scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Description of the Sorogan Method in learning the Qur'an at the Al-Irfan IslamBiBc Boarding School in Bukittinggi

Hendra H, Hakekat Rabbani Ikhsan, Afrizal A, M. Maulana Ibrahim, Muhammad Nurhabib, Zulfani Sesmiarni

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Issue 5, December 2025, P. 274-281 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17922019 *Corresponding Author Email: [email protected], [email protected], [email protected], muhammadmaulanaibrahim09100[email protected]om, [email protected], [email protected] Deskripsi Metode Sorogan dalam Pembelajaran Al-Qur'an di Pondok Pesantren Al-Irfan Bukittinggi Description of the Sorogan Method in learning the Qur'an at the Al-Irfan IslamBiBc Boarding School in Bukittinggi Hendra1, Hakekat Rabbani Ikhsan2, Afrizal3, M. Maulana Ibrahim4, Muhammad nurhabib5, Zulfani Sesmiarni6 123456Proram Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi A B S T R A C T This study aims to provide a comprehensive overview of the application of the sorogan method in the Qur'an learning process at the Al-Irfan Islamic Boarding School in Bukittinggi. As a traditional method that has long been a hallmark of Islamic boarding schools, sorogan is still practiced because it is considered capable of improving pronunciation accuracy, understanding tajwid, and building closeness between teachers and students. This study used a descriptive qualitative approach with data collection techniques through direct observation, in-depth interviews, and document review. While data analysis was conducted using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana. The research findings indicate that sorogan functions as an important mechanism in fostering students' personal reading skills, strengthening character formation, and creating a more humanistic learning atmosphere. Regular implementation, group division according to ability level, and individual reading evaluations contribute to improving student competency. However, the study also identified several obstacles, particularly related to the motivation and discipline of some students. Overall, the research results confirm that sorogan remains relevant in contemporary Islamic boarding school education and has the potential to be improved through strengthening motivation, more effective classroom management, and more targeted mentoring. A B S T R A K Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran yang komprehensif mengenai penerapan metode sorogan dalam proses pembelajaran Al-Qur’an di Pondok Pesantren Al-Irfan Bukittinggi. Sebagai salah satu metode tradisional yang telah lama menjadi ciri khas pesantren, sorogan masih dipraktikkan karena dianggap mampu meningkatkan ketepatan pelafalan, pemahaman tajwid, serta membangun kedekatan antara guru dan santri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan telaah dokumen, sedangkan analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sorogan berfungsi sebagai mekanisme penting dalam membina kemampuan membaca santri secara personal, memperkuat pembentukan karakter, dan menciptakan suasana pembelajaran yang lebih humanis. Pelaksanaan yang teratur, pembagian kelompok sesuai tingkat kemampuan, serta evaluasi bacaan yang dilakukan secara individual berkontribusi pada peningkatan kompetensi santri. Meskipun demikian, penelitian juga mengidentifikasi sejumlah hambatan, terutama berkaitan dengan motivasi dan kedisiplinan sebagian santri. Secara keseluruhan, hasil penelitian menegaskan bahwa sorogan tetap relevan dalam pendidikan pesantren masa kini dan berpotensi ditingkatkan melalui penguatan motivasi, pengelolaan kelas yang lebih efektif, serta pendampingan yang lebih terarah. PENDAHULUAN Pendidikan Al-Qur’an di lingkungan pesantren merupakan salah satu tradisi keilmuan Islam yang memiliki karakteristik khas dan telah berlangsung secara turun-temurun. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana transmisi ilmu agama, tetapi juga memainkan peran penting dalam membentuk spiritualitas, akhlak, dan kedisiplinan santri. Salah satu metode yang hingga A R T I C L E I N F O Article history: Received November 05, 2025 Revised 10 November 2025 Accepted 25 November 2025 Available online 06 December 2025 Keywords : Pesantren, Pembelajaran, Al-Qur’an, Metode, Sorogan Keywords: Islamic Boarding School, Learning, Al-Quran, Method, Sorogan This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 274-281 Socius E-ISSN: 3025-6704 kini tetap eksis dan dipraktikkan secara luas di berbagai pesantren adalah metode sorogan, yaitu model pembelajaran yang mengedepankan interaksi langsung antara santri dan guru dalam proses membaca serta memahami Al-Qur’an. Dalam praktiknya, sorogan memberikan kesempatan bagi santri untuk membaca ayat secara individual di hadapan ustadz, sehingga guru dapat memberikan koreksi segera, arahan pembenahan bacaan, serta penjelasan terkait kaidah tajwid dan makna ayat secara lebih detail. Keunggulan metode sorogan terletak pada sifatnya yang personal dan intensif, di mana setiap santri mendapatkan perhatian langsung dari pengajar. Pendekatan seperti ini sangat relevan dengan kebutuhan pembelajaran Al-Qur’an yang menuntut ketepatan makhraj, kelancaran tartil, serta kedalaman pemahaman terhadap teks suci. Menurut penelitian Mutmainnah & Arifin (2022), metode pembelajaran berbasis interaksi personal seperti sorogan terbukti mampu meningkatkan ketelitian santri, mempercepat deteksi kesalahan bacaan, dan memperkuat hubungan emosional antara guru dan peserta didik. Karena itulah, banyak pesantren di Indonesia tetap mempertahankan metode tradisional ini meskipun berada di tengah arus modernisasi pendidikan. Pondok Pesantren Al-Irfan Bukittinggi merupakan salah satu pesantren yang masih konsisten menggunakan metode sorogan sebagai pendekatan utama dalam pembelajaran AlQur’an. Hasil observasi lapangan pada 1 Desember 2025 menunjukkan bahwa metode ini memiliki daya tarik tersendiri bagi para pengajar karena diyakini mampu menjaga kualitas bacaan santri secara berkelanjutan. Fenomena yang ditemukan di lapangan memperlihatkan bahwa ketika sorogan dilaksanakan, santri duduk berhadapan langsung dengan ustadz atau ustadzah tanpa sekat formal kelas, sehingga tercipta suasana belajar yang lebih santai namun tetap penuh kehormatan. Di samping itu, santri dapat langsung bertanya ketika mengalami kesulitan dalam membaca, memahami tajwid, atau mengingat aturan-aturan bacaan tertentu. Data lapangan juga menunjukkan bahwa sorogan sangat membantu guru dalam mengidentifikasi kemampuan baca santri secara individual. Misalnya, pada beberapa sesi pembelajaran ditemukan santri yang masih terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an, kurang fokus dalam menyimak, atau bahkan menunjukkan perilaku tidak disiplin seperti berbicara dengan teman atau pura-pura mengantuk. Fenomena-fenomena ini semakin menegaskan pentingnya kehadiran metode sorogan, karena guru dapat langsung memberikan bimbingan personal untuk memperbaiki kualitas bacaan sekaligus menumbuhkan kedisiplinan dan motivasi belajar. Hal ini sejalan dengan temuan studi Maulana (2023) yang menekankan bahwa metode pembelajaran individual dalam pendidikan Al-Qur’an memiliki dampak signifikan terhadap pembentukan karakter belajar santri di era modern. Di tengah berbagai tantangan tersebut, keberlangsungan metode sorogan di Pondok Pesantren Al-Irfan Bukittinggi menjadi bukti bahwa pendekatan pembelajaran tradisional tetap relevan dan dibutuhkan. Dengan adanya bimbingan langsung, kedekatan guru dan santri, serta peluang evaluasi bacaan yang konsisten, sorogan menjadi media efektif dalam menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an dan menguatkan spiritualitas santri. Oleh karena itu, metode ini tidak hanya dipandang sebagai warisan tradisi, tetapi juga sebagai strategi pedagogik yang memiliki manfaat nyata dalam konteks pendidikan pesantren masa kini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif, yang dirancang untuk menggali dan memotret secara komprehensif praktik penerapan metode sorogan dalam pembelajaran Al-Qur’an di Pondok Pesantren Al-Irfan Bukittinggi. Pendekatan ini dipilih karena memberikan ruang bagi peneliti untuk memahami secara langsung proses belajar, pengalaman para santri, serta pola interaksi yang terbentuk antara ustadz dan santri dalam situasi Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 274-281 Hendra, et., al/ Deskripsi Metode Sorogan pembelajaran yang apa adanya. Pendekatan kualitatif seperti ini juga lazim digunakan dalam penelitian pendidikan Islam karena mampu menangkap makna dan realitas sosial secara mendalam (Syaodih, 2020). Penelitian dilakukan di lingkungan pesantren dengan melibatkan sejumlah ustadz, ustadzah, santri, dan pihak pengelola yang dianggap mengetahui secara detail pelaksanaan metode sorogan. Penentuan informan menggunakan purposive sampling, yakni pemilihan partisipan berdasarkan pertimbangan tertentu, terutama tingkat keterlibatan mereka dalam pembelajaran Al-Qur’an. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama, yaitu observasi lapangan, wawancara mendalam, dan penelusuran dokumen, sehingga peneliti memperoleh gambaran menyeluruh mengenai sistem pembelajaran, dinamika pelaksanaan metode, serta kendala yang muncul di lapangan. Penggunaan beragam teknik pengumpulan data ini penting untuk memperkaya perspektif dan memperkuat validitas temuan (Sugiyono, 2022). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan model interaktif yang diperkenalkan oleh Miles, Huberman, dan Saldana, meliputi proses mereduksi data, menyajikannya secara sistematis, dan kemudian menarik kesimpulan secara bertahap. Ketiga tahapan ini dilakukan secara siklik dan terus-menerus sepanjang penelitian berlangsung. Untuk memastikan keabsahan data, penelitian ini menerapkan triangulasi sumber dan teknik, serta melakukan member checking kepada partisipan untuk memastikan kesesuaian interpretasi peneliti dengan pengalaman informan. Seluruh tahapan penelitian dijalankan dengan menjunjung etika penelitian pendidikan, termasuk memperoleh izin lembaga, menjaga anonimitas informan, serta mematuhi norma-norma yang berlaku di lingkungan pesantren (Afifuddin & Saebani, 2019). HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Alasan Pesantren Tetap Mempertahankan Metode Sorogan Hasil wawancara dengan Ustadz Ridho Handika menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Al-Irfan Bukittinggi masih mempertahankan metode sorogan karena metode ini dianggap sebagai bagian dari tradisi pendidikan pesantren yang telah berlangsung secara turun-temurun, dan bahkan digunakan di banyak pesantren di berbagai negara. Sorogan dinilai sangat efektif untuk memastikan santri tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami isi, makna, dan kandungan ajaran yang dibaca. Ustadz Ridho menjelaskan bahwa banyak lembaga pendidikan formal cenderung hanya menekankan kemampuan membaca tanpa memastikan pemahaman yang mendalam. Oleh karena itu, sorogan dipandang relevan untuk menjaga kualitas pembelajaran Al-Qur’an. Dalam prosesnya, setiap santri membaca secara langsung di hadapan ustadz, sehingga ketika muncul kesulitan seperti salah makhraj, tidak memahami tajwid, atau mengalami kebingungan pada makna tertentu santri bisa langsung bertanya. Interaksi yang dekat ini juga menciptakan hubungan emosional yang baik antara guru dan santri serta mendorong terbentuknya kedisiplinan dalam belajar Al-Qur’an. 2. Alasan Institusi Memilih dan Mempertahankan Sorogan Temuan penelitian juga memperlihatkan bahwa pesantren tetap konsisten menggunakan sorogan karena metode ini telah terbukti memberi dampak positif terhadap kualitas bacaan AlQur’an santri. Menurut Ustadz Ridho, sorogan memungkinkan guru mengetahui kemampuan santri secara individual. Selama sesi berlangsung, ustadz dapat langsung mengoreksi kesalahan baca, memperbaiki pelafalan, dan menunjukkan cara membaca yang sesuai kaidah tajwid. Pendekatan langsung seperti ini sulit dicapai melalui model klasikal yang bersifat massal. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 274-281 Socius E-ISSN: 3025-6704 Dengan demikian, keputusan pesantren mempertahankan sorogan bukan sekadar mempertahankan tradisi, melainkan karena metode ini efektif dalam memastikan ketepatan bacaan dan pemahaman santri terhadap Al-Qur’an. 3. Mekanisme Pelaksanaan Sorogan di Pesantren Hasil wawancara dengan Ustadzah Asmaul Husna mengungkapkan bahwa pelaksanaan sorogan di Pondok Pesantren Al-Irfan sudah memiliki jadwal baku. Kegiatan dilaksanakan setiap hari setelah Dzuhur dan Ashar, dengan hari Ahad sebagai hari libur bagi santri. Pelaksanaannya dilakukan melalui pembagian kelompok. Santri dengan kemampuan baca yang masih lemah dibimbing langsung oleh Ustadzah Asmaul Husna, sementara santri yang sudah lebih lancar dibimbing oleh Ustadz Ridho. Pembagian ini bertujuan agar proses pembelajaran lebih efektif dan sesuai kemampuan masing-masing santri. Kegiatan dilakukan dalam bentuk duduk bersama di majelis ilmu, bukan di ruang kelas dengan bangku seperti sekolah formal. Model duduk melingkar ini memudahkan interaksi langsung dan memungkinkan ustadz memantau bacaan setiap santri dengan lebih intensif. 4. Peran Ustadz dan Ustadzah dalam Pelaksanaan Sorogan Peran ustadz dan ustadzah sangat sentral dalam keberhasilan metode sorogan. Berdasarkan penuturan Ustadz Ridho, tugas utama pengajar bukan hanya memberikan teori, tetapi membimbing bacaan santri agar benar, fasih, dan meningkat dari waktu ke waktu. Guru memberikan contoh pelafalan yang tepat, memperbaiki kesalahan yang muncul, serta memberikan dorongan agar santri tetap semangat mempelajari Al-Qur’an. Selain mengoreksi, guru juga memastikan bahwa setiap santri memahami kaidah tajwid yang dipraktikkan dalam bacaannya. Peran ini membuat sorogan menjadi metode yang sangat personal dan mengutamakan kualitas penguasaan bacaan. 5. Pengaturan Santriwan dan Santriwati saat Sorogan Ustadzah Asmaul Husna menjelaskan bahwa jumlah santriwati yang mengikuti sorogan di pesantren masih relatif sedikit, yaitu sekitar delapan orang. Oleh sebab itu, pelaksanaan sorogan untuk sementara masih digabung antara santri laki-laki dan perempuan. Meskipun demikian, pengajar tetap menerapkan aturan ketat agar santri tidak duduk berdekatan atau bersentuhan, sesuai dengan norma pemisahan gender dalam pendidikan pesantren. 6. Sistem Evaluasi Bacaan Santri Untuk memastikan kemampuan santri berkembang, evaluasi dilakukan langsung setelah sesi pembelajaran. Ustadzah Asmaul Husna menjelaskan bahwa setiap santri diminta membaca beberapa ayat secara mandiri misalnya lima ayat atau setengah halaman. Setelah itu, ustadz menguji satu per satu bacaan mereka, baik dari aspek kelancaran maupun pemahaman tajwid. Evaluasi secara individual ini memudahkan guru menilai perkembangan setiap santri secara objektif. 7. Kendala dalam Pelaksanaan Metode Sorogan Meskipun dinilai efektif, pelaksanaan sorogan juga menghadapi sejumlah kendala. Berdasarkan wawancara dengan Ustadz Ridho, tantangan utama adalah kurangnya kesungguhan sebagian santri dalam mengikuti proses pembelajaran. Beberapa santri sering berbicara dengan teman, kurang fokus saat diminta menyimak, bahkan ada yang berpura-pura mengantuk. Perilaku seperti ini menghambat efektivitas pembelajaran dan membuat guru perlu memberikan perhatian ekstra dalam membangun kedisiplinan dan motivasi belajar. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 274-281 Hendra, et., al/ Deskripsi Metode Sorogan PEMBAHASAN 1. Relevansi Metode Sorogan dalam Pembelajaran Al-Qur’an Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Al-Irfan Bukittinggi mempertahankan metode sorogan karena dianggap sebagai pendekatan paling efektif dalam memastikan ketepatan bacaan dan kualitas penguasaan Al-Qur’an santri. Metode ini memberikan kesempatan bagi guru untuk mendampingi santri secara individual sehingga setiap kesalahan bacaan dapat diperbaiki secara langsung. Temuan ini konsisten dengan berbagai kajian akademik yang menyebutkan bahwa sorogan merupakan model pembelajaran khas pesantren yang menekankan kedalaman pemahaman dan ketelitian dalam membaca teks keagamaan (Dawam, 2021). Fenomena lapangan juga memperlihatkan bahwa sebagian santri yang sebelumnya memiliki bacaan kurang lancar mengalami peningkatan signifikan setelah mengikuti sorogan secara berkelanjutan. Ketika santri membaca secara langsung di hadapan guru, mereka merasa lebih bertanggung jawab atas kemajuan belajar mereka. Sejalan dengan pendapat Mahmud (2020), keberhasilan pendidikan Al-Qur’an tidak hanya diukur dari kemampuan melafalkan huruf hijaiyah dengan benar, tetapi juga kemampuan memahami makna, nilai, serta pesan moral yang terkandung dalam ayat-ayat suci. Dengan demikian, relevansi sorogan semakin kuat karena metode ini memfasilitasi proses pembelajaran yang bersifat komprehensif mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. 2. Sorogan sebagai Metode yang Memperkuat Hubungan Guru dan Santri Temuan lapangan memperlihatkan bahwa sorogan bukan hanya aktivitas membaca AlQur’an, tetapi juga menjadi ruang interaksi emosional antara guru dan santri. Dalam suasana duduk melingkar, berhadapan secara langsung, terjadi proses pembinaan akhlak, kedisiplinan, dan sikap hormat yang sulit ditemukan pada metode pembelajaran massal. Hubungan personal ini menciptakan kondisi belajar yang hangat, kondusif, dan penuh keteladanan. Hal ini sejalan dengan teori pendidikan pesantren yang menyatakan bahwa relasi guru dan santri (kyai–murid) merupakan pilar utama dalam sistem pendidikan Islam tradisional (Nizar, 2020). Keteladanan (uswah) menjadi aspek penting yang semakin mudah terbangun melalui interaksi langsung dalam sorogan. Di Al-Irfan, santri kerap menunggu giliran dengan penuh kesabaran, memperhatikan bacaan temannya, dan menerima teguran guru dengan sikap rendah hati sebuah perilaku yang mencerminkan internalisasi nilai-nilai moral. Dengan demikian, sorogan tidak hanya memperkuat aspek akademik, tetapi juga menjadi media pembentukan karakter dan pembiasaan adab belajar. 3. Mekanisme Pelaksanaan Sorogan sebagai Strategi Penguatan Kompetensi Individual Pembagian santri ke dalam kelompok kemampuan kategori lemah, sedang, dan lancar menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Al-Irfan telah menerapkan prinsip pembelajaran berdiferensiasi sebelum konsep tersebut populer dalam pendidikan modern. Santri dengan kemampuan dasar membaca Al-Qur’an ditempatkan dalam kelompok kecil yang mendapat bimbingan lebih intensif, sedangkan santri yang lebih mahir diarahkan untuk memperbaiki makhraj, tajwid, dan kelancaran bacaan. Strategi ini sejalan dengan prinsip student-centered learning yang menekankan bahwa pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan masingmasing peserta didik (Kemdikbud, 2021). Fenomena lapangan menunjukkan bahwa pengelompokan ini membuat proses belajar lebih efektif. Guru tidak perlu mengulang materi dasar kepada santri yang sudah mahir, sementara santri pemula mendapatkan bimbingan yang lebih terfokus. Pemilihan waktu pelaksanaan ba’da Dzuhur dan Ashar juga membantu meningkatkan kualitas belajar, karena pada waktu tersebut santri relatif tenang setelah beristirahat dan selesai melaksanakan ibadah. Ini Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 274-281 Socius E-ISSN: 3025-6704 menunjukkan bahwa pesantren memperhatikan kondisi psikologis dan ritme harian santri dalam membangun mekanisme pembelajaran yang optimal. 4. Peran Guru dalam Proses Sorogan Peran ustadz dan ustadzah dalam pelaksanaan sorogan sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Guru tidak hanya bertindak sebagai pengoreksi bacaan, tetapi juga sebagai pembimbing spiritual, motivator, dan pengarah perkembangan karakter santri. Temuan lapangan menunjukkan bahwa guru secara konsisten mengoreksi kesalahan bacaan santri, mengingatkan aspek tajwid, serta memberikan dorongan motivasi melalui kata-kata yang lembut namun tegas. Konsep ini sejalan dengan peran murobbi dalam pendidikan Islam, yaitu guru yang mendidik secara holistik mencakup aspek intelektual, moral, dan spiritual (Abdullah, 2022). Dalam sorogan, kualitas interaksi tatap muka memungkinkan guru memberikan umpan balik yang spesifik dan langsung, sehingga santri dapat segera memperbaiki kesalahan. Pola seperti ini membuat pembelajaran lebih bermakna dan memperkuat hubungan emosional antara guru dan santri. 5. Dinamika Pembelajaran terkait Pemisahan Santriwan dan Santriwati Walaupun idealnya pembelajaran di pesantren dilakukan terpisah antara santri laki-laki dan perempuan, di Pondok Pesantren Al-Irfan penggabungan masih dilakukan karena jumlah santriwati yang terbatas. Meski demikian, pesantren tetap menerapkan aturan ketat terkait batasan interaksi, seperti menjaga jarak tertentu, tidak melakukan kontak fisik, dan tidak duduk terlalu dekat. Hal ini menunjukkan bahwa pesantren berupaya menyeimbangkan prinsip syar’i dengan kondisi riil di lapangan. Dalam perspektif pendidikan pesantren, kebijakan semacam ini merupakan bentuk adaptasi pedagogis untuk memastikan kegiatan pembelajaran dapat berjalan efektif tanpa melanggar nilai-nilai moral dan etika pergaulan (Azra, 2019). Temuan lapangan memperlihatkan bahwa santri cukup patuh terhadap aturan tersebut, sehingga penggabungan sementara ini tidak mengganggu konsentrasi maupun tujuan pembelajaran. Dengan demikian, dinamika ini menunjukkan fleksibilitas pesantren dalam menyikapi keterbatasan sumber daya. 6. Evaluasi sebagai Komponen Penguatan Pembelajaran Evaluasi individual pada akhir sesi sorogan merupakan aspek penting yang menegaskan mutu pembelajaran. Dalam praktiknya, setiap santri diminta membaca ulang bagian tertentu sebagai bentuk uji pemahaman dan kemampuan membaca. Guru kemudian memberikan penilaian spontan, baik berupa perbaikan makhraj, ketepatan tajwid, maupun kelancaran. Model penilaian seperti ini sejalan dengan konsep authentic assessment, yakni penilaian yang dilakukan dalam konteks nyata dan sesuai dengan kompetensi yang diharapkan (Sukardi, 2021). Fenomena lapangan memperlihatkan bahwa evaluasi semacam ini membuat santri merasa lebih termotivasi untuk belajar sebelum datang ke majelis sorogan. Mereka menyadari bahwa kemampuan mereka akan diuji secara langsung, sehingga memacu mereka untuk membaca lebih rajin di luar jam sorogan. Penilaian langsung ini juga memudahkan guru dalam mengidentifikasi santri yang membutuhkan pendampingan intensif. 7. Kendala dalam Pelaksanaan Sorogan dan Implikasinya Meskipun memiliki banyak keunggulan, pelaksanaan sorogan di Al-Irfan tidak terlepas dari kendala. Temuan lapangan menunjukkan bahwa beberapa santri tampak kurang serius, mudah berbicara dengan teman, tidak fokus saat menunggu giliran membaca, bahkan ada yang berpurapura mengantuk untuk menghindari giliran. Perilaku ini wajar mengingat sebagian santri berada pada usia remaja, yang menurut penelitian psikologi perkembangan cenderung memiliki tingkat konsentrasi yang fluktuatif. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 274-281 Hendra, et., al/ Deskripsi Metode Sorogan Namun demikian, kendala ini memiliki implikasi serius terhadap efektivitas pembelajaran. Ketidakfokusan santri dapat menghambat perkembangan kemampuan membaca Al-Qur’an dan menambah beban guru dalam menjaga ritme pembelajaran. Situasi ini menegaskan pentingnya penguatan motivasi, pendekatan personal, variasi metode belajar, serta peningkatan disiplin belajar santri. Kajian terbaru dalam pendidikan Islam menegaskan bahwa strategi motivasional dan pendekatan humanis berperan besar dalam meningkatkan minat belajar santri, terutama pada pembelajaran berbasis kitab dan Al-Qur’an (Arifin, 2023). SIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode sorogan masih memiliki posisi yang sangat penting dalam proses pembelajaran Al-Qur’an di Pondok Pesantren Al-Irfan Bukittinggi. Metode ini tetap dipilih karena mampu memberikan kesempatan kepada ustadz untuk membimbing santri secara langsung, memperbaiki kesalahan bacaan secara tepat, serta memastikan pemahaman santri terhadap tajwid dan kandungan ayat. Pola pembelajaran individual yang diterapkan dalam sorogan terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an sekaligus mempererat hubungan emosional antara guru dan santri. Di samping itu, pelaksanaan sorogan yang berlangsung dengan sistematis melalui pengelompokan kemampuan, pemilihan waktu yang teratur, serta adanya proses evaluasi rutin berkontribusi pada perkembangan kemampuan santri secara konsisten. Meski demikian, penelitian ini juga menemukan beberapa kendala, terutama berkaitan dengan kurangnya fokus dan motivasi sebagian santri yang terkadang memengaruhi kelancaran proses pembelajaran. Kondisi ini menandakan perlunya penerapan strategi yang mampu meningkatkan motivasi belajar, variasi pendekatan pengajaran, serta penguatan kedisiplinan santri. Secara keseluruhan, sorogan tidak hanya berfungsi sebagai metode transfer kemampuan membaca Al-Qur’an, melainkan juga menjadi sarana pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan hubungan spiritual antara santri dan guru. Temuan ini menguatkan bahwa sorogan tetap relevan untuk dipertahankan, sekaligus dapat dikembangkan lebih lanjut agar sesuai dengan kebutuhan pendidikan pesantren pada era yang terus berkembang. REFERENSI Abdullah, M. (2022). Pendidikan karakter dalam perspektif Islam: Peran guru sebagai murabbi. Jakarta: Kencana. Afifuddin, & Saebani, B. A. (2019). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: Pustaka Setia. Arifin, Z. (2023). Motivasi belajar santri dalam pembelajaran kitab kuning di pesantren. Jurnal Pendidikan Islam, 15(2), 112–125. Azra, A. (2019). Pendidikan Islam: Tradisi dan modernisasi menuju milenium baru. Jakarta: Kencana. Bruinessen, M. van. (2015). Kitab kuning, pesantren dan tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. Bandung: Mizan. Dawam, R. (2021). Metode pembelajaran pesantren tradisional: Sorogan dan bandongan dalam kajian kontemporer. Jurnal Studi Keislaman, 9(1), 45–60. Hanafi, Y. (2022). Penguatan motivasi belajar santri melalui pendekatan humanis dalam pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan & Pembelajaran, 17(3), 210–225. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2021). Pembelajaran berpusat pada siswa dalam kurikulum sekolah. Jakarta: Kemdikbud. Mahmud, A. (2020). Pembelajaran Al-Qur’an berbasis pemahaman makna dan nilai. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 274-281 Socius E-ISSN: 3025-6704 Maulana, R. (2023). Metode pembelajaran individual dalam pendidikan Al-Qur’an. Jurnal Studi Keislaman Nusantara, 9(1), 45–57. Moleong, L. J. (2019). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Mutmainnah, A., & Arifin, Z. (2022). Strategi pembelajaran Al-Qur’an di pesantren tradisional. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 7(2), 115–128. Nizar, S. (2020). Sejarah pendidikan Islam: Menelusuri jejak pendidikan Islam klasik hingga modern. Jakarta: Kencana. Sugiyono. (2022). Metode penelitian kualitatif, kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sukardi. (2021). Evaluasi pendidikan: Prinsip dan praktik penilaian autentik. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Syaodih, N. (2020). Metode penelitian pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.