Generation Z's Perception of the Relevance of Pancasila in the Digital Era
Full text
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Persepsi Generasi Z (Dhea Isfani, et., al) | 102-104 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 11, December 2025, P. 102-104 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17852399 Persepsi Generasi Z Terhadap Relevansi Pancasila di Era Digital Generation Z’s Perception of the Relevance of Pancasila in the Digital Era Dhea Isfani Putri AP Lubis 1, Ela Sari Br Ginting 2, Nilam Artika Sari 3, Nurul Khairunisa 4, Rosela Hartati Harefa 5, Anugrah Setiawan 6 1-6Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Medan, Medan, Indonesia *email: [email protected] Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana generasi Z memandang pentingnya Pancasila sebagai dasar negara di zaman digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan data melalui wawancara mendalam kepada lima orang dari kelompok generasi Z. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi Z menganggap Pancasila sebagai pedoman moral dan dasar dalam hidup bermasyarakat, meskipun makna yang mereka pahami berbeda-beda dan tidak selalu dijalankan dalam dunia digital. Namun, semua responden setuju bahwa Pancasila tetap relevan sebagai pedoman etika, terutama dalam menghadapi isu seperti berita palsu, ucapan yang menyesatkan, dan perpecahan di media sosial. Tantangan besar yang dihadapi generasi Z adalah banyaknya informasi digital dan pengaruh budaya global yang bisa mengubah cara mereka memahami nilai-nilai kebangsaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa untuk menginternalisasi Pancasila, perlu dilakukan dengan cara yang lebih kreatif, sesuai dengan konteks, dan berdasarkan pengalaman digital generasi Z. Kata Kunci: Generasi Z, Pancasila, Era Digital Abstract This study aims to explain how Generation Z views the importance of Pancasila as the foundation of the nation in the digital era. The study uses a qualitative method by collecting data through in-depth interviews with five individuals from the Generation Z group. The results show that Generation Z regards Pancasila as a moral guideline and a foundation for social life, although the meanings they understand vary and are not always practiced in the digital world. However, all respondents agree that Pancasila remains relevant as an ethical guide, especially in addressing issues such as fake news, misleading speech, and division on social media. A major challenge faced by Generation Z is the vast amount of digital information and the influence of global culture, which can alter their understanding of national values. The study concludes that to internalize Pancasila, it must be done in a more creative, contextual, and experience-based manner aligned with the digital lives of Generation Z. Keywords:Generation Z, Pancasila, Digital Era Article Info Received date: 25 November 2025 Revised date: 02 December 2025 Accepted date: 08 December 2025 PENDAHULUAN Kemajuan teknologi digital telah memunculkan cara pandang baru dalam kehidupan sosial masyarakat, termasuk dalam cara generasi Z melihat nilai dan identitas kebangsaan. Kecepatan akses informasi, pengaruh budaya global yang kuat, serta kebiasaan berinteraksi melalui platform digital menciptakan perubahan dalam proses penginternalisasian Pancasila sebagai fondasi negara. Walaupun Pancasila tetap menjadi prinsip dan basis normatif bagi bangsa Indonesia, era digital menghadirkan tantangan bagi generasi muda untuk memahami relevansi nilainilai tersebut di tengah budaya yang semakin mengarah pada individualisme dan kecepatan. Berbagai studi menunjukkan bahwa generasi Z memiliki sifat yang kritis, mudah beradaptasi, dan sangat tergantung pada teknologi, sehingga cara mereka mengenali nilai kebangsaan tidak selalu berjalan lancar. Sebagian dari mereka memahami Pancasila dalam arti konseptual, tetapi penerapan prinsip-prinsipnya masih sering tidak terlihat dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan digital yang luas. Saat media sosial menjadi platform
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Persepsi Generasi Z (Dhea Isfani, et., al) | 102-104 utama untuk berkomunikasi, nilai-nilai seperti toleransi, persatuan, dan kemanusiaan seringkali teruji oleh perpecahan pendapat, penyebaran informasi yang salah, serta perilaku yang agresif di dunia maya. Meskipun demikian, ada juga kecenderungan positif bahwa generasi Z telah berhasil mengimplementasikan nilai Pancasila dalam bentuk yang baru, seperti inisiatif donasi secara digital, kampanye sosial, dan ruang diskusi online yang bersifat inklusif. Fenomena ini mengindikasikan bahwa Pancasila belum kehilangan relevansinya, tetapi membutuhkan pendekatan serta penafsiran baru yang sesuai dengan konteks kehidupan generasi Z. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk memahami pandangan generasi Z mengenai relevansi Pancasila di era digital dengan pendekatan kualitatif yang menekankan pengalaman pribadi, narasi subjektif, dan pemaknaan nilai di dunia digital. METODE PENELITIAN Studi ini mengadopsi pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam yang menggunakan daftar pertanyaan seragam untuk lima partisipan dari generasi Z. Proses pemilihan partisipan dilakukan dengan metode purposive sampling, di mana individu yang terpilih memiliki keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan digital. Wawancara dilakukan dengan format semi-terstruktur, memberikan kesempatan bagi partisipan untuk berbagi pandangan dan pengalaman mereka tentang Pancasila. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis tematik, yang terdiri dari pengkodean respons, pengidentifikasian tema utama, pengelompokan sub-tema, dan interpretasi. Untuk memperkuat keabsahan data, triangulasi sumber diterapkan, yaitu dengan membandingkan respons antara partisipan untuk mengidentifikasi pola konsistensi. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemahaman Generasi Z terhadap Pancasila Seluruh responden menunjukkan pemahaman yang cukup kuat bahwa Pancasila merupakan dasar negara dan pedoman moral. Meskipun demikian, cara mereka mendeskripsikan Pancasila bersifat beragam. Sebagian menggunakan pendekatan formal menyebut Pancasila sebagai landasan negara dan identitas bangsa sementara sebagian lainnya memaknainya secara lebih personal, seperti “fondasi rumah” atau “kompas moral”. Hal ini menunjukkan bahwa generasi Z memahami Pancasila tidak sekadar sebagai konsep normatif melainkan sebagai nilai yang dapat dihubungkan dengan konteks kehidupan mereka. Variasi ini menunjukkan bahwa generasi Z melihat Pancasila tidak hanya sebagai teks normatif, tetapi sebagai nilai yang bisa dirasakan dan dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan pandangan (Muhamad et al., 2024) yang menyatakan bahwa makna pancasila sendiri merupakan ideologi terbuka yang berarti mampu mengikuti perkembangan zaman, dinamis, dan hasil konsensus masyarakat. Temuan penelitian ini turut menguatkan hal tersebut, karena para responden memaknai Pancasila sebagai nilai yang fleksibel dan dapat diterjemahkan ulang dalam berbagai situasi, termasuk dalam aktivitas mereka di media sosial. Relevansi Pancasila di Era Digital Hasil wawancara menunjukkan kesepakatan bahwa Pancasila tetap relevan di era digital, terutama sebagai pedoman menghadapi hoaks, ujaran kebencian, konflik opini, dan polarisasi. Nilai kemanusiaan, persatuan, dan musyawarah dianggap sangat dibutuhkan untuk menciptakan interaksi digital yang sehat. Responden seperti Jihan dan Bang Fitra melihat bahwa nilai Pancasila bahkan semakin diperlukan untuk menjaga harmoni dalam komunikasi digital yang penuh dinamika. Menurut (Nabil Fauzan et al., 2023) Pancasila dapat menjadi nalar Zaman Z dalam berpikir, bersikap dan bertindak, sehingga terciptanya kehidupan berbangsa dan bernegara yang rukun, tentram dan sejahtera. Pandangan ini menegaskan bahwa Pancasila tidak hanya berperan sebagai dasar normatif, tetapi juga sebagai kerangka berpikir yang mampu mengarahkan generasi muda dalm menghadapi dinamika sosial dan tantangan digital. Dalam konteks era digital, nalar tersebut menjadi semakin penting ketika ruang virtual dipenuhi oleh arus informasi cepat yang berpotensi menimbulkan polarisasi dan konflik nilai. Namun agar peran tersebut berjalan efektif , generasi Z perlu mrmiliki iterasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta lingkungan sosial yang mendukung internalisasi nilai-nilai Pancasila.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Persepsi Generasi Z (Dhea Isfani, et., al) | 102-104 Tantangan Generasi Z dalam Menginternalisasi Pancasila Tantangan terbesar yang dirasakan oleh responden meliputi derasnya arus informasi yang tidak tersaring, pengaruh budaya global, echo chamber media sosial, dan budaya serba cepat (instan). Media sosial menciptakan ruang baru yang tidak selalu selaras dengan nilai luhur kebangsaan. Hal ini membuat penerapan nilai Pancasila dalam kehidupan digital menjadi tidak mudah, meskipun pemahaman mereka terhadap nilai tersebut masih relatif baik. Ini sejalan dengan pendapat (Mas’ud and Istianah, 2025) yang menyatakan bahwa Pancasila tidak hanya relevan sebagai ideologi negara, tetapi juga sebagai kerangka etika publik virtual yang membimbing perilaku warga digital agar tetap menjunjung nilai kemanusiaan, toleransi, dan tanggung jawab sosial. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa generasi Z sebenarnya menyadari kebutuhan tersebut, terutama menyikapi dinamika media sosial yang cepat dan kompleks. Penerapan dan Pengabaian Nilai Pancasila di Ruang Digital Penerapan nilai Pancasila dalam dunia digital dapat dilihat dari berbagai praktik positif seperti donasi online, dukungan sosial, dan diskusi konstruktif. Namun, responden juga menyaksikan bentuk pengabaian nilai seperti cyberbullying, hate speech, dan penyebaran informasi palsu. Kesenjangan antara pemahaman dan praktik ini menunjukkan bahwa internalisasi Pancasila masih membutuhkan dukungan lingkungan, teladan, serta literasi digital yang kuadan. Kesenjangan antara pemahaman an praktik memperlihatkan bahwa internalisasi nilai Pancasila memerlukan : lingkungan digital yang mendukung, teladan dari tokoh publik, serta literasi digital yang kuat agar generasi muda dapat memilah informasi dan bersikap bijak. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa generasi Z masih memandang Pancasila sebagai nilai yang penting dan relevan, namun pemaknaannya sering kali tidak sejalan dengan praktik di dunia digital. Tantangan era digital seperti arus informasi yang cepat, budaya global, dan polarisasi media sosial membuat penerapan nilai Pancasila tidak selalu mudah. Meski demikian, terdapat kecenderungan positif bahwa generasi Z mampu mengaktualisasikan nilai Pancasila melalui cara-cara baru yang lebih kreatif dan sesuai dengan perkembangan zaman. REFERENSI F. Mas’ud and A. Istianah, “Ekosistem Digital Dan Narasi Kebangsaan: Relevansi Pancasila Sebagai Penuntun Etika Publik Virtual,” Haumeni J. Educ., vol. 5, no. 1, pp. 18–26, 2025, doi: 10.35508/haumeni.v5i1.21505. M. Nabil Fauzan, R. Renaldy, Y. Amalia, and N. Putri, “Relevansi Pancasila Dilkangan Generasi Z,” Adv. Soc. Humanit. Res., vol. 1, no. 4, pp. 310–311, 2023. Muhamad, A., Nasoha, M., Nur Atqiya, A., Pratiwi, D.I., Putri, S.R., Naim, S.A., Pusat, D., Konstitusi, S., Islam, H., Surakarta, U., 2024. J. Huk. Indones. 1, 68–84.