scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Dinamika Sistem Moneter Internasional dan Dampaknya Terhadap Stabilitas Ekonomi Global

Faiz Afifi, Ahmad Radid Lingga, Muhammad Arfan

Full text

2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Dinamika Sistem Moneter (Faiz Afifi, at.,al) | 493-499 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 11, December 2025, P. 493-499 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18000614 Dinamika Sistem Moneter Internasional dan Dampaknya Terhadap Stabilitas Ekonomi Global The Dynamics of the International Monetary System and Its Impact on Global Economic Stability Faiz Afifi1, Ahmad Radid Lingga2, Muhammad Arfan3 123Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Email : faizafifikesog[email protected]m, [email protected]m, [email protected] Abstrak Sistem moneter internasional telah mengalami perubahan signifikan, mulai dari Standar Emas, Bretton Woods, hingga sistem nilai tukar mengambang. Setiap perubahan membawa dampak besar terhadap stabilitas ekonomi global, perdagangan internasional, serta arus modal dunia. Pada era modern, volatilitas nilai tukar menjadi tantangan utama bagi negara-negara berkembang dan maju. Di sisi lain, perspektif ekonomi Islam menawarkan pendekatan berbasis keadilan dan stabilitas moneter melalui instrumen seperti dinar dan dirham, serta larangan riba. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika perkembangan sistem moneter internasional dan implikasinya terhadap stabilitas ekonomi global, serta menilai relevansi pandangan Islam dalam menciptakan sistem moneter yang stabil. Metode penelitian menggunakan studi kepustakaan dari jurnal dan buku terkait. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketidakstabilan moneter global dipengaruhi oleh sistem nilai tukar mengambang, spekulasi, dan kebijakan moneter negara maju. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif terhadap dinamika sistem moneter internasional penting dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang adaptif dan stabil. Kata Kunci: Sistem Moneter Internasional, Nilai Tukar, Stabilitas Ekonomi Global, Bretton Woods Abstract The international monetary system has undergone significant changes, from the Gold Standard and Bretton Woods to the floating exchange rate system. Each change has had a major impact on global economic stability, international trade, and the flow of world capital. In the modern era, exchange rate volatility has become a primary challenge for both developing and developed countries. On the other hand, the Islamic economic perspective offers an approach based on justice and monetary stability through instruments such as the dinar and dirham, as well as the prohibition of interest (riba). This study aims to analyze the dynamics of the development of the international monetary system and its implications for global economic stability, as well as to assess the relevance of Islamic views in creating a stable monetary system. The research method uses a literature review of related journals and books. The analysis shows that global monetary instability is influenced by the floating exchange rate system, speculation, and the monetary policies of developed countries. Therefore, a comprehensive understanding of the dynamics of the international monetary system is essential in formulating adaptive and stable economic policies. Keywords: International Monetary System, Exchange Rates, Global Economic Stability, Bretton Woods Article Info Received date: 25 November 2025 Revised date: 30 November 2025 Accepted date: 18 December 2025 PENDAHULUAN Sistem moneter internasional merupakan fondasi yang mengatur hubungan keuangan antarnegara, termasuk mekanisme pembayaran, nilai tukar, serta aliran modal global. Sejarah menunjukkan bahwa perubahan sistem moneter internasional dipengaruhi oleh kondisi politik, krisis ekonomi, dan perkembangan institusi global. Dimulai dari Standar Emas yang menawarkan stabilitas nilai tukar, sistem ini runtuh akibat Perang Dunia I dan ketidakseimbangan ekonomi global (Az Zahra et al., 2024). Selanjutnya, Bretton Woods menciptakan era stabil dengan kurs tetap, namun berakhir pada 1973 akibat tekanan ekonomi dan defisit AS (Enjeli, 2025). Sejak penerapan sistem nilai tukar mengambang, volatilitas kurs menjadi tantangan utama bagi stabilitas ekonomi global (Widiana et al., 2024). Negara-negara harus menyesuaikan kebijakan moneternya untuk menghadapi spekulasi pasar, perubahan suku bunga global, dan ketidakstabilan 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Dinamika Sistem Moneter (Faiz Afifi, at.,al) | 493-499 perdagangan. Perspektif Islam terhadap moneter menunjukkan alternatif sistem berbasis nilai intrinsik seperti dinar dan dirham, yang berpotensi memberikan stabilitas jangka panjang (Harahap et al., 2022). Perubahan sistem moneter internasional yang terjadi dari waktu ke waktu menunjukkan perlunya kajian mendalam mengenai dinamika yang melatarbelakanginya serta dampaknya terhadap stabilitas ekonomi global. Selain itu, ketergantungan terhadap kebijakan moneter negara maju menimbulkan tantangan baru bagi negara berkembang seperti Indonesia, sehingga analisis komprehensif menjadi sangat penting (Falah & Hardianto, 2025). Berdasarkan paparan tersebut, penelitian ini memiliki beberapa rumusan masalah, yaitu: (1) Bagaimana perkembangan sistem moneter internasional dari Standar Emas hingga sistem nilai tukar mengambang? (2) Apa dampak perubahan sistem moneter internasional terhadap stabilitas ekonomi global? (3) Bagaimana pengaruh kebijakan moneter negara maju terhadap negara berkembang? (4) Apa peran IMF dalam menjaga stabilitas moneter global? dan (5) Sejauh mana perspektif ekonomi Islam dapat menjadi alternatif dalam menciptakan sistem moneter yang stabil? Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis evolusi sistem moneter internasional; (2) mengidentifikasi dampak perubahan sistem moneter terhadap stabilitas ekonomi global; (3) mengevaluasi pengaruh kebijakan moneter negara maju terhadap negara berkembang; (4) menelaah peran IMF dalam sistem moneter internasional; dan (5) menilai relevansi konsep moneter dalam ekonomi Islam sebagai alternatif sistem moneter global. Penelitian ini dibatasi pada kajian literatur tanpa menggunakan data empiris kuantitatif. Fokus pembahasan mencakup tiga sistem moneter utama, yaitu Standar Emas, Bretton Woods, dan sistem nilai tukar mengambang. Dampak kebijakan moneter negara maju dibahas pada aspek umum seperti suku bunga dan arus modal global. Sementara itu, perspektif ekonomi Islam dibatasi pada pembahasan dinardirham dan larangan riba. Literatur yang digunakan diprioritaskan dari sumber akademik terbaru untuk menjaga relevansi analisis. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan menelaah berbagai sumber ilmiah seperti jurnal nasional maupun internasional, artikel penelitian empiris, serta publikasi institusi global yang relevan dengan dinamika sistem moneter internasional dan perspektif ekonomi Islam. Pendekatan ini dipilih karena topik yang dikaji bersifat historis-teoritis sehingga membutuhkan penelusuran literatur mendalam untuk memahami evolusi sistem moneter dari Standar Emas, Bretton Woods, hingga sistem nilai tukar mengambang (Az Zahra et al., 2024). Proses pengumpulan data dilakukan melalui identifikasi dan seleksi literatur menggunakan kata kunci terkait seperti gold standard, Bretton Woods, floating exchange rate, dan global monetary stability. Literatur yang diperoleh kemudian dibaca secara kritis untuk menemukan kesesuaian tema, akurasi informasi, serta kualitas akademiknya. Data dianalisis menggunakan pendekatan deskriptifkualitatif,4 yaitu dengan mendeskripsikan, membandingkan, dan mensintesis informasi dari berbagai sumber untuk memperoleh pemahaman komprehensif tentang dinamika sistem moneter global dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dunia (Ryabukhin et al., 2024). Validitas informasi dijaga melalui triangulasi sumber, pengecekan ulang antar-literatur, serta pemilihan referensi yang kredibel dan terbaru. Pendekatan ini memungkinkan penelitian menghasilkan analisis yang mendalam mengenai karakteristik, perkembangan, dan implikasi sistem moneter internasional dalam konteks ekonomi global maupun perspektif Islam. HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Sistem Moneter Internasional dan Tantangannya a. Dampak Standar Emas terhadap Stabilitas Global 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Dinamika Sistem Moneter (Faiz Afifi, at.,al) | 493-499 Pada masa berlakunya Standar Emas, stabilitas moneter global relatif terjaga karena nilai mata uang setiap negara ditetapkan berdasarkan jumlah emas yang dimilikinya. Sistem ini menciptakan kepercayaan internasional yang kuat karena seluruh mata uang memiliki nilai intrinsik berbasis logam mulia, sehingga transaksi antarnegara berlangsung tanpa kekhawatiran terhadap fluktuasi kurs yang signifikan (Az Zahra et al., 2024). Keunggulan utama Standar Emas ialah kepastian nilai, rendahnya inflasi, dan minimnya aktivitas spekulatif karena pasokan uang tidak dapat diperluas oleh pemerintah secara mudah. Namun, rigiditas sistem ini membuat negara sulit menyesuaikan kebijakan fiskal dan moneter ketika terjadi tekanan ekonomi atau krisis global. Kondisi ini terlihat pada masa Depresi Besar ketika negara-negara tidak mampu melakukan ekspansi moneter karena terikat pada cadangan emas (Az Zahra et al., 2024). Dengan demikian, meskipun Standar Emas menawarkan stabilitas, sistem ini dinilai tidak cukup fleksibel dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang semakin kompleks. b. Bretton Woods dan Masa Keemasan Ekonomi Dunia Sistem Bretton Woods yang dibentuk pada 1944 menetapkan kurs tetap terhadap dolar AS, sementara dolar dijamin dapat ditukar dengan emas oleh pemerintah Amerika Serikat. Kebijakan ini menciptakan stabilitas moneter global, mengurangi ketidakpastian nilai tukar, serta mendorong pertumbuhan perdagangan internasional secara signifikan (Enjeli, 2025). Periode Bretton Woods sering disebut sebagai Golden Age of Capitalism karena tingginya pertumbuhan ekonomi global, meningkatnya arus perdagangan, serta berkurangnya spekulasi mata uang. Kelembagaan internasional seperti IMF juga memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan mendukung pemulihan ekonomi pascaperang (Kongidah et al., 2024). Namun, meningkatnya permintaan dolar di dunia tidak sebanding dengan cadangan emas Amerika Serikat. Ketidakseimbangan ini memunculkan krisis kepercayaan dan menyebabkan runtuhnya sistem tersebut ketika AS menghentikan konversi dolar terhadap emas pada 1971, yang dikenal sebagai Nixon Shock (Enjeli, 2025). c. Sistem Nilai Tukar Mengambang dan Volatilitas Global Setelah runtuhnya era Bretton Woods, dunia beralih ke sistem nilai tukar mengambang, di mana nilai mata uang ditentukan oleh mekanisme pasar bebas. Sistem ini memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi negara dalam melaksanakan kebijakan moneternya, namun menghadirkan tantangan baru berupa volatilitas nilai tukar yang tinggi akibat spekulasi pasar, perubahan suku bunga, serta pergeseran arus modal internasional (Widiana et al., 2024). Negara berkembang seperti Indonesia sangat rentan terhadap gejolak ini. Krisis finansial Asia tahun 1997 menunjukkan betapa cepatnya nilai tukar dapat melemah akibat tekanan pasar dan spekulasi besar-besaran. Rupiah mengalami depresiasi ekstrem, memicu inflasi tinggi dan instabilitas ekonomi nasional (Muhammad et al., 2024). Selain itu, dominasi kebijakan moneter negara maju, terutama Amerika Serikat, semakin memperkuat volatilitas global. Perubahan suku bunga The Federal Reserve sering memicu aliran modal keluar dari negara berkembang, sehingga menciptakan ketidakstabilan nilai tukar dan tekanan ekonomi yang signifikan (Rafique et al., 2021). Selain tekanan eksternal tersebut, efektivitas kebijakan moneter domestik juga sangat dipengaruhi oleh struktur portofolio kredit perbankan. Dang & Nguyen (2022) menemukan bahwa transmisi kebijakan moneter akan bekerja lebih kuat apabila kredit perbankan terkonsentrasi pada sektor-sektor yang sensitif terhadap perubahan suku bunga, seperti industri manufaktur dan konstruksi. Sebaliknya, apabila kredit lebih banyak mengalir ke sektor yang kurang responsif terhadap suku bunga, maka dampak kebijakan moneter menjadi lebih lemah. Temuan ini menunjukkan bahwa kerentanan negara berkembang terhadap gejolak moneter global tidak hanya ditentukan oleh volatilitas nilai tukar 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Dinamika Sistem Moneter (Faiz Afifi, at.,al) | 493-499 atau kebijakan suku bunga negara maju, tetapi juga oleh struktur keuangan domestik yang menentukan kuat-lemahnya transmisi moneter (Dang & Nguyen, 2022). Dampak Sistem Moneter Internasional terhadap Stabilitas Ekonomi Global a. Volatilitas Nilai Tukar Volatilitas nilai tukar merupakan salah satu dampak paling signifikan dari perubahan sistem moneter internasional, terutama setelah diterapkannya sistem nilai tukar mengambang. Nilai kurs yang ditentukan oleh mekanisme pasar membuat pergerakan mata uang menjadi sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga, spekulasi, arus modal, maupun sentimen global (Widiana et al., 2024). Ketidakstabilan nilai tukar ini berdampak langsung pada perdagangan internasional karena pelaku usaha sulit memperkirakan biaya transaksi dan margin keuntungan. Bagi negara berkembang, volatilitas kurs dapat memicu meningkatnya beban utang luar negeri karena pelemahan mata uang domestik berdampak pada naiknya biaya pembayaran utang berdenominasi dolar. Situasi ini pernah terjadi pada Indonesia saat krisis Asia 1997, ketika rupiah mengalami depresiasi tajam dan menyebabkan instabilitas ekonomi nasional (Muhammad et al., 2024). Dengan demikian, tingginya volatilitas nilai tukar menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga stabilitas ekonomi global. Volatilitas nilai tukar juga memengaruhi stabilitas sektor keuangan domestik. Ketika kurs berfluktuasi tajam, bank dan lembaga keuangan menghadapi risiko nilai tukar yang lebih tinggi, terutama jika mereka memiliki eksposur besar terhadap pinjaman luar negeri. Perubahan kurs yang drastis dapat menurunkan kualitas aset dan meningkatkan risiko kredit macet, sehingga memperlemah sistem keuangan secara keseluruhan (Widiana et al., 2024). Selain itu, volatilitas kurs dapat mengganggu stabilitas harga domestik. Depresiasi nilai tukar biasanya mendorong kenaikan harga barang impor, yang kemudian memicu inflasi. Kondisi ini menyulitkan otoritas moneter karena kebijakan stabilisasi seperti kenaikan suku bunga justru dapat menekan pertumbuhan ekonomi (Muhammad et al., 2024). b. Pengaruh Kebijakan Moneter Negara Maju Kebijakan moneter negara maju seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi global. Hal ini terjadi karena dolar AS menjadi mata uang cadangan dunia, sehingga setiap perubahan kebijakan The Federal Reserve akan berdampak pada arus modal internasional. Kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, misalnya, sering memicu capital outflow dari negara berkembang menuju pasar keuangan AS yang dianggap lebih aman (Rafique et al., 2021). Arus modal yang keluar dapat melemahkan nilai tukar mata uang negara berkembang dan menimbulkan tekanan terhadap stabilitas sistem keuangan. Di sisi lain, kebijakan pelonggaran moneter atau quantitative easing negara maju sering menyebabkan limpahan likuiditas global yang mendorong investasi spekulatif ke negara berkembang, namun aliran dana ini sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan mendadak (Lee & Karim, 2025). Ketergantungan ekonomi global terhadap kebijakan moneter negara maju menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi dunia sangat rentan terhadap dinamika kebijakan mereka (Kongidah et al., 2024). Pengaruh kebijakan moneter negara maju juga tercermin dari fenomena global shock. Ketika The Federal Reserve menerapkan kebijakan pengetatan, banyak negara berkembang mengalami depresiasi mata uang, peningkatan inflasi impor, serta penurunan arus investasi asing. Dampak yang meluas ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter negara maju memiliki karakteristik spillover yang kuat terhadap perekonomian negara lain (Rafique et al., 2021). Dominasi dolar juga menciptakan ketergantungan struktural. Negara berkembang sangat bergantung pada dolar untuk perdagangan internasional dan pembayaran utang luar negeri, sehingga 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Dinamika Sistem Moneter (Faiz Afifi, at.,al) | 493-499 rentan terhadap perubahan kebijakan suku bunga AS. Ketergantungan ini memperbesar asimetri antara negara maju dan negara berkembang dalam sistem moneter global (Kongidah et al., 2024). c. Peran IMF dalam Menjaga Stabilitas IMF berperan sebagai lembaga internasional yang memberikan bantuan keuangan kepada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi melalui pendanaan darurat dan program pemulihan makroekonomi. Selama berbagai krisis global, IMF menjadi pihak yang menyediakan pinjaman untuk menstabilkan nilai tukar, memperbaiki neraca pembayaran, dan membantu negara kembali ke jalur pertumbuhan (Putri et al., 2025). Namun, intervensi IMF sering dikritik karena persyaratan pinjaman yang dinilai terlalu berat. Kebijakan pengetatan, deregulasi, hingga privatisasi yang didorong oleh IMF dianggap memperburuk kondisi sosial-ekonomi negara penerima bantuan, terutama negara berkembang. Kritik ini tampak pada kasus Indonesia tahun 1997 dan beberapa negara Amerika Latin yang merasa program IMF tidak selalu sesuai dengan kebutuhan domestik (Harahap et al., 2022). Meskipun demikian, IMF tetap memiliki peran penting sebagai penopang stabilitas moneter global melalui koordinasi kebijakan dan penyediaan dukungan keuangan darurat (Kongidah et al., 2024). Selain kritik yang muncul, IMF juga dinilai berperan dalam mendorong reformasi struktural di sektor keuangan dan fiskal. Program-program IMF mengharuskan negara melakukan penguatan regulasi keuangan, peningkatan transparansi fiskal, serta perbaikan tata kelola yang pada jangka panjang dapat memperkuat ketahanan ekonomi (Putri et al., 2025). Walaupun demikian, efektivitas kebijakan IMF sangat bergantung pada kondisi sosial-ekonomi suatu negara. Pendekatan kebijakan yang seragam sering kali tidak cocok bagi negara dengan karakteristik ekonomi berbeda, sehingga dapat memperburuk krisis. Oleh karena itu, IMF perlu mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan domestik (Harahap et al., 2022). Perspektif Islam sebagai Alternatif Sistem Moneter Global a. Stabilitas Nilai dengan Dinar dan Dirham Ekonomi Islam menawarkan konsep moneter yang berbasis pada nilai intrinsik melalui penggunaan dinar dan dirham. Sistem ini dianggap mampu memberikan stabilitas nilai karena pasokan uang berbasis emas dan perak tidak dapat diperluas secara berlebihan. Penggunaan uang berbasis logam mulia mampu mengurangi inflasi, spekulasi, dan volatilitas nilai tukar yang terjadi pada sistem moneter modern berbasis uang fiat (Harahap et al., 2022). Pendekatan ini juga mengedepankan transparansi serta keadilan dalam transaksi sehingga dapat menciptakan stabilitas ekonomi secara lebih berkelanjutan. Sistem dinar dan dirham juga berpotensi mengurangi ketergantungan negara berkembang terhadap dolar dalam transaksi internasional. Dengan nilai yang stabil dan berbasis komoditas, dinar-dirham dapat memberikan alternatif sistem pembayaran global yang lebih adil dan tidak bergantung pada kebijakan moneter negara tertentu (Harahap et al., 2022). b. Penghapusan Riba sebagai Penguatan Stabilitas Larangan riba menjadi salah satu pilar utama dalam sistem moneter Islam. Riba dianggap dapat menimbulkan ketidakadilan dan ketidakseimbangan ekonomi karena mendorong pertumbuhan ekonomi yang tidak berbasis sektor riil. Dengan menghapus riba, ekonomi Islam mendorong sistem keuangan yang lebih stabil, mengutamakan transaksi produktif, dan menekan potensi krisis berbasis gelembung finansial (Meydina et al., 2024). Dengan demikian, perspektif moneter Islam menawarkan alternatif sistem moneter global yang lebih stabil, adil, dan berkelanjutan. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Dinamika Sistem Moneter (Faiz Afifi, at.,al) | 493-499 Selain menciptakan stabilitas, penghapusan riba juga mendorong distribusi pendapatan yang lebih merata. Sistem ekonomi berbasis kemitraan seperti mudharabah dan musyarakah mendorong pembagian risiko dan keuntungan secara lebih adil, sehingga memperkuat ketahanan ekonomi pada tingkat mikro maupun makro (Meydina et al., 2024). SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika sistem moneter internasional memiliki pengaruh yang signifikan terhadap stabilitas ekonomi global. Pergeseran dari Standar Emas ke Bretton Woods, dan kemudian ke sistem nilai tukar mengambang, mencerminkan perubahan struktur ekonomi dunia yang semakin kompleks. Meskipun Standar Emas dan Bretton Woods mampu memberikan stabilitas nilai tukar, keduanya tidak mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi global yang terus berkembang. Sementara itu, sistem nilai tukar mengambang memberikan fleksibilitas, namun menghadirkan risiko volatilitas yang tinggi terhadap nilai tukar, arus modal, serta stabilitas sektor keuangan, terutama di negara berkembang. Studi ini juga menemukan bahwa kebijakan moneter negara maju, terutama Amerika Serikat, memiliki efek spillover yang kuat terhadap perekonomian global. Perubahan suku bunga The Federal Reserve dapat memicu keluarnya arus modal dari negara berkembang, melemahkan nilai tukar, mendorong inflasi, dan menimbulkan instabilitas ekonomi. Dominasi dolar sebagai mata uang cadangan dunia semakin memperbesar ketergantungan struktural negara berkembang terhadap kebijakan moneter negara maju. Peran IMF dalam menjaga stabilitas global menunjukkan kontribusi yang penting melalui bantuan keuangan dan program pemulihan makroekonomi. Namun, kebijakan yang diterapkan IMF kerap menimbulkan kritik karena dianggap kurang sesuai dengan kondisi domestik negara penerima dan berpotensi memperburuk dampak sosial-ekonomi. Efektivitas IMF bergantung pada adaptasi kebijakan yang lebih fleksibel dan kontekstual. Dalam perspektif ekonomi Islam, penggunaan dinar dan dirham serta penghapusan riba menawarkan alternatif sistem moneter yang lebih stabil dan berkeadilan. Nilai instrinsik logam mulia dan prinsip transaksi riil dalam ekonomi Islam diyakini dapat mengurangi spekulasi, mengendalikan inflasi, dan menjaga stabilitas nilai mata uang. Konsep ini memberikan wawasan penting mengenai kemungkinan penerapan sistem moneter yang lebih berorientasi pada keseimbangan ekonomi dan keadilan distributif. Secara keseluruhan, pemahaman mendalam mengenai dinamika sistem moneter internasional diperlukan untuk merumuskan kebijakan ekonomi yang adaptif dan responsif. Negara berkembang harus memperkuat ketahanan moneter domestik melalui kebijakan yang lebih terukur, pengelolaan risiko nilai tukar, serta kerangka regulasi yang kuat. Integrasi perspektif konvensional dan ekonomi Islam juga dapat memberikan kontribusi penting dalam membangun sistem moneter global yang lebih stabil, inklusif, dan berkelanjutan. REFERENSI Az Zahra, F. R., Masruroh, I., Rohmah, K. N., & Sarpini, S. (2024, December). Evolusi sistem moneter internasional era standar emas, Bretton Woods hingga sistem nilai tukar mengambang. Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Manajemen, 2(12). https://doi.org/10.61722/jiem.v2i12.3338 Dang, V. D., & Nguyen, H. C. (2022, April 26). Does sectoral loan portfolio composition matter for the monetary policy transmission? Economic Journal of Emerging Markets, 14(1). https://doi.org/10.20885/ejem.vol14.iss1.art3 Enjeli, R. (2025, June). Perkembangan sistem moneter internasional dari standar emas ke Bretton Woods hingga era nilai tukar mengambang. Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Manajemen, 3(6). https://doi.org/10.61722/jiem.v3i6.5039 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Dinamika Sistem Moneter (Faiz Afifi, at.,al) | 493-499 Falah, Z., & Hardianto, F. (2025). The impact of global interest rate policy on exchange rate stability in developing countries: A case study of Indonesia. https://doi.org/10.64910/ecmont.v1i1.2 Harahap, N. H., Nurtivanny, F., Siregar, M. L. P., Kamil, M. R., & Tambunan, K. (2022). Penerapan dinar dan dirham sebagai alternatif standar moneter internasional: Sebuah tinjauan literatur. Digital Bisnis: Jurnal Publikasi Ilmu Manajemen dan E-Commerce, 1(3). https://doi.org/10.30640/digital.v1i3.511 Kongidah, L., Zakiah, R. A., & Sarpini. (2024). Analisis dinamika dan tantangan perkembangan sistem moneter internasional pada ekonomi global. Jurnal Akademik Ekonomi dan Manajemen, 1(4). https://doi.org/10.61722/jaem.v1i4.3325 Lee, K. S., & Karim, Z. A. (2025, October 28). Monetary policy and sectoral stock market in Malaysia. Economic Journal of Emerging Markets, 17(2). https://doi.org/10.20885/ejem.vol17.iss2.art4 Meydina, S., Sya’bani, A., & Maulida, N. A. (2024, January). Efektivitas pada kebijakan sistem moneter di dalam Islam. Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Manajemen, 2(1). https://doi.org/10.61722/jiem.v2i1.857 Muhammad, M., Baita, A. J., & Ansari, S. (2024, June). Understanding the dynamic linkages: Inflation, real balances, and their impact on economic growth in ECOWAS. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 22(1), 65–76. https://doi.org/10.29259/jep.v22i1.23106 Putri, D. N., Manurung, C. M., Putri, A., Alnaya, D., & Sanggam, D. (2025, March). Analisis kebijakan moneter dalam mengatasi krisis ekonomi global. MANTAP: Journal of Management Accounting, Tax and Production, 3(1). https://doi.org/10.57235/mantap.v3i1.4759 Rafique, A., Quddoos, M. U., Ali, S., Aslam, F., & Ahmad, M. (2021, April 1). Monetary policy transmission: Balance sheet channel and investment behavior of firms in Pakistan. Economic Journal of Emerging Markets, 14(1). https://doi.org/10.20885/ejem.vol14.iss1.art3 Ryabukhin, S. N., Minchenkov, M. A., Proskunov, S. S., Vodianova, V. V., & Zapletin, M. P. (2024). Politicization of the international monetary-financial system. Èkonomika i Upravlenie: Problemy, Rešeniâ. https://doi.org/10.36871/ek.up.p.r.2024.10.04.009 Widiana, A., Sitepu, F. E. B., Natasya, N., Nur’ain, S. J., & Sakuntala, D. (2024). Dinamika ekonomi moneter internasional dalam perdagangan global. Jurnal Manajemen Ekonomi dan Bisnis, 3(2). https://doi.org/10.61715/jmeb.v3i2.98