scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Seni Lukis Young Artist: Belajar Seni Model Komunitas Desa

Karja, I Wayan

Abstract

Abstract Penestanan School, well-known as young artist style of painting. There are too many people researched about young artist, but almost none of them talked about learning system. This style of painting was born in 1960, a meeting of the Dutch-born painter Arie Smit with the teenagers in the rice fields of Subak Pacekan Penestanan, Ubud. Research question 1)Why the learning method of the young artist style important to be researched? 2)How is the process of learning education in young artist style 3)What is the implication of this research? This research is using qualitative research observation, interview, collecting data, data analysis and conclusion. The result of this research is young artist found learning by doing mentorship from the teacher. This meeting continued with Arie's initiative to provide materials and tools for painting to the teenages in order to freely paint according to their wishes. Arie believed that the most knowledgeable about the environment of rice fields and the surrounding village life are the Penestanan teenagers. The child's purity of mind, freedom, and motivation are the basis of the learning process of the teaching methode of the young artist style of painting. In the end, around the 1970s and 1980s this style of painting had enjoyed its glorious years. Keywords: painting, learning, community

Full text

143 Seni Lukis Young Artist: Belajar Seni Model Komunitas Desa (Young Artist Painting: To Learn Painting from Village Community) I Wayan Karja Seni Rupa Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Denpasar Jalan Nusa Indah Denpasar, 80235 Indonesia wayank[email protected] Abstrak “Penestanan School,” lebih dikenal dengan sebutan seni lukis “young artist.” Sudah terlalu banyak orang telah meneliti seni lukis young artist, tetapi satupun yang belum membahas tentang metode pembelajarannya. Seni lukis ini lahir di tahun 1960 diawali oleh pertemuan pelukis kelahiran Belanda, Arie Smit dengan anak-anak umur awal belasan tahun di areal sawah Subak Pacekan Penestanan, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Rumusan masalah penelitian ini 1) Mengapa proses pembelajaran seni lukis young artist penting diteliti? 2) Bagaimana proses pembelajaran seni lukis young artist? 3) Apakah implikasi dari proses pembelajaran ini? Metode yang digunakan kualtatif observasi, wawancara, pengumpulan data, analisa data, dan kesimpulan. Hasil yang diperoleh young artist memiliki metode khusus dalam pembelajaran terutama learning by doing mentorship dari seorang guru. Pertemuan ini berlanjut dengan inisiatif Arie Smit untuk memberikan bahan-bahan dan alat melukis kepada anak-anak untuk melukis sebebasbebasnya sesuai kehendak mereka. Karena diyakini yang paling tahu tentang lingkungan persawahan dan kehidupan desa sekitar itu adalah anak-anak Penestanan. Faktor kemurnian pikiran anak, kebebasan, dan motivasi ingin tahu menjadi dasar proses belajar mengajar seni lukis. Hasil akhir penelitian ini, ternyata faktor kebebasan anak, learning by doing merupakan kunci sukses pembelajaran di Desa Adat Penestanan sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an seni lukis ini sempat menikmati masa kejayaannya. Kata Kunci: seni lukis, pembelajaran, komunitas, dan desa. Abstract Penestanan School, well-known as young artist style of painting. There are too many people researched about young artist, but almost none of them talked about learning system. This style of painting was born in 1960, a meeting of the Dutch-born painter Arie Smit with the teenagers in the rice fields of Subak Pacekan Penestanan, Ubud. Research question 1)Why the learning method of the young artist style important to be researched? 2)How is the process of learning education in young artist style 3)What is the implication of this research? This research is using qualitative research observation, interview, collecting data, data analysis and conclusion. The result of this research is young artist found learning by doing mentorship from the teacher. This meeting continued with Arie's initiative to provide materials and tools for painting to the teenages in order to freely paint according to their wishes. Arie believed that the most knowledgeable about the environment of rice fields and the surrounding village life are the Penestanan teenagers. The child's purity of mind, freedom, and motivation are the basis of the learning process of the teaching methode of the young artist style of painting. In the end, around the 1970s and 1980s this style of painting had enjoyed its glorious years. Keywords: painting, learning, community 144 I. PENDAHULUAN Seklumit Catatan Masa Lalu. “Hallo…hallo…hallo tuan-tuan/nyonya-nyonya, selamat pagi…good morning…saya minta uang….” Itulah suara anak-anak yang saya ingat di Desa Penestanan di tahun 1970-an ketika melihat “tamu/toris” orang asing jalan-jalan di lingkungannya. Ketika saya berusia 12 tahun dengan rasa malu-malu bertemu tamu, saya ikut saudara sepupu membawa lukisan ke studio Arie Smit. Sejak saat itu saya mulai mendengarkan pendapat-pendapat beliau tentang karya-karya seni lukis. Arie Smit memuji-muji dan memberikan motivasi kepada saya dan untuk terus mengembangkan potensi diri. “Bagus…! Lukisan itu adalah warna…kamu orang ber-uang.” kata Arie Smit. Saya pun sering menunggu, duduk berjam-jam di sekitar para pelukis desa yang sedang melukis dan mendampingi ayah melukis. Ikut corat-coret pada bidang apa saja dengan sisa warna seadanya. Akhirnya orang tua menyadari bahwa saya suka melukis dan menyediakan bahan dan alat melukis. Pesan ayah “Selegang megae, disuba tua ditu nyen kel tepuk hasilne” (rajinlah bekerja, ketika usia tua disana akan ditemukan hasilnya). Pernyataan Arie Smit dan pesan ayah menjadi pedoman proses pembelajaran “learning by doing.” Pola belajar-bekerja…belajar-bekerja dan belajar-bekerja… atau melukis… melukis dan melukis. Pengalaman menjadi guru utama dalam mengembangkan intuisi sehingga dalam waktu singkat young artist bisa melaju menjadi seni yang bergema dan berpengaruh sangat luas. Bagaimana system pembelajarannya? Bagaimana sirkulasi hubungan guru (Arie Smit) terhadap murid? Rumusan masalah penelitian ini 1) Mengapa proses pembelajaran seni lukis young artist penting diteliti? 2)Bagaimana proses pembelajaran seni lukis young artist? 3)Apakah implikasi dari proses pembelajaran ini? II. KAJIAN TEORI Sebagai komparasi metode pembelajaran yang umum digunakan, pembelajaran yang berkembang selama ini bahwa dominan proses dilakukan didalam kelas dengan guru sebagai ujung dari segitiga. Desa, kala, dan patra merupakan konsepsi lokal yang memiliki jangkauan universal. Lucy R Lippard (1997) dalam buku The Lure of the Local: senses of place in a multicentered society menjelaskan bahwa tempat bukan hanya menjadikan kita seperti merasa di rumah, tetapi dapat memberi pelajaran tentang simbol-simbol pribadi, budaya dan lingkungan. Ada kekuatan lokal dari suatu tempat, taksu Tjampuhan sebagai salah satu kasus sebagai rumah seniman internasional. Selain sistem pembelajaran dan sirkulasi hubungan guru-murid, tempat juga diyakini sangat berpengaruh. Keberadaan wilayah Tjampuhan-Penestanan tidak terlepas dari adanya perjalanan dari seorang Pendeta Hindu dari Jawa Dwipa yaitu Maha Rsi Markandeya. Dalam buku Bhuwana Tatwa Maha Maha Rsi Markandheya yang ditulis oleh Ketut Ginarsa (1979), menjelaskan di pinggiran Sungai Oos yang semula merupakan pasraman beliau tersebut kemudian dibangun tempat pemujaan (ngarcana) Hyang Betari Danu ring Gunung Batur, yang sekarang dikenal dengan nama “Pura Gunung Lebah“. Maha Rsi Markandeya memerintahkan pengikutnya untuk menerabas hutan disekitar tempat tersebut untuk dijadikan permukiman. Dalam kegiatan tersebut beberapa tempat diberikan tanda atau patok “pacek” yaitu batas selatan dimulai dari tempat yang berada di barat daya. Wilayah yang diterabas berada di sebelah barat sungai Oos, dimana tempat tersebut kemudian diberi nama “Pacekan atau Patok.“ Sedangkan batas utaranya yaitu di Desa Puakan berlokasi di wilayah Tegallalang dikenal dengan nama “Sarwa Ada“ atau semua ada atau dapat tumbuh di wilayah tersebut. Desa Puakan atau “Sarwa Ada” kemudian dikenal dengan “Desa Taro“. Hingga sekarang di tempat ini terdapat sebuah pemujaan untuk memuja Ida Bhatara yang beristana di Gunung Raung di Jawa Dwipa yang merupakan asal dari para pengikut Maha Rsi Markandeya yang datang ke Nusa Kambang atau Bali Dwipa yang dikenal dengan nama “Pura Gunung Raung.“ Sejak Tahun 1929 hingga beberapa tahun terakhir Tjampuhan tercatat sebagai tempat strategis berkumpulnya para seniman desa, nasional dan internasional. Empat seniman Barat yang pernah tinggal disana dan berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah seni rupa Bali adalah Walter Spies, Antonio Blanco, Rudolf Bonnet, dan Arie Smit. Keempat seniman ini tidak hanya berpengaruh 145 terhadap masyarakat di Ubud tetapi pengaruhnya terasa terhadap seni rupa Bali secara umum. Pita Maha lahir di lingkungan kehidupan agraris dengan pertemuan kombinasi ide seni Timur-Barat dan Tjampuhan sebagai saksi bisu yang banyak menyimpan cerita ini. Utamanya setelah pameran fotofoto tentang Bali (Krause,1912) di New York dan Paris oleh Dr Krause dan keberhasilan seniman Pita Maha Ida Bagus Gelgel dan Ida Bagus Kembeng dalam pameran di Paris. Para pemerhati seni dan kebudayaan antropologi, sosiologi mulai berdatangan ke Bali untuk mengadakan penelitian. Miguel Covarubias pada tahun 1930an ikut datang setelah mendapatkan support dari Peggy Guggenhein. Tak ketinggalan Margaret Mead dan Gregory Batson tahun1938 juga ikut melakukan penelitian dan mengoleksi seni lukis Bali (lukisan Batuan sekitar 2000 lembar lukisan) yang pada intinya diciptakan dengan “learning by doing” (Gibbs, Andrew, 2001) Pada tanggal 17 November 1961 para sulinggih dan walaka umat Hindu seluruh Bali mengadakan pesamuan agung di Tjampuhan Ubud. Demikian taksu Tjampuhan semakin dikenal menjadi sebuah “Oasis” seni dalam jalinan komunitas tradisi, adat, agama dan spiritualitas. Semua itu diyakini karena adanya kesatuan dan sinergi yang kuat antara kekuatan spirit alam (Taksu) the lure of the local (Lippard, 1997) dengan charisma “aura” Puri Ubud, terutama jasa pengelingsir Puri Ubud, Ida Cokorda Gede Agung Sukawati dan Ida Cokorda Raka Sukawati. III. METODE PENELITIAN Penelitian kualitatif ini mengambil lokasi di Desa Adat Penestanan Ubud. Karena keterbatasan data tertulis dan hasil artefak berupa lukisan karena sudah banyak yang terjual ke luar negeri, akhirnya pengumpulan data lebih banyak dilakukan dengan wawancara langsung (data primer) dengan para seniman. Setelah data terkumpul dilakukan analisis yang menekankan kepada proses belajar melukis. IV. ANALISIS DAN INTEPRETASI DATA Arie Smit dan anak-anak Penestanan Sistem pembelajaran young artist menekankan learning by doing dan mentorship dari seorang guru. Di tahun 1960-an Penestanan cukup mengejutkan dalam melahirkan gaya lukisan Bali baru. Pengaruh dan tuntunan Arie Smit seorang pelukis Belanda dengan sukarela memberikan bahan bahan dan alat-alat melukis untuk anak-anak Penestanan tanpa memberikan banyak intruksi dan arahan tentang tata cara melukis. Berikut kata Arie Smit: “saya tidak campur tangan tentang pemilihan tema karena anak petani lebih tahu alam lingkungannya…setelah bekerja 3-4 minggu di rumahku mempelajari kegunaan bahan, mereka pulang ke rumah masing-masing…saya hanya melihat karya-karya yang sudah disiapkan” Anak-anak dibiarkan secara bebas mengungkapkan perasaannya berdasarkan pengalaman masing-masing. Spontanitas itu menjadi dasar yang sangat fundamental dalam melahirkan kemurnian insting dan jati diri imajinasi anak. Sesuatu yang naïve, lucu kekanak-kanakan muncul dengan warna yang cerah tanpa landasan teori warna yang pasti. Temanya sesuai dengan kehidupan sehari-hari, cerita rakyat dan pemandangan alam sekitar. Kreativitas ini sangat berbeda dengan tradisi sebelumnya, yang pada umumnya menggunakan teknik lebih halus. Tentang nama young artist, “saya lebih suka pada nama ‘Seni Hias Pelukis Muda Bali’ dari ‘Seni Lukis Kanak-kanak,’ karena semua kanak-kanak ini yang datang ke rumahku untuk melukis akan menjadi pelukis professional, apabila seorang daripada mereka mendapat uang dari sebuah lukisan. Di Bali, terdapat kekurangan pekerjaan dan tenaga buruh yang berlebihan sehingga keluarga 146 anak-anak ini dengan segala upaya untuk menggalakan anak-anak mereka untuk melukis, (dan mendapat uang) lebih dari aku…”kata Arie Smit (Keat. 1983.) Arie Smit kelahiran Zaandam, Belanda, 15 April 1916 adalah sosok yang berhasil membangkitkan kreativitas anak Penestanan, terutama dalam mengembangkan seni lukis yang dinamai gaya “Young Artist.“ Tentang proses mengajar Arie Smit, (1971): “saya tidak pernah mengajar anak lelaki itu tetapi mendorongnya melukis apa saja yang terlintas difikirannya…..saya hanya mendorong mereka agar melukiskan perasaan mereka sebebas-bebasnya…” Pada mulanya ‘Young Artist’ hanya melibatkan beberapa anak saja, perkumpulan ini kian berkembang sehingga dalam tempo beberapa tahun sudah ada ratusan anak yang ikut melukis ada yang langsung belajar dari Arie Smit dan banyak yang belajar dari teman-teman dan keluarga dekat. Maraknya pemasaran seni lukis young artist tentu saja mengubah kehidupan ekonomi Desa Adat Penestanan secara drastis. Tahun 1964 karya young artist telah masuk Museum of Modern Art, San Francisco, California, USA. Smithsonian Institution Young Artist Touring Exhibition, USA 1964-1965. Tahun 1970 dipamerkan di National Museum Singapura bekerjasama dengan The Institute of Southeast Asian Studies dan syarikat Penerbangan, dalam pameran ini para pelukis diundang hadir. Karya mereka laku terjual semua. Sejak itu terus dilakukan pameran di beberapa tempat. Pameran tahunan di Alpha Gallery Singapura. Katalog yang popular pertama kali dikeluarkan oleh National Gallery dan Alpha Gallery Singapura, tahun 1971. Sejak tahun inilah Penestanan Ubud menjadi terkenal dikalangan pencinta seni lukis Bali baru yang tidak mengikuti tradisi melukis sebelumnya. Dalam pameran tahun 1970 Sambutan dan Pengantar khusus disampaikan almarhum Cokorda Gede Agung Sukawati. Ketika Cokorda meninggal bulan Juli 1978 dan pelebon berlangsung pada 31 Januari 1979 para pelukis young artist ikut ngayah dalam aktivitas pengabenan itu langsung dilukis, akhirnya karya lukis ngaben ini juga menjadi sesuatu yang sangat digemari para kolektornya. Tahun 1976, 83 lukisan dipamerkan di Museum Pulau Pinang, 1979 dilanjutkan di National Museum Singapura. Akhirnya koleksi lukisan yang mencapai 243 lukisan dipamerkan di Balai Seni Lukis Negara Malaysia, tahun 1983 mewakili 50 pelukis dari Penestanan Ubud dengan 35 lukisan berangka tahun 1963 (20 tahun seni lukis Penestanan Ubud). Pameran Museum Nasional Jakarta, 1995. Pameran Tokyo Jepang 1997. Gaya young artist juga berkembang berubah sesuai dengan pengaruh kehidupan sekitarnya. Corak dan “gaya baru“ sekitar akhir tahun 1970an dipengaruhi oleh desain Linda Garland yang memperkenal model dan desain baru dikombinasikan dengan teknik lukisan young artist, terutama dalam membuat lukisan yang berukuran besar dan lukisan yang diterapkan pada benda – benda kerajinan. Model Pembelajaran Seni Lukis Berbasis Komunitas Desa Dalam pembelajaran seni lukis berbasis komunitas desa, kebebasan kreativitas adalah bersifat mutlak, learning by doing, intuisi dan fantasi berkembang secara spontanitas dalam mewujudkan inspirasi. Pelukis young artist yang juga sebagai petani lahir di tengah budaya agraris di tahun 1960. Bermain-main dengan riang tanpa beban di Bale Timbang Subak Pacekan Nyoman Cakra dan kawan-kawan duduk sambil menggambar di tanah dengan lidi. Melihat hasil yang diperoleh Cakra akhirnya secara bertahap Arie Smit menerima murid baru yang akhirnya berjumlah ratusan orang. Proses pembelajaran ini menempatkan independensi komunitas menjadi sangat penting. Arie Smit seorang “Bapak” bagi warga Penestanan, sebagai tempat mengadu jika ada permasalahan tentang seni lukis dan permasalahan hidup. Sirkulasi keakraban Guru Sebagai Orang Tua, Mentor, Fasilitator dan Sponsor. Lingkaran Swadharma Hubungan Guru-Murid, murid belajar dari guru dan guru juga mempelajari sikap, kepribadian dan potensi anak didiknya. Mencari tempat yang inspiratif dan penuh ilham (Tjampuhan yang indah dan bertaksu). Guru mengembangkan sistem pembelajaran yang memberikan kebebasan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi diri, membangun motivasi diri dan tugas guru sebagai fasilitator dan motivator serta mencari, membangun potensi anak didik. Guru sebagai orang tua dan menempatkan anak didik sebagai sahabat dan tempat mengadu jika ada permasalahan seni 147 dan kehidupan. Guru mempelajari situasi dan kondisi anak didik, sehingga lingkaran “guru belajar dari murid dan murid berguru kepada guru. Guru membangun potensi internal anak didiknya. Guru adalah motivator dan fasilitar yang baik dan penemu talenta sang murid. Guru sebagai pencipta peluang, sponsor memasarkan karya-karya anak didiknya dan bahkan menjadi sponsor (finansial). Untuk membesarkan hati agar terus semangat penciptaan berkembang maksimal. Seklumit contoh: Arie Smit menjadi supir dan guide tourist (1966/67), mengantar tamu kaya raya yang tidak tahu tentang Bali. Tamu itu sangat percaya kepada Arie kemanapun dibawa. Tamu kaya raya membeli ratusan/semua lukisan young artist di Penestanan saat itu. Anak didik jadi semangat melukis. Anak didik sangat menghormati gurunya dan bangga menjadi muridnya. Kelemahannya, anak didik bangga karyanya mirip dengan karya sang guru, padahal itu telah memasung dan bertentangan dengan prinsip-prinsip kreatifitas. Arie Smit seorang guru tanpa menerapkan system akademik yang popular di dunia Barat, tetapi dengan penuh cinta kasih dan kesabaran yang sangat tinggi dia mengabdi dan melayani keinginan dan kemauan anak dengan memfasilitasi bahan, alat lukis dan menyediakan waktu untuk konsultasi tentang seni dan kehidupan. Implikasi dari Pendidikan berbasis Komunitas Desa Komunitas desa dalam konteks tulisan ini dimaksudkan bahwa sekelompok orang banyak yang tinggal di suatu kelompok desa adat yaitu penestanan terikat aturan adat, sosial, agama bersama yang menempati wilayah sebelah barat Pura Gunung Lebah Campuhan Ubud. Ikatan sistem kekerabatan, kekeluargaan atau sistem bebanjaran adalah model komunitas desa di Ubud. Komunitas ini mempraktekan berbagai bisang seni uatamanya seni lukis, sehingga pendapat Covarubias yang mengatakan bahwa “setiap orang Bali adalah seniman” (Covarubias, 1937) adalah masuk akal. “Desa Internasional/Global Village,” in juga menerapkan sistem pembelajaran seni informal, sistem pendidikan seni lukis yang beda dengan yang kita temui secara umum. Tata pergaulan bukan hanya tradisi local-nasional, tetapi telah langsung masuk dalam pergaulan seni local-global, internasional dengan pergaulan antar bangsa Timur-Barat. Komunitas seni Ubud sangat khas dengan berbagai fasilitas pendukung seperti museum-museum, galeri-galeri, artshops dan kios-kios seni. Bangkitnya kebiasaan dan kesadaran mengoleksi barang seni sebagai barang mewah dan investasi. Sejumput kolektor young artist, Datuk Liem Chong Keat, Cecily Johnston, Coby Black, dan lain-lainnya. Di Penestanan kehidupan berubah dari hanya hidup bertani musiman, petani penggarap, jadi pelukis desa (koleksi Datuk Lim Chong Keat: Pelukis Desa Dari Penestanan Ubud Bali, 1983-84). Semua jadi bagian sirkulasi komunitas yang saling menguntungkan. Perkembangan komunitas young artist di desa-desa sekitar seperti desa Ubud, Sayan, Kedewatan, dan Bongkasa. Khusus untuk komunitas di banjar Baung (Sayan) dan Bongkasa masih berkembang sampai saat ini dengan ciri-ciri yang telah berbeda dengan seni lukis yang berkembang di komunitas Penestanan. Ciri khusus yang membedakan adalah munculnya pemandangan alam yang telah memainkan perspekstif umumnya terinspirasi oleh pemandangan sekitar Sungai Ayung yang berlokasi di sebelah banjarnya. Penguasaan garis kontur yang sangat kecil halus, sekecil-kecilnya, dengan perspekstif bentuk dan warna. Pelukis seperti Wayan Kaler, Nyoman Tapa, dan lain-lainnya. Gaya perorangan tidak terlalu menonjol tapi justru gaya komunitasnya. Sistem pembelajaran pasca young artist bahwa kembali kepada anak didik akan merasa bangga apabila bisa menyamai karya sang guru, pada hal secara kreativitas tidak disetujui oleh arie Smit guru young artist itu; karena anak didik harus mampu menjadi dirinya sendiri, menemukan jati diri. Kemudian pertengahan 1960-an-1970-an perkembangan sistem pendidikan akademis Barat mulai berkembang pada pendidikan formal seni rupa. V. SIMPULAN Sebagai simpulan perlu digaris bawahi 4 komponen yang ada dalam proses pembelajaran studi kasus young artist: 1)Metode pembelajaran seni lukis young artist sangat penting diteliti karena menunjukkan kebebasan dan cross culture pada saat itu 2)Proses pembelajaran learning by doing 148 merupakan proses yang belum biasa dilakukan baik sebelum dan sesudah young artist learning by doing dan mentorship 3)Implikasi dari penelitian ini, pelukis dengan bebas menggunakan warnawarna dan memainkan bentuk sesuai dengan imajinasinya. Pembelajaran ini berbeda dengan sebelum dan sesudahnya karena cenderung murid mengikuti gaya atau style lukisan sang guru. “Meniru adalah berguru” tidak berlaku dalam pembelajaran young artist, malah justru mengembangkan kebebasan. Total dari guru support dari memberi motivasi mencipta, hingga membeli dan mengoleksi karya muridnya. Saran: agar dilakukan pendokumentasian dalam bentuk peralatan teknologi informasi yang canggih agar esensi dan hikmah pembelajarannya dapat diwarisi kepada generasi mendatang. Karya-karya pelukis kita banyak berada di luar negeri, perlu biaya pelestarian budaya yang bisa digunakan untuk pemulangan karya-karya tersebut agar generasi berikut bisa menikmati. DAFTAR RUJUKAN Covarrubias, Miguel. 1937. Island of Bali. London Toronto Melbourne and Sydney: Cassell and Company Limited. Datuk Lim Chong Keat. 1983. Peasant Painters from Penestanan Ubud Bali. Kuala Lumpur: National Art Gallery. Gibbs, Graham and Claire Andrew. 2001. Learning By Doing: A Guide To Teaching and Learning Methods. Great Britain: Further Education Unit. Ginarsa, I Ketut. 1979. Bhuwana Tatwa Maha Rci Markandheya. Singaraja : Balai Penelitian Bahasa. Krause, Gregor. 1998. Bali 1912. Singapore: Pepper Publications. Lippard, Lucy R. The Lure of the Local. New York: The New Press. The Cecily F Johnston. (tt). “Arie Smit and the Young Artist Collection”, private collection. Ubud: berkah yang melimpah. Tps://www.library.ohiou.edu. Kompas online, Minggu, 3 Maret 1996. Wawancara. 2015-2017. dengan pelukis-pelukis young artist: Ketut Soki, Nyoman Tjakra, Nyoman Londo, Wayan Pugur, Ketut tagen, dan Ngurah KK. Wawancara. 2016. dengan pelukis Paul Nagano (Hawaii) sahabat Arie Smit. 149 Karya I Nyoman Tjakra Karya I Ketut Soki 150 Karya Made Runia Karya I Nyoman Londo 151 Karya I Wayan Pugur