Sufism in the Digital Age: The Relevance of Maqamat wa Ahwal in Addressing the Spiritual Crisis of Modern Muslims
Full text
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Tasawuf di Era Digital (Cici Nurmianty) | 60-70 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 10, November 2025, P. 60-70 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17578221 Tasawuf di Era Digital: Relevansi Maqamat wa Ahwal dalam Menjawab Krisis Spiritual Muslim Modern Sufism in the Digital Age: The Relevance of Maqamat wa Ahwal in Addressing the Spiritual Crisis of Modern Muslims Cici Nurmianty Pascasarjana UIN Alauddin Makassar Email: cicinurmian[email protected] Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara komprehensif tentang Tasawuf di era digital: Relevansi Maqamat Wa Ahwal dalam menjawab krisis spiritual muslim modern. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) melalui penelusuran terhadap berbagai dokumen, baik berupa buku, jurnal ilmiah, artikel akademik, maupun karya-karya ilmiah lain yang membahas konsep maqam dan ahwal dalam tasawuf. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa maqamat merupakan kedudukan atau tahapan spiritual yang dicapai melalui mujahadah dan riyadhah yang harus dilalui tahapannya, sedangkan ahwal adalah kondisi atau sifat yang tak pernah diupayakan, melainkan murni pemberian dari Allah. Maqamat dan Ahwal sangat relevan dalam menjawab krisis spiritual muslim modern dengan menggunakan maqam (tahapan) Al-taubah, AlZuhud, Al-Wara, Al-faqr, Al-shabr, Al-tawakkal dan Al-ridha dan ahwal yang memiliki bagian diantaranya Al-muraqabah, Al-khauf, Al-raja’, Al-syauq, Al-Uns, Al-Thuma’ninah, AlMusyahadah, dan Al-yaqin. konsep-konsep tersebut akan menjadi suatu pedoman bagi umat manusia untuk mencapai kedekatan yang hakiki dengan Allah SWT meskipun umat muslim sering kali terdistraksi oleh kehidupan modern. Kata Kunci: Tasawuf, era digital, Maqamat, Ahwal, krisis spiritual Abstract This study aims to comprehensively describe Sufism in the digital era: The Relevance of Maqamat Wa Ahwal in addressing the spiritual crisis of modern Muslims. This study uses a qualitative method with a library research approach through searching various documents, in the form of books, scientific journals, academic articles, and other scientific works that discuss the concept of maqam and ahwal in Sufism. The results of this study indicate that maqamat is a spiritual position or stage achieved through mujahadah and riyadhah which must be passed through stages, while ahwal is a condition or characteristic that is never attempted, but is purely a gift from Allah. Maqamat and Ahwal are very relevant in answering the spiritual crisis of modern Muslims by using the maqam (stages) Al-taubah, Al-Zuhud, Al-Wara, Al-faqr, Al-shabr, Al-tawakkal and Al-ridha and ahwal which have parts including Al-muraqabah, Al-khauf, Al-raja’, Al-syauq, Al-Uns, Al-Thuma’ninah, Al-Musyahadah, and Al-yaqin. These concepts will be a guideline for humanity to achieve true closeness to Allah SWT even though Muslims are often distracted by modern life. Keywords: Tasawuf, era digital, Maqamat, Ahwal, krisis spiritual Article Info Received date: 25 Oktober 2025 Revised date: 29 Oktober 2025 Accepted date: 10 November 2025 PENDAHULUAN Manusia terus mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang dinamis seiring dengan kemajuan zaman modern. Dorongan untuk menjadi modern melahirkan pandangan Hidup yang bersifat materialistis dalam masyarakat. Akibat dari modernitas tersebut terlihat dari kecenderungan menjadikan
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Tasawuf di Era Digital (Cici Nurmianty) | 60-70 materi sebagai ukuran keberhasilan hidup 1 Karakter manusia pada era modern tengah mengalami krisis mendalam, yang ditandai dengan melemahnya nilai-nilai moral dan spiritual. Beragam faktor turut berperan, salah satunya adalah dampak globalisasi yang mempercepat masuknya budaya materialistik dan individualistik. Selain itu, penggunaan teknologi informasi yang tidak terkendali turut memicu perilaku destruktif, seperti menurunnya empati, meningkatnya egoisme, serta berkurangnya rasa tanggung jawab sosial 2 Ditengah pesatnya arus digitalisasi dan meningkatnya tekanan psikososial, masyarakat modern menghadapi kekosongan makna spiritual yang semakin terasa. Realitas sosial memperlihatkan peningkatan tajam dalam kasus gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, stres, serta krisis identitas di kalangan remaja dan dewasa muda yang hidup di bawah tekanan performa dan tuntutan eksistensi di dunia digital.Tekanan budaya instan, ketidakstabilan identitas, dan kurangnya ruang untuk perenungan menjadikan generasi ini membutuhkan bentuk spiritualitas yang mampu menyesuaikan diri dengan zaman tanpa kehilangan kedalaman makna 3 Arus modernitas yang begitu kuat sering kali membuat perilaku amoral meresap dalam kehidupan umat Muslim, terlihat dari ketidakselarasan antara ilmu agama yang dimiliki dengan tindakan nyata. Ditengah kehidupan modern yang dikuasai oleh orientasi materi, nilai-nilai luhur Islam yang menuntun pada budi pekerti mulia sering kali terabaikan 4 Tujuan tasawuf muncul pada era modern ini ialah bentuk rektualisasi dan reinterpretasi tujuan yang relevan yang berfungsi sebagai “sumber makna hidup” bagi pemeluknya 5 . Dalam perjalanan sejarahnya, tasawuf berkembang secara bertahap. Mula-mula muncul sebagai praktik zuhud pribadi, lalu berkembang menjadi gerakan spiritual kolektif yang membentuk kelompok-kelompok dan tarekat tertentu. Pada abad kedua Hijriyah, semangat asketisme yang tumbuh merupakan refleksi dari kekaguman terhadap kesederhanaan hidup Nabi Muhammad. Sebagai sosok abid sejati, beliau menjadi inspirasi bagi para sahabat untuk memperdalam ibadah dalam rangka mencapai kedekatan spiritual dengan Allah 6 Setiap manusia pada masa kini memiliki tingkat spiritualitas yang berbeda-beda dalam menjaga kemurnian diri demi memperoleh kedudukan mulia di sisi Tuhannya. Dalam ajaran tasawuf, tingkatan tersebut disebut Maqām dan Aḥwāl. Maqām menggambarkan posisi spiritual yang diraih melalui perjuangan, ibadah, dan penyucian jiwa, sedangkan Aḥwāl menggambarkan pengalaman batin yang bersifat sementara, diberikan oleh Allah sebagai karunia. Keduanya merupakan fondasi penting dalam perjalanan tasawuf yang menuntun manusia menuju Ma‘rifatullāh atau pengenalan sejati terhadap Allah METODE Penelitian ini menggunakan riset kepustakaan (library research) yang menggunakan berbagai macam bahan pustaka untuk mencari data dan semua informasi yang dibutuhkan 7 . Dari penjelasan tersebut dapat dipahami, bahwa riset kepustakaan merupakan data yang diperoleh melalui penelusuran 1 Mohammad Asrori Rama Armedi, Aminatul Fattachil ‘Izza, “Relevansi Tasawuf Dalam Islam Di Era Modern,” Hikamia: Journal Idrisiyyah 5, no. 1 (2025): 47. 2 Arif Saefudin Susilo Setyo Utomo, Malkisedek Taneo, I Made Ratih Rosanawati, Loso Judijanto, Ulyan Nasri, Muhammad Zulkifli Amin, Sudarto, Siti Andini, “Discourse Analysis of Conflict and Resolution in History Textbooks: Representations of the Referendum in Indonesia,” Forum for Linguistic Studies 6, no. 5 (2024), https://doi.org/10.30564/fls.v6i5.7115. 3 Della Renaningtyas, “The Relevance of Maqamat Wa Ahwal in Sufism for Gen Z : Theory , Urgency , and Spiritual Conception in the Digital Era Relevansi Maqamat Wa Ahwal Dalam Tasawuf Untuk Generasi Gen Z : Teori , Urgensi , Dan Konsepsi Spiritual Di Era Digital,” Journal of Islamic and Social Studies (JISS) 3, no. 1 (2025): 50. 4 U Alim, S., Fikriawan, S., Lubis, A. T., & Nasri, “Dinar Dirham: Restoration of Shariah Currency Values for Indonesia Economic Prosperity,” Adzkiya : Jurnal Hukum Dan Ekonomi Syariah 12, no. 1 (2024): 63, https://doi.org/10.32332/adzkiya.v12i1 .9328 . 5 Miftakhul Jannah Nur Azizah, “Spiritualitas Masyarakat Modern Dalam Tasawuf Buya Hamka,” Academic Journal of Islamic Principles and Philosophy 3, no. 1 (2022): 85–108, https://doi.org/10.22515/ajipp.v3i1.5007 . 6 Muhammad Yusril Nawir and Indo Santalia, “Multidisipline Tasawuf Maqamat Dan Ahwal Serta Perkembangannya Dalam Dunia Islam,” Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 9, no. 2 (2024): 408. 7 Milya Sari, “Penelitian Kepustakaan Dalam Penelitian Pendidikan IPA,” Jurnal Penelitian Bidang IPA Dan Pendidikan IPA 6, no. 1 (2020): 43.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Tasawuf di Era Digital (Cici Nurmianty) | 60-70 terhadap berbagai dokumen, baik berupa buku, jurnal ilmiah, artikel akademik, maupun karya-karya ilmiah lain yang membahas konsep maqam dan ahwal dalam tasawuf 8 . Data-data yang sebelumnya telah dikumpulkan, kemudian peneliti dapat mengerjakan dengan tahap-tahap penelitian kepustakaan HASIL DAN PEMBAHASAN Maqamat Tasawuf sebagai Tangga Spiritual Istilah maqamat merupakan bentuk plural dari maqam/maqom, yang secara harfiah merujuk pada posisi, stasiun atau derajat. enurut sufi abad ke-10, Al-Qusyairi (Abdul Karim bin Hawazin AlQusyairi), maqam adalah tingkatan spiritual yang dicapai melalui upaya sungguh-sungguh (mujahadah) dan pemilikan akhlak mulia, yang secara konsisten membimbing hamba untuk memenuhi setiap kewajiban ilahi 9 Untuk mencapai kesempurnaan spiritual, seorang sufi harus mengikuti sebuah jalur yang disebut Tharikat (jalan). Jalur ini melibatkan latihan-latihan rohaniah intensif (riyadhah) sebagai langkah awal, dan dilanjutkan dengan secara bertahap menapaki berbagai fase atau tingkatan yang dikenal dalam tasawuf sebagai maqam yaitu semua sifat yang diperoleh melalui upaya dan kehendak mandiri (ikhtiar) seseorang Misalnya, tawakkul (bertawakkal), shabr (bersabar), ridha (bersikap rela) 10 Maqām atau tingkatan adalah posisi batin seorang hamba di sisi Allah yang menunjukkan kemantapan jiwa yang bersifat tetap, berbeda dengan keadaan spiritual yang hanya bersifat sementara. Jadi dari semua penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa maqām dicapai seorang sālik berkat usaha keras dan disiplin diri yang teguh. Pencapaian ini memerlukan pemenuhan serangkaian kewajiban spiritual dalam jangka waktu berkelanjutan hingga ia berhasil mencapai derajat spiritual tertinggi. Adapun maqamat didalam tasawuf terdapat variasi penyebutan maqamat yang berbeda-beda, namun ada tujuh maqamat diantaranya ialah, al-taubah, al-wara, al-zuhud, al-faqr, al-shabr, altawakkal dan al-ridha 11 1. Al-taubah Tahap awal maqamat di dalam tasawuf adalah taubat, "pertaubatan". Secara etimologi taubat berasal dari kata taabaa, yatuubu, taubatan artinya kembali 12 Taubat dalam tasawuf adalah proses kembali dari perbuatan yang dicela oleh syariat menuju tindakan yang terpuji. Tingkat kesempurnaan taubat (Maqam at-Taubatub min taubatih) dicapai ketika seorang sālik bertobat atas kesadaran penuh terhadap kondisi spiritualnya, bahkan bertobat atas kualitas tobatnya yang dianggap masih kurang sempurna. Pada tingkat paling dasar, taubat memiliki hierarki, dimulai dari level dasar yang terkait dengan dosa-dosa fisik yang dilakukan anggota badan. Tingkat menengah melibatkan penyesalan terhadap dosa-dosa batin seperti sombong dan dengki. Lebih mendalam lagi, taubat menuntut usaha menghindari godaan setan dan memunculkan rasa bersalah di jiwa. Pada puncaknya, taubat dimaknai sebagai upaya memurnikan hati agar selalu mengingat Allah, menolak segala sesuatu yang dapat mengganggu jalan menuju-Nya. 2. Al-wara Secara etimologis, kata wara berasal dari bahasa Arab, wara’a, yari’u, wara’an, yang bermakna berhati-hati atau waspada. Meskipun dalam Bahasa Indonesia sering diartikan sebagai patuh dan taat kepada Allah, bagi para sufi, warak memiliki definisi yang lebih ketat, yaitu meninggalkan segala sesuatu yang tidak jelas status hukumnya (syubhat), baik dalam hal makanan, pakaian, maupun urusan 8 Maftuh Ajmain Happid, Raya Apdilla, “Maqam Dan Ahwal Dalam Tasawuf: Dinamika Perjalanan Spiritual Menuju Kedudukan Tinggi Di Hadapan Tuhan,” Pandawa: Jurnal Pendidikan Dan Dakwah 7, no. 2 (2025): 3. 9 Syarifuddin Syarifuddin Yosse Oulia Arsyath, “Yosse Oulia Arsyath, Syarifuddin Syarifuddin,” Jurnal Manajemen Dan Pendidikan Agama Islam 2, no. 6 (2024): 108–9. 10 Ibnu Khaldun, Pengantar Ilmu Tasawuf, cetakan 1 (Yogyakarta: Diva Press, 2025). 11 Dila Fadhilah and Maftuh Ajmain, “Dalam Ilmu Tasawuf,” JIIC: Jurnal Intelek Insan Cendikia 2, no. 4 (2025): 6665–67. 12 Nurhayati Revina, “Taubat Dalam Novel Hijrah Bang Tato Karya Fahd Pahdepie” (UIN Suska riau, 2021).
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Tasawuf di Era Digital (Cici Nurmianty) | 60-70 lainnya 13 Menurut Ibrahim bin Adham, definisi wara mencakup dua hal utama: meninggalkan perkara yang syubhat (meragukan dan tidak pasti) dan juga menjauhi segala sesuatu yang tidak berfaedah (tidak dikehendaki atau tidak bermanfaat secara spiritual) 14 3. Al-zuhud Secara kebahasaan, zuhud (berasal dari ragaba ‘ansyai’in wa tarakahu) berarti tidak memiliki ketertarikan pada sesuatu dan kemudian meninggalkannya. Frasa Zuhada fi al-dunya secara khusus merujuk pada upaya membersihkan diri dari kenikmatan dunia demi fokus beribadah. Adapun Ibnu Qayyim al-Jauziyah mendefinisikannya secara istilah sebagai 'perjalanan hati yang berpindah dari dunia dan berlabuh di akhirat 15 Menurut dari pengertiannya Zuhud dapat dipahami bahwa tingkatan zuhud pada dasar nya ada tiga yaitu: (1) Individu yang berada pada tingkatan ini disebut mutazzahid (orang yang berjuang keras untuk zuhud). Ia meninggalkan dunia meskipun hati dan nafsunya masih condong serta merindukan kenikmatan-kenikmatan duniawi. Meskipun demikian, ia berjuang gigih melawan keinginan-keinginan duniawi tersebut; (2) Seseorang yang berada pada tingkatan zuhud menengah ini mudah meninggalkan dunia karena ia memandangnya sebagai perkara sepele (minim manfaat). Meskipun ia masih memiliki keinginan terhadap hal duniawi, ia tetap berpaling darinya. Namun, kekurangan pada tingkat ini adalah ia melihat dan menyadari tindakannya yang zuhud, yang menunjukkan adanya ’ujub (kekaguman) terhadap diri sendiri; (3) Tingkat zuhud yang tertinggi adalah ketika seseorang tidak hanya zuhud terhadap dunia, tetapi juga zuhud terhadap tindakannya yang zuhud itu sendiri. Dengan demikian, ia meninggalkan kenikmatan duniawi tanpa merasa telah berbuat istimewa, karena hal itu terasa wajar, seperti menukar tembikar yang tidak berharga dengan intan permata yang mahal 16 4. Al-faqr Menurut kitab al-Qāmūs al-Muhīth, istilah al-faqr (fakir) adalah lawan kata dari ghaniy (kaya). Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa fakir adalah orang yang memiliki penghasilan terbatas, namun masih mencukupi kebutuhan pokok keluarganya. Sementara itu, miskin adalah mereka yang sama sekali tidak memiliki harta, menempatkan mereka pada standar hidup yang lebih rendah dari pada fakir. Selain itu, terdapat pandangan ulama mazhab Syafi'i yang mendefinisikan al-fuqarā' sebagai kelompok yang tidak memiliki kemampuan atau keahlian untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan hidup mereka 17 Dapat disimpulkan Al-faqr merujuk pada golongan yang secara total memalingkan harapan dan pikirannya dari segala sesuatu yang berpotensi memisahkan dirinya dari Allah SWT. Ini merupakan penyucian hati secara menyeluruh dari segala bentuk keterikatan yang menjauhkan dari Ilahi 18 5. Al-shabr Secara etimologis, kata sabar (shabara, yashbiru, shabran) memiliki arti mengikat, menahan diri, dan menahan kesedihan atau larangan hukum. Sementara itu, Al-Ghazali memandang sabar sebagai sifat mental istimewa yang hanya dimiliki manusia, tidak oleh binatang maupun malaikat. Beliau membagi sabar ke dalam tiga tingkatan penting: 1) sabar dalam istiqamah melaksanakan perintah Allah SWT 2) sabar dalam menjauhi larangan-larangan-Nya; dan 3) sabar dalam menanggung dan menghadapi cobaan dari Allah SWT 19 6. Al-tawakkal 13 dkk Miswar, Akhlak Tasawuf: Membangun Karakter Islam (medan: Perdana Publishing, 2016). 14 Ratu Wardanrita Litra, “Kajian Unsur - Unsur Tasawuf Dalam Novel Negeri 5 Menara Karya A.Fuadi,” Parataksis: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pembelajaran Bahasa Indonesia, 2022, 6. 15 Ratna Dewi, “Konsep Zuhud Pada Ajaran Tasawuf Dalam Kehidupan Santri Pada Pondok Pesantren,” Mawa’izh: Jurnal Dakwah Dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan 12, no. 2 (2021): 131. 16 Fauzi Ahmad, “Konsep Zuhud Menurut Al-Ghazali,” Proceeding International Seminar on Islamic Studies 5, no. 1 (2024): 1296. 17 Siti Aisyah Kara Vera, Ayu oktoviasari, Erwin Hafid, “Al-Faqr dalam Perspektif Hadis,” Lunggi: Literasi Unggulan Ilmiah Multidisipliner 2, no. 1 (2024): 166. 18 Ahmad Bangun dan Rayani Hanum, Akhlak Tasawuf: Pengenalan, Pemahaman, Dan Pengaplikasiannya (Rajawali Pers, 2015). 19 Nesia Mu’asyara Sariah, Afif Anshori, “Analisis Konsep Sabar Perspektif Al-Ghazali Dalam Karakter Sri Ningsih Pada Novel Tentang Kamu Karya Tere Liye,” Jurnal Riset Rumpun Agama Dan Filsafat 3, no. 2 (2025): 85.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Tasawuf di Era Digital (Cici Nurmianty) | 60-70 Kata tawakkal berasal dari bahasa Arab, yaitu wakila, yakilu, wakīlan, yang maknanya adalah mempercayakan urusan, memberi wewenang, atau membuang urusan kepada pihak lain. Secara implisit juga berarti bersandar dan bergantung. Dalam tasawuf, tawakkal menunjukkan tingkat keyakinan yang teguh dalam mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Menurut Imam Al-Ghazali, konsep tawakal berpijak pada dua landasan utama: ilmu (pengetahuan) sebagai dasar pokoknya, dan iman, di mana tauhid (pengesaan Allah) adalah intinya. Oleh karena itu, dalam pandangan Al-Ghazali, seseorang tidak dapat bertawakal dengan benar tanpa memiliki ilmu. Sebab, bagi Al-Ghazali, ilmu merupakan pokok dari ibadah dan syarat keselamatan bagi manusia yang ingin beribadah 20 7. Al-ridha Secara etimologis, kata ridha (radhiya, yardha, riḍwānan) berarti senang, puas, atau menerima persetujuan, sebagaimana dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai rela, suka hati, atau perkenan 21 Aspek vertikal dari ridha berkaitan erat dengan Tuhan, hal ini dicirikan oleh perasaan cukup atas segala karunia Ilahi dan penetapan tujuan hidup untuk meraih keridhaan-Nya. Pada level ini, manusia mencapai penerimaan total terhadap semua kehendak Tuhan, karena seluruh hidupnya terfokus pada upaya mendapatkan perkenan-Nya. Setelah berhasil mencapai maqam tawakal yaitu ketika seorang sālik sepenuhnya menyerahkan nasib hidupnya kepada pemeliharaan Allah dan meninggalkan semua keinginan selain Tuhan, langkah berikutnya yang harus diambil adalah menata hati untuk mencapai maqam ridha. Ahwal Tasawuf sebagai Keadaan Spiritual Secara bahasa, "Ahwal" adalah bentuk jamak dari kata "Hal" yang berarti kondisi atau keadaan. Dalam ilmu tasawuf, Aḥwāl merujuk pada suasana batin atau keadaan hati yang merupakan hak prerogatif Allah untuk menciptakannya. Kondisi ini datang dan pergi tanpa bisa diminta, ditolak, atau dipertahankan oleh seorang sufi. Berbeda dengan maqāmāt yang diperoleh dari perjuangan keras, aḥwāl dialami secara spontan dan sementara. Kondisi spiritual ini muncul bukan melalui usaha sadar (mujahadah), melainkan sebagai hadiah atau anugerah yang datang dari kilatan Ilahiah (divine flashes), yang dikenal dengan istilah lamā’āt 22 Dalam keyakinan kaum sufi, setiap maqām memiliki permulaan dan akhir perjalanan spiritual. Di antara keduanya terdapat berbagai pengalaman ruhani, dan masing-masing maqām memiliki tanda dan petunjuk khusus. Maqām bersifat lebih permanen dibandingkan aḥwāl yang berubah-ubah. Walaupun keduanya berbeda dalam sifatnya, keduanya sama-sama menyingkap sisi spiritual kehidupan, yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah menempuh dan merasakannya melalui makna simbolik Al-Thusi mengatakan bahwa ahwal meliputi antara lain 23 : 1. Al-Muraqabah Menurut Abu Nashr as-sarraj AlMuraqabah adalah keyakinan dan pengetahuan teguh seorang hamba bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi (Melihat) dan Maha Mengetahui segala isi hati serta batinnya. Berdasarkan keyakinan ini, ia dituntut untuk terus-menerus meneliti dan mengoreksi setiap lintasan hati atau pikiran tercela yang dapat mengganggu zikir dan kesadarannya kepada Allah 24 . Pemahaman muraqabah juga dapat diartikan sebagai usaha untuk menjaga pengamatan terhadap Allah melalui hati, memungkinkan manusia untuk memahami tindakan dan hukum-Nya. 20 Sulaiman, “Konsep Tawakal Menurut Imam Ghazali Dalam Kitab Ihyā ‘Ulūm Al-Dīn,” Ameena Journal 1, no. 1 (2023): 54. 21 Ja’far, Gerbang Tasawuf (medan: Perdana Publishing, 2016). 22 Jamaluddin Zulfikli, Akhlaq Tasawuf: Jalan Lurus Mensucikan Diri (Yogyakarta: Kalimedia, 2018). 23 Nurlaelah Rian, Abbas and Indo Santalia, “Tasawuf , Maqomat Wa Ahwal Serta Perkembangannya Dalam Dunia Islam,” Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 3, no. 6 (2025): 540–45, https://doi.org/10.54396/saliha.v5i1.232.4. 24 Mila Vedira, Amelia, Yarhami Fadillah, Nunu Burhanuddin, “Konsep Tasawuf Dalam Islam Dengan Metode Pendekatan Muraqabah,” MUSHAF JOURNAL : Jurnal Ilmu Al Quran Dan Hadis 5, no. 1 (2025): 165.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Tasawuf di Era Digital (Cici Nurmianty) | 60-70 2. Al-Khauf Dalam pandangan Al-Ghazali, al-khauf (takut) merupakan ungkapan kegelisahan dan penderitaan hati yang dipicu oleh kemungkinan terjadinya hal-hal yang dibenci Allah SWT di masa depan. Ketakutan ini bisa bersumber dari pengetahuan mendalam tentang keagungan dan sifat-sifat Allah, atau dapat juga disebabkan oleh kesadaran akan banyaknya perilaku maksiat yang pernah dilakukan. Al-Khauf diibaratkan sebagai api yang mampu memadamkan syahwat (nafsu). Keutamaannya terletak pada kemampuannya menghalangi segala bentuk kemaksiatan sekaligus mendorong kuat ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT 25 3. Al-Raja’ Al-Ghazali berpandangan bahwa Raja’ atau harapan adalah memperhatikan kebaikan dan selalu berharap untuk dapat mencapainya, Ini melibatkan pengamatan terhadap segala bentuk kelembutan dan nikmat Allah, serta mengisi diri dengan harapan yang konstruktif demi masa depan spiritual, menjadikan hidup sebagai upaya untuk mewujudkan harapan tersebut 26 . Apabila penantian itu ditujukan pada sesuatu yang sangat dicintai, maka yang dirasakan adalah penantian yang menyenangkan (al-irtiyah) yang menenangkan hati. Kelapangan batin inilah yang disebut dengan al-Rajā’ (harapan) 4. Al-Syauq Kata “syauq” yang berarti rindu yang merupakan kerinduan mendalam kepada Allah, rasa rindu ini muncul setelah mengenal Allah (ma’rifat) dan mengalami kenikmatan dalam ibadah dan kedekatan spiritual. Rasa syauq merupakan kerinduan yang kuat kepada Allah, lahir dari pengalaman mengenalNya (ma’rifat) serta menikmati kelezatan ibadah dan kedekatan batin. Kerinduan ini tumbuh dari cinta yang mendalam. Saat Sang Kekasih hadir dalam pengalaman spiritual, kerinduan itu beralih menjadi kegembiraan. Pengetahuan dan kesadaran akan Allah membawa kebahagiaan sekaligus dorongan rohani, yang kemudian menumbuhkan cinta dan kerinduan yang lebih mendalam. 5. Al-Uns ‘Uns merujuk pada kondisi spiritual di mana hati (qalbu) seorang hamba mengalami kepenuhan rasa cinta, kelembutan, keindahan, belas kasih, dan ampunan yang berasal dari Allah. Bagi kaum sufi, sifat uns (intim) menggambarkan perasaan selalu dekat dengan Sang Khalik. Mereka merasakan kedekatan ini karena memiliki keinginan yang terus-menerus untuk merasakan kedekatan dengan-Nya. Dapat disimpulkan bahwa ‘Uns adalah kondisi spiritual yang membuat seorang sufi merasakan kegembiraan dan sukacita hati yang luar biasa, disebabkan oleh keakraban dan kedekatan yang ia rasakan dengan Tuhannya. 6. Al-Thuma’ninah Secara etimologis, thuma’ninah berarti “ketenangan”,“kedamaian hati”, “tertentramnya jiwa”. Dalam perspektif tasawuf, thuma’ninah adalah keadaan spiritual di mana seorang salik (penempuh jalan) tiba pada titik di mana hatinya bebas dari kegelisahan, takut, keraguan jiwa tenteram karena sambungannya (hubungannya) dengan Allah telah kokoh. Jiwa yang thuma’ninah tidak goyah dalam menghadapi ujian, tidak gelisah terhadap dunia, dan mantap dalam menjalankan perintah agama. Ini adalah jiwa yang dijanjikan Allah dalam Surah Al-Fajr: "Yā ayyuhan-nafsul-muṭma’innah” 7. Al-Musyahadah Secara etimologis, musyahadah berasal dari bahasa Arab yang memiliki akar kata “syahida/yusyahid’ yang berarti “menyaksikan”, “mempunyai saksi”. Imam Al-Qusairi mengatakan bahwa “Barang siapa yang menghiasi lahirnya dengan mujahadah, niscaya Allah memperbaiki “sirr” (rahasia batin) hatinya dengan “musyahadah”. Maksudnya, merasakan kehadiran Allah dalam rasa hatinya. Dalam konteks istilah tasawuf musyahadah berarti penyaksian langsung terhadap Allah SWT 25 Al-Ghazali, Ihya’ Ulum Ad-Din, Juz IV, n.d. 26 Zaprulkhan, Ilmu Tasawuf: Sebuah Kajian Tematik (Jakarta: Rajawali Pers, 2016).
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Tasawuf di Era Digital (Cici Nurmianty) | 60-70 oleh hati atau kalbu, tanpa perantaraan khusus, dan seringkali dilukiskan sebagai “melihat Allah dengan mata hati”. 8. Al-Yaqin Al-Yaqīn adalah kepercayaan ('Aqīdah) yang begitu kuat dan tak tergoyahkan oleh keraguan, karena didukung oleh pengetahuan mendalam dan kesaksian spiritual. Keyakinan ini dihayati secara menyeluruh oleh segenap jiwa, batin, dan seluruh eksistensi individu. Para sufi biasanya membagi yakin dalam tiga bagian: pertama, Ilm al-yaqin: yaitu tingkatan iman dan ketundukan tertinggi yang diperoleh melalui perhatian mendalam terhadap dalil-dalil serta petunjuk yang jelas dan autentik mengenai halhal yang menjadi tujuan spiritual. Kedua, ‘Ain al-yaqin: yaitu pencapaian ma’rifat (pengetahuan hakiki) yang melampaui batasan rasionalitas dan definisi. Keyakinan ini diperoleh secara langsung oleh ruh melalui penyingkapan (kasyf), penyaksian batin (musyahadah), persepsi, dan kesadaran spiritual. Ketiga, Haqq al-yaqin: yaitu anugerah berupa kebersamaan (ma’iyyah) dengan Allah SWT yang penuh dengan rahasia, terjadi tanpa ada tirai atau penghalang yang membatasi imajinasi manusia. Beberapa sufi menafsirkan tingkatan ini sebagai keadaan fanā’, di mana hamba melenyapkan seluruh jati diri, ego, dan keberadaannya, demi mencapai kebersamaan mutlak dengan Allah al-Ḥaqq 27 Relevansi Maqamat wa Ahwal dalam Menjawab Krisis Spiritual Muslim Modern Teori tasawuf Maqamat wa Ahwal sangat penting untuk memahami perjalanan spiritual dalam Islam, dan inti dari teori ini ditandai oleh dua konsep utamanya, yaitu: 1) Maqamat (Stasiun-stasiun), semua sifat yang diperoleh melalui upaya dan kehendak mandiri (Ikhtiyar), yang dimana seseorang harus melewati satu maqam sebelum menuju ke maqam berikutnya misalnya, Tawakkul (bertawakkal), Shabr (bersabar), Ridha (bersikap rela). 2) Ahwal (Kondisi Spiritual), kondisi atau sifat yang tak pernah diupayakan, melainkan murni pemberian dari Allah, Ini adalah pengalaman yang berkaitan dengan perasaan, pemahaman, dan hubungan pribadi dengan Tuhan. Menurut Sufi, seseorang dapat merasakan kehadiran Allah yang lebih dalam Ahwal. Misalnya, thuma’ninah (ketenangan), al-khauf (takut), syauq (rindu). Kerangka kerja Maqamat wa Ahwal menyediakan peta jalan terperinci untuk memahami kemajuan spiritual seseorang menuju kedekatan dengan Allah. Teori ini juga secara tegas menyoroti bahwa kesabaran, ketekunan, dan ketaatan merupakan prasyarat esensial untuk mencapai tujuan tasawuf tersebut. Di era modern sekarang ini sebagian besar masyarakat telah larut dalam lingkaran teknologi dan lautan informasi, yang mengakibatkan spiritual dan moral masyarakat semakin menurun yang dimana hal ini juga tentu mempengaruhi umat muslim modern. Tentunya keberadaan tasawuf dalam hal ini maqamat dan Ahwal akan dapat menjadi solusi jika dijadikan sebagai landasan dalam mengarungi kompleksitas kehidupan karena dalam kehidupan tidak lepas dari adanya dua unsur yang saling melengkapi, yaitu unsur lahir dan unsur batin. Jika melihat maqamat dinilai masih relevan dengan era modern sekarang ini, mulai dari altaubah, al-zuhud, al-wara, al-faqr, al-shabr, al-tawakkal dan al-ridha. al-taubah (Taubat) sangat mendasar dan krusial dalam menjawab krisis spiritual dan moral yang dihadapi Muslim modern. Adapun krisis spiritual yang dihadapi muslim modern diantaranya merasa terasing dari tujuan hidup sejati dan tenggelam dalam kesibukan duniawi yang fana, tingginya tingkat kecemasan, depresi dan hilangnya kedamaian batin akibat tekanan hidup modern 28 , dan menjalankan ibadah formal tanpa ada perubahan kualitas hati atau akhlak (ibadah hanya sebagai performance), relevansi Al-Taubah dalam menghadapi krisis spiritual tersebut yaitu dengan taubat fokus dapat dikembalikan karena taubat merupakan tindakan kembali kepada Allah, kemudian kedamaian batin dapat tercipta karena dengan 27 Muhammad Hasan Asyadily, “Telah Konsep Yakin Menurut Sufi Imam Al-Qusyairi Dalam Risalah Al-Qusyairiyah,” EAIC: Esoterik Annual International Conference, 2022, 9. 28 Sugeng Santoso Junardi Saleleubaja, “Meningkatkan Kestabilan Kesehatan Mental Dan Spiritual Untuk Menghadapi Tantangan Hidup Modern Dalam Perspektif Kristen,” Jurnal Excelsis Deo 8, no. 1 (2024): 14–41.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Tasawuf di Era Digital (Cici Nurmianty) | 60-70 taubat yang tulus membawa janji pengampunan, yang secara psikologis membebaskan jiwa dari rasa bersalah dan beban dosa, dan dengan taubat menuntut diri untuk selalu mengevaluasi dan beranjak dari ritual lahiriah menuju perbaikan hari dan niat ikhlas. Begitu pula dengan Al-zuhud (mengosongkan diri dari kesenangan dunia) sangat relevan untuk mengadapi krisis spiritual dimana manusia mengejar kekayaan dan harta benda sebagai tujuan utama hidup sehingga menyebabkan ketidakpuasan abadi karena nafsu tidak pernah terpuaskan, kemudian budaya konsumerisme yang menciptakan tekanan finansial dan kekosongan batin. Maka dengan Al-zuhud dapat mengubah fokus hati bahwa nilai sejati terletak pada apa yang ada disisi Allah bukan pada akumulasi harta, dan al-zuhud juga mengajarkan keberdayaan diri dari keterikatan dimana zuhud akan membebaskan individu dari tirani kebutuhan buatan. Kemudian Al-Wara (patuh dan taat) dalam Menjawab Krisis Spiritual Muslim Modern yaitu ketika umat muslim telah mengaburkannya garis Halal-haram akibat banyaknya transaksi finansial, produk, dan informasi yang status hukumnya tidak jelas (Syubhat). Al-Wara akan menjadi prinsip pencegahan karena segala hal-hal yang meragukan harus ditinggalkan, prinsip ini akan melindungi muslim modern dari kontaminasi spiritual dan memastikan kemurnian ibadah serta rezeki. Kemudian relevansi Al-faqr (adanya kesadaran) untuk menjawab krisis spiritual dimana adanya sikap swasembada bahwa keyakinan kesuksesan, kekayaan atau kecerdasan adalah murni hasil usaha sendiri yang melahirkan kesombongan dan melupakan karunia Tuhan maka posisi Al-faqr disini adalah penghancuran ego dimana adanya pengakuan mutlak bahwa manusia faqir di hadapan Allah, dengan kesadaran ini akan meruntuhkan kesombongan menjadi kerendahan hati (tawadu’). Al-Shabr (sabar dalam menjalankan perintah perintah Allah Swt) dalam menjawab krisis spiritual muslim modern ketika era modern mengakibatkan adanya budaya instan dimana keinginan untuk meraih hasil dan kesuksesan tanpa proses, yang menghasilkan frustasi, kecemasan dan cepat putus asa ketika doa atau usaha tidak segera terkabul maka dengan Al-shabr umat muslim akan lebih menghargai proses yag mengjarkan bahwa pertumbuhan spiritul dan pencapaian tujuan hidup memerlukan waktu, ketekunan dan perjuangan. Kesabaran akan mengubah frustrasi menjadi energi untuk terus berusaha dalam ketaatan. Al-tawakkal (teguh dalam mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah SWT) dimana ketika terdapat umat muslim yang mengalami kecemasan berlebihan maka Al-tawakkal akan membebaskan hati dari tekanan harus mengendalikan segalanya, dimana ketika telah berusaha keras, maka hasilnya akan diserahkan kepada Allah, hal tersebut akan menghasilkan ketenangan batin dan menerima atas takdir. Al-ridha (Menerima) dalam menjawab krisis spiritual bagi umat muslim yang memiliki tekanan perfeksionisme, obsesi untuk selalu sempurna dalam segala aspek (karier, keluarga, penampilan) yang memicu kelelahan mental dan kecemasan, maka dengan ridha akan ada rasa penerimaan keterbatasan diri karena melibatkan kerelaan menerima diri sendiri termasuk kekurangan dan kegagalan yang terjadi dalam batas kemampuan manusia, dengan ridha akan meredakan tekanan tersebut dan megalihkan fokus dari hasil yang sempurna menuju proses dan tawakkal yang tulus. Kemudian selanjutnya adalah relevansi ahwal dalam menjawab krisis spiritual muslim modern seperti hanonimitas dan tindak destruktif dimana terdapat rasa anonimitas di internet memicu perilaku bullying, fitnah atau penyebaran kebohongan tanpa rasa tanggung jawab maka dengan Al-Muraqabah (keyakinan kepada Allah) akan melatih jiwa untuk menganggap setiap tindakan, ucapan dan niat terekam sempurna, hal ini berfungsi sebagai filter etika yang kuat, menghentikan perilaku online yang merugikan. Al-khauf (takut), ketika terdapat umat muslim yang meremehkan dosa kecil maka dengan khauf akan meningkatkan kewaspadaan spiritual dan melatih jiwa untuk tidak meremehkan dosa sekecil apapun. Al-raja’ (harapan) akan memunculkan keyakinan teguh bahwa rahmat Allah melampaui murka-Nya, keyakinan ini mendorong individu yang terpuruk apalagi diera modern sangatlah rentan membuat seseorang putus asa dan depresi karena adanya kecenderungan untuk merasa diri terlalu banyak dosa atau gagal total sehingga tidak layak mendapatkan ampunan atau kesuksesan yang berujung pada pengabaian ibadah. Al-syauq (rindu), ketika terdapat umat muslim yang mengalami kehilangan gairah spiritual maka Al-syauq akan menjadi sumber energi spiritual yang akan mendorong
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Tasawuf di Era Digital (Cici Nurmianty) | 60-70 muslim modern untuk terus mencari kedekatan dengan Allah, mengalahkan rasa malas dan kebosanan yang ditimbulkan oleh distraksi duniawi. Al-uns (perasaan selalu dekat dengan Allah), ketika umat muslim modern merasa kesepian ditengah keramaian, mengalami krisis hubungan sosial yang dangkal maka dengan Al-uns akan memberikan jaminan spiritual bahwa individu tidak pernah benar-benar sendirian, karena ia selalu ditemani oleh sang pencipta, hal ini akan mengatasi kesepian eksistensial. Al-Thuma’ninah (ketenangan) bermanfaat ketika umat muslim modern mengalami kecemasan eksistensial dimana terdapat kekhawatiran berlebihan terhadap hal-hal yang tidak pasti (rezeki, masa depan, hasil usaha) dengan Thuma’ninah akan menghasilkan stabilisasi hati dengan ketenangan ini bertindak sebagai penawar alami bagi kecemasan modern, Al-musyahadah (menyaksikan) akan menghilangkan keraguan, karena individu merasakan kebenaran iman secara internal, menjadikannya tak tergoyahkan oleh argumen logis eksternal sehingga keraguan iman yang diakibatkan dominasi wacana modern dapat diatasi dengan musyahadah ini karena musyahadah mengubah pengetahuan yakin menjadi penyaksian yakin, dan yang terakhir Al-Yaqin (kepercayaan yang kuat), ketika umat muslim menghadapi distraksi dan disinformasi karena banjir informasi, termasuk narasi anti-agama, yang mengaburkan pemahaman tentang kebenaran spiritual, maka dengan Al-yaqin fokus dan prioritas akan jelas, dimana keyakinan mutlak memberikan kompas moral dan tujuan hidup yang tegas. Individu yang memiliki yaqin tidak mudah terombang-ambing oleh distraksi duniawi karena mereka memiliki kepastian mutlak tentang prioritas abadi mereka. SIMPULAN Semua sifat yang diperoleh melalui upaya dan kehendak mandiri (ikhtiyar) seseorang disebut maqam (kedudukan) diantaranya Al-taubah, AlZuhud, Al-Wara, Al-faqr, Al-shabr, Al-tawakkal dan Al-ridha. Sedangkan kondisi atau sifat yang tak pernah diupayakan, melainkan murni pemberian dari Allah, disebut hal (kondisi spiritual) seperti Al-muraqabah, Al-khauf, Al-raja’, Al-syauq, Al-Uns, AlThuma’ninah, Al-Musyahadah, dan Al-yaqin. Adapun relevansi maqamat wa ahwal dalam menjawab krisis spiritual muslim modern bahwasanya konsep-konsep tersebut akan menjadi suatu pedoman bagi umat manusia untuk mencapai kedekatan yang hakiki dengan Allah SWT meskipun umat muslim sering kali terdistraksi oleh kehidupan modern. REFERENSI Ahmad, Fauzi. “KONSEP ZUHUD MENURUT AL-GHAZALI.” Proceeding International Seminar on Islamic Studies 5, no. 1 (2024): 1296. Al-Ghazali. Ihya’ Ulum Ad-Din, Juz IV, n.d. Alim, S., Fikriawan, S., Lubis, A. T., & Nasri, U. “Dinar Dirham: Restoration of Shariah Currency Values for Indonesia Economic Prosperity.” Adzkiya : Jurnal Hukum Dan Ekonomi Syariah 12, no. 1 (2024): 63. https://doi.org/10.32332/adzkiya.v12i1 .9328 . Amelia, Yarhami Fadillah, Nunu Burhanuddin, Mila Vedira. “KONSEP TASAWUF DALAM ISLAM DENGAN METODE PENDEKATAN MURAQABAH.” MUSHAF JOURNAL : Jurnal Ilmu Al Quran Dan Hadis 5, no. 1 (2025): 165. Dewi, Ratna. “KONSEP ZUHUD PADA AJARAN TASAWUF DALAM KEHIDUPAN SANTRI PADA PONDOK PESANTREN.” Mawa’izh: Jurnal Dakwah Dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan 12, no. 2 (2021): 131. Fadhilah, Dila, and Maftuh Ajmain. “DALAM ILMU TASAWUF.” JIIC: Jurnal Intelek Insan Cendikia 2, no. 4 (2025): 6665–67. Hanum, Ahmad Bangun dan Rayani. Akhlak Tasawuf: Pengenalan, Pemahaman, Dan Pengaplikasiannya. Rajawali Pers, 2015. Happid, Raya Apdilla, Maftuh Ajmain. “MAQAM DAN AHWAL DALAM TASAWUF: DINAMIKA PERJALANAN SPIRITUAL MENUJU KEDUDUKAN TINGGI DI HADAPAN TUHAN.”