The Accuracy of Patient Identification to Improve Understanding and Implementation of Patient Safety Principles in Health Care Facilities at Meilia Vocational High School Cinere Depok
Full text
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 Ketepatan Identifikasi Pasien (Nelly Febriani, dkk.) | 24-31 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Volume 4, Nomor 8, November 2025, Halaman 24-31 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17621870 Ketepatan Identifikasi Pasien untuk Meningkatkan Pemahaman dan Penerapan Prinsip Keselamatan Pasien di Fasilitas Kesehatan di Sekolah Menengah Kejuruan Meilia Cinere Depok The Accuracy of Patient Identification to Improve Understanding and Implementation of Patient Safety Principles in Health Care Facilities at Meilia Vocational High School Cinere Depok Nelly Febriani¹, Hafizah Khairini², Nurdinda Azhari3, Nathaniela Arafah4 , Putri Ardiansari5, Cintia Zahwa Khairunnisa6, Jovita Putri Kusumadewi7 Difa' Shohwatul Islam8 Dara Annastasya9 Putri Wiwit Pebriani10 Ratna Sulistiawati11 Regina Aprillia Nugroho12 Puput Adi Triana13 Program Studi Program Sarjana Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta, Jakarta, Indonesia1-13 Email: 1[email protected], 2[email protected], 3[email protected], 4[email protected], 5[email protected], 62310[email protected], 7[email protected], 8[email protected], [email protected], 10[email protected], 11[email protected], [email protected], 13[email protected] Abstrak Keselamatan pasien merupakan aspek fundamental dalam pelayanan kesehatan yang berfokus pada pencegahan cedera yang dapat dihindari selama proses perawatan. Salah satu elemen kunci dalam penerapan keselamatan pasien adalah ketepatan identifikasi, yang berfungsi memastikan bahwa setiap tindakan medis dan keperawatan diberikan kepada pasien yang benar. Meskipun telah diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan No. 11 Tahun 2017 dan menjadi prioritas global menurut WHO (2023), masih banyak ditemukan kesalahan identifikasi akibat rendahnya pemahaman dan kepatuhan terhadap prosedur standar. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa SMK Meilia Medika Cinere, Depok mengenai ketepatan identifikasi pasien melalui edukasi interaktif. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan rancangan pre-post test one group design berbasis Project-Based Learning. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2025 dan melibatkan 27 siswa jurusan keperawatan sebagai peserta. Proses edukasi dilakukan melalui ceramah interaktif, diskusi, simulasi, serta penggunaan media visual seperti poster, video, dan PowerPoint. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan rata-rata pengetahuan sebesar 3,33%, yaitu dari 95,56% pada pretest menjadi 98,89% pada posttest. Meskipun peningkatannya kecil karena peserta telah memiliki pengetahuan awal yang tinggi, kegiatan ini berhasil memperkuat kesadaran dan sikap positif terhadap penerapan prinsip keselamatan pasien. Dengan demikian, edukasi interaktif berbasis media visual terbukti efektif dalam memperkuat pemahaman dan menanamkan budaya keselamatan pasien pada siswa keperawatan di tingkat pendidikan kejuruan. Kata Kunci : Ketepatan Identifikasi Pasien, Prinsip Keselamatan Pasien, Pendidikan Keperawatan Abstract Patient safety is a fundamental aspect of healthcare that focuses on preventing avoidable injuries during the treatment process. One of the key elements in implementing patient safety is accurate identification, which serves to ensure that every medical and nursing action is given to the right patient. Although it has been regulated through Minister of Health Regulation No. 11 of 2017 and is a global priority according to the WHO (2023), many identification errors are still found due to low understanding and compliance with standard procedures. This community service activity aims to increase the understanding of Meilia Medika Cinere Vocational School students in Depok regarding the accuracy of patient identification through interactive education. The method used was a quantitative approach with a pre-post test one group design based on Project-Based Learning. The activity was carried out in October 2025 and involved 27 nursing students as participants. The education process was conducted through interactive lectures, discussions, simulations, and the use of visual media such as posters, videos, and PowerPoint presentations. The evaluation results showed an average increase in knowledge of 3.33%, from 95.56% in the pretest to 98.89% in the
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 Ketepatan Identifikasi Pasien (Nelly Febriani, dkk.) | 24-31 posttest. Although the increase was small because participants already had a high level of prior knowledge, this activity succeeded in strengthening awareness and positive attitudes toward the application of patient safety principles. As a result, interactive education based on visual media proved effective in strengthening understanding and instilling a culture of patient safety in nursing students at the vocational education level. Keywords: Accuracy of Patient Identification, Patient Safety Principles, Nursing Education Article Info Received date: 31 Oktober 2025 Revised date: 5 November 2025 Accepted date: 15 November 2025 PENDAHULUAN Keselamatan pasien merupakan aspek fundamental dalam pelayanan kesehatan. (WHO, 2023) menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas global dan mendorong penerapan tindakan sistemik untuk mencegah cedera yang dapat dihindari selama memberikan pelayanan terhadap pasien. Implementasi prinsip keselamatan harus mencakup tindakan operasional sederhana namun kritis, salah satunya adalah ketepatan identifikasi pada pasien. Contohnya termasuk pemberian obat yang salah, transfusi darah yang tidak sesuai, pengambilan spesimen dari pasien yang salah, dan tindakan medis yang salah. Oleh karena itu, budaya keselamatan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan dimulai dengan penerapan prinsip pengenalan pasien dengan benar dan konsisten. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit di Indonesia mengatur keselamatan pasien dengan mewajibkan tenaga kesehatan untuk memverifikasi identitas pasien dengan menggunakan minimal dua pengenalan utama. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kesalahan identifikasi pasien masih sering terjadi karena pemahaman yang buruk dan kepatuhan terhadap prosedur standar. Menurut De Rezende dan Melleiro (2022), salah mengenali pasien adalah penyebab utama kejadian keselamatan pasien lainnya. Murtiningtyas dan Dhamanti (2022), menjelaskan bahwa kelemahan dalam penerapan prinsip verifikasi dua identitas utama, yaitu nama dan tanggal lahir pasien seringkali menyebabkan ketidaktepatan dalam mengidentifikasi pasien. Kondisi ini menunjukkan bahwa calon tenaga kesehatan harus dididik lebih awal tentang pentingnya mengidentifikasi pasien sebagai bagian dari budaya keselamatan. Ketepatan identifikasi pasien (positive patient identification) adalah dasar dari rantai keselamatan pasien. Studi menunjukkan bahwa meskipun tenaga kesehatan dan mahasiswa keperawatan menyadari pentingnya penggunaan gelang identifikasi, praktik penggunaannya di lapangan masih belum optimal. Banyak pasien yang kurang mendapatkan informasi mengenai tujuan gelang tersebut, dan penerapan prosedur verifikasi identitas seringkali tidak konsisten, terutama saat prosedur medis atau perpindahan pasien. Faktor-faktor seperti kurangnya edukasi, hambatan komunikasi, dan kurangnya kesadaran akan pentingnya protokol identifikasi yang benar menjadi tantangan utama dalam meningkatkan ketepatan identifikasi pasien. Pendidikan keperawatan memiliki peran strategis dalam membentuk perilaku profesional dan kompetensi keselamatan pasien. Calon tenaga kesehatan perlu dibekali dengan pemahaman dan keterampilan dasar mengenai identifikasi pasien yang benar, karena kesalahan di tahap awal pembelajaran dapat berlanjut menjadi kebiasaan di praktik klinik. Oleh karena itu, upaya peningkatan ketepatan identifikasi di SMK Meilia Medika Cinere, Depok ini bukan hanya bertujuan menurunkan risiko langsung terhadap siswa atau pasien, tetapi juga sebagai sarana pendidikan guna menanamkan prinsip keselamatan pasien pada calon tenaga kesehatan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian yang difokuskan pada peningkatan pemahaman (knowledge), sikap (attitude), dan praktik (practice) terkait identifikasi pasien di fasilitas kesehatan SMK Meilia Cinere Depok diharapkan dapat: (1) Mengidentifikasi gap antara kebijakan dan praktik di lapangan,
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 Ketepatan Identifikasi Pasien (Nelly Febriani, dkk.) | 24-31 (2) Menguji intervensi pendidikan dan prosedural sederhana (mis. checklist verifikasi, prosedur dua identitas sebelum tindakan), (3) Menjadi rujukan bagi institusi pendidikan yang dapat diintegrasikan ke kurikulum praktik serta SOP untuk memperkuat budaya keselamatan pasien. METODE PENELITIAN Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini menggunakan pendekatan evaluatif berbasis ProjectBased Learning dengan rancangan pre–post test untuk menilai perubahan tingkat pemahaman siswa setelah diberikan edukasi mengenai keselamatan pasien, khususnya pada aspek identifikasi pasien yang benar. Pendekatan ini dipilih agar tim pelaksana dapat menilai efektivitas kegiatan dengan membandingkan hasil sebelum dan sesudah edukasi. Kegiatan dilaksanakan di SMK Meilia Medika Cinere, Depok, pada bulan Oktober 2025, bertempat di ruang kelas jurusan Keperawatan, dengan jumlah peserta 27 siswa. Seluruh siswa dilibatkan sebagai peserta kegiatan menggunakan teknik total sampling, karena populasi relatif kecil dan homogen. Pelaksanaan kegiatan dibagi dalam beberapa tahap. Tahap perencanaan diawali dengan koordinasi antara tim pelaksana dan pihak sekolah untuk menentukan jadwal, sasaran, serta kebutuhan media dan instrumen kegiatan. Pada tahap ini dilakukan pula penyusunan materi edukasi, pembuatan soal pretest– posttest berbentuk pilihan ganda, serta penyiapan alat bantu pembelajaran seperti Powerpoint, video, dan gambar gelang identitas pasien untuk simulasi. Tahap pelaksanaan diawali dengan pemberian pretest kepada seluruh peserta untuk mengukur tingkat pengetahuan awal mengenai identifikasi pasien yang benar. Selanjutnya dilakukan edukasi dan simulasi menggunakan metode ceramah interaktif, diskusi, dan latihan praktik. Peserta dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran untuk memperkuat pemahaman konseptual dan keterampilan praktis sesuai prinsip Project-Based Learning. Materi edukasi mengacu pada rekomendasi World Health Organization (WHO) tentang penggunaan minimal dua identifikasi pasien dalam proses verifikasi identitas, sebagaimana ditegaskan oleh De Rezende dan Melleiro (2022) bahwa “errors in patient identification are considered the root cause of other patient safety incidents.” Setelah sesi edukasi dan simulasi, peserta mengisi posttest dengan instrumen yang sama untuk menilai perubahan tingkat pengetahuan. Hasil pre–post test kemudian dianalisis untuk melihat besarnya peningkatan pengetahuan peserta. Selain evaluasi kuantitatif, tim pelaksana juga melakukan refleksi bersama dengan peserta untuk menilai kesan, manfaat, dan rencana penerapan pengetahuan dalam praktik keperawatan dasar. Sebagai bentuk tindak lanjut kegiatan, tim pelaksana memberikan poster edukasi mengenai identifikasi pasien yang benar kepada pihak kelas sebagai media pengingat dan sarana pembelajaran mandiri bagi siswa. Poster tersebut diharapkan dapat membantu siswa mempertahankan pemahaman dan menerapkan prinsip keselamatan pasien dalam kegiatan belajar praktik keperawatan. Kegiatan diakhiri dengan penyusunan laporan artikel pengabdian sebagai bentuk hasil akhir. Instrumen penilaian disusun berdasarkan literatur terkait sasaran keselamatan pasien. Menurut Murtiningtyas dan Dhamanti (2022), “Identifikasi pasien merupakan salah satu sasaran keselamatan pasien yang penting karena menjadi akar penyebab dari berbagai insiden keselamatan lainnya.” Dengan demikian, seluruh tahapan kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan pemahaman teoritis peserta, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya penerapan identifikasi pasien yang benar dalam praktik keperawatan melalui pembelajaran berbasis proyek yang partisipatif dan reflektif. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berbasis Project Based Learning dilakukan dengan menyampaikan sosialisasi kesehatan dan keselamatan kerja mengenai “Ketepatan Identifikasi Pasien”
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 Ketepatan Identifikasi Pasien (Nelly Febriani, dkk.) | 24-31 untuk meningkatkan pemahaman siswa/siswi SMK Meilia Medika dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2025 di ruang kelas SMK Meilia Medika Jl. Raya Gandul No.21, Gandul, Kec. Cinere, Kota Depok, dihadiri oleh 27 siswi SMK Meilia Medika. Mayoritas siswi mampu mengisi pretest melalui perangkat digital, sementara peserta lainnya dibantu fasilitator. Gambar 1. Dokumentasi Kegiatan Pemberian Materi Identifikasi Pasien Sumber: Dokumentasi Kegiatan Tanggal 22 Oktober 2025 di ruang kelas SMK Meilia Medika Jl. Raya Gandul No.21, Gandul, Kec. Cinere, Kota Depok, Materi yang diberikan seputar edukasi tentang Ketepatan Identifikasi Pasien. Identifikasi pasien adalah sistem untuk membedakan satu pasien dengan pasien lainnya agar layanan medis maupun administratif diberikan kepada orang yang benar WHO (2023). Kesalahan identifikasi terbukti berisiko menimbulkan insiden serius, termasuk salah obat, salah prosedur, atau tindakan medis yang keliru, bahwa gelang identitas dengan dua indikator utama efektif dalam meningkatkan keamanan pasien De Rezende et al. (2022). Pemberian obat dapat dipastikan sesuai untuk pasien yang benar sekaligus untuk menghindari kesalahan akibat kesamaan nama atau kemiripan data antar pasien (Rasendriya, 2025). Dua dari empat bentuk identifikasi, yaitu nama pasien, tanggal lahir, nomor rekam medis, dan nomor induk kewarganegaraan (NIK). Nomor kamar pasien tidak dapat digunakan untuk identifikasi pasien. Dua bentuk identifikasi digunakan di semua layanan rumah sakit seperti di rawat jalan, rawat inap, unit darurat, kamar operasi, unit layanan diagnostik, dan lainnya (SNARS Edisi 1.1 2019). Pemberian transfusi pada pasien yang salah, pengambilan spesimen pada pasien yang salah, hal tersebut dapat terjadi pada pelayanan kesehatan (Anggraeni, 2014; Swastikarini, 2019).
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 Ketepatan Identifikasi Pasien (Nelly Febriani, dkk.) | 24-31 Gambar 2. Poster Edukasi Identifikasi Pasien Sumber: Poster Kegiatan Tanggal 22 Oktober 2025 di ruang kelas SMK Meilia Medika Jl. Raya Gandul No.21, Gandul, Kec. Cinere, Kota Depok, Edukasi mengenai Ketepatan Identifikasi Pasien disampaikan langsung oleh narasumber dengan dukungan media edukatif seperti poster, SOP, dan Powerpoint. Penggunaan media ini bertujuan untuk mempermudah pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan. Hal ini didukung oleh penelitian Cornér et al. (2020), yang menyebutkan bahwa penggunaan media digital seperti poster dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran khususnya pada kelompok usia remaja. Dengan metode ini, diharapkan peserta dapat lebih memahami pentingnya Ketepatan Identifikasi Pasien untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan prinsip keselamatan pasien di fasilitas kesehatan serta menerapkannya pada saat mereka praktek kerja lapangan. Tabel 1. Statistik Deskriptif Nilai Tingkat Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Penyuluhan Variabel n Mean (Rata-rata) Median Tingkat Pengetahuan Sebelum 27 95, 6% 10 Tingkat Pengetahuan Setelah 27 98, 9% 10 Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif pada Tabel 1. rata-rata nilai pengetahuan responden sebelum penyuluhan tercatat sebesar 95,6%, dan meningkat menjadi 98,9% setelah diberikan penyuluhan. Sementara itu, nilai median pada kedua pengukuran tetap berada pada angka 10, yang menunjukkan bahwa nilai tengah responden tidak mengalami perubahan. Meskipun peningkatan rata-rata tidak terlalu besar, hasil ini tetap menggambarkan adanya perbaikan pengetahuan pada para siswa setelah diberikan edukasi mengenai identifikasi pasien. Dengan
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 Ketepatan Identifikasi Pasien (Nelly Febriani, dkk.) | 24-31 demikian, kegiatan penyuluhan dapat dinyatakan berhasil, karena mampu meningkatkan pemahaman responden terhadap materi yang disampaikan. Tabel 2. Frekuensi Kategori Pengetahuan Responden Pengetahua n Rentang Nilai Sebelum Sesudah n % n % Baik 80-100 27 100 27 100 Cukup 60-79 0 0 0 0 Rendah 0-59 0 0 0 0 Berdasarkan Tabel 2. dapat dilihat bahwa sebelum diberikan edukasi, seluruh responden (100%) sudah berada pada kategori pengetahuan baik dengan jumlah 27 orang. Tidak terdapat responden dalam kategori cukup maupun rendah. Setelah pelaksanaan edukasi, kategori pengetahuan responden tetap menunjukkan hasil yang sama, yaitu seluruh responden (100%) berada pada kategori baik. Dengan demikian, edukasi yang diberikan tidak mengubah distribusi kategori pengetahuan karena sejak awal seluruh responden telah memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Namun, kondisi ini menunjukkan bahwa responden sudah memiliki pemahaman yang optimal terkait materi sebelum dan sesudah edukasi diberikan. Gambar 3. Tingkat Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Pemberian Edukasi Sumber: Nilai Akhir Pre Test & Post Test Kegiatan Tanggal 22 Oktober 2025 di ruang kelas SMK Meilia Medika Jl. Raya Gandul No.21, Gandul, Kec. Cinere, Kota Pada Gambar 3. terlihat bahwa tingkat pengetahuan peserta meningkat setelah dilakukan pemberian edukasi mengenai Ketepatan Identifikasi Pasien. Hasil pretest menunjukkan nilai rata-rata sebesar 95,56%. Setelah pemberian edukasi menggunakan media yang telah disiapkan, peserta mengisi posttest dengan soal yang sama. Nilai rata-rata posttest meningkat menjadi 98,89%, menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta sebesar 3,33%. Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan edukasi kesehatan, terjadi peningkatan rata-rata skor pengetahuan siswa sebesar 3,33% antara hasil pretest dan posttest. Peningkatan ini tergolong kecil jika dibandingkan dengan kegiatan edukasi pada kelompok yang belum pernah mendapat materi serupa. Namun, hal tersebut dapat dijelaskan oleh kondisi awal peserta yang telah memiliki tingkat pengetahuan dasar yang cukup baik
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 Ketepatan Identifikasi Pasien (Nelly Febriani, dkk.) | 24-31 karena sebelumnya telah menerima edukasi dengan topik yang sama. Situasi ini menunjukkan bahwa kegiatan yang dilaksanakan berfungsi lebih sebagai penguatan (reinforcement) terhadap pengetahuan yang sudah dimiliki, bukan sebagai upaya pengenalan materi baru. Fenomena semacam ini umum terjadi pada kelompok sasaran dengan paparan awal tinggi, di mana ruang peningkatan pengetahuan secara kuantitatif menjadi terbatas (ceiling effect). Meskipun demikian, pelaksanaan edukasi tetap memberikan dampak positif dalam bentuk peningkatan kesadaran, partisipasi aktif, serta penguatan sikap positif terhadap perilaku sehat. Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme dan keterlibatan yang tinggi dalam diskusi serta simulasi yang diberikan. Hal ini menandakan bahwa keberhasilan edukasi tidak hanya tercermin dari perubahan skor numerik, tetapi juga dari aspek afektif dan perilaku yang muncul selama proses pembelajaran. Dengan demikian, kegiatan edukasi kesehatan berbasis Project Based Learning ini dapat dikatakan berhasil mempertahankan dan memperkuat pemahaman siswa terhadap materi yang telah pernah mereka terima, sekaligus meningkatkan kesadaran untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. SIMPULAN Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan edukasi mengenai Ketepatan Identifikasi Pasien di SMK Meilia Medika Cinere, Depok dapat disimpulkan bahwa intervensi edukatif melalui pendekatan pembelajaran interaktif dan penggunaan media visual efektif dalam meningkatkan tingkat pengetahuan peserta terkait penerapan prinsip keselamatan pasien. Hasil analisis menunjukkan peningkatan nilai ratarata pengetahuan dari 95,56% pada pretest menjadi 98,89% pada posttest, dengan selisih sebesar 3,33%. Temuan ini mengindikasikan bahwa pemberian edukasi secara sistematis mampu memperkuat pemahaman siswa terhadap prosedur identifikasi pasien yang benar. Peningkatan pengetahuan tersebut menunjukkan bahwa metode edukasi berbasis simulasi, diskusi, dan penggunaan media digital (poster, SOP, dan presentasi interaktif) berperan penting dalam memfasilitasi proses pembelajaran yang efektif. Hal ini sejalan dengan rekomendasi World Health Organization (WHO, 2023) serta temuan De Rezende dan Melleiro (2022), yang menegaskan bahwa penggunaan dua indikator identitas pasien merupakan langkah esensial dalam mencegah insiden keselamatan pasien seperti kesalahan obat dan tindakan medis yang tidak tepat. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis ingin menyampaikan terima kasih yang tulus kepada pihak-pihak yang telah memberikan dukungan dan kontribusi dalam penyusunan artikel ilmiah ini sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis artikel ilmiah ini, terkhusus kami ucapkan kepada dosen pembimbing kami yang telah memberikan bimbingan, saran, dan masukan dalam proses pembuatan artikel ilmiah ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah turut membantu dan mendukung proses pembuatan artikel ilmiah ini. Semoga karya tulis artikel ilmiah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi semua pihak yang membutuhkan. REFERENSI De Rezende, H. A., Dallora, M. E. L. V., & Andrade, D. (2022). Towards Safe Patient Identification Practices. The Open Nursing Journal, 16(1), e187443462209290. https://www.opennursingjournal.com/VOLUME/16/ELOCATOR/e187443462209290/FULLTEXT /
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 Ketepatan Identifikasi Pasien (Nelly Febriani, dkk.) | 24-31 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien. https://www.regulasip.id/book/5076/read Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Keselamatan Pasien Lebih Utama dalam Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan. https://kemkes.go.id/id/keselamatan-pasien-lebih-utamadalam-upaya-peningkatan-mutu-pelayanan-kesehatan Lateef, F. (2010). Simulation-based learning: Just like the real thing. Journal of Emergencies, Trauma, and Shock, 3(4), 348–352. https://doi.org/10.4103/0974-2700.70743 Mehralian, G., Pourezzat, A. A., Akbari, S., & Mousavi, M. S. (2024). Professional Commitment and Patient Safety Culture: Evidence from a Cross-Sectional Study of Nurses. The Open Public Health Journal, 17(1), e18749445292305. https://openpublichealthjournal.com/VOLUME/17/ELOCATOR/e18749445292305/FULLTEXT Murtiningtyas, R. A., & Dhamanti, I. (2022). Analisis Implementasi Identifikasi Pasien di Rumah Sakit untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien di Indonesia. Media Gizi Kesmas, 11(1), 313-317. https://www.researchgate.net/publication/361367529_Analisis_Implementasi_Identifikasi_Pasien_ di_Rumah_Sakit_Untuk_Meningkatkan_Keselamatan_Pasien_di_Indonesia Murtiningtyas, R. A., & Dhamanti, I. (2022). Analisis implementasi identifikasi pasien di rumah sakit untuk meningkatkan keselamatan pasien di Indonesia. Media Gizi Kesmas, 11(1), 313–317. https://doi.org/10.20473/mgk.v11i1.2022.313-317 Nurhayati, E., & Sari, R. P. (2022). Gambaran penerapan identifikasi pasien sebagai sasaran keselamatan pasien oleh perawat. Jurnal Keperawatan UPN Veteran Jakarta, 10(2), 45–52. https://ejournal.upnvj.ac.id/index.php/keperawatan/article/view/3567 Popescu, C. A., Suciu, S. M., & Buică, G. (2022). Patient identification management using health information systems. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(22), 15236. https://doi.org/10.3390/ijerph192215236 World Health Organization. (2023). Patient identification and safety practices. Geneva: WHO. https://www.who.int/publications/i/item/patient-identification-safety-2023