scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Representation of Feminism Issues in Barbie the Movie: A Sociological Analysis

Aulia Tiara Rahmadanty

Full text

2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Representasi Isu Feminisme dalam (Aulia TiaraRahmadanty) | 62-67 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 11, December 2025, P. 62-67 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17844967 Representasi Isu Feminisme dalam Barbie the Movie: Suatu Analisis Sosiologis Representation of Feminism Issues in Barbie the Movie: A Sociological Analysis Aulia TiaraRahmadanty¹ ¹ Fakultas Hukum, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Indonesia E-mail: auliatiararah[email protected] Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana isu-isu feminisme digambarkan dalam film Barbie the Movie (2023) dengan menggunakan pendekatan dari ilmu sosiologi, khususnya teori gender, patriarki, serta aliran feminisme liberal dan radikal. Film ini dianggap sebagai titik balik penting dalam representasi budaya populer mengenai perempuan karena mencoba mengubah gambaran tentang boneka Barbie yang selama bertahun-tahun dianggap mempromosikan standar kecantikan yang tidak realistis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menganalisis narasi dan visual dari adegan utama dalam film tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa film ini secara terang-terangan mengkritik sistem patriarki, menampilkan perjuangan perempuan dalam struktur sosial, serta menawarkan gambaran baru tentang eksistensi perempuan. Penelitian ini juga mengungkap bahwa film Barbie the Movie merupakan bagian dari budaya populer yang mencerminkan dinamika sosial masa kini sekaligus membuka wawasan lebih luas mengenai hubungan kuasa antara gender. Kata Kunci: feminisme, sosiologi gender, patriarki, budaya populer, representasi Perempuan Abstract This study aims to analyze how feminist issues are portrayed in Barbie the Movie (2023) using a sociological approach, particularly gender theory, patriarchy, as well as liberal and radical feminist perspectives. The film is considered an important turning point in the representation of women in popular culture because it attempts to transform the long-standing image of the Barbie doll, which for years has been criticized for promoting unrealistic beauty standards. This research employs a qualitative descriptive method by analyzing the narrative and visual elements of key scenes in the film. The findings indicate that the film explicitly criticizes the patriarchal system, illustrates women’s struggles within social structures, and offers a new depiction of women’s existence. The study also reveals that Barbie the Movie is a product of popular culture that reflects contemporary social dynamics while providing broader insights into power relations between genders. Keywords: feminism, gender sociology, patriarchy, popular culture, representation of women Article Info Received date: 25 November 2025 Revised date: 02 December 2025 Accepted date: 05 December 2025 PENDAHULUAN Representasi perempuan dalam budaya populer adalah topik penting dalam kajian sosiologi, terutama dalam sosiologi media, sosiologi gender, dan studi budaya. Media tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga berperan sebagai alat sosialisasi yang membentuk cara orang memahami dunia di sekitarnya. Melalui media, masyarakat menerima nilai, symbol, norma, dan definisi tentang cara berperilaku yang dianggap benar atau salah, termasuk bagaimana perempuan dan laki-laki seharusnya berperilaku. Salah satu objek budaya populer yang mempunyai pengaruh besar terhadap cara identitas perempuan dibangun adalah boneka Barbie. Sejak diperkenalkan pertama kali pada tahun 1959 oleh Ruth Handler, Barbie menjadi ikon global yang merepresentasikan konsep kecantikan, gaya hidup, dan 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Representasi Isu Feminisme dalam (Aulia TiaraRahmadanty) | 62-67 gambaran ideal perempuan. Namun, pengaruh Barbie tidak selalu positif. Banyak pihak mengkritik karena dianggap mempromosikan standar kecantikan yang tidak realistis, mengobjektifkan tubuh perempuan, serta nilai kapitalisme yang dapat merendahkan harga diri anak perempuan. Penelitian psikologi dan sosiologi menunjukkan bahwa bentuk tubuh kurus yang dianut Barbie bisa memengaruhi cara anak perempuan memandang tubuh mereka sendiri dan berperilaku di masyarakat. Peluncuran film Barbie pada tahun 2023 menjadi momen penting yang bisa dianalisis secara sosiologis. Film yang disutradarai Greta Gerwig ini bukan hanya mencoba memperbaiki citra Barbie di dunia populer, tetapi juga secara langsung membahas isu-isu seperti patriarki, diskriminasi gender, kapitalisme, dan peran sosial perempuan. Dengan pendekatan satir dan narasi, film ini memberikan kritik terhadap struktur sosial yang sudah lama membentuk pengalaman hidup perempuan di masyarakat. Dengan begitu, film ini bukan sekadar hiburan saja, tetapi juga menjadi teks budaya yang membawa pesan sosial yang kompleks. Dalam konteks kajian sosiologi, film ini penting untuk dianalisis karena menggambarkan bagaimana representasi media bisa memengaruhi kesadaran masyarakat terhadap isu kegenderan. Film ini memperlihatkan kontras antara dunia "Barbie Land" yang sempurna dan dunia nyata yang penuh ketidakadilan. Saat Barbie mengalami krisis dan menghadapi realitas sosial yang keras, film ini menunjukkan bagaimana struktur patriarki masih memengaruhi hidup perempuan modern. Adeganadegan tersebut memperlihatkan dengan jelas bagaimana gender sebagai konstruksi sosial yang dibentuk dan dipertahankan oleh institusi sosial. Selain itu, film ini menawarkan ruang untuk membahas bagaimana masyarakat modern memandang perempuan, terutama tuntutan agar terus sempurna, kuat, tetapi sekaligus tidak boleh terlalu dominan.Kontradiksi ini mencerminkan tekanan sosial yang dihadapi perempuan di berbagai lapisan masyarakat. Dengan begitu, film Barbie menjadi bahan yang tepat untuk memahami dinamika gender, stereotip, dan kesadaran kolektif perempuan dalam budaya masa kini. Penelitian ini dilakukan agar bisa menjawab pertanyaan penting tentang cara film ini memperlihatkan isu feminisme, bagaimana patriarki dikritik atau diulang kembali melalui gambar dan percakapan dalam film, serta bagaimana pesan tersebut terkait dengan teori feminisme liberal dan radikal. Dengan menganalisis secara mendalam dari sudut pandang sosiologi gender, penelitian ini diharapkan bisa memberikan tambahan informasi bagi kajian yang membahas hubungan antara media dan cara masyarakat membentuk identitas gender. KAJIAN TEORI Teori Gender dan Patriarki Patriarki adalah sistem sosial yang memberi kekuasaan utama kepada laki-laki dan membatasi peran perempuan dalam masyarakat. Menurut Kamla Bhasin (1996), patriarki bekerja dengan memperkuat nilai-nilai budaya, lembaga, serta hubungan sosial yang mengatur cara tubuh, perilaku, dan identitas perempuan dilihat dan dijalani. Feminisme Secara umum, feminisme adalah gerakan dan teori yang berjuang untuk kesetaraan antara lakilaki dan perempuan. Dalam penelitian ini, dua aliran utama digunakan: a. Feminisme Liberal Aliran ini menekankan pentingnya kesempatan yang sama bagi perempuan, seperti akses ke pendidikan, hak politik, dan kebebasan dalam mengambil keputusan tentang hidup mereka. b. Feminisme Radikal Aliran ini fokus pada bagaimana patriarki sebagai sistem struktural menghancurkan perempuan, serta menuntut perubahan mendasar terhadap struktur sosial yang memperkuat ketidakadilan gender. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Representasi Isu Feminisme dalam (Aulia TiaraRahmadanty) | 62-67 3. Representasi Budaya Populer Dari perspektif studi budaya, media tidak hanya mencerminkan kenyataan, tetapi juga membentuk dan menentukan bagaimana pengalaman sosial diartikan. Film menjadi tempat penting untuk melihat bagaimana gagasan tentang gender dibangun dan dinegosiasikan dalam masyarakat. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan menganalisis wacana dan semiotika visual. Data utama diambil dari adegan-adegan dalam film Barbie the Movie yang membahas topik feminisme. Sumber pendukung diperoleh melalui studi literatur yang berkaitan dengan teori feminisme, patriarki, dan sosiologi media. HASIL DAN PEMBAHASAN Barbie the Movie adalah film yang menunjukkan dinamika feminisme dengan cara simbolis dan satire terhadap struktur sosial yang berbasis patriarki. Film ini menceritakan dua dunia yang berbeda, yaitu Barbieland dan dunia nyata, yang digunakan sebagai metafora untuk menunjukkan ketidakseimbangan gender dan dampak dari ide-ide tersebut terhadap identitas perempuan. Dalam perjalanan tokoh-tokohnya, film ini menjelaskan bagaimana perempuan menghadapi diskriminasi sosial, tubuh yang diobjektifkan, serta kesulitan dalam menyampaikan suaranya di dalam sistem yang didominasi oleh laki-laki. Pembahasan ini menganalisis berbagai isu feminisme yang disampaikan dalam film dari dua sudut pandang utama, yaitu feminisme liberal dan feminisme radikal. Perspektif Feminisme Liberal Feminisme liberal berusaha mendukung kesetaraan hak, kesempatan, dan kebebasan bagi perempuan di berbagai bidang kehidupan sosial. Ide ini terlihat dalam film melalui cerita awal Barbie yang diciptakan sebagai simbol bahwa perempuan bisa menjadi apa pun yang mereka inginkan. Narasi ini menolak stereotip lama yang membatasi perempuan hanya dalam pekerjaan rumah tangga. Konflik muncul saat Barbie menghadapi realitas dunia nyata yang jauh dari harapan feminisme liberal. Dia mengalami pelecehan verbal, pandangan yang menganggapnya sebagai objek, serta ketidakadilan dalam struktur pekerjaan di perusahaan Mattel. Hal ini menunjukkan paradoks masa kini: meskipun gerakan kesetaraan gender berkembang, diskriminasi tetap berlangsung secara tersamar dalam sistem lembaga. Gambaran laki-laki sebagai pihak yang memiliki semua kuasa di perusahaan menunjukkan bagaimana perempuan masih ditempatkan sebagai bagian yang tidak penting dalam pengambilan keputusan penting. Di sisi lain, karakter Ken menjadi kritik terhadap kekuatan maskulin yang merusak. Ketidakmampuan Ken dalam Barbieland mencerminkan posisi perempuan di dunia nyata yang kehilangan akses ke kuasa. Saat Ken membawa struktur penuh kuasa patriarkal ke Barbieland hingga menciptakan tempat bernama Kendom, film ini menunjukkan bagaimana kekuasaan maskulin muncul dari rasa tidak cukup dan kebutuhan akan pengakuan sosial. Konflik ini menegaskan bahwa feminisme liberal tidak hanya memperjuangkan hak perempuan, tetapi juga mengubah peran laki-laki agar mereka bebas dari tekanan standar maskulinitas yang dominan. Pemulihan Barbieland melalui kesepakatan kesetaraan antara Barbie dan Ken menggambarkan pesan bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan ideal bukanlah soal siapa yang menguasai, melainkan soal pembagian kuasa yang adil dan pengakuan terhadap identitas masing-masing. Dengan demikian, feminisme liberal dalam film ini menuntut adanya perubahan budaya menuju kesetaraan yang nyata, bukan hanya simbol. Perspektif Feminisme Radikal Feminisme radikal tidak setuju dengan cara bertahap untuk menyelesaikan ketidaksetaraan gender, dan mereka menganggap bahwa akar dari penindasan perempuan adalah sistem patriarki yang terdapat dalam struktur sosial, hukum, budaya, dan ekonomi. Pandangan ini terlihat dari kritik terhadap 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Representasi Isu Feminisme dalam (Aulia TiaraRahmadanty) | 62-67 gagasan bahwa Barbie sudah menyelesaikan semua masalah feminisme, padahal isu gender masih terus terjadi. Film ini juga menyoroti dampak patriarki melalui standar kecantikan yang terus menekan perempuan, seperti yang diungkapkan oleh karakter Sasha yang melihat Barbie sebagai simbol dari pemerintahan gaya dan konsumsi yang berlebihan. Kritik ini menunjukkan bagaimana tubuh perempuan secara historis dijadikan objek yang bisa dijual, dan bukan pihak yang memiliki kekuasaan atas dirinya. Pandangan ini sesuai dengan pemikiran feminisme radikal yang menolak eksploitasi tubuh perempuan dalam sistem patriarki dan kapitalisme. Pidato Gloria menjadi contoh emosional tentang beban kontradiksi sosial yang harus ditanggung perempuan: dianggap sempurna di setiap aspek, namun selalu dikritik. Cerita ini menunjukkan bahwa dominasi patriarki terinternalisasi dalam diri perempuan, sehingga mereka kehilangan ruang untuk menentukan identitas mereka sendiri. Dalam perspektif feminisme radikal, pengalaman itu membuktikan bahwa patriarki bukan hanya struktur eksternal, tetapi juga sistem mental yang mengatur cara perempuan memandang diri sendiri. Konflik internal Barbie mengenai identitas diri mencerminkan krisis sebagai bentuk perlawanan terhadap batasan sosial. Pilihan Barbie untuk menentukan hidupnya sendiri tanpa bergantung pada penciptanya melambangkan kebebasan perempuan dari pengendalian sistemik, sekaligus pernyataan bahwa kebebasan perempuan harus dimulai dari kesadaran kritis terhadap struktur yang menindas. SIMPULAN Barbie the Movie adalah film yang membahas secara kritis isu ketimpangan gender dan gerakan feminisme dengan pendekatan yang simbolis, lucu, dan cerita yang kuat. Film ini menunjukkan bahwa masalah kemajuan perempuan tidak hanya berupa cara mereka dilihat di tempat umum, tetapi juga terkait dengan cara struktur kekuasaan patriarki memengaruhi pikiran, tindakan, dan identitas perempuan dalam masyarakat. Dari perjalanan tokoh Barbie dan Ken, film ini menunjukkan bahwa hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan tidak terjadi karena sifat biologis, melainkan karena cara masyarakat membentuk kebudayaan dan kepercayaan yang berkuasa.Film ini membahas dua pan dangan utama tentang feminisme, yaitu feminisme liberal dan feminisme radikal. Feminisme liberal terlihat melalui upaya perempuan untuk mendapatkan hak dan peluang yang sama untuk menentukan hidup mereka sendiri, bebas dari batasan peran rumah tangga, stereotip sosial, dan diskriminasi dari lembaga-lemabaga. Melalui pengalaman Barbie di dunia nyata, film ini menunjukkan betapa kuatnya dominasi laki-laki dalam struktur kekuasaan, serta bagaimana perempuan sering terabaikan dalam pengambilan keputusan penting. Perubahan Barbieland menjadi Kendom menunjukkan bahwa kesetaraan gender membutuhkan kesadaran dari kedua pihak, bukan satu pihak yang menguasai pihak lain. Feminisme radikal muncul melalui kritik terhadap budaya patriarki sebagai akar dari kekerasan terhadap perempuan. Dengan sosok Sasha dan percakapan dengan Gloria, film ini menjelaskan betapa tekanan sosial yang sangat berat yang dihadapi perempuan, seperti standar kecantikan yang tidak realistis, penyalahgunaan tubuh sebagai barang dagangan, dan tuntutan untuk sempurna dalam segala hal. Film menyatakan bahwa perjuangan feminisme tidak hanya tentang tampilan simbolik, tetapi juga tentang bebas dari kontrol budaya, psikologis, dan ideologis yang membatasi perempuan. Pada akhirnya, film ini menekankan bahwa gerakan feminisme adalah proses yang terusmenerus yang memerlukan kesadaran kolektif. Barbie the Movie menolak keyakinan bahwa kesetaraan sudah tercapai, justru film ini menyoroti bahwa kenyataan sosial masih penuh ketidakadilan, baik di dunia kerja, pendidikan, politik, maupun dalam bentuk kesadaran diri sendiri. Dari resolusi konflik antara Barbie dan Ken, film mengajak kita bahwa kesetaraan sejati tidak bisa dicapai melalui penukaran kekuasaan, melainkan melalui pemahaman dan menghargai identitas masing-masing. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Representasi Isu Feminisme dalam (Aulia TiaraRahmadanty) | 62-67 Dengan demikian, Barbie the Movie bukan hanya film lucu dan menarik, tetapi juga menjadi sarana edukatif yang membangkitkan pembicaraan tentang feminisme yang relevan hari ini. Film ini mengajak penonton untuk lebih kritis terhadap struktur kebudayaan patriarki yang masih mengakar dan menantang perempuan serta laki-laki untuk berpartisipasi aktif dalam menciptakan dunia yang setara dan adil. Film ini juga menjadi pengingat bahwa perjuangan feminisme bukan sekadar pembicaraan, tetapi kenyataan yang harus terus diusahakan melalui aksi reflektif, kesadaran kolektif, dan perubahan struktural. REFERENSI Alviyanti, I. F. (2023). Analisis Gender Equality Dalam Film Barbie The Movie, 142. Bhasin, K. (1996). Menggugat Patriarki: Pengantar tentang Persoalan Dominasi terhadap Kaum Perempuan. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. Bowes, C. (1997). The creation of the Barbie doll. (R. Handler, Interviewer) Indonesia, B. N. (2023, Juli 31). Bagaimana Awal Mula Barbie Diciptakan dan Mengapa Sebagian Laki-laki Sempat Menentang Boneka dengan Figur Perempuan? Retrieved from BBC News Indonesia: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c6pw8prlpgyo Impact of Ultra-Thin Dolls on Girls’ Body Image. (2012, Maret 11). Retrieved from Durham University: https://www.durham.ac.uk/departments/academic/psychology/news/impact-of-ultra-thin-dollson-girls-body-image/ Kalra, V. (2023, July 21). Bans, Feminist Backlash and More: The Many Controversies of Barbie through the Years. Retrieved from The indian Express: https://indianexpress.com/article/explained/explained-culture/barbie-controversy-ban-history8850977/ Ludirja, K. (2014). Konten Peran Gender Peremouan, 7. Melati, N. K. (2019, April-Mei). Apa yang Perlu Diketahui Tentang Dasar-Dasar Feminisme. Retrieved from BaKTINews: https://baktinews.bakti.or.id/artikel/apa-yang-perlu-diketahuitentang-dasar-dasarfeminisme#:~:text=Feminis%20Marxis%20memercayai%20bahwa%20segala,masyarkat%2C%2 0yakni%20kapitalisme%20dan%20patriarki. Melati, N. K. (2019, Mei-Juni). Apa yang Perlu Diketahui Tentang Dasar-Dasar Feminisme (Bagian 2) Selesai. Retrieved from BaKTINews: https://baktinews.bakti.or.id/artikel/apa-yang-perludiketahui-tentang-dasar-dasar-feminisme-bagian-2selesai#:~:text=Feminisme%20sebagai%20gerakan%20sosial%20mempunyai,mencakup%20eks presi%2C%20identitas%20dan%20peran. Quirk, M. (2023, July 15). The Dark Side of Barbie From 'Don't Eat' Diet Book To Controversial Pregnant Midge Doll. Retrieved from The Mirror: https://www.mirror.co.uk/3am/us-celebritynews/dark-side-barbie-dont-eat-30454150 Retnani, S. D. (2012). Feminisme Dalam Perkembangan Aliran Pemikiran. Feminisme Dalam Perkembangan Aliran Pemikiran, 101-102. Susanto, D. (2013). Kajian Kritis Tentang Akar Teologi dan Ideologi Feminisme Amina Wadud Mushin. Kajian Kritis Tentang Akar Teologi dan Ideologi Feminisme Amina Wadud Mushin, 5052. Wirawan, G. B. (2020, April-Mei). Saya Laki-Laki, Saya Butuh Feminisme. Retrieved from BaKTINews: https://baktinews.bakti.or.id/artikel/saya-laki-laki-saya-butuhfeminisme#:~:text=Patriarki%20memprioritaskan%20satu%20kelompok%20laki,untuk%20keset araan%20di%20antara%20gender. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Representasi Isu Feminisme dalam (Aulia TiaraRahmadanty) | 62-67 Wollstonecraft, M. (1729). A Vindication of the Rights of Woman: with Strictures on Political and Moral Subjects. In M. Wollstonecraft, A Vindication of the Rights of Woman: with Strictures on Political and Moral Subjects (p. 27). London Wollstonecraft, M. (1729). A Vindication of the Rights of Woman: with Strictures on Political and Moral Subjects. In M. Wollstonecraft, A Vindication of the Rights of Woman: with Strictures on Political and Moral Subjects (p. 215-216). London