Full text
Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Struktur Musikal pada Opening Song “Shinzou wo Sasageyo” dalam Serial Anime Attack on Titan Season 2 Khoridatun Lailia Al Ayuni1, Nanang Supriatna2, Iwan Gunawan3 1,2,3Musik, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain, Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia Article Info ABSTRAK Article history: Received: Apr 9, 2025 Revised: Mei 29, 2025 Accepted: Jun 30, 2025 Fokus penelitian ini adalah menganalisis bagaimana unsur-unsur musikal membentuk identitas artistik serta mendukung narasi cerita anime. Permasalahan utama yang dikaji adalah bagaimana organisasi unsur musikal, seperti ritme, melodi, harmoni, dinamika, timbre, dan artikulasi sehingga dalam anime Attack on Titan Season 2. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik analisis konten. Data diperoleh melalui studi kajian, transkripsi dan analisis partitur, serta pengamatan pada cuplikan visual opening anime. Data dianalisis dengan tahapan reduksi, penyajian, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur musikal dalam lagu Shinzou wo Sasageyo memiliki karakter epik yang ditandai dengan penggunaan ritme sinkopasi, modulasi, serta perpaduan instrumen orkestra, band, dan paduan suara. Unsur-unsur tersebut menciptakan nuansa heroik dan dramatis yang selaras dengan atmosfer cerita yang merefleksikan tema besar anime Attack on Titan pada musim kedua. Struktur musikal membentuk identitas yang kuat, menjadikan lagu “Shinzou wo Sasageyo” bukan hanya sebagai musik pembuka, tetapi juga sebagai representasi ideologis dan emosional dari keseluruhan cerita. Kata Kunci: Struktur Musikal Identitas Musik Shinzou wo Sasageyo Attack on Titan This is an open access article under the CC BY-NC license. Penulis Koresponden: Khoridatun Lailia Al Ayuni, Program Studi Musik, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Dr. Setiabudi No.229, Isola, Kec. Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat 40154, Email: khoridatu[email protected] 1. PENDAHULUAN Attack on Titan merupakan salah satu anime dengan narasi yang sarat makna filosofis dan emosi intens, menggambarkan perjuangan manusia dalam mempertahankan kebebasan dari ancaman para Titan. Anime ini diadaptasi dari manga karya Hajime Isayama yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2009 dan kemudian diangkat menjadi anime oleh Wit Studio pada tahun 2013. Cerita berpusat pada karakter Eren Yeager, bersama Mikasa Ackerman dan Armin Arlert, yang berjuang melawan para Titan atau makhluk raksasa pemakan manusia, sembari mengungkap rahasia besar dibalik asal-usul mereka penderitaan bangsa Eldia di pulau Paradis. Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Vol. 1, No. 1, Juni 2025, pp. 44-57 ISSN-, E-ISSNhttps://ostinato.silatene.org/index.php/index/en
45 Struktur Misukal pada Opening Song “Shinzou wo Sasageyo” dalam Serial Anime Attack on Titan (Khoridatun Lailia Al Ayuni) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Setiap musimnya menampilkan perkembangan emosi dan konflik batin yang kompleks, tidak hanya melalui alur cerita dan visual, tetapi juga lewat kekuatan musik yang mendukungnya. Musik dalam anime memiliki fungsi yang lebih dari sekadar pengiring visual, ia membentuk emosi, atmosfer, serta memperkuat narasi visual yang disajikan. Struktur musik anime umumnya mengikuti format tertentu, seperti intro, verse, pre-chorus, chorus, dan outro yang disebut sebagai format OP (Nazare, 2023). Setiap bagian formatnya menyusun alur emosi dengan pengaturan unsur musikal seperti durasi, pitch, dinamika, timbre, dan artikulasi. Sehingga musik dalam anime tidak hanya dipandang sebagai pelengkap, melainkan turut menciptakan identitas musikal yang mampu membangun kesan mendalam terhadap karakter maupun keseluruhan narasi cerita (Sommerlot, 2012; Burland dkk., 2022). Dalam konteks tersebut, opening song (OP) berperan penting sebagai pengantar ideologi dan suasana keseluruhan sejak awal serial. Salah satu komponis yang berhasil mewujudkan hal tersebut adalah Revo dari Linked Horizon, melalui lagu “Shinzou wo Sasageyo!” yang menjadi opening theme untuk Attack on Titan Season 2. Lagu ini bukan sekadar pembuka serial, tetapi juga manifestasi musikal dari konflik anime pada season tersebut. Keterpaduan antara unsur musikal dan makna dalam “Shinzou wo Sasageyo!” menampilkan fenomena menarik tentang bagaimana musik dapat membangun makna simbolik melalui struktur musikal. Namun, hingga kini belum banyak penelitian yang secara mendalam menyoroti hubungan timbal balik mengenai struktur musikal dalam konteks opening theme anime. Penelitian terdahulu, seperti yang dilakukan oleh Adinata dan Islam (2022) yang membahas fungsi estetika musik anime, maupun Nazare (2023) yang mengkaji struktur opening song, menjadi dasar penting bagi penelitian ini. Namun, novelty dari penelitian ini terletak pada fokus analisis yang mengintegrasikan aspek struktural musik. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana musik bekerja secara simultan dalam membentuk identitas emosional dan ideologis Attack on Titan. Berdasarkan teori dan fenomena yang diamati, maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini adalah bagaimana organisasi unsur musikal dalam struktur lagu “Shinzou wo Sasageyo!” saling berinteraksi membentuk representasi identitas musikal anime Attack on Titan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis integrasi antara unsur-unsur musik dalam struktur lagu “Shinzou wo Sasageyo!” serta mengungkap bagaimana hubungannya membangun kekuatan ekspresif dan ideologis dalam konteks anime. Melalui penelitian ini, diharapkan diperoleh pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana musik bekerja sebagai sistem representasi yang melampaui fungsi hiburan semata. 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kualitatif dasar (basic qualitative research). Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berfokus pada pemahaman makna dan interpretasi terhadap fenomena unsur musikal yang tersusun pada struktur musik, bukan pada pengukuran kuantitatif atau pengujian hipotesis (Creswell & Poth, 2018). Sifat penelitian ini bersifat deskriptif, karena bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam fenomena yang dikaji, yaitu struktur musikal pada lagu “Shinzou wo Sasageyo!” dalam kaitannya dengan representasi naratif anime Attack on Titan Season 2. Dengan demikian, penelitian ini tidak berupaya menghasilkan teori baru, melainkan berfokus pada analisis interpretatif terhadap struktur musik, dimana terdapat unsur musik yang membentuk identitas musikal karya tersebut. Proses penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap yang saling berkesinambungan, dimulai dari studi literatur untuk mengumpulkan teori-teori relevan mengenai struktur musik, serta unsurunsur musikal meliputi durasi, pitch, dinamika, timbre, dan artikulasi. Tahap berikutnya adalah pengumpulan data melalui observasi terhadap rekaman audio lagu “Shinzou wo Sasageyo!”, video pembuka (opening visual) anime Attack on Titan Season 2, serta dokumentasi rekaman konser Linked Horizon melalui platform YouTube. Data tersebut digunakan sebagai bahan utama dalam analisis konten. Selanjutnya, dilakukan proses transkripsi partitur berdasarkan sumber daring seperti Musescore dan aransemen konser yang tersedia. Transkripsi ulang dilakukan untuk memastikan kesesuaian dengan versi orisinal komposisi.
46 Struktur Misukal pada Opening Song “Shinzou wo Sasageyo” dalam Serial Anime Attack on Titan (Khoridatun Lailia Al Ayuni) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis konten (content analysis) sebagaimana dikemukakan oleh Krippendorff (2013) dan Schreier (2012), dengan fokus pada reduksi, klasifikasi, dan interpretasi data musikal (Miles dan Huberman, 2014). Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel, partitur musik, dan uraian deskriptif yang menjelaskan identitas musikal. Tahap akhir adalah penarikan kesimpulan yang dilakukan melalui proses verifikasi berulang untuk memastikan keakuratan dan kesesuaian hasil interpretasi dengan teori yang digunakan. 3. PEMBAHASAN Shinzou wo Sasageyo merupakan OP (opening soundtrack) dari anime Attack on Titan musim ke2. Lagu ini memiliki karakteristik musikal yang kuat dan dramatis. Shinzou wo Sasageyo tidak dimainkan dalam satu tonal saja, melainkan terjadi modulasi hampir di setiap bagian lagu, dengan tempo kategori cepat sekitar 160 BPM (Beat per Minute). Tempo ini umumnya digunakan pada genre musik yang energik seperti hardcore, drum and bass, dan beberapa bentuk punk rock atau metal. Dalam ost anime, tempo cepat juga umum digunakan pada anime bergenre aksi, fantasi, maupun heroik, menyesuaikan tema naratif anime. Dari hasil perbandingan antara struktur lengkap original track lagu Shinzou wo Sasageyo dengan format OP yang digunakan dalam versi opening anime, ditemukan adanya proses adaptasi dan penyederhanaan struktur musik yang secara struktural disusun dalam format intro – verse – pre-chorus – chorus – outro. Adaptasi ini dilakukan untuk menyesuaikan durasi dan kebutuhan naratif visual dalam opening anime, namun tetap mempertahankan inti emosional dan klimaks musikal dari versi asli. Pada format OP anime yang berdurasi sekitar 1 menit 30 detik, terdapat penyusunan ulang bagian lagu secara strategis. 3.1 Analisis Organisasi Unsur Musikal dalam Format OP Shinzou wo Sasageyo Musik tersusun dari berbagai elemen dasar yang saling berinteraksi membentuk struktur dan ekspresi musikal. Unsur-unsur ini tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk satu kesatuan yang utuh dalam menyampaikan makna dan nuansa musik. Adapun beberapa unsur utama yang menjadi fokus dalam pembahasan ini meliputi organisasi waktu atau durasi, pitch (tinggi rendah bunyi), dinamika, timbre, dan artikulasi (Petersen, 2013; Dean & Evan, 2024). Setiap unsur berperan dalam menciptakan kesatuan estetika yang menentukan identitas musikal suatu komposisi. Sementara itu, format umum OP terdiri atas bagian intro, verse, pre-chorus, chorus, bridge, dan outro, yang secara dramaturgis membangun progresi emosi dari ketegangan menuju klimaks (Nazare, 2023). Struktur tersebut disusun sedemikian rupa agar dapat memperkenalkan karakter, konflik, serta menyampaikan suasana cerita di awal dalam durasi yang singkat, biasanya antara 1 hingga 1,5 menit. Berdasarkan landasan tersebut, lagu “Shinzou wo Sasageyo” menunjukkan organisasi unsur musikal yang terstruktur dan sejalan dengan format umum opening song anime. a. Intro Bagian intro pada OP ini dimainkan dalam tonalitas A minor, terdiri dari bar 1 hingga 4. Bar pertama dibuka dengan tekstur homofonik, yakni melodi utama diiringi harmoni pendukung, dimana section harpa membawakan melodi utama dengan kontur disjungsi (tanda kuning, pada notasi 1) dan konjungsi (tanda merah, pada notasi 1) secara bergantian. Harpa menjadi pusat fokus dengan dukungan choir dan mark tree, berfungsi menambah timbre dan memperdalam nuansa emosional tanpa mengganggu fokus melodi utama. Melodi konjungsi bergerak dengan interval langkah kecil menciptakan kontinuitas dan stabilitas, serta memberikan kesan halus dan tenang, sehingga melodi mudah diingat dan emosional (Aldwell & Schachter, 2011). Sedangkan disjungsi bergerak dengan lompatan interval yang lebih besar, memberikan kesan kontras melodi (Benward & Saker, 2015). Kombinasi kontur tersebut mampu membentuk melodi yang variatif namun mudah diingat bagi pendengar. Secara dinamika, bagian ini dimainkan pada tingkat mezzo-forte (mf), membangun suasana awal yang melodramatis, sementara decrescendo pada choir memberi kesan menghilang untuk pergeseran suasana yang menambah warna melodi harpa sehingga menciptakan kesan “panggilan” atau “call motif” (Nazare, 2023).
47 Struktur Misukal pada Opening Song “Shinzou wo Sasageyo” dalam Serial Anime Attack on Titan (Khoridatun Lailia Al Ayuni) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Notasi 1. Bar 1-3 Kontur disjungsi dan konjungsi bagian intro. (Sumber: Khoridatun Lailia, 2025) Pada bar ke-2, tekstur homofonik dari intro diperkuat dan diperkaya. Melodi utama yang telah dimainkan oleh harpa pada bar pertama kini dimainkan secara bersamaan oleh harpa dan glockenspiel. Teknik ini disebut unisono, di mana dua instrumen memainkan melodi yang sama persis untuk menggabungkan timbre berbeda yang lebih terang dan resonan. Namun terjadi perbedaan nuansa tersebut berubah drastis ketika menuju klimaks terjadi ketika seluruh ansambel masuk secara tutti pada bar ketiga hingga keempat, melibatkan woodwinds, brass, strings, choir, dan percussion dengan tekstur monofonik yang masif, ritme sinkopasi, serta artikulasi marcato pada strings dan aksen kuat pada brass dan choir. Dinamika mencapai puncak ditandai oleh dinamika fortissimo (ff), menandai perubahan suasana dari ketenangan menuju intensitas lebih keras. Untuk menandai ketimpangan melodi sehingga terkesan mengalir antara bagian intro dengan bagian selanjutnya, maka gitar elektrik menyahutnya dengan efek glissando (pada notasi 2) sebagai transisi menuju bagian verse. Notasi 2. Glissando pada gitar sebagai transisi. (Sumber: Khoridatun Lailia, 2025) Keterpaduan antara unsur musik dan visual dalam intro lagu ini berlangsung dari detik 00:00 hingga 00:06, memperlihatkan hubungan yang erat antara ekspresi bunyi dan narasi gambar. Pada detik 00:01, tampilan patung ibu dan anak dari batu disertai musik lembut harpa dan decrescendo pada choir menciptakan atmosfer reflektif yang seolah mengajak penonton menyelami latar sejarah dunia Attack on Titan. Dinamika mezzo-forte dan tekstur homofonik yang tenang menegaskan nuansa misterius dan sakral. Perubahan dramatis terjadi pada detik 00:04 ketika visual menampilkan barisan titan raksasa yang menyerbu. Adegan ini diiringi peningkatan dinamis yang signifikan ketika seluruh ansambel bermain secara tutti dengan dinamika fortissimo, yang menambah ketegangan dan intensitas visual. Repetisi melodi dengan kontur menaik serta gerak konjungsi dan unisono pada bar 3-4 memperkuat kesan gerak masif dan bahaya yang mendekat. b. Verse Bagian verse terjadi selama 5-28 bar atau pada durasi 00:06-00:29, dimana terbagi menjadi empat fase yang masing-masing menunjukkan perkembangan musikal dan emosional sejalan dengan alur visualnya. Secara struktural, verse menampilkan pola progresif yang berpindah dari A minor
48 Struktur Misukal pada Opening Song “Shinzou wo Sasageyo” dalam Serial Anime Attack on Titan (Khoridatun Lailia Al Ayuni) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music menuju F♯ minor, lalu kembali ke A minor, sebelum akhirnya kembali terjadi modulasi ke F# minor dan menutup dengan transisi ke pre-chorus. Pergeseran tonalitas ini berfungsi membangun variasi warna emosional dalam satu kesatuan tema (Benward & Saker, 2014). Fase pertama, terdiri dari bar 5–12, terjadi modulasi dari A minor ke F♯ minor (Notasi 1. pada tanda kuning) dengan membawakan tekstur homofonik namun kontras dengan bagian intro. Melodi utama dibawakan oleh lead voice (pada tanda merah, notasi 3), diiringi instrumen gesek yaitu viola, violin, dan contrabass yang memainkan ritme staccato, menciptakan kesan “terhentak” atau terpisahpisah karena cara memainkan nada secara terputus. Teknik staccato pada section strings menciptakan ketegangan ritmis, dan artikulasi yang jelas (Fischer, 2013). Melodi tersebut seolah menggambarkan penderitaan dan keputusasaan, yang ditegaskan oleh tonalitas minor yang suram. Pada detik 00:06– 00:17, melalui movie video nya terlihat kerumunan Titan dan langit kelam, merepresentasikan teror. Notasi 3. Notasi bar 5-12 verse fase satu. (Sumber: Khoridatun Lailia, 2025) Setelah bagian awal verse fase pertama, piano mengambil alih dengan melodi yang berkembang dari lembut menuju nyaring dengan marcato (tanda merah pada notasi 4) untuk membangun momentum menuju transisi. Melodi piano kemudian disahut oleh woodwinds sebagai jembatan menuju fase kedua (tanda kuning pada notasi 4). Berdasarkan pengamatan pada partitur dan rekaman konsernya, woodwinds yang berperan menjembatani fase tersebut meliputi oboe, clarinet, dan bassoon, yang memberi warna timbre khas sekaligus memperhalus perpindahan antar bagian. Notasi 4. Transisi verse fase 1 menuju fase 2. (Sumber: Khoridatun Lailia, 2025) Fase kedua (bar 13–20), memperlihatkan modulasi kembali ke A minor (notasi 4, tanda biru) dan menampilkan peningkatan intensitas melalui permainan violin sebagai counter melodi dengan pola sinkopasi dan dinamika mezzo-forte, yaitu tingkat suara yang cukup keras. Sinkopasi digunakan untuk membangun ketegangan sementara (temporary rhythmic tension) dan melalui penempatan aksen pada ketukan lemah, memberikan kesan gerak dan dorongan sehingga lagu tidak terdengar monoton (Kostka, Payne, & Almén, 2013). Sedangkan counter melodi adalah melodi sekunder yang berjalan bersamaan dengan melodi utama, memberikan lapisan tekstur tambahan dan kesan melodis
49 Struktur Misukal pada Opening Song “Shinzou wo Sasageyo” dalam Serial Anime Attack on Titan (Khoridatun Lailia Al Ayuni) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music yang kontras pada lagu. Sementara itu, flute dan woodwinds memainkan repetisi dengan dinamika fortissimo yang memperkaya tekstur serta menambah kesan mendesak. Notasi 5. Section violin sebagai counter melodi. (Sumber: Khoridatun Lailia, 2025) Notasi 6. Melodi repetisi pada section flute. (Sumber: Khoridatun Lailia, 2025) Sementara itu, woodwinds, khususnya flute, memainkan melodi repetisi dengan dinamika sangat nyaring (ff) pada bar 19-20 (notasi 6), memperkaya tekstur musikalnya dan menambah kesan hidup pada bagian ini. Pada bar 20 hingga 21 instrumen brass menjadi jembatan antara verse fase kedua menuju fase ketiga (ditandai dengan tanda merah, pada notasi 7). Instrumen horn, trumpet, dan trombone membawa peningkatan dinamika dari mezzo-forte menuju forte, yang mempersiapkan pendengar untuk menuju perkembangan berikutnya dalam struktur lagu. Notasi 7. Section brass sebagai transisi menuju fase ketiga. (Sumber: Khoridatun Lailia, 2025) Secara tematik, bagian ini merepresentasikan ancaman tanpa henti. Musik pada bagian ini, melalui pola ritmis dan dinamika tinggi, berfungsi seperti simbol bunyi “gedoran” yang menandai ketegangan batin dan ancaman eksternal. Pergeseran visual pada detik 00:18–00:29 memperlihatkan kekacauan dan ketidakpastian, menguatkan hubungan antara tekanan musikal dan situasi naratif anime. Dalam hal ini, sesuai teori “musical mimesis” yang menjelaskan bagaimana musik dapat meniru bentuk atau aksi dari narasi (Cook, 2013). Fase ketiga, berlangsung selama bar 21 hingga 24 dengan modulasi ke tonalitas F# minor. Bagian strings beralih dari pola ritmis sebelumnya menjadi melodi yang mengalun dengan dinamika sedang (mezzo-forte). Motif strings yang ditandai kotak merah pada bar 24 merupakan arpeggio (tanda merah pada notasi 8), digunakan untuk menunjukkan adanya transisi menuju fase selanjutnya yang nantinya modulasi kembali pada tonalitas A minor. Notasi 8. Section strings sebagai transisi menuju fase keempat. (Sumber: Khoridatun Lailia, 2025)
50 Struktur Misukal pada Opening Song “Shinzou wo Sasageyo” dalam Serial Anime Attack on Titan (Khoridatun Lailia Al Ayuni) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Fase keempat, yang berlangsung pada bar 25 hingga 28 dengan modulasi kembali ke tonalitas A minor. Adapun pada fase ini, intensitas dinamika semakin keras lalu kembali terjadi transisi yang menonjol oleh brass. Pada bar 28 (ditandai kotak merah, pada notasi 9) merupakan bagian verse fase keempat, sedangkan bar selanjutnya (ditandai warna kuning, pada notasi 9) merupakan format prechorus. Perpindahan kedua format tersebut terhubung seakan mengalir tanpa terjadi modulasi seperti pada bagian-bagian sebelumnya, melainkan melalui instrumen brass dan choir sebagai penanda transisi dari verse fase keempat menuju pre-chorus. Notasi 9. Notasi section brass sebagai transisi. (Sumber: Khoridatun Lailia, 2025) c. Pre-chorus Bagian pre-chorus berlangsung pada bar 29–34 dengan tetap mempertahankan tonalitas A minor. Secara musikal, bagian ini berfungsi sebagai jembatan yang membangun intensitas menuju klimaks lagu. Sinkopasi pada choir, permainan brass sebagai counter melody (pada notasi 10), serta peningkatan dinamika secara gradual membentuk efek “buildup” yang kuat. Seluruh instrumen berpartisipasi aktif dengan ritme sinkopasi, tremolo pada woodwinds, dan penguatan ritmik dari section perkusi, menghasilkan tekstur padat ritme merepresentasikan dorongan energi yang semakin meningkat. Sesuai dengan pandangan Benward dan Saker (2014), peranan dinamika dan tekstur dalam tahap transisi berfungsi memperkuat ketegangan menuju resolusi tematik dalam bagian klimaks. Notasi 10. Bagian pre-chorus menuju klimaks. (Sumber: Khoridatun Lailia, 2025) Secara tematik, bagian ini selaras dengan menggambarkan dilema eksistensial setelah mengalami pengkhianatan, mengekspresikan pergulatan batin karakter yang harus memilih antara kemanusiaan dan perjuangan. Ketegangan musikal pada bagian ini menjadi representasi sonor dari konflik moral yang dikandung nya. Menurut Tagg (2012), penggunaan intensitas dinamika dan repetisi harmoni minor dalam konteks ini berfungsi memperkuat ekspresi heroik dan determinasi kolektif. Perpaduan antara ritme sinkopasi yang meningkat dan pernyataan yang absolut menciptakan catharsis musikal yang menandai kesiapan emosional menuju chorus, dimana terjadi klimaks dari narasi musikal dan tematik lagu ini. d. Chorus
51 Struktur Misukal pada Opening Song “Shinzou wo Sasageyo” dalam Serial Anime Attack on Titan (Khoridatun Lailia Al Ayuni) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Bagian chorus berlangsung pada bar 35–49 dan terdiri dari dua fase utama yang menjadi puncak emosional lagu. Pada fase pertama (bar 35–42), tonalitas A minor menegaskan warna heroik melalui hook melodi “Sasageyo! Sasageyo! Shinzou wo Sasageyo!”, yang menjadi ciri khas dan daya tarik utama lagu (notasi 11). Melodi konjungsi dengan interval berdekatan membuat bagian ini mudah diingat serta kuat secara emosional. Vokal utama didukung oleh choir yang menyanyikan bagian ini secara unisono, menghasilkan tekstur homofonik yang padat. Menurut Benward dan Saker (2014), pengulangan melodi dengan interval sempit berfungsi memperkuat daya tematik dan menjadikan frasa tersebut identitas musikal lagu. Secara visual, adegan ini bertepatan dengan gestur para anggota Pasukan Pengintai yang mengepalkan tangan di dada, yang merupakan simbol pengabdian dan keberanian yang sering dideklarasikan di anime Attack on Titan, sambil mengumandangkan seruan 「捧げよ!捧げよ!心臓を捧げよ (Persembahkan! Persembahkan! Persembahkanlah hatimu!). Repetisi seruan ini membentuk slogan heroik yang merepresentasikan semangat militer dalam Attack on Titan, slogan untuk berkorban demi umat manusia. Notasi 11. Bagian hook pada chorus. (Sumber: Khoridatun Lailia, 2025) Pada bar 39–40, terdapat momen a cappella dengan iringan lembut harpa yang berfungsi sebagai ruang emosional (emotional release), sebelum seluruh instrumen kembali masuk secara tutti untuk mendorong energi menuju fase berikutnya. Fase kedua (bar 43–49) menampilkan modulasi ke C minor, disertai fortissimo yang menciptakan puncak intensitas musikal dan emosional lagu. Kombinasi modulasi minor, dinamika ekstrem, serta repetisi vokal heroik menjadikan chorus sebagai klimaks musikal dan ideologis lagu, menggambarkan titik tertinggi dari semangat pengorbanan yang menjadi inti dari Attack on Titan. Notasi 12. Bagian A Cappella pada chorus fase pertama. (Sumber: Khoridatun Lailia, 2025) e. Outro Bagian outro (bar 50–58; durasi 01:14–01:29) berfungsi sebagai penutup klimaks yang mempertahankan energi heroik dari chorus sekaligus memberikan resolusi emosional yang kuat. Diawali dengan fase pertama pada bar 50 hingga 53 yang masih berada dalam tonalitas C minor, sebagai kelanjutan dari chorus tanpa terjadi transisi. Seluruh instrumen memainkan tutti dengan ritme sinkopasi dan dinamika sangat keras (ff) termasuk salah satunya choir (pada notasi 12), guna mempertahankan intensitas tinggi yang telah dibangun sebelumnya.
52 Struktur Misukal pada Opening Song “Shinzou wo Sasageyo” dalam Serial Anime Attack on Titan (Khoridatun Lailia Al Ayuni) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Notasi 13. Section choir menjadi transisi dari chorus ke outro. (Sumber: Khoridatun Lailia, 2025) Memasuki fase kedua (bar 54–58), terjadi modulasi menuju E minor, menambah ketegangan dan energi menjelang penutup. Dinamika semakin meningkat hingga mencapai klimaks akhir, diperkuat oleh efek glissando pada gitar elektrik yang menambah kesan dramatis dan agresif. Perpaduan antara harmoni minor, ritme cepat, dan timbre orkestra penuh menghasilkan resolusi sinematik yang megah. Notasi 14. Glissando pada gitar. (Sumber: Khoridatun Lailia, 2025) Glissando merupakan teknik menggeser jadi atau slide sepanjang senar namun mempertahankan nada, efeknya terjadi peralihan pitch yang mulus dan kontinu antar nada sehingga terdengar mengalir. Menurut Dangas (2022), glissando tidak hanya berfungsi sebagai ornamen melodik, tetapi juga sebagai elemen struktural yang mempertegas bagian transisi atau klimaks melalui pewarnaan sonik (sonic coloring) yang khas. Pada bagian ini, sesuai dengan MVnya yang memperlihatkan para Titan Shifter berlari menuju pertempuran besar, sejalan dengan peningkatan musikal yang menggambarkan konfrontasi puncak antara manusia dan Titan. Struktur tonal dan dinamika pada outro menegaskan fungsi penutup sebagai bentuk resolusi heroik, di mana kekacauan musikal berpuncak menjadi kesatuan simbolik tentang perjuangan, pengorbanan, dan keteguhan identitas yang melekat pada Attack on Titan (Cook, 2013; Meyer, 1956). Dari penjelasan tersebut maka dapat dikomparasikan antara struktur original track dengan versi OP “Shinzou wo Sasageyo”, di mana terjadi pergeseran fungsi dan fokus musikal untuk menyesuaikan kebutuhan naratif anime. Versi original track memiliki bentuk komposisi yang lebih panjang dan eksploratif. Sementara itu, versi OP disusun dengan struktur yang lebih padat dan efisien, menonjolkan bagian-bagian tematik utama seperti intro, pre-chorus, dan chorus untuk memperkuat identitas musikal dan emosional anime dalam durasi yang terbatas. Tabel 1. Hasil Format OP pada Shinzou wo Sasageyo