scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Penerapan Konsep Musik Minimalis dalam Membuat Komposisi Musik dari Alat Dapur

Reza, Sopian Muhamad

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kemungkinan penciptaan komposisi musik minimalis dengan memanfaatkan alat dapur rantang sebagai media bunyi utama, dengan pendekatan metode penciptaan karya seni menurut Alma M. Hawkins yang terdiri dari tahapan eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Karya ini terinspirasi dari komposisi Steve Reich berjudul Music for Pieces of Wood, yang dikenal melalui penggunaan pola ritmis sederhana dan repetitif. Dalam karya yang diciptakan berjudul “La Rantang”, penulis mengembangkan pola-pola ritme yang diadaptasi dari karya Reich, namun dengan pemanfaatan warna suara (timbre) yang dihasilkan dari teknik pukulan pada bagian-bagian berbeda dari rantang berbahan stainless steel. Penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif dengan pendekatan praktik artistik, dibantu media digital dalam proses penyusunan partitur dan perekaman audio-visual. Hasil karya menunjukkan bahwa rantang dapat berfungsi sebagai alat musik idiofon alternatif, menghasilkan berbagai timbre unik yang dapat dipakai untuk menyusun struktur musikal repetitif khas musik minimalis. Selain sebagai ekspresi artistik, karya ini juga memiliki potensi signifikan dalam dunia pendidikan, khususnya pembelajaran musik di sekolah dengan pendekatan project based learning dan cooperative learning. Siswa dapat diajak mengeksplorasi suara dari benda di sekitar mereka serta menciptakan komposisi sendiri secara kolaboratif dan kreatif. Dengan demikian, “La Rantang” tidak hanya menjadi eksperimen bunyi, tetapi juga menjadi alternatif inovatif dalam pendidikan seni berbasis teknologi dan pemanfaatan benda yang ada di sekitar.

Full text

Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Penerapan Konsep Musik Minimalis dalam Membuat Komposisi Musik dari Alat Dapur Rantang Sopian Muhamad Reza1 1 Pendidikan Seni Musik, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain, Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia Article Info ABSTRAK Article history: Received: Feb 19, 2025 Revised: Apr 29, 2025 Accepted: Jun 30, 2025 Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kemungkinan penciptaan komposisi musik minimalis dengan memanfaatkan alat dapur rantang sebagai media bunyi utama, dengan pendekatan metode penciptaan karya seni menurut Alma M. Hawkins yang terdiri dari tahapan eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Karya ini terinspirasi dari komposisi Steve Reich berjudul “Music for Pieces of Wood”, yang dikenal melalui penggunaan pola ritmis sederhana dan repetitif. Dalam karya yang diciptakan berjudul “La Rantang”, penulis mengembangkan pola-pola ritme yang diadaptasi dari karya Reich, namun dengan pemanfaatan warna suara (timbre) yang dihasilkan dari teknik pukulan pada bagian-bagian berbeda dari rantang berbahan stainless steel. Penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif dengan pendekatan praktik artistik, dibantu media digital dalam proses penyusunan partitur dan perekaman audio-visual. Hasil karya menunjukkan bahwa rantang dapat berfungsi sebagai alat musik idiofon alternatif, menghasilkan berbagai timbre unik yang dapat dipakai untuk menyusun struktur musikal repetitif khas musik minimalis. Selain sebagai ekspresi artistik, karya ini juga memiliki potensi signifikan dalam dunia pendidikan, khususnya pembelajaran musik di sekolah dengan pendekatan project-based learning dan cooperative learning. Siswa dapat diajak mengeksplorasi suara dari benda di sekitar mereka serta menciptakan komposisi sendiri secara kolaboratif dan kreatif. Dengan demikian, “La Rantang” tidak hanya menjadi eksperimen bunyi, tetapi juga menjadi alternatif inovatif dalam pendidikan seni berbasis teknologi dan pemanfaatan benda yang ada di sekitar. Kata Kunci: Komposisi Musik Musik Minimalis Musik dari Alat Dapur Penciptaan Karya This is an open access article under the CC BY-NC license. Penulis Koresponden: Sopian Muhamad Reza, Pendidikan Seni Musik, Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Dr. Setiabudi No.229, Isola, Kec. Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat 40154, Email: [email protected] 1. PENDAHULUAN Di zaman sekarang ini musik sudah semakin erat peran dan kegunaannya dalam kehidupan manusia. Dalam setiap aktivitas manusia baik dalam kehidupan nyata maupun kehidupan di media digital, musik sudah menjadi sebuah kebutuhan. Musik digunakan manusia sebagai media ekspresi Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Vol. 1, No.1, Juni 2025, pp. 26-43 ISSN-, E-ISSNhttps://ostinato.silatene.org/index.php/index/en 27 Penerapan Konsep Musik Minimalis dalam Membuat Komposisi Musik dari Alat Dapur Rantang (Sopian Muhamad Reza) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music dari perasaan atau suasana hati. Pernyataan tersebut sesuai dengan pernyataan bahwa musik merupakan bentuk ekspresi yang mampu menyampaikan kreativitas dan ide-ide yang ada dalam pikiran manusia baik yang mampu diucapkan ataupun tidak, sehingga dapat menciptakan komunikasi emosional yang mirip seperti bahasa (Azzahra, dkk., 2023). Manusia mengungkapkan isi hati dan pikirannya melalui media bunyi-bunyian seperti nyanyian, permainan alat musik, dan gabungan antara keduanya, yang mana semua itu merupakan bagian dari seni musik itu sendiri sebagai cabang seni yang menggunakan bunyi sebagai media seninya. Musik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 602) diartikan sebagai ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan serta musik juga memiliki artian sebuah nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan (terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu). Dengan demikian, secara umum, di dalam musik terdapat beberapa unsur seperti nada, notasi, ritme atau irama, lagu, teknik dan sebagainya (Nuryadi, & Kholifa, 2020). Dari pernyataan tersebut penulis dapat menarik kesimpulan bahwa musik dapat dihasilkan daripada perpaduan atau komposisi bunyi-bunyi yang diatur sedemikian rupa sehingga dapat menjadi sebuah karya seni yang memiliki makna dan nilai estetika keindahan. Komposisi itu tersendiri mempunyai arti menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008: 744-987), yaitu susunan, gubahan atau karangan. Sedangkan musik adalah nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan. Dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa komposisi musik adalah susunan suara atau bunyi yang dirangkai sedemikian rupa sehingga di dalamnya mengandung suatu irama. Pernyataan tersebut juga dapat dijadikan acuan oleh penulis bahwa semua bentuk bunyi dapat dijadikan bahan membuat komposisi musik. Salah satu media bunyi musik yang dipilih penulis dalam karya tulis ini adalah alat dapur rantang yang terbuat dari bahan alumunium atau stainless steel. Rantang merupakan peralatan dapur yang sudah sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Rantang umum digunakan dalam tradisi “nganteuran” pada masyarakat Sunda saat hari raya Idul fitri. Rantang biasa digunakan untuk wadah makanan yang akan dikirim ke tetangga atau sanak saudara di hari raya (Mukhlishin, 2024). Sumber suara yang digunakan dari rantang ini adalah berasal dari bagian rantang itu sendiri. Kelompok alat musik idiofon merupakan kelompok alat musik dimana sumber bunyi yang dihasilkan berasal dari badan atau bagian utama instrumen musik tersebut atau berasal dari bahan dasar atau badan alatnya sendiri. (Denada, dkk., 2024). Melalui pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa alat dapur rantang dapat tergolong ke dalam alat musik idiofon karena sumber suara yang dihasilkan berasal dari badan rantang itu sendiri. Sehingga dalam pemanfaatan alat dapur rantang ini penulis memanfaatkan bunyi yang dihasilkan dari getaran badan rantang yang berbahan stainless steel yang menghasilkan sebagai warna suara dengan berbagai macam teknik permainan untuk memproduksi suara. Dalam penelitian ini penulis akan memanfaatkan alat dapur rantang dengan konsep musik minimalis. Menurut Satyatma dkk. (2025), musik minimalis merupakan suatu bentuk seni musik yang menggunakan bahan musik yang terbatas atau minimal. Musik Minimalis memiliki alur dan notasi yang berulang-ulang atau dengan kata lain memiliki repitisi yang lumayan banyak. Pernyataan tersebut selaras dengan pernyataan dari situmorang dkk. (2025), yang menyatakan musik minimalis merupakan konsep musik minimal atau terbatas dengan frasa yang memiliki banyak repetisi. Pola benang merah yang diciptakan akan dimodifikasi seiring berjalannya waktu dan masalah yang akan terjadi. Musik minimalis ini menjadi sebuah aliran seni musik yang berkembang di Amerika sekitar tahun 1598 hingga 1974, yang identik dengan pola-pola repetitif. Salah satu tokoh yang bergelut dibidang musik minimalis adalah Steve Reich. Dalam penelitian ini penulis akan mengangkat dan mengadaptasi salah satu karya dari Steve Reich dalam membuat komposisi musik minimalis dari alat dapur rantang yaitu yang berjudul “Music for Pieces of Wood”. Musik minimalis ini dapat dijadikan sebagai bahan atau materi dalam pembelajaran musik di sekolah. Hal ini dapat dikatakan demikian karena pada pembelajaran musik minimalis selaras dengan materi pembelajaran nilai notasi dan birama. Dalam 28 Penerapan Konsep Musik Minimalis dalam Membuat Komposisi Musik dari Alat Dapur Rantang (Sopian Muhamad Reza) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music proses pembelajaran siswa dapat diberikan kebebasan dalam membuat karya musik minimalis dengan memanfaatkan materi nilai notasi yang diberikan oleh guru. Siswa dapat membuat bentuk komposisi karya musik minimalis menurut keinginan mereka masing-masing. Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran yaitu untuk memberi kesempatan siswa dalam berekspresi dan bebas membuat karya sesuai dengan keinginan dan motivasi siswa. Menurut Murfiah (2017) dalam Maesaroh, S. (2022), menyatakan bahwa pengertian Project Based Learning yaitu model pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Guru menugaskan siswa untuk mengeksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Melalui pernyataan tersebut penulis menggaris bawahi pernyataan guru memerintahkan siswa untuk mengeksplorasi. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan bahwa project based learning merupakan model pembelajaran yang berfokus pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama (central) dari suatu disiplin, melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainnya, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja secara otonom mengkonstruk belajar mereka sendiri, dan puncaknya menghasilkan produk karya peserta didik yang bernilai dan realistik (Ngalimun, 2017 dalam As’ari dkk., 2022). Dengan demikian project based learning ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam mengemas pembelajaran musik lebih menarik, efektif dan juga memberikan kesan yang berbekas dan mendalam dalam pembelajaran siswa. Guru berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Guru hanya memberikan bahan materi dan mengarahkan siswa dalam proses mengerjakan dan menyelesaikan projek. Melalui pembelajaran dengan metode ini juga siswa dapat mempunyai sikap yang kreatif dan kolaboratif dan juga melatih kemampuan siswa dalam berpikir kritis dalam memecahkan masalah. 2. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang akan digunakan penulis adalah bersifat kualitatif dan mengacu pada metode penciptaan karya seni yang diungkapkan Alma M. Hawkins. Hawkins dalam bukunya Creating Trough Dance yang diterjemahkan oleh Sumandiyo Hadi (2003: 23), yang menjelaskan bahwa dalam proses penciptaan seni yang baik selalu melewati tiga tahap, sebagai berikut. a. Eksplorasi Tahap eksplorasi merupakan tahap yang berupa pencarian dan penemuan gagasan/ide dengan mengapresiasi dan menghayati pertunjukan karya-karya musik minimalis yang sudah ada dengan tema yang serupa. Kemudian dilanjutkan dengan menangkap, menafsirkan, dan mengimajinasikan peristiwa musikal yang terjadi di dalam sajian karya tersebut sebagai dasar dalam penciptaan. b. Improvisasi Tahap improvisasi berupa peninjauan ulang terhadap tahapan sebelumnya. Pada proses improvisasi atau pengembangan ide dilakukan dengan melakukan imajinasi, selesi dan kreasi melalui kreativitas dan banyak percobaan yang dilakukan. c. Pembentukan karya Tahap terakhir yaitu pembentukan berupa proses pembentukan karya yang merupakan hasil dari eksperimen dan kreasi selama tahap improvisasi yang diwujudkan menjadi sebuah karya seni yang utuh dan memiliki integritas. Referensi karya musik minimalis yang digunakan dalam penelitian ini adalah karya musik minimalis yang berjudul “Music for Pieces of Wood” karya Steve Reich (1973). Dalam hal ini karya musik dari Steve Reich menjadi subjek utama peneliti dalam menganalisis teknik komposisi pola ritme dan repertisi yang ada pada karya “Music for Pieces of wood”. Karena keterbatasan peneliti maka 29 Penerapan Konsep Musik Minimalis dalam Membuat Komposisi Musik dari Alat Dapur Rantang (Sopian Muhamad Reza) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music pelaksanaan penelitian ini pun dilakukan dengan pengumpulan informasi melalui observasi materi audio, visual, dan juga video yang didapatkan dari Youtube dan internet. Dengan demikian penelitian ini dengan menggunakan metode penciptaan menurut Alma M. Hawkins diharapkan dapat memberikan kerangka kerja yang sistematis dan fleksibel untuk menciptakan karya seni terutama karya seni musik minimalis. Ketiga tahap tersebut, eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan, memungkinkan pencipta karya seni untuk mengembangkan ide, mengeksplorasi kemungkinan, dan menciptakan karya seni yang utuh dan juga didukung oleh bukti proses yang valid, terstruktur, dan konsisten (Adiputra & Hariyanto, 2022). 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Identifikasi Komposisi Musik dalam Karya “Music for Pieces of Wood” Steve Reich (b. 1936) merupakan seorang Musisi yang berasal dari Amerika. Steve reich juga merupakan tokoh pelopor musik minimalis pada pertengahan hingga akhir 1960-an. Dalam musik minimalis karya Steve Reich pada akhir tahun 1960-an, pola-pola atau repertisi musik mengalami proses yang dapat didengar serta bergerak dan menggerakan karya tersebut melalui perubahan yang bertahap dengan tetap beracuan pada pola yang telah ditentukan sebelumnya. Tak lama setelah itu, karya-karya Reich menunjukkan bentuk-bentuk yang lebih jelas dan menonjolkan suatu perubahan pola secara bertahap. Pola tetap menjadi titik fokus dan sangat penting bagi gaya komposisi musik minimalis Reich. Dalam karya-karyanya pada tahun 1970-an, Reich berfokus pada bagaimana ia dapat mengembangkan pola secara ritmis, tekstural, dan dinamis. Dalam karya “Music for Pieces of Wood” pada dasarnya hanya menggunakan satu bentuk pola ritme dalam satu bar dengan birama 6/4. Pola tersebut dijadikan sebagai pola utama yang kemudian dijadikan sebagai acuan kreasi musik minimalis itu tersendiri (lihat gambar 1). Gambar 1. Pola layer 1 Middle Block (Sumber: Reza, 2025) Pola yang masuk di awal karya “Music for Pieces of Wood” yaitu pola notasi dengan nilai 1/8 setengah ketuk dalam birama 6/4. Notasi ritme 1/8 tersebut berbunyi dalam ketukan tesis (thetic) yaitu ketukan yang kuat (down beat) dan tanda istirahat 1/8 dalam ketukan arsis yang merupakan ketukan 30 Penerapan Konsep Musik Minimalis dalam Membuat Komposisi Musik dari Alat Dapur Rantang (Sopian Muhamad Reza) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music lemah (up beat). Pola tersebut dimainkan dalam setiap ketukan dalam ketukan birama 6/4 di mulai dari bar pertama, dimainkan dalam layer atau instrumen pertama. Pola ritme yang dimainkan pada bagian atau layer ini menunjukan penggunaan birama dan patokan ketukan atau sering kita kenal sebagai metronome dalam musik. Pola ini terus berlanjut dengan pola yang tetap sama sampai karya ini selesai. Karena memang pada dasarnya secara fungsi layer atau pola ini hanya memainkan ketukan sebagai patokan permainan layer dan instrumen selanjutnya. Pada karya ini layer atau pola tersebut dimainkan dengan menggunakan alat kayu sebagai sumber suaranya. Pada keterangan yang ada pada gambar diatas dituliskan bagian atau layer pada pola tersebut dengan nama Middle Block. Hal ini diperjelas karena dalam penyajian dan penampilan karya tersebut pemain pola ini berada di posisi paling tengah dan memegang peran penting bagi pemain lainnya. Posisi di tengah pun dipilih supaya pemain yang lain semuanya mendapatkan porsi suara metronome yang sama dan jelas (lihat gambar 2). Gambar 2. Pola ritme utama Middle Right Block. (Sumber: Reza, 2025) Pada permainan pola bar ke-5, layer kedua mulai memainkan pola inti atau pola utama yang selanjutnya akan dijadikan sebagai acuan atau contoh dari permainan pola dari layer atau intrumen yang lainnya. Pola tersebut diantaranya terdiri dari tiga notasi 1/8, satu tanda istirahat 1/8, dua notasi 1/8, satu tanda istirahat 1/8, satu notasi 1/8, satu tanda istirahat, 1/8, dua notasi 1/8, dan satu tanda istirahat 1/8. Pola tersebut terus dimainkan beriringan dengan permainan metronome oleh layer satu sampai karya ini selesai. Pola tersebut dimainkan secara terus menerus juga berfungsi sebagai patokan untuk pola dari layer selanjutnya bisa masuk. Pola ini dalam penyajian nya dimainkan oleh pemain dengan posisi berada di sebelah kanan pemain layer satu. Hal ini dirancang demikian karena pola ini dijadikan sebagai patokan pola selanjutnya pula dalam memulai, dimana pola layer lain dapat mulai masuk. Pola ini dimainkan terlebih dahulu secara duet Bersama dengan metronome atau layer satu mulai dari bar ke-4 sampai bar ke-8. Lalu selanjutnya diikuti oleh pola dari layer yang lain sampai karya tersebut selesai (lihat gambar 3). 31 Penerapan Konsep Musik Minimalis dalam Membuat Komposisi Musik dari Alat Dapur Rantang (Sopian Muhamad Reza) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Gambar 3. Pola layer ke tiga Middle Left Block. (Sumber: Reza, 2025) Selanjutnya pola dari layer ke tiga mulai masuk yang diawali dari bar ke-9. Pola dalam layer ke tiga ini dimainkan dan diisi secara bertahap. Pola tersebut disusun secara bertahap dengan cara menambahkan setiap satu pola nilai notasi dalam setiap permainan sebanyak empat bar. pada pola ini diawali dengan menambahkan pola nilai notasi 1/8 pada ketukan ke dua dalam ketukan arsis (upbeat) dalam ssetiap bar sebanyak empat kali pengulangan dari bar ke-9 sampai bar ke-12. Setiap penambahan pola atau perubahan kuantitas bunyi pada karya ini dilakukan dengan jarak pengulangan setiap empat kali dalam satu bar pengulangan atau setiap empat bar. Hal ini dilakukan supaya pendengar atau apresiator dapat merasakan dan mengenali bunyi pola yang dimainkan. Selain itu juga hal ini dilakukan supaya apresiator dapat merasakan dimana dan kapan terjadi perubahan dan penambahan pola (lihat gambar 4). Gambar 4. Penambahan pola pada layer ke tiga Middle Left Block. (Sumber: Reza, 2025) 32 Penerapan Konsep Musik Minimalis dalam Membuat Komposisi Musik dari Alat Dapur Rantang (Sopian Muhamad Reza) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Penambahan notasi dalam karya tersebut terus berlanjut. Notasi pertama ditambahkan pada bar ke-9. Notasi tersebut ditambahkan satu persatu setiap 4 bar sampai akhirnya semua pola tersebut terpenuhi dan sesuai dengan pola utama atau inti pada layer ke dua. Pola pada layer ke tiga Middle Left Block ini dapat terpenuhi pada bar ke-37. Dengan demikian terjadi delapan kali penambahan notasi mulai dari bar ke-9 sampai bar ke-37 sesuai dengan jumlah notasi yang ada pada pola utama atau pola inti pada layer ke 2. Pada layer ke tiga Middle Left Block ini terjadi pergeseran pola notasi. Pola notasi pada layer tiga ini tatap sama dengan pola utama di layer dua namun waktu memulai tidak bersamaan. Berdasarkan gambar notasi diatas pola lengkap tersebut mengalami pergeseran mundur sebanyak tiga ketuk. Pola yang pada layer dua diawali di ketukan pertama dan berakhir pada ketukan ke enam, pada layer tiga mundur menjadi diawali pada ketukan ke tiga dan berakhir di ketukan ke dua pada bar selanjutnya (lihat gambar 5). Gambar 5. Pola layer ke empat Left Block. (Sumber: Reza, 2025) Kemudian selanjutnya mulai masuk pola notasi pertama pada layer ke empat yaitu layer Left Block. Pada layer ini, notasi mulai ditambahkan pada bar ke-41. Pola atau nilai notasi yang pertama ditambahkan pada layer ini adalah notasi 1/8 pada ketukan pertama arsis (upbeat). Sama halnya dengan pola pada layer ke tiga sebelumnya, pola ini mengalami pengulangan sebanyak empat kali dalam empat bar. pola pertama ini dimulai dari bar ke-41 sampai bar ke-44. Pola pada layer ini terus berlanjut mengalami penambahan sampai pola tersebut lengkap dan sama dengan pola utama atau inti yang ada pada layer ke dua (lihat gambar 6). 33 Penerapan Konsep Musik Minimalis dalam Membuat Komposisi Musik dari Alat Dapur Rantang (Sopian Muhamad Reza) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Gambar 6. Pola lengkap pada layer ke empat Left Block. (Sumber: Reza, 2025) Kemudian pada bar ke-69 pola yang ada pada layer ke empat ini sudah lengkap sesuai dengan pola utama pada layer ke dua. Berdasarkan gambar pola notasi dari layer ke empat ini dapat diketahui bahwa terjadi penambahan delapan kali penambahan atau perubahan pola yang di ulang sebanyak empat kali dalam empat bar. pola tersebut mengalami perubahan dari bar ke-41 sampai ke bar ke-69. Dari gambar pola notasi tersebut juga dapat diketahui bahwa pola pada layer ini mengacu pada pola yang dimainkan pada layer ke tiga. Hal tersebut diketahui karena mulai dari bar ke-69 pola permainan notasi pada layer ke empat sama persis dengan pola yang dimainkan pada layer ke tiga yaitu dimulai dari ketukan ke tiga jika disesuaikan dengan pola utama pada layer ke dua (lihat gambar 7). Gambar 7. Pola layer ke lima Right Block. (Sumber: Reza, 2025) 34 Penerapan Konsep Musik Minimalis dalam Membuat Komposisi Musik dari Alat Dapur Rantang (Sopian Muhamad Reza) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Penambahan pola pada layer ke lima Right Block dimulai dari bar ke-73. Pada layer ke lima ini pola yang pertama ditambahkan adalah notasi 1/8 pada ketukan ke empat arsis (upbeat) dalam setiap bar. Seperti hal nya pola pada layer sebelumnya, pola pada layer ke lima ini mengalami empat kali pengulangan dalam empat bar. Layer ke lima ini merupakan layer terakhir yang bermain dari penyajian karya “Musik for Pieces of Wood” (lihat gambar 8). Gambar 8. Pola lengkap layer ke lima Right Block. (Sumber: Reza, 2025) Lalu seperti hal nya yang terjadi pada pola dari layer sebelumnya, pada layer ke lima ini sama persis mengalami perubahan dan penambahan notasi. Notasi bertahap satu persatu ditambahkan pada setiap empat kali pengulangan dalam empat bar. Pada layer ke-lima ini pola bertahap ditambahkan mulai dari bar ke-73 sampai pada akhirnya lengkap pada bar ke-101. Dari gambar notasi diatas dapat diketahui bahwa pola yang di mainkan pada layer ke lima ini sama persis dengan pola yang ada pada layer ke dua atau pola utama yaitu dimulai pada ketukan pertama. Karakteristik karya yang di buat dalam musik minimalis ini secara garis besar sama secara tema, yaitu dalam musik minimalis hanya menggunakan sebuah pola kecil dan pendek yang dimainkan secara berulang dalam ketukan yang stabil. Jika sepintas dalam mendengar karya musik minimalis tidak terdapat melodi jarak interval nada yang dimainkan ataupun harmoni. Karena pada dasarnya musik minimalis ini hanya menampilkan fenomena musikal yang minim dan mengajak pendengar untuk memperhatikan proses perubahan dan penambahan pola yang dimainkan. Karya “Music for Pieces of Wood” yang diciptakan oleh Steve Reich ini di dominasi dengan tema yang sangat minimal. Karya Steve Reich lain yang memiliki tema yang kurang lebih sama yakni karya yang berjudul “Clapping Music”. Yang mengangkat tema dan menampilkan teknik phase-shifting yaitu menampilkan dan merekam pergeseran pola tepukan. 3.2 Improvisasi dan Pengaplikasian Teknik Musik Minimalis pada Karya “Music for Pieces of Wood” Menggunakan Alat Dapur Rantang Karya “Music for Pieces of Wood” dari Steve Reich ini menginspirasi penulis untuk membuat sebuah improvisasi dan membuat kreativitas musik minimalis dengan terinsprirasi dan acuan teknik dari karya tersebut. Dalam perumusan kreativitas tersebut penulis tergerak untuk membuat komposisi 41 Penerapan Konsep Musik Minimalis dalam Membuat Komposisi Musik dari Alat Dapur Rantang (Sopian Muhamad Reza) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Gambar 19. Pola lengkap semua layer dan Pola Penutup. (Sumber: Reza, 2025) Pada akhir dari karya penulis menambahkan pola dan notasi yang sama pada semua layer. Pada bar terakhir ini penulis menambahkan notasi 1/4 pada setiap layer. Pola ini di interpretasikan sebagai pola yang menandai karya tersebut sudah berakhir. Seperti yang sudah di singgung dari pernyataan diatas, bahwa dalam karya ini penulis banyak memanfaatkan media digital. Termasuk juga dalam selanjutnya proses perekaman audio sample, video, dan juga gambar atau foto dalam pembuatan karya ini. Hal ini terjadi karena pada zaman sekarang ini eksplorasi dan kreatifitas dalam kehidupan dapat dilakukan juga secara digital. Oleh karena itu tak jarang khalayak menyebut zaman sekarang ini dengan zaman serba digital. Era Digital adalah masa dimana terjadi proses pergeseran dari ekonomi berbasis industri ke ekonomi berbasis informasi dengan menggunakan komputer atau perangkat teknologi lainnya sebagai media atau komunikasi. Era digital juga merupakan waktu dimana ada akses yang luas, siap dan mudah berbagi, dan penggunaan informasi yang dapat diakses secara elektronik (Muldiah, 2023). Dalam pembentukan karya ini penulis membuat penulisan notasi dengan menggunakan aplikasi penulis notasi balok yang pada dasarnya sangat membantu proses pembentukan karya menjadi lebih cepat dan praktis. Selain dari pada itu, di tengah kondisi yang tidak memungkinkan untuk memainkan alat musik secara bersamaan, teknologi digital dapat membantu dengan memberikan fitur rekaman dan edit dalam suatu aplikasi. Selain itu pada tahap pembuatan terkhusus dalam tahap mengedit karya terdapat berbagai macam cara dan fitur yang dapat digunakan untuk membuat karya menjadi lebih baik. Dalam proses editing audio karya dapat dibuat menjadi mempunyai suara yang berbeda dengan suara asli yang dihasilkan oleh benda. Teknik tersebut merupakan Teknik menambahkan f X dengan mengatur mastering audio pada aplikasi, sehingga menghasilkan audio yang berbeda sesuai dengan keinginan pembuat karya sebagai bentuk dari manipulasi suara. Menurut Kukuh dkk. (2023), menjelaskan bahwa proses editing audio meliputi Ini memungkinkan penyuntingan audio yang mendalam, termasuk pengaturan level suara, mixing audio, dan penggunaan efek suara. Sehingga banyak sekali kemungkinan yang dapat dilakukan pada saat proses editing dan mixing audio hasil dari rekaman untuk menghasilkan suatu karya yang indah dan sesuai dengan harapan. Berdasarkan fenomena tersebut salah satu peran yang sudah kita singgung pada bagian pendahulan, yaitu guru dalam dunia pendidikan juga dapat memanfaatkan teknologi digital dalam proses dan pendekatan pembelajran kepada siswa di sekolah. Guru dapat menggunakan media teknologi digital sebagai penujang dalam proses penyampaian, pengerjaan tugas, dan proses eksplorasi materi pembelajaran dari siswa. Dari karya yang diciptakan ini kita dapat memperhatikan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi. Bisa saja karya ini dibuat sesuai dengan pola yang ada pada karya referensi. Namun di dalam karya ini penulis ingin membuat hasil yang berbeda sebagai proses eksperimen yang dilakukan oleh penulis yang kemudian dapat dijelaskan fenomena apa saja yang terjadi dalam proses penciptaan 42 Penerapan Konsep Musik Minimalis dalam Membuat Komposisi Musik dari Alat Dapur Rantang (Sopian Muhamad Reza) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music karya ini secara terstruktur serta dapat dijadikan bahan referensi dan alternatif dalam media pembelajaran musik. Sebagai media dalam pembelajaran musik, proses pembentukan karya ini dapat dijadikan contoh dan referensi guru untuk membuat konten atau materi dalam pembelajaran. Guru dapat memberikan materi dasar nilai notasi dan birama. Lalu setelah itu guru dapat memerintahkan siswa untuk mulai membuat karya music minimalis dengan pendekatan mencari refenrensi karya yang sesuai dengan tema musik minimalis. Dalam proses pembelajaran guru dapat membagi siswa kedalam kelompokkelompok. Hal ini dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, jiwa kolaboratif, dan kemampuan dalam berkomunikasi serta bergotong royong. Fenomena ini sejalan dengan metode atau pendekatan pembelajaran yang disebut dengan kooperatif learning. Model Pembelajaran Kooperatif merupakan metode pengajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk saling bekerja sama antara sesamanya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang sistematis. Kooperatif learning dapat diartikan juga sebagian dari bentuk pembelajaran yang merupakan strategi pelatihan pembelajaran yang mementingkan dan mengutamakan pada pengelompokan pada kerja sama kelompok siswa di sekolah dengan tingkat kemampuan prestasi siswa yang berbeda didalam kelompok-kelompok kecil (Puspito dan Bune, 2024). Dalam pembelajaran tersebut juga siswa diajarkan dan diarahkan untuk dapat memanfaatkan terknologi digital. Hal tersebut dapat siswa alami dan pelajari pada saat mengedit dan mixing audio yang dibuat menjadi sebuah karya yang sesuai dengan imajinasi dan interpretasi siswa. Dengan demikian siswa dapat dapat terkontruksi untuk mencari pengetahuan nya dengan cara sendiri. Hal ini sejalan dengan pernyataan bahwa teknologi digital dapat dijadikan sarana untuk siswa dapat mengeksplorasi, bereksperimen, berekspresi, dan membangun pemahaman terhadap sebuah konsep dengan cara mereka sendiri (Lathifah, 2024). Selain itu pembelajaran dengan model ini dapat memberikan pengalaman belajar yang mendalam dan bermakna bagi siswa yang sejalan dengan pendapat yang menjelaskan bahwa Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. 4. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam karya ”Music for Pieces of Wood” menggunakan satu pola utama atau pola inti, yang selanjutnya dimainkan pada ketukan yang bergeser dan berbeda. Selain itu, terdapat penggunaan teknik pengulangan sebanyak empat kali pengulangan dalam empat bar. Lalu karya tersebut berjalan dengan teknik menambahkan notasi satu persatu dalam setiap bar. Karya dapat di tiru dan dikembangkan serta di sederhanakan dalam “La Rantang” yang dibuat oleh penulis. Selain dari pada itu juga proses eksplorasi alat musik yang digunakan cukup sederhana. Penulis memanfaatkan benda yang ada di sekitar dan mudah untuk dijumpai. Pembentukan karya dengan mengembangkan karya melalui pemanfaatan warna suara yang ada pada rantang membuat karya memiliki daya keunikan dan nilai estetika yang berbeda dan mempunyai ciri khas tersendiri. Semakin banyak warna suara yang digunakan maka semakin unik dan mempunyai kemungkinan munculnya fenomena musik yang lebih variatif dan berkembang. Dalam proses pembentukan karya ini pula terdapat banyak teknologi digital yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan karya yang semakin baik, variatif dan juga dapat mengikuti serta diterima oleh perkembangan dan kemajuan teknologi. Dalam karya ini permainan musik dapat dilakukan oleh seorang diri dengan dibantu oleh fitur dan alat bantu digital lainnya. Sehingga karya ini dapat dibuat dengan media yang sesuai dengan perkembangan teknologi. 43 Penerapan Konsep Musik Minimalis dalam Membuat Komposisi Musik dari Alat Dapur Rantang (Sopian Muhamad Reza) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music DAFTAR REFERENSI Adiputra, K. A. P., & Haryanto, T. (2022). Music Composition Makules | Komposisi Musik Makules. Ghurnita: Jurnal Seni Karawitan, 2(2), 86–96. As’ari, A. H., Rofi’ah, N., & Nursikin, M. (2022). Project Based Learning dalam Pendidikan Agama Islam. Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora, 2(4), 178–189. Azzahra, A., Faarisah, S. & Nurjanah, N (2023). Analisis Metafora dalam Lirik Lagu Satu Tuju dan Kau Rumahku Karya Raissa Anggiani. J-LELC: Journal of Language Education, Linguistics, and Culture, 3(2), 158-167. Berutu, E, Simarangkir, A. P., & Situmeang, D. M. (2025). Penerapan Blending dan Balancing untuk Meningkatkan Kualitas Suara dalam Paduan Suara Punguan INA HKBP Sisordak pada Lagu Parar Ma Ngolungkon. JIMU: Jurnal Ilmiah Multidisipliner, 3(1),3647.-33 Denada, B., Rozak, A., & Rahman, S. (2024). Organologi Instrumen Musik Alee Tunjang. DESKOVI: Art and Design Journal, 7(1), 81-88. Kukuh, M. S., Haikal, P., & Gusmadana, A. (2023). Manajemen Post Production Editing pada Film Malam. Jurnal Audiens, 4(2), 341–350. Lathifah, A. S. (2024). Pemanfaatan Teknologi Digital dalam Pembelajaran Konstruktivisme: Meningkatkan kualitas pendidikan di era digital. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan (JURDIKBUD), 4(1), 69-76. Maesaroh, S. (2022). Pengaruh Model Project Based Learning Terhadap Motivasi Belajar Siswa. JM2PI: Jurnal Mediakarya Mahasiswa Pendidikan Islam, 3(2), 84–99. Mita, R. A., & Kristiandri, D. (2021). Metode dan Teknik Vokal pada Paduan Suara Gregorius di Paroki Aloysius Gonzaga Surabaya. Jurnal Pendidikan Sendratasik, 10(1), 41–53. Mukhlishin, A. (2024). Eksistensi Tradisi Nganteuran pada Masyarakat Sunda di Lingkungan Masyarakat Islam Ranau. An Najah: Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan, 3(4), 18-36. Muldiah, S. (2023). Kesadaran Mahasiswa dalam Beretika di Zaman Era Digital. Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Keislaman (JIPKIS), 3(2), 121–240. Nuryadi, N., & Kholifa, I. (2020). Etnomatematika: Eksplorasi gamelan Jawa karawitan dengan pendekatan science, technology, engineering, and mathematics (STEM). Jurnal Pendidikan Surya Edukasi, 6(2), 140-148. Puspito, I., & Bune, M. K. N. (2024). Dasar Kapabilitas Student Learning Process Pendidikan Agama Kristen Melalui Pendekatan Cooperatif Learning. Inculco: Journal of Christian Education, 4(1), 6987. Satyatma, D., Sumerjana, K., & Wiyati, W. S. (2025). Born & Die: Proses penciptaan komposisi musik dengan konsep minimalis. Journal of Music, 4(1). Situmorang, J. B. P., Prasetyo, G. E., & Irawan, R. (2025). Proses Penciptaan Karya Komposisi Mind Chaos. Melodious: Journal of Music, 4(1), 1–8.