik diberi tugas mempelajari topik yang akan diajarkan terlebih dahulu, sehingga ketika masuk kelas mereka sudah memilki bekal pengetahuan. Jadi, model pembelajaran make a match adalah model pembelajaran berkelompok yang mengajak siswa untuk memahami konsep dan topik pembelajaran melalui media kartu jawaban dan kartu pertanyaan serta dalam pelaksanaannya memiliki batasan maksimum waktu yang sudah ditentukan sebelumnya. Model make a match ini biasanya dipakai dalam pembelajaran yang menuntut hafalan di dalamnya seperti bahasa inggris maupun rumus-rumus matematika. Namun, dalam kasus pendidikan agama islam akan lebih baik juga dipakai untuk mengasah pemahaman materi siswa. Adapun langkah-langkah dari model pembelajaran make a match menurut Huda (2013: 252253) yaitu : (a) Guru memberikan materi pembelajaran kepada peserta didik. 2025 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Meningkatkan Hasil Belajar (Adang Mulyana) | 80-87 (b) guru membagi peserta didik kedalam 2 kelompok, misalnya kelompok dan kelompok 2. Kemudian, masing-masing kelompok ini saling berhadapan. (c) guru memberikan kelompok 1 berupa kartu pertanyaan dan kelompok 2 berupa kartu jawaban. (d) guru memberitahukan peserta didik batasan waktu selama mencari dan mencocokkan kartu yang dibawa. (e) guru mengharuskan seluruh anggota kelompok 1 untuk mencari pasangan kartu di kelompok 2. Apabila peserta didik sudah mendapatkan pasangan kartunya, peserta didik melapor kepada guru untuk dicatatat di lembaran yang telah disiapkan sebelumnya. (f) Apabila waktu telah berakhir, peserta didik diberitahukan jika waktu untuk mencari pasangan kartu sudah berakhir dan peserta didik yang tidak mendapat pasangan berkumpul dengan yang tidak mendapatkan pasangan juga. (g) peserta didik yang bisa menemukan pasangan satu-persatu diminta untuk mempresentasikan hasilnya didepan kelas. Peserta didik yang lain harus menyimak dan memberi komentar. (h) guru mengecek benar tidaknya hasil yang dipresentasikan serta memberikan penegasan mengenai materi. (i) guru meminta pasangan selanjutnya untuk melakukan presentasi hingga semua pasangan selesai melakukan presentasi. Langkah-langkah model pembelajaran make a match ini harus dilakukan secara urut dan sistematis yang diawali dengan persiapan, membagikan kartu soal dan jawaban, mencari pasangan kartu, mencocokkan pasangan kartu, memberikan penghargaan dan kesimpulan materi pembelajaran. Setiap metode pembelajaran pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan metode make a match antara lain : a. Mewujudkan kondisi pembelajaran yang mengasyikkan; b. Materi belajar disajikan lebih menarik perhatian peserta didik; c. Dapat memperbaiki hasil belajar peserta didik guna mencapai taraf ketuntasan belajar; d. Kerjasama antarsesama peserta didik terwujud dengan dinamis (Kurniasih dan Berlin, 2015: 56) Selain itu terdapat juga beberapa kekurangan dalam metode make a match diantaranya sebagai berikut: a. Jika tidak dipersiapkan dengan baik akan banyak waktu yang terbuang b. Akan tercipta kegaduhan dan keramaian yang tidak terkendali c. Waktu yang tersedia perlu dibatasi Kolaborasi Yang berkolaborasi dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, Guru PAI Kelas XII Sma Plus Ar Raudhah, dan siswa kelas XII SMA Plus Ar Raudhah yang berjumlah sebanyak 23 orang. Adapun, peneliti dan Guru PAI menyampaikan permasalahan atau hal yang ingin diteliti tersebut pada kesempatan berdiskusi dengan guru pamong. Lalu guru pamong menyampaikan kepada guru mata pelajaran yang lain. Akhirnya beberapa guru yang mengalami permasalahan yang sama ingin ikut bergabung dalam penelitian. Walaupun rumpun mengajar kami berbeda. Kolaborator yang bergabung selanjutnya adalah guru Bahasa Arab dan Guru Fisika. Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan sebanyak dua siklus atas kesepakatan semua kolaborator. Namun apabila penelitian mencapai hasil maka akan dilanjutkan pada siklus III. Satu siklus terdiri dari 2 pertemuan yang terdiri dari beberapa tahap. Tempat dan Subyek yang diteliti Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 10 September 2025 XII SMA Plus Ar Raudhah yang terletak di Kp. Babakan bandung Desa Kertamukti Kecamatan Campaka Kabupaten Purwakarta. Subyek yang akan diteliti yaitu mengenai hasil belajar PAI siswa dengan menggunakan metode make a match pada siswa kelas XII SMA Plus Ar Raudhah. Pra-Tindakan dan Analisis Kegiatan tes awal dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 20 Agustus 2025. Dalam pelaksanaannya saya membiarkan Guru PAI mengajar seperti biasanya. Guru PAI tersebut ternyata menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi. Setelah selesai, siswa diberi tes awal untuk mengetahui kemampuan prasyarat siswa tentu dengan menggunakan materi yang sedang dipelajari siswa dengan guru PAI. Hasil tes menunjukkan bahwa dari 23 orang siswa, 16 orang (69,56%) siswa dinyatakan tuntas, sementara untuk 7 orang (30,43%) siswa lainnya dinyatakan belum tuntas. Adapun cara yang dilakukan peneliti adalah melakukan diskusi dengan siswa yang belum tuntas. Secara umum siswa berkomentar bahwa masih merasa sulit dalam memahami materi pembelajaran. Tetapi 2025 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Meningkatkan Hasil Belajar (Adang Mulyana) | 80-87 setelah diarahkan oleh guru, mereka telah memperoleh gambaran awal tetang materi tersebut. Selain itu peneliti juga berdiskusi dengan Guru PAII mengenai masalah siswa yang belum memahami materi pembelajaran. Setelah itu peneliti bersama guru PAI dan kolaborator lainnya merencanakan sebuah tindakan yang akan dilaksanakan selanjutnya. Berdasarkan hasil tersebut maka peneliti akan memulai ke tindakan siklus I. Proses Tindakan Berikut merupakan langkah-langkah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di SMA Plus Ar Raudhah Pada siklus ke I, tahap pertama diawali dengan perencanaan. Dimana peneliti menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam serta tidak lupa menentukan metode yang akan digunakan. Melihat kelas XII yang akan sibuk melaksanakan berbagai ujian maka perlu lah dipilih metode yang tepat dan cepat. Selain itu peneliti juga menyiapkan bahan pengamatan untuk observasi. Tidak lupa juga bahan atau kartu yang berisi pasangan soal dan jawaban untuk peserta didik. Selanjutnya Tahap Kedua yaitu pelaksanaan penelitian tindakan kelas dimana peneliti terjun melaksanakan pembelajaran sesuai RPP yang sudah dibuat, lalu peneliti melakukan observasi dan pengamatan terhadap siswa saat pembelajaran berlangsung. Kemudian guru memberi membimbing siswa untuk mencoba belajar menggunakan metode make a match. Guru membagi siswa menjadi 2 kelompok besar. Yaitu siswa yang memiliki kartu soal dan siswa yang memiliki kartu jawaban. Lalu guru memberi arahan dan batas waktu mengenai pelaksanaan metode make a match tersebut. setelah selesai guru memberikan evaluasi kepada siswa. Selanjutnya yaitu tahap ketiga, berupa pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa. Kemudian lanjut ke tahap empat yaitu refleksi untuk mengetahui kekurangan apa saja saat proses pembelajaran berlangsung. Hasil refleksi ini akan menjadi acuan perbandingan dengan siklus II. Pada siklus II, diawali dengan membuat perencanaan pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya. Lalu memilih metode pembelajaran yang akan digunakan. Selain itu peneliti dan guru merancang lembar evaluasi siswa. Pada Tahap kedua yaitu pelaksanaan tindakan yaitu guru menyampaikan pendahuluan tentang materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Lalu peneliti melakukan observasi terhadap keterampilan dan kemampuan siswa saat pembelajaran berlangsung selain itu peneliti mencoba menjelaskan materi yang akan dibahas dan membantu guru agar kelas tenang dan kondusif saat melaksanakan metode make a match. Setelah itu Guru melakukan Tanya jawab dengan siswa mengenai materi yang telah disampaikan. Guru juga memberikan reward atau hadiah kepada siswa yang memperoleh skor banyak saat menggunakan metode make a match. Sebelum dilaksanakanya penelitian tindakan kelas siswa terlihat kurang semangat dan kurang antusias ketika pembelajaran PAI berlangsung. Hal ini disebabkan karena metode yang digunakan guru kurang efektif bagi siswa kelas XII yang sedang sibuk untuk ujian. Terdapat beberapa siswa yang mengantuk dan mengobrol dengan temannya saat pembelajaran sehingga konsentrasi siswa terganggu dan hasil belajar siswa tergolong belum cukup. Hal itu terlihat dari hasil belajar siswa yang rendah pada pra siklus. Hal tersebut belum bisa memenuhi target kelulusan materi pembelajaran PAI. Karena itu peneliti memilih metode pembelajaran make a match agar dapat membuat siswa senang dan aktif pada proses pembelajaran. Yang peneliti inginkan dari metode make a match ini adalah siswa dapat belajar dengan menyenangkan sambil berinteraksi dengan temannya agar tidak bosan sehingga siswa semangat belajar dan menghasilkan hasil yang baik. Adapun, Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I dengan 2x pertemuan (2x60menit) dengan memerhatikan KKM ≥72 dengan menggunakan metode make a match diperoleh data sebagai berikut : Tabel 1. Hasil evaluasi siswa Siklus I No. Nama Siswa Nilai Keterangan Tuntas Tidak Tuntas 1 Ahmad Al Faqih 60 √ 2 AKhmad Dani Saputra 75 √ 3 Aufaa Salsa Lisdiana Arti 75 √ 4 Dhea Febriyanti 76 √ 2025 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Meningkatkan Hasil Belajar (Adang Mulyana) | 80-87 5 Elis Mutia Wati 78 √ 6 Eltsa Kartika Salim 81 √ 7 Fakhrur Bagja Haqiqi 55 √ 8 Fauzan Faridan Fail 72 √ 9 Hafiz Nurhakim 80 √ 10 Ilal Fazza 79 √ 11 Iman Sulaeman 77 √ 12 Indah Safitri 68 √ 13 Indi Listia Cristi 76 √ 14 Khamila Nazwa Ibrahim 78 √ 15 Lismawati 66 √ 16 Mohamad Fahri Awaludin 65 √ 17 Muhamad Raihan 72 √ 18 Nia Azkia 72 √ 19 Rafli AhmadMaulana 73 √ 20 Rizky Hilaliyah 55 √ 21 Wildan Kurniawan 75 √ 22 Asril Rahmandhani 76 √ 23 Adraian Padlirahmat 67 √ JUMLAH 1651 16 7 RATA-RATA 71,78 Analisis yang hasil penelitian menggunakan Presentase ketuntasan = Presentase ketuntasan = 16 23 Keterangan Skor = 92 – 100 % : baik sekali 72 – 80 % : baik 52 – 60 % : cukup 22 – 40 % : kurang Maka dari perhitungan prosentase diatas dapat diketahui bahwa : a) Presentase ketuntasan sebesar 69 % b) Banyaknya siswa yang tuntas sebanyak 16 siswa. c) Banyaknya siswa belum tuntas sebanyak 7 siswa Melihat hasil akhir pada siklus I masih banyak siswa yang belum tuntas. Penilaian pun cukup dan belum dikatakan baik. Maka peneliti akan mengadakan siklus II. Peneliti terus mengembangkan dan memperbaiki kondisi kelas dan siswa. mengembangkan metode mak a match menjadi lebih menyenangkan dengan pemberian reward dan hukuman. Dari proses pembelajaran tersebut, akhirnya pada siklus II dapat di peroleh data mengenai hasil belajar PAI siswa sebagai berikut : Tabel 2 Hasil evaluasi siswa Siklus II No. Nama Siswa Nilai Keterangan Tuntas Tidak Tuntas 1 Ahmad Al Faqih 80 √ 2 AKhmad Dani Saputra 75 3 Aufaa Salsa Lisdiana Arti 76 √ 4 Dhea Febriyanti 77 √ 5 Elis Mutia Wati 78 √ 6 Eltsa Kartika Salim 81 √ 7 Fakhrur Bagja Haqiqi 60 √ Jumlah siswa tuntas Jumlah keseluruhan siswa siswa X 100% X 100% = 69,56 % 2025 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Meningkatkan Hasil Belajar (Adang Mulyana) | 80-87 8 Fauzan Faridan Fail 72 √ 9 Hafiz Nurhakim 82 √ 10 Ilal Fazza 79 √ 11 Iman Sulaeman 77 √ 12 Indah Safitri 75 √ 13 Indi Listia Cristi 76 √ 14 Khamila Nazwa Ibrahim 78 √ 15 Lismawati 80 √ 16 Mohamad Fahri Awaludin 74 √ 17 Muhamad Raihan 72 √ 18 Nia Azkia 75 √ 19 Rafli AhmadMaulana 73 √ 20 Rizky Hilaliyah 75 √ 21 Wildan Kurniawan 75 √ 22 Asril Rahmandhani 76 √ 23 Adraian Padlirahmat 67 √ JUMLAH 1733 21 2 RATA-RATA 75,56 Analisis yang hasil penelitian menggunakan Presentase ketuntasan = Presentase ketuntasan = 21 23 Keterangan Skor = 92 – 100 % : baik sekali 72 – 80 % : baik 52 – 60 % : cukup 22 – 40 % : kurang Maka dari perhitungan prosentase diatas dapat diketahui bahwa : a) Presentase ketuntasan sebesar 91,86% b) Banyaknya siswa yang tuntas sebanyak 21 siswa. c) Banyaknya siswa belum tuntas sebanyak 2 siswa d) Hasil pada siklus II lebih baik dari siklus I Pasca Tindakan Dan Analisis Setelah penelitian dilaksanakan dengan dua siklus, maka hasil analisis data sebagai berikut : Pada siklus I rata-rata yang didapat adalah 71,78. Dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 16 siswa dengan persentase 69,56 %. Lalu jumlah siswa yang tidak tuntas ada 7 siswa. Oleh karena itu, berdasarkan hasil yang didapatkan pada siklus I masih belum cukup baik, lalu diadakan Siklus II dengan nilai rata-rata 75,56%. Siswa yang tuntas pada siklus II berjumlah 21 siswa dengan persentase nilai sebesar 91, 86 % dan siswa yang belum tuntas berkurang menjadi 2 orang. Oleh karena itu pembelajaran mengalami peningkatan dan hasil belajar siswapun dapat dikategorikan sangat baik. SIMPULAN Hasil belajar PAI Siswa kelas XII SMA Plus Ar raudhah dibilang cukup rendah. Hal tersebut disebabkan beberapa faktor. Lalu untuk meningkatkan hasil tersebut peneliti menggunakan metode make a match dalam proses pembelajaran. Pada siklus I persentase siswa yang tuntas sebesar 69,56%. Lalu hasil tersebut belum dikatakan baik. Penelitian berlanjut ke siklus II dimana hasil belajar siswa meningkat kurang lebih 22% dari sebelumnya yaitu menjadi 91,86% siswa yang tuntas. Oleh karena itu metode make a match berpengaruh dalam meningkatkan hasil belajar PAI Siswa kelas XII SMA Plus Ar raudhah. Diharapkan guru terus mengembangkan kemampuan dan semakin cerdas memeilih metode Jumlah siswa tuntas Jumlah keseluruhan siswa siswa X 100% X 100% = 91,86% 2025 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 4 Meningkatkan Hasil Belajar (Adang Mulyana) | 80-87 yang akan digunakan dalam pembelajaran agar pembelajaran berjalan baik dan menghasilkan hasil yang baik. REFERENSI Susanto, A. (2016). Manajemen Peningkatan Kinerja Guru Konsep, Strategi, Dan Implementasinya. Prenada Media. Sianes, Y. (2017). Hasil Belajar Keterampilan Menulis Deskripsi Dengan Model Tpw (Think Pair Write) Kelas X Sman 12 Surabaya. Laterne, 6(2). Hamdani, R. R. (2024). Penerapan Model Pembelajaran Make A Match Pada Pembelajaran Sejarah Untuk Siswa Kelas X Ips Smas Cipasung Dalam Mengatasi Permasalahan Motivasi Belajar Dan Minat Belajar Siswa. Revitalisasi Ilmu Sejarah, Seni, Dan Budaya Dalam Dunia Pendidikan, 11. Huda, U. (2019). Analisis Kemampuan Representasi Matematis Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Pemecahan Masalah Matematika.