scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dan Metode pembelajaran dalam Buku Salam dari Langit: Analisis Kisah Sayyidah Khadijah Al-Kubra Karya Muhammad Ahmad Vad'aq

Ikhwan El-Musthofa

Full text

2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 5 Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak (Ikhwan El-Musthofa, et., al) | 46-55 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Volume 1, Issue 5, November 2025, P. 46-55 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17925367 Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dan Metode pembelajaran dalam Buku Salam dari Langit: Analisis Kisah Sayyidah Khadijah Al-Kubra Karya Muhammad Ahmad Vad'aq Ikhwan El-Musthofa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto Email: elmusthofa1[email protected] Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai pendidikan akhlak dan metode pembelajaran yang terkandung dalam buku "Salam Dari Langit: Kisah, Hikmah, & Fadhillah Sayyidah Khadijah Al-Kubra" karya Muhammad Ahmad Vad'aq. Pendidikan akhlak merupakan aspek fundamental dalam sistem pendidikan Islam yang bertujuan membentuk karakter mulia peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan interpretatif untuk mengkaji secara mendalam nilai-nilai akhlak dan metode pendidikan yang dapat diimplementasikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan akhlak dalam buku tersebut mencakup tiga dimensi utama: (1) akhlak kepada Allah SWT yang meliputi mentauhidkan Allah, bertakwa, dan mensyukuri nikmat-Nya; (2) akhlak kepada sesama manusia yang mencakup birrul walidain, silaturrahim, musyawarah, dan bersikap adil; (3) akhlak kepada lingkungan dengan memelihara dan menyayangi makhluk ciptaan Allah. Adapun metode pendidikan akhlak yang teridentifikasi meliputi: metode keteladanan (uswah hasanah), metode amtsal (perumpamaan), metode qashash (kisah), metode nasihat, serta metode targhib (motivasi) dan tahdzir (peringatan). Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan kisah teladan para sahabat, khususnya Sayyidah Khadijah, sebagai media pembelajaran akhlak yang efektif dan aplikatif dalam konteks pendidikan Islam kontemporer. Kata Kunci: Nilai-nilai Pendidikan Akhlak, Metode Pembelajaran, Sayyidah Khadijah, Pendidikan Agama Islam Abstract This research aims to analyze the moral education values and teaching methods contained in the book "Salam Dari Langit: Kisah, Hikmah, & Fadhillah Sayyidah Khadijah Al-Kubra" by Muhammad Ahmad Vad'aq. Moral education is a fundamental aspect of the Islamic education system that aims to form the noble character of students. This research uses library research methods with an interpretive approach to deeply examine moral values and educational methods that can be implemented in Islamic Religious Education (PAI) learning. The research results show that the moral education values in the book cover three main dimensions: (1) morality towards Allah SWT which includes monotheism, piety, and gratitude for His blessings; (2) morality towards fellow humans including filial piety, maintaining family ties, deliberation, and being fair; (3) morality towards the environment by preserving and caring for Allah's creatures. The identified moral education methods include: exemplary method (uswah hasanah), amtsal method (parable), qashash method (storytelling), advice method, and targhib (motivation) and tahdzir (warning) methods. This research recommends utilizing exemplary stories of the companions, especially Sayyidah Khadijah, as an effective and applicable moral learning medium in the context of contemporary Islamic education. Keywords: Moral Education Values, Teaching Methods, Sayyidah Khadijah, Islamic Religious Education Article Info Received date: 20 November 2025 Revised date: 25 November 2025 Accepted date: 09 December 2025 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan proses pendewasaan diri baik dalam berpikir maupun bertindak yang berlangsung sepanjang hayat manusia. Dalam konteks Islam, pendidikan harus dilandasi oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam (Ramayulis, 2013). Pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada pengembangan aspek kognitif semata, melainkan juga mencakup pembentukan karakter dan akhlak mulia yang menjadi inti dari risalah kenabian Muhammad SAW. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia" (HR. Al-Baihaqi). 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 5 Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak (Ikhwan El-Musthofa, et., al) | 46-55 Akhlak dalam perspektif Islam merupakan sistem nilai yang mengatur perilaku manusia dalam hubungannya dengan Allah SWT, sesama manusia, dan lingkungan sekitar. Menurut Ibnu Miskawaih, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan (Ilyas, 2009). Definisi ini menegaskan bahwa akhlak bukan sekadar pengetahuan teoritis, melainkan kristalisasi nilai-nilai yang terinternalisasi dalam jiwa sehingga terwujud dalam perilaku spontan sehari-hari. Problematika pendidikan akhlak di era kontemporer semakin kompleks seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Data menunjukkan adanya degradasi moral di kalangan generasi muda yang ditandai dengan meningkatnya kasus bullying, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, tawuran pelajar, dan berbagai bentuk kenakalan remaja lainnya (Syafri, 2012). Fenomena ini mengindikasikan bahwa sistem pendidikan yang berlangsung selama ini lebih menekankan pada aspek kognitif dan mengabaikan pembentukan karakter serta akhlak peserta didik. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 menegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Kemendikbud, 2012). Rumusan ini mengonfirmasi bahwa pembentukan akhlak mulia merupakan salah satu tujuan fundamental pendidikan nasional yang tidak dapat diabaikan. Dalam konteks pendidikan Islam, pembelajaran akhlak memerlukan media dan metode yang tepat agar nilai-nilai luhur dapat tertanam dengan baik dalam diri peserta didik. Salah satu media yang efektif adalah melalui kisah-kisah teladan para tokoh Islam, khususnya generasi terbaik umat yaitu Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Kisah-kisah ini tidak hanya memberikan pengetahuan historis, tetapi juga menyajikan contoh konkret implementasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata yang dapat diteladani. Sayyidah Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu 'anha merupakan salah satu tokoh wanita terbaik dalam sejarah Islam yang memiliki kedudukan mulia dan istimewa. Beliau adalah istri pertama Rasulullah SAW yang setia mendampingi perjuangan dakwah Islam sejak awal hingga akhir hayatnya. Khadijah bukan hanya dikenal sebagai istri yang mencintai suaminya, tetapi juga sebagai sosok yang cerdas, bijaksana, dermawan, dan memiliki akhlak yang sempurna (Al-Jamal, 2014). Gelar-gelar kemuliaan yang disandangnya seperti Ath-Thahirah (yang suci), Sayyidatu Nisa'i Quraisy (pemuka wanita Quraisy), dan Ummul Mukminin (ibu kaum mukminin) menunjukkan kehormatan luar biasa yang Allah berikan kepadanya. Kisah kehidupan Sayyidah Khadijah mengandung nilai-nilai pendidikan akhlak yang sangat kaya dan relevan untuk dijadikan materi pembelajaran, khususnya dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Dari kisah perjalanan hidupnya bersama Rasulullah SAW, kita dapat mempelajari bagaimana akhlak mulia terwujud dalam berbagai aspek kehidupan: sebagai istri yang solehah, ibu yang penyayang, pengusaha yang jujur dan amanah, serta pendukung utama dalam perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Muhammad Ahmad Vad'aq, seorang ulama kontemporer dan pemimpin Pesantren Al-Khairat Bekasi, telah menuliskan kisah Sayyidah Khadijah dalam sebuah buku berjudul "Salam Dari Langit: Kisah, Hikmah, & Fadhillah Sayyidah Khadijah Al-Kubra" (Vad'aq, 2018). Buku ini tidak sekadar menyajikan kisah biografis, melainkan juga mengeksplorasi hikmah dan keutamaan yang dapat dipetik dari setiap fase kehidupan beliau. Penulis menampilkan narasi yang mengalir dengan gaya bahasa yang mudah dipahami namun tetap mendalam dalam muatan nilai-nilai pendidikannya. Keistimewaan buku ini terletak pada pendekatannya yang holistik dalam menggambarkan sosok Khadijah bukan hanya dari sisi kehidupan rumahtangganya dengan Rasulullah SAW, tetapi juga interaksinya dengan masyarakat, keluarga besar, dan perannya dalam fase awal perkembangan Islam. Setiap kisah yang dipaparkan dilengkapi dengan analisis hikmah dan fadhilah yang dapat diambil 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 5 Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak (Ikhwan El-Musthofa, et., al) | 46-55 sebagai pelajaran hidup. Dengan demikian, buku ini memiliki potensi besar untuk dijadikan sebagai sumber rujukan dalam pembelajaran pendidikan akhlak. Penelitian ini menjadi penting mengingat urgensi revitalisasi pendidikan akhlak dalam sistem pendidikan Islam kontemporer. Ketersediaan materi pembelajaran yang kontekstual, aplikatif, dan menginspirasi sangat diperlukan untuk menarik minat peserta didik sekaligus menanamkan nilai-nilai akhlak mulia dalam diri mereka. Kajian mendalam terhadap buku "Salam Dari Langit" diharapkan dapat mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung di dalamnya serta metode pembelajaran yang dapat diaplikasikan dalam proses pendidikan, khususnya pada mata pelajaran PAI. Beberapa penelitian terdahulu telah mengkaji topik serupa namun dengan fokus dan objek yang berbeda. Kurnia Dwi Putri (2018) melakukan penelitian tentang nilai-nilai pendidikan akhlak dalam buku sirah Khadijah karya Abdul Mun'im Muhammad dengan kesimpulan bahwa nilai-nilai akhlak terhadap Allah SWT, diri sendiri, dan sesama dapat dijadikan pedoman pendidikan nasional. Firnando Causo (2017) meneliti nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kisah Rasulullah SAW dengan penekanan pada keteladanan sifat-sifat Nabi. Intan Fithriyyah (2019) mengkaji nilai-nilai pendidikan akhlak dalam Sirah Nabawiyyah karya Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dengan fokus pada akhlakul karimah. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya terletak pada objek kajian yang spesifik yaitu buku "Salam Dari Langit" karya Muhammad Ahmad Vad'aq yang belum pernah diteliti sebelumnya, serta penekanan analisis tidak hanya pada nilai-nilai akhlak tetapi juga pada metode pendidikan akhlak yang dapat diimplementasikan dalam pembelajaran PAI. Penelitian ini juga berupaya memberikan kontribusi praktis berupa rekomendasi metode pembelajaran yang dapat diterapkan oleh para pendidik dalam mengajarkan akhlak kepada peserta didik. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penelitian ini difokuskan pada dua permasalahan utama yang akan dikaji secara mendalam untuk memberikan pemahaman komprehensif tentang nilai-nilai pendidikan akhlak dan metode pembelajaran yang terkandung dalam buku "Salam Dari Langit: Kisah, Hikmah, & Fadhillah Sayyidah Khadijah Al-Kubra" karya Muhammad Ahmad Vad'aq. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penelitian ini merumuskan dua permasalahan pokok sebagai berikut: Apa saja nilai-nilai pendidikan akhlak yang terdapat dalam Kisah, Hikmah, & Fadhillah Sayyidah Khadijah Al-Kubra pada Buku Salam Dari Langit Karya Muhammad Ahmad Vad'aq? Dan Bagaimana metode pendidikan akhlak Kisah, Hikmah, dan Fadhillah Sayyidah Khadijah Al-Kubra dalam Buku Salam Dari Langit Karya Muhammad Ahmad Vad'aq dapat diimplementasikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)? METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode library research (studi kepustakaan) dengan pendekatan interpretatif. Library research adalah metode pengumpulan data dengan cara memahami dan mempelajari teori-teori dari berbagai literatur yang berhubungan dengan penelitian (Zed dalam Fadli, 2021). Objek penelitian yang menjadi fokus kajian adalah buku "Salam Dari Langit: Kisah, Hikmah, & Fadhillah Sayyidah Khadijah Al-Kubra" karya Muhammad Ahmad Vad'aq yang diterbitkan oleh Mutiara Kafie pada tahun 2018. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan interpretatif. Pendekatan interpretatif merupakan upaya untuk mencari penjelasan tentang peristiwaperistiwa sosial atau budaya yang didasarkan pada perspektif dan pengalaman dari objek yang diteliti (Sugiyono, 2013). Dalam konteks penelitian ini, pendekatan interpretatif digunakan untuk memahami dan menafsirkan nilai-nilai pendidikan akhlak serta metode pembelajaran yang terkandung dalam teks buku yang dikaji. Sumber data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua kategori: Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber pertama (Samsu, 2017). Dalam penelitian ini, yang menjadi sumber data primer adalah buku "Salam Dari Langit: Kisah, Hikmah, & Fadhillah Sayyidah Khadijah Al-Kubra" karya Muhammad Ahmad Vad'aq cetakan kedua tahun 2018. Sumber data sekunder adalah 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 5 Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak (Ikhwan El-Musthofa, et., al) | 46-55 data yang diperoleh dari sumber kedua yang bertujuan untuk mendukung penelitian yang dilakukan. Data sekunder dalam penelitian ini meliputi: buku-buku tentang pendidikan akhlak, buku-buku tentang metode pembelajaran PAI, jurnal ilmiah yang relevan dengan topik penelitian, artikel dan karya tulis lain yang berkaitan dengan Sayyidah Khadijah dan pendidikan akhlak, serta referensi-referensi pendukung lainnya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi, yaitu mencari dan mengumpulkan data dengan menelusuri dan penelaahan terhadap sumber-sumber data baik primer maupun sekunder. Langkah-langkah pengumpulan data meliputi: (1) melakukan penelitian kepustakaan terhadap data primer; (2) menghimpun referensi yang berkaitan dengan tema dan tujuan penelitian; (3) mengumpulkan data-data penunjang yang memuat informasi yang berhubungan dengan pokok masalah; (4) melakukan cross-check terhadap sumber data utama dengan sumber data lain untuk kepentingan validitas dan reliabilitas. Teknik analisis data yang digunakan adalah content analysis (analisis isi), yaitu teknik yang digunakan untuk mengungkap muatan suatu teks berupa kata, makna, gagasan, tema, dan segala bentuk pesan yang dapat dikomunikasikan. Langkah-langkah analisis meliputi: (1) menentukan objek kajian; (2) penegasan istilah dan konsep kunci; (3) menetapkan satuan analisis; (4) memberikan data yang relevan; (5) mengembangkan pemikiran dan interpretasi; (6) memberikan contoh konkret dari teks; (7) memeriksa reliabilitas dan validitas data; (8) melakukan analisis data secara sistematis dan komprehensif. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan beberapa teknik uji kredibilitas yaitu: (1) triangulasi sumber dengan membandingkan data dari berbagai referensi; (2) member check dengan memverifikasi interpretasi melalui rujukan otoritatif; (3) menggunakan bahan referensi yang memadai untuk mendukung temuan penelitian; (4) melakukan audit trail untuk memastikan konsistensi proses penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Buku Salam Dari Langit Berdasarkan analisis mendalam terhadap buku "Salam Dari Langit: Kisah, Hikmah, & Fadhillah Sayyidah Khadijah Al-Kubra" karya Muhammad Ahmad Vad'aq (2018), penelitian ini mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai tersebut dikategorikan berdasarkan ruang lingkup akhlak dalam Islam yang mencakup akhlak kepada Allah SWT, akhlak kepada sesama manusia, dan akhlak kepada lingkungan, sebagaimana dikemukakan oleh Nata (2009). a. Akhlak Kepada Allah SWT 1) Mentauhidkan Allah SWT Tauhid merupakan fondasi utama dalam ajaran Islam yang menjadi landasan seluruh ibadah dan akhlak seorang muslim. Mentauhidkan Allah berarti keyakinan yang kuat bahwa tidak ada yang setara dengan Allah dalam Dzat, Sifat, Perbuatan, dan Asma-Nya (Nata, 2010). Dalam buku "Salam Dari Langit", nilai tauhid tampak jelas dalam sikap Sayyidah Khadijah ketika Rasulullah SAW mengalami kegelisahan karena wahyu tidak kunjung turun. Vad'aq (2018) menggambarkan: "Namun kala wahyu semakin lama tidak kunjung turun, Nabi SAW semakin rindu dan gelisah dalam penantian. Di sinilah kita melihat sikap istri cerdas, bijak, dan mengetahui keadaan kejiwaan sang suami. Ia meminta suaminya untuk bersabar dan selalu menghibur serta meyakinkan bahwa Allah tidak akan meninggalkan beliau." Sikap Khadijah yang meyakinkan suaminya bahwa Allah tidak akan meninggalkan Rasulullah menunjukkan keimanan dan keyakinan yang kokoh terhadap Allah SWT. Ini mencerminkan nilai tauhid yang tertanam kuat dalam jiwanya, yaitu keyakinan penuh terhadap kekuasaan, kehendak, dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. 2) Bertakwa Kepada Allah SWT 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 5 Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak (Ikhwan El-Musthofa, et., al) | 46-55 Takwa secara umum diartikan sebagai "takut kepada Allah" yang diwujudkan dengan "menjauhi segala larangan-Nya dan menjalankan semua perintah-Nya" (Arif, 2013). Dalam buku ini, nilai takwa tampak pada antusiasme Sayyidah Khadijah terhadap ibadah shalat yang diajarkan malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW. Vad'aq (2018) menceritakan: "Suatu hari, Rasulullah SAW pulang ke rumah Khadijah. Saat itu beliau sudah diajari Jibril bagaimana cara shalat. Lalu beliau beritahukan hal itu kepada Khadijah. Khadijah berkata, 'Ajarkan pada ku, bagaimana Jibril mengajarimu shalat!' Rasulullah SAW kemudian memperlihatkan dan mengajarkan padanya. Khadijah wudhu seperti cara beliau wudhu. Setelah itu shalat bersama beliau." Respon cepat dan antusias Khadijah untuk mempelajari dan mengamalkan ibadah shalat menunjukkan ketakwaannya kepada Allah SWT. Beliau tidak menunda-nunda untuk menjalankan perintah Allah yang baru diturunkan, bahkan dengan segera mempraktikkannya. Ini merupakan manifestasi takwa dalam bentuk ketaatan yang sempurna. 3) Mensyukuri Nikmat-Nikmat Allah Syukur adalah sikap seseorang yang tidak menggunakan nikmat-nikmat yang diberikan Allah untuk berbuat maksiat, melainkan menggunakannya di jalan kebaikan (Anwar, 2008). Dalam buku "Salam Dari Langit", nilai syukur tergambar dalam sikap Rasulullah SAW dan Sayyidah Khadijah menghadapi berbagai kondisi kehidupan mereka. Vad'aq (2018) menuliskan: "Keduanya tenggelam dalam kenikmatan hidup selama lima belas tahun lamanya, menikmati cinta dan ketenangan. Allah menyempurnakan nikmat-Nya untuk keduanya dengan menganugerahkan anak-anak lelaki dan perempuan... Dalam rentang waktu itu, keduanya merasakan pedihnya ditinggal dua anak tercinta. Keselarasan dan kesabaran suami-istri ini membantu untuk menegakkan cawan yang beredar di hadapan seluruh umat manusia, sehingga tak seorang pun ditolerir untuk tidak meminum cawan ini, karena kedua anaknya hanya titipan, dan suatu hari nanti pasti diambil kembali." Kutipan ini menunjukkan bahwa Rasulullah dan Khadijah mensyukuri nikmat Allah baik dalam kondisi senang maupun susah. Mereka menerima dengan lapang dada ujian kehilangan dua anak mereka dengan kesabaran dan kerelaan, yang merupakan bentuk syukur kepada Allah atas segala ketentuan-Nya. b. Akhlak Kepada Sesama Manusia 1) Birrul Walidain (Berbakti kepada Orang Tua) Birrul walidain berarti berbuat baik kepada kedua orang tua dengan cara menghormati, mentaati, membantu, dan menjaga perasaan mereka (Ilyas, 2009). Dalam buku ini, nilai birrul walidain sangat jelas ditampilkan dalam sikap Rasulullah SAW terhadap Halimah As-Sa'diyah, ibu susuannya. Vad'aq (2018) menggambarkan: "Kala Rasulullah mendengar nama Halimah as-Sa'diyah, hati beliau berdetak rindu, kenangan-kenangan manis mencuat ke permukaan benak beliau... Khadijah menghampiri untuk mempersilahkan Halimah masuk... Kala tatapan beliau tertuju pada Halimah, suara beliau nan lembut menyentuh telinga Khadijah kala beliau memanggil dengan kerinduan dan cinta, 'Ibu, ibu!'" Lebih lanjut dijelaskan: "Khadijah menatap Rasulullah, beliau membentangkan baju beliau sebagai hamparan untuk Halimah, beliau mengusap Halimah dengan kasih sayang meluap, kebahagiaan deras tertuang di wajah beliau... Setelah diberikan kabar oleh sang suami, Khadijah yang jelas sekali tersentuh oleh kondisi Halimah... Dengan rela hati, Khadijah memberikannya empat puluh ekor kambing, juga seekor unta yang membawa air." Kisah ini menunjukkan akhlak mulia berupa penghormatan kepada orang tua (dalam konteks ini ibu susuan), kepedulian terhadap kondisi mereka, dan kesiapan untuk membantu meringankan beban yang mereka hadapi. Sikap Rasulullah dan Khadijah ini menjadi teladan konkret bagaimana mengaplikasikan nilai birrul walidain. 2) Silaturrahim Silaturrahim merupakan perbuatan kebajikan yang ditujukan untuk menjalin dan menjaga hubungan baik dengan keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat (Ilyas, 2009). Nilai ini tampak dalam upaya Rasulullah SAW menjaga hubungan baik dengan ayah mertuanya, Khuwailid, meskipun dalam kondisi yang tidak ideal. Vad'aq (2018) menceritakan: "Sayangnya, ayah Khadijah tidak sadar 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 5 Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak (Ikhwan El-Musthofa, et., al) | 46-55 kan diri di hari pernikahan ini karena sedang mabuk khamr. Hanya saja Nabi memberikan baju padanya. Khadijah menghibur hati beliau. Saat bangun tidur pada pagi hari, ia menanyakan baju yang ia kenakan dan aroma wangi yang melekat padanya. Mereka menjawab, 'Baju ini hadiah untukmu dari suami putrimu, Muhammad bin Abdullah.'" Meskipun Khuwailid dalam keadaan mabuk saat pernikahan berlangsung, Rasulullah tetap memberikan hadiah kepadanya sebagai bentuk penghormatan dan menjaga silaturrahim. Sikap ini menunjukkan bahwa menjaga hubungan kekeluargaan tetap harus diutamakan meskipun terdapat kondisi yang kurang menyenangkan. 3) Musyawarah dan Adil Musyawarah adalah proses pengambilan keputusan bersama dengan mempertimbangkan berbagai pendapat untuk mencapai solusi terbaik (Ilyas, 2009). Sedangkan adil berarti sikap moderat dan objektif dalam memberikan hukum dan hak kepada orang lain tanpa ada yang dilebihkan atau dikurangi. Vad'aq (2018) menceritakan peristiwa peletakan Hajar Aswad: "Salah satu peristiwa yang disebutkan dalam sirah menunjukkan Muhammad mencapai kedudukan tinggi di tengah kaumnya di usia 35 tahun, yaitu ketika kaum Quraisy berkumpul untuk merenovasi dan memberi atap pada Ka'bah... Sampai di sini mereka pun berselisih. Masing-masing kabilah ingin mengangkat Hajar Aswad ke tempat semula, hingga mereka terlibat perkelahian dan bersiap untuk perang..." Kisah dilanjutkan: "Seseorang yang paling tua di antara mereka mengatakan, 'Wahai kaum Quraisy! Jadikan orang pertama yang masuk melalui pintu masjid ini untuk memutuskan perkara yang kalian perselisihkan.' Mereka semua menyetujui pendapat ini... Pandangan mereka tertuju pada sosok yang datang. Dia adalah Muhammad putra Abdullah... Mereka berkata, 'Dia al-Amin, kami meridhai keputusannya.'" Solusi yang diberikan Rasulullah sangat bijaksana: "Mereka mengabarkan permasalahan ini kepada beliau dan beliau pun mengatakan, 'Berikan aku kain.' Beliau diberi sehelai kain. Lalu, beliau mengambil Hajar Aswad, beliau letakkan dengan tangannya, setelah itu beliau berkata, 'Hendaklah setiap kabilah memegang ujung kain ini, lalu angkatlah bersama-sama.' Mereka melakukan apa yang beliau perintahkan. Setelah tiba di tempatnya, beliau mengambil Hajar Aswad dengan tangannya, lalu beliau letakkan di tempatnya." Peristiwa ini menunjukkan nilai musyawarah yang dilakukan para pembesar Quraisy untuk mencari jalan keluar dari perselisihan, serta nilai keadilan yang diterapkan Rasulullah dengan memberikan kesempatan yang sama kepada semua kabilah untuk berpartisipasi dalam peletakan Hajar Aswad. Tidak ada satu kabilah pun yang diistimewakan atau dirugikan dalam solusi yang beliau berikan. c. Akhlak Kepada Lingkungan Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki akhlak yang baik tidak hanya kepada Allah dan sesama manusia, tetapi juga kepada makhluk lain dan lingkungan sekitar. Hal ini sejalan dengan fungsi manusia sebagai khalifah di bumi yang harus menjaga dan memelihara ciptaan Allah (Nata, 2009). Dalam buku "Salam Dari Langit", Vad'aq (2018) menyampaikan refleksi tentang akhlak kepada hewan: "Tidakkah hewan saja dapat berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadanya? Ada hewan yang ketika diberi makan, minum, dan dirawat, ia menjadi loyal dan patuh, bahkan sampai siap mengorbankan nyawa. Bukan hanya kepada pemberi kebaikan ia pandai membalas budi, tapi kepada seluruh penghuni rumah, anak, istri, dan pembantu. Tapi mengapa itu menjadi sulit bagi manusia?" Kutipan ini mengandung pesan moral yang mendalam tentang penting memperlakukan makhluk Allah dengan baik. Jika manusia berbuat baik kepada hewan dengan memberi makan, minum, dan merawatnya, maka hewan tersebut akan membalas dengan kesetiaan dan kepatuhan. Perumpamaan ini mengingatkan bahwa sebagai makhluk berakal, manusia seharusnya lebih mampu menunjukkan akhlak mulia, termasuk dalam memperlakukan lingkungan dan makhluk lain dengan baik. Nilai akhlak kepada lingkungan ini sejalan dengan konsep khalifah fil ardh (pemimpin di bumi) yang diemban manusia. Sebagai khalifah, manusia bertanggung jawab untuk menjaga, memelihara, dan melestarikan seluruh ciptaan Allah agar dapat mencapai tujuan penciptaannya (Nata, 2009). Pemeliharaan 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 5 Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak (Ikhwan El-Musthofa, et., al) | 46-55 lingkungan bukan sekadar kewajiban ekologis, melainkan juga merupakan ibadah dan manifestasi dari ketakwaan kepada Allah SWT. 2. Metode Pendidikan Akhlak dalam Buku Salam Dari Langit dan Implementasinya dalam Pembelajaran PAI Metode pendidikan akhlak merupakan langkah-langkah strategis yang telah direncanakan dalam mendidik siswa agar tercipta pribadi yang berkarakter dalam diri siswa (Ramayulis, 2008). Dalam mendidik akhlak, diperlukan berbagai metode yang tepat agar mendapat hasil yang optimal. Sebagaimana perumpamaan yang dikemukakan Imam Al-Ghazali bahwa seorang guru ibarat dokter, jika mengobati semua orang sakit dengan satu macam obat saja, niscaya akan membunuh kebanyakan orang sakit (Rusn, 1998). Oleh karena itu, dalam mendidik akhlak diperlukan variasi metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Berdasarkan analisis terhadap buku "Salam Dari Langit" karya Muhammad Ahmad Vad'aq (2018), penelitian ini mengidentifikasi lima metode pendidikan akhlak yang dapat diimplementasikan dalam pembelajaran PAI: a. Metode Keteladanan (Uswah Hasanah) Metode keteladanan merupakan metode pendidikan yang paling efektif karena manusia pada umumnya lebih mudah memahami sesuatu yang konkrit daripada yang abstrak (At-Tahhan, 2009). Penerapan metode ini dalam pendidikan dilakukan dengan memberikan contoh, baik dalam bentuk perbuatan, sifat, pola berpikir, dan lainnya. Dalam buku "Salam Dari Langit", keteladanan Sayyidah Khadijah tampak jelas ketika Rasulullah SAW pulang dari gua Hira dalam keadaan gelisah setelah menerima wahyu pertama. Vad'aq (2018) menggambarkan: "Hati Khadijah tidak berkeluh kesah menghadapi situasi sulit yang dibawa suaminya sepulang dari tahannuts di gua Hira. Khadijah menghampiri dan menenangkan beliau, meredakan rasa takut dan keluh kesah beliau, meminta beliau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Khadijah adalah tempat beliau menyimpan rahasia, tempat kehidupan beliau menyatu, dan tangan kanan beliau yang terpercaya." Sikap Khadijah yang sabar, penuh perhatian, dan menjadi tempat curahan hati bagi suaminya merupakan teladan konkret bagaimana seorang istri seharusnya bersikap. Beliau tidak panik atau mengeluh, melainkan dengan bijaksana menenangkan dan meyakinkan Rasulullah bahwa apa yang terjadi adalah kebaikan dari Allah. Implementasi metode keteladanan dalam pembelajaran PAI dapat dilakukan dengan cara: (1) Guru PAI harus menjadi role model yang baik bagi peserta didik dalam akhlak sehari-hari; (2) Menyajikan kisah-kisah teladan dari kehidupan Rasulullah, para sahabat, dan tokoh-tokoh Islam; (3) Mengajak peserta didik mengamati dan meneladani akhlak mulia tokoh-tokoh dalam kisah yang dipelajari; (4) Memberikan penugasan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi tokoh teladan di lingkungannya dan menganalisis akhlak mulia yang dapat diteladani. b. Metode Amtsal (Perumpamaan) Perumpamaan merupakan bentuk bahasa kiasan yang menjelaskan satu hal dengan cara menyamakannya dengan hal lainnya (Muhidin & Syafri, n.d.). Dengan metode ini dapat memberikan pemahaman pada suatu hal yang belum jelas menjadi jelas, agar pemahaman tersebut dapat dicerna dengan baik. Dalam buku "Salam Dari Langit", metode perumpamaan tampak pada kisah peletakan Hajar Aswad yang telah disebutkan sebelumnya. Rasulullah SAW tidak langsung meletakkan Hajar Aswad dengan tangannya sendiri, tetapi beliau meminta kain, meletakkan Hajar Aswad di atasnya, kemudian meminta setiap kabilah memegang ujung kain tersebut untuk mengangkatnya bersama-sama (Vad'aq, 2018). Tindakan Rasulullah ini merupakan perumpamaan konkret tentang bagaimana bersikap adil dan menghargai semua pihak. Kain yang dipegang bersama-sama menjadi simbol persatuan dan keadilan, di mana setiap kabilah memiliki peran yang sama dalam mengangkat Hajar Aswad. Perumpamaan ini lebih mudah dipahami dan diingat daripada sekadar penjelasan verbal tentang konsep keadilan. Implementasi metode amtsal dalam pembelajaran PAI dapat dilakukan dengan: (1) 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 5 Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak (Ikhwan El-Musthofa, et., al) | 46-55 Menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang dekat dengan kehidupan peserta didik untuk menjelaskan konsep akhlak yang abstrak; (2) Mengajak peserta didik membuat perumpamaan sendiri untuk menjelaskan nilai-nilai akhlak yang telah dipelajari; (3) Menganalisis perumpamaanperumpamaan dalam Al-Qur'an dan Hadits serta mengaitkannya dengan kehidupan kontemporer; (4) Menggunakan media visual seperti gambar atau video untuk memperkuat pemahaman melalui perumpamaan. c. Metode Qashash (Kisah) Metode kisah adalah cara penyampaian materi pembelajaran dengan menceritakan peristiwa atau tokoh tertentu, baik yang faktual maupun fiktif, dengan tujuan menyampaikan nilai-nilai moral dan pendidikan (Muhidin & Syafri, n.d.). Metode ini sangat efektif dalam pembentukan karakter karena dapat menyentuh emosi dan mendorong peserta didik untuk mengambil hikmah dari cerita yang disampaikan. Seluruh buku "Salam Dari Langit" pada dasarnya menggunakan metode kisah dalam menyampaikan nilai-nilai pendidikan akhlak. Penulis menceritakan perjalanan hidup Sayyidah Khadijah bersama Rasulullah SAW dari berbagai fase kehidupan mereka, mulai dari pertemuan pertama, pernikahan, kehidupan rumah tangga, hingga dukungan Khadijah dalam dakwah Islam. Salah satu kisah yang menarik adalah tentang pernikahan Sayyidah Fatimah dengan Sayyidina Ali. Vad'aq (2018) menceritakan: "Al-Baihaqi, Khatib, dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Anas, ia berkata, 'Suatu ketika aku duduk di dekat Rasulullah, beliau kemudian diliputi wahyu. Setelah wahyu selesai disampaikan beliau mengatakan, 'Wahai Anas, tahukah kamu apa yang dibawa Jibril dari Pemilik Arsy?' 'Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,' jawabku. Beliau mengatakan, 'Sungguh, Allah memerintahkanku untuk menikahkan Ali dengan Fatimah'." Kisah ini tidak hanya menyampaikan peristiwa historis, tetapi juga mengajarkan bahwa pernikahan yang diberkahi adalah pernikahan yang diridhai Allah SWT. Kisah-kisah seperti ini dapat menginspirasi peserta didik untuk meneladani akhlak mulia para tokoh dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka. Implementasi metode qashash dalam pembelajaran PAI dapat dilakukan dengan: (1) Menceritakan kisah-kisah teladan dari Al-Qur'an, Hadits, dan sirah nabawiyah dengan narasi yang menarik; (2) Menggunakan multimedia seperti video, animasi, atau film islami untuk menyajikan kisah secara lebih menarik; (3) Mendorong peserta didik untuk menceritakan kembali kisah yang telah dipelajari dengan bahasa mereka sendiri; (4) Meminta peserta didik mengidentifikasi nilai-nilai akhlak dalam setiap kisah dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari; (5) Memberikan tugas kepada peserta didik untuk mencari kisah-kisah teladan dari sumber lain dan mempresentasikannya di kelas. d. Metode Nasihat (Mau'izhah) Metode nasihat adalah penyampaian penjelasan tentang kebenaran dan kemaslahatan dengan tujuan agar orang yang dinasihati terhindar dari bahaya dan dapat mendatangkan hal yang bermanfaat (Ulwan, 1981). Nasihat yang baik adalah yang disampaikan dengan cara yang bijaksana sehingga dapat membuka kesadaran hati dan pikiran seseorang. Dalam buku "Salam Dari Langit", terdapat nasihat yang disampaikan oleh Al-Muhaddits Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani terkait kisah kecemburuan Sayyidah Aisyah terhadap Sayyidah Khadijah. Beliau menasihati: "Kecemburuan Aisyah bukan karena kebencian tetapi hanya karena rasa egois setiap wanita. Sayyidah Aisyahlah yang meriwayatkan hadits ini kepada kita, kalau bukan karenanya kita tidak akan mengetahui kisah ini dan cerita lain tentang keutamaan Sayyidah Khadijah" (Vad'aq, 2018). Nasihat ini sangat penting agar umat Islam berhati-hati dalam menyikapi kisah tersebut dan tidak sampai mencela istri-istri Rasulullah yang merupakan Ummahatul Mukminin (ibu kaum mukminin). Nasihat yang disampaikan dengan bijaksana seperti ini dapat membuka pemahaman yang benar dan mencegah kesalahpahaman. Implementasi metode nasihat dalam pembelajaran PAI dapat dilakukan dengan: (1) Memberikan nasihat dengan bahasa yang santun, tidak menggurui, dan penuh kasih sayang; (2) Menyampaikan nasihat pada waktu dan kondisi yang tepat, bukan saat peserta didik sedang emosi; (3) Mengaitkan nasihat dengan situasi konkret yang dialami peserta didik; (4) 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 5 Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak (Ikhwan El-Musthofa, et., al) | 46-55 Menggunakan kisah atau perumpamaan untuk memperkuat pesan nasihat; (5) Mendorong peserta didik untuk saling menasihati dalam kebaikan dengan cara yang baik. e. Metode Targhib (Motivasi) dan Tahdzir (Peringatan) Metode targhib adalah metode pendidikan dengan menyampaikan harapan atau kabar gembira, baik melalui lisan maupun tulisan, agar seseorang menjadi manusia yang bertakwa (Maulida, 2015). Sedangkan metode tahdzir adalah metode yang berkebalikan dengan targhib, yaitu menyampaikan peringatan, ancaman, atau kabar buruk agar seseorang menjadi manusia yang bertakwa. Dalam buku "Salam Dari Langit", metode targhib tampak pada sikap Sayyidah Khadijah yang meyakinkan Rasulullah SAW ketika beliau gelisah: "Dengan keberanian si wanita yang jujur lagi terpercaya, dan dengan tekad menawan si wanita terbaik penghuni surga, ia mengatakan, 'Wahai suamiku! Demi Allah, kau bukan dukun, kau adalah nabi umat ini. Bergembiralah, karena demi Allah, Allah tidak akan menghina kaumu selamanya'" (Vad'aq, 2018). Perkataan Khadijah ini merupakan bentuk targhib (motivasi) yang memberikan semangat dan keyakinan kepada Rasulullah bahwa apa yang terjadi adalah kebaikan dari Allah dan beliau tidak perlu khawatir. Motivasi ini sangat penting untuk menguatkan mental dan spiritual Rasulullah dalam menghadapi tugas berat sebagai rasul. Sedangkan metode tahdzir tampak pada peringatan Prof. Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki tentang sikap hati-hati dalam menyikapi kisah kecemburuan Sayyidah Aisyah, agar tidak sampai mencela istri-istri Rasulullah (Vad'aq, 2018). Peringatan ini penting untuk menjaga adab dan akhlak mulia dalam memahami sejarah Islam. Implementasi metode targhib dan tahdzir dalam pembelajaran PAI dapat dilakukan dengan: (1) Menyampaikan keutamaan dan pahala bagi orang yang berakhlak mulia untuk memotivasi peserta didik; (2) Menjelaskan konsekuensi negatif dari akhlak buruk untuk memberikan peringatan; (3) Menggunakan kisah-kisah tentang balasan kebaikan dan keburukan dalam Al-Qur'an dan Hadits; (4) Menciptakan sistem reward dan punishment yang edukatif dalam pembelajaran; (5) Menyampaikan motivasi dan peringatan dengan bahasa yang menyentuh hati, bukan menakut-nakuti. SIMPULAN Berdasarkan analisis mendalam terhadap buku "Salam Dari Langit: Kisah, Hikmah, & Fadhillah Sayyidah Khadijah Al-Kubra" karya Muhammad Ahmad Vad'aq (2018), penelitian ini menghasilkan dua kesimpulan utama sebagai jawaban atas rumusan masalah yang telah ditetapkan. Pertama, nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung dalam buku tersebut mencakup tiga dimensi komprehensif sesuai dengan ruang lingkup akhlak dalam Islam. Dimensi pertama adalah akhlak kepada Allah SWT yang meliputi mentauhidkan Allah dengan keyakinan penuh bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya, bertakwa dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan-Nya dalam kondisi senang maupun susah. Dimensi kedua adalah akhlak kepada sesama manusia yang mencakup birrul walidain dengan menghormati dan berbakti kepada orang tua atau yang berperan sebagai orang tua, silaturrahim dengan menjaga hubungan baik dengan keluarga dan kerabat, musyawarah dalam mengambil keputusan bersama, dan bersikap adil tanpa membeda-bedakan. Dimensi ketiga adalah akhlak kepada lingkungan dengan memelihara, menyayangi, dan memperlakukan makhluk Allah lainnya dengan baik sebagai wujud tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Ketiga dimensi nilai akhlak ini saling terkait dan membentuk kesatuan karakter muslim yang paripurna. Kedua, metode pendidikan akhlak yang dapat diimplementasikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) berdasarkan analisis terhadap buku ini meliputi lima metode utama. Metode keteladanan (uswah hasanah) dengan menjadikan sosok Sayyidah Khadijah dan Rasulullah sebagai contoh nyata implementasi akhlak mulia yang dapat diteladani. Metode amtsal (perumpamaan) dengan menggunakan analogi dan kiasan yang mudah dipahami untuk menjelaskan konsep-konsep akhlak yang abstrak. Metode qashash (kisah) dengan menyajikan narasi perjalanan hidup tokoh-tokoh