scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Pengaruh Pijat Bayi terhadap Durasi Menyusu Pada bayi di PMB Sri KD Lahat 2024

Nia Clarasari Mahalia Putri, Nurayuda, Jenny Kartika

Full text

2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Pengaruh Pijat Bayi terhadap (Nia Clarasari Mahalia Putri, et., al) | 253-260 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 11, December 2025, P. 253-260 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17919970 Pengaruh Pijat Bayi terhadap Durasi Menyusu Pada bayi di PMB Sri KD Lahat 2024 The Effect of Infant Massage on Breastfeeding Duration among Infants at PMB Sri KD Lahat in 2024 Nia Clarasari Mahalia Putri 1, Nurayuda2, Jenny Kartika3 12 3 Prodi DIII Kebidanan Kampus Muara Enim, Poltekkes Kemenkes Palembang Email : [email protected] Abstrak Durasi lama menyusui bayi berbeda-beda sesuai dengan pola hisap bayi. Jika kegiatan menyusui berlangsung terlalu lama (lebih dari setengah jam) atau terlalu pendek (kurang dari 4 menit), hal ini menunjukkan kemungkinan adanya masalah pada perlekatan antara bayi dan puting susu ibu. Frekuensi menyusu pada bayi akan sangat mempengaruhi fisik dan emosional bayi yang mana dengan frekuensi dan durasi menyusu akan meningkatkan kondisi yang tenang kepada bayi dan berat badan bayi akan bertambah. Upaya untuk menawarkan meningkatkan kondisi yang tenang dan berat badan bayi salah satunya yaitu pijat bayi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pijat bayi terhadap durasi menyusu pada bayi. Rancangan pada penelitian yaitu Quasi-Experiment dengan desain Non Equivalent Control Group. Pengambilan sampel ini dengan teknik purposive sampling. Jumlah sampel 30 responden yang dibagi menjadi 2 kelompok. Besar sampel pada kelompok intervensi sebanyak 15 orang dan kelompok kontrol sebanyak 15 orang. Berdasarkan hasil analisis univariat sebelum dilakukan pijat dan tidak dilakukan pijat bayi sebagian besar durasi menyusu pendek berjumlah 23 responden (70%), setelah diberikan perlakuan pijat bayi dan tidak dilakukan pijat bayi sebagian besar bayi mengalami durasi menyusu yang panjang yaitu berberjumlah 16 responden (53.3%) dapat diketahui sebagian bayi menyusu setelah dilakukan pijat berjumlah 15 responden (50%) yaitu 14 responden (46.7%) menyusu panjang. Dan sebagian bayi menyusu setelah tidak dilakukan pijat 2 responden (6.7%) menyusu yang panjang. Dari hasil analisis uji bivariat menggunakan uji Wilcoxon Sign Rank Test, didapatkan nilai yang signifikan yaitu (p value: 0.000), sehingga p<0.005, dapat disimpulkan terdapat pengaruh pijat bayi terhadap durasi menyusu pada bayi. Oleh karena itu, diharapkan kepada tenaga kesehatan untuk mengaplikasikan pijat bayi ini sebagai metode untuk meningkatkan durasi menyusu. Kata Kunci: Pijat Bayi, Durasi Menyusu Abstract The duration of breastfeeding varies according to the baby’s suction pattern. If breastfeeding takes too long (more than half an hour) or too short (less than 4 minutes), this indicates a possible problem with the attachment between the baby and the mother’s nipple. The suckling frequency of the baby will greatly affect the baby’s physical and emotional frequency with the duration and the duration of the feed will improve the baby’s calm condition and the baby’s weight will increase. Attempts to offer improved calm conditions and baby weight one of them is baby massage on the duration of breastfeeding in infants. The research design is quasi-experiment with non-equivalent control group design. This sampling by purposive sampling technique. Sample size 30 groups a large sample in the intervention group of 15 people and a control group of 15 people. Based on the results of univariate analysis before the massage and did not do the baby massage most of the duration of short suckling amounted to 23 respondents (70%), afterbeing given infant massage treatment and not done infant massage most babies have long duration of feed that is amounted to 16 respondents (53.3%) can be known some babie suckle after the massage amounted to 15 respondents (50%) ie 14 respondents (46.7%) following the length. And some infants suckled after no long-term breastfeeding 2 (6.7%) breastfeeder massage. From the result of bivariate test analysis using test of Wilcoxon Sign Rank Test, got significant value that is (p value: 0.000), so p<0.005, it can be concluded there is influence of baby massage to duration of feeding in baby. It is therefore desirable for health workers to apply this baby massage as a method to increase the duration of suckling. Keywords: Baby Massage, Duration Breasfeading Article Info Received date: 25 November 2025 Revised date: 30 November 2025 Accepted date: 12 December 2025 PENDAHULUAN 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Pengaruh Pijat Bayi terhadap (Nia Clarasari Mahalia Putri, et., al) | 253-260 Bayi merupakan anak dengan rentang usia 0-12 bulan. Pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang pesat (Rahmaniah, Hanifah, 2015). Air Susu Ibu (ASI) merupakan zat yang sempurna untuk pertumbuhan bayi dan dapat mempercepat perkembangan berat badan bayi. Selain itu, ASI mengandung zat penolak/pencegah penyakit serta dapat memberikan kepuasan dan mendekatkan hati ibu dan bayi sebagai sarana menjalin hubungan kasih sayang. Oleh karena itu World Health Organization (WHO) / United Nations Children’s Fund (UNICEF) telah merekomendasikan standar emas pemberian makan pada bayi yaitu menyusui bayi secara eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan didahului dengan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) segera setelah lahir, mulai umur 6 bulan berikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dan teruskan menyusu hingga anak berumur 2 tahun (Kemenkes, 2015). Air Susu Ibu adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam–garam anorganik yang di sekresikan oleh kelenjar mammae ibu dan dapat berguna sebagai makanan bayi (Maryunani, 2015, p. 40). Pijat bayi adalah sentuhan yang diberikan lewat kulit bayi sebagai upaya untuk memberi rangsangan yang bermakna kasih sayang. Salah satu manfaat dari pijat bayi adalah merangsang ujung – ujung syaraf bayi yang berhubungan dengan reflek isap bayi menjadi kuat. Jika reflek isap bayi kuat pada putting susu dan syaraf – syaraf pada glandula pituitaria posterior untuk mengeluarkan oksitosin dari pituitaria posterior. Dengan rangsangan yang kuat, maka volume oksitosin yang dikeluarkan akan lebih banyak. Semakin banyak volume oksitosin yang dikeluarkan, maka kemampuan untuk merangsang pengeluaran ASI sangat kuat. Sehingga ASI yang keluar semakin banyak, diikuti dengan produksi yang terus menerus, maka kebutuhan bayi terpenuhi secara maksimal (Mandriwati 2013). Penelitian medis terbaru telah membuktikan banyaknya manfaat pijat bayi. Pada dasarnya, pijat bayi bermanfaat merangsang syaraf motorik, memperbaiki pola tidur, membantu pencernaan dan meningkatkan ketenangan emosional, selain juga menyehatkan tubuh dan otot – ototnya. Bayi yang dipijat dengan baik dan teratur dapat tumbuh lebih sehat dan berkembang lebih baik (Azz, City Ardhillah, 2016, p. 105). Menurut Kelly (2008) dalam jurnal Fitriahadi (2016) Dengan diberikan pijat bayi aktivitas Nervus vagus mempengaruhi mekanisme penyerapan makanan pada bayi yang dipijat mengalami peningkatan tonus nervus vagus yang akan menyebabkan peningkatan enzim penyerapan gastrin dan insulin sehingga menyebabkan penyerapan makanan menjadi lebih baik dan meningkatkan berat badan bayi. Aktivitas Nervus Vagus meningkatkan volume ASI, penyerapan makanan menjadi lebih baik karena peningkatan aktivitas nervus vagus menyebabkan bayi cepat lapar dan akan lebih sering menyusu pada ibunya sehingga ASI akan lebih banyak diproduksi. Nizar et al (2016) dalam jurnal Sari (2016) yang menyatakan ada hubungan antara durasi meyusui dengan kejadian gizi kurang, pernyataan Almatsier pada tahun 2011 yang menyatakan durasi menyusui yang baik > 15 menit dan pernyataan ini juga didukung oleh WHO pada tahun 2011 yang menyatakan durasi menyusui penting untuk pertumbuhan bayi agar bayi mendapatkan gizi yang sempurna pada ASI yang terdapat dalam forcemilk (ASI awal) dan hindmilk (ASI akhir). Durasi yang lama dalam menyusui akan mendapatkan gizi yang lengkap dari ASI karena mendapat ASI yang awal sampai ASI akhir. Banyaknya bayi yang mengalami T atau berat badannya tidak naik sebagian besar disebabkan oleh durasi yang singkat, karena ASI yang didapat hanya ASI awal dan tidak sampai ASI akhir sehingga bayi banyak yang tidak mendapat gizi yang optimal sehingga banyak yang berat badanya tidak naik, jika kondisi ini diteruskan maka akan berakibat buruk pada bayi dan beresiko mengalami gizi kurang dan gizi buruk. Distribusi durasi menyusu bayi sebelum dilakukan pijat bayi dengan durasi <5 menit lebih banyak 13 (86,6%) dibanding durasi menyusu ≥ 5 menit sebanyak 2 (13,3%) sedangkan distribusi durasi menyusu bayi sesudah dilakukan pijat bayi dengan durasi ≥ 5 menit lebih banyak 9 (60%), 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Pengaruh Pijat Bayi terhadap (Nia Clarasari Mahalia Putri, et., al) | 253-260 dibanding dengan durasi menyusu < 5 menit 6 (40%) (Fitriahadi, 2016). Banyak faktor yang mempengaruhi proses laktasi terutama teknik menyusui, frekuensi, durasi dan gizi ibu menyusui tersebut, jika teknik menyusui baik maka proses laktasi berjalan lancar namun banyak ibu menyusui tidak menyusui bayinya dikarenakan salah managemen laktasi terutama dengan teknik menyusuinya. Kesalahan tatalaksana laktasi ini mengakibatkan timbulnya rasa sakit pada puting sehingga ibu berhenti melakukan proses laktasi, selain itu kesalahan tatalaksana juga mengakibatkan jumlah ASI yang dikonsumsi bayi tidak optimal. Frekuensi menyusui juga merupakan hal yang berpengaruh pada peningkatan berat badan bayi, semakin tinggi frekuensi menyusu maka bayi mendapat gizi yang lebih optimal sehingga berat badannya meningkat. Memberikan ASI secara on-demand atau menyusui kapanpun bayi meminta adalah cara terbaik karena dapat mencegah masalah pada proses menyusui dan bayi tetap kenyang . Selain frekuensi, durasi menyusui juga berpengaruh, dimana jika durasi menyusu lama maka bayi akan mendapat sehingga bayi menerima asupan foremilk dan hindmilk secara seimbang (Sari, 2016) METODE Jenis Penelitian ini adalah penelitian experiment, menggunakan desain penelitian eksperimental dengan jenis quasi-experiment. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Non Equivalent Control Group, dalam rancangan ini pengelompokkan anggota sampel pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak dilakukan secara random atau acak di Tempat PMB Sri KD Lahat. Waktu penelitian pada bulan April-Juni Tahun 2024 Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono, 2016: 80). Sampel pada penelitian ini adalah sebagian dari populasi bayi yaitu bayi berusia 3 hari – 7 hari di PMB Sri KD Lahat. Masing-masing kelompok yaitu kelompok dilakukan pijat bayi dan kelompok yang tidak dilakukan pijat bayi. Ukuran sampel yang layak dalam penelitian adalah antara 30 sampai dengan 500 (Sugiyono, 2016). Peneliti mengumpulkan semua sampel untuk melakukan randomisasi terhadap populasi sehingga didapat, sebanyak 30 orang sampel yang dibagi menjadi 2 kelompok. Besar sampel pada kelompok eksperimen sebanyak 15 orang dan kelompok kontrol sebanyak 15 orang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling, dimana pengambilan sampel didasarkan pada kriteria yang sudah diketahui sebelumnya. HASIL Univariat Analisis data ini dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan persentase dari variabel – variabel penelitian. Data disajikan dalam bentuk tabel dan teks. Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan usia ibu No Usia Jumlah Presentase % 1 20 1 3.3 2 22 3 10.0 3 23 2 6.7 4 24 1 3.3 5 25 2 6.7 6 26 6 20.0 7 27 2 6.7 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Pengaruh Pijat Bayi terhadap (Nia Clarasari Mahalia Putri, et., al) | 253-260 8 28 2 6.7 9 29 2 6.7 10 30 2 6.7 11 32 6 20.0 12 33 1 3.3 Total 30 100 Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa jumlah responden usia ibu mayoritas yang menyusui bayinya sebanyak 6 responden (20.0%) usia 26 tahun dan 6 responden (20%) usia 32 tahun. Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Paritas No Anak keJumlah Presentase (%) 1. 1 10 33.3 2. 2 14 46.7 3. 3 6 20.0 Total 30 100 Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat bahwa jumah responden paritas sebanyak 14 responden (46.7%) anak ke 2, 10 responden (33.3%) anak ke 1, dan 6 Responden (20.0%) anak ke 3. Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi karakteristik Berdasarkan Usia Bayi No Usia Bayi Jumlah Presentase 1. 3 21 70.0 2. 4 8 26.7 3. 5 1 3.3 Total 30 100 Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa jumlah responden mayoritas usia bayi sebanyak 21 responden (70.0%) usia bayi 3 hari, 8 responden (26.7%) usia bayi 4 hari, dan 1 responden (3.3%) usia bayi 5 hari. Durasi menyusu sebelum dan sesudah Perlakuan Pijat Dalam penelitian ini durasi menyusu bayi sebelum dilakukan pijat yaitu pendek (kurang dari 4 menit), normal (20 – 30 menit) Panjang (30 – 45 menit). Adapun tabel distribusi frekuensinya adalah sebagai berikut: Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Sebelum dan Sesudah perlakuan Pijat pada bayi No Pijat bayi Sebelum Sesudah Durasi Menyusu Frekuensi Persentase (%) Frekuensi Persentase (%) 1. Pendek 23 70 3 10 2. Normal 7 30 11 36.7 3. Panjang 0 0 16 53.3 Jumlah 30 100 30 100 Sumber: hasil penelitian Berdasarkan tabel 4.4 diatas, dapat diketahui bahwa dari 30 responden sebelum diberikan perlakuan pijat bayi dan tidak dilakukan pijat bayi di BPM Vitri Suzanti, Choirul Mala Husin, dan Fauziah Hatta sebagian besar mengalami durasi menyusu yang pendek yaitu berjumlah 23 responden (70%). Sesudah diberikan perlakuan pijat bayi dan tidak dilakukan pijat bayi sebagian besar bayi mengalami durasi menyusu yang panjang yaitu berjumlah 16 responden (53.3%). Bivariat 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Pengaruh Pijat Bayi terhadap (Nia Clarasari Mahalia Putri, et., al) | 253-260 Tabel 4.5 Pengaruh Pijat bayi terhadap durasi menyusu pada bayi. Durasi_menyusu_bayi_post test Total p value Pendek Normal Panjang Durasi_men yusu_bayi_p re test Pendek 3 8 12 23 0.000 13.0 34.8 52.2 100.0 Normal 0 3 4 7 0.0 42.9 57.1 100.0 Total 3 11 16 30 10.0 36.7 53.3 100.0 Sumber: hasil penelitian (uji wilcoxon) Berdasarkan tabel 4.5 diatas dapat diketahui sebagian bayi menyusu yaitu 3 responden mengalami durasi menyusu pendek sebelum dilakukan pijat bayi dan sebelum tidak dilakukan pijat bayi , kemudian setelah dilakukan pijat bayi dan setelah tidak dilakukan pijat bayi tetap mengalami durasi menyusu pendek. Selain itu sebagian bayi menyusu yaitu berjumlah 8 responden mengalami durasi menyusu pendek sebelum dilakukan pijat bayi dan sebelum tidak dilakukan pijat bayi , kemudian setelah dilakukan pijat bayi dan setelah tidak dilakukan pijat bayi menjadi durasi menyusu normal. Dan Sebagian bayi menyusu yaitu berjumlah 12 responden mengalami durasi menyusu pendek sebelum dilakukan pijat bayi dan sebelum tidak dilakukan pijat bayi , kemudian setelah dilakukan pijat bayi dan setelah tidak dilakukan pijat bayi menjadi durasi menyusu panjang. Selain itu ada 3 responden mengalami durasi menyusu normal sebelum dilakukan pijat bayi dan sebelum tidak dilakukan pijat bayi, kemudian setelah dilakukan pijat bayi dan setelah tidak dilakukan pijat bayi tetap mengalami durasi menyusu normal. Dan terdapat 4 bayi menyusu mengalami durasi menyusu normal sebelum dilakukan pijat bayi dan sebelum tidak dilakukan pijat bayi, dan mengalami durasi menyusu panjang setelah dilakukan pijat bayi dan setelah tidak dilakukan pijat bayi. Tabel 4.6 Pengaruh Pijat dan Tidak Pijat terhadap Durasi menyusu bayi pre test Durasi_menyusu_bayi_pre_test Total Pendek Normal Pijat_Bayi Pijat 13 2 15 43.3 6.7 50.0 Tidak Pijat 10 5 15 33.3 16.7 50.0 Total 23 7 30 76.7 23.3 100.0 Sumber: hasil penelitian (uji wilcoxon) Berdasarkan tabel 4.6 diatas dapat diketahui sebagian bayi menyusu sebelum dilakukan pijat berjumlah 15 responden (50%) yaitu 13 responden (43.3%) durasi menyusu pendek, dan 2 responden (6.7%) durasi menysu normal, Sedangkan sebelum tidak dilakukan pijat berjumlah 15 responden (50%) yaitu 10 responden (33.3%) durasi menyusu pendek, dan 5 responden (16.7%) menyusu normal. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Pengaruh Pijat Bayi terhadap (Nia Clarasari Mahalia Putri, et., al) | 253-260 Tabel 4.7 Pengaruh Pijat dan Tidak Pijat terhadap Durasi menyusu bayi post test Durasi_menyusu_bayi_post_test Total Pendek Normal Panjang Pijat_Bayi Pijat 0 1 14 15 0.0 3.3 46.7 50.0 Tidak Pijat 3 10 2 15 10.0 33.3 6.7 50.0 Total 3 11 16 30 10.0 36.7 53.3 100.0 Sumber: hasil penelitian (uji wilcoxon) Berdasarkan tabel 4.7 diatas dapat diketahui sebagian bayi menyusu setelah dilakukan pijat berjumlah 15 responden (50%) yaitu 1 responden (3.3%) durasi menyusu normal dan 14 responden (46.7%) menyusu panjang. Dan sebagian bayi menyusu sebelum tidak dilakukan pijat berjumlah 15 responden (50%) yaitu 3 responden (10.0%) durasi menyusu pendek, dan 10 responden (33.3%) menyusu normal, dan 2 responden (6.7%) menyusu panjang. PEMBAHASAN Dari hasil analisa karakteristik usia ibu, didapatkan mayoritas responden penelitian di PMB Sri KD Lahat 2024 berusia 26 tahun berjumlah 6 responden (20.0%) dan berusia 32 tahun berjumlah 6 responden.Menurut Evi Rinata, dan Dini iflahah (2015) pada usia > 19 tahun seseorang memasuki usia dewasa sehingga cara berfikir akan lebih matang dan lebih siap untuk menikah, berperan sebagai orangtua dalam melakukan perawatan pada bayi khususnya pemberian ASI melalui teknik menyusui yang benar. sesuai dengan teori Hurlock yang dikutip oleh Nursalam dan pariani (2001) semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang dalam berfikir dan bekerja. Dari hasil analisa karakteristik paritas ibu, didapatkan mayoritas anak ke 2 berjumlah 14 responden (46.7%). Menurut Evi Rinata, dan Dini Iflahah (2015) Paritas multipara kemungkinan dikarenakan banyak keluarga ingin memiliki anak dengan jenis kelamin yang berbeda, keinginan membuat mereka memilih mempunyai anak yang lebih dari satu. Ibu yang melahirkan anak kedua dan seterusnya mempunyai produksi ASI yang lebih banyak dibandingkan dengan kelahiran anak yan pertama. Ibu multipara menunjukkan produksi ASI yang lebih banyak dibandingkan dengan primipara pada hari keempat postpartum Dari hasil analisa karakteristik usia bayi, didapatkan mayoritas responden penelitian di di PMB Sri KD Lahat 2024 berusia 3 hari berjumlah 21 responden (70%). Menurut Bobak (2004) dalam jurnal Purwani (2012) Durasi menyusui berkaitan dengan adanya refleks prolaktin yang merupakan hormone laktogenik yang penting untuk memulai dan mempertahankan sekresi ASI. Stimulus isapan bayi akan mengirim pesan ke hipotalamus yang merangsang hipofisis anterior untuk melepas prolaktin, suatu hormon yang meningkatkan produksi ASI oleh sel – sel alveolar kelenjar mamaria. Jumlah prolaktin yang disekresikan dan jumlah ASI yang diproduksi berkaitan dengan besarnya stimulus isapan, yaitu frekuensi, intensitas dan lama bayi menghisap. Dan Pijat bayi dapat segera dimulai setelah bayi dilahirkan, sesuai keinginan orang tua. Dengan lebih cepat mengawali pemijatan, bayi akan mendapat keuntungan yang lebih besar. Apalagi jika pemijatan dapat dilakukan setiap hari dari sejak kelahiran sampai berusia 67 bulan (Roesli, Utami, p.14). Dari hasil analisis karakteristik pijat bayi, di di PMB Sri KD Lahat 2024 berjumlah 30 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Pengaruh Pijat Bayi terhadap (Nia Clarasari Mahalia Putri, et., al) | 253-260 responden, 15 responden pijat (50%) dan 15 responden tidak pijat (50%) . Menurut penelitian Fitriahadi (2016) Pijat bayi adalah metode teknik dalam asuhan kebidanan neonatus, bayi dan balita dengan melakukan massage secara lembut dan berurutan sejak dari wajah sampai ujung kaki, dimana dengan melakukan pemijatan bayi seluruh otot bayi akan relaks, peredaran darah akan menjadi lancar dan tidur bayi akan nyenyak. Selain itu dengan pijat bayi akan meningkatkan frekuensi dan durasi menyusu sehingga bayi akan merasa nyaman dan tenang saat menyusu. Dengan keteraturan bayi selama menyusu harapannya berat badan bayi akan semakin bertambah dan asupan gizi pada bayi akan terpenuhi. Dari hasil analisis karakteristik durasi menyusu pre test, di di PMB Sri KD Lahat 2024 durasi menyusu pre test yaitu durasi menyusu pendek dilakukan pijat dan tidak dilakukan pijat berjumlah 23 responden (76.7%). Menurut Arief (2009) dalam jurnal Purwani (2012) lama menyusui bayi berbeda – beda sesuai dengan pola hisap bayi. Bayi sebaiknya menyusu 10 menit pada payudara yang pertama, karena daya isap masih kuat. Dan 20 menit pada payudara yang lain karena daya hisap bayi mulai melemah. Selama periode baru lahir, waktu menyusui bayi 20 – 45 menit, durasi menyusui juga berpengaruh terhadap ejeksi ASI saat menyusui, ketika bayi dapat menyusu, stimulus untuk produksi ASI sangat diperlukan. Dari hasil analisis karakteristik durasi menyusu post test, di di PMB Sri KD Lahat 2024durasi menyusu post test yaitu durasi menyusu yang panjang dilakukan pijat dan tidak dilakukan pijat berjumlah 16 responden (53.3%). Menurut Arief (2009) dalam jurnal Purwani (2012) jika kegiatan menyusui berlangsung terlalu lama (lebih dari setengah jam) atau terlalu pendek (kurang dari 4 menit), hal ini menunjukkan kemungkinan adanya masalah pada perlekatan antara bayi dan putting susu ibu. Durasi yang baik saat menyusui menurut Sentra Laktasi Indonesia sebaiknya 20-30 menit. Dengan durasi menyusu yang normal yaitu ketika payudara sudah terasa kosong dan bayi terasa puas saat menyusu akan mengurangi resiko terjadinya infeksi pada payudara yaitu mastitis yang disebabkan oleh bendungan ASI. Menurut Penelitian Fitriahadi (2016) Selain itu dengan pijat bayi akan meningkatkan frekuensi dan durasi menyusu sehingga bayi akan merasa nyaman dan tenang saat menyusu. Dengan SIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang pengaruh pijat bayi terhadap durasi menyusu pada bayi penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: Sebelum dilakukan pijat bayi didapatkan hasil 13 responden (43.3%) durasi menyusu pendek, dan 2 responden (6.7%) durasi menyusu normal. Sesudah dilakukan pijat bayi didapatkan hasil 1 responden (3.3%) durasi menyusu normal dan 14 responden (46.7%) menyusu panjang. Berdasarkan uji Wilcoxon diperoleh sig. p value 0.000 dan dapat disimpulkan sig.p value < 0.05 maka ada pengaruh pijat bayi terhadap durasi menyusu pada bayi. REFERENSI Ardillah, C. 2016. 100% Buku Pintar Bayi. Banguntapan bantul Yogyakarta: Kauna Pustaka. Arikunto, S. (2014). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. (Edisi Revisi). Jakarta: Cinepta. Fatimah, L. 2014. Hubungan Frekuensi Pemberian Asi Eksklusif Padamasa Nifas Dengan Penambahan Berat Badan Bayi Usia 0-6 Minggu. www.Journal.Unipdu.Ac.Id › Home › Vol 4, No 1 (2014) › Fatima. Diakses Pada Tanggal 20 Oktober 2017. Fitriahadi, E. 2016. Pengaruh Pijat Bayi terhadap Frekuensi dan Durasi Menyusu Bayi.http://journal.uad.ac.id/index.php/KesMas/article/viewFile/4561/pdf_88. Diakses Pada Tanggal 15 Oktober 2017. Handayani, N, dkk. 2016. Pengaruh Pijat Bayi Terhadap Kualitas Tidur Bayi Usia 3-5 Bulan Di Desa Plalangan Dan Desa Ajung Kecamatan Kalisat. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Pengaruh Pijat Bayi terhadap (Nia Clarasari Mahalia Putri, et., al) | 253-260 http://digilib.unmuhjember.ac.id/files/disk1/70/umj-1x-nurrellaha-3452-1-jurnal.pdf. Diakses pada tanggal 23 Oktober 2017. Mandriwati, Gusti A. 2013. Melakukan Pijat Bayi Mendukung Keberhasilan Pemberian Air Susu Ibu Secara Eksklusif. http://poltekkesdenpasar.ac.id/files/JSH/V10N2/Gusti%20Ayu%20Mandriwati1%20JSH%20V10N2.pdf. Diakses Pada Tanggal 18 Oktober 2017. Marliandiani, Yefi dan, Nyna. 2015. Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas dan Menyusui. Surabaya: Salemba Medika. Maryunani, Anik. 2012. Inisiasi Menyusui Dini ASI Eksklusif dan Manajemen Laktasi. Jakarta: CV Trans Info Medi Rahayu, YP, dkk. 2012. Buku Ajar Masa Nifas Dan Menyusui. Jakarta: Penerbit Mitra Wacana Medika. Riksani, R. 2012. Keajaiban ASI (Air Susu Ibu). Jakarta: Dunia Sehat. Retnowati, Rini D. 2010. Pengaruh Fisioterapi Oral Terhadap Refleks Hisap Pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah Di Ruang Perinatologi Rsd Dr. Soebandi Jember. http://digilib.unmuhjember.ac.id/files/disk1/53/umj-1x-rinidriret-2610-1-5jurnal-%5E.pdf. Diakses pada tanggal 23 Oktober 2017. Rinta, Evi dan Dini Iflahah. 2015. Teknik Menyusui Yang Brnar Ditinjau Dari Usia Ibu, Paritas, Usia Gestasi, dan Berat Badan Lahir Di RSUD SIDOARJO. https://www.researchgate.net/publication/309470381_Teknik_Menyusui_Yang_Benar_Ditinjau_ Dari_Usia_Ibu_Paritas_Uisa_Gestasi_Dan_Berat_Badan_Lahir_Di_Rsud_Sidoarjo Roesli, U. 2016. Pedoman Pijat Bayi. (Edisi Revisi). Jakarta: PT. Trubus Agriwidya, anggota IKAPI.