Upaya Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Membangun Profil Pelajar Pancasila Di SMA Pada Era 5.0
Full text
PACIVIC (Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) http://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/pacivic/ Volume 4, Nomor 1, April 2024 E-ISSN: 2807-9337 JURNAL PACIVIC ׀ 10 Upaya Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Membangun Profil Pelajar Pancasila Di SMA Pada Era 5.0 Miftakhul Janah1, Fikriyatul Munawwaroh2, Zuyyina Fuadah3, Muhammad Fikri Abdun Nasir4 Institut Agama Islam Negeri Kudus, Indonesia1,2,3,4 [email protected] Abstract In modern society like today, there are many negative impacts caused to a country, one of which is the erosion of noble values inherent in a country, this is currently happening in Indonesia. Please note that today many students and adolescents are experiencing moral damage due to various factors such as globalization, friendship, electronic media, drugs, alcohol, and other negative influences. This ultimately leads to a moral and moral crisis manifested in injustice, illegality, and human rights violations, as well as a lack of understanding, appreciation, and confidence in the virtues of the values contained in each precept of Pancasila. Based on the background exposure above, the goal to be achieved in this study is to find out how the implementation of Pancasila values in education as an effort to face the era of society 5.0 together with the profile of Pancasila students passionately instilling Pancasila values. This study used qualitative descriptive methods through interviews and observations. The results of this study show that the application of diversity based on the precepts of Pancasila is going well at SMA Negeri 1 Mayong. The implementation of Pancasila in schools basically must be directed on the formation of the character of students who have a sense of love for the country, tolerance, uphold the value of diversity, have 5 S ethics, and are responsible. So that it can produce a generation that can build and fight for the interests of the nation above personal interests with high enthusiasm. Keywords: Implementation of Pancasila Values, Pancasila Student Profile, Era 5.0 Abstrak Dalam masyarakat modern seperti saat ini banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan terhadap suatu negara, salah satunya adalah terkikisnya nilai-nilai luhur yang melekat pada suatu negara, hal ini yang saat ini sedang terjadi di Indonesia. Perlu diketahui bahwa saat ini banyak pelajar dan remaja yang mengalami kerusakan moral akibat berbagai faktor seperti globalisasi, pertemanan, media elektronik, narkoba, alkohol dan pengaruh negatif lainnya. Hal ini pada akhirnya menimbulkan krisis akhlak dan akhlak yang diwujudkan dalam ketidakadilan, ilegalitas dan pelanggaran hak asasi manusia, serta kurangnya pemahaman, penghayatan dan keyakinan terhadap keutamaan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila. Berdasarkan paparan latar belakang di atas, tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah mengetahui bagaimana implementasi nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan sebagai upaya menghadapi era society 5.0 bersama profil pelajar Pancasila dengan penuh semangat menanamkan nilai-nilai Pancasila. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui wawancara dan observasi. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan keberagaman berdasarkan sila Pancasila berjalan dengan baik di SMA Negeri 1 Mayong. Implementasi Pancasila di sekolah pada dasarnya harus ada pengarahan mengenai pembentukan karakter siswa yang memiliki rasa cinta tanah air, toleransi, menjunjung nilai kebhinnekaan, beretika 5 S, bertanggung jawab. Sehingga dapat menghasilkan generasi yang membangun dan memperjuangkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dengan penuh semangat yang tinggi. Kata Kunci: Implementasi Nilai-nilai Pancasila, Profil Pelajar Pancasila, Era 5.0
PACIVIC (Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) http://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/pacivic/ Volume 4, Nomor 1, April 2024 E-ISSN: 2807-9337 JURNAL PACIVIC ׀ 11 I. PENDAHULUAN Indonesia saat ini memasuki era modern dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat, menyebabkan umat manusia mengalami perubahan yang sangat signifikan. Kemajuan ini tidak hanya dirasakan di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Kemajuan teknologi ini tentunya dimaksudkan untuk mempermudah berbagai urusan manusia dan pekerjaan, menciptakan berbagai alat yang canggih sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Saat ini kita semua dapat melihat dan merasakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan kita sehari-hari, dan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Dalam masyarakat modern seperti saat ini banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan terhadap suatu negara, salah satunya adalah terkikisnya nilai-nilai luhur yang melekat pada suatu negara, hal ini yang saat ini sedang terjadi di Indonesia. Perlu diketahui bahwa saat ini banyak pelajar dan remaja yang mengalami kerusakan moral akibat berbagai faktor seperti globalisasi, pertemanan, media elektronik, narkoba, alkohol dan pengaruh negatif lainnya. Hal ini pada akhirnya menimbulkan krisis akhlak dan akhlak yang diwujudkan dalam ketidakadilan, ilegalitas dan juga pelanggaran hak asasi manusia, serta kurangnya pemahaman, penghayatan dan keyakinan terhadap keutamaan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila. Teknologi industri berkembang sudah sejak awal keberadaan manusia, pada zaman purbakala di mana teknologi masih bisa dikatakan sangat minim dan mengandalkan kekuatan alam seperti berburu serta memanfaatkan hal apa pun untuk kemudian dijadikan sebagai pendukung kehidupan dimasa itu. Namun, seiring berjalannya waktu teknologi industri tentunya berkembang hingga istilah-istilah perkembangan teknologi industri dikenal seusai dengan perkembangan yang terjadi dimasanya. Diyakini pada masa itulah dimulai pola 1.0 (hunting society). Lalu, seiring dengan meningkatnya keilmuan manusia mulai dikenal revolusi 2.0 (agricultural society), cara mendapatkan makanan berubah dari mengumpulkan menjadi memproduksi (bercocok tanam) dan tatanan sosial mulai dikenal. Berikutnya, revolusi 3.0 (industrial society) pola kerja yang beralih dari tenaga manusia menjadi menggunakan mesin sehingga produksi massal dapat dilakukan. Saat ini revolusi 4.0 (information society) tengah dijalankan di seluruh dunia (Harun, 2022). Teknologi informasi, jaringan internet, data dan juga pada kecerdasan buatan (artificial intelligence) merupakan sederet teknologi yang menjadi sendi kehidupan dalam era
PACIVIC (Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) http://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/pacivic/ Volume 4, Nomor 1, April 2024 E-ISSN: 2807-9337 JURNAL PACIVIC ׀ 12 revolusi industri 4.0. Lalu muncul yaitu society 5.0 sebagai perkembangan dari revolusi industri (society) sebelumnya. Yang di mana konsep ini memungkinkan kita untuk menggunakan ilmu pengetahuan yang berbasis modern untuk melayani kebutuhan manusia seiring perkembangan zaman. Berbeda dengan apa yang kita alami saat ini, yang merupakan masyarakat 5.0, yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari masyarakat 1.0. Perubahan dalam masyarakat 5.0 juga merupakan hasil dari revolusi industri 4.0, yang berfokus pada teknologi yang berkembang pesat saat ini. Kebangkitan “society 5.0,” atau revolusi industri seperti yang dikenal, tidak diragukan lagi telah mempengaruhi banyak aspek kehidupan sehari-hari bagi masyarakat umum, termasuk aspek sosial, budaya, dan ekonomi globalisasi. Setiap perubahan yang terjadi dalam masyarakat ini cenderung mempengaruhi tidak hanya aspek ekonomi, sosial, dan agama kehidupan sehari-hari, tetapi juga bidang pendidikan. Dalam hal apa pun, populasi yang berada di garis depan revolusi industri itu sendiri sebagian besar berasal dari populasi berorientasi pendidikan. Berdasarkan paparan latar belakang di atas, tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah mengetahui bagaimana implementasi nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan sebagai upaya menghadapi era society 5.0 bersama profil pelajar Pancasila dengan penuh semangat menanamkan nilai-nilai Pancasila. Berdasarkan hasil kajian terdahulu, implementasi nilai-nilai Pancasila di era globalisasi bagi peserta didik bisa dilaksanakan dengan menumbuhkan sifat nasionalisme dalam kesempatan-kesempatan yang tepat seperti pada saat peringatan hari sumpah pemuda, hari pahlawan, dan hari besar nasional lainnya (Hidayat, 2021). Pengimplementasian nilai-nilai Pancasila dalam perkembangan IPTEK sangat penting di mana Pancasila dapat menjadi rambu-rambu normatif bagi pengembangan dan juga pemanfaatan IPTEK agar tetap sesuai dengan kepribadian masyarakat Indonesia yang luhur dan mulia (Astuti, 2021). II. KAJIAN PUSTAKA Sebagai salah satu upaya preventif, Pancasila yang harus diaktualisasikan dalam berbagai bidang kehidupan serta harus muncul dan menjadi nyata dalam bidang integrasi NKRI, kehidupan ekonomi, dalam bidang hukum, dalam bidang pendidikan (TK, SD, SMP, SMA, sampai dengan Perguruan Tinggi), maupun seluruh bidang lain yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Indonesia (Fadilah, 2019). Salah satu metode yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai moral kepada anak-anak Bengali adalah
PACIVIC (Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) http://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/pacivic/ Volume 4, Nomor 1, April 2024 E-ISSN: 2807-9337 JURNAL PACIVIC ׀ 13 melalui pendidikan berdasarkan karakter berdasarkan pada ajaran Pancasila. Ketika menerapkan ajaran Pancasila melalui pendidikan di dalam kelas, adalah mungkin untuk melakukannya dengan menggunakan metode pengajaran yang menarik dan lebih merangsang yang membuat siswa menjadi merasa tenang. Pancasila merupakan dasar negara dan ideologi resmi bangsa Indonesia. Eksistensi Pancasila merupakan bagian penting bagi bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan karena Pancasila menjadi satu-satunya landasan paling utama bagi bangsa Indonesia untuk menjalankan kehidupan bernegara. Pancasila terdiri dari lima sila yaitu ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan yang terakhir yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Di dalamnya juga yang mengandung nilai-nilai Pancasila yang digunakan sebagai patokan dalam proses hidup berbangsa, bernegara, bermasyarakat dan berkehidupan sehari-hari (Hatta, 1977). Pendidikan merupakan bekal terpenting dalam menghadapi perkembangan zaman yang terus berubah. Pendidikan berperan dalam membentuk karakter manusia dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda milenial melalui kearifan lokal merupakan kebutuhan mendesak saat ini bagi masyarakat Indonesia yang terus menerus berkembang sesuai dinamisme pada masanya, dan dilakukan tanpa tenggelam serta disingkirkan dari peradaban dunia. Pendidikan menjadi wadah penanaman nilai-nilai Pancasila bagi yang tua, muda, bahkan dini. Inilah pentingnya penanaman nilai-nilai Pancasila diharapkan membangun wawasan, pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Profil Pelajar Pancasila yaitu suatu ciri lulusan yang mana bertujuan menunjukkan karakter pelajar Indonesia yang jua mempunyai kompetensi yang baik sebab sudah tertanamnya pada nilai-nilai luhur Pancasila (Diputera, 2022). Profil Pelajar Pancasila Mengacu di Keputusan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset serta Teknologi nomor 162/M/2021 perihal Sekolah Penggerak maka pengertian Profil Pelajar Pancasila artinya profil lulusan yang bertujuan memberikan karakter serta kompetensi yang diharapkan diraih serta menguatkan nilai-nilai luhur Pancasila peserta didik serta para pemangku kepentingan (Susilawati, 2021). Pelajar Pancasila yang berpusat di keinginan tercapainya Pelajar Pancasila yang dimulai berasal jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Pelajar Pancasila ini mempunyai enam karakteristik primer, yaitu, beriman, bertakwa pada yang kuasa yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan
PACIVIC (Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) http://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/pacivic/ Volume 4, Nomor 1, April 2024 E-ISSN: 2807-9337 JURNAL PACIVIC ׀ 14 dunia, berdikari bergotong royong, bernalar kritis dan kreatif (Kurniasih, 2022). Buat itu, diperlukan suatu mekanisme atau gerakan penumbuhan karakter, di antaranya melalui sosialisasi, penyempurnaan pembelajaran, dan aneka kompetisi, sehingga profil Pelajar Pancasila bisa terwujud (Irawan dkk., 2023). III. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui wawancara dan observasi. Dari hasil penelitian ini yang menunjukkan bahwa penerapan keberagaman berdasarkan sila Pancasila berjalan dengan baik di SMA Negeri 1 Mayong. Para guru dan siswa menunjukkan telah menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam proses pembelajaran maupun aktivitas sekolah. Dengan meningkatkan profil siswa tentang Pancasila, siswa dapat mempelajari dasar-dasar bangsa dan pedoman hidup, serta menjadi manusia yang beradab dan berbudi luhur. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Profil pelajar Pancasila dinilai sejalan dengan visi dan misi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang tertuang dalam Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024: Pelajar Pancasila merupakan perwujudan pelajar Indonesia yang pembelajar sepanjang hayat, berkompeten global dan bertindak sesuai nilai-nilai Pancasila, yaitu enam ciri (1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) berkarakter tinggi, berwawasan keberagaman global, (3) gotong royong, (4) mandiri, (5) kritis dan (6) kreatif. Gambar 1. Profil Pelajar Pancasila Sumber: Kemdikbud Pentingnya implementasi di sekolah karena memiliki peran yang penting dalam membentuk karakter siswa dan memperkenalkan mengenai nilai-nilai luhur bangsa
PACIVIC (Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) http://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/pacivic/ Volume 4, Nomor 1, April 2024 E-ISSN: 2807-9337 JURNAL PACIVIC ׀ 15 Indonesia. Implementasi Pancasila di sekolah pada dasarnya harus ada pengarahan mengenai pembentukan karakter siswa yang memiliki rasa cinta tanah air, toleransi, menjunjung nilai kebhinnekaan, beretika 5 S (senyum, salam, sapa, sopan, dan santun), dan bertanggung jawab. Sehingga dapat menghasilkan generasi yang dapat membangun dan memperjuangkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dengan penuh semangat tinggi. PKn dalam menghadapi era globalisasi hendaknya mengembangkan kompetensi kewarganegaraan (civic competences) (Branson, 1999). Perlu tiga aspek penting di kompetensi kewarganegaraan (civic competences) yang harus ada pada siswa dalam menghadapi Era Society 5.0 yaitu Pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), keterampilan kewarganegaraan (civic skills), dan karakter kewarganegaraan (civic disposittion). Mengembangkan potensi peserta didik dalam seluruh dimensi kewarganegaraan, menjadi tujuan dari Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, yang mencakup: (1) sikap kewarganegaraan termasuk pada keteguhan, komitmen dan juga tanggung jawab kewarganegaraan (civic confidence, civic committment, and civic responsibility); (2) pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge); dan (3) keterampilan kewarganegaraan (civic skills) termasuk kecakapan dan partisipasi kewarganegaraan (civic competence and civic participation) (Kemendikbud, 2014). Gambar 1. Arah dan Tujuan PPKn Sumber: MK Kewarganegaraan Tujuan utama dari civic disposition adalah untuk menumbuhkan karakter warga negara, baik karakter privat seperti; tanggung jawab moral, disiplin diri, dan penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia dari setiap individu, maupun karakter publik
PACIVIC (Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) http://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/pacivic/ Volume 4, Nomor 1, April 2024 E-ISSN: 2807-9337 JURNAL PACIVIC ׀ 16 misalnya; kepedulian sebagai warga, kesopanan, mengindahkan aturan main (rule of law), berpikir kritis, dan kemauan untuk mendengar, bernegosiasi dan kompromi (Branson, 1999); (Budi, 2017). Civic knowledge berkaitan dengan materi substansi yang seharusnya diketahui oleh warga negara berkaitan dengan hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Aspek dari civic knowledge ini menyangkut kemampuan akademik-keilmuan yang dikembangkan dari berbagai teori atau konsep politik, hukum dan moral. Sedangkan civics skill atau kecakapan kewarganegaraan merupakan bentuk kecakapan yang dikembangkan dari pengetahuan kewarganegaraan, yang dimaksudkan agar pengetahuan yang diperoleh menjadi sesuatu yang bermakna, karena dapat dimanfaatkan dalam menghadapi masalahmasalah kehidupan berbangsa dan bernegara. Kecakapan kewarganegaraan meliputi kecakapan intelektual (intellectual skills) dan kecakapan partisipasi (participation skills) (Branson, 1999). Sedangkan civic disposition sesungguhnya merupakan kompetensi yang paling substantif dan esensial dalam mata pelajaran PKn. Kompetensi watak kewarganegaraan dapat dipandang sebagai “muara” dari pengembangan kedua kompetensi sebelumnya. Civics disposition sebagai “…those attitudes and habit of mind of the citizen that are conducive to the healthy functioning and common good of the democratic system” atau “sikap dan kebiasaan berpikir warga negara yang menopang berkembangnya fungsi sosial yang sehat dan jaminan kepentingan umum dari sistem demokrasi” (Quigley dkk., 1991). Civics disposition mengisyaratkan pada karakter publik maupun privat yang penting bagi pemeliharaan dan pengembangan demokrasi konstitusional (Branson, 1999). Civic skills (kompetensi kewarganegaraan) merupakan seperangkat pengetahuan, nilai, sikap dan keterampilan yang mendukung dalam menjadi warga negara yang ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Implementasi nilai-nilai Pancasila oleh guru dapat dimulai dari hal-hal yang kecil misalnya seorang guru selalu mengingatkan para siswanya untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila baik pada waktu pembelajaran maupun di luar dari pembelajaran. Ketika pembelajaran, sikap siswa-siswi menjadi tanggung jawab seorang guru dan pasti tidak lepas dari pengamatan seorang guru misalnya cara berpakaian siswanya, semangatnya dalam mengikuti pembelajaran, dan kelakuan atau perilakunya.
PACIVIC (Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) http://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/pacivic/ Volume 4, Nomor 1, April 2024 E-ISSN: 2807-9337 JURNAL PACIVIC ׀ 17 Permasalahan yang cenderung banyak dihadapi seorang guru di SMAN 01 Mayong dalam mengajar yaitu sulitnya mengukur karakteristik siswa. Contohnya, siswa yang kelihatannya baik, sopan, dan patuh namun ternyata siswa tersebut hanya menerapkannya kepada guru-guru tertentu saja. Di sini peran guru cenderung menekuni atau selalu memperhatikan sejauh mana siswa peduli terhadap nilai-nilai Pancasila. Pada saat ini masih banyak siswa yang cenderung meremehkan nilai-nilai Pancasila sehingga seorang guru harus memperhatikan dan mengarahkan hal-hal kecil dari siswanya serta apa yang dilakukan dalam kesehariannya. Penanaman nilai-nilai Pancasila bukan hanya dilakukan di pembelajaran saja tetapi dapat juga ditanamkan melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka (Praja Muda Karana). Dapat dilihat dari Tri Satya dan Dasa Dharma yang di mana isinya sangat berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila. a. Bunyi Trisatya Demi kehormatanku, aku berjanji akan bersungguh-sungguh: 1. Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mengamalkan Pancasila. 2. Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat. 3. Menepati dasa dharma. b. Bunyi Dasa Dharma Bunyi Dasa Dharma: 1. Takwa kepada Tuhan yang Maha Esa. 2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. 3. Patriot yang sopan dan ksatria. 4. Patuh dan suka bermusyawarah. 5. Rela menolong dan tabah. 6. Rajin, terampil, dan gembira. 7. Hemat, cermat, dan bersahaja. 8. Disiplin, berani, dan setia. 9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya. 10. Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Dasa dharma pramuka dapat menjabarkan menjadi banyak sikap-sikap dalam hidup dan berpola tingkah laku yang sesuai (Sunardi, 2016).
PACIVIC (Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) http://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/pacivic/ Volume 4, Nomor 1, April 2024 E-ISSN: 2807-9337 JURNAL PACIVIC ׀ 18 c. Implementasi Nilai-nilai Pancasila di Pramuka 1. Ketuhanan yang Maha Esa Sesuai dengan poin Dasa darma ke 1 dan 10, yang mana pengamalan nilai nilainya seperti contoh, pada saat kegiatan Pramuka di SMA Negeri 01 Mayong yang mana kegiatannya berisikan doa sebelum dan sesudah kegiatan, serta istirahat yang diisi dengan sholat Ashar. 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab Sesuai dengan Dasa darma ke 2, 3, dan 5. Contohnya pada saat kegiatan Pramuka di sini ditanamkan cinta kepada alam seperti kegiatan outbound yang diisi dengan gotong royong dan bersih – bersih dilingkungan saat kegiatan pramuka berlangsung, anggota pramuka memiliki sikap rela berkorban, hal ini dapat dilihat dari sikap kasih sayang terhadap teman, tenggang rasa terhadap teman, serta sikap saling tolong menolong, dan selalu mengutamakan 7S (salam, sapa, senyum, santun sopan, semangat sepenuh hati). 3. Persatuan Indonesia Sesuai dengan poin dari Dasa darma ke 6 dan 7. Dalam persatuan di dalam Pramuka SMAN 01 Mayong melakukan pembelajaran berkelompok serta tingkat antusias anggota Pramuka ketika berkelompok. 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan Sesuai dengan poin 4 dan 9, tingginya sikap demokrasi serta musyawarah oleh anggota Pramuka. 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Sesuai dengan poin Dasa darma ke 8. Disiplin berani dan setia akan keadilan sosial seperti disiplin dalam mengelola kegiatan dalam pembagian kelompok harus adil yang mana yang aktif dan juga tidaknya semuanya dicampur agar kesamarataan untuk kelompok, penerapan nilai keadilan dapat terlihat dari keterbukaan Pembina dalam membentuk kelompok tanpa membeda-bedakan susunan, serta tingkat toleransi anggota Pramuka terhadap pendapat temanya (Indri, 2021). V. KESIMPULAN DAN SARAN Implementasi Pancasila di sekolah pada dasarnya harus ada pengarahan mengenai pembentukan karakter siswa yang memiliki rasa cinta tanah air, toleransi, menjunjung nilai kebhinnekaan, beretika 5 S , dan bertanggung jawab. Sehingga dapat menghasilkan