scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

KONTRIBUSI DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP KUALITAS HIDUP MAHASISWA DISABILITAS PADA PERGURUAN TINGGI NEGERI DI KOTA PADANG

Niken Astrya, Murni; Rinaldi

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi antara variabel dukungan sosial terhadap kualitas hidup mahasiswa disabilitas yang berkuliah di perguruan tinggi negeri Kota Padang. Pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional digunakan dalam penelitian ini. Sebanyak 39 mahasiswa disabilitas di Kota Padang berpartisipasi dalam penelitian ini, yang dipilih melalui teknik purposive sampling dengan kriteria partisipan yaitu mahasiswa Disabilitas, minimal Angkatan 2024, berkuliah di perguruan tinggi negeri Kota Padang. Instrumen pengumpulan data menggunakan dua skala, yaitu skala kualitas hidup Whoqol-Bref yang disusun oleh Purba dkk. (2018) dan skala dukungan sosial yang dikembangkan oleh Miasari (2022). Hasil analisis data menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05) dengan koefisien korelasi (R) sebesar 0,562. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat kontribusi yang signifikan sebesar 31,6% antara dukungan sosial dan kualitas hidup terhadap mahasiswa disabilitas pada perguruan tinggi negeri di Kota padang.

Full text

1 JURNAL PSIKOLOGI DINAMIKA https://ojs.co.id/1/index.php/jpd/ KONTRIBUSI DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP KUALITAS HIDUP MAHASISWA DISABILITAS PADA PERGURUAN TINGGI NEGERI DI KOTA PADANG Niken Astrya Murni1, Rinaldi2 Universitas Negeri Padang nikenastry[email protected]m1, [email protected] Abstract This study aims to determine the contribution of social support to the quality of life of students with disabilities studying at state universities in Padang City. A quantitative approach with a correlational research design was employed in this study. A total of 39 students with disabilities in Padang City participated, selected through purposive sampling with criteria including being students with disabilities, enrolled at least in the 2024 academic year, and studying at state universities in Padang City. The data were collected using two instruments: the WHOQOL-BREF Quality of Life Scale developed by Purba et al. (2018) and the Social Support Scale developed by Miasari (2022). The results of data analysis showed a significance value of 0.000 (p < 0.05) with a correlation coefficient (R) of 0.562. These findings indicate a significant contribution of 31.6% between social support and quality of life among students with disabilities at state universities in Padang City. Keywords: Social Support, Quality Of Life, Student With Disabilities, Higher Education, Inclusion. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi antara variabel dukungan sosial terhadap kualitas hidup mahasiswa disabilitas yang berkuliah di perguruan tinggi negeri Kota Padang. Pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional digunakan dalam penelitian ini. Sebanyak 39 mahasiswa disabilitas di Kota Padang berpartisipasi dalam penelitian ini, yang dipilih melalui teknik purposive sampling dengan kriteria partisipan yaitu mahasiswa Disabilitas, minimal Angkatan 2024, berkuliah di perguruan tinggi negeri Kota Padang. Instrumen pengumpulan data menggunakan dua skala, yaitu skala kualitas hidup Whoqol-Bref yang disusun oleh Purba dkk. (2018) dan skala dukungan sosial yang dikembangkan oleh Miasari (2022). Hasil analisis data menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05) dengan koefisien korelasi (R) sebesar 0,562. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat kontribusi yang signifikan sebesar 31,6% antara dukungan sosial dan kualitas hidup terhadap mahasiswa disabilitas pada perguruan tinggi negeri di Kota padang Kata Kunci: Dukungan Sosial, Kualitas Hidup, Mahasiswa Disabilitas, Pendidikan Tinggi, Inklusi. PENDAHULUAN Menurut Badan Pusat Statistika 2023 oleh Faturrahma (2024) mengungkapkan bahwa Tingkat Partisipasi Kasar (TPK) penyandang disabilitas pada jenjang perguruan tinggi hanya mencapai 4,8%, sementara TPK kelompok non-disabilitas berada di angka 31,5%. Lebih lanjut hanya 5,86% penyandang disabilitas di Indonesia yang menempuh pendidikan tinggi, angka ini menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan jika dibandingkan dengan kelompok nondisabilitas (Badan Pusat Statistika, 2024). Perbedaan signifikan ini mengindikasikan adanya ketimpangan akses yang belum terselesaikan secara optimal. Selain itu, hanya sebagian kecil perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki fasilitas dan layanan yang ramah disabilitas. Menurut Harahap dari total 4.593 perguruan tinggi, hanya 291 kampus yang menerima mahasiswa disabilitas dan hanya 71 kampus yang memiliki Unit Layanan Disabilitas (ULD) (Hardi, 2025). Berdasarkan temuan Pusat Studi Disabilitas Universitas Indonesia 2021, sekitar 35% mahasiswa disabilitas mengalami diskriminasi di lingkungan 2 kampus, baik dari rekan mahasiswa maupun tenaga pendidik, yang berdampak negatif terhadap proses pembelajaran dan kondisi kesehatan mental mereka (Faturrahma, 2024). Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa disabilitas menghadapi hambatan yang serius dalam mendapatkan pendidikan tinggi yang inklusif dan bermartabat. Kesenjangan akses pendidikan tinggi yang dialami penyandang disabilitas di tingkat nasional tercermin pula dalam kondisi di Kota Padang sebagai ibukota Provinsi Sumatera Barat. Meskipun beberapa perguruan tinggi negeri seperti Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Andalas (UNAND), dan UIN Imam Bonjol telah menerima mahasiswa disabilitas, pelaksanaan pendidikan inklusif masih menghadapi berbagai hambatan. Penelitian oleh Bashori dan Kurniawan (2025) menunjukkan bahwa fasilitas fisik seperti jalur landai, lift, dan ruang kelas aksesibel di perguruan tinggi negeri di Sumatera Barat belum sepenuhnya tersedia dan layak digunakan oleh mahasiswa disabilitas. Selain itu, keterbatasan dalam penyediaan pendamping akademik, kurikulum yang adaptif, dan tenaga pengajar yang memahami pendekatan inklusif menjadi tantangan signifikan dalam mewujudkan pendidikan yang setara. Temuan Ardias dkk. (2020) memperkuat hal ini dengan menyatakan bahwa mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi negeri Kota Padang masih menghadapi kesulitan dalam mengikuti perkuliahan, berpartisipasi dalam kegiatan organisasi, serta membangun interaksi sosial dengan lingkungan kampus yang belum sepenuhnya inklusif. Bahkan dalam kasus tertentu, seperti yang dilaporkan oleh Genta Andalas (2023), mahasiswa disabilitas menyampaikan pengalaman belajar yang tidak kondusif akibat minimnya metode pembelajaran yang mempertimbangkan kebutuhan mereka, serta rendahnya kesadaran dari dosen dan mahasiswa lain terhadap isu disabilitas. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun secara kuantitatif perguruan tinggi di Sumatera Barat telah menerima mahasiswa disabilitas, secara kualitatif masih terdapat tantangan struktural dan kultural yang membatasi partisipasi mereka secara penuh dan bermartabat dalam pendidikan tinggi. Mahasiswa disabilitas adalah individu yang mengalami keterbatasan fisik, sensorik, mental, atau intelektual yang sedang menempuh pendidikan tinggi dan membutuhkan penyesuaian layanan serta dukungan khusus agar dapat berpartisipasi secara optimal dalam proses akademik. Kelompok ini mencakup mahasiswa dengan berbagai jenis disabilitas, seperti tunanetra, tunarungu, tunadaksa, gangguan spektrum autisme, serta kondisi lain yang memengaruhi kemampuan belajar mereka (Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, 2017). Menurut World Health Organization (2023), kelompok ini memiliki risiko lebih dari dua kali lipat mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi dan mereka menghadapi hambatan hingga 15 kali lebih besar dalam mengakses layanan publik terutama transportasi yang tidak ramah disabilitas dibandingkan dengan kelompok tanpa disabilitas. Ketimpangan ini disebabkan oleh faktor-faktor ketidakadilan seperti stigma, diskriminasi, kondisi ekonomi yang tidak setara, serta terbatasanya akses pendidikan dan pekerjaan (Coleman, 2024). Meskipun telah terdapat kebijakan nasional seperti Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, implementasinya masih menghadapi berbagai kendala struktural di lingkungan pendidikan tinggi (Faizah, 2016). UNESCO (2005) menekankan bahwa pendidikan inklusi harus berlandasan pada prinsip hak asasi manusia dan menghargai keragaman sebagai kekuatan, bukan hambatan. Ainscow (2005) menyatakan bahwa mahasiswa disabilitas memerlukan dukungan pendidikan khusus untuk berpartisipasi secara penuh dalam pendidikan. Shakespeare (2006) juga menyoroti bahwa mahasiswa disabilitas sering kali menghadapi hambatan dalam belajar yang disebabkan oleh keterbatasan yang mereka alami. Hal ini dapat berdampak negatif pada kualitas hidup mereka. Kualitas hidup, mencerminkan bagaimana individu mengevaluasi kesejahteraan mereka dan potensi yang dapat dicapai, termasuk dalam aspek emosi positif dan hubungan sosial (Seligman, 2018; Diener, 2009). Ketidakcukupan dukungan dapat membatasi partisipasi mereka dalam lingkungan kampus, sebaliknya dukungan yang memadai dapat meningkatkan rasa percaya 3 diri dan kesejahteraan. Oleh karena itu, optimalisasi dukungan sosial di lingkungan pendidikan inklusif merupakan strategi penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup mahasiswa disabilitas (Cohen & Wills, 1985). Kualitas hidup merupakan konsep multidimensional yang mencakup aspek fisik, psikologis, sosial dan lingkungan yang secara keseluruhan menentukan kesejahteraan dan kepuasan individu (WHOQOL Group, 1998). Meeberg (Galloway dkk., 2006) mendefinisikan kualitas hidup sebagai perasaan kepuasan kehidupan seseorang secara umum. Kesulitan dan hambatan yang dihadapi mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi, seperti aksesibilitas fisik yang buruk, kurangnya dukungan akademik, serta diskriminasi sosial, memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas hidup mereka. Hal ini diperkuat oleh temuan Rahajeng dkk. (2024) yang mengungkapkan bahwa mahasiswa disabilitas di Indonesia mengalami tekanan psikologis dan keterasingan sosial akibat lingkungan kampus yang tidak inklusif. Dalam penelitian tersebut, responden menyampaikan bahwa fasilitas kampus yang tidak ramah disabilitas dan minimnya pemahaman tenaga pendidik menjadi hambatan utama dalam partisipasi akademik yang bermartabat. Keadaan ini memperburuk aspek psikologis dan sosial dari kualitas hidup mereka, termasuk munculnya kecemasan, rasa tidak diterima, dan ketidakpuasan terhadap proses belajar. Sejalan dengan temuan tersebut, Rahma dkk. (2020) menemukan bahwa kualitas hidup mahasiswa disabilitas secara signifikan dipengaruhi oleh tingkat dukungan sosial yang mereka terima. Individu yang merasa kurang diterima secara sosial cenderung mengalami stres dan memiliki persepsi negatif terhadap diri mereka, yang pada akhirnya menurunkan kesejahteraan psikologis dan sosial. Kualitas hidup menjadi indikator penting dalam menilai bagaimana seseorang mampu menjalani kehidupannya secara optimal, termasuk dalam konteks pendidikan. Berdasarkan konsep kualitas hidup menurut Ferrans (1990), yang menekankan pada persepsi individu terhadap kepuasan dalam berbagai aspek kehidupannya, maka dalam konteks pendidikan hal ini dapat diterapkan pada bagaimana mahasiswa menilai kemampuan mereka dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan akademik dan sosial di lingkungan kampus. Diener (2009) menyatakan bahwa kualitas hidup tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal, tetapi juga oleh perspektif internal dan cara pandang seseorang terhadap kehidupan mereka. Mahasiswa disabilitas menghadapi berbagai tantangan yang lebih kompleks dibandingkan dengan mahasiswa pada umumnya. Di Perguruan Tinggi mahasiswa disabilitas menghadapi berbagai hambatan, seperti infrastruktur yang belum ramah disabilitas, kurikulum kurang adaptif, keterbatasan dosen dalam menggunakan bahasa isyarat, serta minimnya dukungan pendampingan dan teknologi adaptif (Ulfah, 2024). Salah satu faktor penting yang berperan dalam meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas adalah dukungan sosial, dukungan ini mencakup bantuan emosional, praktis, dan informasi yang diberikan oleh keluarga, teman, dan lingkungan sosial (Virgiana dkk., 2024). Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima, semakin tinggi pula kualitas hidup individu penyandang disabilitas (Noviani dkk., 2025; Rahmah, 2017). Dukungan sosial yang kuat memungkinkan individu penyandang disabilitas menghadapi tantangan hidup dengan lebih adaptif termasuk dalam konteks akademik. Meskipun data menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa disabilitas memiliki kesejahteraan emosional yang baik, 48,2% dalam kategori tinggi dan 51,8% sedang (Hedesti & Marlina, 2025), mereka tetap menghadapi hambatan signifikan dalam aksesibilitas pendidikan, interaksi sosial, dan pengembangan diri. Mahasiswa disabilitas sering kali mengalami keterbatasan dalam lingkungan akademik yang tidak sepenuhnya ramah disabilitas, serta menghadapi sikap diskriminatif dan rendahnya ekspektasi dari masyarakat (Wibisana dkk., 2022). Sebagian besar dari mereka juga merasa kurang diterima, mengalami kecemasan sosial dan rendah kepercayaan diri karena keterbatasan fisik maupun stigma yang melekat (Novita & Novitasari, 2017). 4 Menurut Cohen dan Wills (1985), dukungan sosial berfungsi sebagai buffer yang membantu individu menghadapi stres dan tekanan psikologis. Dukungan sosial telah didentifikasi sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis, fisik dan sosial. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa dukungan dari keluarga, teman dan lembaga kampus seperti pusat layanan disabilitas berperan signifikan dalam membantu mahasiswa disabilitas dalam menghadapi hambatan akademik dan sosial (Aliedan dkk., 2023). Dalam konteks mahasiswa, dukungan sosial memegang peran penting karena periode ini kerap ditandai dengan berbagai tantangan, seperti adaptasi akademik, perubahan sosial, serta tekanan untuk berprestasi. Keterbatasan dalam dukungan sosial, seperti isolasi atau minimnya akses ke jaringan sosial, dapat menghambat mahasiswa disabilitas dalam menjalani kehidupan akademis dan sosial, sehingga berdampak negatif terhadap kualitas hidup mereka. Sebaliknya, dukungan sosial yang memadai dapat membantu meningkatkan rasa lebih berdaya dan mampu menghadapi tantangan. Oleh karena itu, optimalisasi dukungan sosial di lingkungan pendidikan inklusi merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas hidup mahasiswa disabilitas dan memastikan partisipasi aktif dalam proses belajar serta kehidupan kampus. Di perguruan tinggi negeri Kota Padang mahasiswa disabilitas masih mengalami berbagai permasalahan yang berkaitan dengan dukungan sosial dan kualitas hidup mereka (Ardias dkk., 2020; Noviani dkk., 2025). Mahasiswa disabilitas sering merasa tidak percaya diri, meremehkan potensi yang dimiliki, merasa tidak dapat hidup mandiri, dan memandang dirinya kurang beruntung dibandingkan dengan mahasiswa tanpa disabilitas. Hal ini terkadang disertai dengan keyakinan bahwa mereka tidak mampu mencapai cita-cita mereka (Rosydi & Dewi, 2020). Penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial dari teman sekelas dan lingkungan kampus sangat penting dalam membantu mahasiswa disabilitas beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan serta membentuk perasaan diterima secara sosial. Namun, keterbatasan partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler dapat menghambat peluang mereka dalam membangun hubungan sosial dan dukungan emosional yang berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan (Ardias dkk., 2020). Fenomena ini diperkuat oleh pengalaman Aldo, seorang mahasiswa disabilitas tuna rungu di Univeritas Andalas, yang mengungkapkan kesulitannya dalam mengikuti pembelajaran akibat tidak digunakannya metode pengajaran yang inklusif oleh dosen. Ia menyatakan, Dosen hanya menjelaskan materi secara konvesional, tanpa mempertimbangkan kebutuhan mahasiswa dengan hambatan pendengaran sehingga menyulitkan mereka dalam memahami materi kuliah (Genta Andalas, 2023). Aldo juga menyoroti bahwa rendahnya kesadaran dari rekan mahasiswa terhadap kebutuhan teman disabilitas membuatnya kesulitan mendapatkan bantuan saat diperlukan. Fakta ini menunjukkan kurangnya perhatian terhadap kebutuhan mahasiswa disabilitas di lingkungan kampus, khususnya dalam hal dukungan akademik dan emosional. Permasalahan ini menegaskan pentingnya dukungan sosial dalam meningkatkan kualitas hidup mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi negeri di Kota Padang. Dengan memperbaiki aspek ini, diharapkan mahasiswa disabilitas dapat memperoleh pengalaman Pendidikan yang lebih inklusif, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup dan keberhasilan akademik mereka. Penelitian ini sangat penting karena berfokus pada dua variabel krusial, yaitu dukungan sosial dan kualitas hidup yang secara signifikan memberikan dampak terhadap pengalaman mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi, di mana dukungan sosial berfungsi sebagai faktor penentu dalam membantu mahasiswa disabilitas mengatasi berbagai tantangan, seperti isolasi sosial dan kesulitan akademik. Kualitas hidup merupakan indikator penting dari kesejahteraan individu dan meningkatnya kualitas hidup mahasiswa disabilitas dapat berkontribusi pada peningkatan pencapaian akademik serta kepuasan hidup yang lebih tinggi. Oleh karena itu, dengan meneliti kontribusi antara kedua variabel tersebut, penelitian ini berpotensi membantu memberikan arah bagi pembuat kebijakan dan institusi pendidikan dalam merumuskan strategi yang lebih efektif. 5 Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap kualitas hidup mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi negeri terus meningkat, namun masih terdapat kesenjangan dalam literatur yang perlu diisi. Terutama terkait konteks pendidikan tinggi. Sebagai contoh, Rahmah (2017) menekankan bahwa dukungan sosial dan religiusitas berpengaruh positif terhadap kualitas hidup remaja penyandang disabilitas fisik, namun penelitian ini tidak mengkaji secara spesifik bagaimana kedua variabel tersebut beroperasi dalam konteks perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan perlunya penelitian yang lebih terfokus pada pengalaman mahasiswa disabilitas di lingkungan perguruan tinggi, khususnya di Kota Padang. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti “Kontribusi Dukungan Sosial Terhadap Kualitas Hidup Mahasiswa Disabilitas Pada Perguruan Tinggi Negeri Di Kota Padang”. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasi. Menurut Azwar (2017) penelitian kuantitatif adalah jenis penelitian yang berfokus pada pengumpulan data dalam bentuk angka dan kemudian menganalisisnya menggunakan metode statistik. Sementara itu, penelitian korelasi bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara variasi satu variabel dengan variabel lainnya (Azwar, 2017). HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Deskripsi Data Peneliti membuat deskripsi data bertujuan untuk mendeskripsikan data yang telah di peroleh dari hasil penelitian. Deskripsi mencakup data hipotetik dan empirik yang terdiri dari skor maksimum, skor minimum, rata-rata (mean), serta deviasi standar (SD) untuk setiap variabel yang diteliti. Untuk mendeskripsikan data pada penelitian ini, digunakan skor hipotetik dan skor empirik pada variabel penelitian. Perhitungan skor hipotetik diperoleh secara manual dan perhitungan skor empirik diperoleh dengan bantuan SPSS versi 2.5. Selanjutnya, peneliti melakukan analisis distribusi frekuensi untuk mengetahui sebaran responden pada lima kategori (sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi) dari variabel yang diteliti. Tabel 1 Rerata Hipotetik dan Emprik Kualitas Hidup dengan Dukungan Sosial Variabel Skor Hipotetik Skor Empirik Min Ma x Mean Sd Min Ma x Mean Sd Kualitas Hidup 26 130 78 17,33 64 117 93,62 13,85 Dukungan Sosial 40 200 120 26,66 101 195 148,82 22,74 Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa rata-rata (mean) empirik variabel kualitas hidup sebesar 93,62 lebih tinggi dari rata-rata hipotetiknya yaitu 78. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa disabilitas pada perguruan tinggi negeri di Kota Padang memiliki tingkat kualitas hidup yang lebih baik dari yang diperkirakan secara teoretis. Selanjutnya, pada tabel diatas dapat dimengerti bahwa rata-rata (mean) empirik dari variabel dukungan sosial sebesar 148,82 juga lebih tinggi dari rata-rata hipotetik (120). Artinya, mahasiswa disabilitas merasakan dukungan sosial yang lebih tinggi daripada asumsi teoritis penelitian. a. Deskripsi Data Kualitas Hidup Berdasarkan norma hipotetik pada tabel 4.2 diatas, peneliti membagi data variabel kualitas hidup menjadi lima kategori, yaitu sngat rendah, rendah, sedang, tinggi, sangat tinggi. Model interval data tersebut dipaparkan sebagai berikut. 6 Tabel 2 Kategorisasi Skor Kualitas Hidup Rumus Skor Kategori F Persen X<M-1,5SD X < 52 Sangat Rendah 0 0% X-1,5SD<X≤M-0,5SD 52 < X ≤ 69 Rendah 2 5% M-0,5SD<X≤M+0,5SD 69 < X ≤ 87 Sedang 10 26% M+0,5SD<X≤M+1,5SD 87 < X ≤ 104 Tinggi 18 46% M+1,5SD<X X > 104 Sangat Tinggi 9 23 % Jumlah 39 100% Berdasarkan tabel diatas, diperoleh gambaran fakta dilapangan bahwa kualitas hidup responden penelitian didominasi pada kategori tinggi, yaitu sebesar 46%, 26% pada kategori sedang dan 23% pada kategori sangat tinggi. Sementara itu, hanya 5% responden yang berada pada kategori rendah, dan tidak ada responden yang termasuk dalam kategori sangat rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas hidup yang sedang hingga tinggi, yang berarti mereka menilai kondisi kualitas hidupnya berada pada tingkat yang positif. Deskripsi lebih lanjut dari masing-masing aspek akan digambarkan sebagai berikut. Tabel 3 Tabel Rerata Hipotetik dan Emprik Aspek Kualitas Hidup Aspek Skor Hipotetik Skor Empirik Min Max Mean Sd Min Max Mean Sd Kesehatan Umum 2 10 6 1,33 2 10 7,54 1,83 Kesehatan Fisik 7 35 21 4,66 17 33 25,56 4,20 Psikologis 6 30 18 4 12 29 21,67 4,09 Hubungan Sosial 3 15 9 2 6 15 10,51 2,11 Lingkungan 8 40 24 5,33 17 37 28,33 4,61 Berdasarkan tabel diatas, hasil menunjukkan bahwa rata-rata (mean) skor empirik pada semua aspek variabel kualitas hidup lebih tinggi daripada rata-rata (mean) skor hipotetik. Skor ini menggambarkan lebih lanjut terkait dengan mayoritas responden penelitian kualitas hidup lebih tinggi dari perkiraan teoritis yang juga terlihat pada tiap aspek kualitas hidup. Berdasarkan skor tersebut, skor pada setiap aspek kualitas hidup dapat dibuat pengktegoriannya sebagai berikut. Tabel 4 Deskripsi Responden Berdasarkan Aspek Kualitas Hidup Aspek Skor Kategori F Persen Kesehatan Umum X < 4 Sangat Rendah 2 5% 4< X ≤ 5 Rendah 2 5% 5 < X ≤ 8 Sedang 24 62% 8 < X ≤ 10 Tinggi 11 28% X > 10 Sangat Tinggi 0 0% Jumlah 39 100% Kesehatan Fisik X < 14 Sangat Rendah 0 0% 14< X ≤ 19 Rendah 2 5% 19 < X ≤ 23 Sedang 12 31% 23 < X ≤ 28 Tinggi 16 41% X > 28 Sangat Tinggi 9 23% Jumlah 39 100% Psikologis X < 12 Sangat Rendah 0 0% 12< X ≤ 16 Rendah 6 15% 16 < X ≤ 20 Sedang 6 15% 20 < X ≤ 24 Tinggi 20 51% X > 24 Sangat Tinggi 7 18% 7 Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa kualitas hidup responden dalam penelitian ini menunjukkan variasi pada setiap aspeknya. Dua aspek, yaitu kesehatan umum dan hubungan sosial, berada pada kategori sedang, sedangkan tiga aspek lainnya, yaitu kesehatan fisik, psikologis, dan lingkungan, berada pada kategori tinggi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa responden dalam penelitian ini memiliki kecenderungan kualitas hidup yang berada pada kategori sedang hingga tinggi. b. Deskripsi Data Dukungan Sosial Berdasarkan skor hipotetik pada tabel 4.2 di awal pada bagian deskripsi data penelitian ini, peneliti membagi kategori skor dukungan sosial pada lima kategori yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, sangat tinggi. Pengelompokkan kategori tersebut berasal dari nilai data tersebut, dipaparkan sebagai berikut. Tabel 5 Kategorisasi Skor Dukungan Sosial Rumus Skor Kategori F Persen X<M-1,5SD X < 80 Sangat Rendah 0 0% X-1,5SD<X≤M-0,5SD 80 < X ≤ 107 Rendah 2 5% M-0,5SD<X≤M+0,5SD 107 < X ≤ 133 Sedang 9 23% M+0,5SD<X≤M+1,5SD 133 < X ≤ 160 Tinggi 16 41% M+1,5SD<X X > 160 Sangat Tinggi 12 31% Jumlah 39 100% Berdasarkan tabel diatas, diperoleh gambaran fakta dilapangan bahwa dukungan sosial responden penelitian didominasi pada kategori tinggi, yaitu sebesar 41%, 31% pada kategori sangat tinggi, dan kategori sedang sebesar 23%. Sementara itu, hanya 5% responden yang berada pada kategori rendah, dan tidak ada responden yang termasuk dalam kategori sangat rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden penelitian merasakan dukungan sosial yang sedang hingga sangat tinggi, yang berarti mereka menilai dukungan sosial yang mereka terima berada pada tingkat yang positif. Deskripsi lebih lanjut dari masing-masing aspek akan digambarkan sebagai berikut. Tabel 6 Tabel Rerata Hipotetik dan Emprik Aspek Dukungan Sosial Skor Hipotetik Skor Empirik Min Max Mean Sd Min Max Mean Sd Dukungan Emosional 9 45 27 6 21 45 33,10 5,23 Dukungan Instrumental 10 50 30 6,66 22 50 37,92 6,03 Dukungan Informasi 12 60 36 8 30 58 45,10 7,12 Dukungan Penghargaan 9 45 27 6 20 45 32,69 6,07 Berdasarkan tabel diatas, hasil menunjukkan bahwa rata-rata (mean) skor empirik pada semua aspek variabel dukungan sosial lebih tinggi daripada rata-rata (mean) skor hipotetik. Skor ini menggambarkan lebih lanjut terkait dengan mayoritas responden penelitian dukungan sosial lebih tinggi dari perkiraan teoritis yang juga terlihat pada tiap aspek dukungan sosial. Berdasarkan Jumlah 39 100% Hubungan Sosial X < 6 Sangat Rendah 0 0% 6 < X ≤ 8 Rendah 6 15% 8 < X ≤ 10 Sedang 14 36% 10 < X ≤ 12 Tinggi 11 28% X > 12 Sangat Tinggi 8 21% Jumlah 39 100% Lingkungan X < 16 Sangat Rendah 0 0% 16 < X ≤ 21 Rendah 2 5% 21 < X ≤ 27 Sedang 13 33% 27 < X ≤ 32 Tinggi 18 46% X > 32 Sangat Tinggi 6 15% Jumlah 39 100% 8 skor tersebut, skor pada setiap aspek dukungan sosial dapat dibuat pengktegoriannya sebagai berikut. Tabel 7 Deskripsi Responden Berdasarkan Aspek Dukungan Sosial Aspek Skor Kategori F Persen Dukungan Emosional X < 18 Sangat Rendah 0 0% 18 < X ≤ 24 Rendah 2 5% 24 < X ≤ 30 Sedang 11 28% 30 < X ≤ 36 Tinggi 16 41% X > 36 Sangat Tinggi 10 26% Jumlah 39 100% Dukungan Instrumental X < 20 Sangat Rendah 0 0% 20 < X ≤ 27 Rendah 1 3% 27 < X ≤ 33 Sedang 6 15% 33 < X ≤ 40 Tinggi 20 51% X > 40 Sangat Tinggi 12 31% Jumlah 39 100% Dukungan Informasi X < 24 Sangat Rendah 0 0% 24< X ≤ 32 Rendah 3 8% 32 < X ≤ 40 Sedang 9 23% 40 < X ≤ 48 Tinggi 11 28% X > 48 Sangat Tinggi 16 41% Jumlah 39 100% Dukungan Penghargaan X < 18 Sangat Rendah 0 0% 18 < X ≤ 24 Rendah 2 5% 24 < X ≤ 30 Sedang 15 38% 30 < X ≤ 36 Tinggi 10 26% X > 36 Sangat Tinggi 12 31% Jumlah 39 100% Berdasarkan tabel diatas, ditemukan bahwa responden penelitian ini merasakan dukungan sosial yang berbeda pada tiap aspek-aspek dukungan sosial. Aspek dukungan informasi berada pada kategori sangat tinggi, aspek dukungan emosional dan aspek intrumental berada pada kategori tinggi dan aspek dukungan penghargaan berada pada kategori sedang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial yang diterima responden penelitian bervariasi. 2. Analisis Data a. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi dengan normal atau tidak. Azwar (2017) menyatakan bahwa distribusi data dianggap normal jika nilai signifikansi (sig.) yang dihasilkan pengujian melebihi 0,05, sehingga memenuhi syarat untuk analisis lebih lanjut. Tabel 8 Uji Normalitas Residual N Asymp.Sig (2-tailed) Keterangan 39 0,200 Normal Berdasarkan hasil uji normalitas residual diatas dengan jumlah responden 39, diperoleh nilai p= 0,200 p > 0,05. Hasil ini membuktikan bahwa nilai signifikansi lebih besar daripada 0,05 sehingga dikatan distribusi data penelitian ini adalah normal. b. Uji Linearitas Uji linearitas dilaksanakan dengan tujuan menentukan apakah terdapat hubungan yang linear atau tidak antara kedua variabel yang diteliti secara signifikan. Pengujian ini dilaksanakan dengan memanfaatkan perangkat lunak SPSS 2.5. Uji ini digunakan sebagai persyaratan dalam analisis korelasi atau regresi linear dua variabel dikatakan ada pengaruh yang linear apabila signifikansi ≥0,05. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel berikut: 9 Tabel 9 Hasil Uji Linearitas Deviation from Linearity F Sig. Keterangan 1,058 0,535 Linear Berdasarkan hasil uji linearitas diperoleh nilai F = 1,058 dengan nilai p 0,535, yang mana p > dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara variabel dukungan sosial dan kualitas hidup adalah linear. Artinya tidak terdapat penyimpangan yang signifikan dari pola hubungan linear antara kedua variabel. Dengan demikian, hubungan antara variabel bebas dan terikat dinyatakan memiliki hubungan yang linear. c. Uji Hipotesis Peneliti melakukan uji hipotesis menggunakan analisis regresi linier sederhana. Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah terdapat kontribusi yang signifikan antara variabel dukungan sosial (X) terhadap kualitas hidup (Y) pada mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi negeri Kota Padang. Tabel 10 Hasil Uji Regresi Linear Sederhana Sum of quares df Mean quare F Sig. Regresi 2306,555 1 2306,555 17,121 <,000b Residual 4984,675 37 134,721 Total 7291,231 38 Tabel diatas menggambarkan bahwa besaran nilai F hitung 17,121 dengan nilai p signifikansi yaitu 0,000 (p<0,05). Oleh karena itu dapat dimaknai bahwa terdapat kontribusi yang signifikan pada variabel dukungan sosial terhadap kualitas hidup. Maka bisa ditarik kesimpulan bahwa hipotesis penelitian (H1) diterima. Tabel 11 Persamaan Regresi Linear Sederhana Berdasarkan tabel model regresi linear sederhana diatas, menggambarkan proyeksi variabel kuantitatif Y berdasarkan variabel X, dalam menggambarkan model hubungan variabel ini yaitu berdasarkan persamaan regresi Ŷ = 42,643 + 0,343 X. Berdasarkan persamaan ini dapat dijabarkan bahwa besaran nilai konstanta atau inersep yaitu 42,643 ketika X sama dengan nol, hal ini dapat dipahami bahwa kualitas hidup memiliki satuan 42,643 saat jumlah satuan dukungan sosial sama dengan nol. Bagian kritis dalam persamaan regresi adalah kemiringan yang merupakan besaran laju perubahan yang diprediksi dalam Y berdasarkan tabel 4.11 kemiringan garis regresi sebesar 0,343 satuan, yang berarti bahwa setiap peningkatan satu unit dalam rentang nilai dukungan sosial, maka bisa diprediksi terjadi juga peningkatan pada kualitas hidup sebesar 0,343 satuan. Tabel 12 Hasil Uji Regresi Linear Sederhana (Model Summary) R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 0,562a 0,316 0,298 11,607 Berdasarkan tabel diatas, nilai R-square sebesar 0,316. Sehingga dukungan sosial memiliki kontribusi sebesar 31,6% terhadap kualitas hidup pada mahasiswa disabilitas pada perguruan tinggi negeri di Kota Padang, sementara sisanya sebesar 68,4% dipengaruhi oleh faktor lainnya. Pembahasan Hasil temuan yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesis pertama H1 diterima. Hal ini dibuktikan melalui hasil uji hipotesis yaitu nilai F hitung 17,121 dengan nilai p signifikansi yaitu 0,000 (p<0,05) yang berarti terdapat kontribusi dukungan sosial terhadap kualitas hidup mahasiswa disabilitas pada perguruan tinggi negeri di Kota Padang. Selain itu, nilai koefisien determinasi (R square) sebesar 0,316 yang mengindikasi bahwa dukungan sosial memberikan kontribusi sebesar 31,6% terhadap kualitas hidup mahasiswa disabilitas di perguruan Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta (Constant) 42,643 12,458 3,423 <,002 X 0,343 ,083 0,562 4,138 <,000 16 Unesco. (2005). Guidelines For Inclusion: Ensuring Access To Education For All. Unesdoc Digital Library. Https://Unesdoc.Unesco.Org/Ark:/48223/Pf0000140224. Virgiana, M. K. B., Azizah, I. N., Aula, S. T., Masfia, I., & Fahmy, Z. (2024). Dukungan Keluarga Sebagai Faktor Penentu Prestasi Akademik Anak Disabilitas Netra. Observasi : Jurnal Publikasi Ilmu Psikologi, 2(2), 112–138. Https://Doi.Org/10.61132/Observasi.V2i3.415. Whoqol Group. (1998). The World Organization Quality Of Life Assessment (Whoqol): Development And General Psychometric Properties. Pergamon, 46, 1569–1585. Https://Doi.Org/Https://Doi.Org/10.1016/S0277-9536(98)00009-4. Wibisana, N. S., Mahardika, A., & Geriputri, N. N. (2022). Gambaran Kualitas Hidup Anak Dengan Disabilitas Tunanetra Di Sekolah Luar Biasa Yayasan Pendidikan Tunanetra Mataram. Lombok Medical Journal, 1(1), 40–42. Https://Journal.Unram.Ac.Id/Index.Php/Lmj/Article/View/550. World Health Organization. (1996, Desember). Whoqol Bref: Introduction, Administration, Scoring And Generic Version Of The Assessment. Genève: Who. Https://Www.Who.Int/Publications/I/Item/Whoqol-Bref?Utm_. World Health Organization. (2023). Disability And Health: Fact Sheet. World Health Organization. Https://Www.Who.Int/News-Room/Fact-Sheets/Detail/Disability-And-Health. Zimet, G. D., Dahlem, N. W., Zimet, S. G., & Farley, G. K. (1988). The Multidimensional Scale Of Perceived Social Support. Journal Of Personality Assessment, 52(1), 30–41. Https://Doi.Org/10.1207/S15327752jpa5201_2.