scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Shaping Santri Character Through Muhadhoroh Activities at Alkarim Rasyd Islamic Boarding School, Kotabumi, North Lampung

Anita A, Wahyudi Hidayah

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 4, November 2025, P 193-199 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17600144 *Corresponding Author Email: [email protected], [email protected] Pembentukan Tabiat Santri Melalui Pengelolaa Kegiatan Muhadhoroh di Pondok Pesantren Alkarim Rasyd Kotabumi Lampung Utara Shaping Santri Character Through Muhadhoroh Activities at Alkarim Rasyd Islamic Boarding School, Kotabumi, North Lampung Wahyudi Hidayah1, Anita2 Sekolah Tinggi Agama Islam Ibnu Rusyd Kotabumi, Indonesia A B S T R A C T Pesantren memainkan peran yang sangat penting, sebagai tempat bagi para santri untuk belajar sekaligus menjalankan misinya dalam menyebarkan ajaran Islam. Di Pondok Pesantren al karim rasyd, para santri dilatih untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan berdakwah melalui kegiatan muhadhoroh. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk memahami manajemen kegiatan muhadhoroh di Pondok Pesantren al karim rasyd, 2) untuk mengeksplorasi pengaruh muhadhoroh terhadap pembentukan mental santri, dan 3) untuk meneliti dampak kegiatan muhadhoroh dalam perkembangan mental santri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, dokumentasi, observasi, serta analisis data yang dilakukan melalui langkah-langkah: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa manajemen kegiatan muhadhoroh dalam membentuk mental santri dimulai dengan perencanaan yang mencakup pelatihan muhadhoroh. Pengorganisasian dilakukan dengan penugasan petugas muhadhoroh di setiap kelas, pelaksanaannya mencakup pembukaan, pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, sambutan, sholawat, inti (muhadhoroh), do'a, dan penutupan, di mana pengawasan dilakukan oleh pengurus, serta evaluasi terhadap hasil pelaksanaan kegiatan muhadhoroh. Pembentukan mental santri melalui aktivitas muhadhoroh dipengaruhi oleh faktor-faktor pendukung dan penghambat. Faktor pendukungnya mencakup kewajiban dan adanya bimbingan dari seluruh pengurus, sedangkan faktor penghambatnya adalah perasaan pesimis dan rasa malu yang ada pada santri. A B S T R A C T Islamic boarding schools play a very important role, as a place for students to learn while carrying out their mission in spreading Islamic teachings. At the Al Karim Rasyd Islamic Boarding School, students are trained to develop their abilities and skills in preaching through muhadhoroh activities. The objectives of this study are 1) to understand the management of muhadhoroh activities at the Al Karim Rasyd Islamic Boarding School, 2) to explore the influence of muhadhoroh on the mental development of students, and 3) to examine the impact of muhadhoroh activities on the mental development of students. The method used in this study is a descriptive qualitative approach, with data collection techniques through interviews, documentation, observation, and data analysis carried out through the following steps: data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that the management of muhadhoroh activities in shaping the mental development of students begins with planning that includes muhadhoroh training. The organization is carried out by assigning muhadhoroh officers in each class, the implementation of which includes opening, reading of holy verses of the Qur'an, greeting, sholawat, core (muhadhoroh), prayer, and closing, where supervision is carried out by the administrators, as well as evaluation of the results of the implementation of muhadhoroh activities. The formation of the mentality of students through muhadhoroh activities is influenced by supporting and inhibiting factors. Supporting factors include obligations and the existence of guidance from all administrators, while inhibiting factors are feelings of pessimism and shame that exist in students. PENDAHULUAN Pada era modern saat ini, generasi muda menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks. Pemuda yang hanya berpotensi biasa-biasa saja bisa menjadi sebuah masalah yang A R T I C L E I N F O Article history: Received Oktober 24, 2025 Revised 25 Oktober 2025 Accepted 31 Oktober 2025 Available online 12 November. 2025 Keywords Manajemen, Muhadhoroh, Mental Keywords: Management, Muhadhoroh, Mentally This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 193-199 Socius E-ISSN: 3025-6704 sangat menyedihkan. Seiring dengan kemajuan zaman, keberadaan pemuda semakin diperlukan untuk mendorong kreativitas, inovasi, dan kemampuan untuk memimpin banyak orang. Tidak ada pemuda yang malas, yang ada hanyalah pemuda yang kurang mendapat dorongan, pemuda yang tidak memiliki semangat untuk menjadi individu yang luar biasa dengan mental juara. Menurut Rina Werdayanti, mental juara tidak datang begitu saja, melainkan perlu usaha. Selain itu, hal tersebut harus dilatih, diasah, dan terus ditingkatkan. (Rina, 2015) Proses pendidikan memiliki arti yang sama pentingnya dengan materi yang diajarkan. Sadari bahwa belajar membutuhkan tahap-tahap tertentu. Cobalah untuk terus melakukannya dan tanpa disadari, Anda akan mencapai tingkat keahlian, karena kemampuan itu sudah menjadi bagian dari pikiran bawah sadar. Pengembangan mental memerlukan waktu dan bukanlah sesuatu yang instan. Sampai Anda meraih kesuksesan, berapa kali pun Anda mengalami kegagalan, rasa sakit itu tidak akan lagi terasa. Ada konsekuensi yang harus dihadapi. Investasi yang diperlukan untuk membentuk mental seorang juara meliputi pengetahuan, kesabaran, ketenangan, latihan, praktik yang berkelanjutan, dan waktu. Lembaga pendidikan memiliki peranan yang signifikan dalam pengembangan mental, salah satunya adalah Pondok Pesantren Al Karim Rosyd di Kotabumi. Pesantren ini memberikan pendidikan dan pelatihan kepada para santri dalam bidang ilmu agama serta keterampilan yang diperlukan untuk kegiatan dakwah. Hal ini dapat dilihat dari beberapa faktor yang mendasarikeberadaanpesantren sebagai institusi yang menyebarluaskan ajaran Islam dan memiliki peran penting dalam mengatur cara hidup masyarakat serta interaksi antara individu. Dengan demikian, Pondok Pesantren Al Karim Rosyd berfungsi sebagai institusi dakwah Islam yang beroperasi di Kotabumi, Wonogiri. Lembaga pendidikan, termasuk pondok pesantren, saat ini telah melakukan pengembangan program yang mencakup kegiatan tidak hanya dalam kurikulum tetapi juga di luar kurikulum. Pondok Pesantren Al Karim Rasyd memiliki program ekstrakurikuler yang terdiri dari kegiatan wajib dan pilihan bagi para santrinya. Kegiatan ekstrakurikuler ini tergolong dalam aktivitas non-pelajaran formal, diikuti oleh santri dari berbagai jenjang pendidikan, baik sekolah maupun universitas, dengan jadwal yang sudah ditetapkan di luar waktu belajar sesuai kurikulum standar. Aktivitas ekstrakurikuler ini sangat krusial agar santri dapat meningkatkan kepribadian, bakat, dan skill mereka di berbagai bidang di luar materi akademik (Ekstra, 2018). Kegiatan ekstrakurikuler dapat membangun jiwa yang positif sesuai kegiatan-kegiatan yang dipilih dan diikuti oleh para santri. Kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti dan dilaksanakan oleh santri di pondok pesantren, bertujuan agar santri dapat memperkarya dan memperluas wawasan. Berbagai pengetahuan dan pengalaman dapat diperoleh, sehingga mampu mendorong pembinaan sikap atau nilai-nilai, agar santri menjadi lebih aktif dan baik kedepannya. Melalui kegiatan ekstra muhadhoroh, diupayakan untuk meningkatkan kemampuan santri dan memampukan mereka menjadi kader-kader da’i yang akan menjadi penerus tugas dakwah di masa depan. Pelatihan Muhadhoroh sangat penting, terutama di Pondok Pesantren Al Karim Rasyd. Dari institusi pendidikan ini, lahir banyak juru dakwah, ustadz, kyai, dan tokoh masyarakat. Ini terjadi karena pondok pesantren memiliki nilai-nilai yang sangat mendukung keberhasilan suatu kegiatan pondok pesantren. Usaha pengembangan sumber daya santri berkaitan dengan peningkatan kualitas mental yang meliputi pola pikir, wawasan, keterampilan dan rasa percaya diri. Pesantren memiliki fungsi yang sangat krusial, bagi santri, pesantren juga berperan sebagai lembaga penyebaran Islam. Karena itu, masyarakat sering berpikir bahwa santri pasti dapat berdakwah dan berbicara di depan umum. Namun, faktanya tidak semua santri yang telah lulus dan berinteraksi dengan masyarakat mampu berbicara di hadapan banyak orang. Oleh Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 193-199 Wahyudi Hidayah, et., al/ Pembentukan Tabiat Santri karena itu, Pesantren Al Karim Rasyd mengadakan pelatihan dakwah yang disebut muhadhoroh. Di sini, santri diajarkan untuk berdakwah dan berbicara di depan umum, sehingga setelah mereka menyelesaikan pendidikan di pesantren, mereka dapat menyebarluaskan ajaran Islam. Untuk memastikan keberhasilan dakwah ini, sangat penting adanya pembinaan yang terus-menerus, terutama bagi para pendukung dan pelaksana, serta secara umum untuk generasi muda. Kegiatan yang berfokus pada komunikasi publik ini dirancang khusus untuk santri agar keterampilan komunikasi mereka saat berhadapan dengan publik dapat berkembang. Setidaknya, mereka tidak merasa canggung dan sekaligus dapat melatih diri untuk tampil di depan orang banyak. Santri diharapkan mampu menyampaikan pendapatnya dengan teratur, meningkatkan rasa percaya diri, memiliki sikap optimis, dan mampu memahami orang lain. Semua ini dapat tercapai jika santri benar-benar serius dalam mengikuti program tersebut. Melihat uraian latar belakang di atas, mendorong penulis untuk mengadakan penelitiaan dengan dengan judul Pembentukan Mental Santri Putri Melalui Manajemen Kegiatan Muhadhoroh di Pondok Pesantren Alkarim Rasyd Kotabumi, Wonogiri, Lampung Utara. KAJIAN TEORITIS 1. Manajemen Manajemen diartikan sebagai serangakaian kegaiatan merencanakan, mengorganisasi, melaksanakan, dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien (Asmani, 2009). Oleh karena itu, manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui keterlibatan orang lain. Manajemen sekumpulan kegiatan dimana kegiatan itu antara satu dengan yang lain saling terkait yang mencakup perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengontrolan (controling) untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Secara umum, pengelolaan dilakukan dengan mengarahkan tenaga kerja dan mengorganisir semua aktivitas yang dilakukan oleh orang atau tim. Pengelolaan adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan demi mencapai sasaran atau tujuan dari individu atau kelompok secara kolaboratif dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Sebenarnya, ini sudah sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari di mana usaha meraih tujuan dilakukan secara bersama-sama agar lebih mudah terwujud. Setiap orang tentunya pernah menerapkan pengelolaan secara tidak langsung setiap hari, karena manusia, sebagai makhluk sosial, secara alami saling membantu untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Haiman menyatakan bahwa pengelolaan adalah fungsi yang bertujuan untuk mencapai sesuatu melalui aktivitas orang lain serta mengawasi upaya individu dalam meraih tujuan Bersama (Manullang, 2013). 2. Kegiatan Muhadhoroh Muhadhoroh berasal dari bahasa Arab, yaitu al-muhadharatu yang berarti ceramah, kuliah (Munawwir, 1990). Muhadhoroh suatu kegiatan yang dilakukan dengan melatih kemampuan dan keterampilan lisan dalam bentuk berceramah atau berpidato. Kemampuan dan keterampulan berceramah atau berpidato harus diasah dengan sering berlatih tampil di depan publik. Berpidato sering kali disamakan dengan beretorika (dalam bahasa Yunani) dan Public Speaking (dalam bahasa Inggris). Berceramah atau berpidato suatu serangakaian kata yang diucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak (Putranto, 2011). Berceramah dilakukan oleh seseorang yang menyampaikan informasi atau pandangan yang positif serta tentang kejadian tertentu yang layak untuk dibahas. Oleh karena itu, penceramah perlu memperhatikan bahwa cara penyampaian harus sopan dan mengupas topik yang relevan. Kegiatan berceramah berkaitan dengan upaya untuk memengaruhi audiens, sehingga ada beberapa elemen penting yang perlu diperhatikan, seperti: pembicara, pendengar, Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 193-199 Socius E-ISSN: 3025-6704 tujuan dan konten ceramah, persiapan, teknik serta etika dalam berbicara, dan masih banyak aspek lain yang perlu diperhatikan (Bahar, 2013). Secara umum, kegiatan muhadhoroh dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk pengembangan diri melalui latihan berbicara, persiapan, dan teknik tertentu, yang bertujuan untuk melatih individu agar mampu berbicara di hadapan publik terkait suatu informasi atau peristiwa. Aspek-aspek dalam berceramah: a) Pembicara adalah individu yang bertugas menyampaikan materi atau informasi kepada orang lain b) Pesan adalah isi atau materi yang disampaikan kepada audiens untuk dipahami. c) Media adalah alat yang digunakan untuk menampilkan materi. d) Penerima pesan adalah pendengar yang siap menerima informasi dari pembicara. e) Umpan balik adalah pemahaman audiens setelah menerima pesan, atau harapan mereka saat mengikuti pidato serta tanggapan mereka terhadap acara yang berlangsung. (Hakim, 2020) Terdapat berbagai cara untuk melakukan muhadhoroh: a) Metode Impromtu, yaitu cara yang dilaksanakan secara mendadak tanpa adanya persiapan sebelumnya. b) Metode Memoriter, yaitu cara yang dilakukan dengan membaca naskah yang sudah diingat sebelumnya. c) Metode Naskah, yaitu cara yang dilakukan dengan membaca teks yang sudah ditulis terlebih dahulu. d) Metode Ekstemporan, yaitu metode yang direncanakan dengan memakai catatan kecil sebagai pokok pembicaraan. 3. Mental Mental merupakan bagian penting dalam diri manusia untuk berpikir dan merespon segala sesuatu. Kemampuan manusia dalam berpikir sangat tergantung kemampuan mental. Manusia berpikir dipengaruhi pengalaman, hasil belajar, dan atau lingkungan juga dapat mempegaruhi pola pikir tersebut. Mental sebagai sikap atau tindakan seseorang dalam menghadapi tantangan atau masalah tetapi tindakan tersebut harus didasarkan pada pikiran dan pertimbangan yang matang. Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), mental sangat terkait dengan jiwa dan karakter seseorang. Dengan kata lain, mental mencerminkan sifat atau karakter jiwa yang memengaruhi semua tindakan atau perilaku. Apabila mental individu berada dalam keadaan baik, maka cara berpikirnya juga akan baik, karakternya positif, dan perilakunya terpuji. Namun, jika mental seseorang sudah terganggu, bisa dipastikan bahwa pikiran, karakter, dan perilakunya juga akan terpengaruh secara negatif. Akal adalah bagian yang berkaitan dengan jiwa dan karakter seseorang. Di mana tindakan dan perilaku yang diperlihatkan sangat dipengaruhi oleh sifat atau karakter jiwa individu itu. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan dan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, dokumentasi, dan observasi. Analisa data dilakukan dengan langkah-langkah; reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Di bawah ini adalah hasil wawancara dengan ketua pengurus, pembimbing muhadhoroh, Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 193-199 Wahyudi Hidayah, et., al/ Pembentukan Tabiat Santri dan alumni dari pondok pesantren al karim rasyd, antara lain: 1. Perencanaan Sebelum melaksanakan muhadhoroh, pengurus melakukan sesi pelatihan mengenai pemahaman muhadhoroh kepada para santri, dan untuk uji mental pertama yang dilakukan dengan mengajarkan santri baru untuk berperan sebagai MC dalam kegiatan kecil di asrama putri. Melalui pengalaman menjadi MC, para santri mulai berlatih untuk berbicara di depan umum (Chaplin, 2001). 2. Pengorganisasian Dalam mengorganisasikan santri-santri untuk berlangsungnya kegiatan muhadhoroh, santri-santri dikelompokkan perkelas. lalu perkelas dibagi tugas sesuai hasil lotre yang diambil oleh masing-masing santri. Dan apapun hasilnya santri-santri harus siap sesuai kewajibannya. Ada yang mendapat tugas MC, Qiro’ah, Sambutan, sholawat, inti (muhadhoroh), dan do’a. 3. Pelaksanaan Dalam pelaksanaan muhadhoroh, ada susunan acara khusus untuk kegiatan muhadhoroh, yaitu : Pembukaan, Pembacaan ayat suci Al-Qur’an, Sambutan, Sholawat, Inti (Muhadhoroh), Do’a dan Penutup. Struktur dari inti muhadhoroh terdiri dari pembukaan, bagian utama, dan penutupan. Dengan demikian, pelaksanaan muhadhoroh menjadi lebih teratur dan bertujuan untuk mempersiapkan santri-santri ketika mereka berinteraksi dengan masyarakat, sehingga mereka sudah bisa merencanakan kegiatan dengan baik. 4. Pengawasan Saat mengawasi berlangsungnya acara muhadhoroh, semua pengurus ikut serta dalam acara tersebut dengan tujuan utamanya untuk mengawasi penampilan santri dan mengoreksi kekurangan dan kelebihan santri saat menjalankan tugasnya. Setelah kegiatan muhadhoroh selesai salah satu pengurus maju kedepan lalu menyampaikan penilaian (evaluasi) segenap pengurus terhadap penampilan santri tadi agar bisa digunakan untuk evaluasi kedepanya dengan tujuan utama santri-santri menjadi lebih baik lagi. Dalam proses membentuk mental santri membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan tidak hanya sekali dua kali tampil di depan publik, tapi perlu memperbanyak jam terbang santri agar mulai terbiasa, ada beberapa faktor utama yang menjadi pendukung dan penghambat dalam pembangunan mental santri. Faktor Pendukung a. Bimbingan dari segenap pengurus. Awal sebelum santri terjun adalam acara muhadhoroh secara langsung ada bimbingan dan arahan dari pembimbingnya, yaitu segenap pengurus putri pondok pesantren al karim rasyd. b. Kewajiban. Kegiatan muhadhoroh diwajibkan untuk semua santri pondok pesantren al karim rasyd. Karena itu, santri yang merasa kurang percaya diri dan merasa kurang mampu juga dituntut untuk bisa dengan diberi arahan, santri-santri mulai tampil alakadarnya, sesuai kemampuannya. Seiring berjalannya waktu, santri akan mulai terbiasa dan percaya diri dengan kemampuannya. c. Lingkungan Santri-santri di pondok pesantren al karim rasyd sebagian besar sudah bisa menguasai panggung karena adanya kegiatan muhadhoroh. Faktor inilah yang dapat membangkitkan semangat bagi santri yang belum dapat menguasai, agar mereka terus belajar, berlatih, dan menumbuhkan rasa percaya diri serta sikap optimis yang dapat membangun sifat juara dalam diri santri-santri di pondok pesantren al karim rasyd. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 193-199 Socius E-ISSN: 3025-6704 Banyak keuntungan yang diperoleh dengan selalu berpartisipasi dan terlibat dalam kegiatan masyarakat. Sering ikut serta dalam acara yang diadakan masyarakat akan membuat seseorang lebih dikenal dan memiliki banyak relasi. Berinteraksi dengan orang lain, saling menolong, memahami lebih banyak tentang lingkungan sekitar, serta mendapatkan berbagai pengalaman menjadi beberapa hasil positif yang didapat dari kegiatan sosial. Di lingkungan masyarakat, khususnya, santri dianggap mampu tampil dalam berbagai aspek, sehingga Pondok Pesantren Al Karim Rasyd berupaya keras mempersiapkan mental santri untuk beradaptasi di kehidupan sosial. Dengan demikian, santri dan seluruh alumni Pondok Pesantren Al Karim Rasyd diharapkan dapat menjadi kebanggaan masyarakat serta memberikan manfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. 2. Faktor Penghambat a. Pesimis Seorang yang optimis, selalu melihat kesempatan di dalam kesmpitan. Sementara orang yang pesimis justru melihat kesempitan di dalam kesempatan (Bahri, 2010) Rasa kurang percaya diri dan rasa tidak mampu sebelum mencoba dari pribadi santri adalah hambatan terbesar, karena adanya kemajuan dimulai dari sugesti kita sendiri. Kebanyakan santri pemula merasa bahwa dirinya tidak akan bisa, maka dari itu pengurus mengadakan pelatihan muhadhoroh sebelum santri-santri terjun di kegiatan muhadhoroh secara langsung. Dan menyakinkan santri-santri bahwa tiada yang tidak mungkin selagi kita mau berusaha. b. Malu Rasa malu merupakan penghalang lainnya dalam muhadhoroh, di samping rasa pesimis yang dialami oleh para santri. Apabila seseorang tidak didorong untuk menjadi berani dan meyakinkan dirinya sendiri, maka ia akan terperangkap dalam rasa malu dan tidak akan pernah berani menampilkan kemampuannya. Rasa malu adalah bagian dari sifat manusia, tetapi dengan latihan dan kebiasaan, rasa malu itu bisa memudar dengan sendirinya. Kita harus menempatkan rasa malu pada batas yang tepat. Namun, untuk hal-hal yang positif, kita perlu memiliki keberanian, karena di zaman globalisasi ini kita dihadapkan pada banyak tantangan yang harus ditangani dengan keberanian dalam mempertahankan kebenaran dan melaksanakan tugas dengan penuh keyakinan. Untuk mengembangkan mental santri agar menjadi sosok yang berani, pengurus memberikan dorongan dengan menjelaskan keuntungan dari pembentukan mental dan manfaat yang didapat dari aktivitas muhadhoroh. Selain itu, pengurus meyakinkan santri bahwa "siapa yang berusaha pasti akan meraih kesuksesan." Sebelum terlibat dalam kegiatan muhadhoroh di pondok pesantren Al Karim Rasyid, kondisi mental santri belum matang. Beberapa mulai menunjukkan keberanian untuk tampil, tetapi mereka masih merasa ragu terhadap kemampuan diri, bahkan ada yang sepenuhnya tidak percaya diri akan kemampuannya. Perkembangan santri setelah berpartisipasi dalam kegiatan muhadhorah di pondok pesantren al karim rasyd mencangkup beberapa aspek, utamaya adalah mental santri yang terbentuk dengan baik, namun tidak hanya itu, tapi juga rasa tanggung jawab, percaya diri, dan jiwa optimis yang tumbuh pada setiap individu yang mengikuti kegiatan muhadhoroh. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa manajemen kegiatan muhadhoroh di Pondok Pesantren Al Karim Rasyd diawali dengan pelatihan muhadhoroh bagi para peserta. Selanjutnya, petugas muhadhoroh dikelompokkan sesuai kelas masing-masing. Pelaksanaan kegiatan berlangsung secara terstruktur, dimulai dengan pembukaan, diikuti Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 193-199 Wahyudi Hidayah, et., al/ Pembentukan Tabiat Santri pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan, sholawat, inti kegiatan (muhadhoroh), doa, dan penutup. Seluruh pengurus juga melakukan pengawasan selama kegiatan untuk keperluan evaluasi. Kegiatan muhadhoroh berperan penting dalam membentuk mental dan karakter santri. Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan kegiatan ini meliputi kewajiban mengikuti kegiatan, bimbingan dari seluruh pengurus pesantren, serta kondisi lingkungan yang kondusif. Sementara itu, faktor penghambatnya mencakup sikap pesimis yang masih muncul pada santri baru, yang merasa kurang mampu, serta rasa malu yang membuat beberapa santri enggan tampil karena takut gagal. REFERENSI Adi, Putranto, Ayo Berani Pidato Tips dan Trik Menjadi Singa Podium, Bandung: Pustaka Sunda, 2011. Asmani, Jamal Ma’mur, Manajemen Strategis Pendidikan Anak Usia Dini, Jogjakarta: Diva Press, 2009. Bahri, Saiful. Terapi Bermental Sukses. Jakarta: Graha Pena, 2010 Chaplin, J.P. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT Raja Graffindo Persada, 2001 Hakim, Rachman, Kiat Jitu Mahir Pidato, Yogyakarta: Shira Media, 2010 Ekstra Kurikuler,” https://id.m.wikipedia.org/wiki/ekstrakurikuler Kusumawati. 178 Metode Kepribadian Yang Paling Dicari & Disukai Orang. Jakarta: Buku Kita, 2010. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen. Bandung: Cita Pustaka Media Perintis, 2013 Munawwir, Ahmad Warson. Al Munawwir: Kamus Arab-Indonesia. Yogyakarta: Unit Pengadaan Buku-buku Ilmiah Keagamaan Pondok Pesantren Al Munawwir, 1990. Utomo, Tatag. Renungan Sikap Mental Karyawan Perusahaan II. Jakarta: Grasindo, 2000. Werdayanti, Rina. Nilai Boleh Biasa Mental Harus Juara. Yogyakarta: Istana Media, 2015. Wibowo. Manajemen Perubahan Edisi Ketiga. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2006.