scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Pemikiran Eksistensialisme Martin Heidegger dan Relevansinya Dengan Keberadaan Manusia di Dunia Teknologi

Anam, Rifqi Khairul

Abstract

This article explores Martin Heidegger's existentialist thought and its relevance to human existence in the technological world. Rapid technological development creates a paradox: those who fail to adapt risk alienation, yet those who blindly follow the flow without understanding its essence risk losing their self-identity. This study aims to determine the nature of technology while offering a perspective through Heidegger's existentialist philosophy. This is library research utilizing specific methodological elements: (1) Understanding: The mode of revealing meaning in a situational context; (2) Interpretation: The explication of understanding to see something "as" something, using Heidegger’s philosophy as the lens; and (3) Formal Indication: A methodological concept where philosophical concepts point to phenomena without claiming to exhaustively represent the whole situation.

Full text

Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Volume 28, Nomor 04, November 2022 42 Pemikiran Eksistensialisme Martin Heidegger dan Relevansinya Dengan Keberadaan Manusia di Dunia Teknologi Rifqi Khairul Anam STAI Muhammadiyah Probolinggo [email protected] Abstract: Martin Heidegger's Existentialist thought articles and their relevance to the background of human existence in the world of technology is its development technology, which can make someone who fails to keep up development will be considered alienated, but one can also lose identity themselves if they only follow the flow of technological developments without knowing the essence. This study aims to determine the nature of technology and at the same time provide an offer looking at technology through the perspective of Martin Heidegger's existentialist philosophy. This research is library research using elements method as follows. Understanding; means the way that is revealed in understanding something noticed. Understanding is a description of something that is already known in a situational context. Understanding in this context is the way of understanding technology revealed to researchers. Interpretation; it means explication of understanding to see something as (as) something. The interpretation here is based on the understanding of the researcher so that he uses philosophy Martin Heidegger's existentialism as a point of view to see the problem. Formal Indication; character of the concept in Martin Heidegger's phenomenological method specifically is a formal indication. This means that the concept of philosophy is related phenomena are decisive (formal) but at the same time designate (indicate) phenomena certain references to say the principle of something, without claiming to be exact represent the whole situation. Keywords: Martin Heidegger; filsafat eksistensialisme; teknologi PENDAHULUAN Sebuah penelitian filosofis yang dilakukan lin ma (2014) berkaitan perenungan makna teknologi dilihat dari sudut pandang pemikiran Heidegger, melihat bahwa terdapat hubungan esensial antara teknologi, ilmu pengetahuan, metafisika, dan paham perkembangan yang ada di dunia moderen ini. Pemikiran Heidegger mengenai teknologi sebagai pandangan yang pesimistis tetapi juga rumit, di satu sisi teknologi memberikan kemudahan bagi manusia, tetapi di sisi lain terdapat bahaya yang mengancam keberadaan manusia. Bahaya dari teknologi dalam pemikiran Heidegger adalah objektivikasi keseluruhan area entitas: alam yang dilihat sebagai sumber daya, bisnis budaya, dan penyusunan idealisasi atas segala hal. Penting untuk memikirkan kembali makna hakikat teknologi dalam persepektif filsafat eksistensialisme, yaitu, terdapat suatu bahaya dari teknologi yang disebabkan perkembangan teknologi itu sendiri. perkembangan teknologi yang begitu cepat dan meluas, jika tidak dibarengi dengan sebuah perenungan kritis akan membuat seseorang kehilangan keberadaan untuk disamaratakan ke dalam satu budaya teknologi, keberadaan yang penulis maksud adalah jatidiri asli dari seseorang berdasar keterlemparan di dunia (Heidegger, 1977). Buktinya misalnya, adanya kemungkinan orang kecanduan belanja daring, sebelum adanya belanja daring, proses berbelanja lewat toko yang berbentuk fisik, tetapi setelah adanya belanja daring menggunakan internet di mana orang dapat melihat barang yang dijual melalui layar komputer atau ponsel pintar membuat kemudahan berbelanja dari pada berjalan di toko. Hal ini Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Volume 28, Nomor 04, November 2022 43 membuat orang sangat nyaman melihat barang-barang di toko daring tanpa batasan waktu, ketika seseorang nyaman dengan kepraktisan dari toko daring, toko daring memberikan tampilan gambar yang begitu memesona dari suatu produk baru atau harga diskon dari suatu produk yang memancing hasrat ingin membeli bagi orang yang melihatnya, hal ini memungkinkan orang untuk kecanduan belanja, misalkan seseorang yang berniat melihat barang-barang di sebuah toko daring tanpa berniat membeli, bisa jadi akan membeli suatu barang karena barang tersebut terlihat menarik dan sedang ada potongan harga, orang tersebut telah mengetahui kenyamanan dalam belanja daring mulai menjadi hobi untuk melihatlihat barang di toko daring, dan menjadi kecanduan untuk berbelanja secara daring (Choi, 2014). Permasalahan eksistensial yang muncul adalah, teknologi masuk ke dalam setiap segi kehidupan, misalnya, dalam konteks belanja, tidak semua orang suka berbelanja ke toko, tetapi setelah ada teknologi belanja daring tersebut membuat orang yang tidak suka berbelanja menjadi ketagihan belanja daring, misalnya karena dorongan teman sekitar. Artinya seseorang bisa menjadi kehilangan jatidiri karena terjadi penyamarataan (levelling) untuk suka berbelanja daring. Tema utama yang diangkat dari perkembangan teknologi dari filsafat eksistensialisme Martin Heidegger adalah hilangnya jatidiri (authentic self) manusia yang hidup di dunia teknologi. Mike Featherstone memiliki pandangan yang sama berkaitan teknologi, yaitu teknologi merupakan salah satu penyamarataan manusia ke dalam suatu bentuk kontrol manusia dalam satu budaya konsumsi, yang mana saling terkait dengan niat para pemilik modal untuk membentuk budaya umum (common culture). Mike Featherstone menyebut budaya umum ini sebagai budaya populer (popular culture), budaya populer ini tidak ada hubungannya dengan peningkatan jiwa manusia melainkan hanya kesenangan tubuh (body pleasure) misal makanan berlemak, minuman yang merusak, dan kesenangan seksual dalam rutinitas yang tumpul dalam kehidupan sehari-hari (the dull routines of everyday life) (Featherstone, 1991). Kekhawatiran Heidegger mirip dengan yang dimiliki Featherstone, bahwa seorang manusia akan terbelit dengan apa yang yang biasa dilakukan orang pada umumnya atau Heidegger menggunakan kata “mereka” (“they”), sehingga jatidiri seseorang hilang menjadi kesamaan dirimereka (they-self). Sedangkan keberadaan adalah diri yang harus dipegang di dalam caranya sendiri (its own way/eigens ergriffen) (Heidegger, 2001). Filsafat eksistensialisme menurut Robert N. Beck secara luas mengacu pada pemikiran yang mengkhususkan pada eksistensi manusia dan keunikan manusia. Filsafat eksistensialisme membicarakan berbagai macam perlakuan tidak manusiawi (dehumanization) yang disebabkan teknologi industri, objektivisme ilmiah hingga alienasi dan penipuan diri (Beck, 1967: 362). Filsafat eksistensialisme Martin Heidegger secara umum mengajukan pertanyaan mengenai makna kehadiran sesuatu, tetapi secara khusus terdapat tema pencarian jatidiri (autentic self) meskipun keduanya tidak benar-benar terpisahkan karena kehadiran sesuatu dan keberanian seseorang yang berani mengungkap kehadiran sesuatu, adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Robert C. Solomon (2000) membicarakan mengenai keberadaan jatidiri yang autentik merupakan salah satu inti yang hendak diungkapkan dalam literatur eksistensialis. Solomon melihat teknologi melalaikan manusia dari kerangka pencarian jatidiri yang autentik, hal ini tidak terlepas dari keadaan dunia yang semakin berubah Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Volume 28, Nomor 04, November 2022 44 dengan adanya teknologi. Filsafat dalam perspektif Martin Heidegger adalah berfilsafat, artinya berfilsafat sebagai aktivitas manusia yang mencari keselarasan mendasar (fundamental attunement) dengan dirinya. Filsafat merupakan sebuah pertanyaan keingintahuan mengenai makna keseluruhan entitas, dan keingintahuan tersebut memasukkan orang yang bertanya itu sendiri kedalam pertanyaan yang ditanyakan (Heidegger, 1995). Filsafat eksistensi berhubungan dengan kehidupan sehari-hari yang mana seorang manusia sudah terlibat dengan teknologi. Biasanya filsafat eksistensialisme membicarakan pudarnya keunikan individu manusia yang direduksi teknologi moderen sehingga jatuh dalam kesamaan orang banyak. Pemikiran Heidegger menjadi dasar dalam penulisan ini, sebab salah satu konsep utama berkaitan hilangnya jatidiri seseorang di dunia moderen adalah konsep “kejatuhan” (“falling”) yaitu seseorang yang teralienasi dari pemahaman dirinya yang asli (existentiell) karna terlalu banyak mendengar layanan informasi seperti media sosial, oleh karena itu perlu untuk mengambil kembali jatidiri seorang manusia (Heidegger, 2001). METODE Penulisan ini merupakan penulisan filsafat mengenai masalah aktual, penulisan mengenai masalah aktual meneliti tentang fenomena atau situasi aktual yang direnungkan secara tidak langsung, artinya hasil penulisan ilmiah ini telah dilakukan oleh salah satu bidang ilmu khusus: misalnya ilmu sosiologi, yang kemudian direnungkan secara filosofis. Tujuan dari penulisan mengenai masalah aktual di masyarakat adalah mengidentifikasi filsafat tersembunyi dari sebuah kasus yang dihadapi lalu melakukan evaluasi kritis mengenai hal itu dan menunjukkan jalan pemecahan mendasar bagi masalah tersebut (Anton Bakker, 1990) Objek material penulisan ini diperoleh dari pengumpulan data, pengumpulan data dari penulisan masalah aktual dapat diperoleh dari penulisan lapangan yang diperoleh dari hasil penulisan lapangan. Tetapi berkaitan hasil penulisan yang telah berbentuk kepustakaan, maka penulisan ini merupakan penulisan kepustakaan. Objek formal penulisan ini adalah filsafat eksistensialisme Martin Heidegger, yang mana penulis meneliti pemikiran Heidegger mengenai pencarian jatidiri manusia di dalam dunia teknologi. Penulisan ini menggunakan metode fenomenologi. Fenomenologi sebagai jalan penulisan artinya jalan penulisan untuk segala sesuatu yang menampak atau fenomena (phenomenon) dan bukan berhubungan dengan objek material khusus (Heidegger, 1985). Metode fenomenologi Heidegger menggunakan prinsip perbedaan ontologi (ontological difference), artinya perbedaan adanya sesuatu (Being) dan entitas itu sendiri (beings). Penulisan filsafat merupakan penulisan mencari arti dari sesuatu dan membawa arti yang hadir ke hadapan kita itu sebagai kemungkinan keseluruhan. Perbedaan ontologi berperan sebagai prinsip untuk membaca arti kehadiran sebagai keseluruhan yang dilihat dari entitas yang menampak. Metode fenomenologi Heidegger mencari struktur dasar (essence) keseluruhan yang ada melalui apa yang terlihat dari suatu entitas (Heidegger, 1975). Permasalahan 1. Apa bahaya teknologi dari sudut pandang Martin Heidegger? 2. Bagaimana cara seseorang membebaskan diri dari bahaya teknologi sehingga mendapatkan jatidiri dari sudut pandang filsafat eksistensialisme Martin Heidegger? Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Volume 28, Nomor 04, November 2022 45 Tujuan 1. Mengetahui bahaya teknologi dari sudut pandang Martin Heidegger. 2. Memberikan tawaran solusi untuk mengatasi bahaya teknologi dalam kaitannya mendapatkan jatidiri manusia dari sudut pandang filsafat eksistensialisme Martin Heidegger. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Teknologi memiliki bahaya, bahaya yang hadir adalah sesuatu yang hadir ke hadapan manusia sudah bukan sesuatu sebagaiman adanya, melainkan sesesuatu yang dibuat untuk mengartikan arti kehadiran sesuatu itu, maka yang terjadi adalah pelupaan arti kehadiran sebagaimana adanya, artinya apa yang hadir ke hadapan manusia sudah bukan sesuatu yang hadir secara alamiah tetapi telah tergantikan oleh sesuatu yang dibuat untuk mengatakan artinya (Heidegger, 1999:). misalnya dalam konteks teknologi pada belanja daring, belanja yang biasanya suatu bentuk aktivitas memenuhi kebutuhan kemudian dibingkai secara teknologi kemudian menjadi bentuk konsumsi. Penulis melihat terdapat tiga bahaya teknologi dalam segala bidang: 1. Machination dan Pengalaman Hidup (Lived Experience) Pembingkaian memberikan arah kepada dominasi membuat dan apa yang bisa dibuat atau Heidegger menyebut sebagai machination. Lebih jauh, Heidegger menafsirkan machination sebagai rencana rumit dan tersembunyi untuk mendapatkan kekuatan atau kontrol (complicated and secret plans to get power or control). Heidegger memberi nama “machination” bagi jalan memahami kehadiran dengan cara merencanakan (plotting) dan membuat (making). Keterlibatan manusia terhadap sesuatu berdasarkan machination adalah sesuatu dapat dibuat. Langkah yang menentukan kehadiran machination adalah pembentukan apa yang hadir paling dekat bagi seseorang, menjadi apa yang sama bagi setiap manusia dalam setiap situasi (Heidegger. 1999). Dominasi Machination menekan manusia untuk merasakan pengalaman hidup (lived-experience). Pengalaman hidup artinya setiap kejadian yang baru harus dialami, sesuatu yang dangkal (banal) tetapi itu merupakan inti paling penting dari machination. Heidegger melihat apa yang menjadi kedangkalan dari machination dan dunia teknologi secara umum adalah setiap manusia menjadi penonton dari apa yang baru diproduksi, sehingga dipaksa merasa tidak beradab (civilized) jika belum mencoba pengalaman hidup baru yang ditawarkan machination. Heidegger mencontohkan, sebuah teater pertunjukan olahraga tinju merupakan pengalaman hidup baru untuk merasakan keseruan pertandingan tinju bagi para penonton, tetapi bukan untuk petinju itu sendiri sebab arti tinju tidak dimiliki para penonton yang membicarakan tinju, tinju hanya memiliki arti bagi petinju itu sendiri dan memiliki arti tersendiri baginya (Heidegger, 1994). Machination sebagai aktivitas manusia untuk membuat dan merencanakan berhubungan dengan pengalaman hidup, dalam hubungannya dengan teknologi, misalnya, belanja daring merupakan sebuah aktivitas belanja, secara alamiah, belanja merupakan aktivitas memenuhi kebutuhan tetapi belanja itu sendiri dibuat menjadi kebutuhan, sebab belanja secara teknologi dapat diartikan sebagai alat konsumsi jika mempertimbangkan benda yang dibeli di belanja daring bukanlah benda kebutuhan untuk digunakan, melainkan tindakan konsumsi, artinya belanja bukan lagi suatu bentuk aktivitas memenuhi kebutuhan Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Volume 28, Nomor 04, November 2022 46 melainkan suatu pembentukan belanja sebagai aktivitas menghabiskan keinginan mengkonsumsi itu sendiri. 2. Menggerakkan keseluruhan (Total Mobilization) Kata “menggerakkan keseluruhan” (“total mobilization”) digunakan pertama kali oleh Erns Junger untuk menggambarkan bahwa pada tahun 1933, keseluruhan para pekerja (workers) berpartisipasi dalam satu tujuan yaitu ruh (gestalt) para pekerja mencapai reformasi melalui komunis dan Nazi yang mewakili kepentingan sebenarnya dari para pekerja. Para pekerja sekaligus tentara diharapkan berpartisipasi dalam aturan teknologi untuk membuat dunia. Secara khusus “menggerakkan keseluruhan” mengacu kepada proses menggerakkan secara keseluruhan sumber daya melalui teknologi moderen untuk memproduksi material perang agar dapat memenangkan perang dunia I (Zimmerman, 1990). Ketika Jerman kalah perang dunia I, Junger mengatakan kekalahan perang disebabkan gagal menggerakkan secara keseluruhan kekuatan yang dimilikinya. Melalui ruh para pekerja, diharapkan menggerakkan keseluruhan proses produksi untuk lebih menghasilkan alat teknologi yang memiliki kekuatan lebih besar untuk mendominasi planet. Kata “ruh” (“gestalt”) para pekerja mengacu kepada bentuk kemanusiaan yang baru dan bukan bentuk kejiwaan individual semata (Zimmerman, 1990). Zimmerman (1990) melihat Junger tergantung kepada teknologi (technology determinist) dengan membentuk ruh para pekerja sebagai alat penggerak untuk menggerakkan seluruh kekuatan untuk membentuk teknologi industri, tetapi di lain sisi, gagal melihat perbudakan pekerja dan pengasingkan manusia dari kehidupan sekitarnya yang terjadi pada industri sebagai efek samping pertumbuhan teknologi yang semakin raksasa (gigantic). Heidegger bersifat ambigu terhadap pemikiran Junger, di satu sisi Heidegger setuju bahwa perlunya membangkitkan kembali “ruh” bangsa Jerman tetapi Heidegger tidak setuju “ruh” ini diarahkan menjadi teknologi melalui menggerakkan keseluruhan (total mobilization) dalam metafisika produksi. Heidegger melihat bahaya, sesuatu yang tersembunyi dalam menggerakkan keseluruhan; segalanya diturunkan menjadi kesamaan sebagai bahan mentah yang berdiri-melayani produksi industri. Secara mendasar Heidegger melihat apa arti “menggerakkan keseluruhan” adalah manusia direduksi secara keseluruhan dalam kesamaan sebagai pekerja dalam organisasi industri (Zimmerman, 1990). Kadokawa Haruki mengatakan menggerakkan keseluruhan (total mobilization) tidak lagi bergerak di area militer seperti saat Nazi Hitler berkuasa, tetapi prinsip “menggerakkan keseluruhan” yang awalnya menggerakkan segala sumber daya menuju militer, saat ini menjadi prinsip teknologi media untuk mengarahkan massa menggunakan keseragaman untuk bergerak menuju konsumsi. Media menggerakkan secara keseluruhan lewat kata-kata, suara, dan gambar sehingga massa menuju satu kesatuan, yaitu kesatuan berdiri-melayani konsumsi itu sendiri. Kata “menggerakkan” disini berhubungan dengan tubuh dan kehendak untuk mendorong manusia menjadi satu dimensi untuk aktif mengkonsumsi (Steinberg, 2017). Menggerakkan secara keseluruhan di dalam konteks teknologi dapat kita lihat semakin banyaknya iklan belanja daring di media sosial seperti televisi dan internet. Berdasarkan arti “menggerakkan” dari Ito di atas, belanja daring membuat tubuh dan kehendak manusia tergerak untuk aktif mengkonsumsi. Penulis menafsirkan arah menggerakkan keseluruhan dalam kasus teknologi belanja daring dimulai dari kecepatan akses kepada belanja, biasanya Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Volume 28, Nomor 04, November 2022 47 ketika seseorang akan belanja, perlu waktu untuk menuju pasar atau mall, saat ini “pasar” untuk melihat barang dagangan telah ada di genggaman. Tetapi penulis menafsirkan, titik tekan menggerakkan keseluruhan dalam belanja daring tidak terletak pada kemudahan akses menuju barang, sebab masih mungkin, meskipun kecepatan akses kepada barang dagangan virtual meningkat, tidak menjamin seseorang akan larut ke dalam konsumsi berlebihan tanpa adanya dorongan dari luar dirinya. Penulis menafsirkan, dorongan dari luar agar seseorang aktif berbelanja adalah iklan, secara praktis iklan di dalam belanja daring berbentuk promo & potongan harga (discount). 3. Berdiri-melayani (Standing-Reserve) Heidegger melihat berdiri-melayani merupakan akibat dari meluasnya teknologi, teknologi membuat segala sesuatu yang hadir ditantang untuk dibingkai. Pembingkaian (enframing) mengacu kepada jalan pengungkapan (way of revealing) apa yang nyata dengan cara diatur untuk berdirimelayani (standing-reserve). Pembingkaian sebagai hakekat teknologi tidak berhubungan langsung dengan teknologi seperti mesin teknologi, melainkan hakekat teknologi sebagai pembingkaian artinya jalan pengungkapan apa yang nyata melalui satu jalan pengungkapan untuk berdiri-melayani. Berdiri-melayani (standing-reserve) merupakan nama bagi segala hal yang diatur melalui prinsip teknologi. Manusia membingkai segala hal yang nyata untuk melayani manusia, tetapi sebenarnya manusia tidak menguasai pembingkaian, manusia malah melayani pembingkaian itu sendiri (Heidegger, 1977). Apa yang menjadi bahaya dari pembingkaian adalah pelupaan apa yang hadir di sekitar kita (forgottenness of Being). Pelupaan kehadiran itu berarti melupakan arti sesuatu yang hadir di hadapannya dan digantikan apa yang dibuat kehadapan seseorang. Segala hal dimanapun dan kapanpun dibentuk dengan aturan teknologi. Ruang arti yang hadir sebagaimana adanya dari suatu situasi, berubah menjadi apa yang terbingkai untuk mewakili artinya (Heidegger, 1977). misalnya, aktivitas belanja pada situasi belanja daring, bukan lagi suatu bentuk aktivitas memenuhi kebutuhan melainkan suatu pembingkaian teknologi, yang mana belanja daring yang berlebihan dapat membentuk pengejawantahan berdiri-melayani teknologi dalam kasus perilaku belanja daring, yaitu “perilaku belanja kompulsif.” Perilaku belanja kompulsif didefinisikan sebagai suatu kondisi kronis, di mana seseorang melakukan aktivitas pembelian berulang. Seseorang yang belanja kompulsif tidak melihat apa yang akan dilakukannya dengan barang belanjaannya tetapi kegiatan mengonsumsi itu sendiri. Belanja berubah menjadi kebutuhan itu sendiri (Soedjatmiko, 2008). Perilaku belanja kompulsif merupakan pengejawantahan berdirimelayani, alasannya adalah lewat bingkai belanja daring yang memberikan kemudahan berbelanja, manusia menjadi lupa arti belanja sebagai pemenuhan kebutuhan dan masuk lebih dalam kepada kesenangan berbelanja itu sendiri. Perilaku belanja kompulsif adalah perilaku belanja yang mengambil keputusan membeli bukan karena kebutuhan, melainkan karena pemuasan keinginan belanja. Perilaku belanja kompulsif dapat membuat seseorang terlalu berlebihan dalam membeli barangbarang konsumsi, karakter perilaku ini adalah melakukan pembelian barang secara berulang-ulang tanpa memikirkan akibat pembelian tersebut (Edward, 1993). Penulis menafsirkan, inilah pengejawantahan berdirimelayani teknologi dalam kasus belanja daring: manusia itu sendiri menjadi pelayan teknologi yang memberikan kesenangan berbelanja sehingga hilang dalam kesenangan berbelanja dengan melupakan arti untuk apa berbelanja itu. Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Volume 28, Nomor 04, November 2022 48 Penulis menafsirkan, penekanan hubungan perilaku belanja daring dan perilaku belanja kompulsif tidak bisa dilihat hanya permasalahan perbedaan latar belakang kejiwaan antara satu orang dan orang lain; melainkan, jika berbicara secara filsafat, ini ada hubungannya antara kehadiran sebagaimana adanya dan teknologi. Intinya, sebagai suatu kemungkinan, bila seseorang tidak kritis menyikapi apa yang tersembunyi di dalam alat teknologi, permasalahan teknologi hanya akan jatuh ke dalam permasalahan hubungan manusia dan teknologi, sedangankan penulis melihat Heidegger (1977) menekankan kaitan hubungan kehadiran sebagaimana adanya dan teknologi, posisi manusia dalam teknologi hanya sebatas manusia yang menjalankan teknologi tetapi akibat teknologi tidak ekslusif kepada manusia. Pembahasan Heidegger menawarkan tiga pemikiran mengenai hubungan dengan teknologi: tawaran pertama, melihat kembali hubungan dengan alat teknologi, seseorang tetap dapat menggunakan alat teknologi dalam kehidupan sehari-hari dan mengakui penggunaan alat teknologi memang tidak terhindarkan. Tetapi, seseorang perlu membebaskan diri dari ketergantungan alat teknologi sebagai sesuatu yang memengaruhi dasar inti seseorang. Seseorang perlu melepaskan dari ketergantungan alat teknologi, artinya keterlibatan terhadap teknologi bukan lagi suatu kebutuhan yang mutlak. Heidegger memberi nama keterlibatan semacam ini dengan teknologi sebagai “pelepasan terhadap segala sesuatu” (releasement toward things/Die Gelassenheit zu den Dingen). Pentingnya melepaskan diri dari ketergantungan teknologi adalah seseorang tidak lagi melihat alat teknologi sebagai barang teknis, tetapi membaca arti kehadiran alat teknologi secara utuh, itu membuat seseorang dapat melihat visi teknologi, bahwa alat-alat teknologi meminta hubungan yang lain terhadap segala sesuatu, yaitu hubungan pembingkaian, misalnya, pertanian tradisional diubah menjadi industri makanan berdasar mesin (Heidegger, 1966). Alat-alat teknologi memiliki arti, tetapi, signifikansi alat-alat teknologi yang memiliki dominasi teknologi itu menyembunyikan arti keberadaannya. Tapi jika terus-menerus melihat dan mencari arti teknologi dari alat-alat teknologi di sekitar, seseorang akan dapat merasakan arti tersembunyi dari alat-alat teknologi itu. Manusia berada di ujung alam yang menyembunyikan dirinya dari penglihatan tetapi juga mendekati secara sembunyisembunyi untuk mendominasi manusia, itulah alam teknologi. Oleh karena itu, seseorang perlu selalu terbuka terhadap apa yang tersembunyi dalam alat-alat teknologi. Keterbukaan terhadap arti tersembunyi alatalat teknologi ini disebut “keterbukaan terhadap misteri” (opennes to the mystery) (Heidegger, 1966). “Pelepasan kepada sesuatu” dan “keterbukaan terhadap misteri” saling berkaitan, keduanya memberikan kemungkinan kepada seseorang untuk tinggal di dunia yang berbeda secara keseluruhan. Alat–alat teknologi memang memberikan kemudahan kepada manusia, tetapi terdapat misteri dalam adanya teknologi, kehilangan akar (autochthony) dapat terjadi jika seseorang tidak bersifat kritis dengan adanya teknologi. Terakhir, “Pelepasan kepada sesuatu” dan “keterbukaan terhadap misteri” tidak akan terjadi tiba-tiba dalam diri mereka sendiri, seseorang perlu membangkitkan di dalam jiwanya hanya melalui usaha terusmenerus dan keberanian berpikir (Heidegger, 1966). Tawaran kedua, membalik dari berpikir memperhitungkan (calculative thinking) menuju berpikir merenung (meditative thinking). Berpikir mererung adalah merenungkan arti mengenai sesuatu yang hadir ke hadapannya dan merasakan arti Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Volume 28, Nomor 04, November 2022 49 sesuatu itu sebagai keseluruhan. Seseorang mungkin protes: berpikir merenung hanya terbang ke awang-awang tanpa melihat kehidupan sehari-hari sekitar. Itu kehilangan sentuhan, itu tidak ada urusan dengan urusan praktis dan pemahaman rata-rata. Itu benar sebagian, berpikir merenung tidak mesti dapat menghasilkan kepastian jawaban, apalagi dapat langsung dipahami semua orang, artinya seseorang tidak akan mendapatkan nama dan jabatan dengan membangkitkan perenungan di dalam dirinya. Tetapi, manusia adalah mekhluk berpikir, yang berpikir pada tingkat merenung, untuk dapat mendekatkan apa yang hadir di dalam dirinya dan tidak lagi terasing dari dirinya, seseorang perlu merenung melihat apa yang hadir tinggal di sekitarnya, mengutamakan apa yang kita “tinggal,” (dwell) itulah apa yang paling dekat bagi seseorang, apa yang menjadi perhatian, masing-masing dari manusia, itulah “rumah” (home) (Heidegger, 1966). Jalan berpikir merenung adalah melihat apa yang dekat dan memikirkannya, tanpa mewakilinya dalam satu ide maupun membuat skematisasi ide-ide. Berpikir merenung mengikat diri kita sendiri kepada rasa terdalam yang hadir di hati seseorang, inilah seni (Heidegger, 1966). Berpikir secara merenung terikat dengan seni (art) sebagai jawaban atas dominasi berpikir secara teknologi. Heidegger melihat jatidiri manusia berkelindan dengan seni sebagai pengungkapan kehadiran lewat kerja seni (work of art). Kata ”kerja” (“work”) disini berarti membangun atau membentuk dunia, “dunia” merupakan alam dimana manusia menjadi dirinya sendiri dan merasa ada di rumah (at home). Manusia tinggal di rumah (home) bersama segala sesuatu dekat dengannya, dan pengungkapan arti tinggal bersama mereka, pengungkapan bukan bertujuan mewakili kehadiran secara tepat, melainkan membawa maju pengungkapan kehadiran diri melalui seni (art) (Heidegger, 2001). Tawaran ketiga, membangkitkan rasa seni di dalam jiwa manusia, “Seni” (“art”) merupakan apa mempertahankan kreativitas seseorang sehingga terbuka jalannya sendiri menuju jatidirinya. Jatidiri manusia memang telah ada dalam dirinya sendiri, tetapi jatidiri perlu upaya mengambil kembali jatidiri yang asli seseorang itu. Jatidiri muncul lewat pengungkapan keunikan melalui kerja seni yang mana membawa maju sesuatu sebagaimana adanya sehingga dapat tersampaikan kepada orang lain tanpa bermaksud mewakili kepada keseluruhan entitas (Heidegger, 2001). Misalnya, sepasang sepatu, setiap orang telah berkenalan berkenalan dengannya. Heidegger melihat lukisan Van Gogh tentang sepasang sepatu petani mengungkapkan sepasang sepatu yang hadir kehadapan Van Gogh. Lukisan Van Gogh tidak mewakili sepatu secara umum melainkan mengungkapkan sepatu petani yang hadir kehadapnnya. Suatu kerja seni Van Gogh merupakan pengungkapan yang unik di dalam dirinya sendiri. Heidegger dengan mengacu kepada lukisan Van Gogh, menunjukkan sebuah kejadian pengungkapan keunikan sebuah sepatu melalui sebuah kerja seni (Heidegger, 2001). Suatu kerja seni membawa maju kehadiran disekitar kita yang tidak pernah ada sebelumnya dan tidak akan pernah datang sama untuk kedua kali. Suatu kerja seni terletak dalam kesendirian (solitarily), berpegang pada diri sendiri dan jelas memotong semua ikatan dengan makhluk manusia. Hasilnya terjadi pertemuan antara rasa didalam diri seorang manusia dan kehadiran disekitarnya, itulah asal jatidiri yang asli. Misalnya, seorang seniman (artist) mendapatkan jatidirinya dengan membawa dirinya kepada keterbukaan apa yang hadir kehadapannya, dan dengan ini dia membuang kekangan semua yang biasa, seperti: nama, Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Volume 28, Nomor 04, November 2022 50 hadiah, dan pencarian untuk tetap dalam keteraturan (Heidegger, 2001). Heidegger melihat hubungan filsafat dan seni saat ini terpisah. Filsafat saat ini utamanya diarahkan kepada epistemologi, dengan prinsip kebenaran sebagai ketepatan mewakili, dan di lain sisi, seni menjadi teori keindahan atau estetika (aesthetics). Estetika melihat kerja seni dari dari luar dan dibingkai dalam teori keindahan (Heidegger, 2001). Tetapi, Heidegger melihat seni sebagai kejadian kebenaran, pada tingkat sebagaiman adanya, sebab seni membawa maju kodrat alamiah seseorang untuk berdiri dalam kebenaran. Heidegger melihat seni secara mendasar adalah puisi. Puisi berasal dari bahasa Yunani yaitu poesy. Kata “poesy” berarti membawa maju dalam sebuah produksi, nama ini kemudian secara khusus mengacu kepada seni kata-kata dan dalam seni Yunani secara umum. Poesy membuka apapun lebih dari yang biasa, ini terletak pada bahasa, bahasa membuka kehadiran untuk pertama kalinya. Disinilah bahasa muncul pertama kali membangun kebenaran sebagai pengungkapan dalam puisi (Heidegger, 2001). Heidegger melihat kata-kata puitis di dalam puisi memproyeksikan kebenaran. Puisi bukan kesenangan menuju alam tidak nyata. Puisi membuka apa yang tersembunyi di tengah berkumpulnya entitas sehari-hari, ini merupakan proses berpikir untuk menyusun kata-kata puitis, kekuatan imajinasi. Pada orang Yunani, terutama sebelum Plato, puisi memproyeksikan kebenaran dalam mengungkap Ada, artinya di dalam puisi terjadi proses keterbukaan memberi nama untuk pertama kali, yang mana bahasa yang biasa sebagai pertukaran dan persetujuan dalam komunikasi tidak bisa mengikuti. Kata-kata puitis melepaskan dari rutinitas yang biasa sekaligus mengungkapkan (unconceal) suatu kejadian yang terungkap unik dalam setiap waktunya (Heidegger, 2001). Heidegger melihat secara umum seni merupakan kreativitas yang memampukan kebenaran menjadi terungkap. Ketika seni terjadi maka terjadi pula tusukan menuju awal sejarah yang baru, sejarah siap mengulang dari awal. Disinilah titik balik dimana seni membalik cara berpikir kaku yang dimiliki oleh cara berpikir kalkulatif khas teknologi. (Heidegger, 2001). PENUTUP Terdapat beberapa kesimpulan yang dapat ditarik berdasar permasalahan yang dikemukakan terkait dengan pokok pembahasan yang telah dilakukan adalah sebagai berikut. Pertama, berdasarkan mempertimbangkan pemikiran Heidegger berkaitan teknologi, bahwa hakekat teknologi sebagai pembingkaian (enframing). Kata “pembingkaian” mengacu kepada sifat teknologi untuk mengatur (setting-upon) untuk mengungkap; “mengungkap” artinya membuka kunci (unlocks) dari sesuatu sebagaimana adanya untuk diarahkan menuju kepada sesuatu yang lain, yaitu dorongan kepada keuntungan tertinggi dengan pengeluaran paling sedikit. Bahaya teknologi yang hadir secara meluas di dalam kehidupan manusia adalah membuat pelupaan arti sesuatu sebagaimana adanya berubah menjadi suatu hal yang berbeda artinya, misalnya, kegiatan belanja di dalam dunia teknologi yang awalnya merupakan pemenuhan kebutuhan yang harus segera dipenuhi berubah menjadi sebuah aktivitas mengikuti hasrat menghabiskan keinginan belanja itu sendiri di dalam gempuran iklan belanja daring. Secara filosofis, terdapat tiga bahaya dari pengejawantahan teknologi dalam kehidupan manusia, yaitu: pertama, dominasi apa yang bisa dibuat (machination) dan pengalaman hidup untuk selalu