Ketidakpastian Hukum Keputusan Fiktif Positif Oleh Pejabat Pemerintahan Tata Usaha Negara
Full text
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Ketidakpastian Hukum Keputusan (Tan Hana Darma Mangruwa Wati, et., al) | 348-357 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 11, December 2025, P. 348-357 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17953293 Ketidakpastian Hukum Keputusan Fiktif Positif Oleh Pejabat Pemerintahan Tata Usaha Negara Tan Hana Darma Mangruwa Wati, Syofyan Hadi 1,2Unive$rsitas 17 Agustus 1945 Surabaya Abstract An Administrative $ De $ cision, also re $ fe $ rre $ d to as a State $ Administrative $ De $ cision (KTUN), is a writte $ n de $ te $ rmination issue $ d by a gove $ rnme $ ntal body and/or official in the $ e $ xe $ rcise $ of gove $ rnme $ ntal administration. This de $ finition is stipulate $ d in Article $ 1 point 7 of Law Numbe $ r 30 of 2014 conce $ rning Gove $ rnme $ nt Administration (UUAP). The $ same $ re $ gulation also re $ de $ fine $ d the $ conce $ pt of ne $ gative $ fiction as containe $ d in Article $ 3 of Law Numbe $ r 5 of 1986 conce $ rning the $ State $ Administrative $ Court (UUPTUN) into positive $ fiction, as re $ gulate $ d in Article $ 53 of the $ UUAP. The $ conce $ pt of ne $ gative $ fiction implie $ s that the $ inaction of a gove $ rnme $ nt official in re $ sponding to a re $ que $ st submitte $ d by the $ public, upon the $ e $ xpiration of the $ statutory pe $ riod, is de $ e $ me $ d a rejection. Conve $ rse $ ly, positive $ fiction implie $ s that the $ inaction of a gove $ rnme $ nt official upon the $ e $ xpiration of the $ statutory pe $ riod is de $ e $ me $ d an approval of the $ re $ que $ st. Following the $ e $ nactme $ nt of Law Numbe $ r 6 of 2023 conce $ rning the $ Stipulation of Gove $ rnme $ nt Re $ gulation in Lie $ u of Law Numbe $ r 2 of 2022 on Job Cre $ ation into Law (UUCK), the $ principle $ of positive $ fiction re $ mains re $ cognize $ d. Howe $ ve $ r, the $ ame $ ndme $ nt re $ move $ d the $ jurisdiction of the $ State $ Administrative $ Court (PTUN) to adjudicate $ fictitious administrative $ de $ cisions, the $ re $ by cre $ ating issue $ s of le $ gal unce $ rtainty for the $ public, e $ spe $ cially conside $ ring that the $ imple $ me $ nting Pre $ side $ ntial Re $ gulation has ye $ t to be $ issue $ d. This re $ se $ arch e $ mploys a normative $ le $ gal re $ se $ arch me $ thod with a pre $ scriptive $ approach, aiming to provide $ pre $ scriptive $ solutions and le $ gal re $ asoning re $ garding the $ issue $ s e $ xamine $ d. Ke $ yword: De $ cision, Gove $ rnme $ nt Official, Positive $ Fictitious De $ cision, Le $ gal Ce $ rtainty Abstrak Ke$putusan Administrasi Pe$me$rintahan yang juga dise$but se$bagai Ke$putusan Tata Usaha Ne$gara (KTUN) adalah ke$putusan te$rtulis yang dike$luarkan ole$h Badan dan/atau Pe$jabat Pe$me$rintahan dalam pe$nye$le$nggaraan pe$me$rintahan. Pe$nge$rtian te$rse$but diatus dalam Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 te$ntang Administrasi Pe$me$rintahan (UUAP). Pe$raturan te$rse$but pula yang me$ngubah makna fiktif ne$gatif dalam Pasal 3 UndangUndang Nomor 5 Tahun 1986 te$ntang Pe$radilan Tata Usaha Ne$gara (UUPTUN) me$njadi fiktif positif dalam Pasal 53 UUAP. Fiktif ne$gatif me$miliki makna bahwa diamnya pe$jabat pe$me$rintah atas pe$rmohonan yang diajukan ole$h masyarakat te$lah dinyatakan le$wat waktu be$dasarkan undang-undang maka hal te$rse$but dianggap me$nolak. Se$dangkan fiktif positif me$miliki makna bahwa diamnya pe$jabat pe$me$rintah atas pe$rmohonan yang diajukan ole$h masyarakat te$lah le$wat waktu be$rdasarkan undang-undang maka dianggap me$ngabulkan. Pasca Undang-Undang Nomor 6 tahun 2023 te$ntang Pe$ne$tapan Pe$me$rintah Pe$ngganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 te$ntang Cipta Ke$rja me$njadi Undang-Undang (UUCK) te$tap me$ngatur me$nge$nai fiktif positif te$tapi de$ngan me$nghapus ke$we$nangan PTUN untuk me$ngadili KTUN fiktif yang te$ntunya me$nimbulkan proble$matika ke$pastian hukum bagi masyarakat me$ngingat Pe$raturan Pre$side$n be$lum kunjung dite$rbitkan. Pe$ne$litian ini
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Ketidakpastian Hukum Keputusan (Tan Hana Darma Mangruwa Wati, et., al) | 348-357 me$rupakan je$nis pe$ne$litian normatif yang be$rsifat pre$skripif. Hasilnya akan me$mbe$rikan pre$skripsi me$nge$nai isu yang dite$liti. Kata kunci: Ke $ putusan, Pe $ jabat Pe $ me $ rintahan, Fiktif Positif, Ke $ patian Hukum Article Info Received date: 25 November 2025 Revised date: 30 November 2025 Accepted date: 12 December 2025 PENDAHULUAN Ke$be$radaan Pe$radilan Administrasi me$rupakan conditio sine $ quo non yang be$rarti suatu kondisi yang tanpanya tidak mungkin bagi pe$me$nuhan status dan le$gitimasi ne$gara hukum. Re$gulasi me$nge$nai Pe$radilan Tata Usaha Ne$gara awalnya diatur dalam UndangUndang Nomor 5 Tahun 1986 te$ntang Pe$radilan Tata Usaha Ne$gara, dan me$ngalami pe$rubahan pe$rtama kali me$njadi Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004, dan me$ngalami pe$rubahan untuk yang ke$dua kalinya me$njadi Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 te$ntang Pe$radilan Tata Usaha Ne$gara. Be$rdasarkan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 me$ngatur me$nge$nai pe$nge$rtian Pe$radilan Tata Usaha Ne$gara, bahwa Pe$radilan Tata Usaha Ne$gara adalah salah satu pe$laku ke$kuasaan ke$hakiman bagi rakyat pe$ncari ke$adilan te$rhadap se$ngke$ta Tata Usaha Ne$gara. Be$rdasarkan Pasal 47 jo Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Pe$radilan Tata Usaha Ne$gara (UUPTUN) dapat dimaknai bahwa Pe$radilan Tata Usaha Ne$gara me$rupakan kompe$te$nsi absolut untuk me$me$riksa, me$ngadili dan me$mutus te$rkait dike$luarkannya Ke$putusan Tata Usaha Ne$gara. Pada hakikatnya dapat dimaknai bahwa se$olah pe$me$rintah be$rtindak aktif (commision) dalam me$nge$luarkan Ke$putusan Tata Usaha Ne$gara. Akan te$tapi, faktanya banyak Ke$putusan Tata Usaha Ne$gara yang dike$luarkan ke$tika pe$me$rintah tidak me$lakukan tindakan apa pun atau be$rsifat pasif. Be$rdasarkan Pasal 3 ayat (1) UU PTUN yang me$ngatur bahwa, ”apabila badan atau Pe$jabat Tata Usaha Ne$gara tidak me$nge$luarkan ke$putusan, se$dangkan hal itu me$njadi ke$wajibannya, maka hal te$rse$but disamakan de$ngan Ke$putusan Tata Usaha Ne$gara” dapat dimaknai suatu ke$tiadaan tindakan dari pe$jabat tata usaha ne$gara atas suatu pe$rmohonan yang te$lah diajukan ole$h masyarakat, maka diamnya pe$jabat tata usaha te$rse$but diakui atau dapat dikatakan se$bagai Ke$putusan Tata Usaha Ne$gara. Pe$nge$rtian dari Ke$putusan Tata Usaha Ne$gara se$ndiri adalah suatu pe$ne$tapan te$rtulis yang dike$luarkan ole$h badan atau pe$jabat tata usaha ne$gara yang be$risi tindakan hukum tata usaha ne$gara yang be$rdasarkan pe$raturan pe$rundang-undangan yang be$rlaku, yang be$rsifat konkre$t, individual dan final, yang me$nimbulkan akibat hukum bagi se$se$orang atau badan hukum pe$rdata. Be$rdasarkan Pasal 3 ayat (2) UUPTUN me$ngatur bahwa, “jika suatu Badan atau Pe$jabat Tata Usaha Ne$gara tidak me$nge$luarkan ke$putusan yang dimohon, se$dangkan jangka waktu se$bagaimana te$lah dite$ntukan data pe$raturan pe$rundang-undangan dimaksud te$lah le$wat, maka Badan atau Pe$jabat Tata Usaha Ne$gara te$rse$but dianggap te$lah me$nolak Ke$putusan yang dimaksud”. Aturan te$rse$but dike$nal de$ngan fiktif ne$gatif, di mana ke$tiadaan re$spon atau tanggapan apa pun dari Badan atau Pe$jabat Tata Usaha Ne$gara atas pe$rmohonan masyarakat yang be$rdampak pada pe$rmohonan te$rse$but dianggap ditolak. Se$iring de$ngan pe$rke$mbangan suatu ne$gara dan ke$butuhan masyarakat, maka pe$me$rintah harus te$rus me$ne$rus me$ningkatkan kualitas pe$nye$le$nggaraan pe$me$rintahan, badan dan/atau pe$jabat pe$me$rintahan dalam me$njalankan ke$we$nangannya be$rtujuan agar te$rciptanya suatu pe$me$rintahan yang se$suai de$ngan ke$butuhan masyarakat (citize$n frie$ndly). Hal te$rse$but me$latar be$lakangi dibe$ntuknya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 te$ntang Administrasi Pe$me$rintahan
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Ketidakpastian Hukum Keputusan (Tan Hana Darma Mangruwa Wati, et., al) | 348-357 (UUAP), me$lalui aturan inilah aturan me$nge$nai hukum administrasi dinilai dapat me$nye$suaikan dan me$me$nuhi ke$butuhan masyarakat (citize$n frie$ndly). Adanya suatu pe$rwujudan pe$rubahan aturan hukum administrasi me$njadi citize$n frie$ndy te$rdapat dalam Pasal 53 ayat (3) UUAP yang me$ngatur bahwa, “Apabila dalam batas waktu se$bagaimana dimaksud pada ayat (2), Badan dan/atau Pe$jabat Pe$me$rintahan tidak me$ne$tapkan dan/atau me$lakukan Ke$putusan dan/atau Tindakan, maka pe$rmohonan te$rse$but dianggap dikabulkan se$cara hukum. Be$rdasarkan aturan te$rse$but be$rarti bahwa diamnya Badan dan/atau Pe$jabat Tata Usaha ne$gara atas suatu pe$rmohonan yang diajukan ole$h masyarakat dianggap sah dikabulkan se$cara hukum, tindakan te$rse$but dise$but de$ngan fiktif positif. me$skipun suatu pe$rmohonan yang diajukan masyarakat ke$pada Badan dan/atau Pe$jabat Tata Usaha Ne$gara dikabulkan se$cara fiktif positif yang te$lah diatur dalam UUAP te$rse$but, te$tapi te$tap bukan be$rarti bahwa se$rta me$rta Ke$putusan Tata Usaha Ne$gara te$rse$but langsung dianggap be$rlaku. Be$rdasarkan Pasal 53 ayat (4) yang me$ngatur bahwa, “Pe$mohon me$ngajukan pe$rmohonan ke$pada Pe$ngadilan untuk me$mpe$role$h putusan pe$ne$rimaan pe$rmohonan se$bagaimana dimaksud pada ayat (3)”. Artinya bahwa masyarakat yang me$ngajukan pe$rmohonan te$rhadap Badan/Pe$jabat Tata Usaha Ne$gara di mana pe$rmohonannya te$lah dianggap dikabulkan se$cara fiktif positif harus te$rle$bih dahulu me$ngajukan pe$rmohonan ke$ Pe$radilan Tata Usaha Ne$gara (PTUN) agar me$ndapatkan putusan untuk me$me$rintah Badan/Pe$jabat Tata Usaha Ne$gara yang be$rsangkutan untuk me$nge$luarkan suatu Ke$putusan dan/atau Tindakan yang diminta pe$mohon. Me$nge$nai prose$dur atau tata cara te$rhadap pe$rmohonan fiktif positif te$lah diatur dalam Pe$raturan Mahkamah Agung (PE$RMA) Nomor 8 Tahun 2017 te$ntang Pe$doman Be$racara untuk Me$mpe$role$h Putusan atas Pe$ne$rimaan Pe$rmohonan Guna Me$ndapatkan Ke$putusan dan/atau Tindakan atau Pe$jabat Pe$me$rintahan. Se$iring de$ngan pe$rke$mbangan pe$ningkatan inve$stasi di Indone$sia, maka dibe$ntuklah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 te$ntang Cipta Ke$rja (UUCK) yang te$lah dilakukan pe$rbaikan me$lalui pe$nggantian me$njadi Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 te$ntang Pe$ne$tapan Pe$raturan Pe$me$rintah Pe$ngganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 te$ntang Cipta Ke$rja me$njadi Undang-Undang. Re$gulasi atau aturan te$rse$but me$ngubah banyak pe$raturan pe$rundang-undangan yang ada, dikare$nakan UUCK me$rupakan aturan yang omnibus law. Be$rdasarkan ke$te$ntuan Pasal 175 angka 7 UUCK, bahwa dapat dimaknai te$lah te$rdapat pe$rubahan tata cara pe$ne$rbitan Ke$putusan Tata Usaha Ne$gara fiktif positif yang te$lah diatur dalam Pasal 53 Undang-Undang Administrasi Pe$me$rintahan. Di mana se$be$lumnya te$rhadap KTUN fiktif positif yang mana hal te$rse$but tidak ditindak lanjuti ole$h Pe$jabat Tata Usaha Ne$gara se$cara suka re$la, pe$mohon dapat me$ngajukan pe$rmohonan ke$pada PTUN untuk me$nge$luarkan putusan me$me$rintahkan Pe$jabat yang be$rsangkutan me$ne$rbitkan KTUN yang dimohonkan. Akan te$tapi, se$te$lah diundangkannya UUCK Pe$jabat Tata Usaha Ne$gara diharuskan langsung me$nge$luarkan KTUN fiktif positif yang te$lah dimohonkan pe$mohon tanpa pe$rlu me$lalui dan me$minta putusan dari PTUN. UUCK te$lah me$ngubah konse$p pe$rmohonan fiktif positif di antaranya, me$ngubah batas waktu pe$jabat pe$me$rintah dalam me$laksanakan ke$putusan 5 hari ke$rja se$te$lah pe$rmohonan te$lah dire$gistrasi yang mana se$be$lumnya UUAP me$ngatur 10 hari ke$rja, UUCK me$nghilangkan ke$we$nangan PTUN dalam me$me$riksa, me$mutus, dan me$ngadili te$rkait de$ngan fiktif positif. Pasca be$rlakunya UUCK me$nimbulkan ke$kosongan hukum dan ke$tidakpastian te$rkait de$ngan ke$putusan fiktif positif yang dapat me$nimbulkan banyak arti apabila tidak ada
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Ketidakpastian Hukum Keputusan (Tan Hana Darma Mangruwa Wati, et., al) | 348-357 Pe$raturan Pre$side$n yang me$ngatur. Se$harusnya Pe$raturan Pre$side$n yang me$ngatur te$rkait de$ngan prose$dur pe$ne$tapan KTUN fiktif positif wajib dite$tapkan dalam tiga bulan se$jak UUCK diundangkan. Akan te$tapi, sampai de$ngan saat ini masih tidak te$rdapat aturan pe$laksananya. Se$hingga pe$nulis te$rtarik untuk me$ne$liti te$rkait de$ngan pe$ngaturan ke$putusan dan/atau tindakan fiktif positif pe$jabat pe$me$rintah dalam pre$spe$ktif ke$pastian hukum. Agar nantinya me$nghasilkan suatu pe$ne$muan yang dapat me$wujudkan ke$pastian hukum bagi masyarakat yang pe$rmohonannya dikabulkan se$cara fiktif positif. METODE Je$nis pe$ne$litian dalam pe$nulisan jurnal ini me$nggunakan je$nis pe$ne$litian normatif. Me$tode$ pe$ne$litian hukum normatif me$nggunakan me$tode$ pe$nde$katan yuridis normatif. Pe$nde$katan yuridis normatif adalah “suatu pe$nde$katan yang me$ngacu pada hukum dan pe$raturan pe$rundang-undangan yang be$rlaku. 1 Me$nurut Sudikno Me$rtokusumo, pe$ne$litian hukum normatif me$liputi asas hukum, kaidah hukum, pe$raturan hukum konkrit dan siste$m hukum. Artinya pe$ne$litian hukum normatif yaitu de$ngan me$ne$ntukan aturan hukum, prinsip hukum, dan doktrin hukum untuk me$njawab isu hukum yang se$dang dite$liti. pe$ne$litian hukum normatif ini dalam pe$nulisan ini be$rsifat pre$skriptif yang artinya pe$ne$litian ini dapat dijadikan pe$doman untuk me$lakukan pe$me$cahan isu hukum yang dite$liti. Hasil pe$ne$litian ini yaitu me$mbe$rikan pre$skripsi te$rhadap rumusan masalah yang dite$liti te$rkait de$ngan pe$ngaturan ke$putusan dan/atau tindakan fiktif positif pe$jabat pe$me$rintah dalam pre$spe$ktif ke$pastian hukum. HASIL DAN PEMBAHASAN Keputusan Fiktif Positif Pasca Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 Tentang Cipta Kerja Ke$putusan Tata Usaha Ne$gara (KTUN) fiktif dipahami se$bagai ke$putusan yang tidak hadir dalam be$ntuk fisik, me$lainkan muncul akibat tidak adanya tindakan atau re$spons dari pe$jabat pe$me$rintahan te$rhadap suatu pe$rmohonan. Ke$tidakaktifan te$rse$but me$nunjukkan ke$gagalan pe$jabat dalam me$me$nuhi ke$wajiban administratif untuk me$nindaklanjuti pe$rmohonan masyarakat se$suai batas waktu dan ke$we$nangan yang dite$tapkan dalam pe$raturan pe$rundang-undangan. Ke$adaan de$mikian me$nimbulkan pe$ne$rapan asas fiksi hukum, yakni konstruksi hukum yang me$nganggap pe$rmohonan masyarakat te$lah dikabulkan atau ditolak tanpa adanya ke$putusan nyata. Pe$ne$rapan asas te$rse$but me$nsyaratkan adanya ke$te$rbukaan dalam prose$s pe$ngambilan ke$putusan ole$h pe$jabat publik yang wajib me$ngikuti ke$te$ntuan substantif maupun prose$dural. Pe$ngabaian te$rhadap prinsip ini me$ngakibatkan pe$mohon tidak me$mpe$role$h pe$rlindungan hukum yang layak. 2 Fungsi pe$ngaturan me$nge$nai KTUN fiktif me$ncakup be$be$rapa aspe$k pe$nting, yaitu: 1. Pe$jabat pe$me$rintah be$rke$wajiban me$mbe$rikan pe$layanan ke$pada masyarakat, me$ngingat asas-asas umum pe$me$rintahan yang baik me$nolak praktik pe$mbiaran 1 Korne$lius Be$nuf and Mahmudah Azhar, “Me$todologi Pe$ne$litian Hukum Se$bagai Intrume$n Me$ngurai Pe$rmasalahan Hukum Konte$mpore$r,” Re $ fle $ ksi Hukum: Jurnal Ilmu Hukum 7, no. 1 (2020): 20–33. 2 M.H Jusak Sindar, S.H., Pe $ nye $ le $ saian Se $ ngke $ ta Ke $ putusan Fiktif Positif Pasca Undang-Undang Cipta Ke $ rja, e$d. Ajuk, De $ e $ publish (Yogyakarta: Grup Pe$ne$rbitan CV Budi Utama, 2023).
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Ketidakpastian Hukum Keputusan (Tan Hana Darma Mangruwa Wati, et., al) | 348-357 te$rhadap pe$rmohonan yang diajukan. Ke$wajiban te$rse$but me$ne$gaskan bahwa se$tiap pe$rmohonan harus ditindaklanjuti se$cara aktif. 2. Pe$me$nuhan pe$layanan publik me$nuntut pe$jabat pe$me$rintah untuk me$nyampaikan jawaban, me$mbe$rikan re$spons, se$rta me$nyajikan informasi yang dipe$rlukan te$rkait pe$rmohonan masyarakat. Tindakan te$rse$but me$njadi bagian dari akuntabilitas administrasi pe$me$rintahan. 3. Ke$pastian hukum dalam prose$s pe$layanan diwujudkan me$lalui pe$ne$tapan batas waktu yang je$las, yang dite$ntukan dalam norma pe$raturan pe$rundang-undangan guna me$mastikan se$tiap pe$rmohonan dise$le$saikan dalam durasi yang te$rukur. Ke$putusan Tata Usaha Ne$gara (KTUN) fiktif me$ne$mpati posisi pe$nting dalam diskursus hukum administrasi mode$rn kare$na me$kanisme$ ini dibangun di atas landasan fiksi hukum, suatu konstruksi normatif yang me$mungkinkan hukum me$nciptakan re$alitas artifisial de$mi ke$pe$ntingan ke$pastian dan ke$te$rtiban hukum. Pe$mikiran Maksymilian De$l Mar dan William Twining me$mbe$rikan kontribusi te$oritis yang signifikan dalam me$mahami hakikat fiksi hukum. 3 Konse$p te$rse$but me$muat karakte$r yang se$cara inhe$re$n tidak se$jalan de$ngan ke$adaan faktual, bahkan dapat me$ngandung pe$rte$ntangan inte$rnal. Konstruksi te$rse$but dirancang untuk be$rfungsi dalam batas ruang dan waktu te$rte$ntu se$hingga ke$be$rlakuannya dapat be$rakhir ke$tika siste$m hukum tidak lagi me$me$rlukannya. Ke$be$radaan aspe$k fiktif dalam suatu norma dituntut untuk dinyatakan se$cara je$las agar tidak me$nimbulkan ambiguitas, se$dangkan prose$s pe$rumusannya harus me$ngikuti prinsip ke$hati-hatian, proporsionalitas, dan rasionalitas hukum. Pandangan Dani E$lpha me$lalui Te$ori Fiksi (Grand The$ory) me$mbe$rikan pe$rspe$ktif tambahan bahwa fiksi hukum dipe$rlakukan se$bagai e$ntitas yang tidak e$ksis se$cara e$mpiris, namun se$ngaja dihadirkan dalam tatanan hukum untuk me$me$nuhi ke$butuhan praktik. 4 Pe$mikiran ini me$ne$gaskan bahwa dunia hukum tidak se$lalu be$rjalan se$pe$nuhnya me$ngikuti fakta e$mpiris, te$tapi dapat me$mbe$ntuk asumsi te$rte$ntu de$mi ke$pe$ntingan pe$rlindungan hak dan ke$pastian hukum. Be$rdasarkan konte$ks KTUN fiktif, fiksi te$rse$but te$rle$tak pada ke$be$radaan ke$putusan yang se$cara normatif dianggap lahir me$skipun tidak ada tindakan nyata dari pe$jabat pe$me$rintahan. Siste$m hukum se$cara sadar me$nciptakan kondisi le$gal yang “se$olah-olah” me$mbe$rikan ke$putusan agar warga ne$gara tidak ke$hilangan akse$s te$rhadap me$kanisme$ pe$nye$le$saian se$ngke$ta hanya kare$na pe$jabat be$rsikap pasif. Pe$rsangkaan Undang-Undang (Middle$ Range$ The$ory) me$mpe$rkuat konstruksi te$rse$but me$lalui pe$ngakuan yuridis yang me$nciptakan asumsi hukum te$rte$ntu, yakni pe$nye$matan karakte$r “fiktif” pada suatu ke$adaan administrasi yang me$me$nuhi pe$rsyaratan te$rte$ntu. Se$te$lah anggapan me$nge$nai te$rbitnya ke$putusan fiktif te$rbe$ntuk, hukum me$mbangun konse$kue$nsi lanjutan be$rupa pe$ne$ntuan isi ke$putusan te$rse$but, yang lazimnya be$rbe$ntuk pe$ngabulan (positif) atau pe$nolakan (ne$gatif). Konstruksi ini me$mbe$rikan fungsi pe$nting dalam me$njamin agar hak masyarakat te$tap te$rlindungi me$skipun te$rjadi ke$lalaian atau pe$mbiaran ole$h pe$jabat publik. Adagium E $ tiam si tace $ re $ e $ st re $ sponde $ re $ me$mpe$rlihatkan fondasi filosofis dari me$kanisme$ KTUN fiktif. Diamnya pe$jabat tidak dipe$rlakukan se$bagai ke$kosongan tindakan, 3 Muh. Jufri De$wa, Hukum Administrasi Ne $ gara Dalam Pre $ spe $ ktif Pe $ layanan Publik (Ke$ndari: Unhalu Pre$ss, 2011). 4 Administrative$ Law and H Y Cbe$n, Administrative $ Law and Gove $ rnance $ in Asia (Singapore$: Singapore$ Journal of Le$gal Studie$s, 2010).
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Ketidakpastian Hukum Keputusan (Tan Hana Darma Mangruwa Wati, et., al) | 348-357 me$lainkan dikualifikasi se$bagai be$ntuk re$spons hukum. 5 Doktrin te$rse$but me$ne$gaskan bahwa hukum tidak me$mbiarkan ruang kosong yang be$rpote$nsi me$nghambat pe$me$nuhan hak masyarakat dalam me$mpe$role$h pe$layanan administratif. Ke$be$radaan KTUN fiktif de$ngan de$mikian me$nce$rminkan gagasan bahwa hukum administrasi harus te$tap be$rge$rak, me$skipun pe$jabatnya me$milih tidak be$rtindak. Istilah KTUN fiktif positif be$rakar dari konse$p positie $ ve $ fictie $ ve $ be $ schikking dalam Alge $ me $ ne $ We $ t Be $ stuursre $ cht, yaitu Undang-Undang Administrasi Umum di Be$landa. Konse$p te$rse$but me$rujuk pada ke$putusan tata usaha ne$gara yang se$cara substansial tidak hadir dalam be$ntuk konkre$t. KTUN fiktif me$nce$rminkan kondisi ke$tika pe$jabat publik tidak me$mbe$rikan re$spons te$rhadap pe$rmohonan masyarakat se$hingga tidak te$rbit ke$putusan dalam jangka waktu yang se$harusnya. Situasi de$mikian me$nunjukkan adanya ke$gagalan pe$jabat dalam me$njalankan ke$we$nangan administratif dan me$nghasilkan ke$adaan hukum yang me$me$rlukan inte$rve$nsi normatif. 6 Fiksi hukum ke$mudian digunakan untuk me$mbe$rikan pe$rlindungan bagi pihak yang me$ngajukan pe$rmohonan de$ngan me$ne$tapkan anggapan bahwa pe$rmohonan te$rse$but dianggap dikabulkan atau ditolak. Me$kanisme$ ini be$rfungsi me$nce$gah ke$kosongan tindakan pe$me$rintah yang dapat me$nghambat akse$s masyarakat te$rhadap ke$pastian hukum. Transparansi dalam prose$s pe$ngambilan ke$putusan me$njadi unsur e$se$nsial dalam praktik pe$me$rintahan kare$na be$rkaitan de$ngan akuntabilitas pe$jabat publik dalam me$matuhi ke$te$ntuan prose$dural maupun substantif. Ke$tidakpatuhan te$rhadap prinsip te$rse$but be$rpote$nsi me$niadakan pe$rlindungan hukum bagi individu yang be$rgantung pada ke$putusan yang se$harusnya dite$rbitkan. Konse$p fiktif positif muncul se$bagai hasil pe$rubahan pe$nde$katan dalam pe$layanan publik yang me$ne$mpatkan re$sponsivitas pe$jabat pe$me$rintahan se$bagai tuntutan utama. Siste$m administrasi di Indone$sia se$be$lumnya me$nggunakan konse$p fiktif ne$gatif, yaitu anggapan bahwa pe$rmohonan masyarakat dianggap ditolak apabila batas waktu pe$nye$le$saiannya dilampaui. Pe$mikiran Ahmad dalam karyanya “Konse$p Fiktif Positif: Pe$ne$rapannya di Pe$ngadilan Tata Usaha Ne$gara” me$mbe$rikan pe$nje$lasan bahwa fiktif positif be$rfungsi se$bagai ke$balikan dari fiktif ne$gatif de$ngan me$mbe$rikan akse$s le$bih luas ke$pada masyarakat untuk me$mpe$role$h ke$pastian hukum me$lalui pe$ngajuan pe$rmohonan ke$ PTUN. 7 Konse$p Fiktif positif dike$nal se$bagai le $ x sile $ ncio positivo, suatu prinsip yang me$ne$tapkan ke$wajiban bagi pe$jabat administrasi untuk me$mbe$rikan jawaban atau me$ne$rbitkan ke$putusan dalam batas waktu yang te$lah dite$ntukan ole$h norma dasar. Ke$te$ntuan me$nge$nai prinsip te$rse$but te$rmuat dalam Pasal 53 ayat (3) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 te$ntang Administrasi Pe$me$rintahan, yang me$nunjukkan komitme$n ne$gara dalam me$mpe$rbaiki tata ke$lola pe$me$rintahan me$lalui pe$ningkatan e$fe$ktivitas pe$laksanaan ke$we$nangan aparat administrasi. Pe$ngaturan ini me$mpe$rte$gas pe$ntingnya kine$rja yang be$rdaya guna dalam rangka me$mpe$rkuat kualitas pe$layanan publik se$bagai bagian dari program re$formasi birokrasi. 5 E$rlin Triartha Yuliani, “Pe$rbandingan Antara Konse$p Fiktif Ne$gatif Dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1986 Te$ntang Pe$radilan Tata Usaha Ne$gara De$ngan Fiktif Positif Dalam Undang-Undang No 30 Tahun 2004 Te$ntang Administrasi Pe$me$rintahan Dan Pe$rmasalahannya” 5, no. 1 (2020): 1–11. 6 M.Hum Dr. S.F. Marbun, SH., Hukum Administrasi Ne $ gara (Yogyakarta: FH UII Pre$ss, 2012). 7 Mailinda E$ka Yuniza and Me$lodia Puji Inggarwati, “Pe$luang Dan Tantangan Pe$ne$rapan Ke$putusan Fiktif Positif Se$te$lah Undang-Undang Cipta Ke$rja Diundangkan,” Jurnal de $ Jure $ 13, no. 2 (2021): 114–29.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Ketidakpastian Hukum Keputusan (Tan Hana Darma Mangruwa Wati, et., al) | 348-357 Kondisi hipe $ rre $ gulasi dalam birokrasi pe$layanan publik dipandang se$bagai hambatan signifikan bagi pe$rce$patan iklim inve$stasi di Indone$sia. Pe$me$rintah me$re$spons situasi te$rse$but de$ngan me$ne$tapkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 yang ke$mudian dipe$rbarui me$njadi Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 te$ntang Cipta Ke$rja. Re$gulasi te$rse$but dirancang untuk me$nye$de$rhanakan norma dan prose$dur birokrasi se$hingga prose$s pe$layanan dan pe$rizinan dapat be$rlangsung le$bih ce$pat dan e$fisie$n se$rta mampu me$ndukung inve$stasi tanpa me$ngabaikan kualitas pe$layanan publik. Undang-Undang Cipta Ke$rja me$mbawa pe$rubahan te$rhadap be$be$rapa ke$te$ntuan dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 te$ntang Administrasi Pe$me$rintahan, te$rmasuk pe$mangkasan batas waktu pe$nye$le$saian pe$rmohonan dari se$puluh me$njadi lima hari ke$rja dan pe$nghapusan ke$we$nangan Pe$ngadilan Tata Usaha Ne$gara dalam me$mutus pe$rmohonan fiktif positif. Pe$rubahan te$rse$but me$nghasilkan ke$munduran kare$na pe$mohon yang pe$rmohonannya dianggap dikabulkan se$cara hukum me$lalui me$kanisme$ fiktif positif tidak lagi me$mpe$role$h jaminan ke$pastian yang be$rsifat konkre$t. Salah satu faktor yang me$nyumbang pada ke$munduran ini be$rkaitan de$ngan kuatnya pe$ngaruh positivisme$ dalam siste$m hukum Indone$sia, yang me$nyamakan hukum de$ngan undangundang se$hingga kurang mampu me$ngakomodasi dinamika sosial yang be$rsifat le$bih adaptif. Pola pikir pe$ne$gak hukum yang masih be$rorie$ntasi pada pe$nde$katan le$galistik-positivistik turut me$mpe$rte$gas pe$rsoalan te$rse$but. Penyelesaian Sengketa Keputusan dan/atau Tindakan Fiktif Positif Pasca UUCK Pe$rubahan te$rhadap Pasal 53 Undang-Undang Cipta Ke$rja (UUCK) yang me$nghilangkan ke$we$nangan Pe$ngadilan Tata Usaha Ne$gara (PTUN) untuk me$me$riksa, me$ngadili, dan me$mutus se$ngke$ta te$rkait Ke$putusan Fiktif Positif me$nciptakan konse$kue$nsi se$rius dalam tatanan hukum administrasi. Hilangnya ke$we$nangan te$rse$but me$nghasilkan ke$kosongan me$kanisme$ pe$nye$le$saian se$ngke$ta, khususnya bagi masyarakat yang se$lama ini be$rgantung pada PTUN se$bagai forum kontrol yudisial atas ke$lalaian pe$jabat dalam me$ne$rbitkan ke$putusan. Ke$kosongan me$kanisme$ te$rse$but be$rdampak langsung pada ke$pastian hukum se$bagai salah satu prinsip fundame$ntal ne$gara hukum. Situasi ini dipe$rburuk ole$h tidak adanya Pe$raturan Pre$side$n se$bagai re$gulasi pe$laksana yang se$harusnya me$mbe$rikan pe$doman te$knis pe$nye$le$saian pe$rmohonan fiktif positif pasca pe$rubahan norma dalam UUCK. 8 Ke$adaan te$rse$but me$ne$mpatkan pe$mohon dalam posisi re$ntan ke$tika te$tap me$ngajukan pe$rmohonan fiktif positif ke$pada PTUN se$te$lah UUCK disahkan dan me$mpe$role$h Nomor Le$mbaran Ne$gara. Prose$dur administrasi pe$radilan masih me$mungkinkan pe$ndaftaran pe$rkara, te$rmasuk pe$mbe$ntukan maje$lis hakim untuk me$lakukan pe$me$riksaan te$rhadap aspe$k formil. Namun ke$te$ntuan Pasal 77 ayat (1) Undang-Undang Pe$radilan Tata Usaha Ne$gara (UUPTUN) se$cara te$gas me$ne$mpatkan pe$rkara te$rse$but di luar ruang lingkup ke$we$nangan absolut PTUN. Norma te$rse$but me$ngharuskan maje$lis hakim me$nyatakan pe$rmohonan tidak dite$rima kare$na obje$k se$ngke$ta sudah tidak lagi dite$tapkan se$bagai bagian dari kompe$te$nsi PTUN. Pe$ne$rapan Pasal 77 ayat (1) jo. Pasal 97 ayat (7) huruf c UUPTUN me$mbe$rikan dasar hukum yang me$madai bagi maje$lis hakim untuk langsung me$njatuhkan putusan tidak dite$rima pada tingkat pe$rtama tanpa me$me$riksa pokok pe$rkara. Ke$bijakan le$gislasi dalam UUCK me$ngubah struktur ke$we$nangan pe$radilan, se$hingga pe$ngujian te$rhadap pe$rmohonan fiktif 8 Dian Agung Wicaksono, Bimo Fajar Hantoro, and De$dy Kurniawan, “Ne$gara Dalam Pe$ne$rimaan Pe$rmohonan Fiktif Positif Pasca Pe$nataan Re$gulasi Dalam Undang-Undang Cipta Ke$rja,” Jurnal Re $ chts Vinding 10, no. 2 (2021): 334.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Ketidakpastian Hukum Keputusan (Tan Hana Darma Mangruwa Wati, et., al) | 348-357 positif tidak lagi be$rada dalam ranah yudisial. Kondisi ini be$rimplikasi pada pe$nye$mpitan akse$s ke$adilan bagi masyarakat yang me$mbutuhkan ke$pastian hukum te$rhadap pe$rmohonan yang tidak dire$spons ole$h pe$jabat administrasi. Ke$be$radaan Pe$raturan Mahkamah Agung (PE$RMA) me$nge$nai Fiktif Positif se$be$lumnya me$mbe$rikan pe$doman ope$rasional bagi PTUN dalam me$nguji pe$rmohonan te$rse$but. Namun pe$rubahan norma dalam UUCK me$ngharuskan maje$lis hakim me$nilai ke$be$rlakuan PE$RMA se$cara hati-hati. Le $ x supe $ rior de $ rogat le $ gi infe $ riori me$ne$mpatkan undang-undang pada posisi le$bih tinggi dibanding pe$raturan Mahkamah Agung. PE$RMA me$njadi tidak dapat dibe$rlakukan se$panjang substansinya be$rte$ntangan de$ngan norma baru dalam Pasal 53 Undang-Undang Administrasi Pe$me$rintahan (UUAP) yang te$lah me$ncabut ke$we$nangan PTUN untuk me$mutus se$ngke$ta fiktif positif. Kaidah hie$rarki pe$raturan pe$rundang-undangan me$nuntut pe$nye$suaian pe$ne$rapan PE$RMA agar se$laras de$ngan norma yang te$rbaru dan le$bih tinggi ke$dudukannya. Pe$rubahan te$rse$but me$nunjukkan bahwa le$gislasi dalam UUCK be$lum se$pe$nuhnya me$mpe$rtimbangkan prinsip acce $ ss to justice $ dan prinsip e$fe$ktivitas pe$radilan administrasi. 9 Ke$tiadaan forum pe$nye$le$saian se$ngke$ta atas tindakan diam pe$jabat be$rpote$nsi me$nurunkan kualitas pe$rlindungan hukum bagi warga ne$gara. Situasi ini me$nce$rminkan disharmoni re$gulasi dan me$nimbulkan ke$butuhan me$nde$sak untuk me$nghadirkan re$gulasi pe$laksana yang me$mbe$rikan ke$pastian me$kanisme$ pe$nye$le$saian pe$rmohonan fiktif positif di luar PTUN. Ke$tiadaan re$gulasi pe$laksana juga me$njauhkan siste$m administrasi dari prinsip pe$nye$le$nggaraan pe$me$rintahan yang baik, khususnya prinsip akuntabilitas dan ke$pastian hukum. Pe$mohon fiktif positif yang te$tap be$rupaya me$ngajukan gugatan me$lalui me$kanisme$ Onre $ chtmatige $ Ove $ rhe $ idsdaad (OOD) atau Se$ngke$ta Tindakan Faktual be$rdasarkan PE$RMA Nomor 2 Tahun 2019 te$ntang Pe$doman Pe$nye$le$saian Se$ngke$ta Tindakan Pe$me$rintahan dan Ke$we$nangan Me$ngadili Pe$rbuatan Me$langgar Hukum ole$h Badan dan/atau Pe$jabat Pe$me$rintahan tidak dapat dibe$narkan apabila obje$k yang dimohonkan dalam pe$rmohonan fiktif positif te$rse$but me$rupakan ke$putusan. Te$rdapat dua alasan me$ndasar. Pe$rtama, tindakan pe$jabat atau badan pe$me$rintahan yang tidak me$nanggapi pe$rmohonan masyarakat de$ngan tidak me$ne$rbitkan pe$ne$tapan te$rtulis me$rupakan tindakan hukum tidak te$rtulis (onge $ schre $ ve $ n re $ chtshande $ linge $ n), se$hingga tidak dapat diklasifikasikan se$bagai tindakan faktual atau tindakan pe$me$rintahan se$bagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 8 jo. Pasal 87 huruf a UU Administrasi Pe$me$rintahan (UUAP). Ke$dua, pe$ngaturan fiktif positif dalam Undang-Undang Cipta Ke$rja me$ngakibatkan pe$rmohonan te$rhadap ke$putusan dan/atau tindakan dianggap dikabulkan se$cara hukum, se$hingga pe$mohon tidak lagi me$miliki ke$pe$ntingan untuk me$ngajukan gugatan ke$ PTUN se$suai Pasal 53 jo. Pasal 62 ayat (1) huruf d UUPTUN. 10 Kondisi te$rse$but me$mbe$rikan dasar bagi Ke$tua Pe$ngadilan untuk me$ne$rapkan prose$dur dismissal be$rdasarkan Pasal 62 ayat (1) huruf d UUPTUN de$ngan pe$rtimbangan bahwa substansi pe$rmohonan te$lah dipe$nuhi me$lalui me$kanisme$ KTUN fiktif positif. Me$kanisme$ ini me$mastikan bahwa pe$radilan tidak me$me$riksa pe$rkara yang se$cara hukum te$lah ke$hilangan obje$k se$ngke$tanya dan me$njaga konsiste$nsi pe$ne$rapan norma se$te$lah be$rlakunya ke$te$ntuan fiktif positif dalam UUCK. 9 Muhammad Adiguna Bimasakti, “Pe$nje$lasan Hukum ( Re$state$me$nt ) Konse$p Tindakan Administrasi Pe$me$rintahan Me$nurut Undang-Undang No. 30 Tahun 2014 Te$ntang Administrasi Pe$me$rintahan,” Jurnal Hukum Dan Pe $ radilan 11, no. 1 (2022): 72, https://doi.org/10.25216/jhp.11.1.2022.64-92. 10 Jusak Sindar, Pe $ nye $ le $ saian Se $ ngke $ ta Ke $ putusan Fiktif Positif Pasca Undang-Undang Cipta Ke $ rja.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Ketidakpastian Hukum Keputusan (Tan Hana Darma Mangruwa Wati, et., al) | 348-357 Masyarakat te$tap me$miliki ruang untuk me$ngajukan gugatan Onre $ chtmatige $ Ove $ rhe $ idsdaad (OOD) be$rupa se$ngke$ta tindakan faktual be$rdasarkan PE$RMA OOD apabila obje$k fiktif positif yang dise$ngke$takan me$rupakan tindakan pe$me$rintahan dalam be$ntuk tindakan faktual. Dalil yang dapat diajukan adalah bahwa pe$jabat atau badan pe$me$rintahan me$lakukan tindakan be$rupa tidak me$lakukan pe$rbuatan konkre$t yang me$nimbulkan ke$rugian bagi pe$mohon. Pasal 1 angka 8 Undang-Undang Administrasi Pe$me$rintahan (UUAP) me$ngate$gorikan tidak dilakukannya pe$rbuatan konkre$t se$bagai tindakan pe$me$rintahan se$hingga dapat dijadikan dasar gugatan OOD. Pe$mohon yang me$ngalami ke$rugian akibat tidak adanya tindakan konkre$t dari pe$jabat pe$me$rintahan be$rhak me$ngajukan gugatan OOD di UUPTUN. 11 Gugatan te$rse$but tidak dite$mpatkan se$bagai pe$rmohonan fiktif positif be$rdasarkan Pasal 53 dalam pe$rubahan UUCK kare$na me$kanisme$ fiktif positif tidak be$rlaku dalam konte$ks ini. Dasar hukum yang digunakan me$rujuk pada ke$te$ntuan UUPTUN yang me$ngatur pe$nye$le$saian se$ngke$ta te$rkait tindakan pe$me$rintahan. Pe$mohon wajib me$ne$mpuh upaya administratif te$rle$bih dahulu. Te$nggang waktu pe$ngajuan gugatan dihitung se$te$lah be$rakhirnya jangka waktu se$bagaimana diatur dalam Pasal 53 ayat (1) UUAP jo. Pasal 175 angka 6 UUCK, ke$mudian dise$suaikan de$ngan ke$te$ntuan dalam PE$RMA OOD hingga pe$mohon me$ne$rima hasil upaya administratif. Pe$me$rintah yang ke$mudian me$ne$rbitkan ke$putusan untuk me$mbatalkan ke$putusan hasil fiktif positif me$mbuka ruang bagi pihak yang dirugikan untuk me$ngajukan gugatan me$lalui me$kanisme$ gugatan biasa be$rdasarkan UUPTUN. KTUN fiktif positif dapat diajukan se$bagai obje$k gugatan ole$h pihak ke$tiga yang me$rasa dirugikan de$ngan me$ndalilkan bahwa hasil pe$rmohonan atas dite$rbitkannya ke$putusan dan/atau tindakan yang diminta dipe$rsamakan de$ngan KTUN atau pe$ne$tapan te$rtulis se$bagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) UUPTUN. Je$nis ke$putusan yang dise$ngke$takan te$tap me$rujuk pada Pasal 53 UU Administrasi Pe$me$rintahan (UUAP) se$bagai kate$gori KTUN fiktif positif. Karakte$r hukum te$rse$but me$mbe$rikan dasar bagi PTUN untuk me$ngadili se$ngke$ta be$rdasarkan ke$te$ntuan Pasal 1 angka 7 jo. Pasal 87 UUAP juncto Pasal 1 angka 9 jo. Pasal 3 ayat (1) UUPTUN yang me$mosisikan ke$putusan dimaksud se$bagai be$ntuk pe$ne$tapan te$rtulis. Pe$mbuktian te$rjadinya KTUN fiktif positif ditunjukkan me$lalui tanda te$rima pe$rmohonan ke$putusan yang dite$rbitkan ole$h instansi yang me$ne$rima pe$rmohonan. Apabila ke$putusan yang dimohonkan me$rupakan ke$putusan be$rbasis e$le$ktronik, bukti yang digunakan be$rupa pe$ne$tapan yang dihasilkan ole$h siste$m e$le$ktronik. Data pada bukti te$rse$but me$muat informasi bahwa pe$rmohonan te$lah me$lampaui te$nggang waktu lima hari ke$rja atau jangka waktu lain yang dite$tapkan pe$raturan pe$rundang-undangan se$suai Pasal 53 ayat (1) sampai ayat (4) UUAP juncto Pasal 175 angka 6 UUCK. Kondisi te$rse$but me$nandai mulai be$rlakunya KTUN fiktif positif pada hari be$rikutnya. SIMPULAN Pe$rmohonan fiktif positif yang diajukan ole$h masyarakat pada prinsipnya harus dinyatakan tidak dite$rima kare$na se$te$lah be$rlakunya UUCK, PTUN tidak lagi me$miliki ke$we$nangan untuk me$me$riksa dan me$mutus pe$rkara te$rse$but. Pe$ngaturan ini me$nunjukkan bahwa ke$tika obje$k se$ngke$ta be$rupa tindakan faktual dan tidak be$rkaitan de$ngan pe$rmohonan 11 Muhammad Adiguna Bimasakti, “Onre$chtmatige$ Ove$rhe$idsdaad Ole$h Pe$me$rintah Dari Sudut Pandang Undang-Undang Administrasi Pe$me$rintahan,” Jurnal Hukum Pe $ ratun 1, no. 2 (2018): 270, https://doi.org/10.25216/pe$ratun.122018.265-286.