Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila Sila Ke 2 Dalam Upaya Membangun Sikap Adil dan Beradab di Sekolah Dasar Negri Cinunuk 3 Bandung
Full text
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Syahwa Aulia Fasha, dkk.) |111-120 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Volume 4, Nomor 9, Desember 2025, Halaman 111-120 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17963665 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila Sila Ke 2 Dalam Upaya Membangun Sikap Adil dan Beradab di Sekolah Dasar Negri Cinunuk 3 Bandung Syahwa Aulia Fasha1), Zahra Amelia Bachtiar2), Nayla Azizah3), Dini Aulia4), Bilqis Ayu Sabrina5), Robby Ahmad Maulidi6), Afwan Moehtaram7), Fauzan Fakhrurozi Kurniawan8), Rofi Riyadhoh9), Siti Sofiah10), Dian Herdiana11), Zahra Amelia Bachtiar12) 1-12Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, UIN Sunan Gunung Djati Bandung E-mail: 1sau[email protected]m, [email protected], 3azizah[email protected], [email protected], [email protected], [email protected], 7moehtaramafwan29[email protected], 8u[email protected], [email protected], 10sitisofiah73[email protected]m, [email protected] Abstrak Penelitian ini membahas penerapan sila kedua Pancasila, yaitu "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab", dalam aktivitas sehari-hari siswa kelas 4 dan 5 SDN Cinunuk 3. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi kasus dan observasi langsung, penelitian ini mengeksplorasi pemahaman serta praktik siswa terhadap nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan keadaban dalam interaksi dengan teman sebaya, guru, serta lingkungan sekolah. Hasil riset menunjukkan bahwa meskipun siswa telah mendapatkan pengajaran mengenai Pancasila, tetapi masih ada jarak antara pemahaman konsep dan penerapannya dalam perilaku sehari-hari. Temuan ini menyarankan penguatan pendidikan karakter serta penerapan metode pembelajaran Pancasila yang lebih efisien di tingkat sekolah dasar. Kata Kunci: Pancasila, Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Siswa Sekolah Dasar, Pendidikan Karakter Abstract This study discusses the implementation of the second principle of Pancasila, “Just and Civilized Humanity,” in the daily activities of 4thand 5th-grade students at SDN Cinunuk 3. Using a qualitative method through case studies and direct observation, this research explores students’ understanding and practice of humanitarian values, fairness, and civility in their interactions with peers, teachers, and the school environment. The findings show that although students have received instruction on Pancasila, there remains a gap between their conceptual understanding and its application in daily behavior. These results suggest the need to strengthen character education and implement more effective Pancasila learning methods at the elementary school level. Keywords: Pancasila, Second Principle, Just and Civilized Humanity, Elementary School Students, Character Education Article Info Received date: 20 November 2025 Revised date: 30 November 2025 Accepted date: 13 Desember 2025 PENDAHULUAN Pendidikan adalah salah satu alat yang berperan penting dalam membangun karakter generasi muda (Lickona, 1991). Prinsip-prinsip Pancasila harus dijadikan dasar utama dalam setiap kegiatan pembelajaran di sekolah (Kaelan, 2020). Pancasila Sila ke-2, yakni "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab", memiliki arti bahwa setiap manusia harus diperlakukan dengan adil, dihormati, dan menghargai martabat kemanusiaan (Latif, 2018). Penerapan nilai-nilai kemanusiaan di lingkungan sekolah menjadi sangat penting untuk membentuk generasi yang berakhlak, saling menghormati, dan mampu menjaga hubungan sosial yang
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Syahwa Aulia Fasha, dkk.) |111-120 harmonis (Dewantara, 2017; Winataputra & Budimansyah, 2020). Sebagaimana dikemukakan oleh Kusuma (2020), internalisasi nilai-nilai Pancasila sejak usia dini melalui pendidikan karakter di sekolah dasar merupakan fondasi penting dalam pembentukan kepribadian anak yang menjunjung tinggi nilainilai kemanusiaan. Namun kenyataannya, masih sering terjadi masalah seperti bullying, minimnya rasa empati, kurang menghargai terhadap perbedaan, serta meningkatnya sikap individualisme. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai kemanusiaan harus diperkuat melalui kegiatan aktualisasi yang terstruktur, direncanakan dengan baik, dan menyenangkan. Aktualisasi nilai Pancasila penting dilakukan karena tidak cukup bagi siswa hanya memahami teori; mereka perlu mengalami langsung bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan seharihari. Pada level sekolah dasar, anak berada pada fase perkembangan yang mudah dipengaruhi oleh nilai moral dan sosial, sehingga pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik mereka. Sekolah dasar memegang peran besar sebagai fondasi pembentukan karakter bangsa. Di tingkat ini, anak mulai diajarkan nilai-nilai Pancasila dan diperkenalkan konsep-konsep dasar mengenai moral dan sosial. Khususnya bagi siswa kelas 4 dan 5 yang berusia sekitar 9–11 tahun, mereka mulai mampu memahami konsep seperti adil, empati, dan tanggung jawab sosial. Sila kedua Pancasila sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari siswa yang penuh interaksi sosial. Pada usia ini, anak mulai membangun relasi, belajar menyelesaikan konflik, serta memahami perbedaan antara perilaku yang benar dan salah. Karena itu, penerapan sila kedua menjadi landasan untuk membangun kepribadian yang menghargai sesama dan bersikap adil. Penelitian ini berfokus pada siswa kelas 4 dan 5 karena mereka berada pada tahap perkembangan kognitif yang menurut teori Piaget disebut tahap operasional konkret. Pada tahap ini, mereka mulai mampu memahami konsep abstrak seperti keadilan jika diberikan contoh nyata. Selain itu, mereka telah belajar Pancasila selama beberapa tahun sehingga memiliki pengetahuan dasar untuk dianalisis lebih lanjut. Usia ini juga ditandai meningkatnya interaksi sosial yang menuntut penerapan nilai moral secara langsung. Lingkungan sekolah dipilih sebagai konteks penelitian karena menjadi tempat utama anak-anak berinteraksi dengan berbagai latar belakang teman sebaya. Meskipun nilai Pancasila diajarkan dalam mata pelajaran PPKn, sering ditemukan kesenjangan antara pemahaman teori dengan perilaku nyata. Contohnya masih ada siswa yang meremehkan teman, bersikap tidak adil, kurang peduli, berbicara tidak sopan, hingga menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Kenyataan tersebut menunjukkan perlunya penguatan pendidikan karakter agar nilai sila kedua benar-benar terinternalisasi. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas. Kegiatan dilakukan melalui penyampaian materi mengenai nilai kemanusiaan, seperti adab kepada guru, adab kepada teman, dan pentingnya bersikap adil dalam kehidupan sehari-hari. Selain penjelasan materi, kami juga memberikan contoh nyata dan mengamati respon siswa saat mempraktikkan perilaku sopan, saling menghargai, dan berbagi secara merata. Metode ini dipilih untuk melihat langsung bagaimana nilai sila ke-2 dapat diterapkan oleh siswa melalui tindakan sederhana di lingkungan sekolah. Kami melakukan aktualisasi nilai Pancasila sila kedua ini di satu tempat yang sama, yaitu bertempat di Sekolah Dasar Negri Cinunuk 3 jln. cibolerang,cinunuk Kec. cileunyi Kab. Bandung. Dengan jumlah anggota 9 orang, yang terdiri dari: Syahwa Aulia Fasha dan fauzan fakhrurozi kurniawan bertugas membuka serta mengarahkan jalannya acara agar setiap rangkaian kegiatan dapat berjalan sesuai urutan yang telah direncanakan. Dini Aulia dan afwan moehtaram bertugas memaparkan materi serta contoh nyata mengenai pentingnya berprilaku baik dan berprilaku adil dalam setiap keadaan. Robby Ahmad Maulidi, bertugas memandu, mentertibkan jalannya acara dan Nayla azizah, Fauzan fakhrurozi ,Zahra Amelia Bachtiar, Bilqis Ayu Sabrina, Rofi Riyadhoh bekerja sama dalam
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Syahwa Aulia Fasha, dkk.) |111-120 membimbing siswa-siswi untuk membantu siswa-siswi mengaplikasikan perbuatan atau sikap saling tolong menolong di lingkungan sekolah serta meriview ulang HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil kegiatan dan pembahasan ini berupa deskripsi mengenai pengenalan hal-hal dasar tentang pembahasan makna bahwa seluruh manusia wajib diperlakukan secara adil, penuh hormat, berbudaya, serta menjunjung martabat kemanusiaan, melalui kegiatan belajar mengajar. Gambaran Umum Berdasarkan penelitian terhadap siswa kelas 4 dan 5 Sekolah Dasar, penerapan sila kedua Pancasila "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab" telah mulai tertanam dalam kehidupan sehari-hari siswa. Pada rentang usia 9-11 tahun, siswa berada pada tahap perkembangan moral di mana mereka mulai memahami norma sosial dan menyesuaikan perilaku dengan lingkungan. Siswa lebih mudah memahami sila kedua melalui contoh-contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari. Konsep abstrak seperti "keadilan" dan "keadaban" perlu diterjemahkan ke dalam situasi nyata yang dapat mereka alami langsung, sehingga pembiasaan konsisten dari lingkungan sekolah menjadi kunci utama keberhasilan internalisasi nilai. Mekanisme Penerapan Sila Kedua dalam Kehidupan Sehari-hari Siswa di Sekolah Kegiatan pembelajaran yang berfokus pada penerapan sila kedua Pancasila melibatkan beberapa komponen utama, seperti siswa sebagai peserta didik, kami sebagai mahasiswa yang bertugas menyampaikan materi, tujuan pembelajaran, serta metode yang digunakan. Setiap komponen memiliki peran masing-masing agar nilai “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dapat dipahami dan diterapkan oleh siswa. Dalam proses kegiatan, penyampaian materi menjadi bagian yang sangat penting. Kami menyampaikan penjelasan secara langsung di kelas melalui komunikasi lisan. Cara penyampaian ini serupa dengan metode ceramah, di mana kami menjelaskan makna sila kedua, nilai keadilan, sikap beradab, dan berbagai contoh perilaku yang seharusnya diterapkan siswa. Pada tahap ini, interaksi terjadi melalui kemampuan kami dalam menjelaskan, sementara siswa mendengarkan, memperhatikan, dan mencatat poin-poin penting. Selain itu, kami juga menerapkan metode tanya jawab untuk meningkatkan keaktifan siswa. Dengan memberikan pertanyaan sederhana tentang contoh tindakan adil maupun tidak adil, kami mengajak siswa berpikir dan menyampaikan pendapatnya. Melalui metode ini, siswa tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi turut berkontribusi dalam proses pembelajaran. Teknik tanya jawab membantu kami mengetahui seberapa jauh pemahaman siswa mengenai sila kedua. Metode lain yang digunakan adalah bermain sambil belajar. Pendekatan ini dirancang agar siswa dapat memahami konsep keadilan melalui pengalaman langsung. Hal ini sejalan dengan teori Piaget yang menyebutkan bahwa anak usia sekolah dasar lebih mudah memahami suatu konsep apabila diberikan contoh konkret. Oleh karena itu, kami mengajak siswa melakukan kegiatan berbagi wafer dan air mineral agar mereka dapat merasakan proses pembagian yang adil, berdiskusi, serta bekerja sama dengan teman sebaya. Lewat aktivitas ini, nilai keadilan, empati, dan sikap beradab tidak hanya dijelaskan, tetapi juga dipraktikkan secara nyata. Selain itu, peran pendamping kelompok juga sangat penting. Pendamping mengamati perilaku siswa, memastikan setiap siswa terlibat dalam kegiatan, bekerja sama, tidak saling berebut, dan dapat menyelesaikan perbedaan pendapat dengan baik. Pendamping hanya memberikan arahan jika diperlukan tanpa mengambil alih proses diskusi, agar rasa tanggung jawab dan kemandirian siswa tetap berkembang. Dengan memadukan metode ceramah, tanya jawab, dan bermain sambil belajar, kegiatan pembelajaran ini tidak hanya menambah pengetahuan siswa, tetapi juga memberi mereka pengalaman langsung dalam menerapkan sila kedua dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini membuat
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Syahwa Aulia Fasha, dkk.) |111-120 pembelajaran lebih bermakna dan membantu siswa memahami pentingnya bersikap adil, sopan, dan beradab. Kegiatan Pembelajaran Gambar 1. Foto Bersama Penelitian ini dilakukan pada 13 Oktober 2025 di SDN Cinunuk 3 dengan peserta siswa kelas 4 dan 5. Kegiatannya berlangsung sekitar 2,5 jam mulai jam 10.00 sampai 12.00 siang dengan tema "Jadi Anak Beradab,Belajar Sila ke-2 Pancasila". Ada 7 sesi kegiatan yang dibuat supaya siswa bisa belajar tentang kemanusiaan yang adil dan beradab dengan cara yang seru dan menyenangkan. Pembukaan dan Pengenalan Nilai Gambar 2. Foto Syahwa dan Fauzah menjadi MC Kegiatan dimulai pada pukul 10.00-10.15 dengan siswa yang datang sambil mendengarkan lagu "Garuda Pancasila". Terus ada pembukaan resmi dengan nyanyi lagu Indonesia Raya bareng-bareng, doa bersama, dan sambutan dari guru. Guru menjelaskan Sila ke-2 dengan bahasa yang gampang dipahami: "kita harus memperlakukan semua orang dengan adil dan sopan, karena kita semua samasama manusia." Ice Breaking: "Tepuk Adil dan Beradab"
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Syahwa Aulia Fasha, dkk.) |111-120 Gambar 3. Foto siswa-siswi sedang menyanyikan yel-yel Sesi ice breaking dilakukan pada pukul 10.16-10.25 dengan tepuk tangan yang ada iramanya dan kata-katanya tentang sila kedua seperti "Anak baik, anak sopan, anak santun", "Suka menolong, dan tak suka melawan", "Hormat sama orang tua", dan "Sayang teman di sekolah". Kegiatan ini diulang dua kali dan siswa-siswa terlihat sangat semangat mengikutinya. Penyampaian Materi: "Memahami Sila Kedua Pancasila" Gambar 4. Foto siswa-siswi yang memberikan sebuah contoh dari materi yang sudah di berikan. Dini dan Afwan menyampaikan materi pada pukul 10.25-10.55 secara interaktif tentang pengertian "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab". Materi mencakup definisi "adil" (menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan hak setiap orang) dan "beradab" (bersikap sopan, santun, menghormati martabat manusia). Dini dan Afwan memberikan contoh konkret seperti tidak membully teman, membantu teman kesulitan, menghormati orang tua dan guru, serta tidak membeda-bedakan teman. Siswa antusias dan beberapa kali mengacungkan tangan memberikan contoh tambahan. Pembagian Kelompok dan Praktik Berbagi Adil
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Syahwa Aulia Fasha, dkk.) |111-120 Gambar 5. Kumpulan foto-foto dari semua kelompok Siswa dibagi menjadi 7 kelompok, pada pukul 10.55-11.10 masing-masing terdiri dari 7-8 orang. Setiap kelompok mendapat 1 bungkus wafer Nabati isi 10 dan 1 botol air mineral Aqua (600ml). Siswa diminta untuk berdiskusi dan mempraktikkan bagaimana cara membagi makanan dan minuman tersebut dengan adil dan beradab kepada semua anggota kelompok. Instruksi yang diberikan: "Anak-anak, sekarang setiap kelompok dapat 1 bungkus Nabati yang isinya 10 dan 1 botol Aqua. Kalian harus berdiskusi bagaimana cara membagi dengan adil untuk semua anggota kelompok. Ingat, kalian harus bersikap adil dan beradab seperti yang baru kita pelajari!" Selama praktik, berbagai strategi muncul dari masing-masing kelompok: • 5 kelompok membagi Nabati dengan cara setiap anak dapat 1-2 wafer, sisanya disimpan untuk dimakan bersama atau diberikan ke teman yang belum dapat • 2 kelompok memutuskan untuk memecah beberapa wafer menjadi bagian lebih kecil agar semua dapat bagian yang sama • Untuk air mineral, semua kelompok sepakat minum bergantian dengan jatah yang sama, ada yang menghitung menggunakan tutup botol sebagai takaran • Terlihat proses negosiasi dalam kelompok: beberapa anak yang tidak suka Nabati dengan sukarela memberikan bagiannya ke teman lain • Ada kelompok yang menunjuk ketua untuk membagi secara adil agar tidak rebutan • Beberapa anak menunjukkan sikap mengalah dengan mengambil bagian lebih sedikit Panitia berkeliling mengobservasi proses diskusi dan praktik berbagi di setiap kelompok, mencatat dinamika yang terjadi tanpa terlalu banyak intervensi agar siswa belajar menyelesaikan masalah sendiri. Presentasi Perwakilan Kelompok dan Evaluasi a. Penjelasan Materi oleh Perwakilan Kelompok Satu orang perwakilan dari setiap kelompok maju ke depan pada pukul 11.15-11.35 untuk menjelaskan secara singkat pemahaman mereka tentang materi sila kedua yang telah dipelajari. Setiap perwakilan diberi waktu sekitar 1-2 menit.
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Syahwa Aulia Fasha, dkk.) |111-120 Gambar 6. Foto sis-siswi perwakilan dari setiap kelompok Hasil presentasi perwakilan kelompok: • Kelompok 1: Perwakilan menjelaskan "Sila kedua itu artinya kita harus adil, yaitu tidak pilihpilih teman dan memberi hak yang sama. Beradab artinya sopan dan tidak kasar sama orang lain." • Kelompok 2: Perwakilan menjelaskan "Kemanusiaan yang adil dan beradab itu kita harus menolong semua orang tanpa lihat dia kaya atau miskin, dan harus pakai bahasa yang sopan." • Kelompok 3: Perwakilan menjelaskan "Adil itu memberikan sesuatu sesuai haknya, tidak semua harus sama. Beradab itu menghargai orang lain dan tidak suka bertengkar." • Kelompok 4: Perwakilan menjelaskan "Sila kedua mengajarkan kita untuk memperlakukan semua orang dengan baik, tidak membeda-bedakan agama atau suku." • Kelompok 5: Perwakilan menjelaskan "Kemanusiaan yang adil itu seperti waktu kita berbagi, semua harus dapat. Beradab itu tidak berebut dan mau mengalah." • Kelompok 6: Perwakilan menjelaskan "Adil itu tidak memihak dan memberikan kesempatan sama ke semua teman. Beradab itu berkata terima kasih dan maaf." • Kelompok 7: Perwakilan menjelaskan "Sila kedua mengajarkan kita jadi anak yang baik hati, suka menolong, dan menghormati semua orang." Hasil menunjukkan bahwa 90% siswa-siswi mampu menjelaskan materi dengan bahasa mereka sendiri dan memberikan contoh konkret. Beberapa perwakilan bahkan mengaitkan penjelasan mereka dengan pengalaman praktik berbagi yang baru dilakukan. panitia memberikan apresiasi dan sedikit koreksi jika ada pemahaman yang kurang tepat. b. Refleksi dan Evaluasi Praktik Berbagi Setelah presentasi materi, setiap kelompok (diwakili oleh perwakilan yang sama atau berbeda) menceritakan bagaimana mereka membagi Nabati dan Aqua dengan adil. Guru memberikan pertanyaan reflektif: • Bagaimana cara kelompok kalian membagi dengan adil? • Apakah ada anggota yang merasa tidak adil? Bagaimana kalian mengatasinya? • Sikap beradab apa yang kalian tunjukkan saat berbagi? • Apa yang kalian pelajari dari kegiatan ini? Hasil evaluasi menunjukkan: • 100% kelompok berhasil membagi makanan dan minuman, meskipun dengan strategi berbeda • 88% siswa merasa pembagian di kelompoknya sudah adil • 12% siswa awalnya merasa kurang adil tapi setelah diskusi bisa menerima dengan lapang dada
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Syahwa Aulia Fasha, dkk.) |111-120 • Sikap beradab yang muncul: tidak berebut, mengalah, mendengarkan pendapat teman, berterima kasih, meminta maaf jika ada kesalahan, mau berbagi dengan ikhlas • Semua kelompok sepakat bahwa komunikasi yang baik sangat penting untuk mencapai keadilan Panitia merangkum pembelajaran penting: "Anak-anak hebat! Kalian sudah memahami materi dan mempraktikkan sila kedua dengan baik. Dari penjelasan kalian, terlihat bahwa kalian paham. bahwa adil itu bukan berarti semua harus sama persis, tapi semua mendapat haknya dengan cara yang baik. Beradab itu terlihat dari cara kalian berdiskusi, tidak berebut, mau mengalah, dan menghormati keputusan bersama. Inilah yang namanya Kemanusiaan yang Adil dan Beradab!" Pembagian Hadiah dan Penguatan Nilai (11.35-11.45) Gambar 7. Foto pembagian hadiah untuk kelompok yang juara Pengumuman kelompok terbaik di berikan pada pukul 11.35-11.45 dan dilakukan berdasarkan penilaian: • Kemampuan perwakilan menjelaskan materi (30%) • Proses diskusi dan pembagian yang adil dalam kelompok (40%) • Sikap beradab yang ditunjukkan selama kegiatan (30%) Namun, sebelum mengumumkan pemenang, panitia menekankan: "Anak-anak, yang terpenting bukan siapa yang menang hari ini, tapi apakah kalian sudah menjadi anak yang lebih adil dan beradab. Semua kelompok sudah menunjukkan usaha yang luar biasa!". Pengumuman dilakukan dengan memberikan: • Kelompok terbaik : Kelompok 6 (mendapat hadiah yang berisi makanan) • Kelompok teraktif : Kelompok 2 (mendapat hadiah yang berisi makanan) • Kelompok lainnya mendapat hadiah kecil-kecilan seperti pembagian permen Semua siswa mendapat tepuk tangan dan apresiasi atas partisipasi aktif mereka. Guru mengingatkan sekali lagi bahwa hadiah adalah simbol apresiasi, yang terpenting adalah nilai-nilai yang sudah dipelajari dan dipraktikkan hari ini harus terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penutupan dan Dokumentasi
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Syahwa Aulia Fasha, dkk.) |111-120 Gambar 8. Foto dokumentasi dipenghujung acara Kegiatan ditutup pada pukul 11.45-12.00 dengan kata-kata motivasi dari panitia: "Anak-anak, hari ini kalian sudah belajar menjadi anak yang beradab. Mulai sekarang, terapkan sikap adil dan beradab tidak hanya di sekolah, tapi juga di rumah dan di mana saja kalian berada. Jadilah anak Pancasila yang bangga dengan nilai-nilai luhur bangsa kita! ." Seluruh peserta melakukan doa penutup bersama, kemudian dilanjutkan dengan foto bersama di dalam kelas dengan semangat dan ceria. SIMPULAN Kegiatan aktualisasi sila kedua Pancasila di SDN Cinunuk 3 berjalan sangat baik dan mencapai tujuan yang ditetapkan. Melalui rangkaian kegiatan pembelajaran interaktif, siswa mampu memahami dan mempraktikkan makna "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab" secara nyata. Hasil menunjukkan sebagian besar siswa dapat menjelaskan konsep sila kedua dengan bahasa sendiri, menunjukkan sikap antusias, empati, dan sportif, serta mampu berbagi dengan adil dan berdiskusi dengan tertib. Pembelajaran berbasis pengalaman langsung terbukti lebih efektif dibandingkan metode ceramah karena siswa tidak hanya memahami teori tetapi juga merasakan dan menerapkan nilai keadilan dalam interaksi nyata. Meskipun terdapat keterbatasan waktu, jumlah peserta, dan konteks pengamatan, kegiatan ini berhasil memberikan gambaran kuat tentang efektivitas penanaman nilai sila kedua pada siswa SD. Ke depannya, diperlukan kegiatan berkesinambungan dengan metode kreatif, waktu memadai, dan kerja sama semua pihak agar nilai kemanusiaan, keadilan, dan sikap beradab terinternalisasi lebih kuat dalam diri siswa sebagai generasi pengamal Pancasila. SARAN Pembelajaran nilai sila kedua sebaiknya dilakukan secara rutin dengan metode yang menarik dan melibatkan pengalaman langsung, agar siswa benar-benar memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Guru perlu menggunakan pendekatan yang kreatif seperti permainan edukatif, diskusi, dan praktik berbagi untuk memperkuat pembelajaran karakter. Sekolah dan orang tua harus bekerja sama menjaga konsistensi penerapan nilai kemanusiaan, keadilan, dan sikap beradab, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Selain itu, Dinas Pendidikan diharapkan mendukung penerapan model pembelajaran ini di lebih banyak sekolah melalui kebijakan, pelatihan guru, dan penyediaan fasilitas. Dengan kolaborasi seluruh pihak, nilai Pancasila dapat tertanam lebih kuat dalam diri siswa sehingga mereka tidak hanya mengetahui maknanya tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.