scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Relevansi Pancasila sebagai Ideologi Terbuka terhadap Fenomena Hedonisme Generasi Z di Ruang Digital

Syuratty Astuti Rahayu Manalu, Elsa Simanjuntak, Debora Gultom, Hariaty Manurung, Norlyn Pakpahan, Talenta N. D. Simatupang

Full text

2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Relevansi Pancasila sebagai Ideologi (Syuratty, et., al) | 157-164 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 11, December 2025, P. 157-164 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17865157 Relevansi Pancasila sebagai Ideologi Terbuka terhadap Fenomena Hedonisme Generasi Z di Ruang Digital Syuratty Astuti Rahayu Manalu 1 Elsa Simanjuntak 2 Debora Gultom3 Hariaty Manurung 4 Norlyn Pakpahan5 Talenta N. D. Simatupang6 Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Medan, Medan, 20221, Indonesia Email: [email protected] elsasimanjun[email protected]2 deborag[email protected]m3 hariatym[email protected]4 [email protected], talentasimatup[email protected]6 Abstrak Kemajuan teknologi digital dan platform media sosial telah menciptakan cara baru berinteraksi dalam masyarakat, khususnya pada generasi Z yang lahir serta dibesarkan selama era digital. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai tempat untuk membangun citra diri, bersaing dalam popularitas, dan mendapatkan pengakuan sosial. Munculnya hedonisme digital terlihat melalui budaya pamer, konsumsi berlebihan, dan keinginan untuk mendapatkan eksposur publik melalui konten yang viral. Artikel ini mengeksplorasi pentingnya Pancasila sebagai ideologi yang fleksibel untuk mengatasi fenomena ini dengan mengaitkan beberapa contoh nyata, seperti remaja yang meminjam barang mahal untuk konten, influencer muda yang menampilkan saldo bank dan uang tunai, persaingan pamer di antara kreator digital, serta konten prank yang merugikan orang lain. Contoh-contoh ini menggambarkan adanya penurunan moral dan penyimpangan dari nilainilai Pancasila, mulai dari krisis spiritual hingga hilangnya rasa empati di masyarakat. Penelitian ini menggarisbawahi bahwa pemulihan nilai-nilai Pancasila sangat diperlukan untuk membentuk karakter generasi Z agar tidak terjerumus dalam penurunan moral di era digital. Pemulihan ini dapat dilakukan melalui pendidikan karakter yang berlandaskan Pancasila, literasi digital yang kritis, peran keluarga, regulasi pemerintah, serta penguatan norma etika publik. Dengan demikian, Pancasila tetap relevan sebagai panduan moral dan ideologi yang dapat mengatasi tantangan globalisasi dan budaya instan. Kata kunci: Pancasila, generasi Z, media sosial, hedonisme, ideologi terbuka, pamer digital, literasi etis Abstract Advances in digital technology and social media platforms have created new ways of interacting in society, especially among Generation Z, who were born and raised during the digital era. Social media not only functions as a communication tool, but also as a place to build self-image, compete for popularity, and gain social recognition. The emergence of digital hedonism can be seen through a culture of showing off, excessive consumption, and the desire to gain public exposure through viral content. This article explores the importance of Pancasila as a flexible ideology to overcome this phenomenon by linking several real examples, such as teenagers borrowing expensive items for content, young influencers displaying bank balances and cash, competition among digital creators, and prank content that harms others. These examples illustrate a decline in morals and a deviation from Pancasila values, ranging from a spiritual crisis to a loss of empathy in society. This study emphasizes that restoring Pancasila values is essential to shaping the character of Generation Z so that they do not fall into moral decline in the digital age. This recovery can be achieved through character education based on Pancasila, critical digital literacy, the role of the family, government regulations, and the strengthening of public ethical norms. Thus, Pancasila remains relevant as a moral and ideological guide that can overcome the challenges of globalization and instant culture. Keywords: Pancasila, Generation Z, social media, hedonism, open ideology, digital showing off, ethical literacy Article Info Received date: 25 November 2025 Revised date: 02 December 2025 Accepted date: 08 December 2025 PENDAHULUAN Generasi Z, yang lahir antara pertengahan dekade 1990 hingga awal 2010, adalah kelompok yang besar dalam dunia digital dengan akses cepat terhadap berbagai informasi, hiburan, serta interaksi sosial. Mereka adalah penduduk asli digital yang sejak kecil telah akrab dengan perangkat, internet, dan media sosial. Hal ini menyebabkan generasi Z memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan generasi 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Relevansi Pancasila sebagai Ideologi (Syuratty, et., al) | 157-164 sebelumnya, seperti kecepatan dalam mendapatkan informasi, kecenderungan untuk melakukan banyak tugas secara bersamaan, serta fokus pada visual dan interaksi. Bagi generasi ini, media sosial bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga ruang untuk mengekspresikan diri, membangun citra, dan bersaing dalam hal popularitas. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube menjadi tempat di mana mereka membentuk dan mempresentasikan identitas kepada masyarakat. Ukuran popularitas diukur melalui jumlah suka, komentar, pengikut, dan tingkat keterlibatan. Tekanan sosial yang dihasilkan di dunia digital ini memunculkan fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yang merupakan ketakutan untuk tertinggal dari tren atau tidak mendapatkan pengakuan di komunitas digital. Akibatnya, banyak remaja dan mahasiswa yang berusaha menunjukkan gaya hidup mewah, meskipun tidak sesuai dengan keadaan ekonomi mereka yang sebenarnya. Fenomena hedonisme digital semakin meluas, ditandai oleh budaya pamer, konsumsi berlebihan, dan pencarian pengakuan publik melalui konten yang viral. Contoh nyata di Indonesia menunjukkan remaja yang menyewa mobil sport, meminjam tas bermerek, atau memakai jam tangan mahal untuk konten; influencer muda yang mempertunjukkan saldo bank dan uang tunai; hingga konten prank yang merugikan orang lain. Fenomena ini menggambarkan adanya perubahan nilai moral, di mana popularitas di dunia digital lebih diutamakan dibandingkan integritas, empati, dan solidaritas sosial. Dari sudut pandang sosiologis, kejadian ini memperlihatkan terjadinya perubahan budaya dari yang dulunya mengutamakan kebersamaan menjadi lebih individual dalam dunia digital. Generasi Z sepertinya lebih fokus pada keberhasilan diri sendiri dan bagaimana mereka dilihat oleh orang lain, sementara nilai-nilai seperti gotong royong dan persatuan sosial jadi kurang penting. Ini bisa menyebabkan masyarakat terpecah-pecah, timbul rasa iri karena masalah ekonomi, dan kebingungan tentang siapa diri mereka sebenarnya. Dalam hal kebangsaan, kejadian ini menjadi masalah besar bagi Indonesia yang menjadikan Pancasila sebagai landasan negara dan pandangan hidup bangsa. Pancasila sebagai pandangan hidup yang terbuka memiliki nilai-nilai dasar yang tidak berubah, tetapi bisa disesuaikan dengan perkembangan zaman. Seharusnya, nilai-nilai Pancasila menjadi panduan moral yang bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan global, termasuk budaya digital. Akan tetapi, kuatnya pengaruh gaya hidup materialistis dan serba cepat membuat kita perlu menghidupkan kembali nilainilai Pancasila agar generasi Z tidak kehilangan pedoman moral dan identitas bangsa. Pancasila bukan hanya sekadar pandangan hidup politik, tetapi juga sebagai pedoman etika sosial yang menekankan pentingnya spiritualitas, kemanusiaan, persatuan, kebijaksanaan, dan keadilan sosial. Dalam menghadapi gaya hidup digital yang serba senang-senang, Pancasila bisa menjadi penyaring moral untuk menyeimbangkan antara kebebasan berekspresi di media sosial dengan tanggung jawab terhadap masyarakat dan spiritualitas. Oleh sebab itu, riset ini sangat penting untuk meneliti apakah Pancasila masih relevan sebagai pandangan hidup yang terbuka dalam menanggapi gaya hidup digital yang serba senang-senang pada generasi Z. Dengan mempelajari berbagai contoh nyata yang terjadi di Indonesia, tulisan ini berusaha menunjukkan bagaimana nilai-nilai Pancasila bisa diterapkan kembali dalam kehidupan anak muda. Tujuannya adalah untuk membentuk karakter generasi Z yang tidak hanya pintar dalam hal digital, tetapi juga jujur, punya rasa peduli, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi. TINJAUAN PUSTAKA 1. Pancasila sebagai Ideologi Terbuka Keistimewaan Pancasila sebagai landasan ideologi bangsa Indonesia terletak pada sifatnya yang fleksibel dan reseptif, berbeda dengan ideologi yang kaku dan terpaku. Prinsip-prinsip inti Pancasila, Kepercayaan kepada Tuhan, Menjunjung Tinggi Kemanusiaan, Solidaritas Kebangsaan, 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Relevansi Pancasila sebagai Ideologi (Syuratty, et., al) | 157-164 Demokrasi yang Bijaksana, dan Keadilan bagi Semua memiliki aplikasi yang luas, memungkinkan penerapan dalam beragam aspek kehidupan, termasuk di era teknologi digital ini. Sebagai sebuah ideologi yang inklusif, Pancasila tidak terbatas sebagai kerangka kerja politik, tetapi juga sebagai kompas untuk perilaku sosial dan moral. Implikasinya adalah Pancasila memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa mengorbankan intisari nilai-nilai fundamentalnya. Dalam merespons tren gaya hidup hedonis yang didorong oleh teknologi digital, Pancasila dapat berperan sebagai alat penyaring moral yang menyeimbangkan antara kebebasan berekspresi dan kewajiban kepada masyarakat. Sebagai contoh, prinsip Ketuhanan menggarisbawahi pentingnya dimensi spiritual di tengah konsumerisme yang merajalela, sedangkan prinsip Kemanusiaan menekankan pentingnya merasakan apa yang orang lain rasakan dan menghargai harga diri setiap individu di tengah budaya pamer dan lelucon yang kadang tidak etis. Dengan karakternya yang adaptif, Pancasila bisa diinterpretasi ulang selaras dengan keperluan generasi Z. Perihal ini esensial karena generasi Z berhadapan dengan perkara yang tidak sama dari generasi terdahulu, yakni efek kuat globalisasi, gaya hidup serba cepat, serta desakan sosial dunia maya. 2. Hedonisme dalam Sudut Pandang Filsafat dan Sosiologi Dalam filsafat zaman dahulu, hedonisme bermula dari gagasan Epicurus yang menandaskan bahwa kebahagiaan hakiki didapatkan melalui kenikmatan yang masuk akal serta terkendali. Akan tetapi, dalam perkembangan kini, hedonisme kerap berubah menjadi pengejaran kepuasan sesaat dan kebendaan. Dalam sudut pandang sosiologi, hedonisme dunia maya tampil sebagai wujud tindakan konsumtif yang diperlihatkan lewat platform media sosial. Gaya hidup pamer, perilaku konsumtif, serta perburuan pengakuan masyarakat menjadi penanda status sosial yang baru. Kejadian ini memperlihatkan adanya pergeseran nilai dari kebersamaan menjadi kepentingan diri sendiri, di mana hasil pribadi lebih diprioritaskan ketimbang persatuan sosial. Hedonisme dunia maya pun mempertegas tingkatan sosial. Orang-orang yang sanggup mempertontonkan harta kekayaan dianggap lebih terpandang dibanding yang tidak. Hal seperti ini mengakibatkan iri hati sosial, masalah jati diri, bahkan pertikaian antar kelompok. Dalam konteks Indonesia, kejadian ini berpotensi menggerogoti nilai kerja sama serta kesetiakawanan yang menjadi keunikan budaya bangsa. 3. Media Sosial dan Gaya Hidup Pengakuan Platform media sosial berperan sebagai tempat berhubungan sekaligus area menampilkan diri. Keterkenalan dinilai dari jumlah suka, tanggapan, banyaknya pengikut, serta interaksi. Hal ini mewujudkan gaya hidup pengakuan, yang mana seseorang merasa nilai dirinya ditentukan oleh penerimaan orang banyak. Budaya validasi daring menciptakan fenomena Ketakutan Akan Tertinggal (KAT), yaitu kekhawatiran untuk tidak mengikuti tren atau tidak diakui dalam komunitas online. Generasi Z, yang sangat terhubung dengan dunia media sosial, cenderung mengikuti tren tanpa mempertimbangkan aspek etis demi menghindari perasaan terasing. Hal ini menyebabkan munculnya perilaku impulsif, seperti menunjukkan barang-barang mewah, menciptakan konten ekstrem, atau melakukan prank berbahaya untuk mendapatkan viralitas. Budaya validasi tersebut juga berpengaruh buruk pada kesehatan mental. Banyak anak muda mengalami stres, kecemasan, dan rasa inferior akibat perbandingan sosial yang terjadi di media. Ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya berdampak pada interaksi sosial, tetapi juga kondisi mental generasi Z. 4. Psikologi Generasi Z di Era Digital Generasi Z memiliki ciri psikologis yang khas karena dibesarkan dalam dunia digital yang sangat cepat. Mereka sudah terbiasa dengan multitasking, visual, dan interaksi yang segera. Namun, sifat-sifat ini juga membawa tantangan mental. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Relevansi Pancasila sebagai Ideologi (Syuratty, et., al) | 157-164 Pertama, ada kecenderungan narsisme digital, yaitu keinginan untuk menunjukkan diri secara berlebihan di platform media sosial. Kedua, krisis identitas, di mana generasi Z sering menentukan siapa mereka berdasarkan pengakuan orang lain. Ketiga, tekanan sosial dalam dunia digital, di mana remaja merasa harga diri mereka tergantung pada banyaknya pengikut atau popularitas konten yang mereka buat. Fenomena ini menimbulkan berbagai dampak psikologis yang serius, seperti stres, kecemasan, bahkan depresi. Oleh karena itu, generasi Z memerlukan panduan moral yang kuat untuk menghindari kehampaan nilai. Pancasila bisa dijadikan dasar psikologis untuk membangun integritas, empati, dan solidaritas sosial. 5. Relevansi Global Fenomena Hedonisme Digital Fenomena hedonisme digital tidak hanya terbatas di Indonesia, tetapi juga meluas di berbagai belahan dunia. Budaya pamer kekayaan, konsumsi yang berlebihan, dan kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dari publik adalah isu-isu global yang muncul sebagai dampak dari kemajuan media sosial. Di Amerika Serikat, tren "tantangan uang" menggambarkan budaya untuk menunjukkan jumlah uang tunai. Sementara itu, di Eropa, konten yang menggambarkan "gaya hidup mewah" telah menjadi lambang status sosial. Di Asia, fenomena "budaya prank" sering kali kontroversial karena dampaknya yang merugikan orang lain. Semua fenomena ini menunjukkan bahwa hedonisme digital adalah isu yang bersifat lintas budaya akibat dari proses globalisasi dan digitalisasi yang cepat. Namun, Indonesia memiliki ciri khas tersendiri dengan adanya Pancasila sebagai ideologi yang terbuka dan bisa menjadi panduan moral. Dengan meresapkan nilai-nilai Pancasila, Indonesia mampu menawarkan solusi yang khas terhadap isu global ini sekaligus menggali identitas bangsa di tengah derasnya arus globalisasi. METODE PENELITIAN Studi ini menerapkan pendekatan kualitatif yang melibatkan analisis langsung terhadap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, khususnya di daerah Pancing, William Iskandar, Medan, Sumatera Utara. Pendekatan ini diambil karena penelitian berfokus pada observasi dan pencatatan fenomena nyata dalam kehidupan sehari-hari anak muda di area tersebut, tanpa melibatkan wawancara formal. Dengan cara ini, peneliti dapat menangkap dinamika sosial secara alami, sehingga gambaran mengenai perilaku hedonisme digital di kalangan Generasi Z diperoleh secara autentik sesuai dengan konteks lokal. Hasil analisis menunjukkan bahwa fenomena hedonisme digital di kawasan Pancing, William Iskandar sangat terlihat, terutama di antara mahasiswa dan pelajar yang aktif dalam penggunaan media sosial. Banyak dari mereka menjadikan media sosial sebagai wadah utama untuk mengekspresikan diri, membangun citra, dan mencari pengakuan dari publik. Fenomena flexing yang berupa pamer barang mewah, saldo rekening, serta gaya hidup glamor tampak jelas dalam postingan konten yang beredar di dunia digital mereka. Selain itu, tindakan prank yang merugikan orang lain juga muncul sebagai upaya untuk mencari sensasi demi meraih popularitas, meski seringkali memberikan dampak negatif bagi korban maupun masyarakat di sekitarnya. Analisis di lapangan menunjukkan bahwa perilaku ini tidak hanya terjadi di dunia maya, tetapi juga memengaruhi interaksi sosial di kehidupan nyata. Contohnya, mahasiswa yang biasa menunjukkan citra glamor di media sosial cenderung membawa pola konsumtif itu ke keseharian, seperti berusaha untuk berkumpul di kafe mahal atau menggunakan barang bermerek demi mempertahankan citra digital mereka. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang erat antara budaya digital dan pola hidup nyata generasi muda di wilayah Pancing. Fenomena ini kemudian dihubungkan dengan nilai-nilai Pancasila. Diketahui bahwa perilaku hedonisme digital sering bertentangan dengan prinsip-prinsip Pancasila, seperti mengesampingkan nilai spiritualitas (Sila 1), merendahkan martabat orang lain melalui prank atau bullying (Sila 2), 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Relevansi Pancasila sebagai Ideologi (Syuratty, et., al) | 157-164 memperlebar kesenjangan sosial dan memicu kecemburuan (Sila 3), membuat keputusan yang impulsif tanpa pertimbangan yang baik (Sila 4), serta menunjukkan ketidakpekaan terhadap ketimpangan sosial (Sila 5). Oleh karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya revitalisasi nilai Pancasila untuk membentuk karakter generasi muda di kawasan Pancing agar lebih berintegritas, berempati, dan peka terhadap kondisi sosial di sekitar mereka. HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian ini mendalami fenomena hedonisme digital yang terjadi di kalangan Generasi Z dengan menganalisis dinamika platform, mekanisme psikososial, pola kejadian di Indonesia, dampak sosial dan budaya, serta penawaran solusi yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Tujuannya adalah mengaitkan praktik-praktik yang nyata (flexing, meminjam barang mewah, prank yang merugikan, dan bullying di dunia maya) dengan struktur ekosistem media sosial serta nilai dan konsekuensinya. 1. Ekosistem platform dan insentif algoritmik a. Logika distribusi konten: Konten yang mengandung emosi kuat (keterkejutan, kecemburuan, kekaguman) cenderung didorong oleh algoritma karena dapat meningkatkan durasi tontonan dan interaksi. Hal ini menjadikan tema kemewahan, tantangan ekstrem, dan drama sosial lebih jelas terlihat dibandingkan dengan konten edukasi yang lebih tenang. b. Penghargaan metrik sukses: Like, tayangan, dan follower berfungsi sebagai alat pengukur status. Saat metrik ini menjadi sasaran, strategi konten beralih dari nilai-nilai ke sensasi yang mendorong flexing, prank, dan “kompetisi nilai” antar kreator. c. Efek umpan balik sosial: Komentar dapat memicu eskalasi (komentar negatif melahirkan konten pembelaan atau reaksi yang lebih ekstrem). Akhirnya, terbangunlah siklus “viral untuk viral” yang memperkuat hedonisme sebagai norma di dalam komunitas. d. Normalisasi tren dan imitasi: Fitur seperti remix/duet/repost mempercepat pengulangan perilaku. Teman sebaya yang meniru pola sukses ikut berkontribusi dalam menetapkan standar kemewahan sebagai ukuran kedewasaan di dunia digital. 2. Mekanisme psikososial yang mendorong hedonisme a. Perbandingan sosial visual: Paparan yang konsisten terhadap gambar “gaya hidup mewah” menciptakan standar yang menipu mengenai kebahagiaan. Perbandingan ke atas (upward comparison) menciptakan keinginan untuk meniru, sering kali melampaui batas kemampuan finansial. b. Validasi eksternal sebagai identitas: “Aku = angka keterlibatan. “ Ketergantungan pada penilaian publik mengikis kompas moral internal, menjadikan reputasi digital lebih penting daripada integritas pribadi. c. FOMO dan impulsivitas: Ketakutan untuk ketinggalan tren mendorong pengambilan keputusan yang terburu-buru tanpa pertimbangan etis, seperti melakukan prank berisiko akibat popularitas sebuah tantangan. d. Penguatan kelompok sebaya: Lingkaran pertemanan para kreator mendorong “standar produksi” tertentu: lokasi mahal, pakaian bermerek, dan narasi dramatis. Tekanan untuk menjadi “setara” menghasilkan perilaku yang memaksa (meminjam barang, menyewa secara temporer, atau berpura-pura). 3. Peta kasus dan pola perilaku di Indonesia A. Kasus meminjam barang mewah untuk membuat konten a. Motif: Meningkatkan status, mempercepat pertumbuhan akun. b. Pola: Menggunakan mobil sport sewaan, tas merek yang dipinjam, jam tangan tiruan; dipresentasikan seolah-olah kepemilikan pribadi. c. Konsekuensi: Penipuan simbolik, tekanan finansial, dan normalisasi kebohongan sebagai taktik branding. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Relevansi Pancasila sebagai Ideologi (Syuratty, et., al) | 157-164 B. Kasus flexing saldo bank dan uang tunai a. Motif: Memperkuat status ekonomi, memonetisasi citra “sukses di usia muda. ” b. Pola: Tangkapan layar saldo, tumpukan uang tunai, unboxing barang mahal, tur “gaya hidup mewah. " c. Konsekuensi: Mendorong kecemburuan sosial, glorifikasi materi, dan mengurangi empati terhadap kelompok yang rentan. C. Kasus prank yang merugikan orang lain a. Motif: Kejutan, komedi ekstrem, mengejar viralitas dengan cepat. b. Pola: Prank terhadap pekerja informal (ojol, pedagang), penipuan layanan, atau prank yang membahayakan fisik. c. Konsekuensi: Kerugian ekonomi/emosional bagi korban, pelanggaran terhadap martabat manusia, serta potensi masalah hukum. D. Kasus persaingan popularitas dan bullying di dunia maya a. Motif: Dominasi simbolis, "drama perang" untuk menarik keterlibatan. b. Pola: Body shaming, penghinaan kelas sosial, doxxing atau pengungkapan. c. Konsekuensi: Trauma psikologis, polarisasi komunitas, serta budaya kekerasan simbolik di dunia digital. 4. Pemetaan pelanggaran terhadap nilai Pancasila A. Ketuhanan Yang Maha Esa • Pokok pelanggaran: Mengabaikan rasa syukur, integritas, serta kerendahan hati; ketenaran menggantikan kesadaran jiwa sebagai petunjuk moral. B. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab • Pokok pelanggaran: Memperlakukan manusia sebagai objek tontonan; hilangnya rasa empati dalam lelucon berbahaya/bullying. C. Persatuan Indonesia • Pokok pelanggaran: Menonjolkan status sosial memperlebar jarak simbolik kelas, menciptakan rasa cemburu dan sinisme; konflik antar kelompok merusak ikatan persaudaraan. D. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan • Pokok pelanggaran: Pengambilan keputusan secara impulsif yang didasarkan pada tren, bukan kebijaksanaan; hilangnya diskusi internal dan penilaian moral. E. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia • Pokok pelanggaran: Ketidakpekaan terhadap ketidakadilan sosial; glamorisasi konsumsi saat banyak masyarakat berj struggles secara finansial. 5. Dampak Sosial, Ekonomi dan Budaya ❖ Sosial • Normalisasi kepalsuan: Kejujuran dipandang “tidak menguntungkan,” integritas dikalahkan oleh sensasi. • Polarisasi masyarakat: “Kaya vs miskin,” “influencer vs rakyat,” memperdalam stereotip dan konflik simbolis. ❖ Ekonomi • Konsumtivisme dan hidup berutang: Pengeluaran tidak produktif demi citra; risiko finansial bagi remaja/mahasiswa. • Distorsi aspirasi karir: “Cepat kaya lewat viral” menggantikan etos kerja yang berkelanjutan. ❖ Budaya • Pergeseran nilai: Dari gotong royong ke persaingan status; dari kebijaksanaan ke kecepatan. • Erosi etika publik: Rasa empati melemah, martabat manusia dinegosiasikan demi konten. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Relevansi Pancasila sebagai Ideologi (Syuratty, et., al) | 157-164 Dalam menghadapi maraknya hedonisme digital di kalangan generasi muda, terutama Generasi Z, perlu adanya pendekatan menyeluruh yang melibatkan sejumlah pihak. Pembaruan nilai-nilai Pancasila harus diutamakan sebagai dasar untuk membentuk karakter generasi muda agar tidak terjerumus dalam budaya popularitas yang tidak nyata. Pendidikan karakter yang berlandaskan Pancasila di sekolah-sekolah dan universitas harus diperkuat, tidak sekadar dalam teori, tetapi juga dalam praktik melalui kegiatan literasi digital yang menekankan pentingnya kejujuran, empati, dan solidaritas. Ini akan membantu siswa dan mahasiswa tidak hanya memahami nilai Pancasila secara teoritis, tetapi juga mengimplementasikannya dalam kehidupan digital sehari-hari mereka. Selain itu, keluarga memiliki peranan yang krusial sebagai lingkungan pertama yang memengaruhi moral anak. Orang tua perlu berperan sebagai pendamping aktif saat anak menggunakan media sosial, bukan hanya sebagai pengawas. Perlu ada dialog terbuka mengenai kejujuran, kesederhanaan, dan tujuan hidup agar anak-anak tidak menjadikan popularitas di dunia digital sebagai satu-satunya tolok ukur harga diri mereka. Pola konsumsi yang baik juga harus diajarkan sejak dini, agar anak tidak mudah terpengaruh untuk mengadopsi gaya hidup yang mewah demi kepopuleran di media sosial. Pemerintah dan pembuat kebijakan harus turut hadir dengan regulasi yang jelas dan mendidik. Konten-konten yang berbahaya, seperti prank yang bisa membahayakan atau aksi flaunting yang menyesatkan, perlu dikelola dengan cara yang tidak hanya menegakkan sanksi, tetapi juga memberi pendidikan. Kampanye literasi digital yang berlandaskan Pancasila dapat dijadikan sebagai strategi nasional untuk menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, empati, dan solidaritas dalam ruang digital. Lebih jauh lagi, pemerintah dapat memberikan insentif kepada para kreator yang menghasilkan konten positif, guna menciptakan ekosistem digital yang lebih sehat dan berorientasi pada nilai-nilai yang baik. Komunitas kreator serta organisasi masyarakat memegang peranan penting dalam menciptakan budaya digital yang beretika. Pergerakan sosial yang mengedepankan nilai-nilai kesederhanaan, saling mendukung, dan kepedulian harus didorong sebagai respons terhadap budaya pamer dan gaya hidup konsumtif. Festival konten yang membawa nilai atau gerakan pengakuan bagi kreator yang jelas dan memberikan dampak positif bisa menjadi alternatif hiburan yang konstruktif. Dengan cara ini, masyarakat dapat memilih konten yang tidak hanya menghibur, tapi juga mendidik dan menguatkan nilai-nilai kebangsaan. SIMPULAN Tantangan serius muncul dari fenomena hedonisme digital dalam kalangan Generasi Z, yang mengancam moralitas, keutuhan sosial, dan identitas nasional. Budaya pamer, materialisme, tindakan prank yang merugikan, dan perundungan di dunia maya menunjukkan adanya penurunan nilai yang bertentangan dengan Pancasila. Ketidakenakan popularitas di media sosial sering kali menggeser nilai spiritual, rasa empati, kebijaksanaan, dan keadilan sosial sebagai pedoman hidup sehari-hari. Pancasila sebagai ideologi yang terbuka tetap penting dalam menghadapi tantangan tersebut. Nilai-nilainya bersifat fleksibel dan dapat diperbarui sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga berfungsi sebagai filter moral di tengah pengaruh globalisasi dan digitalisasi. Diperlukan revitalisasi Pancasila agar dapat membentuk karakter Generasi Z yang tidak hanya cakap dalam teknologi, tetapi juga memiliki integritas, empati, dan tingkat kesadaran sosial yang tinggi. Revitalisasi dapat dicapai melalui pendidikan karakter yang berlandaskan Pancasila di sekolah maupun kampus, penguatan literasi digital yang kritis, dukungan keluarga terhadap perkembangan anak, kebijakan pemerintah yang bersifat mendidik, serta inisiatif komunitas yang menekankan pentingnya nilai solidaritas. Para pembuat konten sebagai tokoh sentral dalam dunia digital juga perlu berperan aktif dengan mengalihkan fokus dari pencarian popularitas sementara menuju dampak sosial yang signifikan. Dengan demikian, Pancasila tidak sekadar menjadi dasar ideologi politik, tetapi juga berfungsi sebagai pedoman etika yang dapat merespons tantangan di era digital. Apabila nilai-nilai 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Relevansi Pancasila sebagai Ideologi (Syuratty, et., al) | 157-164 tersebut diterapkan secara konsisten, Pancasila berpeluang menjadi pertahanan etika bagi Generasi Z, mencegah mereka terjerembab dalam kemunduran nilai, serta memperkuat identitas bangsa di tengah diliuk-liuk globalisasi. REFERENSI Kaelan. (2016). Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma. Notonegoro. (2018). Filsafat Pancasila. Jakarta: Rineka Cipta. Haryanto. (2021). Dampak Media Sosial terhadap Perilaku Remaja. Jurnal Pendidikan Sosial, 14(2). Putri, N. (2023). Hedonisme dan Krisis Moral Generasi Digital. Jurnal Psikologi Remaja, 8(1). Suryadi. (2022). Budaya Flexing dan Krisis Identitas Remaja. Jurnal Komunikasi Digital.