scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Revitalization of Pedagogical Innovation in Islamic Education in the Context of Modernity and Globalization

Adelia Septiana Ramadhani, Syamsul Aripin

Full text

2025 Indonesian Journal of Educational Research Vol. 1 No. 4 Revitalisasi Inovasi Pembelajaran (Adelia, et., al) | 96-102 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Volume 1, Issue 4, Oktober 2025, P. 96-102 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17599127 Revitalisasi Inovasi Pembelajaran Pendidikan Islam di Era Modern dan Global Revitalization of Pedagogical Innovation in Islamic Education in the Context of Modernity and Globalization Adelia Septiana Ramadhani1, Syamsul Aripin2 1, 2Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Jl. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten 15412, Indonesia Email korespondesi: adelia.septiana2[email protected] Abstrak Artikel ini mengkaji kebutuhan mendesak untuk merevitalisasi inovasi pembelajaran dalam pendidikan Islam di tengah era disrupsi digital dan tantangan global. Revitalisasi ini bertujuan untuk memastikan relevansi dan kebertahanan nilai-nilai spiritual Islam dihadapkan pada tuntutan kompetensi abad ke-21. Penelitian ini mengidentifikasi empat pilar utama inovasi integrasi teknologi digital (AI, VR/AR, LMS), penerapan metode aktif (PjBL, Flipped Classroom), peningkatan kompetensi guru (TPACK dan literasi digital), serta kurikulum yang adaptif (etika digital, moderasi beragama). Secara signifikan, kajian ini juga memperluas cakupan inovasi pada ekosistem pendidikan tradisional (pesantren) dan menekankan perlunya analisis komparatif global serta keterlibatan Tri Sentra Pendidikan (keluarga dan masyarakat). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi kepustakaan (library research) dengan menganalisis jurnal dan dokumen ilmiah terkini. Hasil kajian menegaskan bahwa keberhasilan revitalisasi bergantung pada keseimbangan antara high tech dan high touch, di mana inovasi dipandang sebagai ijtihad ilmiah untuk memadukan modernitas dengan spiritualitas. Artikel ini memberikan kontribusi konseptual bagi perumusan model pembelajaran PAI yang holistik, kontekstual, dan berorientasi masa depan. Kata kunci: Revitalisasi Pembelajaran, Pendidikan Islam, Inovasi Digital, Kecerdasan Buatan, Kurikulum Kontekstual. Abstract This article examines the urgent need to revitalize learning innovation in Islamic education amidst the digital disruption era and global challenges. This revitalization aims to ensure the relevance and sustainability of Islamic spiritual values in response to the demands of 21st-century competencies. The study identifies four main pillars of innovation: the integration of digital technologies (AI, VR/AR, LMS); the implementation of active learning methods (Project-Based Learning, Flipped Classroom); the enhancement of teachers’ competencies (TPACK and digital literacy); and the development of an adaptive curriculum (digital ethics, religious moderation). Significantly, this study also extends the scope of innovation to traditional educational ecosystems (pesantren) and emphasizes the need for global comparative analysis as well as the engagement of the Tri Sentra Pendidikan (family and community). Employing a descriptive qualitative method through library research, this study analyzes recent scholarly journals and documents. The findings highlight that the success of revitalization depends on maintaining a balance between high tech and high touch, where innovation is viewed as an intellectual ijtihad that harmonizes modernity and spirituality. This article offers a conceptual contribution to the formulation of a holistic, contextual, and future-oriented model of Islamic Education learning (PAI). Keywords: Learning Revitalization, Islamic Education, Digital Innovation, Artificial Intelligence, Contextual Curriculum. Article Info Received date: 25 Oktober 2025 Revised date: 27 Oktober 2025 Accepted date: 12 November 2025 PENDAHULUAN Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai pilar utama sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan signifikan di tengah arus modernisasi dan globalisasi. Pembelajaran PAI tidak lagi memadai jika hanya mengandalkan pendekatan konvensional (seperti ceramah dan hafalan), melainkan harus 2025 Indonesian Journal of Educational Research Vol. 1 No. 4 Revitalisasi Inovasi Pembelajaran (Adelia, et., al) | 96-102 beradaptasi dengan pesatnya perkembangan teknologi digital, perubahan sosial kultural, dan tuntutan kompetensi abad ke-21 (kritis, kolaboratif, kreatif, dan literasi digital). Berbagai kajian, misalnya pada kompetensi guru PAI, mengindikasikan bahwa pendidik PAI belum sepenuhnya menguasai literasi digital yang memadai, dengan mayoritas hanya berada pada tingkat pengguna media dasar. Hal ini berdampak langsung pada rendahnya keterlibatan siswa dan ketidakrelevanan materi dengan konteks dunia nyata. Kehadiran teknologi disruptif seperti Kecerdasan Buatan (AI), Realitas Virtual/Tambahan (VR/AR), dan Learning Management System (LMS) sesungguhnya membuka prospek baru untuk pembelajaran PAI yang lebih interaktif dan personal. Selain aspek teknologi, inovasi metode seperti Project-Based Learning (PjBL) dan Flipped Classroom telah terbukti efektif dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan karakter mandiri siswa dalam PAI. Namun, implementasi inovasi ini masih dibayangi hambatan multidimensi seperti kesiapan SDM guru (literasi teknologi yang rendah), ketersediaan infrastruktur, kesenjangan digital pada peserta didik, serta kebutuhan desain konten yang selaras dengan nilai-nilai Islam dan etika digital. Urgensi revitalisasi ini juga menuntut perluasan cakupan kajian. Pembahasan mengenai inovasi diperluas melampaui lembaga pendidikan formal (madrasah dan sekolah) untuk turut mengkaji ekosistem pendidikan Islam tradisional, yakni pesantren, yang memiliki tantangan ideologis unik dalam adopsi teknologi. Selain itu, aspek globalisasi mengharuskan PAI untuk mengambil perspektif komparatif, belajar dari best practices negara-negara lain (misalnya model PAI-STEM), dan merevisi kurikulum agar responsif terhadap isu-isu global kontemporer (seperti global citizenship dan moderasi beragama). Penekanan juga harus diberikan pada ekosistem belajar yang holistik, melibatkan peran vital orang tua dan masyarakat sebagai mitra pedagogis (Tri Sentra Pendidikan). Berdasarkan urgensi yang komprehensif tersebut, artikel ini bertujuan merumuskan model revitalisasi inovasi pembelajaran PAI yang terintegrasi dan holistik dengan mengidentifikasi dan menganalisis keterpaduan empat aspek utama: (1) integrasi teknologi digital dan metode aktif; (2) peningkatan literasi dan kompetensi guru PAI (TPACK); (3) revisi kurikulum PAI yang kontekstual dan bernilai; serta (4) pemetaan tantangan implementasi di berbagai ekosistem pendidikan, termasuk pesantren dan konteks global. Artikel ini diharapkan memberikan kontribusi konseptual dan praktis bagi perumusan strategi pembelajaran PAI yang modern, inovatif, dan berakar pada nilai-nilai spiritual. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metodologi studi kepustakaan (library research). Sumber data utama dikumpulkan dari jurnal ilmiah bereputasi, buku referensi, dan dokumen kebijakan pendidikan yang relevan dengan rentang terbitan tahun 2018 hingga 2025. Proses analisis data dilakukan secara komprehensif melalui tahapan identifikasi (penentuan literatur relevan), klasifikasi (pengelompokan temuan berdasarkan empat pilar utama dan tantangan implementasi), dan interpretasi sintesis (perumusan model inovasi yang terintegrasi dan kontekstual) guna menjawab tujuan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi inovasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di era modern dan global menuntut adanya integrasi antara teknologi, metode pembelajaran aktif, kompetensi guru, dan kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Integrasi teknologi digital dalam pembelajaran PAI menjadi salah satu langkah strategis dalam menjawab tantangan pendidikan di era globalisasi dan revolusi industri 4.0. Penggunaan Learning Management System (LMS), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta media berbasis Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) telah mulai diterapkan pada sejumlah lembaga pendidikan Islam di Indonesia, 2025 Indonesian Journal of Educational Research Vol. 1 No. 4 Revitalisasi Inovasi Pembelajaran (Adelia, et., al) | 96-102 meskipun tingkat efektivitasnya masih beragam. Wedi et al. (2024) menemukan bahwa transformasi digital berbasis AI di Madrasah Aliyah mampu meningkatkan interaksi belajar dan memperkuat personalisasi pembelajaran berbasis nilai-nilai Islam. Sementara itu, temuan Aripin dan Nurdiansyah (2022) yang menegaskan bahwa modernisasi pendidikan Islam menuntut pendekatan baru yang mampu mengintegrasikan teknologi digital dengan nilai-nilai keislaman tanpa kehilangan substansi spiritualnya. Aripin (2018; 2022) juga menyoroti bahwa revitalisasi pendidikan Islam di era modern harus berorientasi pada inovasi metode pembelajaran serta penguatan karakter peserta didik di tengah arus globalisasi. Namun demikian, tantangan besar masih dihadapi dalam hal kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur digital. Basri (2023) menegaskan bahwa rendahnya literasi teknologi guru PAI dan keterbatasan perangkat digital menyebabkan proses integrasi berjalan lambat. Oleh karena itu, inovasi teknologi dalam pendidikan Islam tidak cukup hanya berorientasi pada penggunaan alat digital, tetapi juga harus dibarengi dengan transformasi pedagogik dan spiritual agar pembelajaran tetap berakar pada nilai-nilai keislaman. Inovasi ini selanjutnya perlu diwujudkan melalui metode pembelajaran aktif seperti Project-Based Learning (PjBL) dan Flipped Classroom yang mengedepankan kolaborasi, kemandirian, dan konteks kehidupan nyata siswa. Berdasarkan hasil analisis literatur, penerapan model PjBL dalam pembelajaran PAI terbukti efektif dalam menumbuhkan keterampilan berpikir kritis dan tanggung jawab sosial peserta didik. Penelitian oleh Sihabudin dan Sukandar (2024) memperlihatkan bahwa pendekatan berbasis proyek memberikan ruang bagi siswa untuk menelusuri dan merefleksikan makna nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. Demikian pula, pendekatan Flipped Classroom terbukti memperkuat kemampuan belajar mandiri siswa dengan memanfaatkan video pembelajaran dan diskusi reflektif di kelas (Wedi et al., 2024). Model ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menguasai materi dasar secara daring sebelum sesi tatap muka, sehingga waktu kelas digunakan untuk memperdalam konsep, berdiskusi, dan mengaitkannya dengan realitas kehidupan umat Islam. Efektivitas kedua model tersebut sangat bergantung pada kemampuan guru dalam mengelola teknologi dan merancang konten pembelajaran yang bermakna. Afnan dan Maksum (2023) menjelaskan bahwa penerapan model pembelajaran inovatif akan optimal apabila guru menguasai konsep Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPACK), yakni keseimbangan antara penguasaan materi, pedagogi, dan teknologi. Dalam konteks ini, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai fasilitator spiritual digital yang mampu menginspirasi siswa untuk memahami ajaran Islam melalui pendekatan ilmiah dan kreatif. Hasil penelitian lain menegaskan bahwa peningkatan literasi digital guru menjadi faktor penentu keberhasilan revitalisasi pembelajaran. Mahara dan Hafidz (2025) menemukan bahwa pelatihan guru berbasis teknologi yang berkelanjutan meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan guru dalam memanfaatkan AI untuk asesmen otomatis dan pembelajaran adaptif. Fahrunnisa et al. (2023) juga mengungkapkan bahwa sebagian besar guru PAI masih menggunakan teknologi sebatas presentasi atau media pasif, sehingga diperlukan pembinaan yang berorientasi pada praktik kreatif dan reflektif. Budiyanti et al. (2024) menambahkan bahwa dukungan institusi pendidikan dan kebijakan madrasah sangat berpengaruh terhadap peningkatan kompetensi guru dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran PAI secara bermakna. Selain aspek guru, revitalisasi inovasi pembelajaran juga menyentuh ranah kurikulum. Kurikulum PAI perlu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat global tanpa meninggalkan esensi spiritualnya. Berdasarkan analisis dokumen dan literatur, kurikulum yang ada masih dominan menekankan aspek ubudiyah, sementara aspek sosial dan digital Islam (muamalah dan akhlak digital) belum banyak mendapat porsi penguatan. Az-Zahrah dan Fitri (2024) menegaskan bahwa pembaruan kurikulum PAI perlu diarahkan pada pembentukan etika digital, literasi media sosial, serta penguatan 2025 Indonesian Journal of Educational Research Vol. 1 No. 4 Revitalisasi Inovasi Pembelajaran (Adelia, et., al) | 96-102 moderasi beragama di tengah masyarakat multikultural. Mustapa et al. (2023) juga menekankan pentingnya pengintegrasian technology enhanced learning dengan pembentukan karakter digital etis agar peserta didik tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga berakhlak mulia dalam ruang maya. Kurikulum berbasis integrasi nilai ubudiyah dan muamalah dapat menjadi landasan yang kuat untuk membentuk pribadi Muslim yang seimbang antara kecerdasan spiritual, intelektual, dan sosial. Revitalisasi kurikulum demikian memerlukan kolaborasi antara akademisi, praktisi pendidikan, dan pembuat kebijakan agar pendidikan Islam benar-benar menjadi solusi atas krisis moral dan spiritual di era modern. Pendekatan ini juga dapat memperkuat misi pendidikan Islam sebagai sistem yang menyeimbangkan iman, ilmu, dan amal dalam kerangka pembangunan peradaban. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan revitalisasi inovasi pembelajaran PAI bergantung pada keterpaduan empat aspek utama: teknologi digital, metode pembelajaran aktif, kompetensi guru, dan kurikulum bernilai Islam. Inovasi tidak boleh dipahami semata sebagai adopsi teknologi Barat, melainkan sebagai bentuk ijtihad ilmiah untuk mengembangkan pendidikan Islam yang relevan dengan tantangan zaman. Seperti ditegaskan oleh Wedi et al. (2024), Mahara dan Hafidz (2025), dan Khoiriyah et al. (2025), pendidikan Islam yang berdaya saing global adalah pendidikan yang mampu memadukan modernitas dengan spiritualitas, serta menanamkan kesadaran bahwa ilmu dan teknologi hanyalah sarana untuk mewujudkan kemaslahatan umat dan keagungan nilai-nilai Islam. Pembahasan mengenai revitalisasi inovasi ini diperluas melampaui lembaga pendidikan formal seperti madrasah dan sekolah untuk turut mengkaji ekosistem pendidikan Islam tradisional, yakni pesantren. Institusi pesantren, khususnya yang berhaluan salaf, menghadapi tantangan unik dalam mengadopsi teknologi digital. Inovasi di ranah ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga ideologis, yakni bagaimana mengintegrasikan perangkat modern seperti Artificial Intelligence untuk tahfizh atau platform ngaji online tanpa menggerus nilai-nilai inti seperti sanad keilmuan, otoritas kiai, dan spiritualitas riyadhoh (Misbah & Huda, 2023). Transformasi digital di pesantren seringkali bergerak pada spektrum "adaptasi selektif", di mana teknologi diadopsi untuk efisiensi administratif dan pembelajaran ilmu umum, namun ditolak untuk pengkajian kitab kuning inti. Peran kiai sebagai "kurator digital" menjadi sentral dalam memfilter konten dan memastikan teknologi tetap menjadi alat (wasilah) bukan tujuan (ghayah) yang mendeformasi tradisi (Abdullah, 2022). Judul penelitian yang menyertakan frasa "global" juga mengimplikasikan perlunya analisis komparatif untuk memosisikan inovasi PAI di Indonesia dalam konstelasi global. Studi komparatif dapat memberikan wawasan berharga mengenai best practices di negara lain. Negara Malaysia telah lebih dahulu mengintegrasikan pendidikan Islam dengan kurikulum STEM (Sains, Teknologi, Engineering, Matematika) secara sistematis, menghasilkan model PAI-STEM yang patut dikaji (Rahman & Ismail, 2023). Sementara itu, beberapa universitas di Turki dan Timur Tengah mulai memanfaatkan digital humanities dan AI untuk studi filologi naskah klasik dan analisis Hadis, sebuah inovasi yang masih jarang disentuh di Indonesia (Yilmaz & Aksoy, 2024). Dengan demikian, studi global tidak hanya melihat PAI sebagai objek di era global, tetapi sebagai subjek yang aktif berdialog dan belajar dari praktik pendidikan Islam di penjuru dunia, tentu dengan penyesuaian terhadap konteks sosio kultural Indonesia. Keberhasilan inovasi pembelajaran, terutama model seperti Flipped Classroom yang mengandalkan kemandirian belajar di rumah, sangat bergantung pada ekosistem di luar sekolah. Penelitian ini belum secara mendalam menyentuh peran vital orang tua dan masyarakat. Orang tua tidak bisa lagi diposisikan sebagai konsumen jasa pendidikan, melainkan harus bertransformasi menjadi "mitra pedagogis" guru (Susanto & Wibowo, 2022). Keterlibatan orang tua krusial, tidak hanya dalam menyediakan fasilitas, tetapi juga dalam mendampingi dan menginternalisasi nilai-nilai akhlak digital yang diajarkan di sekolah. Revitalisasi "Tri Sentra Pendidikan" (sekolah, keluarga, dan masyarakat) di 2025 Indonesian Journal of Educational Research Vol. 1 No. 4 Revitalisasi Inovasi Pembelajaran (Adelia, et., al) | 96-102 era digital menjadi kunci, di mana komunitas lokal seperti masjid atau organisasi masyarakat dapat berperan sebagai penguat ekosistem belajar digital yang beretika (Lestari, 2023). Fokus pada kompetensi guru dan kecanggihan teknologi (AI, VR/AR) seringkali mengabaikan variabel krusial, yakni kesiapan dan perspektif peserta didik. Adopsi teknologi canggih berisiko memperlebar "kesenjangan digital" (digital divide) yang tidak hanya menyangkut kepemilikan gawai, tetapi juga kualitas akses internet (Purnama & Setiawan, 2024). Lebih dari itu, terdapat "kesenjangan partisipasi" (participation gap), di mana sebagian siswa mungkin memiliki akses, namun tidak memiliki keterampilan literasi kritis untuk memanfaatkan teknologi tersebut secara bermakna (Hasanah, 2023). Pembelajaran inovatif yang diusulkan harus mempertimbangkan diferensiasi berdasarkan kesiapan teknologi siswa agar inovasi tidak bersifat elitis dan hanya menguntungkan kelompok siswa di perkotaan. Aspek lain dari perspektif siswa adalah penerimaan (resepsi) dan keterlibatan afektif mereka terhadap teknologi. Pembelajaran PAI sangat kental dengan muatan ruhiyah dan relasi spiritual emosional antara guru dan murid. Penerapan teknologi yang berlebihan, seperti asesmen berbasis AI atau pembelajaran imersif VR, berpotensi menimbulkan "alienasi" atau keterasingan jika siswa merasa interaksi kemanusiaan terdegradasi (Santoso, 2024). Penelitian perlu mengeksplorasi bagaimana respon afektif siswa, apakah teknologi baru ini meningkatkan antusiasme belajar atau justru menimbulkan technology anxiety (kecemasan teknologi). Keseimbangan antara high tech (teknologi tinggi) dan high touch (sentuhan kemanusiaan) menjadi sangat penting agar inovasi tidak mendehumanisasi esensi Pendidikan Agama Islam itu sendiri (Fauzi & Pratiwi, 2023). Dengan demikian, revitalisasi inovasi pembelajaran Pendidikan Islam di era modern bukan hanya transformasi metodologis, tetapi juga pembaharuan moral dan spiritual yang menegaskan kembali peran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dalam dunia pendidikan. Kecenderungan ini menegaskan pentingnya perubahan paradigma dari model pembelajaran konvensional menuju pendekatan yang kolaboratif, kontekstual, dan berbasis teknologi, yang memberikan dasar konseptual kuat bagi strategi pembelajaran Islam berorientasi masa depan. SIMPULAN Kesimpulan pada penelitian ini adalah revitalisasi inovasi pembelajaran Pendidikan Islam (PAI) di era modern dan global bergantung pada keterpaduan sistemik dari empat pilar teknologi digital (AI, VR/AR, LMS), metode aktif (PjBL, Flipped Classroom), kompetensi guru (TPACK), dan kurikulum bernilai Islam. Model inovasi ini harus dipahami sebagai ijtihad ilmiah yang menyeimbangkan high tech (adopsi teknologi) dengan high touch (sentuhan spiritual dan kemanusiaan) agar tidak terjadi alienasi pada peserta didik. Keberhasilan implementasi inovasi ini menuntut perluasan cakupan ke ekosistem pendidikan tradisional seperti pesantren (dengan pertimbangan ideologis tentang sanad keilmuan) dan membutuhkan dukungan Tri Sentra Pendidikan (keterlibatan orang tua dan masyarakat sebagai mitra pedagogis). Pada level global, inovasi PAI perlu diperkaya melalui studi komparatif (seperti model PAI-STEM) dan harus mampu menjembatani kesenjangan digital serta kesenjangan partisipasi siswa. Oleh karena itu, revitalisasi ini bersifat transformatif: perubahan paradigma dari model konvensional menuju pendekatan yang kolaboratif, kontekstual, dan berbasis teknologi untuk mencetak Muslim yang seimbang (spiritual, intelektual, dan sosial). Berdasarkan temuan ini, direkomendasikan agar pembuat kebijakan dan institusi pendidikan Islam fokus pada investasi holistik, meliputi: (1) peningkatan infrastruktur dan literasi digital secara merata, (2) pengembangan program pelatihan guru berbasis TPACK yang berkelanjutan, dan (3) penyesuaian kurikulum PAI untuk menguatkan etika digital dan moderasi beragama, serta melibatkan orang tua sebagai mitra aktif. 2025 Indonesian Journal of Educational Research Vol. 1 No. 4 Revitalisasi Inovasi Pembelajaran (Adelia, et., al) | 96-102 REFERENSI Abdullah, M. (2022). Kiai dan Otoritas Digital: Menavigasi Arus Informasi di Era Disrupsi. Pustaka Pesantren. Afnan, H., & Maksum, M. N. R. (2023). Enhancing Students’ Soft Skills Through Digital Literacy Integration in Islamic Education: A TPACK-Based Approach. Al-Idarah: Jurnal Kependidikan Islam, 13(1), 66–78. Aripin, S. & Nurdiansyah, N. M. (2022). Modernization of Education: a New Approach and Method in Learning Islamic Religious Education. Tadris: Jurnal Pendidikan Islam, 17(2). Aripin, S. (2018). Revitalisasi Pendidikan Islam Pada Madrasah. Kordinat: Jurnal Komunikasi Antar Perguruan Tinggi Agama Islam, 17(2). Aripin, S. (2022). Modernisasi Dalam Pendidikan. Kordinat: Jurnal Komunikasi Antar Perguruan Tinggi Agama Islam, 21(2). Az-Zahrah, N., & Fitri Ginting, R. (2024). Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Era Society 5.0: Tantangan dan Peluang. Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah, 8(1), 101–113. Basri, H. (2023). Pengembangan Pembelajaran PAI dalam Kurikulum Merdeka Era Digital. Tarbawi: Jurnal Pendidikan Islam, 20(1). Budiyanti, S., Miftahul Ulum, I., & Jaenudin, A. (2024). PAI Teacher Digital Competency Based on Teaching Level. Qalamuna: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama, 14(2). Fahrunnisa, A., Ishak, M., & Aswaja, B. (2023). Development of Digital Literacy in Islamic Religious Education: A Case Study at MAN 1 Makassar. Maerifah: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 7(1), 32–44. Fauzi, A., & Pratiwi, N. (2023). Mengukur Kecemasan Teknologi (Techno-Anxiety) Siswa dalam Implementasi Pembelajaran PAI Berbasis AI. Jurnal Psikologi Pendidikan Islam, 11(2), 104-119. Hasanah, U. (2023). Melampaui Akses: Menjembatani Kesenjangan Partisipasi Digital dalam Pendidikan di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Jurnal Inovasi Pendidikan, 8(1), 4558. Khoiriyah, S., Nurdin, A., & Hasanah, R. (2025). The Use of Virtual Reality in Islamic Religious Education: Enhancing Student Engagement and Emotional Understanding. Journal of Islamic Education Innovation, 12(1), 55–70. Lestari, S. (2023). Revitalisasi Tri Sentra Pendidikan di Era Digital: Sinergi Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat. Jurnal Pendidikan Karakter, 9(2), 201-215. Mahara, F., & Hafidz, A. (2025). Technology-based Integrative Strategy in Improving Islamic Education Teachers Competence. Journal of Islamic Education, 10(2), 45–58. Misbah, M., & Huda, S. (2023). Modernisasi Pesantren Salaf: Tantangan Integrasi Teknologi dalam Kurikulum Kitab Kuning. Jurnal Studi Pesantren, 5(1), 30-45. Mustapa, K., et al. (2023). Technology-Enhanced Education: Nurturing the Digital Generation – Experiences in Islamic Schools in Indonesia. International Journal of Teaching and Learning, 15(2), 122–137. Purnama, A., & Setiawan, B. (2024). Kesenjangan Digital dan Dampaknya terhadap Akses Pembelajaran PAI Berkualitas di Wilayah Pedesaan Indonesia. Jurnal Teknologi Pendidikan, 12(1), 77-90. Rahman, Z. A., & Ismail, K. (2023). Integrating Islamic Revealed Knowledge and STEM: The Malaysian Model for Global Islamic Education. Global Journal of Islamic Education, 4(2), 150165. Santoso, R. (2024). Alienasi Siswa dalam Pembelajaran Berbasis Virtual Reality: Studi Kasus pada Mata Pelajaran Fikih. Jurnal Sosiologi Pendidikan, 7(1), 12-25. 2025 Indonesian Journal of Educational Research Vol. 1 No. 4 Revitalisasi Inovasi Pembelajaran (Adelia, et., al) | 96-102 Sihabudin, B., & Sukandar, A. (2024). Project-Based Learning Strategy in Islamic Religious Education to Enhance Students’ Critical Thinking Skills. Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 8(2), 211–226. Susanto, H., & Wibowo, A. (2022). Peran Orang Tua sebagai Mitra Pedagogis Guru PAI dalam Implementasi Flipped Classroom. Jurnal Pendidikan Keluarga, 6(2), 88-101. Wedi, A., Mardiana, D., & Umiarso, U. (2024). Digital Transformation Model of Islamic Religious Education in the AI Era: A Case Study of Madrasah Aliyah in East Java, Indonesia. International Journal of Learning, Teaching and Educational Research, 23(8), 47–65. Yilmaz, K., & Aksoy, M. (2024). The Use of Artificial Intelligence in Hadith Studies: A Comparative Analysis of Turkish Higher Education. Journal of Middle Eastern Studies, 30(3), 345-360.