ANALISIS PENYEBAB ANAK PUTUS SEKOLAH BAGI KELUARGA MISKIN
Full text
LINDAYASOS: Jurnal Ilmiah Perlindungan dan Pemberdayaan Sosial Vol. 4 No. 1, Juni 2022 76 ANALISIS PENYEBAB ANAK PUTUS SEKOLAH BAGI KELUARGA MISKIN (Studi Kasus Anak Usia Sekolah Pada Keluarga Miskin di Kampung Lio Kota Depok) Ahmad Yaneri Poltekesos Bandung, [email protected] Nike Vonika Poltekesos Bandung, [email protected] Vivi Suviani Poltekesos Bandung, [email protected] Abstract Dropout is a condition where students cannot complete their learning program before the time is over or students do not finish their study program. However, the number of dropout cases can result in the low education of a nation and will affect the Human Development Index (HDI) ranking or the human development index. This study aims to identify and explain what factors cause children to drop out of school. The factors that influence children dropping out of school according to Baharuddin (1982), Dalyono (2008) and Johnston and Rivera (in Beder, 1990) are: Internal factors consisting of: a). Intelligence; b). Motivation; c). Level of Awareness; d). Dislike School. And external factors consisting of economics, school factors, and socio-cultural (society). There were 9 informants in this study. Three children drop out of school, Three parents drop out of school, Two teachers, One principal. Data collection techniques used are observation, interviews and documentation studies. The results showed that of the four internal factors that caused children or students to drop out of school, the most dominant factor was the factor of not liking school because they felt ostracized by their friends, making them uncomfortable in the school environment. Meanwhile, of the three external factors related to the cause of children or students dropping out of school, the school factor. The results of the analysis of problems and needs need attention from the government, schools and parents in developing children's abilities through formal education. Keywords: Factors that cause school dropouts, poor families. Abstrak Putus sekolah adalah suatu keadaan dimana murid tidak dapat menyelesaikan program belajarnya sebelum waktunya selesai atau murid tidak tamat menyelesaikan program belajarnya. Namun banyaknya kasus putus sekolah dapat mengakibatkan rendahnya pendidikan suatu bangsa dan akan berpengaruh terhadap peringkat Human Development Index (HDI) atau indeks pembangunan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan anak – anak putus sekolah. FaktorFaktor yang mempengaruhi anak putus sekolah menurut pendapat Baharuddin (1982), Dalyono (2008) dan Johnston dan Rivera (dalam Beder, 1990) adalah: Faktor internal yang terdiri dari : a). Intelegensi; b). Motivasi; c). Tingkat Kesadaran; d). Tidak Menyukai Sekolah. Dan faktor eskternal yang terdiri dari ekonomi, faktor sekolah, dan sosial budaya (masyarakat). Informan dalam penelitian ini berjumlah 9 orang. Tiga anak putus sekolah, Tiga orang tua anak putus sekolah, Dua orang guru, Satu orang kepala sekolah. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari keempat faktor internal yang menjadi penyebab anak atau peserta didik putus sekolah faktor yang paling dominan
LINDAYASOS: Jurnal Ilmiah Perlindungan dan Pemberdayaan Sosial Vol. 4 No. 1, Juni 2022 77 adalah faktor tidak menyukai sekolah karena merasa dikucilkan oleh teman-teman sehingga membuat mereka tidak nyaman berada di lingkungan sekolah. Sedangkan dari ketiga faktor eksternal yang berhubungan dengan penyebab anak atau peserta didik putus sekolah adalah faktor sekolah. Hasil analisis masalah dan kebutuhan perlu perhatian dari pemerintah, sekolah dan orangtua dalam mengembangkan kemampuan anak melalui pendidikan formal. Kata Kunci: Faktor Penyebab , Anak Putus Sekolah, Keluarga Miskin. PENDAHULUAN Salah satu sektor penting yang secara langsung memberikan kontribusi besar dalam mengembangkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) adalah sektor pendidikan. Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan suatu keharusan bagi sebuah bangsa di era globalisasi. Salah satu wahana untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas adalah bidang pendidikan. Dalam Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 pasal 3 tentang dasar, fungsi dan tujuan, secara tegas disebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta perabapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Maka untuk itulah pendidikan mengalami perubahan sepanjang waktu, oleh karena itu pendidikan tidak mengenal akhir atau pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting untuk membangun suatu negara. Pemberian pendidikan formal, non formal maupun informal dari usia dini bisa menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas pada masa yang akan datang dan diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam berbagai aspek kehidupan untuk kemajuan negara. Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu keharusan bagi setiap manusia secara keseluruhan. Setiap manusia berhak mendapatkan atau memperoleh pendidikan, baik secara formal, informal maupun non formal, sehingga pada gilirannya ia akan memiliki mental, akhlak, moral dan fisik yang kuat serta menjadi manusia yang berbudaya tinggi dalam melaksanakan tugas, kewajiban dan tanggung jawabnya di dalam masyarakat. Daoed Joesoef (dalam Sindhunata 2001:15) mengemukakan bahwa suatu pembangunan nasional tidak hanya tergantung pada sumbersumber dan kekayaan alam yang terkandung oleh bangsa yang bersangkutan, antara daratan dan lautan suatu negara dengan pendapatan perkapita yang dimiliki rakyatnya, terdapat suatu variabel penting yang menghubungkan keduanya, variabel tersebut adalah pendidikan. Tidak heran banyak negara di dunia menganggarkan dana yang besar untuk pendidikan. Indonesia sendiri sejak tahun 2009 telah mengganggarkan 20% dari APBN untuk bidang pendidikan. Hal tersebut menunjukkan betapa pemerintah Indonesia sangat memperhatikan bidang pendidikan. Hal ini tidak lepas karena pembangunan pendidikan memainkan peran kunci dalam strategi penanggulangan kemiskinan melalui perluasan akses dan kesempatan untuk mengikuti pendidikan dasar dan program lanjutannya untuk menghasilkan lulusan yang dapat menjadi pekerja mandiri dan produktif dengan upah yang baik. Namun banyaknya kasus putus sekolah dapat mengakibatkan rendahnya pendidikan suatu
LINDAYASOS: Jurnal Ilmiah Perlindungan dan Pemberdayaan Sosial Vol. 4 No. 1, Juni 2022 78 bangsa dan akan berpengaruh terhadap peringkat Human Development Index (HDI) atau indeks pembangunan manusia, padahal peringkat HDI mencerminkan kualitas sumber daya manusia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara di seluruh dunia. HDI digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah Negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup. Masalah putus sekolah khususnya pada jenjang pendidikan dasar, tidak bekerja atau berpenghasilan tetap, dapat menjadi beban masyarakat bahkan dapat menjadi pengganggu ketentraman masyarakat. Hal ini dikarenakan kurangnya pendidikan atau pengalaman intelektual yang seharusnya bisa didapatkan di sekolah, serta tidak memiliki ketrampilan yang dapat menopang kehidupannya sehari-hari. Lebih-lebih bila mengalami frustasi dan merasa rendah diri tetapi bersikap overkompensasi, bisa menimbulkan gangguan-gangguan dalam masyarakat berupa perbuatan kenakalan yang bertentangan dengan norma-norma yang ada di masyarakat. Masalah putus sekolah bisa menimbulkan ekses dalam masyarakat, karena itu penanganannya menjadi tugas kita semua. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini bertujuan menggambarkan penyebab putus sekolah anak – anak dari keluarga miskin yang berlokasi di Kampung Lio, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok. Peneliti mencoba menguraikan masalah putus sekolah yang ada pada anak – anak dari keluarga miskin yang berlokasi di Kampung Lio, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok. Hal ini sebagaimana data yang dipublikasi di media massa mengenai tingkat putus sekolah di Depok. Di mana menurut Dinas Pendidikan Kota Depok, pada tahun 2018 lalu, ada sekitar 5.000 peserta didik terancam putus sekolah akibat biaya Umumnya mereka berasal dari keluarga miskin. Sementara itu pada tahun 2019 lalu, Wali Kota Depok, Mohammad Idris pada beberapa waktu yang lalu mengatakan, terdapat 1.500-1.700 pelajar di Depok terancam putus sekolah (https://monitor.co.id/2019/01/08/ferrybatara-kritik-pemerintah-kota-depok-soaltingginya-angka-putus-sekolah/). Sebenarnya tidak kurang perhatian pemerintah terhadap masalah putus sekolah, hal ini bisa dilihat dari banyaknya kebijakan yang coba di implementasikan pemerintah untuk menangani masalah putus sekolah, seperti kebijakan pemberian Bantuan Operasional Sekolah, Bantuan Beapeserta didik Miskin, Bantuan Beapeserta didik Bakat dan Prestasi, Kebijakan Sekolah Satu Atap, dan lain-lain. Namun mengapa masih saja ada peserta didik atau anak yang putus sekolah ? METODE Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Menurut Neuman, penelitian deskriptif adalah penelitian yang menyajikan suatu gambaran dari suatu keadaan, latar belakang sosial serta hubungan sosial (2006: 35). Sementara menurut Allen Rubin dan Babbie, penelitian kualitatif deskriptif berkaitan dengan penyampaian terhadap individu untuk dijelaskan, memberikan gambaran tentang lingkungan mereka yang lebih detail, interaksi, makna dan kehidupan sehari-hari (2008: 138).
LINDAYASOS: Jurnal Ilmiah Perlindungan dan Pemberdayaan Sosial Vol. 4 No. 1, Juni 2022 79 Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan 1. Wawancara Informan pada penelitian ini menggunakan teknik penarikan purposive sampling., dimana kriteria informan yang akan menjadi informan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut: a. Informan memiliki permasalahan dalam bidang pendidikan anggota keluarganya atau dirinya sendiri, seperti putus sekolah. Informan diantaranya; 3 anak putus sekolah dan 3 orangtua anak putus sekolah b. Informan merupakan kepala sekolah dan guru yang dapat memberikan informasi latar belakang peserta didiknya putus sekolah. 2. Observasi Menurut Creswell (2010), observasi merupakan teknik pengumpulan data yang menuntut adanya pengamatan dari peneliti baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap objek penelitian, untuk dapat menyajikan gambaran realistis perilaku atau kejaian, menjawab pertanyaan, membantu mengerti perilaku manusia, dan evaluasi. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan observasi dilakukan untuk memperkuat narasi dalam menganalisis data dengan melakukan pengamatan. HASIL PENELITIAN Faktor-Faktor Penyebab Putus Sekolah 1. Faktor Internal a. Intelegensi Semakin tinggi tingkat kecerdasan (Inteligensi) seorang anak atau peserta didik, maka akan semakin besar peluang mereka untuk meraih kesuksesan. Sebaliknya semakin rendah kemampuan inteligensi anak atau peserta didik, maka akan semakin kecil peluangnya untuk memperoleh sukses. Sehingga anak atau peserta didik yang mempunyai inteligensi yang rendah akan merasa tertekan karena tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Sehingga membuat mereka menjadi merasa tidak nyaman berada dilingkungan sekolah dan pada akhirnya mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan studi mereka. b. Motivasi Tidak semua anak atau peserta didik yang putus sekolah bermalas-malasan atau tidak mempunyai motivasi untuk sekolah. Akan tetapi ternyata mereka mempunyai alasan sendiri kenapa mereka tidak mau sekolah, salah satu contohnya adalah Fauzi yang memutuskan untuk putus sekolah dikarenakan adanya sikap dari salah seorang guru yang tidak suka kepadanya dan kemudian menjadikan ia sebagai kambing hitam dalam setiap keributan di sekolah. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi karena seorang guru mempunyai kewajiban untuk mendidik anak-anaknya menjadi lebih baik, dan bukan sebaliknya. Selain itu dari pihak sekolah seharusnya juga dapat menggali informasi yang lebih dalam mengenai penyebab anak atau peserta didik sering tidak masuk ke sekolah, sehingga dapat dicarikan solusi atau pemecahan masalah dan pada akhirnya angka anak atau peserta didik putus sekolah di sekolah tersebut khususnya dapat lebih ditekan. c. Tingkat Kesadaran Peserta Didik Untuk dapat meningkatkan kesadaran anak atau peserta didik untuk tetap sekolah diperlukan dukungan dan dorongan orang tua. Dimana apabila orang tua peduli terhadap pendidikan anak-anaknya pasti mereka akan terus memotivasi anak supaya tetap melanjutkan sekolah. Sebaliknya bila orang tua tidak peduli terhadap pendidikan anaknya maka mereka tidak ada motivasi untuk terus melanjutkan sekolah.
LINDAYASOS: Jurnal Ilmiah Perlindungan dan Pemberdayaan Sosial Vol. 4 No. 1, Juni 2022 80 Perlu adanya kerjasama dan perhatian yang baik antara pihak sekolah (kepala sekolah dan guru) serta pihak keluarga atau orang tua dalam memberikan perhatian kepada anak atau peserta didik supaya mereka dapat termotivasi di dalam belajar demi tercapainya cita-cita yang mereka inginkan. Sehingga membuat mereka merasa nyaman dan tidak sendirian. Hal ini akan dapat membuat para anak atau peserta didik merasa diperhatikan dan dihargai yang pada akhirnya akan termotivasi di dalam belajar dan kesadaran untuk belajar sehingga dapat menekan angka anak atau peserta didik putus sekolah di Indonesia. d. Faktor Tidak Menyukai Sekolah Fasilitas yang cukup yang dimiliki oleh sekolah memang sangat mendukung bagi proses belajar mengajar peserta didik. Sehingga seharusnya dapat menjadi media bagi lancarnya proses belajar mengajar di sekolah tersebut. Akan tetapi belum menjadi faktor yang dapat menekan angka anak atau peserta didik putus sekolah. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah sikap dari para guru agar jangan sampai terlihat pilih kasih kepada anak atau peserta didik yang satu dengan anak atau peserta didik yang lainnya. Karena hal ini akan mengakibatkan dampak negatif bagi perkembangan psikologi anak atau peserta didik, dimana akan terbawa terus sampai anak atau peserta didik tersebut menjadi dewasa. Sedangkan mengenai banyaknya tugas atau pekerjaan rumah dan lamanya jam pelajaran adalah merupakan standar kewajiban yang harus ditaati oleh anak atau peserta didik dan seharusnya mereka dapat menerima itu sebagai tugas belajar bukan merupakan beban yang harus ditanggung, dan peranan ataupun perhatian orang tua sangat penting pada situasi ini. 2. Faktor Eksternal a. Faktor Ekonomi Biaya atau faktor ekonomi bukan menjadi penyebab anak atau peserta didik putus sekolah, karena seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa sekolah sekarang gratis, dan tidak diperbolehkan memungut iuran dari orang tua anak atau peserta didik secara paksa, tetapi orangtua yang merasa mampu tetap bisa memberikan sumbangan yang tidak mengikat kepada sekolah, selama diberikan secara sukarela, tidak terikat waktu, tidak ditetapkan jumlahnya, dan tidak ada intimidasi bagi yang tidak menyumbang. Disamping itu untuk kebutuhan sekolah yang bersifat pribadi para orang tua yang telah diwawancarai merasa bahwa mereka cukup mampu untuk membiayai kebutuhan sekolah anaknya. b. Faktor Sekolah Metode mengajar dan materi-materi pelajaran yang disampaikan oleh para guru cukup bisa diterima oleh informan. Kurikulum yang kurang baik berpengaruh tidak baik terhadap pendidikan peserta didik. Kurikulum yang terlalu padat , di luar kemampuan peserta didik bisa berakibat fatal pada perkembangan pendidikan peserta didik, hal ini memungkinkan anak atau peserta didik tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik, membuat anak atau peserta didik merasa tertekan, dan malas untuk belajar. Relasi antara siswa dan guru memungkinkan dampak yang akan muncul dari kekerasan akan melahirkan pesimisme dan apatisme dalam sebuah generasi. Selain itu terjadi proses ketakutan dalam diri anak untuk menciptakan ide-ide yang inovatif dan inventif. Kepincangan psikologis ini dapat dilihat pada anak-anak sekolah saat ini yang cenderung pasif dan takut berbicara dimuka kelas, bolos ketika guru galak mengajar. Sedangkan hubungan siswa dengan siswa
LINDAYASOS: Jurnal Ilmiah Perlindungan dan Pemberdayaan Sosial Vol. 4 No. 1, Juni 2022 81 lainnya, anak-anak ini dapat memupuk kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri untuk mencapai tujuan interpersonalnya, sehingga tidak akan mudah merasa kecewa dengan pasang/surutnya interaksi sosial. Halhal tersebut berimplikasi terhadap kemampuan penyesuaian sosial dan profesionalnya di kemudian hari. c. Faktor Sosial Budaya Peserta didik yang bergaul dengan temantemannya yang tidak sekolah atau putus sekolah akan terpengaruh dengan mereka dan bisa mengikuti jejak mereka. Pengaruhpengaruh dari teman bergaul lebih cepat masuk dalam jiwa anak dari pada yang kita duga. Teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik terhadap diri si anak, begitu pula sebaliknya teman bergaul yang tidak baik, berpengaruh buruk terhadap diri si anak. PEMBAHASAN Faktor-Faktor Penyebab Anak Putus Sekolah 1. Faktor Internal a. Intelegensi Spearmen dan Wynn mengemukakan adanya konsep lama mengenai suatu kekuatan (power) yang dapat melengkapi akal pikiran manusia tunggal pengetahuan sejati. David Wechsler (dalam Dalyono, 2008) memberikan definisi inteligensi sebagai kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Dilihat dari faktor tingkat inteligensi (kepandaian) sebenarnya Fauzi, Fajar, dan Yulianto yang memilih untuk putus sekolah mempunyai tingkat inteligensi (kepandaian) yang cukup, dalam artian tidak terlalu pintar atau sebaliknya tidak bodoh. Sehingga sebenarnya apabila mereka lebih rajin dalam belajar maka potensi untuk memutuskan sekolah adalah kecil, tetapi karena mereka malas untuk berangkat ke sekolah dikarenakan mereka lebih banyak bermain game online dan sering tidur larut malam sehingga menyebabkan mereka tidak bersemangat atau bahkan malas untuk berangkat ke sekolah meskipun ada juga beberapa diantara anak atau peserta didik tersebut yang masih mau berangkat ke sekolah. Berdasarkan teori dan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Intelegensi cukup berpengaruh pada anak putus sekolah, karena prestasi belajar yang ditampilkan anak atau peserta didik mempunyai kaitan yang erat dengan tingkat kecerdasan yang dimiliki anak atau peserta didik. Hal pertama yang ingin diketahui oleh peneliti adalah tentang bagaimana faktor tingkat inteligensi mempengaruhi anak atau peserta didik putus sekolah. Berkenaan dengan tingkat inteligensi, peneliti mendapatkan informasi dari Bapak Mulyono yang merupakan Kepala Sekolah dimana dulu informan peneliti (Fauzi, Fajar, dan Yulianto) bersekolah disana. b. Motivasi Motivasi merupakan kehendak untuk meningkatkan ke arah tercapainya tujuan seseorang, dengan syarat bahwa upaya tersebut mampu memuaskan beberapa kebutuhan individu yang bersangkutan (Wlodkowski dan Jaynes, 2004). Motivasi timbul karena adanya keinginan atau kebutuhan-kebutuhan dalam diri seseorang dan motivasi belajar setiap orang, satu dengan lainnya tidak sama, tergantung dari apa yang diinginkan orang yang bersangkutan. Budaya bermalas-malasan sering ditemukan pada nanak atau peserta didik saat berada di lingkungan sekolah Kampung Lio, hal ini dikemukakan oleh Kepala Sekolah Pak
LINDAYASOS: Jurnal Ilmiah Perlindungan dan Pemberdayaan Sosial Vol. 4 No. 1, Juni 2022 82 Mulyono, hal ini dibuktikan bahwa motivasi anak sangat berpengaruh pada kondisi putus sekolah. Ibu Sumarti juga mengatakan bahwa motivasi Fauzi, Fajar, dan Yulianto putus sekolah dalam mengikuti pelajaran di kelas adalah kurang, meskipun ia tidak mengetahui pasti penyebab rendahnya motivasi mereka saat mengikuti pelajaran, ia mengemukakan bahwa faktor di luar lingkungan sekolah yang membentuk motivasi mereka. Menurutnya sebenarnya putranya cukup sadar mengenai pentingnya sekolah buat masa depannya, akan tetapi sebagai orang tua sibuk mencari nafkah sehingga membuat perhatian terhadap putranya kurang dan pada akhirnya megakibatkan menurunnya motivasi anaknya untuk bersekolah. Selain itu anak Ibu Tri juga sering mengeluh mengenai sekolah yaitu tidak adanya kegiatan ekskul pecinta alam. Sehingga membuat Yulianto kurang bersemangat di sekolah. Hal ini dikarenakan Yulianto sangat senang mendaki gunung, sehingga membuat ia merasa tidak bisa menyalurkan minatnya. c. Tingkat Kesadaran Peserta Didik Tingkat kesadaran anak atau peserta didik dapat terwujud melalui sikap mereka. Tingkat kesadaran anak atau peserta didik sangat mempengaruhi mereka untuk tetap sekolah atau bahkan memilih untuk berhenti atau tidak melanjutkan sekolahnya. Dimana tingkat kesadaran ini juga bersumber dari motivasi anak atau peserta didik dalam belajar. Menurut Bapak Mulyono Kepala Sekolah informan, kesadaran Fauzi, Fajar, dan Yulianto yang putus sekolah di sekolahnya dikarenakan dalam mengikuti pelajaran di sekolah sangat rendah sekali. Meskipun dalam bersikap di sekolah selalu baik, tidak suka berbuat onar, tapi cenderung apatis, cuek terhadap pelajaran di sekolah, bahkan Bapak Mulyono sering mendapat laporan dari guru kelas mengenai mereka yang malas mengerjakan tugas-tugas yang telah diberikan oleh guru-guru mata pelajaran. Menurut ia, mereka tetap bermain seperti biasa bersama teman-teman yang lainnya, tapi bila menyangkut kegiatan belajar mengajar sikap mereka cuek. Sedangkan menurut Ibu Sumarti yang mengatakan bahwa Fauzi, Fajar, dan Yulianto yang putus sekolah sering bermalas-malasan saat mengikuti pelajaran di kelas. Karena ia sering mendapat laporan dari guru bidang studi tentang Fauzi, Fajar, dan Yulianto ketika masih menjadi peserta didik di sekolah ini anak tersebut selalu didapati mengantuk di dalam kelas. Selain itu kurangnya tingkat kesadaran dari Fauzi, Fajar, dan Yulianto yang putus sekolah karena tidak adanya motivasi untuk belajar. Untuk dapat meningkatkan kesadaran anak atau peserta didik untuk tetap sekolah diperlukan dukungan dan dorongan orang tua. Dimana apabila orang tua peduli terhadap pendidikan anak-anaknya pasti mereka akan terus memotivasi anak supaya tetap melanjutkan sekolah. Sebaliknya bila orang tua tidak peduli terhadap pendidikan anaknya maka mereka tidak ada motivasi untuk terus melanjutkan sekolah. Selain dari pihak sekolah, informasi mengenai tingkat kesadaran Fauzi, Fajar, dan Yulianto, peneliti peroleh dari Ibu Supriati. Ia mengatakan bahwa sebenarnya anaknya tetap ingin bersekolah, tetapi seperti yang telah dikatakan olehnya karena adanya sikap salah satu guru yang membeda-bedakan perlakuan terhadap peserta didik membuat putranya menjadi malas setiap ingin berangkat ke sekolah. Pendapat lain dikemukakan oleh
LINDAYASOS: Jurnal Ilmiah Perlindungan dan Pemberdayaan Sosial Vol. 4 No. 1, Juni 2022 83 Bapak Endang yang mengatakan bahwa pengaruh lingkungan di sekitar rumah yang sangat mempengaruhi anaknya untuk berangkat ke sekolah, dan kondisi yang terjadi saat ini lingkungan tempat mereka tinggal kurang kondusif atau mendukung membuat anaknya bermalas-malasan ke sekolah. Ibu Tri juga mengemukakan bahwa sebenarnya anaknya masih ingin berangkat ke sekolah akan tetapi terbentur dengan kesibukan mereka mencari nafkah sehingga kurang memperhatikan perkembangan pendidikan anaknya dan mengakibatkan anaknya merasa tidak mendapatkan perhatian dan pada akhirnya anaknya bermalas-malasan berangkat ke sekolah. d. Faktor Tidak Menyukai Sekolah Faktor tidak menyukai sekolah merupakan faktor internal terakhir yang dapat menyebabkan anak atau peserta didik memutuskan untuk terus sekolah atau putus sekolah. Faktor anak atau peserta didik tidak menyukai sekolah dapat timbul karena anak atau peserta didik mempunyai pengalaman atau perlakuan yang tidak menyenangkan selama di sekolah ataupun di lingkungan luar sekolah meskipun ada kemungkinan hal lain yang dapat menimbulkan hal tersebut. Pengalaman dan perlakuan yang tidak menyenangkan yang dialami Fauzi tentu sedikit banyak akan berpengaruh terhadap ketidaksukaannya pergi ke sekolah. Karena bila ia pergi ke sekolah besar kemungkinan ia akan menerima perlakuan yang tidak menyenangkan lagi dari teman-teman dan gurunya. Tidak bisa dipungkiri rasa nyaman ketika berada di sekolah sangat berpengaruh terhadap tidak atau sukanya Fauzi untuk belajar di sekolah. Hal senada juga dikemukakan oleh Ibu Supriati, sebagai orang tua dari Fauzi, ia mengemukaan bahwa anaknya merasa tidak nyaman berada disekolah dan pada akhirnya tidak menyukai sekolah adalah karena adanya perlakuan guru yang membeda-bedakan peserta didik dan anaknya sering diperlakukan sebagai kambing hitam di sekolah bila ada keributan, karena anaknya pernah sekali tinggal kelas. Hal tersebut tentu saja berdampak negatif bagi perkembangan psikologi Fauzi. Sehingga membuat Fauzi tidak nyaman berada di lingkungan sekolah dan pada akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah. Dalam hal ini seharusnya pihak sekolah lebih memperhatikan kondisi peserta didiknya yang merasa diperlakukan tidak adil oleh salah seorang guru. Informasi lain mengenai faktor Fauzi, Fajar, dan Yulianto tidak menyukai sekolah yang peneliti dapatkan adalah dari Bapak Endang yang mengemukakan bahwa putranya menjadi tidak menyukai sekolah karena banyaknya pekerjaan rumah dan ulangan mendadak yang diadakan oleh guru. Hal senada juga diungkapkan oleh Ibu Tri, ia mengemukakan bahwa anaknya tidak menyukai sekolah adalah karena jam pelajaran yang terlalu lama dan banyaknya tugas-tugas yang diberikan oleh guru bidang studi. Untuk masalah tugas dari sekolah, sebenarnya tidak bisa dijadikan alasan anak atau peserta didik untuk tidak menyukai. Karena sudah menjadi kewajiban seorang peserta didik untuk belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah yang telah diberikan oleh guru mereka. Ketika faktor tidak menyukai sekolah menjadi salah satu penyebab anak atau peserta didik putus sekolah, peneliti mendapatkan informasi dari Fajar dan Yulianto, tentang alasan mereka tidak menyukai sekolah dan memutuskan untuk berhenti sekolah. Adapun menurut Fajar ia memutuskan untuk berhenti sekolah karena sudah malas dan tidak ada keinginan untuk sekolah lagi, dan takut dihukum oleh guru sehingga membuat ia memilih untuk putus sekolah dan bekerja supaya dapat membantu orang tuanya. Berbeda dengan Yulianto, ia
LINDAYASOS: Jurnal Ilmiah Perlindungan dan Pemberdayaan Sosial Vol. 4 No. 1, Juni 2022 84 mengatakan bahwa sudah malas untuk sekolah karena ia merasa tidak ada kegiatan di sekolah yang bisa menyalurkan minat dan bakatnya. 2. Faktor Eksternal a. Faktor Ekonomi Faktor ekonomi atau biaya berhubungan erat dengan pekerjaan dan penghasilan dari orang tua anak atau peserta didik. Faktor ini meliputi tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua dan pendapatan orang tua. Dimana hal ini menjadikan salah satu faktor dalam mempengaruhi anak atau peserta didik untuk tetap melanjutkan sekolah atau malah berhenti dari sekolahnya (putus sekolah). Kemiskinan karena tingkat pendidikan orang tua rendah merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan keterlantaran pemenuhan hak anak dalam bidang pendidikan formal. Sehingga anak mengalami putus sekolah, tingkat pendidikan orang tua berhubungan erat dengan cara pandang orang tua terhadap pendidikan anaknya. Orang tua yang tingkat pendidikannya tinggi biasanya juga mengharapkan tingkat pendidikan anaknya juga akan tinggi pula, namun sebaliknya bila tingkatan pendidikan orang tua yang rendah juga mempengaruhi tingkat pengetahuan anak dalam memperoleh pendidikan. Berbicara tentang tingkat pendidikan orang tua, dari hasil wawancara dengan Ibu Supriati didapat informasi bahwa anaknya hanya bersekolah sampai tingkat SD, Tetapi keinginan Ibu Supriati agar anaknya bersekolah minimal sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak didukung usahanya untuk terus memotivasi dan memberikan semangat agar anaknya terus bersekolah. Ketika anaknya mulai sering tidak masuk sekolah dan minta pindah sekolah, Ibu Supriati hanya membiarkannya saja, dengan alasan ia tidak tahu bagaimana mengurus surat-surat untuk pindah sekolah. Senada dengan Ibu Supriati, Ibu Tri juga meng-aminkan saja ketika anaknya sudah tidak mau sekolah lagi. Padahal Ibu Tri mengaku ingin melihat anaknya setidaknya lulus SMA. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Tri diketahui bahwa pendidikan terakhirnya adalah SMA. Peran orang tua dalam memajukan pendidikan anaknya sangat besar, meskipun pendidikan orang tua tidak tinggi, contohnya hanya lulusan SD. Diharapkan anak-anak tidak mengikuti jejak orang tuanya. Orang tua harus bisa mendorong anak-anaknya untuk terus bersekolah, minimal sampai jenjang pendidikan dasar, atau minimal lulus SMP. Hal ini tentu saja akan berguna untuk kepentingan anak di masa yang akan datang, terlebih bila anak mempunyai bekal ketrampilan khusus yang bisa berguna untuknya dalam mencari nafkah di masa yang akan datang. Selain tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua juga berkaitan dengan ekonomi keluarga. Dari hasil wawancara dengan orang tua anak atau peserta didik yang putus sekolah ditemukan bahwa meski pekerjaan mereka rata-rata sebagai pedagang dan buruh, namun mereka merasa mampu untuk menyekolahkan anaknya di jenjang SMP. Apalagi di sekolah tempat anak – anak mereka belajar itu gratis. Dimana sekolah sama sekali tidak memungut iuran dari anak atau peserta didik. Tetapi anak atau peserta didik hanya menyediakan keperluan pribadinya seperti tas, baju seragam, sepatu untuk bersekolah. Keadaan ekonomi keluarga sangat mempengaruhi pelaksanaan pendidikan anak di dalam keluarga, artinya apabila ekonomi keluarga sangat minim maka akan menuntut orang tuanya selalu berusaha mencari nafkah keluarga. Faktor ketidakmampuan membiayai