scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Aktualisasi Pancasila Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan Sila Kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab di Kelas Sekolah Dasar Negeri 169 Pelita Bandung

Amelia Nurul Hasanah, Karina Maharani, Ajeng Wulandari, Pandu Dharmawan, Husni Mubarok, Nur Isna Afni Fauziah, Vidia Zahra Nabila, Fajar Khairul Latif, Candra Nugraha, Diki Muhamad Ilham, Isnaini Hanifah, Dian Herdiana, Dewi Salamah

Full text

2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Pancasila Sila (Amelia Nurul Hasanah, dkk.) | 58-68 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Volume 4, Nomor 9, Desember 2025, Halaman 58-68 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17921876 Aktualisasi Pancasila Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan Sila Kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab di Kelas Sekolah Dasar Negeri 169 Pelita Bandung Amelia Nurul Hasanah1, Karina Maharani2, Ajeng Wulandari3, Pandu Dharmawan4, Husni Mubarok5, Nur Isna Afni Fauziah6, Vidia Zahra Nabila7, Fajar Khairul Latif8, Candra Nugraha9, Diki Muhamad Ilham10, Isnaini Hanifah11, Dian Herdiana12, Dewi Salamah13. Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, UIN Sunan Gunung Djati E-mail: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected] Abstrak Pancasila sebagai dasar dan pandangan hidup berbangsa dan bernegara harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari‐hari agar nilai yang terkandung di dalamnya tidak hanya bersifat normatif, tetapi membumi dan menjadi pedoman moral bagi seluruh masyarakat. Penanaman nilai tersebut penting dilakukan sejak usia sekolah dasar, karena pada tahap ini karakter anak mudah dibentuk dan diarahkan. Pada kesempatan ini, kami kelompok 3 dari mata kuliah Pendidikan Pancasila Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung melaksanakan kegiatan aktualisasi penerapan nilai‐nilai Pancasila, khususnya sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan sila kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” kepada siswa kelas 5A SDN 169 Pelita pada tanggal 04 November 2025. Kegiatan dilakukan melalui penyampaian materi religius, pembiasaan sikap sopan santun, serta penumbuhan rasa toleransi terhadap keberagaman keyakinan. Selain itu, kegiatan diterapkan melalui metode edukatif seperti permainan, ice breaking, kuis berhadiah, serta praktik langsung berbagi makanan kepada masyarakat sebagai bentuk pembiasaan nilai kemanusiaan. Tujuan kegiatan ini adalah agar peserta didik memahami nilai Pancasila secara ringan, menyenangkan, dan mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari‐hari. Keywords: Anak‐Anak; Pendidikan Pancasila; Ketuhanan; Kemanusiaan; Sekolah Dasar. Abstract Pancasila, as the foundation and guiding philosophy of the Indonesian nation, must be realized in daily life so that its values are not merely normative but become grounded and serve as moral guidelines for society. The internalization of Pancasila values is crucial from the elementary school level, as children’s character at this stage is still highly malleable and can be effectively shaped. In this context, Group 3 of the Pancasila Education course at the State Islamic University of Sunan Gunung Djati Bandung conducted an activity aimed at actualizing Pancasila values, particularly the first principle, Belief in the One and Only God, and the second principle, Just and Civilized Humanity, for fifthgrade students of SDN 169 Pelita on November 4, 2025. The activities were carried out through the delivery of religious material, the habituation of polite behavior, and the cultivation of tolerance toward religious diversity. In addition, educational methods such as games, ice-breaking activities, prize-based quizzes, and hands-on practice of sharing food with the community were implemented as forms of internalizing humanitarian values. This activity aimed to enable students to understand Pancasila values in an engaging and enjoyable manner and to apply them in their daily lives. Keywords: Children; Pancasila Education; Belief in God; Humanity; Elementary School. Article Info Received date: 10 November 2025 Revised date: 15 November 2025 Accepted date: 10 Desember 2025 PENDAHULUAN Pancasila merupakan dasar negara bagi Negara Indonesia, tidak hanya sebagai dasar Negara. Pancasila juga memiliki peran penting, bahkan Pancasila menjadi pedoman dalam peraturan perundang- 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Pancasila Sila (Amelia Nurul Hasanah, dkk.) | 58-68 undangan Indonesia. Pancasila merupakan pedoman hidup bagi seluruh rakyat Indonesia baik dalam berpikir, bersikap, dan bertindak karena nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila bukan hanya sebagai symbol tetapi memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Indonesia. Setiap sila mengajarkan arti penting dalam kehidupan seperti sila pertama “ Ketuhanan Yang Maha Esa” Sila ini menegejarkan bahwa seluruh warga negara Indonesia harus memliki keimanan dan ketakwaan kepada tuhan yang maha Esa sesuai dengan kepercayaan-Nya masingmasing, sila ini juga mengajarkan kita untuk menumbuhkan sikap menghormati antar umat beragama, dengan tidak memaksakan keyakinan kepada orang lain, serta menumbuhkan rasa toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Selain Sila Pertama, Sila kedua dalam Pancasila “ Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” juga menekankan pentingya menghargai hak asasi setiap umat manusia. Nilai-nilai yang tercantum dalam Pancasila ini yaitu seperti sikap saling menolong, menghormati sesama, serta menegakan keadilan dalam kehidupan sosial. Kedua sila ini memiliki hubungan keterkaitan yang sangat erat dan saling melengkapi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia. Keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa sebagaimana tercermin dalam sila pertama menjadi landasan moral, spiritual, dan etika yang menuntun setiap individu untuk bertindak dengan penuh tanggung jawab. Keimanan bukan hanya sekedar keyakinan dalam hati, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari yang mencerminkan kasih sayang, kejujuran, keadilan, serta rasa hormat terhadap sesama manusia. Dari dasar keimanan tersebut, lahirlah perilaku yang mencerminkan nilai-nilai “ Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” sebagaimana terkandung dalam sila kedua. Seseorang yang memiliki ketakwaan yang kuat kepada Tuhan akan terdorong untuk memperlakukan orang lain dengan adil, menghormati sesama manusia, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal seperti empati, solidaritas, dan toleransi. Keterkaitan antara sila pertama dan sila kedua mencerminkan bahwa dimensi spiritual dan kemanusiaan tidak dapat dipisahkan. Nilai ketuhanan memberikan arah bagi manusia dalam menilai mana yang baik dan mana yang benar, sementara nilai kemanusian menjadi wujud nyata dari pengalaman ajaran ketuhanan dalam kehidupan sosial. Masyarakat yang beriman kepada Tuhan dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan akan mampu membangun kehidupan yang harmonis, berkeadilan dan beradab. Oleh karena itu kedua sila ini menjadi fondasi penting bagi terbentuknya masyarakat Indonesia yang berkarakter, bermoral, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam bingkai ketuhanan. Penerapan Pancasila yang kita lakukan yaitu dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila kepada anak SDN 169 Pelita. Sosialisasi ini berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila keapada anak SDN 169 Pelita sejak usia dini, terutama nilai-nilai ketuhanan dan kemanusian yang menjadi dasar pembentukan karakter anak. Dalam kegitan sosialisasi ini kami mengajarkan kepada siswa untuk mengenal dan mengamalkan nilai religious seperti berdo’a sebelum dan sesudah kegiatan, menghormati guru, serta menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap teman yang membutuhkan. Selain itu kegitan dalam kegiatan sosialisasi ini kami mengisi dengan aktivitas yang menarik seperti permainan edukatif bertema Pancasila, Ice Breaking, dan diskusi ringan mengenai pentingnya tolong menolong. Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya memahami nilai-nilai tersebut secara teori, tetapi juga dapat mempraktikkannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Melalui pendekatan yang menyenangkan dan edukatif, siswa diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta terhadap nilai-nilai luhur bangsa serta menjadikannya pedoman dalam bertindak dan berperilaku. Kegiatan sosialisasi ini juga memberikan manfaat kami, karena menjadi sarana untuk mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan tanggung jawab social. 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Pancasila Sila (Amelia Nurul Hasanah, dkk.) | 58-68 METODE PENELITIAN Kegiatan sosialisasi nilai-nilai Pancasila merupakan salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila. Kegiatan ini menggunakan metode Kualitatif Partisipatif, yang melibatkan warga sekolah dan masyarakat secara langsung, dalam kegiatan sosialisasi nilai-nilai Pancasila kami menerapkan Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) dan Sila Kedua (Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab). Peneliti berperan aktif bersama guru, dan siswa dalam berdiskusi, dan menanamkan serta melaksanakan kegiatan nilai-nilai pancasila di kehidupan sekolah. Disamping itu juga peneliti menyalurkan bantuan kepada masyarakat, melalui Crowdfunding, Tujuannya untuk membangun rasa peduli sesama masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa 04 November 2025, bertepatan di SDN 169 pelita, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Dengan melibatkan seluruh siswa/i kelas 5A. Selain itu juga kegiatan ini melibatkan warga masyarakat setempat berupa pemberian bantuan social. Seluruh anggota kelompok bekerja sama dalam menyiapkan dan melaksanakan kegiatan agar efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Dan kami berupaya untuk menggabungkan aspek sosialisasi nilai-nilai Pancasila dengan menyampaikan materi sosialisasi untuk para siswa, serta menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat setempat. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dalam beberapa tahapan. Dimulai dengan mencari materi nilai nilai Pancasila dan Sila keberapa yang akan kami terapkan. Kemudian kami membuat Crowdfunding proses dimana pengumpulan dana atau sumbangan untuk masyarakat yang membutuhkan. Peneliti juga melakukan sosialisasi di sekolah mengajarkan materi yang sesuai dengan Sila yang diambil, dilanjut dengan ice breaking, games, dan pemberian hadiah. Dengan kegiatan ini, diharapkan para siswa di SDN 169 Pelita terutama di kelas 5A dapat menerapkan nilai-nilai Pacasila yang telah di ajarkan dalam lingkungan sekolah, lingkungan rumah, maupun di lingkungan masyarakat, dalam kehidupan sehari-hari. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil kegiatan dan pembahasan makalah ini membahas tentang Sosialisasi Penerapan Sila Pertama "Ketuhanan Yang Maha Esa" dan Sila Kedua" Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab" Di Kelas 5A SDN 169 Pelita. A. Gambaran Umum Pancasila merupakan dasar negara sekaligus landasan ideologis yang mengarahkan seluruh tingkah laku warga negara Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi pedoman moral, etis, dan sosial dalam kehidupan berbangsa, mulai dari bidang pendidikan, hukum, hingga interaksi sehari-hari. Istilah Pancasila berasal dari bahasa Sanskerta, dari kata panca yang berarti lima dan sila yang berarti prinsip atau asas, sehingga Pancasila dipahami sebagai lima dasar yang menjadi fondasi kehidupan nasional. Kelima sila tersebut adalah: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa 2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab 3. Persatuan Indonesia 4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan 5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Dalam konteks pendidikan dasar, Pancasila tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga ditanamkan melalui pembiasaan, teladan, dan aktivitas yang melibatkan siswa secara langsung. Pada kegiatan aktualisasi Pancasila kali ini, fokus penerapan diarahkan pada sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, serta sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sila pertama 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Pancasila Sila (Amelia Nurul Hasanah, dkk.) | 58-68 menekankan pentingnya menjalankan ajaran agama dengan penuh keikhlasan, membiasakan doa sebelum belajar, serta menumbuhkan sikap saling menghormati antarumat beragama. Sila kedua mengajarkan nilai empati, keadilan, tenggang rasa, saling menolong, serta kemampuan memperlakukan orang lain dengan cara yang manusiawi dan beradab. Kedua sila ini menjadi pondasi penting dalam pembentukan karakter religius dan kemanusiaan pada siswa sekolah dasar. Kegiatan aktualisasi dilaksanakan di SDN 169 pelita, yang menjadi tempat pelaksanaan sosialisasi dan pembelajaran nilai-nilai Pancasila. Sekolah ini menggunakan kurikulum nasional yang dipadukan dengan penguatan aspek religius, seperti pembiasaan doa, hafalan, serta pendidikan akhlak. Pada kelas 5A yang menjadi sasaran kegiatan, terdapat siswa dengan rentang usia 10–11 tahun, dengan jumlah total siswa sekitar 40 orang. Adapun tenaga pengajar yang terlibat berjumlah 10 orang yang turut mendampingi proses pembelajaran. Pelaksanaan kegiatan dilakukan di Jl.Desa Cipadung No.121, Cipadung Kec. Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat, dengan rangkaian kegiatan berupa penyampaian materi, ice breaking, permainan edukatif, sesi tanya jawab, serta pembagian hadiah sebagai wujud apresiasi atas partisipasi siswa. Seluruh rangkaian ini dirancang untuk membantu siswa memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila secara nyata dalam kehidupan mereka sehari-hari. B. Mekanisme Kegiatan aktualisasi ini melibatkan beberapa komponen, yaitu seperti guru, murid kelas 5A SDN 169 Pelita, masyarakat sekitar, mahasiswa, metode belajar, dan lain-lain. Selain itu peran komponen sangat penting untuk memastikan nilai-nilai Pancasila dapat tersampaikan dan di praktikan dalam aktualisasi kegiatan ini. Tujuan aktualisasi ini untuk membentuk karakteristik siswa agar mengetahui arti penting dari peduli kepada sesama dan pentingnya Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa sebagai penyelenggara menyusun kegiatan aktualisasi sila pertama dan sila kedua kepada siswa dan masyarakat. Siswa berinteraksi secara langsung melakukan kegiatan bersama mahasiswa di dalam kelas, mahasiswa menyampaikan materi dan menyelipkan beberapa tanya jawab yang berkaitan dengan materi pancasila. Menurut Rahmawati (2020), metode tanya jawab adalah strategi pembelajaran yang menekankan interaksi langsung antara guru dan peserta didik. Melalui pertanyaan, guru dapat menggali pemahaman siswa, sedangkan jawaban siswa menjadi indikator perkembangan kognitif mereka. Metode ini juga efektif untuk melatih keberanian dan kemampuan berpikir kritis. Menurut Mel Silberman (2020), ice breaking adalah aktivitas singkat yang digunakan untuk mencairkan suasana, membangun kenyamanan, dan meningkatkan kesiapan peserta sebelum memulai kegiatan utama, Ice breaking membantu peserta lebih rileks dan siap berinteraksi. Ice breaking berarti pemecah kebekuan, aktivitas ini untuk mencairkan suasana agar tidak kaku dan membosankan menjadi akrab dan menyenangkan. Dengan bernyanyi bersama membuat para siswa menjadi bersemangat kembali. Menurut Hadi (2020), metode games adalah strategi pembelajaran yang menggunakan permainan sebagai media untuk menciptakan suasana belajar yang aktif, menyenangkan, dan kompetitif secara sehat. Metode games juga mengulang kembali materi yang di sampaikan, bertujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa bisa memahami materi sambil bermain games. Lalu selanjutnya, pemberian hadiah sebagai bentuk apresiasi kepada siswa, karena telah optimal dalam aktualisasi ini. Setelah kegiatan aktualisasi bersama para siswa selesai, selanjutnya aktualisasi di masyarakat dengan memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan menggunakan uang donasi yang sudah terkumpul. Sebelumnya, kami telah mengumpulkan donasi yang dilakukan jauh sebelum aktualisasi ini di mulai, dengan metode crowdfunding proses dimana pengumpulan dana atau sumbangan untuk masyarakat yang membutuhkan. (UNDP pada tahun 2022) menyatakan bahwa crowdfunding menjadi sarana penting dalam aksi kemanusiaan dan pengentasan kemiskinan, karena menghubungkan individu yang membutuhkan bantuan 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Pancasila Sila (Amelia Nurul Hasanah, dkk.) | 58-68 dengan komunitas global secara langsung. UNDP menilai bahwa berbagi melalui crowdfunding meningkatkan partisipasi publik dalam kegiatan sosial. C. Kegiatan Penerarapan Pancasila Seperti yang telah di jelaskan pada mekanisme, kegiatan pembelajaran yang kami lakukan di SDN 169 Pelita yaitu, pembahasan Materi, Ice Breaking, Games, Tanya Jawab, Pembagian hadiah. Selain itu penerapan Pancasila yang kami lakukan yaitu kami melakukan aksi social kepada masyarakat dengan membagikan makanan di pinggir jalan. Berikut penjelasan-Nya: 1. Penyampaian Materi Dalam kegiatan aktualisasi Pancasila sila ke-1 dan sila ke-2 ini, kegiatan ini dilaksanakan oleh Amelia Nurul Hasanah, Husni Mubarok , Fajar Khairul Latif , dan Diki Muhammad Ilham yaitu mahasiswa dari Jurusan Hukum Ekonomi Syariah UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kegiatan ini bertempat di Jl.Desa Cipadung No. 121, Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat 40614, dengan sasaran peserta yaitu Siswa/i SDN 169 PELITA Kelas 5A Pada kegiatan aktualisasi nilai pancasila ke 1 dan 2 yang mana dalam bentuk. Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang sangat penting untuk dipahami dan diamalkan oleh seluruh warga negara, terutama sejak usia dini seperti di kelas SD. Dua sila pertama dari Pancasila adalah fondasi utama yang membentuk karakter dan moral anak-anak. Mari kita bahas lebih dalam tentang sila pertama dan kedua ini. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menekankan pentingnya kepercayaan dan ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ini adalah pengakuan bahwa ada satu Tuhan yang menciptakan alam semesta dan seisinya, dan kita sebagai manusia harus hidup sesuai dengan ajaran-Nya. Sila ini mengajarkan kita untuk: 1. Percaya dan taat kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masingmasing. 2. Menghormati dan menghargai agama dan kepercayaan orang lain. 3. Menjalankan ibadah dan ritual keagamaan dengan baik dan benar. Contoh penerapan sila pertama di kalangan anak SD : 1. Mengikuti pelajaran agama dengan rajin: Anak-anak SD dapat menunjukkan ketaatan mereka terhadap Tuhan dengan rajin mengikuti pelajaran agama di sekolah dan melaksanakan tugastugas keagamaan yang diberikan oleh guru. 2. Berdoa sebelum dan sesudah belajar: Sebelum memulai belajar atau melakukan aktivitas, anak-anak dapat berdoa untuk memohon bimbingan dan perlindungan Tuhan. Setelah selesai, mereka juga bisa berdoa untuk mengucapkan syukur. 3. Menghormati teman yang berbeda agama: Di sekolah, anak-anak dapat menunjukkan rasa hormat terhadap teman-teman yang berbeda agama dengan tidak mengganggu atau meremehkan keyakinan mereka. Mereka bisa belajar tentang agama lain dan bertanya dengan sopan jika ingin tahu lebih banyak. Sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, menekankan pentingnya menghormati dan mengasihi sesama manusia tanpa membeda-bedakan. Sila ini mengajarkan kita untuk berlaku adil dan beradab dalam berinteraksi dengan orang lain, serta pentingnya gotong royong dan kerja sama. Sila ini mencakup: 1. Menghormati dan mengasihi sesama manusia tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, dan antargolongan. 2. Berlaku adil dan tidak memihak dalam pergaulan sehari-hari. 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Pancasila Sila (Amelia Nurul Hasanah, dkk.) | 58-68 3. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan kerja sama dan gotong royong. Contoh penerapan sila kedua di kalangan anak SD: 1. Membantu teman yang kesulitan: Jika ada teman yang jatuh atau kesulitan membawa buku, anakanak SD bisa langsung membantu tanpa ragu. Ini menunjukkan empati dan kepedulian terhadap sesama. 2. Mengucapkan terima kasih dan meminta maaf: Ketika melakukan kesalahan, anak-anak bisa meminta maaf kepada teman atau gurunya. Begitu pula ketika menerima bantuan, mereka bisa mengucapkan terima kasih sebagai bentuk penghargaan. 3. Berpartisipasi dalam kegiatan kelompok: Dalam kegiatan belajar kelompok di kelas, anakanak bisa berpartisipasi aktif dengan membagi tugas dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Ini mengajarkan mereka tentang pentingnya kerja sama dan solidaritas. Dengan memahami dan mengamalkan kedua sila ini, anak-anak SD dapat menjadi pribadi yang lebih baik, lebih menghormati Tuhan, dan lebih peduli terhadap sesama. Penerapan nilai-nilai Pancasila sejak dini akan membentuk karakter yang kuat dan positif, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang baik dan bermartabat. Gambar 1. Penyampaian Materi 2) Ice Breaking Kegiatan ice breaking ini dilakukan oleh Candra Nugraha, Karina Maharani, dan Pandu Dharmawan, mahasiswa dari Jurusan Hukum Ekonomi Syariah UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kegiatan ini dilaksanakan di kelas 5A SDN 169 Pelita sebagai upaya mencairkan suasana agar siswa tidak bosan atau mengantuk selama penyampaian materi. Dalam pelaksanaannya, ice breaking diawali dengan seperti tepuk kreatif dan tepuk sakinah, bernyanyi bersama, serta permainan singkat yang membuat suasana kelas lebih hidup. Aktivitas ini membantu mengembalikan fokus siswa, menumbuhkan antusiasme, dan mempersiapkan mereka untuk menerima materi selanjutnya dengan lebih baik. 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Pancasila Sila (Amelia Nurul Hasanah, dkk.) | 58-68 Selain untuk menghilangkan kejenuhan, ice breaking juga dirancang untuk menumbuhkan nilainilai Pancasila, terutama toleransi, kerja sama, dan sikap saling menghargai. Melalui permainan kelompok dan aktivitas interaktif, siswa belajar berkomunikasi, bekerja sama, serta menghargai pendapat teman. Kegiatan ini tidak hanya membuat anak-anak lebih bersemangat, tetapi juga menjadi sarana efektif dalam menanamkan nilai “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” melalui praktik nyata dalam interaksi seharihari di kelas. Dengan demikian, ice breaking berperan penting sebagai metode pembelajaran yang menyenangkan sekaligus sarat nilai edukatif. Gambar 2. Ice breaking 3) Games Kegiatan game ini dilakukan oleh Ajeng Wulandari dan Vidia Zahra Nabila, Mereka adalah mahasiswa dari jurusan Hukum Ekonomi Syariah UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pelaksanaan aktualisasi dilakukan di kelas 5A SDN 169 Pelita. Kegiatan game ini bertujuan untuk membangun keterampilan sosial, meningkatkan komunikasi dan kerja sama tim, mengurangi stress, serta membangun hubungan baru. Melalui game, anak-anak dapat belajar berinteraksi, menyelesaikan konflik, dan mencapai tujuan bersama secara lebih menyenangkan. Menurut Samuel Henry, Game merrupakan suatu bentuk hiburan yang seringkali dijadikan sebagai penyegar pikiran dari rasa penat yang disebabkan oleh aktivitas dan rutinitas kita. Tujuan dari kegiatan game ini untuk memberikan permainan edukatif yang menyenangkan dan juga pengalaman dalam belajar yang seru. Game yang dilakukan juga tidak hanya untuk menghibur, tetapi juga untuk melatih konsentrasi untuk anak-anak. Kegiatan ini juga membantu anak-anak berkomunikasi dengan baik, menghargai pendapat teman dan fokus dalam belajar. Game juga membantu anak-anak supaya merasa lebih nyaman dan tenang, terutama setelah belajar dikelas. Anak-anak lebih antusias dan semangat saat belajar karena lingkungan yang santai dan menyenangkan. Mereka juga menjadi lebih percaya diri, lebih aktif, dan berani berpartisipasi dalam halhal yang baik. Selain itu juga, kegiatan ini membantu anak-anak dalam menyelesaikan konflik secara positif karena mereka belajar bagaimana cara menghormati aturan dalam permainan, berbicara dengan orang lain, dan membuat keputusan. Game juga bisa mengajarkan nilainilai dalam kerjasama, disiplin, sportivitas, dan empati. 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Pancasila Sila (Amelia Nurul Hasanah, dkk.) | 58-68 Dengan sosialisasi dalam kegiatan game ini, diharapkan para anak-anak dapat memperoleh pengalaman belajar dan bermakna melalui kegiatan game ini, mereka juga bisa meningkatkan kemampuan emosional dan sosial mereka. Suasana pembelajaran yang seru dan juga menyenangkan bisa membantu mencapai tujuan bersama dengan baik. Gambar 3. Games 4) Apresiasi untuk Siswa Dalam kegiatan sosialisasi yang telah kami lakukan kami tidak hanya memberikan edukasi mengenai Pancasila saja tetapi kami juga memberikan hadiah kepada para siswa, langkah ini dilakukan sebagai bentuk upaya kami agar para siswa menjadi lebih semangat dalam melaksanakan kegiatan sosialisasi ini, hadiah ini sebagai bentuk apresiasi bagi para siswa yang telah ikut dan aktif dalam proses pembelejaran yang telah kami lakukan pada kegiatan kemarin. Kami berharap dengan adanya hadiah ini dapat memberikan motivasi dan acuan yang baik bagi para siswa agar meraka lebih giat dan semangat melaksanakan proses pembelajaran disekolah dan mengingat semua pembelajaran yang telah kami lakukan serta dapat mengamalkan-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Berikut hadiahhadiah yang telah kami berikan: 1. Susu kotak dan buku: hadiah ini kami berikan kepada siswa yang telah menjawab pertanyaan pada sesi tanya jawab yang kami lakukan. Selain itu kami juga memberikan hadiah ini kepada siswa yang aktif dalam pembelajaran yang kami lakukan. 2. Snack Bucket : hadiah ini kami berikan kepada seluruh siswa kelas 5 di Sdn 169 Pelita hadiah ini kami berikan kepada mereka agar menjadi motivasi dan juga kenangan yang indah bagi mereka. 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Pancasila Sila (Amelia Nurul Hasanah, dkk.) | 58-68 3. Permen : hadiah ini kami berikan kepada siswa yang aktif bertanya pada saat proses pembelajaran. Gambar 4. Apresiasi untuk Siswa 5) Kegiatan Sosial Berbagi Makanan di Pinggir Jalan Penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari merupakan fondasi penting bagi pembentukan karakter mahasiswa, dan hal ini tampak jelas dalam kegiatan sosialisasi berupa pembagian makanan di jalan. Sebagai wujud nyata implementasi Pancasila, kegiatan ini secara langsung mencerminkan penerapan sila pertama dan sila kedua yang menekankan pentingnya ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta menghargai martabat manusia. Pada sila pertama, kegiatan berbagi makanan menumbuhkan kesadaran untuk senantiasa bersyukur atas rezeki yang telah diberikan oleh Tuhan. Melalui kegiatan sosialisasi ini mahasiswa diajak untuk meneladani ajaran agama yang menekankan pentingnya berbuat baik, saling menolong, dan berbagi dengan penuh keikhlasan. Sikap syukur ini tidak hanya diungkapkan dalam bentuk ucapan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata yang membawa manfaat bagi orang lain. Sementara dari sisi sila kedua, pembagian makanan menjadi sarana yang efektif untuk menumbuhkan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab. Kegiatan ini melatih empati, kepedulian, serta kesadaran bahwa setiap manusia memiliki hak yang sama untuk diperlakukan dengan baik. Melakukan Interaksi langsung dengan masyarakat, baik pengguna jalan maupun mereka yang membutuhkan. Kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami kondisi sosial di lapangan. Melalui pengalaman tersebut, tumbuh kepekaan sosial dan pemahaman bahwa masih banyak individu yang memerlukan bantuan. Selain sebagai tindakan sosial, kegiatan ini juga berfungsi sebagai proses pembelajaran karakter. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai arti penting berbagi, tetapi juga memahami peran mereka sebagai generasi muda dalam memperkuat solidaritas dan menebarkan kebaikan. Dengan demikian, kegiatan sosialisasi ini tidak hanya sekadar menjadi aktivitas pembagian makanan, melainkan juga menjadi sarana pembentukan pribadi yang lebih peduli, berempati, dan sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila.