Challenges and Supporting Factors in the Management of Guidance and Counseling in Indonesian Secondary Schools
Full text
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 5, December 2025, P. 176-179 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17846652 *Corresponding author Email: [email protected] Kendala dan Faktor Pendukung Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah di Indonesia Challenges and Supporting Factors in the Management of Guidance and Counseling in Indonesian Secondary Schools Suci Amelia Mardiah1, Neviyarni S2, Yarmis Syukur3 Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Padang A B S T R A K Penelitian ini menyoroti kendala, faktor pendukung, dan tren penelitian manajemen bimbingan dan konseling (BK) di sekolah menengah Indonesia. Dengan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) mengacu pada protokol PRISMA 2020, tim menelusuri Google Scholar, Portal Garuda, Neliti, serta repositori kampus untuk publikasi dari 2010 sampai 2025. Dari 103 artikel, hanya 14 yang memenuhi kriteria. Hasil analisis memperlihatkan tiga tipe kendala— struktural, teknis, dan kultural. Guru BK masih dibebani pekerjaan non-BK, fasilitas terbatas, supervisi profesional lemah, dan dukungan kebijakan sekolah rendah (Pratiwi, 2012; Rahman, 2019; Abdullah, 2021; Yusuf, 2023). Di sisi lain, ada faktor pendukung seperti kepemimpinan kepala sekolah, pelatihan konselor, dan kolaborasi antarpihak (Lubis, 2022; Irawan, 2022). Tren riset didominasi studi kualitatif deskriptif, tapi masih minim pengembangan model supervisi, pemanfaatan teknologi, serta riset jangka panjang berbasis bukti. Studi ini menegaskan perlunya penguatan manajemen BK melalui pendekatan kelembagaan dan kebijakan pendidikan. A B S T R A C T The study digs into the challenges, supporting factors, and research trends in guidance and counseling (BK) management in Indonesian secondary schools. Using a Systematic Literature Review (SLR) based on the PRISMA 2020 protocol, the team searched Google Scholar, Portal Garuda, Neliti, and various university repositories for works published from 2010 to 2025. Out of 103 articles, only 14 fit the inclusion criteria. The review exposes structural, technical, and cultural barriers: counselors overloaded with non-BK tasks, inadequate facilities, weak professional supervision, and little support from school policies (Pratiwi, 2012; Rahman, 2019; Abdullah, 2021; Yusuf, 2023). On the positive side, school leadership, counselor training, and inter-party collaboration help the process (Lubis, 2022; Irawan, 2022). Most studies rely on descriptive qualitative methods, but few focus on supervision models, technology, or longitudinal, evidence-based research. This paper calls for stronger guidance counseling management through institutional and policy reforms. PENDAHULUAN Bimbingan dan konseling adalah bagian penting dari pendidikan yang mendukung perkembangan pribadi, sosial, akademik, dan karier siswa (Permendikbud No.111 Tahun 2014). Pelaksanaan layanan BK di sekolah sangat bergantung pada manajemen institusi yang mengatur dasar, pelaksanaan, dan evaluasi, seperti dijelaskan dalam model manajemen komprehensif (Gysbers & Henderson, 2012). Fakta dilapangan masih memperhatinkan. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan, BK di sekolah menengah kerap terbentur kendala struktural dan kultural. Sarana dan prasarana kurang, supervisi profesioanal lemah dan dukungan institusi pun tipis (Pratiwi, 2012; Rahman, 2019; Abdullah, 2021). Mayoritas studi juga cenderung membahas satu daerah saja, sehingga hasilnya sulit untuk digeneralisasi secara nasional (Sari, 2019; Setiawan, 2020). Ditambah lagi, belum ada review menyeluruh yang mengupas masalah ini dalam satu dekade terakhir. A R T I C L E I N F O Article history: Received November 05, 2025 Revised 10 November 2025 Accepted 25 November 2025 Available online 06 December 2025 Kata Kunci: manajemen BK, kendala, faktor pendukung, SLR Keywords: guidance counseling management, constraints, supporting factors, SLR This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2023 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 176-179 Socius E-ISSN: 3025-6704 Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini berfokus pada tiga hal: (a) mengidentifikasi kendala manajemen BK, (b) menelusuri faktor pendukung yang nyata, dan (c) memetakan tren serta kekosongan riset di bidang manajemen BK tingkat sekolah menengah di Indonesia. METODE Peneliti mengambil pendekatan Systematic Literature Review sesuai PRISMA 2020 (Page et al., 2021). Sumber data datang dari Google Scholar, Garuda, Neliti, dan repositori kampus negeri maupun swasta. Kata kunci yang digunakan di antaranya “manajemen bimbingan konseling”, “pengelolaan BK”, “supervisi BK”, dan “program BK sekolah menengah”. Artikel terpilih harus (1) terbit pada 2010–2025, (2) membahas aspek manajemen BK, dan (3) berbasis di sekolah menengah. Publikasi yang bersifat opini atau non-empiris langsung dikeluarkan dari daftar. Hanya 14 artikel yang lolos seleksi akhir. Keterbatasan utamanya: belum dilakukan penilaian kualitas (quality appraisal) terhadap artikel yang masuk. HASIL Tinjauan dari berbagai artikel yang digunakan dalam penelitian ini benar-benar memperlihatkan sejumlah masalah yang terus berulang di lapangan. Pertama, beban kerja guru BK. Rahman (2019) dan Nugroho (2016) sama-sama menyoroti betapa seringnya guru BK terjebak dalam urusan administratif dan tugas-tugas non-BK. Akhirnya, fungsi inti konseling jadi terabaikan. Ini jelas menunjukkan adanya role ambiguity dan role conflict—peran yang tumpang tindih dan tidak jelas. Kedua, soal sarana yang minim. Hermawan (2022) tegas mengatakan, infrastruktur BK masih jauh dari standar minimal Permendikbud. Masalahnya tidak cuma fasilitas yang kurang, tapi juga kebijakan dan struktur di sekolah yang belum mendukung BK sepenuhnya. Ketiga, supervisi yang lemah. Yusuf (2023) mengkritik, supervisi BK di sekolah-sekolah kebanyakan hanya sebatas administrasi dan jarang sekali melibatkan tenaga ahli konseling. Akibatnya, pembinaan profesional hampir tidak pernah terjadi. Keempat, dukungan sekolah yang rendah. Abdullah (2021) menekankan, kebijakan sekolah benar-benar memegang peran sentral dalam menentukan kualitas dan kelancaran program BK. Kalau sekolah tidak mendukung, program BK pasti berjalan seadanya, asal ada. Kelima, administrasi yang berat. Utami (2019) menunjukkan, administrasi layanan di banyak sekolah lebih banyak dibuat demi laporan, bukan untuk monitoring mutu. Guru BK pun merasa terbebani dengan tugas tambahan yang sebenarnya tidak berdampak pada kualitas layanan. Jadi, masalah-masalah ini bukan sekadar soal teknis. Akar persoalannya menyentuh struktur organisasi sekolah itu sendiri. Selain masalah utama, ada beberapa faktor yang ikut menentukan jalannya manajemen BK di sekolah. Pertama, posisi kepala sekolah sebagai pengambil keputusan utama. Lubis (2022) dan Abdullah (2021) sepakat, tanpa dukungan administratif dan kebijakan dari kepala sekolah, mustahil BK berjalan optimal. Kepala sekolah yang menentukan arah, prioritas, dan alokasi anggaran. Ini juga sejalan dengan literatur internasional yang menempatkan principal leadership sebagai faktor kunci implementasi. Kedua, pelatihan konselor. Pratiwi (2012) dan Mulyadi (2017) menemukan bahwa pelatihan memang meningkatkan kompetensi konselor, tapi jarang sekali pelatihan itu menyentuh aspek manajerial. Padahal, guru BK tidak cukup hanya punya skill konseling; mereka juga wajib paham manajemen layanan. Ketiga, kolaborasi di lingkungan sekolah. Setiawan (2020) dan Irawan (2022) memperlihatkan, manajemen BK jauh lebih efektif ketika wali kelas, guru mata pelajaran, dan
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 176-179 Suci, et., al / Kendala dan Faktor Pendukung orang tua ikut terlibat. Kolaborasi ini bikin layanan BK jadi lebih relevan dan benar-benar menjawab kebutuhan siswa. Tren Penelitian Selama ini, penelitian soal manajemen BK masih berkutat di pendekatan kualitatif deskriptif dan studi kasus. Topik seperti supervisi klinis, pemanfaatan teknologi dalam manajemen BK, atau evaluasi dampak layanan ke pencapaian siswa jarang disentuh (Sari, 2019; Yusuf, 2023). PEMBAHASAN Di sekolah, manajemen BK biasanya lebih dipengaruhi struktur dan kebijakan institusi, bukan keterampilan konselor. Masalah seperti beban kerja yang berat, supervisi yang lemah, dan minimnya dukungan kebijakan jadi tanda kalau implementasi Permendikbud No. 111/2014 masih jauh dari kata optimal. Fondasi manajemen BK menurut Gysbers & Henderson (2012) juga masih goyah. Kepala sekolah memang punya peran besar, tapi penelitian yang ada masih sebatas deskriptif. Hubungan sebab-akibatnya belum jelas secara empiris (Lubis, 2022; Abdullah, 2021). Sementara itu, pelatihan guru BK kebanyakan masih fokus ke hal teknis saja, belum menyentuh manajemen secara utuh (Pratiwi, 2012). Akibatnya, layanan BK belum bisa berjalan sebagai sistem yang benar-benar komprehensif. Keterbatasan Penelitian ini lebih banyak mengambil sumber dari nasional dan belum melakukan penilaian kualitas metodologis artikel, jadi hasilnya perlu digeneralisasi dengan hati-hati. SIMPULAN Manajemen BK di sekolah menengah Indonesia masih terhambat soal struktur, teknis, dan budaya seperti beban kerja berlebihan, fasilitas kurang memadai, dan supervisi yang lemah. Faktor yang paling berpengaruh untuk perbaikan ada di kepemimpinan kepala sekolah, pelatihan guru BK, dan kolaborasi di lingkungan sekolah. Ke depan, penelitian perlu bergerak ke pendekatan kuantitatif, longitudinal, dan mulai melibatkan teknologi dalam manajemen BK. REKOMENDASI a. Sekolah sebaiknya mengurangi tugas di luar bidang bimbingan konseling untuk guru BK. Anggarkan dana khusus supaya program BK bisa berjalan maksimal, dan pastikan ada supervisi rutin dari supervisor BK yang benar-benar kompeten. b. Dinas Pendidikan perlu menjaga rasio guru BK tetap sesuai standar, yaitu 1 guru untuk 150 siswa. Lakukan juga pelatihan manajerial secara berkala supaya kompetensi guru BK terus berkembang. c. Penelitian berikutnya sebaiknya menggunakan studi kuantitatif untuk mengukur pengaruh manajemen BK ke prestasi dan kesejahteraan siswa. Kembangkan juga model supervisi berbasis teknologi dan evaluasi sejauh mana Kurikulum Merdeka sudah berhasil diterapkan di program BK. REFERENSI Pratiwi, E. (2012). Faktor-faktor yang mempengaruhi keterlaksanaan evaluasi program bimbingan dan konseling. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 4(2), 100-115. Aditya, R. (2015). Analisis manajemen bimbingan konseling dalam peningkatan prestasi belajar siswa. Jurnal Manajemen Pendidikan, 5(1), 120-135.
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 176-179 Socius E-ISSN: 3025-6704 Nugroho, T. (2016). Analisis faktor penghambat kinerja guru BK SMA. Jurnal Pendidikan, 11(4), 180-195. Mulyadi, S. (2017). Pengelolaan program bimbingan dan konseling di SMA. Jurnal Konseling, 9(3), 220-235. Rahman, A. (2019). Manajemen program BK di SMK. Jurnal Vokasi, 14(1), 50-65. Sari, N. (2019). Evaluasi program BK: Studi pustaka. Jurnal Konseling Indonesia, 5(3), 140-155. Utami, R. (2019). Evaluasi layanan konseling individual di SMA. Jurnal Psikologi Pendidikan, 6(4), 210-225. Setiawan, B. (2020). Pengembangan program BK karir SMK. Jurnal Pendidikan Karir, 10(2), 160175. Abdullah, S. (2021). Manajemen BK di sekolah. Jurnal Pendidikan, 10(2), 45-60. Hermawan, H. (2022). Pelayanan sarana prasarana dan manajemen BK. Edu Society, 6(3), 200215. Irawan, A. (2022). Manajemen BK untuk minat karir siswa SMA. Jurnal Pendidikan Vokasi, 12(4), 300-320. Kurniawan, D. (2022). Analisis kebutuhan manajemen BK SMKN. Jurnal Bimbingan Konseling, 8(2), 150-165. Lubis, F. (2022). Peran manajemen BK terhadap keberhasilan belajar. Jurnal Pendidikan Islam, 7(1), 80-95. Yusuf, M. (2023). Supervisi dalam bimbingan dan konseling. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 8(1), 30-45. Gysbers, N. C., & Henderson, P. (2012). Developing and managing your school guidance and counseling program (5th ed.). American Counseling Association. Page, M. J., et al. (2021). The PRISMA 2020 statement. BMJ, 372:n71. Permendikbud No. 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Menengah.