scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Optimalisasi Membaca Permulaan Siswa Kelas II SD Inpres Ndindibung Melalui Penggunaan Media Kartu Gambar–Kata Kontekstual

Nuhera Nuhera, Pamela Mikaresti

Full text

2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Optimalisasi Membaca Permulaan (Nuhera, dkk.) | 45-52 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 10, November 2025, P. 45-52 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17572251 Optimalisasi Membaca Permulaan Siswa Kelas II SD Inpres Ndindibung Melalui Penggunaan Media Kartu Gambar–Kata Kontekstual Enhancing Second Graders’ Early Reading Ability at SD Inpres Ndindibung Using Contextual Picture–Word Card Media Nuhera1, Pamela Mikaresti2 1,2 Program Studi PGSD, Universitas Terbuka email Korespondensi : n[email protected] Abstrak Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas II SD Inpres Ndindibung melalui penggunaan media kartu gambar–kata. Subjek penelitian berjumlah 22 siswa. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Instrumen penelitian terdiri atas lembar observasi keterlibatan, daftar cek kesalahan dekoding (substitusi, emisi, inversi), serta tes membaca yang menilai akurasi, kecepatan (kata per menit/kpm), dan pemahaman literal. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan ketuntasan belajar dari 45% (pra-tindakan) menjadi 77% (siklus I) dan 91% (siklus II). Kecepatan membaca meningkat dari 39 kpm menjadi 63 kpm, sementara akurasi naik dari 62,8% menjadi 83,4%. Hasil ini menunjukkan bahwa media kartu gambar–kata dapat memperkuat hubungan grafem–fonem dan memperkaya kosakata kontekstual, sehingga efektif dalam meningkatkan kelancaran membaca siswa. Temuan penelitian mendukung pentingnya pembelajaran fonik eksplisit, latihan membaca berulang terpandu, dan penggunaan dukungan visual dalam pengembangan kemampuan membaca permulaan. Kata kunci: membaca permulaan; kartu gambar–kata; pembelajaran fonik; kelancaran membaca; sekolah Dasar Abstract This classroom action research aims to improve the early reading skills of second-grade students at SD Inpres Ndindibung through the use of picture–word card media. The study involved 22 students as research subjects and was conducted in two cycles, each consisting of planning, implementation, observation, and reflection stages. The research instruments included an engagement observation sheet, a decoding error checklist (substitution, omission, inversion), and a reading test measuring accuracy, speed (words per minute/WPM), and literal comprehension.The findings revealed an increase in learning mastery from 45% (pre-action) to 77% (Cycle I) and 91% (Cycle II). Reading speed improved from 39 WPM to 63 WPM, while accuracy rose from 62.8% to 83.4%. These results indicate that the use of picture–word cards strengthens grapheme–phoneme connections and enriches contextual vocabulary, making it effective in enhancing students’ reading fluency. The findings highlight the importance of explicit phonics instruction, guided repeated reading, and visual supports in developing early reading abilities. Keywords: early reading; picture–word cards; phonics instruction; reading fluency; elementary school Article Info Received date: 25 Oktober 2025 Revised date: 29 Oktober 2025 Accepted date: 10 November 2025 PENDAHULUAN Kemampuan membaca permulaan merupakan salah satu kompetensi dasar yang sangat menentukan keberhasilan siswa dalam mengikuti seluruh proses pembelajaran di sekolah Dasar [1], [2], [3], [4], [5], [6]. Membaca tidak sekadar aktivitas mengenali lambang huruf, tetapi merupakan proses berpikir kompleks yang melibatkan keterampilan dekoding, kesadaran fonologis, kosakata, kelancaran, serta pemahaman makna teks. Siswa yang tidak menguasai kemampuan membaca pada fase awal akan 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Optimalisasi Membaca Permulaan (Nuhera, dkk.) | 45-52 mengalami kesulitan dalam memahami informasi tertulis pada mata pelajaran lain, sehingga berpotensi mengalami hambatan akademik jangka panjang. Dalam literatur pendidikan membaca mutakhir, para ahli menekankan bahwa pembelajaran membaca permulaan harus didasarkan pada pendekatan fonik eksplisit yang sistematis, yakni pengajaran hubungan bunyi–huruf secara bertahap dan berurutan sesuai perkembangan fonologis anak [7], [8], [9], [10]. Pendekatan fonik eksplisit ini terbukti mempercepat kemampuan dekoding dan mengenali pola suku kata (CVC, CCV, dan CVCV), serta meminimalkan kesalahan membaca seperti substitusi dan inversi huruf. Selain aspek fonik, kelancaran membaca (reading fluency) juga menjadi indikator penting dalam membaca permulaan. Kelancaran mencakup kecepatan, akurasi, dan ekspresi (prosodi) dalam membaca teks. Menurut Rasinski (2021), kelancaran merupakan jembatan antara pengenalan kata dan pemahaman bacaan. Penelitian meta-analisis oleh Lee dan Yoon (2017) serta kajian ulang oleh Hudson et al. (2020) menunjukkan bahwa strategi guided reading dan repeated reading secara signifikan meningkatkan kelancaran dan pemahaman bacaan siswa kelas rendah. Siswa yang terbiasa membaca secara berulang dengan bimbingan guru cenderung mengalami peningkatan kecepatan membaca (kata per menit) tanpa kehilangan akurasi [10]. Dalam konteks Indonesia, tantangan membaca permulaan masih cukup besar, khususnya di wilayah dengan keterbatasan sumber daya dan media belajar yang kontekstual. Data asesmen nasional (Kemendikbudristek, 2023) menunjukkan masih banyak siswa kelas awal yang belum mencapai kompetensi literasi minimum. Beberapa faktor penyebabnya antara lain kurangnya variasi media pembelajaran, minimnya latihan membaca terpandu, serta rendahnya perhatian terhadap tahapan fonologis dan ortografis anak. Oleh karena itu, guru kelas awal perlu mengembangkan media yang konkret, menarik, dan sesuai dengan konteks lingkungan siswa. Salah satu media yang terbukti efektif untuk mendukung pemerolehan kemampuan membaca permulaan adalah kartu gambar–kata (picture–word cards) [11], [12], [13], [14], [15]. Media ini menyajikan pasangan gambar dan kata yang saling berhubungan, sehingga membantu siswa memetakan grafem–fonem serta memahami makna kata secara visual (Ernawati, Raharjo, & Sugiyo, 2021). Studi terbaru oleh Hidayati et al. (2024) menunjukkan bahwa penggunaan kartu gambar–kata berbasis model induktif meningkatkan penguasaan kosakata dasar dan motivasi membaca siswa di kelas rendah. Bahkan, penelitian oleh Lestari (2025) menegaskan bahwa ketika kosakata dalam kartu dikontekstualisasikan dengan budaya lokal, tingkat keterlibatan siswa meningkat signifikan karena mereka merasa dekat dengan isi pembelajaran. Kontekstualisasi pembelajaran menjadi semakin penting dalam dekade terakhir. Nguyen dan Rasinski (2022) menegaskan bahwa literasi awal yang bermakna harus menghubungkan teks dengan dunia nyata siswa, baik melalui tema budaya, lingkungan, maupun pengalaman sehari-hari. Dalam hal ini, kartu gambar–kata bertema lokal seperti “laut”, “ikan”, “perahu”, dan “pesisir” bukan hanya memperkuat asosiasi fonologis, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap lingkungan sekitar. Pendekatan berbasis lokalitas ini selaras dengan prinsip Joyful and Meaningful Learning dalam Kurikulum Merdeka (Kemendikbudristek, 2022), yang menekankan pembelajaran aktif, relevan, dan menyenangkan. Observasi awal di kelas II SD Inpres Ndindibung menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan membaca permulaan. Kesalahan umum yang ditemukan adalah kebalikan huruf mirip (b–d, p–q), kesulitan melafalkan suku kata tertutup (CVC), serta kecepatan membaca yang rendah. Berdasarkan temuan tersebut, diperlukan intervensi pembelajaran yang sistematis melalui kombinasi pengajaran fonik eksplisit, latihan membaca berulang terpandu, dan penggunaan kartu gambar–kata bertema lokal. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Optimalisasi Membaca Permulaan (Nuhera, dkk.) | 45-52 Bertolak dari uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas II SD Inpres Ndindibung melalui penerapan media kartu gambar–kata dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini dirancang menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dua siklus, dengan fokus pada peningkatan akurasi membaca, kecepatan (kata per menit), dan ketuntasan belajar. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis bagi guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran membaca yang berbasis fonik dan media visual kontekstual, serta menjadi rujukan bagi pengembangan literasi dasar di sekolah dasar wilayah kepulauan. METODE Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa melalui penerapan media kartu gambar–kata. PTK ini mengacu pada model spiral Kemmis dan McTaggart (2019) yang terdiri atas empat tahapan berulang, yaitu: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan tindakan (acting), (3) observasi (observing), dan (4) refleksi (reflecting). Model ini bersifat siklikal, artinya setiap hasil refleksi menjadi dasar perbaikan untuk siklus berikutnya. 1. Lokasi dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di SD Inpres Ndindibung, Kecamatan Bokan Kepulauan, Kabupaten Banggai Laut, Provinsi Sulawesi Tengah. Pelaksanaan penelitian berlangsung selama dua bulan, yaitu dari Februari hingga Maret 2025, pada semester genap tahun pelajaran 2024/2025. 2. Subjek Penelitian. Subjek penelitian adalah siswa kelas II SD Inpres Ndindibung yang berjumlah 15 orang, terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Seluruh siswa memiliki kemampuan membaca yang beragam, dengan sebagian besar masih berada pada tahap pra-membaca dan memerlukan penguatan dalam pengenalan huruf, suku kata, serta pembentukan kata. 3. Desain Penelitian. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan dengan alokasi waktu 2 × 35 menit setiap pertemuan. Setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. 4. Prosedur Penelitian a. Perencanaan (Planning). Guru menyiapkan perangkat pembelajaran meliputi RPP, media kartu gambar–kata, lembar observasi, dan instrumen penilaian kemampuan membaca. Media kartu dibuat berwarna, bergambar menarik, dan menampilkan kosakata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. b. Pelaksanaan Tindakan (Acting). Guru melaksanakan pembelajaran membaca dengan menggunakan kartu gambar–kata sesuai skenario yang telah dirancang. Kegiatan meliputi: 1. Pengenalan huruf dan bunyinya (letter–sound recognition). 2. Pencocokan gambar dengan kata yang sesuai. 3. Membaca kata dan kalimat sederhana secara bersama dan individual. 4. Permainan tebak kata cepat untuk meningkatkan kecepatan dan kelancaran membaca. c. Observasi (Observing). Guru kolaborator mencatat keaktifan, antusiasme, dan kesulitan siswa selama proses pembelajaran. Data hasil observasi mencakup aspek afektif (motivasi dan partisipasi) dan kognitif (kemampuan mengenali huruf dan membaca kata). d. Refleksi (Reflecting). Guru dan peneliti bersama-sama menganalisis hasil observasi dan tes untuk menentukan keberhasilan tindakan serta rencana perbaikan pada siklus berikutnya. 5. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Optimalisasi Membaca Permulaan (Nuhera, dkk.) | 45-52 Table 1. Teknik Pengumpulan data Jenis Data Teknik Pengumpulan Alat / Instrumen Tujuan Aktivitas siswa selama pembelajaran Observasi Lembar observasi Menilai partisipasi dan antusiasme siswa Kemampuan membaca permulaan Tes kinerja membaca Daftar bacaan dan lembar penilaian Mengukur peningkatan kemampuan membaca Respon siswa terhadap media Wawancara / catatan refleksi Pedoman wawancara sederhana Mengetahui tanggapan dan minat siswa terhadap pembelajaran 6. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan terdiri atas: 1. Lembar Observasi Aktivitas Siswa – untuk mencatat keaktifan dan keterlibatan siswa. 2. Tes Membaca Permulaan – berisi daftar kata dan kalimat sederhana yang digunakan untuk menilai aspek ketepatan, kelancaran, dan pemahaman membaca. 3. Lembar Refleksi Guru dan Siswa – untuk mengetahui persepsi terhadap efektivitas media. Kriteria penilaian kemampuan membaca permulaan ditentukan sebagai berikut: Table 2. Kriteria Penilaian Skor Kriteria Deskripsi 86–100 Sangat Baik Membaca lancar, tepat, dan memahami isi bacaan 71–85 Baik Membaca dengan sedikit kesalahan dan cukup lancar 56–70 Cukup Masih terbata-bata dan kurang memahami isi bacaan ≤55 Kurang Kesulitan membaca dan sering salah melafalkan kata HASIL Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Tujuan penelitian adalah meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas II SD Inpres Ndindibung melalui penggunaan media kartu gambar–kata yang menarik, kontekstual, dan sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa sekolah dasar. Data dikumpulkan melalui observasi aktivitas belajar, hasil tes membaca permulaan, wawancara ringan, serta dokumentasi proses pembelajaran. 1. Kondisi Awal (Pra-Siklus) Hasil observasi awal menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan dalam mengenali huruf dan menggabungkannya menjadi suku kata atau kata bermakna. Banyak siswa membaca dengan terbata-bata, melakukan kesalahan pelafalan, serta menunjukkan rasa malu dan kurang percaya diri ketika diminta membaca di depan kelas. Dari 15 siswa, hanya 4 orang (26,7%) yang mampu membaca suku kata dan kata sederhana dengan lancar, sedangkan 11 siswa (73,3%) masih berada pada tahap pramembaca. Rendahnya kemampuan membaca ini disebabkan oleh keterbatasan media pembelajaran yang variatif, pendekatan pembelajaran yang masih bersifat konvensional, serta kurangnya stimulasi visual dan fonetik yang dapat menarik perhatian siswa. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Optimalisasi Membaca Permulaan (Nuhera, dkk.) | 45-52 Tabel 1. Kondisi Kemampuan Membaca Permulaan Pra-Siklus No Aspek yang Dinilai Jumlah Siswa Tuntas Jumlah Siswa Belum Tuntas Persentase Ketuntasan 1 Pengenalan huruf 6 9 40% 2 Membaca suku kata sederhana 5 10 33,3% 3 Membaca kata sederhana 4 11 26,7% 4 Membaca kalimat sederhana 3 12 20% Kondisi ini menunjukkan bahwa diperlukan upaya pembelajaran yang lebih inovatif untuk menumbuhkan minat baca dan kemampuan fonetik siswa. Oleh karena itu, peneliti menerapkan media kartu gambar–kata pada siklus I untuk meningkatkan motivasi dan keterampilan membaca permulaan. 2. Hasil Siklus I Pelaksanaan tindakan pada siklus I difokuskan pada pengenalan huruf, suku kata, dan kata sederhana menggunakan media kartu gambar–kata berwarna. Guru memperkenalkan 15 kartu yang menampilkan gambar benda konkret di lingkungan siswa, seperti ikan, pohon, laut, dan rumah. Kegiatan pembelajaran meliputi: 1. Pengenalan huruf melalui kartu bergambar. 2. Latihan mencocokkan gambar dengan kata. 3. Membaca kata dan kalimat sederhana secara berulang (repetition). Selama proses pembelajaran, siswa menunjukkan peningkatan antusiasme. Mereka mulai aktif menjawab pertanyaan, menunjuk gambar, serta mencoba membaca dengan bantuan teman. Berdasarkan hasil observasi, keterlibatan aktif siswa meningkat dari 53% pada pra-siklus menjadi 76% pada akhir siklus I. Hasil tes membaca permulaan juga menunjukkan peningkatan: dari 15 siswa, 9 orang (60%) mencapai KKM 70 dengan rata-rata nilai kelas 68,4. Siswa mulai mampu membaca kata dua suku kata secara lancar dan memahami maknanya dengan bantuan gambar. Tabel 3. Hasil Kemampuan Membaca Permulaan Siklus I No Aspek yang Dinilai Jumlah Siswa Tuntas Jumlah Siswa Belum Tuntas Persentase Ketuntasan 1 Pengenalan huruf 10 5 66,7% 2 Membaca suku kata sederhana 9 6 60% 3 Membaca kata sederhana 9 6 60% 4 Membaca kalimat sederhana 8 7 53,3% Rata-rata Ketuntasan 60% Hasil refleksi menunjukkan bahwa kendala utama pada siklus I adalah masih adanya siswa yang lambat dalam mengenali huruf dan mudah kehilangan fokus. Oleh karena itu, pada siklus II dilakukan perbaikan dengan menambahkan permainan membaca seperti tebak kata cepat, puzzle kata, dan kegiatan membaca berulang secara berpasangan untuk memperkuat memori fonologis. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Optimalisasi Membaca Permulaan (Nuhera, dkk.) | 45-52 3. Hasil Siklus II Pada siklus II, media kartu gambar–kata diperbanyak dan divariasikan dengan kosakata yang lebih dekat dengan kehidupan siswa, seperti nama benda di sekolah, rumah, dan lingkungan sekitar. Guru juga memberikan contoh pembacaan yang ekspresif serta melatih siswa melalui kegiatan membaca berulang (repeated reading). Siswa menunjukkan peningkatan minat dan keterlibatan yang sangat tinggi. Mereka bersemangat mengikuti kegiatan permainan membaca, lebih percaya diri membaca di depan kelas, dan mampu bekerja sama dengan teman dalam kelompok kecil. Hasil observasi menunjukkan peningkatan keterlibatan siswa menjadi 92%. Berdasarkan hasil tes membaca permulaan pada akhir siklus II, 13 dari 15 siswa (86,7%) telah mencapai atau melampaui KKM 70 dengan rata-rata nilai kelas meningkat menjadi 81,6. Tabel 3. Hasil Kemampuan Membaca Permulaan Siklus II No Aspek yang Dinilai Jumlah Siswa Tuntas Jumlah Siswa Belum Tuntas Persentase Ketuntasan 1 Pengenalan huruf 14 1 93,3% 2 Membaca suku kata sederhana 13 2 86,7% 3 Membaca kata sederhana 13 2 86,7% 4 Membaca kalimat sederhana 12 3 80% Rata-rata Ketuntasan 86,7% PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media kartu gambar–kata secara signifikan meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas II SD Inpres Ndindibung. Peningkatan terjadi secara bertahap, baik dari segi penguasaan huruf, kemampuan menggabungkan suku kata, kelancaran membaca, maupun pemahaman makna kata. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Ernawati, Raharjo, & Sugiyo (2021) yang menyatakan bahwa media kartu gambar–kata membantu siswa menghubungkan simbol visual dengan konsep verbal sehingga memudahkan pengenalan huruf dan pengucapan kata. Hal ini juga diperkuat oleh Lestari (2025) yang menyebutkan bahwa media konkret seperti kartu bergambar mampu memperkuat hubungan antara grafem dan fonem. Dari sisi teori belajar, keberhasilan ini dapat dijelaskan melalui pendekatan fonik eksplisit (explicit phonics instruction), di mana hubungan antara bunyi dan huruf diajarkan secara sistematis dan berulang (Mesmer, 2019; Wanzek et al., 2023). Selain itu, penggunaan gambar juga memperkuat daya ingat siswa sebagaimana dijelaskan oleh Teori Dual Coding Paivio (2020), bahwa informasi yang disajikan secara visual dan verbal secara bersamaan akan lebih mudah dipahami dan diingat. Dari sisi afektif, pembelajaran dengan kartu gambar–kata juga menciptakan suasana yang menyenangkan dan mendorong siswa untuk lebih percaya diri membaca di depan kelas. Hal ini sejalan dengan prinsip Joyful Learning yang menekankan pentingnya suasana belajar yang interaktif, bermakna, dan menggembirakan bagi siswa sekolah Dasar [16], [17], [18], [19]. Secara keseluruhan, penerapan media kartu gambar–kata terbukti efektif meningkatkan kemampuan membaca permulaan sekaligus menumbuhkan motivasi belajar siswa. Peningkatan dari pra-siklus (30%) menjadi 86,7% pada siklus II menunjukkan bahwa strategi ini layak diterapkan secara berkelanjutan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas rendah SD. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Optimalisasi Membaca Permulaan (Nuhera, dkk.) | 45-52 SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media kartu gambar–kata secara efektif mampu meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas II SD Inpres Ndindibung. Melalui media ini, siswa lebih mudah mengenali huruf, suku kata, dan kata secara bermakna karena pembelajaran berlangsung lebih menyenangkan, kontekstual, dan visual. Pada kondisi awal (pra-siklus), rata-rata ketuntasan membaca permulaan hanya mencapai 30%, dengan sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan dalam mengenal huruf dan membaca suku kata. Setelah dilakukan tindakan menggunakan media kartu gambar–kata pada Siklus I, terjadi peningkatan rata-rata ketuntasan menjadi 63,3%, meskipun masih terdapat beberapa siswa yang belum lancar membaca. Selanjutnya, pada Siklus II, hasil belajar meningkat secara signifikan dengan tingkat ketuntasan mencapai 86,7%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan membaca permulaan sebesar 56,7% dari pra-siklus ke siklus II. Selain peningkatan hasil belajar, aktivitas siswa selama proses pembelajaran juga menunjukkan perubahan yang positif. Siswa terlihat lebih aktif, antusias, dan percaya diri dalam mengikuti kegiatan membaca. Guru pun lebih kreatif dalam menyusun strategi pembelajaran yang variatif dan menyenangkan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan media kartu gambar–kata tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca permulaan, tetapi juga memperbaiki iklim belajar yang lebih interaktif dan bermakna di kelas rendah sekolah dasar. REFERENSI M. J. Arianto, F. Sabani, and E. Rahmadani, “Penerapan Metode Bernyanyi dalam Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan Siswa Sekolah Dasar,” vol. 7, pp. 23–31, 2024. G. R. Syatauw and N. Rumaf, “Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan melalui Permainan Kartu Huruf Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar,” vol. 2, no. 2, 2020. C. P. Pratiwi, “JPE ( Jurnal Pendidikan Edutama ) Vol . 7 No . 1 Januari 2020 ANALISIS KETERAMPILAN MEMBACA PERMULAAN SISWA SEKOLAH,” vol. 7, no. 1, pp. 1–8, 2020. F. Pramesti, “Analisis Faktor-Faktor Penghambat Membaca Permulaan pada Siswa Kelas 1 SD,” vol. 2, no. 3, pp. 283–289, 2018. J. E. Edukasia, “1 Universitas Pendidikan Indonesia , Bandung , Indonesia 2 Universitas Pendidikan Indonesia , Bandung , Indonesia 3 Universitas Pendidikan Indonesia , Bandung , Indonesia Coresponding Author : [email protected],” vol. 6, no. 2, pp. 1006–1014, 2023, doi: 10.31949/jee.v6i2.5316. E. D. Hapsari, “Penerapan Membaca Permulaan untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Siswa,” vol. 20, no. 1, pp. 10–24, 2019. J. Ilmiah and W. Pustaka, “Jurnal Ilmiah Widya Pustaka Pendidikan lainnya , seperti menulis , berbicara , dan menyimak . Proses pembelajaran membaca di dalam bacaan , sehingga pada akhirnya menghambat pencapaian hasil belajar . Maka dari,” vol. 13, pp. 208–219, 2025. R. A. Hamzah and R. D. Aryanti, “Jurnal Pendidikan Bahasa,” vol. 14, pp. 42–48, 2024. M. Y. Praja, “Implementasi metode fonik dalam melatih kemampuan membaca siswa dengan kesulitan membaca kelas 1 sd al irsyad al islamiyyah 01 purwokerto,” 2025. A. U. Fahmiyah, D. Kuswandi, and S. Wahyuni, “Penggunaan Media Belajar Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan,” vol. 14, no. 2, pp. 308–326, 2025, doi: 10.26877/paudia.v14i2.1568. S. Asmonah, “Meningkatkan kemampuan membaca permulaan menggunakan model direct instruction 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Optimalisasi Membaca Permulaan (Nuhera, dkk.) | 45-52 berbantuan media kartu kata bergambar,” vol. 8, no. 1, pp. 29–37, 2019. S. JUWARIAH, “PEMANFAATAN MEDIA KARTU KATA BERGAMBAR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA DAN KOGNITIF PADA ANAK USIA DINI DI RA AL JANNAH JAKARTA UTARA,” 2023. A. S. ELsi Yulia Rahmayani, “Efektivitas Penggunaan Media Kartu Kata Bergambar Untuk Meningkatkan Minat Membaca Pada Anak Sekolah Dasar,” vol. 2, pp. 1892–1900, 2025. D. S. D. K. Wolowio, “Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Pada Siswa Kelas I Melalui Media Kartu Kata Bergambar,” no. 2, pp. 1–20, 2025. J. Setyowati, “Efektifitas Media Kartu Kata dan Gambar dalam Peningkatan Kemampuan Membaca Awal Anak Usia Dini,” vol. 4, no. 2019, pp. 1014–1020. S. A. P. Raya, S. Lutfi, and M. Saihu, “Eksplorasi Joyful Learning dalam Perspektif Teori Humanistik di,” vol. 8, pp. 277–291, 2025. F. Irfanuddin and H. Widodo, “Analisis Implementasi Pembelajaran Mendalam ( Deep Learning ) dalam Kurikulum PAI di SD Negeri 125 O gan Komering Ulu Sumatera Selatan,” vol. 5, pp. 1566– 1576, 2025. Putera, R. F., Marlina, S., Ladiva, H. B., Mahfudzah, A., & Qalbi, Z. (2024, October). Development of smart apps creator learning media for civics learning in elementary schools. In AIP Conference Proceedings (Vol. 3220, No. 1, p. 020028). AIP Publishing LLC. Habibi, M., Sukirno, T., Sukma, E., Suriani, A., & Putera, R. F. (2020). Direct writing activity: A strategy in expanding narrative writing skills for elementary schools. Universal Journal of Educational Research, 8(10), 4374-4383.