Sejarah Perkembangan Tarikat Qadiriyah: Ajaran, Zikir/Wirid Dan Metodenya
Full text
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Sejarah Perkembangan Tarikat (Muhammad Isrha, dkk.) | 190-199 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 10, November 2025, P. 190-199 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17999504 Sejarah Perkembangan Tarikat Qadiriyah: Ajaran, Zikir/Wirid Dan Metodenya Muhammad Isrha, Rahmi Damis, Hamzah Harun Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Email: 1Isrhamuham[email protected], 2hamzahharun[email protected], [email protected] Abstrak Peneltian ini mengkaji tentang sejarah perkembangan tarekat Qadariyah, ajaran, zikir, wirid dan metodenya, dengan bagaimana metode praktik zikirnya bentuk pembaiyatannya dan struktur kelembagaannya. Metode yang dilakukan dengan mengkaji literatur, menganalisa peneliotian terdahulu dan mengkaji dengan berdiskusi, tujuan pada penelitian ini ingin mengtahui Bagaimamna sejarah perkembangan tarekat Qadiriyah, Bagaimana metode, ajaran dan aspek pemikiran sufistik yang diajarkan dalam tarekat Qadiriyah, dan Bagaimana proses perkembangan dan tersebarnya tarekat Qadiriyah. Bahwa hasil dari penelitian ini melihat dari beberapa aspek dengan pendekartan tasawuf. Tarekat Qadiriyah muncul sebagai reaksi terhadap kejanggalan realitas sosial dimasa tersebut. Secara historis, tarekat ini kemudian terus berkembang sampai menjadi salah satu gerakan keagamaan terbesar yang mengiringi tumbuhnya budaya Islam ditengah-tengah masyarakat. Syaikh Abd al-Qadir al -Jilani berpendapat bahwa kehidupan yang mulia adalah dengan mengabdikan diri kepada Tuhan semata,. Eksistensi yang sadar Tuhan akan memberikan kekuatan spiritual yang mengalihkan dari kesenangan hidup menuju kebahagiaan spiritual. Dalam upayanya menekankan pensucian diri dari nafsu dunia, Syaikh Abd al-Qadir al-Jilani beberapa petunjuk untuk mencapai kesucian diri yang tertinggi, yaitu dengan melakukan 7 prinsip: taubat, zuhud, tawakkal, syukur, sabar, ridha, dan jujur. Kata Kunci: Perkembangan, Ajaran, Tarikat Qadiriyah Abstract This study examines the historical development of the Qadiriyah Sufi order, its teachings, dhikr, wirid, and methods, including the practice of dhikr, the form of initiation (bay‘ah), and its institutional structure. The research method involves a literature review, analysis of previous studies, and discussions. The purpose of this study is to understand the history of the development of the Qadiriyah order, the methods, teachings, and aspects of Sufi thought taught within the Qadiriyah order, as well as the process of its development and dissemination. The results of this study, viewed from several aspects using a Sufistic approach, indicate that the Qadiriyah order emerged as a response to anomalies in the social reality of its time. Historically, this order continued to develop and eventually became one of the largest religious movements accompanying the growth of Islamic culture within society. Shaykh ‘Abd al-Qadir al-Jilani believed that a noble life is achieved by devoting oneself solely to God. A God-conscious existence provides spiritual strength that redirects one from worldly pleasures toward spiritual happiness. In his efforts to emphasize self-purification from worldly desires, Shaykh ‘Abd al-Qadir al-Jilani outlined several guidelines to attain the highest level of self-purity through seven principles: repentance, asceticism (zuhd), trust in God (tawakkul), gratitude, patience, contentment (ridha), and honesty. Keywords: Development, Teachings, Qadiriyah Order Article Info Received date: 25 Oktober 2025 Revised date: 15 November 2025 Accepted date: 10 December 2025 PENDAHULUAN Tarekat Qadiriyah terbentuk dengan mengadopsi nama pendirinya, Syaikh Abd al-Qadir alJilani yang merupakan sufi besar yang memiliki garis keturunan langsung dari nabi. Selama masa hidupnya, Syaikh Abd al-Qadir mengalami beragam situasi dan kondisi sosial-politik yang beragam. Salah satu keprihatinan yang muncul dalam benak Syaikh Abd al-Qadir adalah keadaan para penguasa di masanya yang begitu mementingkan kehidupan dunia dengan kekuasaan dan kemewahan yang mengelilingi. Kesan ini kemudian menjadikan Syaikh Abd al-Qadir menyeru ke jalan yang satu, yaitu memegang erat tauhid. Maka dalam kaitan inilah al-Jailani sangat lantang menyeru kepada pemurnian tauhid dan menganggap remeh selain Allah. Ia pun secara tegas mengkritik para pembesar kerajaan, termasuk orang-orang yang menumpuk harta dengan jalan yang ilegal, koruptor dan menuding
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Sejarah Perkembangan Tarikat (Muhammad Isrha, dkk.) | 190-199 kelemahankelemahannya. Selain itu, Syaikh Abd al-Qadir menyebutkan bahwa faktor utama kekacauan dan ketidakstabilan adalah pemujaan yang sangat berlebihan terhadap materi. Menurutnya kesempurnaan manusia adalah keseimbangan antara kehidupan materi dan spirtual, yang satu sama lainnya diberi porsi yang adil dan saling menjaga. Adapun ide mistik dan religius Syaikh ‘Abd al-Qadir Jailani termuat dalam karyanya seperti pada kitab Ghunyah li Thalibi al-Haqq, al-Fath al-Rabbani, dan Futuh al-Ghayb. 1 Oleh karena itu tepat kalau ia dianggap tokoh sufi yang ahli syari’at. Sebagaimana yang pernah dikatakan sendiri, bahwa hakikat tanpa dilandasi syari’at adalah batal. Tarekat Qadiriyah muncul sebagai reaksi terhadap kejanggalan realitas sosial dimasa tersebut. Secara historis, tarekat ini kemudian terus berkembang sampai menjadi salah satu gerakan keagamaan terbesar yang mengiringi tumbuhnya budaya Islam ditengah-tengah masyarakat. Dari sekian banyak tarekat, makalah kali ini mencoba ‘mencolek secuil’ tentang tarekat Qadiriyah, suatu tarekat yang menempati posisi penting dalam sejarah spiritualitas Islam karena tarekat ini tidak saja sebagai pelopor lahirnya organisasi tarekat, tetapi juga cikal bakal munculnya berbagai macam cabang tarekat di dunia Islam. Selain itu diharapkan juga makalah ini dapat memberi sedikit masukan kepada mereka yang ingin menjadi seorang salik dalam menentukan tarekat mana yang ingin diikuti atau akhirnya sama sekali tidak ingin memiliki tarekat Rumusan Masalah 1. Bagaimamna sejarah perkembangan tarekat Qadiriyah? 2. Bagaimana metode, ajaran dan aspek pemikiran sufistik yang diajarkan dalam tarekat Qadiriyah? 3. Bagaimana proses perkembangan dan tersebarnya tarekat Qadiriyah? HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah dan Perkembangan Tarekat Qadiriyah Nama Qadiriyah diambil dari nama pendirinya, seorang sufi besar yang sangat legendaris, dengan sekian banyak sebutan kehormatan antara lain: Quthb al-Auliya’, Sahib al-Karamat, dan Sultan al-Auliya’, 2 yaitu Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang memiliki nama lengkap al-Imam Muhyiddin Abu Muhammad Abu S h a^ lih Abdul Qadir bin Abi Sha^lih Musa Jangki Dausat al-Jilani. Beliau dilahirkan di desa Busytiru kota Jilan pada bulan Ramadan 470 H/1077 M dan wafat pada Sabtu 8 Rabiul Awal 561 H/ 1166 M di kota Baghdad. 3 Silsilah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, baik nasab dari ayah maupun nasab dari ibunya, bersambung sampai Rasulullah SAW. Nasab dari ayah adalah Syaikh Abdul Qadir bin Abu S h a^ lih Jangki Dausat bin Abdillah bin Yahya al-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdulla^ h alTsani bin Musa al-Juni bin Abdulla^ h al-Mahdi bin Hasan al-Mustanna bin Hasan al-Sibthi bin Ali bin Abi T h a^ lib, suami Sayyidatina Fatimah al-Zahra binti Rasulullah SAW. Sedangkan nasab dari ibu adalah Syaikh Abdul Qadir bin Syarifah Ummul Khair Fatimah binti Abdulla^ h Sauma’i al-Zahid bin Abu Jamaluddin Muhammad bin Mahmud bin T h a^ hir bin Abu al-Atha’ Abdulla^ h bin Kamaluddin Isa bin Abi Alauddin Muhammad al-Jawad bin Ali al-Ridha bin Musa al-Kadzim bin Imam Ja’far alS h a^ diq bin Muhammad al-Baqir bin Zaenal Abidin bin Husain al-Syahid bin Ali bin Abi T h a^ lib, suami Sayyidatina Fatimah al-Zahra binti Rasulullah SAW. 4 Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang sudah masyhur 1 Aly Mashar, Tarekat & Aliran Kebatinan (Surakarta: SPI FAB UIN Raden Mas Said Surakarta, 2021). 2 Kharisudin Aqib, Al-Hikmah:Memahami Teosofi Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah (Surabaya: Bina Ilmu), h. 48. Lihat juga dalam J. Spencer Trimingham, The Sufi Orders in Islam (Oxford: The Clarendon Press, 1971), h. 40 3 3Hendra Zainuddin and Muhammad Tuwah, Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah Di Kota Palembang: Jalur Sanad Kemursyidan (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2020), h. 25. 4 Zainuddin and Tuwah, h. 25-26.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Sejarah Perkembangan Tarikat (Muhammad Isrha, dkk.) | 190-199 keutamaan dan kelimuannya. Ayahnya dikenal sebagai seorang ulama yang masyhur keilmuan, wira’i dan ketakwaannya. Ayahnya wafat ketika Syaikh Abdul Qadir al-Jilani masih kecil. Syaikh Abdul Qadir alJilani juga memiliki saudara laki-laki bernama Abdulla^ h seorang pemuda yang ahli ilmu dan ibadah, tetapi wafat pada usia muda. Tepatnya ketika Syaikh Abdul Qadir al-Jilani meninggalkan Jilan dan memasuki kota Baghdad. Sedangkan ibu beliau adalah seorang perempuan yang masyhur dengan kebaikan dan kemuliaannya. Ibunya wafat ketika Syaikh Abdul Qadir alJilani sudah berada di kota Baghdad. 5 Syaikh Abd al-Qadir al-Jilani adalah seorang tokoh sufi yang memiliki pengikut dan pengaruh besar didunia islam, termasuk di Indonesia. Ia dikenal sebagai penguasa para wali (Sulthon Al-Auliya) dan pemuka para sufi (Imam al-Shifa’). Jama’ah sufi yang di nisbatkan kepadanya (Qodiriyah) merupakan tarekat yang paling tua usianya dan paling luas daerah penyebarannya. 6 Adapun keilmuan yang dimiliki oleh Syaikh Abd al-Qadir al-Jilani sangat luas meliputi ilmu al-Qur’an, ilmu fiqh terutama mazhab Imam Syafi’i, ilmu adab dan hadis, serta ilmu tasawuf. Syaikh Abd al Qodir al-Jailani mengalami masa pemerintahan lima kali, pertama, al-Mustandzir Billah (487 H - 512 H), kedua, al-Mustarsyid Billah bin Al-Mustandzir (512 H-529H), ketiga, al-Rasyid Billah (529 H – 529 H) hanya 11 bulan memimpin, keempat, al-Muqtafi li Amrillah (555H), kelima, alMustanjid Billah (555 H – 566 H). Pada masa-masa kepemimpinan khalifah tersebut, dunia Islam sedang berada pada fase stagnasi dan kejumudan berpikir disebabkan kecintaan terhadap materi dan hal-hal yang bersifat temporer. Realitas ini dapat ditemukan pada sosok khalifah langsung yang berdampak pada mandeknya perkembangan negara dan Islam. Kondisi sosial politik pada masa Syaikh Abd al-Qadir al-Jailani ditandai dengan kekacauan pemerintahan yang berwujud dehumanisasi dan despiritualisasi. Lantas dari kalangan ulama’ memutuskan untuk hidup sufi dan menyeru ke jalan yang satu, yaitu memegang erat tauhid. Maka dalam kaitan inilah al-Jailani sangat lantang menyeru kepada pemurnian tauhid dan menganggap remeh selain Allah. Ia pun secara tegas mengkritik para pembesar kerajaan, termasuk orang-orang yang menumpuk harta dengan jalan yang ilegal, koruptor dan menuding kelemahan-kelemahannya. Telah ditekankan oleh beliau pada setiap kesempatan bahwa faktor utama kekacauan dan ketidakstabilan adalah pemujaan yang sangat berlebihan terhadap materi. Menurutnya kesempurnaan manusia adalah keseimbangan antara kehidupan materi dan spirtual, yang satu sama lainnya diberi porsi yang adil dan saling menjaga. Adapun ide mistik dan religius Syaikh ‘Abd al-Qadir Jailani termuat dalam karyanya seperti pada kitab Ghunyah li Thalibi al-Haqq, al-Fath al-Rabbani, dan Futuh alGhayb. 7 Oleh karena itu tepat kalau ia dianggap tokoh sufi yang ahli syari’at. Sebagaimana yang pernah dikatakan sendiri, bahwa hakikat tanpa dilandasi syari’at adalah batal. Ajaran dan Praktik Tarekat Qadiriyah Secara ideologis, arkeologi pemikiran tarekat Syaikh Abd al-Qadir alJilani tidak lain berakar dari ajaran pokok Islam terutama ahlusunnah wa aljamaah. Hal itu dibuktikan dengan apresiasinya terhadap empat mazhab fiqh dan teologi Asy’ariyah dengan tetap menekankan tauhid dan akhlak terpuji, mazhab yang dianut Syaikh Abdul al-Qadir al-Jailani dari mazhab Hanbaliah ,sedangkan pelaksanaanya tetap menempuh jalur syariat lahir dan batin. Dalam banyak literatur dijelaskan, karakter tarekat Syaikh Abd al-Qadir al-Jilani adalah pemurnian akidah dan meletakkan diri pada sikap beribadah serta tetap tunduk pada garis keturunan takdir dengan kesesuaian hati dan roh serta kesatuan lahir dan batin, disamping upaya memisahkan diri dari kecenderungan nafsu dan mengabaikan keinginan melihat manfaat, mudarat, kedekatan maupun perasaan jauh. 8 5 Zainuddin and Tuwah, h. 26. 6 Muh. Saiful Ma’ruf, ‘Tasawuf Amali Qodiriyah (Syaikh Abd.Qadir Al-Jailani)’, Journal Multicultural of Islamic Education, 2.1 (2018), 39–50. 7 Aly Mashar, Tarekat & Aliran Kebatinan (Surakarta: SPI FAB UIN Raden Mas Said Surakarta, 2021). 8 Sri Mulyati and others, Mengenal Dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah Di Indonesia (Jakarta: Penerbit Kencana, 2004), h. 36-37.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Sejarah Perkembangan Tarikat (Muhammad Isrha, dkk.) | 190-199 Adapun ajaran spiritual Syaikh Abd al-Qadir al-Jilani berakar pada konsep dan pengalamannya akan Tuhan. Ia senantiasa menjadikan nasihat Rasulullah dalam hadis, “Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, ketahuilah bahwa Ia melihatmu,” sebagai pegangan hidup yang diterjemahkan dalam praktik kehidupan seharihari. Ini mengantar pada pemahaman bahwa Tuhan dan tauhid bukanlah semata mitos teologis ataupun abstraksi logis semata, melainkan sebuah pribadi yang kehadirannya tidak hanya menjangkau seluruh pengalaman etis, intelektual, dan estetis seorang manusia. 9 Konsepsi kemurnian tauhid yang diserukan oleh Syaikh Abd al-Qadir alJilani didasarkan pada tiga hal mutlak yang harus dimiliki, yaitu: 1) menjaga perintah Allah; 2) menghindari dari segala yang haram, serta; 3) rela dengan al-Jilani menganjurkan seseorang untuk berusaha dan berdoa. Dan jika takdir sudah tiba, maka manusia harus menerima (tawakkal), sebab Tuhan lebih mengetahui segala hikmah-Nya. Kehidupan yang mulia dalam konsepsi pemikiran Syaikh Abd al-Qadir al-Jilani adalah dengan mengabdikan diri kepada Tuhan semata, dan sebab alasan itupula manusia dihadirkan dan diciptakan. Kesadaran seperti ini akan membersihkan dan memurnikan hati seorang manusia serta mengakrabkan hati dengan alam roh. Eksistensi yang sadar Tuhan akan memberikan kekuatan spiritual yang mengalihkan dari kesenangan hidup menuju kebahagiaan spiritual.13 Dalam upayanya menekankan pensucian diri dari nafsu dunia, Syaikh Abd al-Qadir al-Jilani beberapa petunjuk untuk mencapai kesucian diri yang tertinggi, 10 Aspek Ideologis a. Taubat Taubat adalah kembali kepada Allah dengan mengurai ikatan dosa yang terus-menerus dari hati kemudian melaksanakan setiap hak Tuhan. Syaikh ‘Abd Qadir menganggap taubat bagaikan air yang menghilangkan najis, begitu juga taubat menghilangkan dosa dan kotoran maksiat. Menurut Syaikh ‘Abd alQadir al-Jilani, taubat itu ada dua macam, yaitu: a) Taubat yang berkaitan dengan hak sesama manusia. Taubat ini tidak dapat direalisasikan kecuali dengan menghindari kezaliman, memberikan hak kepada yang berhak, dan mengembalikan kepada pemiliknya. b) Taubat yang berkaitan dengan hak Allah. Taubat ini dilakukan dengan senantiasa mengucapkan istighfar dengan lisan, menyesal dengan hati, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa mendatang. 11 b. Zuhud Zuhud secara bahasa adalah zahada fihi, wa zahada ‘anhu, dan wa zahadan yaitu berpaling darinya dan meninggalkannya karena menganggapnya hina atau menjauhinya karena dosa. Zuhud menurut Syaikh Abd al-Qadir al-Jilani ada dua macam, yaitu: zahid haqiqi (mengeluarkan dunia dari hatinya) dan mutazahid shuwariy atau zahid lahiriy (mengeluarkan dunia dari hadapannya). Zuhud mengajarkan betapa Si Salik harus menahan hawa nafsu (sesuatu yang kita sayangi) serta menulak semua tuntutannya. Oleh karena itu, kita tidak boleh menjadikan nafsu sebagai kebutuhan artinya nafsu duniawi justru harus dijadikan sebagai lawan dan pembinasa manusia. 12 c. Tawakkal Tawakal artinya berserah diri (dalam bahasa Arab, tawakkul), yakni salah satu sifat mulia yang harus ada pada diri ahli sufi. Syaikh ‘Abd Qadir menekankan bahwa tawakal berada di antara pintupintu iman, sedangkan iman tidak melulu dengan perbuatan baik kecuali dengan adanya ilmu, hal dan amalan.Dengan demikian, hakikat tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah dan 9 Seyyed Hossein Nasr, Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam (Bandung: Penerbit Mizan, 2003), h. 19. 10 Aly Mashar, Tarekat & Aliran Kebatinan (Surakarta: SPI FAB UIN Raden Mas Said Surakarta, 2021), h. 20. 11 Mulyati and others, h. 39. 12 Abdul Majid Khatib, Rahasia Sufi Syaikh Abd Al-Qadir Al-Jilani (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2003), h. 278.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Sejarah Perkembangan Tarikat (Muhammad Isrha, dkk.) | 190-199 membersihkan diri dari gelapnya pilihan, tunduk dan patuh kepada hukum dan takdir. Hakikat tawakkal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah dan membersihkan diri dari gelapnya pilihan, tunduk dan patuh kepada hukum dan takdir. Sehingga dia yakin bahwa tidak ada perubahan dalam bagian, apa yang menjadi bagiannya tidak akan hilang dan apa yang tidak ditakdirkan untuknya tidak akan diterima. Ini akan membawa ketenangan dan perasaan nyaman dengan janji Tuhan. 13 d. Syukur Syukur adalah ungkapan rasa terima kasih atas nikmat yang diterima, baik lisan, tangan maupun hati. Menurut Syeikh ‘Abd Qadir Jilani syukur merupakan mengikuti nikmat Allah karena Dialah pemilik karunia dan pemberian sehingga hati mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Allah dan patuh kepada syariatNya. Dengan demikian syukur dikatakan sebagai pekerjaan hati dan anggota badan. Syukur dibagi menjadi tiga macam, yaitu: syukur dengan lisan, Syukur dengan badan dan anggota badan, serta Syukur dengan hati. 14 Syaikh Abd al-Qadir membagi orang-orang yang bersyukur menjadi 3 kelompok: a) al-Amin, mereka adalah sebagian besar umat manusia yang kesyukurannya diperlihatkan dalam kata-kata. b) ‘Abidin, mereka yang mengekspresikan syukur mereka dengan melaksanakan ibadahibadah yang diwajibkan. c) ‘Arifin, mereka yang istiqamah dalam syukurnya dalam segala keadaan dengan meyakini bahwa semua kebaikan adalah kerana taufik-Nya. 15 d) Sabar Sabar ialah tidak mengeluh karena sakitnya musibah yang menimpa kita kecuali mengeluh kepada Allah. Menurut Syaikh ‘Abd Qadir Jilani, sabar ada tiga macam, yaitu: 1) Bersabar kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. 2) Bersabar bersama Allah, yaitu bersabar terhadap ketetapan Allah dan perbuatanperbuatan-Nya terhadapmu dari berbagai macam kesulitan dan musibah. 3) Bersabar atas Allah, yaitu bersabar terhadap rezeki, jalan keluar, kecukupan, pertolongan, dan pahala yang dijanjikan Allah di akhirat. e. Ridha Ridha adalah kebahagiaan hati dalam menerima ketetapan (takdir). Para salik berpandapat bahwa orang yang ridha adalah orang yang menerima ketetapan Allah dengan berserah diri, pasrah tanpa menunjukkan penentangan terhadap apa yang dilakukan oleh Allah. Ridha dapat menentramkan jiwa manusia dan memasukkan factor kebahagiaan dan kelembutan didalamnya, karena seorang hamba yang ridha dan menerima apa yang dipilihkan Allah untuknya dan meyakininya sebagai yang terbaik di segala macam keadaan. Keridhaan akan meringankan hidup manusia, sehingga dia akan merasa senang, hilang rasa gundah dan kegalauan. f. Jujur Secara bahasa jujur adalah menetapkan hukum sesuai dengan kenyataan. Sedangkan dalam istilah sufi dan menurut Syaikh ‘Abd Qadir Jilani, jujur adalah mengatakan yang benar dalam kondisi apapun, baik menguntungkan maupun yang tidak menguntungkan. Kejujuran merupakan derajat kesempurnaan manusia tertinggi dan seseorang tidak akan berlaku. jujur kecuali ketika dia meiliki jiwa yang baik, hati yang bersih, pandangan yang lurus, sifat yang mulia, lidah yang bersih, dan hati yang dihiasi dengan keimanan, keberanian, dan kekuatan. Kemudian dengan kejujuran pula kita dapat membedakan orang yang munafik dan orang yang beriman 13 Mulyati and others, h. 39-40. 14 Mulyati and others, h. 41-42. 15 Ischak Suryo Nugroho, ‘Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Tarekat Qadiriyah’, JPA,
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Sejarah Perkembangan Tarikat (Muhammad Isrha, dkk.) | 190-199 karena jujur memiliki kedudukan yang tinggi. Aspek Praktis Diantara praktik spiritual yang diadopsi oleh tarekat Qadiriyah adalah zikir (terutama melantunkan asma Allah berulang-ulang). Dalam pelaksanannya terdapat berbagai tingkatan penekanan dan intensitas. Ada zikir yang terdiri atas satu, dua tiga, dan empat. Zikir dengan satu gerakan dilaksanakan dengan mengulang-ulang asma Allah melalui tarikan napas panjang yang kuat, seakan dihela dari tempat yang tinggi, diikuti penekanan dari jantung dan tenggorokan, kemudian dihentikan sehingga napas kembali normal. Hal ini harus diulang secara konsisten untuk waktu yang lama. Zikir dengan dua gerakan dilakukan dengan duduk dalam posisi shalat, kemudian melantunkan asma’ Allah di dada sebelah kanan, lalu di jantung dan kesemuanya dilakukan berulang-ulang dengan intensitas tinggi. Hal ini dianggap efektif untuk meningkatkan konsentrasi dan menghilangkan rasa gelisah dan pikiran yang kacau. Zikir dengan tiga gerakan dilakukan dengan duduk bersila dan mengilang pembacaan asma Allah dibagian dada sebelah kanan, kemudian di sebelah kiri, dan akhirnya di jantung. Kesemuanya ini dilakukan dengan intensitas yang lebih tinggi dan pengulangan yang lebih sering. Sementara itu, zikir empat gerakan dilakukan dengan duduk bersila, dengan mengucapka asma Allah berulang-ulang di dad sebelah kanan, kemudian sebelah kiri, lalu ditarik kea rah jantung, dan terakhir dibaca di depan dada. Cara terakhir ini di harapkan dapat dilakukan lebih kuat dan lebih lama. Praktik zikir ini dapat dilakukan bersama-sama, dibaca dengan suara keras atau perlahan, sambil duudk membentuk lingkaran setelah shalat, pada waktu subuh maupun malam hari. Jika seorang pengikut sanggup melantunkan asma Allah empat ribu kali setiap harinya, tanpa putus selama dua bulan, dapat diharapkan bahwa dirinya telah memiliki kualifikasi untuk meraup pengalaman spiritual tertentu. Setelah melakukan zikir, tarekat menganjurkan untuk melakukan apa yang disebut sebagai pasI anfas, yakni mengatur napas sedemikian rupa sehingga dalam proses menarik dan menghembuskan napas, asma Allah brsirkulasi dalam tubuh secara otomatis. Kemudian, ini diikuti dnegan muraqabah atau kontemplasi. Dianjurkan untuk berkonsentrasi pada sebagian jumlah ayat al-Qur’an ataupun sifatsifat ilahiyah tertentu hingga sungguhsungguh terserap ke dalam kontemplasi. 16 Beberapa praktik yang dikembangkan oleh pengikut dari generasi berikutnya mengadopsi pengaruh lokal dan tidak dapat dipahami dengan merujuk pada ide dan anjuran autentik sang wali. Contohnya, para pengikut tarekat Qadariyyah di Afrika Utara sering disebut sebagai para gilani telah mengembangkan praktik khalwat dengan aturan-aturan yang sangat khusus. Alang-alang ditancapkan ditumpukan batu, para wanita menyampirkan kainkain disitu, kemudian bensin dan styrax disulut. Baik pria maupun wanita melakukan jenis khalwat ini dan memohon agar keinginan mereka terpenuhi. Zikir adalah kunci dan sekaligus menempati posisi yang amat penting dalm tradisi tarekat, termasuk tarekat Qadiriyah karena zikir bagaikan anak kunci yang mampu membuka pintu gerbang dunia spiritual yang tidak terbatas. Apabila pintu hati telah terbuka, muncullah dari dalamnya pikiranpikiran yang arif untuk membuka mata hati. Katika mata hati telah terbuka, maka tampaklah sifat-sifat Allah melalui mata hati itu. Kemudian mata hati akan melihat refleksi (bayangan) kasih sayang, kelembutan, keindahan, dan kebaikan Allah, dalam cermin hati yang bersih dan berkilauan. 17 Membaca zikir atau wirid Asma’ Allah merupakan cara dalam pmbersihan diri untuk mencapai sifat Allah, yakni bersifat dengan sifat-sifatnya yang mulia sehingga dapat mencapai derajat insan Kamil. Adapun seseorang yang akan memasuki Tarekat Qadiriyyah, disamping perlu mempersiapkan pembersihan diri sejak awal, setidaknya dia harus menmepuh dua fase, yaitu: Fase pertama, diawali dan diakhiri dalam satu kali pertemuan. Jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh memakan waktu tidak lebih dari setengah jam. Fase ini memiliki beberapa tahapan, 16 Mulyati and others, h. 44-45. 17 Khatib, h. 171.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Sejarah Perkembangan Tarikat (Muhammad Isrha, dkk.) | 190-199 antara lain: 1. Pertemuan pertama antara murid dan syaikh. Dalam pertemuan ini dilakukan beberapa keharusan, seperti perjanjian, taubat, permohonan ampun kepada Allah, taat, dan zikir. 2. Wasiat, berupa pesan-pesan syaikh kepada sang murid untuk diamalkan. Pesan-pesan tersebut antara lain, menaggung derita, pemaaf, tidak menyakiti saudara, bersungguh-sungguh mengekang hawa nafsu, menghindari kedengkian, iri hati, dusta dan perbuatanperbuatan keji lainnya. Memelihara wudhu, beristighfar, dan mengucapkan shalawat Nabi. 3. Baiat, yang berarti sang murid diterima memasuki ajaran tarekat. Pada saat ini syaikh mengatakan: “aku telah menerimamu sebagai murid, aku telah membaiatmu atas penerimaan ini”. 4. Doa dari syaikh yang dibacakan dihadapan sang murid. Doa tersebut mempunyai dua corak, yaitu corak umum dan khusus. 5. Segala minuman untuk sang murid oleh syaikh dengan dibacakan penggalan ayat al-Qur’an. Kemudian syekh membaca surat al-Fatihah dan al-ikhlas tiga kali, lalu syaikh memberikan gelas yang berisikan minuman tadi untuk diminum sang murid. Setelah selesai fase pertama ini, sang murid telah resmi menjadi anggota dan berkewajiban mengikuti ajaran syaikh yang telah mengambil sumpah darinya. Fase kedua, sang murid memasuki tahapan perjalanan menuju Allah dengan bantuan syaikh untuk membimbingnya dan menyertainya selama proses perjalanan. Fase ini dapat memakan waktu bertahun-tahun. Hal itu akan berakhir ketika sang murid telah nyata-nyata mandiri dari bantuan gurunya, ia akan dianugrahi “ijazah” sebagai bukti keluhuran jiwanya. Pada saat itulah ia diakui dan sah menjadi bagian dari para syaikh. Dan syaikh akan menutup penganugrahan tersebut dengan membaca doa.26 Proses Penyebaran dan Derivasi Tarekat Qadiriyah Proses masuknya Tarekat Qadiriyah ke Indonesia dikisahkan lewat penyair besar Hamzah Fansuri. Ia mendapatkan khilafat (ijazah untuk mengajar) ilmu syaikh ‘Abd al-Qadir ketika bermukim di ayuthia, ibu kota Muangthai (orang persia dan India menamakannya, dalam bahasa Persi, Syahr-i Naw, “Kota Baru”). Hal itu dapat dibuktikan adanya bait yang bebrunyi: Hamzah nin asalnya Fansuri Mendapat wujud di tanah Syahr Nawi Beroleh Khilafat yang ‘ali Daripada Abdul Qadir Jaelani Namun, ada pendapat lain bahwa Hamzah Fansuri mendapatkan khilafat di baghdad, tetapi yang pasti beliau adalah orang Indonesia pertama yang menganut Tarekat Qadiriyah dan Qadiriyah adalah tarekat eprtama yang disebut dalam sumber-sumber pribumi. Pada waktu itu beliau berziarah ke makan syaikh ‘Abd al-Qadir Jaelani yang terletak di kota Baghdad dan barangkali terjadi pembaiatannya dalam ilu Syaikh ‘Abd Qadir Jaelani. Hal itu bisa dilihat dari syair beriku : Syaikh Al-Fansuri terlalu Ali, Beroleh Khilafat di benua Baghdad Indikasi bahwa tarekat Qadiriyah bertahan di Aceh setelah Hamzah, sekitar tahun 1645, syaikh Yusuf Makassari singgah di ceh dalam perjalananya di Sulawesi ke Makkah dna ia masuk tarekat Qadiriyyah di sana, seperti yang ditulisnya dalam risalah Safinah al-Najat. 18 Namun, sebenarnya pengaruh tarekat Qadiriyah sudah sejak lama di Jawa sebelum Hamzah Fansuri walaupun kita tidak mempunyai informasi yang tepat. Menurut tradisi rakyat daerah Cirebon, Syaikh ‘Abd Qadir Jailani sendiri pernah datang ke Jawa, bahkan orang dapat menunjukkan kuburannya. Dikota-kota besar, seperti Jakarta kita saksikan beberapa pengajian yang selalu menekankan pada ketenangan hati dan bahkan Ustadz Arifin Ilham terkenal dengan zikir bersama, sambil 18 Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren Dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam Di Indonesia (Bandung: Mizan Pustaka, 1999), h. 208.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Sejarah Perkembangan Tarikat (Muhammad Isrha, dkk.) | 190-199 bermuhasabah dan bertaubat atas dosa-dosa yang kita lakukan. Manajmen Qalbu yang dipopulerkan oleh Aa Gym adalah contoh lain dari derasnya keinginan para eksekutif dan pebisnis untuk mendekatkan diri kepada Allah lewat zikir dan shalat malam. Ini semua tentu secara substansial dapat dikaitkan dengan tujuan tarekat, kendati secara formal tidak dapat karena seorang salik harus menjalankan beberapa fase tertentu agar mencapai ma’rifah. Tarekat Qadiriyah ini kemudian dikembangkan oleh Syaikh Ahmad Khatib Sambas menjadi tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah. Setelah Syaikh Ahmad Khatib Sambas belajar beberapa lama di Makkah, dia mulai mengajarkan Tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah secara utuh. Dia tidak mengajarkan kedua tarekat ini secara terpisah, tetapi dalam beberapa hal terdapat perbedaan dan inovasi dalam ajaran Tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah, seperti membayangkan kehadiran guru ketika berdzikir atau boleh melakukan zikir dengan keras atau lembut. Karena itu, tarekat ini dapat dikatakan cabag baru dari tarekat Qadiriyah. Perkembangan tarekat ini ke berbagai daerah kekuasaan Islam di luar Baghdad adalah suatu hal yang wajar. Ini dikarenakan sejak zaman Syekh Abd al-Qadir al-Jailani, sudah ada beberapa muridnya yang mengajarkan metode dan ajaran tasawufnya ke berbagai negeri Islam. Di antaranya ialah: Ali Muhammad al-Haddad di daerah Yaman, Muhammad al-Bata’ihi di daerah Balbek dan di Syiria, dan Muhammad ibn Abd. Shamad menyebarkan ajarannya di Mesir. Demikian juga karena kerja keras dan ketulusan puteraputeri Syekh Abd. Qadir al-Jailani sendiri untuk melanjutkan tarekat ayahandanya, sehingga pada abad 12-13 M, tarekat ini telah tersebar ke berbagai daerah Islam, baik di Barat maupun di Timur. Tarekat Qadiriyah sampai dengan sekarang ini (abad XX), masih merupakan tarekat yang terbesar di dunia Islam, dengan berjuta-juta pengikutnya. Mereka tersebar di berbagai penjuru dunia, seperti Yaman, Mesir, India, Turki, Syiria, dan Afrika. Trimingham juga mencatat, ada 29 jenis tarekat baru yang merupakan modifikasi baru dari Tarekat Qadiriyah (Qadiri Group’s). Ini terjadi karena dalam Tarekat Qadiriyah ada kebebasan bagi para murid yang telah mencapai tingkat mursyid, untuk tidak terikat dengan metode yang diberikan oleh mursyidnya, dan bisa membuat metode riyadat tersendiri. Keduapuluh sembilan jenis tarekat tersebut menyebar ke berbagai belahan dunia Islam, di samping Tarekat Qadiriyah itu sendiri, dan tarekat-tarekat lain yang belum terjangkau dalam penelitian Trimingham, seperti Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Indonesia. Tarekat ini masuk Indonesia sekitar tahun 1870-an. 19 Dalam penyebarannya, tarekat Qodiriyah tidak hanya tersebar di wilayah Baghdad akan tetapi tarekat Qadiriyah tersebar ke berbagai penjuru dunia di antaranya; (1) Makkah, (2) Madinah, (3) Yaman, (4) Tunisia, (5) AlJazair, (6) Libia, (7) Mesir, (8) Syiria, (9) Libanon, (10) Palestina, (11) Senegal, (12) Sudan, (13) Somalia, (14) Turki, (15) Asia Tengah, (16) Cina, (17) Malaysia, (18) Indonesia, dan (19) Yugoslafia. Seperti halnya tarekat di Timur Tengah, sejarah Tarekat Qodiriyah di Indonesia juga berasal dari Makkah alMusyarrafah. Tarekat Qodiriyah menyebar ke Indonesia pada abad ke-16 M, khususnya di seluruh Jawa. Tarekat ini mengalami perkembangan pesat pada abad ke19 M, terutama ketika menghadapi penjajahan Belanda. Sebagaimana diakui oleh Annemerie Schimmel dalam bukunya Mystical Dimensions of Islam yang menyebutkan bahwa tarekat bisa digalang untuk menyusun kekuatan untuk menandingi kekuatan lain. Sementara itu organisasi agama yang tidak bisa dilepaskan dari Tarekat Qodiriyah adalah organisasi terbesar Islam di Indonesia, Nahdlaltul Ulama (NU) yang berdiri di Surabaya pada tahun 1926. Bahkan tarekat yang dikenal sebagai Tarekat Qadariyah wa Naqsabandiyah sudah menjadi organisasi resmi di Indonesia. 20 SIMPULAN Tarekat Qadiriyah terbentuk dengan mengadopsi nama pendirinya, Syaikh Abd al-Qadir al19 J. Spencer Trimingham, The Sufi Orders in Islam (Oxford: The Clarendon Press, 1971), h. 271-273. 20 Zainuddin and Tuwah, h. 32-33.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Sejarah Perkembangan Tarikat (Muhammad Isrha, dkk.) | 190-199 Jilani yang merupakan sufi besar yang memiliki garis keturunan langsung dari nabi. Selama masa hidupnya, Syaikh Abd al-Qadir mengalami beragam situasi dan kondisi sosial-politik yang beragam. Salah satu keprihatinan yang muncul dalam benak Syaikh Abd al-Qadir adalah keadaan para penguasa di masanya yang begitu mementingkan kehidupan dunia dengan kekuasaan dan kemewahan yang mengelilingi. Kesan ini kemudian menjadikan Syaikh Abd al-Qadir menyeru ke jalan yang satu, yaitu memegang erat tauhid. Maka dalam kaitan inilah al-Jailani sangat lantang menyeru kepada pemurnian tauhid dan menganggap remeh selain Allah. Ia pun secara tegas mengkritik para pembesar kerajaan, termasuk orang-orang yang menumpuk harta dengan jalan yang ilegal, koruptor dan menuding kelemahan-kelemahannya. Tarekat Qadiriyah muncul sebagai reaksi terhadap kejanggalan realitas sosial dimasa tersebut. Secara historis, tarekat ini kemudian terus berkembang sampai menjadi salah satu gerakan keagamaan terbesar yang mengiringi tumbuhnya budaya Islam ditengah-tengah masyarakat. Syaikh Abd al-Qadir al -Jilani berpendapat bahwa kehidupan yang mulia adalah dengan mengabdikan diri kepada Tuhan semata,. Eksistensi yang sadar Tuhan akan memberikan kekuatan spiritual yang mengalihkan dari kesenangan hidup menuju kebahagiaan spiritual. Dalam upayanya menekankan pensucian diri dari nafsu dunia, Syaikh Abd al-Qadir al-Jilani beberapa petunjuk untuk mencapai kesucian diri yang tertinggi, yaitu dengan melakukan 7 prinsip: taubat, zuhud, tawakkal, syukur, sabar, ridha, dan jujur. Sementara secara praktis, poin terpenting dalam ajarah tarekat Qadiriyah adalah zikirnya. Zikir adalah kunci dan sekaligus menempati posisi yang amat penting dalm tradisi tarekat, termasuk tarekat Qadiriyah karena zikir bagaikan anak kunci yang mampu membuka pintu gerbang dunia spiritual yang tidak terbatas. Apabila pintu hati telah terbuka, muncullah dari dalamnya pikiran-pikiran yang arif untuk membuka mata hati. Katika mata hati telah terbuka, maka tampaklah sifat-sifat Allah melalui mata hati itu. Kemudian mata hati akan melihat refleksi (bayangan) kasih sayang, kelembutan, keindahan, dan kebaikan Allah, dalam cermin hati yang bersih dan berkilauan. Membaca zikir atau wirid Asma’ Allah merupakan cara dalam pmbersihan diri untuk mencapai sifat Allah, yakni bersifat dengan sifatsifatnya yang mulia sehingga dapat mencapai derajat insan Kamil. Tarekat Qadiriyah sampai dengan sekarang ini, masih merupakan tarekat yang terbesar di dunia Islam, dengan berjuta-juta pengikutnya. Mereka tersebar di berbagai penjuru dunia, seperti Yaman, Mesir, India, Turki, Syiria, dan Afrika. Trimingham juga mencatat, ada 29 jenis tarekat baru yang merupakan modifikasi baru dari Tarekat Qadiriyah (Qadiri Group’s). Ini terjadi karena dalam Tarekat Qadiriyah ada kebebasan bagi para murid yang telah mencapai tingkat mursyid, untuk tidak terikat dengan metode yang diberikan oleh mursyidnya, dan bisa membuat metode riyadat tersendiri. Keduapuluh sembilan jenis tarekat tersebut menyebar ke berbagai belahan dunia Islam, di samping Tarekat Qadiriyah itu sendiri, dan tarekat-tarekat lain yang belum terjangkau dalam penelitian REFERENSI Al-Jailani, Syaikh Abdul Qadir, Futuh Al-Ghaib, ed. by Syamsu Baharuddin and Ilyas Hasan (Bandung: Penerbit Mizan, 1985) Aqib, Kharisudin, Al-Hikmah:Memahami Teosofi Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah (Surabaya: Bina Ilmu) Bruinessen, Martin van, Kitab Kuning, Pesantren Dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam Di Indonesia (Bandung: Mizan Pustaka, 1999) Khatib, Abdul Majid, Rahasia Sufi Syaikh Abd Al-Qadir Al-Jilani (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2003) Ma’ruf, Muh. Saiful, ‘Tasawuf Amali Qodiriyah (Syaikh Abd.Qadir Al-Jailani)’, Journal Multicultural of Islamic Education, 2.1 (2018), 39–50 Mashar, Aly, Tarekat & Aliran Kebatinan (Surakarta: SPI FAB UIN Raden Mas Said Surakarta, 2021) Mulyati, Sri, Amsal Bakhtiar, Moh Ardani, Wiwi Siti Sajaroh, Musyrifah Sumanto, Oman Faturrahman, and others, Mengenal Dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah Di Indonesia (Jakarta: