scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Analisis Percakapan antara Orang Jawa Ngapak (Brebes) dengan Orang Jawa (Semarang) dalam Percakapan Daring WhatsApp

Mohammad Sofwan Azizi, Dariel Ramadhan Sahari, Qurrota Ayu Neina, Tommi Yuniawan

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 5, December 2025, P. 161-175 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17844059 *Corresponding author Email: [email protected] Analisis Percakapan antara Orang Jawa Ngapak (Brebes) dengan Orang Jawa (Semarang) dalam Percakapan Daring WhatsApp Analysis of a Conversation between a Ngapak Javanese Speaker (Brebes) and a Standard Javanese Speaker (Semarang) in an Online WhatsApp Chat Mohammad Sofwan Azizi1, Dariel Ramadhan Sahari2, Qurrota Ayu Neina3, Tommi Yuniawan4 12Program Studi Sastra Indonesia, 34Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang A B S T R A K Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan karakteristik komunikasi antara penutur dialek Jawa Ngapak (Brebes) dan dialek Jawa Semarangan dalam percakapan daring melalui aplikasi WhatsApp. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini menelaah variasi fonologis, leksikal, dan gaya komunikasi yang muncul dalam interaksi antardialek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penutur Ngapak mempertahankan vokal terbuka serta kosakata khas seperti nyong dan rika, sedangkan penutur Semarangan cenderung menggunakan vokal depan serta kosakata seperti aku dan partikel lho. Meskipun terdapat perbedaan linguistik, kedua penutur mampu berkomunikasi secara efektif melalui proses negosiasi makna dan kesetaraan sosial. Temuan ini menegaskan bahwa perbedaan dialek tidak menjadi hambatan komunikasi, melainkan memperlihatkan dinamika adaptasi sosiallinguistik dalam masyarakat Jawa modern. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian sosiolinguistik, komunikasi antarbudaya, serta pembelajaran lintas dialek di era digital. A B S T R A C T This study examines the communication characteristics of speakers of the Javanese Ngapak (Brebes) dialect and the Semarang dialect in online interactions conducted via WhatsApp. Using a descriptive qualitative approach, the research analyzes phonological, lexical, and communicative variations that appear in cross-dialect exchanges. The findings show that Ngapak speakers maintain open vowel pronunciations and use distinctive lexical items such as nyong and rika, while Semarang speakers tend to use front vowels and vocabulary such as aku, kowe, and the particle lho. Despite these linguistic differences, both speakers communicate effectively through meaning negotiation and socially equal interaction. The results indicate that dialectal differences do not impede communication; instead, they demonstrate dynamic socio-linguistic adaptation among contemporary Javanese speakers. This study contributes to sociolinguistic and intercultural communication research and provides practical insights for dialect awareness, language education, and regional language preservation in the digital era. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang dikenal dengan ribuan pulau, keberagaman suku dan budaya yang beragam. Terbentang dari Sabang sampai Merauke kekayaan ini menjadi identitas sekaligus kebanggan bangsa yang termanifestasi dalam semboyan ”Bhineka Tunggal Ika”. Ditengah keberagaman yang menjadi ciri utama Bangsa Indonesia, interaksi antarindividu dan kelompok dari latar belakang yang berbeda merupakan sebuah anugrah yang harus disyukuri, Koentjaraningrat dalam Kistanto (2017) secara ekstensif memaparkan bahwa keberagaman etnis ini, meskipun merupakan anugerah, juga menyimpan potensi tantangan dalam proses komunikasi akibat perbedaan sistem nilai budaya yang mendasar. meskipun keberagaman ini terkadang menyimpan potensi tantangan dalam proses komunikasi. A R T I C L E I N F O Article history: Received November 05, 2025 Revised 10 November 2025 Accepted 25 November 2025 Available online 06 December 2025 Kata Kunci: komunikasi antarbudaya, dialek Jawa, sosiolinguistik, negosiasi makna, bahasa daerah. Keywords: intercultural communication, Javanese dialects, sociolinguistics, meaning negotiation, regional language. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2023 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 161-175 Socius E-ISSN: 3025-6704 Dalam konteks bangsa yang majemuk bahasa memegang peranan penting. bahasa Indonesia memang telah ditetapkan sebagai bahasa persatuan yang efektif menjembatani komunikasi formal di seluruh nusantara. Namun, dalam interaksi sosial sehari-hari, bahasa daerah masih memegang dominasi yang kuat. Hal ini sejalan dengan pandangan J.W.M. Verhaar dalam Apriyanto (2022), menjelaskan situasi diglosia di Indonesia, di mana bahasa Indonesia berfungsi sebagai ragam tinggi high variety untuk situasi resmi, sementara bahasa daerah berfungsi sebagai ragam rendah low variety untuk komunikasi yang lebih akrab dan personal. Eksistensi ratusan bahasa daerah dengan dialeknya yang khas inilah yang kemudian melahirkan sebuah kebutuhan krusial akan pemahaman komunikasi lintas budaya, bahkan pada skala regional yang lebih kecil sekalipun. Bahasa Jawa, sebagai salah satu warisan dengan tradisi yang melimpah, menawarkan gambaran fonologis yang unik dan penuh dengan perbedaan. Ketika kita menyelami lebih dalam, variasi fonologis dalam bahasa ini membuka rute bagi kita untuk mengeksplorasi kekayaan komunitas yang terkait dengan adat istiadat, sejarah, dan perubahan sosialnya (Saputra et al., 2023). Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan tertanam kuat dalam konteks linguistik Indonesia yang lebih luas. Dengan lebih dari 700 bahasa daerah, Indonesia adalah mosaik linguistik, dan bahasa Jawa, dengan jumlah penutur asli terbesarnya, berfungsi sebagai laboratorium utama untuk memahami dinamika kebahasaan. Variasi internalnya mencerminkan keragaman Indonesia dalam skala mikro, di mana ia tidak hanya berinteraksi dan saling memengaruhi bahasa tetangga seperti interferensi fonetis dengan bahasa Sunda di wilayah perbatasan, tetapi juga telah berkontribusi membentuk "warna" fonologi bahasa Indonesia modern. Komunikasi merupakan suatu sistem interaksi, baik lisan, tulisan, maupun gestur yang dilakukan manusia dalam kegiatan sehari-hari. Seiring dengan meningkatnya mobilitas globalisasi manusia di berbagai daerah Indonesia, globalisasi mempertemukan orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda dalam berbagai ranah, seperti dunia pendidikan, dunia bisnis, maupun kehidupan sosial (Lintas et al., 2024). Perbedaan bahasa daerah kerap menimbulkan kesalahpahaman atau hambatan dalam menyampaikan pesan secara tepat. Kondisi ini menunjukan bahwa kemampuan berkomunikasi lintas budaya menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat multikultural seperti Indonesia. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga merepresentasikan identitas budaya suatu kelompok. Ketika dua penutur dari daerah berbeda berinteraksi, perbedaan bahasa tidak hanya menuntut kemampuan linguistik, tetapi juga pemahaman terhadap norma sosial dan budaya yang melingkupinya. Kurangnya kesadaran terhadap aspek ini dapat menyebabkan munculnya stereotip atau prasangka antar kelompok (Maya Julijanti, 2010). Pembelajaran mengenai komunikasi lintas bahasa daerah juga mendukung pelestarian bahasa lokal. Dalam proses interaksi, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu seringkali membuat bahasa daerah tersisih dari ruang publik. Melalui pendekatan yang tepat, percakapan antar daerah justru dapat menjadi sarana saling mengenalkan bahasa lokal, sekaligus memperkaya kompetensi kebahasaan masyarakat. Upaya ini sejalan dengan visi penguatan budaya nasional yang menempatkan bahasa sebagai bagian dari kekayaan bangsa (Lintas et al., 2024). Komunikasi lintas budaya melahirkan konsep manajemen lintas budaya. Mengutip dari Liliweri (2005) manajemen lintas budaya secara ringkas membahas cara mengelola individu, objek, dan berbagai situasi yang melibatkan perbedaan latar belakang serta budaya. Bahasa ngapak secara awal dikenal sebagai bahasa Jawadwipa atau bahasa yang digunakan oleh masyarakat di pulau Jawa. Bahasa ini dianggap sebagai versi murni dari bahasa Jawa. Dalam struktur delapan tingkat pengetahuan bahasa kawruh basa yang baku di Jawa, dialek Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 161-175 Azizi, et., al / Analisis Percakapan antara Banyumasan masuk dalam kategori tertinggi yaitu bahasa ngoko Jawadwipa yaitu bahasa ngoko di tanah Jawa, yang sebelumnya disebut sebagai bahasa ngoko lugu. Bahasa Jawa Banyumas yang tampil dalam wujud lugunya, memperlihatkan karakter asli individu dari Banyumas yang dianggap lugu atau tulus mencerminkan keadaan sejatinya. Bahasa ngapak memiliki sejumlah ciri khas yang menjadi pembeda. Ciri khusus ini berkembang secara lokal di kawasan Banyumasan, seperti yang dijelaskan oleh Nugroho & Kusuma (2023) sebagai berikut: a) menunjukkan karakter murni, b) memiliki sedikit variasi dalam pelafalan, c) dipakai sebagai bahasa utama oleh masyarakat Banyumas, d) dipengaruhi oleh bahasa Jawa kuno, bahasa Jawa tengah, dan bahasa Sunda. Bahasa ngapak memiliki keunikan dalam pelafalan konsonan di akhir kata sering disebut dengan gaya ngapak dan pelafalan vokal a, i, u, e, o yang jelas (Nugroho & Kusuma, 2023). Dan bahasa Jawa Semarangan, mendapatkan penamaan oleh komunitas asli penutur Semarang. Nama ini menandakan bahwa bahasa Jawa Semarangan berbeda dari bahasa Jawa baku serta variasi bahasa Jawa lainnya. Umumnya bahasa Semarangan sering dianggap sebagai bahasa yang kurang halus dan tidak memiliki tata krama "Orang Semarang itu tidak bisa bahasa. " Meskipun begitu, bahasa Semarangan tetap merupakan bahasa yang baik dan sesuai bagi para penutur Semarang. Ciri khas bahasa Jawa Semarangan muncul ketika dibandingkan dengan bahasa Jawa yang baku. Keunikan ini bisa dilihat dari penggunaan leksikon krama inggil dalam percakapan. Penutur bahasa Jawa di Semarang menunjukkan kekhasan dalam penggunaan krama dan krama alus. Sering kali, penutur Semarang ini disebut oleh penutur dari luar (nonSemarang) sebagai “Orang yang tidak bisa bahasa atau orang yang tidak paham tata krama” atau individu yang tidak dapat berbahasa halus dan kurang memahami tingkatan tutur, ucapannya dianggap tidak layak untuk didengarkan (Suryadi & Diponegoro, 2014). Dalam contoh dibawah ini mengenai percakapan singkat antara Jawa Ngapak dan Jawa Semarang memberikan hal menarik tentang sosiolinguistik mikro atau kajian sosiolinguistik yang berfokus pada aspek penggunaan bahasa secara rinci dalam konteks sosial yang spesifik dan interaksi antarindividu yang menggambarkan eksistensi keadaan hidup berdampingan secara damai dan negosiasi berbagai dialek dalam interaksi sehari-hari di kalangan masyarakat Jawa, terutama pertemuan antara dialek Jawa Ngapak dan Jawa Semarang. Penutur Ngapak, dikenal lewat penggunaan kata ganti "Nyong" dan bunyi vokal akhir terbuka "kuwé" dan "siki", memulai pembicaraan dengan topik yang sangat pribadi dan rutin seperti menikmati kopi dan merokok, menciptakan atmosfer yang hangat dan santai. Tanggapan dari penutur Semarang tidak hanya menunjukkan kemampuan dalam berkomunikasi antar dialek, tetapi juga memperlihatkan perhatian terhadap isu ekonomi kecil seperti kenaikan harga rokok melalui ungkapan emosional "Waduh, regane rokok iki kok larang ik!", yang kemudian direspon dan diperkuat oleh penutur Ngapak "Déngéng larangé? wingi gari rong puluh éwu". Peralihan tiba-tiba menuju pembahasan tentang keindahan "Koe wis tau ndelok kembang sing ana neng meja kae?" berfungsi sebagai taktik sosial untuk mengurangi keluhan dan mengembalikan suasana menjadi tenang atau santai, menunjukkan bahwa dibalik keberagaman, kedua penutur memiliki pemahaman budaya yang sama dalam merespon. Berikut contoh terkait bahasa Jawa Ngapak dan Jawa Semarang dalam pengartian dari percakapan antarbudaya tersebut: Jawa Ngapak: Nyong pan nginung kopi nang cangkir kuwe, saiki pan ngudud. Jawa Semarang: Waduh, regane rokok iki kok larang ik!, koe wis tau ndelok kembang sing ana neng meja kae? Jawa Ngapak: Ganing larange? wingi gari rong puluh ewu. kembang kuwe ya apik temen. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 161-175 Socius E-ISSN: 3025-6704 Berdasarkan percakapan itu, pendekatan identitas budaya yang diperkenalkan oleh Stella Ting-Toomey menekankan pentingnya keselarasan makna dalam komunikasi antarbudaya. Ia menegaskan bahwa komunikasi lintas budaya bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga mencakup proses mendengarkan dan memahami. Di sisi lain, Larry A. Samovar menjelaskan bahwa komunikasi antarbudaya terjadi ketika individu dari suatu budaya mengirimkan pesan yang kemudian diterima dan ditafsirkan oleh individu dari budaya lain. Hal ini memperlihatkan bahwa komunikasi lintas budaya merupakan proses interaksi dinamis yang melibatkan beragam latar belakang budaya. Salah satu contoh paling menarik dari dinamika ini dapat ditemukan dalam interaksi penutur bahawa jawa, khususnya antara dialek gaya Semarangan dengan dialek Ngapak Brebes. Gaya komunikasi kedua dialek tersebut memiliki karakteristik yang mencolok. Dialek Jawa Semarangan yang mirip dengan dialek Surakarta-Yogyakarta atau Wetanan yang dikenal dengan pilihan kata yang lebih halus sebagai refleksi budaya keraton yang sopan. Sebaliknya, Dijelaskan oleh Sudaryanto dalam Press (1991) dialek Ngapak Banyumasan termasuk juga Ngapak Brebes mempertahankan banyak bentuk leksikal fonologis dari bahasa Jawa Kuno yang membuatnya terdengar lebih sederajat dan lugas, yang bagi penutur dialek lain terkadang dapat dipersepsikan sebagai bahasa yang kasar atau tidak sopan. Dalam contoh analisis percakapan singkat dibawah ini memperlihatkan hubungan yang sangat dekat dan tidak formal antara dua dialek yang berbeda, Aziz dan Dariel, yang tengah merencanakan lokasi untuk kerja kelompok. Penggunaan bahasa Jawa mereka, terutama kata ganti orang pertama "nyong" yang diucapkan oleh Aziz, mengindikasikan bahwa mereka berbicara dalam dialek Ngapak yang biasa dipakai di barat Jawa Tengah, menandakan adanya ikatan yang erat. Aziz memulai dengan mengajukan pertanyaan mengenai tempat kerja kelompok, menunjukkan ketertarikan yang tulus dengan kontak mata yang langsung dan tangan yang terbuka. Dariel dengan cepat memberikan masukan dengan menggunakan Jawa Semarangan penuh semangat dan percaya diri, mengarahkan perhatian ke Gazebo B1 sebagai lokasi yang sempurna karena penampilannya yang luas dan baik. Aziz langsung menyatakan persetujuannya dengan penuh semangat, dan obrolan ditutup dengan pernyataan dari Dariel, yang secara fisik melirik jam tangan dan mengambil kunci, memperlihatkan komitmen dan kesiapannya untuk segera bertindak. Pembicaraan ini berlangsung sangat lancar dan santai, mencerminkan keputusan bersama yang diambil dengan cepat antara dua individu yang sudah saling memahami. Berikut contoh secara non-verbal dalam percakapan antarbudaya Jawa Ngapak dan Jawa Semarang: Tokoh Dialog Non verbalnya Aziz "Dariel, nyong takon rika, kerkom maring ngendi?" Mata menatap langsung ke Dariel dan tangan terbuka ke atas, menunjukkan rasa ingin tahu dan mencari saran (nonkonkret). Dariel "Neng gazebo B1 wae Ziz! Nang kono panggone apik eh tur amba." Mengangguk mantap dan tersenyum lebar sambil mengangkat alis, menunjukkan keyakinan penuh dan Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 161-175 Azizi, et., al / Analisis Percakapan antara persetujuan dengan tempat yang diusulkan (non-konkret). Aziz "Iya lah, nyong gagian maring kono." Mengayunkan tangan ke samping secara meyakinkan dan memiringkan kepala sedikit, memberikan saran yang menurutnya terbaik (nonkonkret). Dariel "Oke, aku yo mangkat saiki." Melirik jam tangan (objek konkret) lalu mengambil kunci di saku, menunjukkan kesiapan dan komitmen waktu (konkret). Dalam konteks bangsa yang majemuk bahasa memegang peranan penting. Bahasa Indonesia memang telah ditetapkan sebagai bahasa persatuan yang efektif menjembatani komunikasi formal di Indonesia. Namun, dalam interaksi sosial sehari-hari, bahasa daerah masih memegang dominasi yang kuat. Eksistensi ratusan bahasa daerah dengan dialeknya yang khas inilah yang kemudian melahirkan sebuah kebutuhan krusial akan pemahaman komunikasi lintas budaya, bahkan pada skala regional yang lebih kecil sekalipun (Abdullah, 2013). Celah ini muncul karena mayoritas kajian sosiolinguistik dialek Jawa masih terikat pada bentuk komunikasi lisan atau berbasis teks formal. Penelitian ini berupaya mengisi celah tersebut dengan memfokuskan analisis pada interaksi lintas dialek Jawa Ngapak Brebes dan Jawa Semarangan dalam media sosial WhatsApp. Ranah digital ini penting karena mencerminkan ruang komunikasi informal yang setara dan lugas, seringkali membebaskan penutur dari kaidah tingkat tutur yang kaku krama atau ngoko yang dijelaskan oleh (Kawasari, 2017). Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan tertanam kuat dalam konteks linguistik Indonesia yang lebih luas. Dengan lebih dari 700 bahasa daerah, Indonesia adalah mosaik linguistik, dan Bahasa Jawa, dengan jumlah penutur asli terbesarnya, berfungsi sebagai laboratorium untuk memahami dinamika kebahasaan. Variasi internalnya mencerminkan keragaman Indonesia dalam skala kecil, di mana ia tidak hanya berinteraksi dan saling memengaruhi bahasa tetangga seperti interferensi fonetis dengan Bahasa Sunda di wilayah perbatasan, tetapi juga telah berkontribusi membentuk "warna" fonologi Bahasa Indonesia modern. Studi-studi terdahulu seringkali berfokus pada konteks lisan dan formal, seperti klasifikasi tingkat tutur krama, madya, dan ngoko yang kaku dalam dialek standar Jawa Kawasari, 2017 atau karakter lugas dialek Ngapak dalam komunikasi tatap muka (Suswandari, 2009). Namun, seiring dengan masifnya penggunaan media sosial dan aplikasi pesan instan, terdapat kebutuhan mendesak untuk memahami bagaimana perbedaan dialek Jawa khususnya antara Ngapak dan Semarangan berkomunikasi, dinegosiasikan, dan dipertahankan dalam komunikasi digital. Berangkat dari fenomena perbedaan gaya komunikasi dialek Ngapak Brebesan dan Semarangan didalam lingkungan perkuliahan juga seringkali muncul kesalahpahaman atau misspersepsi terhadap tuturan yang dianggap wajar oleh penutur dialek Ngapak bisa jadi menyinggung perasaan penutur gaya dialek Semarang, begitupun sebaliknya. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam perbedaan karakteristik komunikasi antara kedua kelompok sosial tersebut dengan tujuan membangun sebuah jembatan Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 161-175 Socius E-ISSN: 3025-6704 pemahaman, sehingga diharapkan akhirnya dapat terciptanya sebuah komunikasi lintas daerah yang lebih efektif, efisien dan harmonis. Keanekaragaman bahasa dalam aspek komunikasi digital mencakup berbagai fenomena seperti pemakaian singkatan, emoji, campuran kode, serta variasi gaya bicara atau dialek yang menunjukkan identitas sosial tertentu. Dalam konteks Indonesia, dialek Jawa menjadi contoh yang cukup signifikan; variasi seperti Ngapak Brebesan atau gaya Semarangan tetap ada di ruang digital. Sebaliknya, kedua varian tersebut justru banyak digunakan oleh penuturnya sebagai simbol solidaritas daerah dan ekspresi identitas sejati, contohnya lewat meme, grup komunitas, atau komentar di platform media sosial. Contohnya, generasi muda sering kali memakai istilah gaul atau kata yang hanya dimengerti oleh komunitas online tertentu. Di sisi lain, generasi yang lebih tua cenderung dapat mempertahankan penggunaan bahasa yang lebih formal. Perbedaan ini bisa dianalisis secara mendalam dengan menggunakan perspektif teori komunikasi budaya. Komunitas daring generasi muda sering kali berfungsi sebagai budaya konteks tinggi, mengikuti istilah yang digunakan Edward T. Hall, di mana makna termasuk istilah gaul, meme, dan penggunaan emoji tertentu sangat bergantung pada pemahaman bersama yang bersifat implisit dan tidak diucapkan. Sementara itu, preferensi generasi tua terhadap bahasa formal menunjukkan kecenderungan pada budaya konteks rendah, yang lebih menghargai penyampaian pesan yang eksplisit, jelas, dan terstruktur. Fenomena ini menjadi semakin kompleks ketika dilihat dari sudut pandang globalisasi, di mana media sosial memberikan kesempatan bagi orangorang dari beragam budaya dan bahasa untuk berkomunikasi satu sama lain. Pertukaran antar budaya ini menghidupkan prinsip-prinsip dari Teori Akomodasi Komunikasi (CAT) yang diperkenalkan oleh Howard Giles. Pengguna secara aktif dapat melakukan penyesuaian (convergence), yakni modifikasi gaya bicara supaya mirip dengan lawan bicara demi membangun kedekatan, misalnya dengan lebih sering menggunakan Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia yang baku, atau bahkan melakukan perbedaan divergence dengan menonjolkan dialek lokal atau istilah slang mereka untuk menegaskan identitas dan perbedaan kelompok. Oleh karena itu, ragam bahasa di media sosial bukan hanya sekadar metode komunikasi, tetapi juga merepresentasikan identitas, mewakili simbol persatuan kelompok, dan bahkan menjadi alat untuk mempromosikan pandangan atau agenda tertentu. Kajian ini menerapkan pendekatan sosiolinguistik yang dipadu dengan teori komunikasi budaya untuk menganalisis variasi bahasa yang muncul dalam interaksi digital. Fokus utama dari kajian ini adalah untuk mengenali pola-pola dalam variasi bahasa, memahami elemen sosial dan budaya seperti akomodasi atau konteks yang memengaruhi pemakaiannya, serta mengeksplorasi pengaruhnya terhadap hubungan sosial dan budaya di zaman digital ini (Ilmu & Naratif, 2025). Oleh karena itu penelitian ini berfokus pada fenomena keragaman bahasa di Indonesia, khususnya Bahasa Jawa, yang banyak memiliki variasi dialek yang cukup banyak, seperti contohnya Jawa Ngapak Brebes dan Jawa Semarang, yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam berkomunikasi sehari-hari. Meskipun bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa yang sering digunakan, bahasa daerah tetap dominan dalam interaksi komunikasi lintas budaya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam tentang perbedaan karakteristik komunikasi antara Jawa Ngapak Brebes dan Jawa Semarang. Secara spesifik penelitian ini akan berfokus pada hal berikut: 1. Mengidentifikasi variasi linguistik dan gaya komunikasi antara penutur Jawa Ngapak Brebes dan Jawa Semarangan dalam interaksi daring WhatsApp Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 161-175 Azizi, et., al / Analisis Percakapan antara 2. Menjelaskan bagaimana proses persetujuan makna dan pemahaman bersama terjadi di antara penutur Jawa Ngapak Brebes dan Jawa Semarangan, terutama pada ranah digital yang informal 3. Bagaimana membangun jembatan pemahaman, sehingga diharapkan terciptanya komunikasi lintas daerah yang lebih efektif dan efesien. Penelitian ini menegaskan bahwa perbedaan antara dialek Jawa Ngapak Brebes dan dialek Jawa Semarang, yang jelas terlihat dalam aspek fonologis seperti pengucapan vokal akhir (a) dibandingkan (o) serta leksikal seperti pemakaian ”nyong” dibandingkan ”aku”, tidak menghalangi proses komunikasi. Interaksi daring yang terjadi di antara kedua penutur berjalan dengan efektif dan harmonis berkat adanya persetujuan tentang makna, kesetaraan sosial, dan toleransi dalam berbahasa. Temuan ini memperluas pemahaman mengenai teori komunikasi lintas budaya ke dalam wilayah dialek mikro dalam satu keluarga bahasa. Hal ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman di waktu mendatang. METODE Penelitian ini memakai pendekatan deskriptif kualitatif. Dengan kata lain, kajian ini memanfaatkan metode deskriptif kualitatif dalam proses penelitiannya karena metode ini bisa memahami fenomena secara mendalam dan mempelajari suatu fenomena peristiwa di lingkungan aslinya (Hermawan & Pd, 2019). Penelitian deskriptif kualitatif merupakan upaya untuk memaparkan secara lengkap bentuk, fungsi, serta makna suatu ungkapan (Yusanto, 2020). Suatu penelitian disebut kualitatif apabila dilihat dari aspek metodologi yang digunakan. Metode ini dipilih karena data yang dikumpulkan hanya dapat dianalisis melalui penjelasan naratif. Data yang diperoleh dalam penelitian ini tidak berupa angka atau rumus statistik, melainkan disajikan dalam bentuk kata-kata dan kalimat. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi langsung terhadap percakapan pribadi di aplikasi WhatsApp antara dua penutur yang menggunakan dialek berbeda, yaitu Yasmin sebagai penutur dialek Semarangan dan Faiq sebagai penutur dialek Ngapak Brebes. Peneliti berperan sebagai pengamat sekaligus penganalisis data secara langsung. Observasi dilakukan dengan mendokumentasikan percakapan tertulis di aplikasi WhatsApp selama interaksi berlangsung. Peneliti tidak mengintervensi jalannya percakapan, melainkan hanya mengamati, mencatat, dan menyalin data yang relevan untuk dianalisis. Peneliti menerapkan pendekatan deskriptif kualitatif. Menurut Sugiyono, (2013) penelitian deskriptif tidak menitikberatkan pada generalisasi, tetapi pada pendalaman makna. Hermawan (2019). menambahkan bahwa pendekatan ini berupaya menyajikan pemahaman secara sistematis dan teliti mengenai fakta aktual serta karakteristik suatu populasi. Sementara itu, Wahyuni et al. (2019) menjelaskan bahwa tujuan desain deskriptif adalah menghasilkan gambaran yang tersusun rapi, faktual, dan tepat tentang berbagai fakta. Metode penelitian kualitatif berlandaskan pada pandangan postpositivisme dan digunakan untuk menelaah objek dalam situasi yang alami. Tidak seperti penelitian eksperimen, peneliti dalam metode ini menjadi instrumen utama (Wijoyo & Nyanasuryanadi, 2020). Pengumpulan data dilakukan secara primer dan dirancang khusus untuk menjawab pertanyaan atau hipotesis penelitian yang sedang dikaji. Sebab peneliti terlibat langsung dalam proses pengumpulan informasi dan data. Metode ini melibatkan peneliti melakukan observasi dan eksperimen dimana peneliti langsung berinteraksi dengan subjek atau variabel yang diteliti, maka penelitian ini bisa diklasifikasikan sebagai artikel penelitian primer. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 161-175 Socius E-ISSN: 3025-6704 Penggunaan teknik analisis data yang difokuskan pada artikel ini adalah teknis analisis kualitatif, karena penelitian ini dimulai dengan proses pengamatan dalam percakapan chat pribadi WhatsApp antara Yasmin sebagai penutur dialek gaya Semarangan dan Faiq sebagai penutur dialek Ngapak Brebes, seluruh data percakapan WhatsApp ditranskripsikan secara verbatim dari bentuk teks digital ke bentuk teks tertulis untuk memudahkan proses analisis. Tanda baca, emotikon, dan bentuk penulisan informal tetap dipertahankan untuk menjaga keaslian data. Setelah data diperoleh peneliti mengidentifikasi fitur linguistik yang menandai perbedaan dialek serta gaya bahasa khas masing-masing daerah. Data yang telah diidentifikasi kemudian dikategorikan berdasarkan jenis perbedaan linguistik. Dan yang terakhir ialah menginterpretasikan hasil kategorisasi dengan menggunakan teori komunikasi antarbudaya yang berkaitan dengan cara penutur dari latar belakang budaya berbeda menegosiasikan makna, menjaga kesantunan, dan membangun pemahaman bersama melalui bahasa .Penggunaan pendekatan kualitatif juga sangat tepat dalam penelitian ini karena peneliti ingin menginterpretasikan makna tersembunyi yang tersirat dalam struktur percakapan tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam komunikasi antar mahasiswa, terdapat tiga hal yang menjadi perhatian, yaitu penggunaan bahasa daerah di lingkungan rumah dan keluarga, serta hambatan berkomunikasi dengan bahasa daerah di lingkungan kampus, serta kesulitan berinteraksi dengan teman yang menggunakan bahasa berbeda. Ketiga hal tersebut menunjukkan bahwa hambatan komunikasi sering muncul di lingkungan mahasiswa, terutama ketika seseorang menggunakan bahasa daerah dalam menyampaikan informasi. Mahasiswa dari daerah lain sering kali tidak memahami maksudnya, bahkan bisa terjadi miskomunikasi dalam proses penyampaian pesan. Hal ini wajar terjadi karena lingkungan kampus merupakan tempat berkumpulnya mahasiswa dari berbagai suku, budaya, ras, dan agama di seluruh Indonesia (Radiko Arvyanda et al., 2023). Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan karakteristik komunikasi antara penutur dialek Jawa Ngapak Brebesan dan Jawa Semarang dalam konteks daring WhatsApp. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi variasi linguistik dan gaya komunikasi serta menjelaskan bagaimana proses negosiasi makna dan pemahaman bersama terjadi dalam interaksi lintas dialek ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data primer atau langsung dari percakapan pribadi di aplikasi WhatsApp. Informan kunci adalah Faiq sebagai penutur dialek Ngapak Brebes dan Yasmin sebagai penutur dialek Semarangan. Secara keseluruhan, dalam analisis ini ditemukan 60 data percakapan. Data tersebut ditranskripsikan secara verbatim dari bentuk teks digital ke bentuk teks tertulis dan mempertahankan elemen informal seperti tanda baca untuk menjaga keaslian komunikasi digital. Konteks percakapan mencerminkan interaksi sehari-hari yang informal, santai, dan setara sebagai teman kuliah, sering kali terkait topik ringan seperti rencana kerja kelompok atau kabar harian. Berdasarkan data yang diperoleh, 36 data percakapan daring dalam WhatsApp didominasi oleh , variasi linguistik yang mencerminkan perbedaan identitas kultural. Dari 36 data percakapan yang teridentifikasi dalam penelitian ini, kami mengambil 5 contoh percakapan untuk kami analisis lebih dalam berdasarkan aspek fonologi, leksikal, dan pragmatik. Lebih lanjut kami juga menganalisis lebih dalam berdasarkan tema kritis yang mencakup negosiasi makna, identitas sosial sebagai penanda karakteristik daerah dan kohesi sosial, serta strategi komunikasi yang menunjukan adanya proses adaptasi sosial-linguistik yang dinamis. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 161-175 Azizi, et., al / Analisis Percakapan antara Penelitian ini diharapkan dapat membangun sebuah jembatan pemahaman, sehingga diharapkan akhirnya dapat terciptanya sebuah komunikasi lintas daerah yang lebih efektif, efisien dan harmonis. Berikut adalah enam data terkait hasil penelitian yang kami analisis mengenai aspek linguistiknya serta tema krisis yang mencakup negosiasi makna, identitas sosial dan strategi komunikasi sosial-linguistik yang dinamis: Data 1 Bahasa Indonesia Brebes ruang pira? berapa Semarang 200 piro ya paling pojok berapa Kata pira memiliki struktur K-V-K-V (Konsonan-Vokal-Konsonan-Vokal), secara leksikal, pira merupakan bentuk bahasa khas Ngapak untuk menyatakan “berapa” dan dikenal sebagai dialek konservatif yang secara konsisten mempertahankan pelafalan vokal akhir (a). Sedangkan kata piro memiliki struktur K-V-K-V (Konsonan-Vokal-Konsonan-Vokal). Ciri khas fonologisnya terletak pada vokal akhir (o) di akhir kata, penutur Semarangan cenderung mengubah vokal akhir (a) menjadi vokal belakang setengah terbuka (o) pada banyak leksikon. Secara leksikal, pira dan piro adalah leksikon yang sama, yang menunjukkan bahwa perbedaannya bersifat fonologis. Secara morfologis, kedua kata ini adalah bentuk dasar interogativa atau nomina lugas yang berfungsi sebagai penanya. Perbedaan ini adalah murni fonologis-dialektal, yang menandai perbedaan pelafalan antara Ngapak yang melafalkan (a) dan Semarangan yang melafalkan (o). Jika ditinjau dari sisi sosiolinguistik, variasi fonologis antara (a) dan (o) pada leksikon yang sama pira atau piro berfungsi sebagai variabel sosiolinguistik yang secara spesifik mengidentifikasi asal penutur. Variasi ini menjadi penanda kuat identitas sosial yang membedakan penutur Jawa Tengah Barat (Ngapak) dari penutur Jawa Tengah Timur (Semarangan). Keberadaan penelitian lain memperkuat pemahaman analisis ini. Seperti penelitian Sahayu (2003) berjudul “Variasi Fonologis Pemakaian Bahasa Jawa di Pusat Kota dan Daerah Pinggiran Bagian Utara Kabupaten Grobogan” menelaah perbedaan fonologis bahasa Jawa antara wilayah pusat kota dan daerah pinggiran di bagian utara Grobogan. Studi tersebut menunjukkan bahwa variasi dialektal dipengaruhi oleh faktor sosial maupun geografis. Hasil ini sejalan dengan pembahasan mengenai bentuk pira dan piro, yang memperlihatkan adanya variasi fonemis dan leksikal akibat perbedaan wilayah antara Brebes dan Semarang, serta berfungsi menandai identitas sosial dan membedakan kelompok dalam masyarakat. Berdasarkan tinjauan ini, maka penelitian deskriptif kualitatif saat ini dilakukan untuk menjelaskan bagaimana perbedaan pelafalan yang khas ini diakomodasi dan dipahami dalam interaksi lintas dialek. Analisis ini mencakup identifikasi pola-pola variasi fonologis yang stabil dan bagaimana penutur tetap mampu melakukan negosiasi makna meskipun memiliki perbedaan pelafalan. Dengan membandingkan hasil penelitian terdahulu yang juga menyoroti pentingnya variasi dialektal dalam konteks sosial, penelitian saat ini diharapkan dapat menambah perubahan terhadap studi sosiolinguistik dialek Jawa di era komunikasi digital. Data 2 Bahasa Indonesia Brebes kwn wis yas? sudah