The Implementation of Emotion Puzzles to Support Religious Habituation in the Emotional Development of Children at RA Taqwa Liga Muslim Indonesia
Full text
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 Penerapan Puzzle Emosi (Yolanda, dkk) | 141-144 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Volume 4, Nomor 8, November 2025, P. 141-144 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17713556 Penerapan Puzzle Emosi Untuk Mendukung Pembiasaan Religius Dalam Pengembangan Emosional Anak di RA Taqwa Liga Muslim Indonesia The Implementation of Emotion Puzzles to Support Religious Habituation in the Emotional Development of Children at RA Taqwa Liga Muslim Indonesia Yolanda Mutiara1, Suparmita2, Citra Ayu Hidayah3, Sakti Stiawan4 1,2,3,4STAI Ibnu Rusyd Kotabumi Lampung Utara Email: [email protected], citraayumob[email protected]2, mitasuparm[email protected]3, [email protected]m4 Abstrak Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di ra taqwa liga muslim indonesia dengan tujuan menerapkan media puzzle emosi sebagai bagian dari pembiasaan religius untuk membantu anak memahami dan mengelola emosinya. Media ini digunakan melalui kegiatan bermain sambil belajar, disertai bimbingan nilai seperti berdoa, meminta maaf, bersabar, dan bersyukur. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pendampingan guru, praktik pembelajaran, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa anak menjadi lebih mampu mengenali emosi dasar seperti senang, sedih, marah, dan takut, serta mulai menunjukkan perilaku religius dalam interaksi sehari-hari. Guru juga memperoleh keterampilan baru dalam mengintegrasikan aspek emosional dan nilai religius dalam pembelajaran. Dengan demikian, puzzle emosi dapat digunakan sebagai media pembelajaran sederhana dan efektif dalam mendukung pengembangan emosional anak melalui pendekatan religius. Kata Kunci: puzzle emosi, pembiasaan religius, anak usia dini Abstract This community service activity was conducted at RA Taqwa Liga Muslim Indonesia and aimed to implement the Emotion Puzzle as part of religious habituation to support children’s emotional development. The media was applied through play-based learning combined with guidance in religious values such as praying, apologizing, patience, and gratitude. The implementation methods included socialization, teacher assistance, classroom practice, and evaluation. The results showed that children were better able to identify basic emotions such as happiness, sadness, anger, and fear, and began to demonstrate religious-based behavior during daily interactions. Teachers also gained new skills in integrating emotional learning with religious values. Therefore, the Emotion Puzzle can serve as an effective and simple learning tool to support emotional development through a religious approach. Keywords: emotion puzzle, religious habituation, early childhood Article Info Received date: 31 Oktober 2025 Revised date: 5 November 2025 Accepted date: 22 November 2025 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan fondasi utama dalam pengembangan sumber daya manusia, karena melalui proses pendidikan seseorang dapat membangun kemampuan berpikir, bersikap, dan berperilaku sesuai kebutuhan perkembangan zaman. Menurut Tilaar (2012), pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter dan kepribadian individu. Hal ini sejalan dengan pendapat Suryosubroto (2010) yang menegaskan bahwa pendidikan harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik tumbuh secara optimal, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Perkembangan teknologi dan sosial yang semakin cepat menuntut lembaga pendidikan untuk melakukan berbagai inovasi agar mampu menjawab tantangan abad 21. Seperti yang dikemukakan oleh Trilling dan Fadel (2009), pendidikan modern perlu memberikan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta komunikasi sebagai kompetensi esensial bagi peserta didik. Oleh karena itu, pendidik dituntut untuk merancang pembelajaran yang lebih aktif, menyenangkan, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik masa kini. Namun, dalam praktiknya, kualitas pendidikan di berbagai daerah masih menghadapi kendala,
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 Penerapan Puzzle Emosi (Yolanda, dkk) | 141-144 mulai dari keterbatasan sarana prasarana hingga kurangnya penerapan metode pembelajaran yang efektif. Menurut penelitian Arifin (2018), rendahnya kualitas proses belajar sering kali dipengaruhi oleh kurangnya model pembelajaran yang mampu meningkatkan partisipasi aktif peserta didik. Dengan demikian, diperlukan penelitian berkelanjutan yang dapat memberikan solusi inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dan mengembangkan pendekatan pendidikan yang lebih efektif dan relevan, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar serta pengalaman belajar peserta didik. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan teori maupun praktik pendidikan di Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Situasi Berdasarkan Observasi awal menunjukkan memeliki kemampuan kognititf yang berbedabeda. Pada masa usia 4–6 tahun, anak sedang berada dalam tahap perkembangan emosi yang pesat, namun kemampuan mereka dalam mengekspresikan dan mengendalikan emosi masih terbatas. Kondisi Lingkungan Internal Ra Taqwa Liga Muslim Indonesia memiliki 2 ruang yang di gunakan untuk proses pembelajaran dan ruang untuk melaksanakan kegiatan sholat dhuha berjama’ah. Ra taqwa (LMI) merupakan sekolah berbasis keagamaan yang melakukan kegiatan seperti shalat dhuha berjamaah, tahfidz, dan pembiasaan seperti tes kecerdasan siswa. Guru juga menekankan nilai hormat, kerja sama,simpati, dan empati. Lingkungan ini sudah sangat mendukung dalam pembentukan sikap emosional anak usia dini dan juga toleransi yang kuat terhadap lingkungan sosial yang di sekitarnya, meskipun masih ada siswa yang memerlukan bimbingan tambahan. Pelaksanaan kegiatan Pelaksanaan kegiatan PKM pada pertemuan pertama di Ra Taqwa Liga Muslim Indonesia diawali dengan kegiatan rutin mengkondisikan siswa di depan kelas yang di pimpin oleh anggota tim yang pertama, Sakti. Sebelum memasuki kelas, seluruh siswa di wajib kan untuk ber wudhu bersama di tempat yang telah di sediakan, di lanjutkan dengan kegiatan shalat dhuha secara berjamaah sebagai bagian dari rutinitas religius yang diterapkan oleh Ra Taqwa Liga Muslim Indonesia, setelah sholat Dhuha di Laksanakan siswa di kumpulkan membentuk lingkaran lalu melakukan kegiatan tahfidz dan tes kecerdasan siwa dengan cara melakukan sesi tanya jawab kepada murid Kegiatan ini juga dapat berguna agar siswa dapat meng-ekspresikan emosi mereka. Gambar 1. Tim PKM dan Peserta Setelah kegiatan tanya jawab selesai, siswa di harapkan memasuki kembali ruang kelas untuk mengikuti pembelajaran yang akan di sampaikan, kemudian anggota team ke 2, Citra melanjutkan kegiatan dengan memberikan ice creaking untuk memberi semangat kepada siswa, Pada tahap selanjutnya, Citra menyampaikan tema (PKM) yang telah di siapkan yaitu yang berkaitan dengan emosi religius terhadap siswa usia dini.
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 Penerapan Puzzle Emosi (Yolanda, dkk) | 141-144 Selanjutnya, Citra memandu sesi pembahasan dengan memberikan pertanyaan pemantik tentang contoh macam-macam emosi, bentuk macam-macam ekspresi , serta bagaimana bentuk mimik wajah emosi senang, sedih, marah dan takut. Para siswa kemudian diminta untuk menunjukan macam ekspresi wajah mereka di saat senang, takut, sedih, dan marah. Untuk memperkuat, anggota team ketiga, Mita menunjukan satu media pembelajaran agar siswa lebih memahami materi yang telah di sampaikan oleh anggota team ke 2, Mita menunjukan media kertas yang bergambar 4 bentuk ekspresi emosi yang berbedabeda, lalu siswa diminta untuk menyimpulkan masingmasing gambar eemosi dan memberikan contoh ekspresi emosi tersebut bisa muncul. Pelaksanaan pertemuan pertama ini memberikan gambaran awal bagi tim PKM mengenai tingkat pemahaman siswa terhadap emosi yang ada di dalam perasaan masingmasing siswa yang dapat dikaitkan dengan pembiasaan religius. Program PKM di SD IT AZIKRO Program PKM ini dirancang untuk mendukung penguatan pembiasaan religius sebagai upaya meningkatkan kemampuan regulasi emosi pada anak usia dini. Fokus program ini adalah membantu anak mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosinya melalui pendekatan spiritual dan pembiasaan rutin yang dilakukan di lingkungan sekolah. Kegiatan program meliputi: 1. Pembiasaan doa harian sebelum dan setelah kegiatan belajar untuk membantu anak membangun rutinitas religius dan kesiapan emosi sebelum memulai aktivitas. 2. Pembuatan dan permainan puzzle emosi Islami, bertujuan agar anak mampu mengenali berbagai jenis emosi serta menemukan respon religius yang sesuai. 3. Kegiatan storytelling Islami berbasis emosi, menggunakan cerita pendek, boneka tangan, dan ilustrasi untuk memperkuat kemampuan anak memahami contoh perilaku positif. 4. Pembiasaan dzikir pada saat transisi kegiatan, seperti berpindah dari bermain ke belajar, agar anak terbiasa menenangkan diri secara mandiri. 5. Program pendampingan orang tua melalui buku monitoring emosi dan ibadah, sehingga pembiasaan di sekolah dapat dilanjutkan di rumah secara konsisten. Gambar 2. Pelaksanaan PKM dan bimbingan SIMPULAN Penerapan puzzle emosi di RA Taqwa Liga Muslim Indonesia efektif mendukung pembiasaan religius dan pengembangan kemampuan regulasi emosi anak. Anak menjadi lebih mampu mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosinya, sekaligus menunjukkan perilaku religius dalam kehidupan sehari-hari. Guru juga memperoleh keterampilan baru dalam mengintegrasikan aspek emosional dan nilai religius dalam pembelajaran. REFERENSI Arifin, Z. (2018). Evaluasi pembelajaran: Prinsip, teknik, dan prosedur. Bandung: Remaja Rosdakarya. Suryosubroto, B. (2010). Proses belajar mengajar di sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 Penerapan Puzzle Emosi (Yolanda, dkk) | 141-144 Tilaar, H. A. R. (2012). Perubahan sosial dan pendidikan: Pengantar pedagogik transformatif untuk Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Trilling, B., & Fadel, C. (2009). 21st century skills: Learning for life in our times. San Francisco, CA: Jossey-Bass.