scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Non-Test Evaluation Instruments

Haniefah Iqtianti, Nia Asmara, Rizki Apriyansah

Full text

2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Instrumen Evaluasi Bentuk (Haniefah, dkk.) | 185-191 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 10, November 2025, P. 185-190 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17773786 Instrumen Evaluasi Bentuk NonTes Non-Test Evaluation Instruments Haniefah Iqtianti1, Nia Asmara2, Rizki Apriyansah3 Sekolah Tinggi Agama Islam Ibnu Rusyd Kotabumi, Indonesia Email: h[email protected] , niaasmara75[email protected] , riskiapriyansah2[email protected] Abstract Learning evaluation is not only limited to the cognitive domain that can be measured through written or oral tests but also includes the affective and psychomotor domains, which are more appropriately assessed using non-test instruments. Non-test instruments are evaluation tools used to measure students’ attitudes, interests, motivation, personality, social skills, and behavior. This study aims to describe the concepts, objectives, and types of non-test evaluation instruments relevant to the learning process. The method used is a literature review by analyzing related references. The findings show that non-test instruments include observation, interview, questionnaire, checklist, case study, attitude scale, sociometry, portfolio, teacher’s journal or daily notes, and performance assessment. These instruments play a significant role in providing a comprehensive picture of students’ development, especially in the affective and psychomotor domains. Therefore, the use of non-test instruments complements test-based evaluation to achieve a more holistic and objective assessment in line with educational goals Keywords: Non-test instruments; learning evaluation; affective domain; psychomotor domain; authentic assessment Abstrak Evaluasi pembelajaran tidak hanya terbatas pada ranah kognitif yang dapat diukur melalui tes tertulis atau lisan, tetapi juga mencakup ranah afektif dan psikomotorik yang lebih tepat dinilai dengan instrumen non-tes. Instrumen non-tes merupakan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur sikap, minat, motivasi, kepribadian, keterampilan sosial, serta perilaku peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep, tujuan, dan jenis-jenis instrumen evaluasi non-tes yang relevan dalam pembelajaran. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menganalisis literatur yang terkait. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa instrumen non-tes meliputi observasi, wawancara, angket, daftar cek, studi kasus, skala sikap, sosiometri, portofolio, jurnal atau catatan harian guru, serta penilaian unjuk kerja. Instrumen-instrumen tersebut memiliki peran penting dalam memberikan gambaran komprehensif mengenai perkembangan peserta didik, terutama dalam ranah afektif dan psikomotorik. Dengan demikian, penggunaan instrumen non-tes dapat melengkapi evaluasi berbasis tes sehingga tercapai penilaian yang lebih holistik dan objektif sesuai tujuan pendidikan. Kata Kunci: instrumen non-tes; evaluasi pembelajaran; ranah afektif; ranah psikomotorik; penilaian autentik. Article Info Received date: 25 Oktober 2025 Revised date: 15 November 2025 Accepted date: 25 November 2025 PENDAHULUAN Evaluasi merupakan salah satu komponen penting dalam proses pendidikan karena berfungsi untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai. Menurut Arikunto (2013), evaluasi pendidikan adalah serangkaian kegiatan untuk mengukur, menilai, dan mengambil keputusan mengenai hasil belajar peserta didik. Selama ini, evaluasi seringkali dipahami hanya sebatas pemberian tes dalam bentuk soal pilihan ganda, esai, atau ujian praktik. Padahal, penilaian dalam pendidikan seharusnya mencakup seluruh aspek perkembangan peserta didik, baik ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dalam praktiknya, tidak semua aspek perkembangan siswa dapat diukur melalui tes. Misalnya, aspek sikap, minat, motivasi, kepribadian, keterampilan sosial, dan kebiasaan sehari-hari lebih tepat dievaluasi menggunakan instrumen non-tes. Instrumen ini meliputi observasi, wawancara, angket, skala 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Instrumen Evaluasi Bentuk (Haniefah, dkk.) | 185-191 sikap, sosiometri, portofolio, catatan harian, maupun studi kasus. Melalui instrumen non-tes, guru dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang perkembangan peserta didik, sehingga proses penilaian tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan sikap dan keterampilan hidup. Dengan demikian, pemahaman mengenai instrumen evaluasi non-tes sangat penting bagi pendidik. Selain sebagai pelengkap penilaian berbasis tes, instrumen non-tes juga berperan dalam menciptakan evaluasi yang lebih holistik, objektif, dan sesuai dengan tujuan pendidikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Instrumen evaluasi non-tes adalah alat yang digunakan untuk menilai aspek-aspek hasil belajar peserta didik yang tidak dapat diukur melalui tes tertulis, tes lisan, atau tes praktik secara langsung. Bentuk non-tes lebih menekankan pada observasi, sikap, kepribadian, minat, keterampilan sosial, dan perilaku. Dengan kata lain, non-tes digunakan untuk mengukur ranah afektif dan psikomotorik, sedangkan tes umumnya lebih dominan pada ranah kognitif. Instrumen evaluasi bentuk non-teks adalah alat penilaian yang tidak mengandalkan tulisan atau bahasa verbal sebagai media utama pengumpulan data. Instrumen ini dirancang untuk mengukur aspekaspek yang sulit diungkapkan melalui teks, seperti keterampilan praktis, sikap, kinerja, atau pemahaman konseptual. Menurut Sukardi (2012: 11)Instrumen non-tes adalah alat pengumpulan data yang tidak menuntut jawaban benar atau salah, melainkan berhubungan dengan pendapat, sikap, minat, motivasi, serta aspek-aspek kepribadian peserta didik. Menurut Anas Sudijono (2011: 67) Instrumen non-tes merupakan alat evaluasi yang digunakan untuk mengungkap data yang tidak dapat diperoleh melalui tes, seperti pengamatan perilaku, angket, wawancara, dan skala sikap. Menurut Arikunto (2010: 203) Instrumen non-tes adalah segala bentuk alat ukur yang bukan berupa tes, yang digunakan untuk mengetahui kondisi peserta didik dari segi afektif maupun psikomotorik. Tujuan dari Instrumen Non-Tes adalah Menilai kepribadian, sikap, minat, motivasi, dan nilai moral siswa. Melengkapi data hasil belajar agar penilaian lebih komprehensif. Mengetahui perkembangan peserta didik secara menyeluruh, bukan hanya akademik. kemudian Membantu guru dalam memberikan bimbingan dan konseling. Dalam kegiatan evaluasi pembelajaran, instrumen non-tes memiliki peranan penting terutama dalam menilai ranah afektif dan psikomotorik. Ranah afektif berkaitan dengan perkembangan sikap, minat, nilai, serta motivasi belajar siswa, sedangkan ranah psikomotorik berkaitan dengan keterampilan serta kemampuan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas atau praktik. Mengingat karakteristik kedua ranah ini tidak dapat diungkap secara maksimal melalui tes tertulis, maka instrumen non-tes, seperti lembar observasi, jurnal, angket, wawancara, portofolio, dan penilaian unjuk kerja, menjadi alternatif yang tepat untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kemampuan peserta didik. Ranah Afektif dan Psikomotorik dalam Evaluasi Non-Tes 1. Ranah Afektif Ranah afektif adalah domain belajar yang berhubungan dengan sikap, nilai, minat, motivasi, perasaan, dan penghargaan peserta didik terhadap suatu objek atau kegiatan. Krathwohl, Bloom, dan Masia (1964) mengklasifikasikan ranah afektif ke dalam lima tingkatan, yaitu: 1. Penerimaan (Receiving): kesediaan memperhatikan atau menerima suatu stimulus, misalnya siswa mau mendengarkan penjelasan guru. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Instrumen Evaluasi Bentuk (Haniefah, dkk.) | 185-191 2. Pemberian Respon (Responding): keterlibatan aktif dalam kegiatan, seperti menjawab pertanyaan atau berpartisipasi dalam diskusi. 3. Penghargaan (Valuing): menunjukkan sikap menghargai, contohnya menghormati pendapat orang lain. 4. Pengorganisasian (Organization): mengintegrasikan nilai ke dalam sistem kepribadian, misalnya menempatkan kejujuran sebagai pedoman dalam belajar. 5. Karakterisasi (Characterization): konsistensi dalam bertindak sesuai nilai tertentu, misalnya selalu disiplin dan bertanggung jawab. Dalam konteks evaluasi pembelajaran, ranah afektif dinilai melalui instrumen non-tes seperti observasi, angket, skala sikap, jurnal, dan wawancara, sehingga guru dapat mengetahui sikap dan nilai yang berkembang dalam diri siswa. 2. Ranah Psikomotorik Ranah psikomotorik berkaitan dengan keterampilan fisik, gerakan motorik, koordinasi tubuh, dan tindakan nyata yang dapat diamati. Menurut Simpson (1972), ranah psikomotorik memiliki enam tingkatan: a. Persepsi (Perception): kemampuan mengenali isyarat atau rangsangan, misalnya memperhatikan gerakan guru dalam praktik shalat. b. Kesiapan (Set): kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk bertindak. c. Gerakan Terpandu (Guided Response): melakukan keterampilan dengan bimbingan, contohnya membaca Al-Qur’an dengan contoh guru. d. Gerakan Mekanis (Mechanism): mampu melakukan gerakan dengan lancar tanpa bimbingan. e. Respons Kompleks (Complex Overt Response): menunjukkan keterampilan tingkat tinggi dengan presisi, misalnya menulis kaligrafi dengan rapi. f. Adaptasi dan Kreativitas (Adaptation and Origination): mampu menyesuaikan keterampilan dengan situasi baru atau menciptakan keterampilan baru. Penilaian ranah psikomotorik menggunakan instrumen non-tes seperti lembar observasi, daftar cek (checklist), portofolio, dan penilaian unjuk kerja, sehingga kemampuan nyata siswa dapat dinilai secara langsung. Jenis-Jenis Instrumen Non-Tes 1. Observasi Pengertian dari observasi yaitu metode atau cara-cara dalam menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung. Sementara itu menurut Arifin, observasi merupakan suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif, serta rasional mengenai berbagai fenomena, baik dalamsituasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan untuk mencapai tujuan tertentu. Adapun alat yang dapat digunakan dalam melakukan observasi disebut dengan pedoman observasi. Pada kegiatan evaluasi pembelajaran, observasi dapat digunakan untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik. Misalnya, tingkah laku peserta didik pada waktu belajar, peserta didik dalam berdiskusi, peserta didik dalam mengerjakan tugas, dan lain-lain. Dalam rangka evaluasi hasil belajar, observasi digunakan sebagai teknik evaluasi untuk menilai kegiatan-kegiatan belajar yang bersifat keterampilan atau skill. Observasi perilaku peserta didik juga dapat dilakukan dengan menggunakan buku catatan khusus tentang kejadian-kejadian yang berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah. Hasil observasi yang dilakukan oleh guru dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan. 2. Wawancara Wawancara memiliki pengertian, yaitu salah satu bentuk alat evaluasi jenis non-tes yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab, baik langsung maupun tidak langsung dengan peserta didik. Arti wawancara langsung ialahproses tanya jawab yang dilakukan secara langsung antara 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Instrumen Evaluasi Bentuk (Haniefah, dkk.) | 185-191 pewawancara atau guru dengan orang yang diwawancarai atau peserta didik tanpa melalui perantara. Sementara wawancara tidak langsung yaitu proses tanya jawab antara pewawancara atau guru yang menanyakan sesuatu kepada peserta didik melalui perantaraan orang lain atau media dengan tidak menemui langsung kepada sumbernya. 3. Angket Angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Dalam proses pembelajaran di kelas, responden yang dimaksud adalah peserta didik. Guru bertindak sebagai perumus dan pembuat angket. 4. Daftar Cek (Check List) Pengertian dari daftar cek ialah suatu daftar yang berisi subjek dan aspek-aspek yang akan diamati oleh guru. Melalui daftar cek ini, dapat memungkinkan guru sebagai penilai untuk mencatat tiap-tiap kejadian yang penting dan yang menjadi fokus penilaian dari guru. Daftar cek mudah digunakan untuk menilai tes psikomotorik dimana guru/pengamat tinggal memberi tanda cek pada kompetensi yang muncul. Daftar cek memiliki banyak manfaatnya. Adapun manfaat dari daftar cek meliputi: membantu guru untuk mengingat-ingat apa yang harus diamati, serta dapat memberikan informasi kepada stakeholder. Penilaian unjuk kerja pada daftar cek berupa “ya” atau “tidak.” Pada penilaian ini peserta didik mendapat nilai apabila criteria penguasaan kemampuan tertentu dapat diamati oleh penilai. Jika tidak dapat diamati, peserta didik tidak memperoleh nilai. 5. Studi Kasus Jenis non-tes berikutnya ialah studi kasus. Arti dari studi kasus adalah studi yang mendalam dan komprehensif tentang peserta didik, kelas atau sekolah yang memiliki kasus tertentu.34 Indikator studi kasus misalnya, peserta didik ada yang sangat cerdas, ada yang sangat lamban, sangat rajin, sangat nakal atau ada yang kesulitan dalam belajar. Dalam studi kasus, penekanan yang penting untuk diperhatikanialah diagnosis masalah-masalah peserta didik dan memberikan rekomendasi untuk mengatasinya. Pada pelaksanaan studi kasus, Arifin menjelaskan bahwa guru di sekolah harus terlebih dahulu mengumpulkan data dari berbagai sumber dengan menggunakan berbagai teknik dan alat pengumpulan data.Alat pengumpulan data yang dapat dugunakan oleh guru salah satunya adalah depthinterview, yaitu melakukan wawancara secara mendalam. Kedua, aspek analisis. Berdasarkan penjelasan teori di atas, peneliti mengujicobakan beberapa indikator dari teori variabel ranah afektif, psikomotorik, dan instrumen evaluasi nontes. Indikatorindikator tersebut peneliti jabarkan dalam bentuk angket dan disebar kepada 6 orang guru PAK di SMP Negeri 5 dan SMP Negeri 20 Kota Kupang. 6. Skala Sikap Skala sikap adalah salah satu instrumen non-tes yang digunakan untuk mengukur sikap peserta didik terhadap suatu objek, fenomena, atau mata pelajaran tertentu. Sikap merupakan salah satu aspek penting dalam ranah afektif, sehingga memerlukan alat ukur yang tepat. Menurut Sugiyono (2017), skala sikap adalah instrumen yang disusun untuk mengetahui pendapat, kecenderungan, dan perasaan individu terhadap sesuatu yang dinilai. Jenis skala yang paling sering digunakan dalam evaluasi pembelajaran adalah Skala Likert, di mana responden diminta memilih jawaban dalam tingkatan, seperti: sangat setuju (SS), setuju (S), raguragu (N), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Melalui skala ini, guru dapat memperoleh data kuantitatif mengenai sikap siswa terhadap pelajaran, guru, metode pembelajaran, atau kegiatan keagamaan. Contohnya, dalam mata pelajaran PAI, skala sikap dapat digunakan untuk mengetahui tingkat minat siswa dalam membaca Al-Qur’an, sikap terhadap ibadah shalat, atau sikap menghormati guru. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Instrumen Evaluasi Bentuk (Haniefah, dkk.) | 185-191 Data yang diperoleh dari skala sikap kemudian dianalisis untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi afektif peserta didik. 7. Sosiometri Sosiometri adalah instrumen non-tes yang digunakan untuk mengetahui hubungan sosial antar peserta didik dalam suatu kelompok. Menurut Arikunto (2013), sosiometri berfungsi untuk mengungkap pola pilihan, penolakan, atau hubungan sosial di antara siswa. Dengan instrumen ini, guru dapat memetakan posisi sosial setiap siswa dalam kelas, apakah ia disenangi, netral, atau cenderung ditolak oleh teman-temannya. Metode ini biasanya dilakukan dengan meminta siswa menyebutkan teman yang paling disukai untuk bekerja sama dalam suatu kegiatan tertentu, seperti kerja kelompok atau diskusi. Dari data yang terkumpul, guru dapat membuat sosiogram, yaitu diagram yang menggambarkan hubungan antar siswa. Sosiometri sangat berguna dalam pembelajaran PAI maupun bimbingan konseling, karena dapat membantu guru memahami dinamika sosial kelas, menemukan siswa yang terisolasi, serta mengatur strategi pembelajaran kolaboratif agar semua siswa dapat berinteraksi dengan baik. 8. Portofolio Portofolio adalah kumpulan karya atau hasil kerja peserta didik yang disusun secara sistematis dan berkesinambungan untuk menunjukkan perkembangan belajar dari waktu ke waktu. Menurut Kunandar (2013), portofolio bukan hanya sekadar kumpulan tugas, tetapi juga alat refleksi yang dapat menggambarkan perkembangan keterampilan, pengetahuan, dan sikap siswa. Dalam pembelajaran PAI, portofolio dapat berupa catatan ringkasan materi, hasil esai, laporan kegiatan keagamaan, karya tulis reflektif, maupun dokumentasi kegiatan praktik ibadah. Guru dapat menilai portofolio untuk mengetahui sejauh mana keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, serta bagaimana perkembangan sikap dan keterampilan mereka. Kelebihan portofolio adalah mampu memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang kemampuan siswa dibandingkan dengan penilaian tes semata. Selain itu, portofolio mendorong siswa untuk lebih aktif, mandiri, dan reflektif dalam proses belajarnya. 9. Jurnal atau Catatan Harian Guru Jurnal guru atau catatan harian adalah instrumen evaluasi non-tes berupa catatan yang dibuat guru secara berkala mengenai sikap, kebiasaan, dan perilaku siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Menurut Sudijono (2012), jurnal dapat berfungsi sebagai dokumentasi perkembangan peserta didik dalam aspek afektif dan sosial. Dalam praktiknya, guru mencatat perilaku siswa baik yang positif maupun yang perlu diperbaiki. Misalnya, guru mencatat bahwa seorang siswa aktif dalam diskusi, rajin beribadah, suka menolong teman, atau sebaliknya sering terlambat, kurang disiplin, atau kurang perhatian dalam belajar. Catatan ini bersifat naratif dan subjektif, namun sangat membantu dalam memberikan gambaran nyata perkembangan peserta didik. Catatan harian ini juga berguna sebagai bahan masukan dalam bimbingan konseling serta dapat menjadi dasar komunikasi antara guru dengan orang tua siswa. 10. Penilaian Unjuk Kerja (Performance Assessment) Penilaian unjuk kerja adalah instrumen non-tes yang digunakan untuk menilai kemampuan peserta didik dalam melakukan suatu tugas atau keterampilan tertentu yang nyata. Menurut Arikunto (2013), penilaian unjuk kerja menekankan pada kemampuan siswa memperlihatkan keterampilan secara langsung, sehingga penilaian dapat dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Contoh dalam pembelajaran PAI adalah penilaian praktik wudhu, shalat, membaca Al-Qur’an, atau presentasi materi keagamaan. Guru menilai aspek-aspek tertentu seperti ketepatan gerakan, kelancaran bacaan, kerapian, atau kepercayaan diri siswa saat tampil. Instrumen yang digunakan bisa berupa daftar cek (checklist) atau rubrik penilaian. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Instrumen Evaluasi Bentuk (Haniefah, dkk.) | 185-191 Kelebihan dari penilaian unjuk kerja adalah memberikan gambaran nyata mengenai kemampuan siswa dalam praktik, bukan hanya pengetahuan teoritis. Dengan demikian, penilaian ini sangat relevan untuk mengukur ranah psikomotorik dalam pendidikan agama maupun bidang lainnya. SIMPULAN Berdasarkan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa instrumen evaluasi non-tes merupakan bagian penting dalam sistem penilaian pendidikan. Instrumen ini berfungsi untuk menilai aspek-aspek hasil belajar peserta didik yang tidak dapat diukur secara memadai melalui tes tertulis, lisan, maupun praktik sederhana. Instrumen non-tes sangat relevan untuk mengukur ranah afektif, yang berkaitan dengan sikap, minat, motivasi, dan nilai, serta ranah psikomotorik, yang berkaitan dengan keterampilan nyata peserta didik. Jenis-jenis instrumen non-tes antara lain observasi, wawancara, angket, daftar cek, studi kasus, skala sikap, sosiometri, portofolio, jurnal atau catatan harian guru, dan penilaian unjuk kerja. Setiap instrumen memiliki fungsi spesifik, tetapi secara keseluruhan berkontribusi dalam memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan peserta didik. Oleh karena itu, penggunaan instrumen non-tes di sekolah sangat penting agar evaluasi pembelajaran tidak hanya berfokus pada pencapaian kognitif, melainkan juga pada pembentukan karakter, sikap, dan keterampilan siswa secara menyeluruh. REFERENSI Arikunto, S. (2013). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Arifin, Zainal. Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik, dan Prosedur. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2016. Jihad, Asep dan Abdul Haris. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo, 2013. Kunandar. (2013). Penilaian Autentik. Jakarta : Rajawali pers. Krathwohl, D. R., Bloom, B. S., dan Masia, B. B. (1964). Sudijono, A. (2012). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Taxonomy of Educational objectivites : affective domain. New York: McKay. Purwanto, N. (2010). Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sudijono, A. (2012). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Sugiyono (2017). Metode penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta. Sukardi (2012). Efaluasi Pendidikan prinsip dan oprasionalnya. Simpson, E. J. (1972). The Classification of Educational Objectives in the Psychomotor Domain. Washington, DC: Gryphon House.