Character-Driven Strategies for Teaching the Indonesian Language in Islamic Higher Education
Full text
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Strategi Pembelajaran Bahasa (Fauziah) | 38-44 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 10, November 2025, P. 38-44 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17569034 Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Karakter di Perguruan Tinggi Agama Islam Character-Driven Strategies for Teaching the Indonesian Language in Islamic Higher Education Fauziah STAI Al-Azhar Gowa email: [email protected] Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh status mata kuliah bahasa Indonesia sebagai MKWU di perguruan tinggi Agama Islam sehingga memilik peran strategis dalam membentuk kecakapan literasi mahasiswa sekaligus penguatan karakter islami. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis pendidikan karakter di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). Dengan menggunakan metode penelitian pustaka, kajian ini mengidentifikasi strategi pembelajaran yang dapat mengintegrasikan nilai-nilai karakter keislaman dan nasional dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia di PTAI bukan hanya sarana peningkatan kompetensi berbahasa akademik, tetapi juga media internalisasi nilai-nilai moral, religius, dan kebangsaan. Strategi pembelajaran yang efektif meliputi langkah-langkah: (1) menyusun perencanaan secara utuh (2) Menyusun strategi pembelajaran berbasis karakter pada setiap alur pembelajaran (3) menyusun bahan ajar (4) menentukan media dan (5) merancang evaluasi yang keseluruhan langkah tersebut mengaplikasikan pendidikan karakter dan mengambil inspirasi dari nilai-nilai Islam yang relevan. Kesimpulannya, implementasi strategi pembelajaran berbasis karakter dalam mata kuliah Bahasa Indonesia di PTAI berpotensi mencetak lulusan yang cerdas, berkarakter, dan berkepribadian islami. Kata kunci: Bahasa Indonesia; Pendidikan Karakter; Strategi Pembelajaran; PTAI Abstract This research is motivated by the status of the Indonesian Language subject as a General Compulsory University Course (MKWU) in Islamic higher education institutions, which therefore plays a strategic role in developing students’ literacy skills while strengthening Islamic character. The study aims to examine character education– based learning strategies for the Indonesian Language subject in Islamic Higher Education Institutions (PTAI). Using a library research method, this study identifies learning strategies that integrate Islamic and national character values into Indonesian language instruction. The results show that Indonesian language learning in PTAI is not only a means of enhancing academic language competence but also serves as a medium for the internalization of moral, religious, and national values. Effective learning strategies include the following steps: (1) developing comprehensive lesson planning, (2) designing character-based learning strategies in each learning stage, (3) preparing instructional materials, (4) selecting appropriate media, and (5) designing assessments, all of which apply character education principles inspired by relevant Islamic values. In conclusion, the implementation of character-based learning strategies in the Indonesian Language course at PTAI has the potential to produce graduates who are intelligent, virtuous, and possess strong Islamic character. Keywords: Indonesian Language; Character Education; Learning Strategies; Islamic Higher Education Institutions (PTAI) Article Info Received date: 25 Oktober 2025 Revised date: 29 Oktober 2025 Accepted date: 08 November 2025 PENDAHULUAN Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi menetapkan bahwa Bahasa Indonesia bersama tiga mata kuliah lainnya yaitu Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila, dan
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Strategi Pembelajaran Bahasa (Fauziah) | 38-44 Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata kuliah wajib umum (MKWU). Hal tersebut juga termaktub dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi dan menjadi dasar hukum keberadaan MKWU pada semua perguruan tinggi baik perguruan tinggu umum maupun perguruan tinggi keagamaan. Mata kuliah bahasa Indonesia dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) Nomor 118/M/2024 tentang Capaian Pembelajaran Lulusan dan Panduan MKWU diamanatkan untuk membentuk kemampuan literasi akademik, menulis ilmiah, dan komunikasi efektif. Hal itu menjadi tantangan bagi dosen bahasa Indonesia untuk memenuhi capaian pembelajaran yang dimaksudkan apalagi jika diintegrasikan dengan konsep pembentukan karakter dalam proses pembelajaran. Pendidikan karakter merupakan amanat Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menujadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Secara operasional, konsep ini mulai dicanangkan pada masa pemerintahan Presiden Soesila Bambang Yudhoyono pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2010. 1 Sudah seharusnya komitmen menyelenggarakan pendidikan karakter dikawal oleh semua pendidik hingga saat ini. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengimplementasikan tiga tahapan yakni pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit) dengan menggunakan tiga komponen karakter yang yang baik (components of good characters) yakni pengetahuan tentang moral (moral knowing), penguatan emosi atau perasaan (moral feelings), dan perbuatan bermoral (moral action). 2 Olehnya itu, pembelajaran berbasis pendidikan karakter di perguruan tinggi adalah pembelajaran yang tidak sekedar mengajarkan konsep dan teori yang sekedar membuat mahasiswa menjadi paham tetapi juga menyiapkan strategi pembelajaran yang membuat mahasiswa melanjutkan tahapan pengetahuan ke tahapan aplikasi dan habituasi nilai-nilai kebaikan. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai mata kuliah wajib umum secara otomotis mengondisikan setiap mahasiswa harus mengikuti mata kuliah tersebut apapun jurusannya dan diprogramkan pada semester awal. Hal tersebut menjadikan mata kuliah bahasa Indonesia pada posisi sangat ideal untuk membentuk karakter mahasiswa secara keseluruhan sejak awal bergabung di kampus. Namun kenyataannya, fakta di lapangan menunjukkan bahwa mata kuliah Bahasa Indonesia kadang dipandang sebelah mata, sekadar ilmu alat untuk bisa belajar dengan baik, tanpa ada muatan nilai di dalamnya. Padahal jika hakikatnya dikaji lebih dalam, pembelajaran bahasa Indonesia dapat menjadi katalisator pendidikan karakter di kampus, termasuk pada kampus keagamaan. Untuk mewujudkan pendidikan karakter melalui pembelajaran mata kuliah bahasa Indonesia terutama di perguruan tinggi agama Islam diperlukan strategi yang paling tepat untuk diterapkan sesuai tujuan, waktu dan sumber daya yang dimiliki. Berdasarkan hal tersebut, peneliti merumuskan penelitian dengan mengkaji strategi pembelajaran bahasa Indonesia berbasis pendidikan karakter di perguruan tinggi agama Islam. METODE Peneliti menerapkan metode penelitian pustaka atau penelitian kepustakaan. Metode ini dilakukan dengan cara menginventarisir data dari sumber-sumber tertulis seperti buku, artikel ilmiah 1 Fathul Muin, Pendidikan Karakter; Perspektif Teoretis dan Gagasan Praktis, Kedua (Rev (Banjarbaru: Scripta Cendekia, 2019). 2 M.Ag. Dr. Heri Gunawan, S.Pd.I., Pendidikan Karakterl; Konsep dan Implementasi (Bandung: Alfabeta, 2022).
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Strategi Pembelajaran Bahasa (Fauziah) | 38-44 yang bersumber dari jurnal ilmiah sebagai sumber utama informasi yang menjadi pendukung penelitian pada kajian tertentu. Metode ini lazim digunakan oleh peneliti dalam penelitian ilmiah untuk menyusun artikel sesuai topik yang diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Perguruan Tinggi Agama Islam Sejarah Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) di Indonesia bermula sejak masa kolonial Belanda dan Jepang. Meski menghadapi tekanan dan diskriminasi terutama dalam hal pendidikan, muslim bangsa Indonesia terus menyimpan harapan. Pemuka agama seperti tokoh Muhammadiyah, Dr. Satiman telah merintis dengan memulai pendirian sekolah tinggi agama Islam pada 1930-an. Lalu berdiri pula Sekolah Islam Tinggi di Padang oleh Muhammad Yunus pada 1940 meskipun kemudian ditutup saat pendudukan Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan, PTAI akhirnya berkembang sebagai lembaga pendidikan tinggi berbasis Islam yang menjadi salah satu elemen perjuangan bangsa Indonesia melalui penguatan intelektual dan spiritual yang menjadi simbol semangat keagamaan, pengembangan ilmu pengetahuan, dakwah, dan kaderisasi ulama di Indonesia. 3 Pada April 1945, gabungan organisasi-organisasi Islam yang membentuk Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) mendiri PTI (Perguruan Tinggi Islam) yang kemudian bertransformasi menjadi UII (Univeristas Islam Indonesia) yang bertempat di Yogyakarta. UII inilah yang menjadi cikal bakal kelahiran PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri), melalui salah satu fakultasnya, yakni fakultas agama Islam. Fakultas tersebut diambil alih oleh negara pada 26 September 1951 dan berdiri sendiri menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam di bawah pengawasan Kementerian Agama Republik Indonesia. 4 Demikian seterusnya PTAI mengalami perkembangan yang cukup dinamis dari IAIN (Institut Agama Islan Negeri), STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) dan UIN (Universitas Islam Negeri) serta serta lembaga pendidikan serupa yang dikelola oleh swasta. Saat ini, PTAI di Indonesia diharapkan menjadi lembaga pendidikan tinggi yang adaptif dan dinamis dalam merespon perkembangan zaman dengan tanpa kehilangan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang memiliki komitmen terhadap pengembangan nilai-nilai Islam baik secara lokal maupun global. 5 Harapan umat Islam atas sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam sejak masa kolonial nyaris tak berubah, terutama dalam mengemban fungsinya sebagai lembaga pendidikan tinggi yang membangun intelektualitas sekaligus internalisasi nilai-nilai keislaman sehingga dapat menyuplai masyarakat muslim terpelajar bagi negara ini. Maka penting bagi pihak-pihak yang berkompeten untuk menjaga dan mewarisi harapan baik tersebut. Pendidikan Karakter Lickona menjelaskan bahwa pendidikan karakter merupakan sebuah upaya sadar dalam memberikan support kepada seseorang agar ia bisa memahami, peduli, dan melakukan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika yang utama seperti keterusterangan, responsibiltas dan kepedulian. Hal tersebut ia jelaskan dalam bukunya, “Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility.” 6 Pendidikan karakter tidak sekedar memberikan opsi baik atau buruk. 7 Hal itu disebabkan karena pendidikan karakter merupakan sebuah proses yang menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam benak peserta didik. Prosesnya tidak selesai hanya dengan waktu yang singkat dan sekali jadi. 3 Amiruddin, “DINAMIKA LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI ISLAM,” MIQAT XLI, no. 1 (2017): 98–117. 4 Amiruddin. 5 Muhammad Thoyib, “Model Integrasi Sains dan Agama dalam Perspektif J.F Haught dan M. Golshani: Landasan Filosofis Bagi Penguatan PTAI di Indonesia,” Akademika [JUrnal Pemikiran Islam] jil 18 no. (2013): 1–33. 6 Lickona, T. Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. (Bantam Books: 1991) 7 Haryanto. Pendidikan Karakter Menurut Ki Hajar Dewantara. Jurnal Cakrawala Pendidikan, Mei 2011, Th. XXX, 15-27. Edisi Khusus Dies Natalis UNY.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Strategi Pembelajaran Bahasa (Fauziah) | 38-44 Terdapat 18 nilai-nilai indikator pendidikan karakter yang ditetapkan oleh pemerintah yakni religius, kejujuran, toleransi, kedisiplinan, kerja keras, kreativitas, kemandirian, demokratis, semangat kebangsaan, cinta tanah air, afirmasi prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar literasi, peduli lingkungan dan tanggung jawab. 8 Untuk saat ini, pendidikan karakter menyesuaikan dengan kebutuhan era digital yang menuntut keselarasan antara teknologi dengan nilai moral. Dibutuhkan digital character literacy untuk menghadapi kondisi arus informasi yang sangat cepat dan signifikan dalam mempengaruhi perilaku peserta didik. 9 Pada jenjang pendidikan tinggi, perguruan tinggi mengambil peran dan fungsi dalam pemantapan karakter pada mahasiswa, agar mereka menjadi individu yang memiliki karakter yang matang dan pengetahuan yang memadai untuk siap menjadi warga masyarakat. Melalui pendidikan karakter diharapkan mahasiswa mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. 10 Olehnya itu, pendidikan karakter di perguruan tinggi bukan sekedar mengajarkan moralitas melainkan mendidikkan nilai kepada mahasiswa. Pengetahuan mahasiswa mengenai nilai-nilai kehidupan yang positif harus ditindaklanjuti dengan mengarahkan mereka untuk mengkaji dan mendalami konsepnya lalu mengimplementasikannya secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari hingga menjadi kebiasaan. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan sebagai bahasa negara memiliki fungsinya masing-masing. Sejak diresmikan sebagai bahasa nasional Indonesia pada peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan dan sebagai alat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai salah satu MKWU, mata kuliah bahasa Indonesia seharusnya disikapi dengan positif sebagai bagian dari usaha menjaga kedaulatan negara dengan harga diri bangsa yang melekat padanya. Pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi terutama diarahkan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar dengan mengaktivasi kemampuan berbahasa reseptif yakni menyimak dan membaca serta kemampuan berbahasa produktif yakni berbicara dan menulis. 11 Keempat keterampilan berbahasa tersebut diajarkan kepada mahasiswa hingga mampu mengimplementasikan fungsi bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi, sarana integrasi dan adaptasi, sarana ekspresi diri, sarana kontrol sosial, sarana observasi lingkungan sekitar, sarana berfikir logis, sarana untuk membangun kecerdasan, serta sarana menciptakan kreativitas baru, 12 Pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi seharusnya mengarahkan mahasiswa untuk mempelajari bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama dalam konteks bahasa akademik sambil melatih mengimplementasikan fungsinya sebagai sarana menginternalisasikan nilai-nilai dalam dirinya sebagai masyarakat terpelajar sehingga terbentuk karakter positif yang menjadi kebiasaan. 8 Syarbaini, Syahrial. Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi. Edisi Revisi. (Jakarta: Ghalia Indonesia: 2012) Tilaar, 9 Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter (Jakarta: Bumi Aksara, 2011) 10 Ana Mentari et al., “Implementasi Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi Implementation of Character Education in Higher Education” 10, no. 1 (n.d.). 11 Nurul Hidayah, Pembelajaran Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi (Yogyakarta: Garudhawaca, 2016) 12 Erisy Syawiril Ammah, & Sudarsri Lestari, Pembelajaran bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. (Banyuwangi: LPPM Institut Agama Islam Ibrahimy Genteng Banyuwangi, 2020)
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Strategi Pembelajaran Bahasa (Fauziah) | 38-44 Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia di PTAI Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang ditentukan oleh pendidik untuk digunakan dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan tujuan memudahkan peserta didik dalam memahami dan mengaplikasikan materi pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif dan efisien. 13 Strategi pembelajaran menjadi komponen yang harus disiapkan oleh pendidik, termasuk dosen agar pembelajaran menjadi kondusif, aktif, dan menyenangkan. Untuk itu, dosen harus memiliki penguasaan yang baik terhadap materi pembelajaran, merumuskan tujuan, memilih metode dan prosedur, pengelolaan kelas, penggunaan media, dan evaluasi yang tepat. 14 Merumuskan strategi pembelajaran yang akan diimplementasikan dalam pembelajaran secara efektif dan efisien harus dilakukan secara konseptual, menyeluruh, dan aplikatif. Penyusunan strategi pembelajaran dimulai dengan menentukan tujuan. Pada perguruan tinggi, sebagaimana mata kuliah lainnya, mata kuliah bahasa Indonesia dirumuskan tujuannya dengan terlebih dahulu memastikan profil lulusan dancapaian pembelajaran lulusan (CPL) lalu memastikan capaian mata kuliah sebelum dibuat menjadi RPS (Rencana Pembelajaran Semester) sehingga pembelajaran menjadi terarah dan terukur sesuai tujuan pembelajaran di perguruan tinggi. Rancangan pelaksanaan strategi pembelajaran bahasa Indonesia berbasis karakter pada PTAI dapat dibuat dengan langkah-langkah sebagai berikut. 1) Menyusun perencanaan secara utuh Langkah pertama ini merupakan penentu disain pembelajaran secara keseluruhan. Sebelum menyusun RPS (Rencana Pembelajaran Semester), penting bagi dosen untuk mengkaji terlebih dahulu item-item utama seperti profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan (CPL) dan capaian pembelajaran mata kuliah. Dosen juga harus menjadikan acuan misi paling urgen dalam mata kuliah bahasa Indonesia yakni menumbuhkan sikap mental akademisi yang mengapresiasi nilai-nilai bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa nasional. Selanjutnya perencanaan tersebut disusun dengan mengambil insipirasi dari AL-Quran yang memuat konsep nilai-nilai islami yang relevan dengan pembelajaran mata kuliah bahasa Indonesia. 2) Menyusun strategi pembelajaran berbasis karakter pada setiap alur pembelajaran RPS disusun dengan memperhatikan dan mengupayakan implementasi 18 karakter yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional yakni (1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat/komunikatif, (14) cinta damai, (15) gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, (18) tanggung jawab. Hal tersebut dilakukan dengan menyesuaikan tema atau sub tema materi dengan salah satu atau lebih dari satu nilai karakter yang relevan ke dalam rencana pertemuan dengan mengambil insipirasi dari nilai yang sama dalam Al-Quran atau hadis. Sebagai contoh, karakter bersahabat/komunikatif dapat dihadirkan pada materi Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia dengan mengambil inspirasi konsep taaruf (saling mengenal) dari Al-Quran dan konsep tabassam (tersenyum kepada orang lain) dari hadis Rasulullah. Demikian pula dalam merancang pembelajaran materi penyusunan karya tulis ilmiah dapat diintegrasikan dengan penguatan karakter rasa ingin tahu dengan mengambil inspirasi dari Al-Quran terutama pada perintah untuk tafakkur (mencermati ciptaan Allah). 3) Menyusun bahan ajar 13 Nina Lamatenggo dan Universitas Negeri Gorontalo, “Prosiding Webinar Magister Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo ‘ Pengembangan Profesionalisme Guru Melalui Penulisan Karya Ilmiah Menuju Anak Merdeka Belajar ’ Gorontalo, 14 Juli 2020,” 2020, 22–42. 14 Dr. M. Sobry, Sutikno, Strategi Pembelajaran. (Indramayu: CV Adanu Abimata, 2020)
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Strategi Pembelajaran Bahasa (Fauziah) | 38-44 Setelah menyusun RPS, langkah berikutnya bagi dosen bahasa Indonesia di PTAI adalah menyusun bahan ajar. Pada dasarnya, bahan ajar mata kuliah telah disediakan oleh perguruan tinggi. Namun, untuk mengintegrasikan pendidikan karakter, dosen dapat memodifikasinya menjadi lebih kaya dengan internalisasi nilai-nilai keislaman. Mahasiswa PTAI pada dasarnya dituntut untuk sesegera mungkin menghadirkan profil mahasiswa muslim yang mengaplikasikan nilai-nilai Islam pada dirinya. salah satu cara yang dapat mendukung hal tersebut adalah interaksi dengan mata kuliah yang mengondisikannya untuk belajar materi mata kuliah sekaligus belajar menerapkan nilai-nilai Islam. Sisi inilah yang dapat dimanfaatkan oleh dosen bahasa Indonesia di PTAI. Kuliah bahasa Indonesia, mempelajari materi bahasa Indonesia dengan menegakkan pengaplikasian nilai-nilai Islam dalam setiap prosesnya seperti memulai kuliah dengan berdoa, menyimak kuliah dengan mengaplikasikan adabul mua’llim wal muta’allim (adab guru dan murid), dan sebagainya. 4) Menentukan media Menentukan media pembelajaran yang tepat merupakan salah satu item penting dalam mencapai tujuan pembelajaran. tahapan ini sangat tergantung pada tahap sebelumnya karena berkaitan dengan tujuan dan materi pembelajaran. Dosen sebaiknya memilih media pembelajaran yang memberikan ruang aktif kepada mahasiswa secara lebih mandiri namun dibingkai dengan regulasi-regulasi penggunaan media yang terinspirasi dari aturan-aturan dalam Al-Quran dan Sunnah. Misalnya materi penulisan karya ilmiah dengan menggunaan media internet untuk menemukan referensi yang tepat dibingkai dengan aturan tidak boleh plagiat sebagai bentuk pendidikan karakter kejujuran dan gemar membaca dan mengambil inspirasi dari Al-Quran dan Sunnah misalnya konsep larangan berbohong dan perintah “iqro”. 5) Menentukan evaluasi Output mata kuliah bahasa Indonesia adalah menghasilkan mahasiswa yang dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan. Evaluasi mata kuliah bahasa Indonesia dilakukan dengan menilai dua jenis produk tersebut yakni produk berbahasa lisan misalnya presentasi, diskusi, public speaking, dan sebagainya serta produk bahasa tulisan seperti karya tulis ilmiah. Penyusun produk bahasa lisan dan tulisan yang dilakukan oleh mahasiswa untuk dinilai oleh dosen dapat dilakukan sekaligus dengan menerapkan pendidikan karakter. Misalnya pengaplikasian nilai kreatif dan mandiri sekaligus mengambil inspirasi konsep kemandirian dan kreativitas dari AlQuran dan Sunnah. SIMPULAN Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) memiliki peran penting dalam membentuk generasi muslim yang berilmu, berkarakter, dan berakhlak mulia. Sejak masa kolonial hingga era modern, PTAI telah menjadi wadah penguatan intelektual dan spiritual umat Islam serta sarana pengembangan pengembangan ilmu pengetahuan dan dakwah. Dalam konteks ini, pendidikan karakter di PTAI bukan sekadar pengajaran moral, tetapi merupakan proses internalisasi nilai-nilai Islam yang sejalan dengan 18 nilai karakter nasional untuk membentuk mahasiswa yang berintegritas, bertanggung jawab, dan mampu beradaptasi dengan tantangan era digital. Pembelajaran Bahasa Indonesia di PTAI tidak hanya berperan sebagai upaya peningkatan kemampuan komunikasi akademik mahasiswa, tetapi juga menjadi sarana penanaman nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Melalui strategi pembelajaran yang terencana dalam RPS, dosen diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam setiap aspek pembelajaran bahasa. Dengan demikian, integrasi antara pembelajaran bahasa, pendidikan karakter, dan nilai-nilai Islam di PTAI
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Strategi Pembelajaran Bahasa (Fauziah) | 38-44 diharapkan dapat melahirkan lulusan yang unggul karena cerdas intelektualnya, baik karakternya dan islami kepribadiannya. REFERENSI Amiruddin, “Dinamika Lembaga Pendidikan Tinggi Islam” Miqat XLI, no. 1 (2017) Ammah, Erisy Syawiril & Sudarsri Lestari, Pembelajaran bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. (Banyuwangi: LPPM Institut Agama Islam Ibrahimy Genteng Banyuwangi, 2020) Gunawan, Heri, Pendidikan Karakter; Konsep dan Implementasi. Bandung: Alfabeta, 2022. Haryanto, Pendidikan Karakter Menurut Ki Hajar Dewantara. Jurnal Cakrawala Pendidikan, Mei 2011, Th. XXX, 15-27. Edisi Khusus Dies Natalis UNY. Hidayah, Nurul, Pembelajaran Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi (Yogyakarta: Garudhawaca, 2016) Lamatenggo, Nina, dan Universitas Negeri Gorontalo. “Prosiding Webinar Magister Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo ‘ Pengembangan Profesionalisme Guru Melalui Penulisan Karya Ilmiah Menuju Anak Merdeka Belajar ’ Gorontalo, 14 Juli 2020” 2020, Lickona, T. Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. (Bantam Books: 1991) Mentari, Ana, Hermi Yanzi, Devi Sutrisno Putri, Prodi Ppkn, Universitas Lampung, Jl Prof, Ir Sumantri, dan Brojonegoro No. “Implementasi Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi (Implementation of Character Education in Higher Education)” 10, no. 1 (n.d.). Muin, Fathul. Pendidikan Karakter; Perspektif Teoretis dan Gagasan Praktis. Kedua (Rev. Banjarbaru: Scripta Cendekia, 2019. Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter (Jakarta: Bumi Aksara, 2011) M. Golshani: Landasan Filosofis Bagi Penguatan PTAI di Indonesia.” Akademika [JUrnal Pemikiran Islam] jil 18 no. (2013) Thoyib, Muhammad. “Model Integrasi Sains dan Agama dalam Perspektif J.F Haught dan M. Golshani: Landasan Filosofis Bagi Penguatan PTAI di Indonesia.” Akademika [Jurnal Pemikiran Islam] jil 18 no. (2013) Syarbaini, Syahrial. Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi. Edisi Revisi. (Jakarta: Ghalia Indonesia: 2012) Sutikno, Sobry Strategi Pembelajaran. (Indramayu: CV Adanu Abimata, 2020)