scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Analisis Konseptual Society Action Research dalam Pemberdayaan dan Kemandirian Sosial Masyarakat

Rifqi Ardiyanti, Sania Setiya, Siska Nirmala, Prisiani Putri, Wahyu Rohmah

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Issue 5, December 2025, P. 426-432 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18014382 *Corresponding Author Email: [email protected] Analisis Konseptual Society Action Research dalam Pemberdayaan dan Kemandirian Sosial Masyarakat A Conceptual Analysis of Society Action Research in Community Empowerment and Social Independence Rifqi Dia Finti Ardiyanti1, Siska Nirmala2, Sania Putri Setiya3, Prisiani Megantara Putri4, Wahyu Isnatur Rohmah5 12345 Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Agama Islam, Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban, Indonesia A B S T R A C Society Action Research (SAR) is an empowerment approach based on collaborative research that places citizens as the main actors in the process of social change. This paper aims to explore the function of SAR as an innovation model for community empowerment, particularly in building participation, encouraging involvement in decision making, and achieving social independence. Through theoretical studies and practical experience in various community service programs, SAR has demonstrated a significant contribution in creating a long-term social learning process. This model combines the stages of problem identification, participatory action, joint reflection, and the preparation of solutions according to local needs. The study findings confirm that SAR not only increases community capacity, but also strengthens social networks, a sense of community, and the community’s ability to manage resources independently. Therefore, Society Action Research can be seen as an adaptive and relevant empowerment approach to answer social development challenges. A B S T R A K Society Action Research (SAR) merupakan pendekatan pemberdayaan berbasis riset kolaboratif yang menempatkan warga sebagai pelaku utama dalam proses perubahan sosial. Tulisan ini berupaya menguraikan peran SAR sebagai model inovasi pemberdayaan komunitas, khususnya dalam membangun partisipasi, mendorong keterlibatan dalam pengambilan keputusan, hingga tercapainya kemandirian sosial. Melalui telaah teoritis dan pengalaman praktik di berbagai program pengabdian masyarakat, SAR menunjukkan kontribusi signifikan dalam menciptakan proses pembelajaran sosial jangka panjang. Model ini menggabungkan tahap identifikasi persoalan, tindakan partisipatif, refleksi bersama, serta penyusunan solusi sesuai kebutuhan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SAR tidak hanya berperan dalam peningkatan kapasitas masyarakat, tetapi juga memperkuat jejaring sosial dan rasa solidaritas komunitas dalam mengelola sumber daya secara mandiri. Oleh karena itu, Society Action Research dapat dipandang sebagai pendekatan pemberdayaan yang adaptif dan relevan untuk menjawab tantangan pembangunan sosial. PENDAHULUAN Pemberdayaan komunitas merupakan salah satu upaya penting dalam pembangunan sosial yang bertujuan memperkuat kapasitas anggota masyarakat agar mampu berdiri sendiri. Dalam proses ini, pengakuan terhadap kearifan lokal menjadi krusial sebagai dasar perancangan program pemberdayaan, sehingga masyarakat lebih mudah menerima perubahan. Pemberdayaan komunitas bukan sekadar “memberi ikan”, tetapi lebih pada “mengajari cara memancing”, di mana individu atau kelompok diberi ruang, peluang, dan dukungan untuk meningkatkan kapasitas, pengetahuan, dan keterampilan agar mampu mengelola dan mengatasi masalah di lingkungan sekitarnya secara mandiri (Alim et al., 2022). Sejalan dengan hal ini, pemberdayaan komunitas bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat agar dapat berperan aktif dalam pembangunan yang berfokus pada rakyat A R T I C L E I N F O Article history: Received November 05, 2025 Revised 10 November 2025 Accepted 25 November 2025 Available online 16 December 2025 Keywords Society Action Research, Community Empowerment, Participation, Social Capital, Social Independence. Kata Kunci: Society Action Research, Pemberdayaan Komunitas, Partisipasi, Modal Sosial, Kemandirian Sosial. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 426-432 Socius E-ISSN: 3025-6704 (people-centered development). Pemberdayaan mencakup tidak hanya penyediaan dana, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan penguatan kelembagaan. Secara konseptual, pemberdayaan (empowerment) berkaitan dengan konsep ‘power’ atau kekuasaan, yaitu kemampuan individu atau kelompok untuk menentukan dan mempengaruhi apa yang mereka kehendaki. Dengan pemahaman ini, masyarakat diharapkan dapat mengambil keputusan secara mandiri dan memiliki kontrol atas perubahan yang terjadi di lingkungannya (Arumka, 2025). Untuk mencapai tujuan tersebut, partisipasi aktif masyarakat menjadi faktor kunci. Konsep ini menekankan keterlibatan anggota komunitas dalam pengambilan keputusan, perancangan solusi, hingga pelaksanaan perubahan social (Noviar & Priyanti, 2023). Dalam praktiknya, pemberdayaan dapat mencakup berbagai aspek, seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Contohnya, program pelatihan wirausaha bagi ibu rumah tangga, pertanian organik bagi petani, atau pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Semua upaya ini bertujuan menumbuhkan kesadaran, keterampilan, dan kekuatan dari dalam komunitas itu sendiri (Rahmatullah1 et al., 2025). Namun demikian, pelaksanaan pemberdayaan komunitas tidak selalu berjalan lancar. Kendala internal, seperti resistensi terhadap perubahan, kecurigaan terhadap hal-hal baru, ketergantungan pada pihak eksternal, norma adat yang membatasi inovasi, serta kekakuan budaya lokal, sering menjadi tantangan. Selain itu, kendala eksternal berupa keterbatasan SDM, pendanaan, sarana dan prasarana, serta kapasitas para pemberdaya turut memengaruhi efektivitas program (Ambarsari et al., 2022). Minimnya partisipasi masyarakat, keterbatasan pengetahuan dan keterampilan, serta rendahnya pemahaman tentang manfaat program juga menjadi faktor penghambat keberhasilan pemberdayaan. Untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut, diperlukan pendekatan yang inovatif dan kolaboratif (Kesrasetda, 2019). Society Action Research (SAR) atau Penelitian Tindakan Berbasis Masyarakat hadir sebagai model inovatif yang mengintegrasikan penelitian, pendidikan, dan aksi nyata untuk memberdayakan komunitas secara kolektif. Dalam pendekatan ini, komunitas berperan sebagai mitra sejajar, bukan hanya objek penelitian, sehingga keterlibatan partisipatif menjadi kunci. Anggota komunitas secara aktif ikut mengidentifikasi masalah, menilai situasi, dan menyusun solusi sesuai kebutuhan mereka (Muslimin, 2020). Dengan penerapan SAR, diharapkan partisipasi anggota komunitas meningkat dan tercipta kemandirian sosial yang berkelanjutan. Permasalahan yang sering muncul pada program pemberdayaan tradisional, terutama terkait pendekatan yang digunakan, partisipasi masyarakat, dan keberlanjutan program, menjadi alasan penting dilakukannya penelitian ini. Melalui pendekatan SAR, diharapkan tantangan tersebut dapat diatasi, sehingga komunitas dapat berkembang secara kolaboratif, mandiri, dan berdaya. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Metode ini dipilih karena penelitian difokuskan pada analisis literatur, dokumen, dan hasil-hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan topik Society Action Research (SAR) dan pemberdayaan komunitas, bukan pada pengumpulan data lapangan. Dengan pendekatan ini, peneliti dapat menganalisis konsep, prinsip, dan praktik terbaik dari berbagai sumber untuk merumuskan pemahaman yang komprehensif mengenai peran SAR dalam pemberdayaan masyarakat. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari berbagai literatur akademik, meliputi buku, jurnal ilmiah, laporan penelitian, dokumen resmi program pengabdian masyarakat, serta artikel daring yang kredibel. Pengumpulan data dilakukan melalui telaah pustaka dengan kegiatan Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 426-432 Rifqi., at., al/ Analisis Konseptual Society Action membaca, mencatat, dan mengelompokkan informasi yang relevan dengan rumusan masalah penelitian. Selain itu, penelitian ini memanfaatkan dokumentasi sekunder, seperti laporan program pemberdayaan berbasis SAR, untuk memperkuat analisis. Analisis data diterapkan secara deskriptif-kualitatif, dimulai dengan reduksi data untuk menyeleksi dan merangkum informasi penting, dilanjutkan dengan penyajian data dalam bentuk deskripsi konsep, tahapan SAR, dan praktik pemberdayaan masyarakat. Tahap akhir berupa penarikan kesimpulan melalui interpretasi temuan literatur, guna menegaskan peran SAR sebagai model inovatif dalam pemberdayaan komunitas. Untuk memastikan validitas data, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber, sehingga hasil analisis lebih akurat, terpercaya, dan mencerminkan perspektif yang komprehensif dari literatur yang tersedia. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep dan Landasan Teoretis Society Action Research (SAR) Society Action Research (SAR) merupakan pendekatan penelitian yang memadukan proses ilmiah dengan tindakan sosial yang berorientasi pada perubahan nyata di tingkat komunitas. Dalam pendekatan ini, masyarakat ditempatkan sebagai aktor utama yang terlibat langsung dalam pengambilan keputusan, analisis masalah, serta penyusunan solusi berdasarkan kebutuhan dan potensi lokal mereka. SAR berangkat dari gagasan bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan tidak dapat dicapai melalui model top-down, melainkan melalui keterlibatan aktif masyarakat sebagai subjek yang memahami konteks kehidupannya. Karena itu, SAR tidak hanya menghasilkan data penelitian, tetapi juga menghadirkan proses pemberdayaan yang menumbuhkan kemampuan masyarakat untuk mengelola perubahan secara mandiri (Rahmat & Mirnawati, 2020). Landasan teoretis SAR tidak terlepas dari paradigma Participatory Action Research (PAR). PAR dikembangkan sebagai kritik terhadap penelitian tradisional yang cenderung menjadikan masyarakat sebagai objek pasif. Prinsip PAR menekankan siklus tindakan dan refleksi, di mana peneliti dan masyarakat bekerja secara kolaboratif untuk memahami realitas, menganalisis akar persoalan, kemudian merancang tindakan perbaikan yang relevan. SAR mengadopsi prinsip-prinsip tersebut dengan penekanan lebih besar pada dimensi sosial, kemandirian komunitas, dan penguatan kapasitas lokal. Melalui kolaborasi yang egaliter, masyarakat tidak hanya memberikan informasi, tetapi ikut serta dalam setiap keputusan yang menentukan arah perubahan sosial (Siswadi & Syaifuddin, 2024). Pendekatan SAR juga memiliki dimensi emansipatoris yang kuat. Proses interaksi yang egaliter memungkinkan masyarakat menyadari posisi sosial mereka, memahami hambatan struktural yang membatasi perkembangan, serta membangun kesadaran kritis untuk mengatasinya. Ketika masyarakat memiliki ruang untuk menyuarakan pengalaman dan aspirasinya, terbangunlah rasa percaya diri dan rasa kepemilikan terhadap program yang dijalankan. Dengan demikian, SAR tidak hanya memecahkan masalah, tetapi juga menumbuhkan kapasitas sosial yang memperkuat fondasi perubahan jangka Panjang. Dalam perspektif yang lebih luas, SAR dipandang sebagai rangkaian pembelajaran sosial yang membentuk pola pikir kritis, partisipatif, dan kolaboratif dalam komunitas. Siklus analisis tindakan dan refleksi yang terus berulang memungkinkan masyarakat memperbaiki strategi yang kurang efektif dan memperkuat praktik yang terbukti berhasil. Proses ini menghasilkan pengetahuan berbasis pengalaman yang sangat relevan dengan konteks lokal, menjadikan SAR sebagai pendekatan yang tepat untuk pembangunan sosial berbasis masyarakat (Darwis, 2016). Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 426-432 Socius E-ISSN: 3025-6704 Pemberdayaan Komunitas dan Kemandirian Sosial Pemberdayaan merupakan inti dari pelaksanaan SAR. Pemberdayaan tidak hanya dimaknai sebagai pemberian keterampilan teknis, tetapi juga proses penguatan kapasitas psikologis, sosial, dan struktural masyarakat agar mampu mengelola kehidupan secara lebih mandiri. Dalam perspektif Zimmerman, pemberdayaan adalah proses meningkatnya kontrol individu atau kelompok terhadap keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka, disertai kemampuan untuk mengakses dan mengelola sumber daya secara efektif. Proses ini memungkinkan masyarakat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, mengidentifikasi solusi, serta mengambil tindakan yang relevan untuk mengatasi permasalahan yang mereka hadapi. Melalui pemberdayaan, masyarakat berubah dari penerima manfaat pasif menjadi aktor yang memimpin arah perkembangan komunitasnya (Wilona et al., 2024). Kemandirian sosial merupakan tujuan penting sekaligus indikator keberhasilan pemberdayaan. Individu atau kelompok yang mandiri secara sosial mampu mengambil keputusan sendiri, mengelola relasi sosial dengan sehat, serta tidak bergantung secara berlebihan kepada pihak luar. Dalam konteks penerapan SAR, kemandirian masyarakat dikembangkan melalui proses partisipatif yang memberi mereka kesempatan untuk mempelajari, merencanakan, dan mengevaluasi setiap tindakan yang dilakukan. Keterlibatan aktif dalam seluruh tahapan ini memungkinkan masyarakat untuk menumbuhkan rasa percaya diri serta keterampilan reflektif yang penting dalam mengelola kehidupan sosial secara mandiri (Khoirunnisa et al., 2013). Namun pemberdayaan tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Hambatan internal seperti resistensi terhadap perubahan, rendahnya motivasi, serta sikap ketergantungan yang sudah mengakar dapat mengurangi efektivitas proses pemberdayaan. Sementara hambatan eksternal mencakup keterbatasan pendamping profesional, minimnya dukungan lembaga, serta kurangnya akses terhadap sarana dan sumber daya yang mendukung. Tantangan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan harus dirancang secara kontekstual dengan memperhatikan budaya lokal, kondisi sosial, dan dinamika komunitas agar hasilnya benar-benar berkelanjutan (Margayaningsih, 2018). Meskipun demikian, pemberdayaan melalui SAR terbukti mampu memperkuat modal sosial masyarakat. Nilai-nilai seperti kepercayaan, gotong royong, solidaritas, dan kolaborasi semakin berkembang ketika masyarakat bekerja bersama dalam menyelesaikan masalah nyata. Modal sosial ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan kemandirian sosial yang tidak hanya mengandalkan kompetensi individu, tetapi juga kekuatan kolektif komunitas. Dengan demikian, SAR memberikan peluang besar untuk membangun masyarakat yang mampu berpikir kritis, bertindak mandiri, dan bekerja sama dalam mencapai tujuan Bersama (Rahmatullah et al., 2025). Strategi Penguatan Pemberdayaan melalui Society Action Research (SAR) Proses pemberdayaan dalam Society Action Research (SAR) menuntut strategi yang dirancang secara adaptif sesuai dengan karakteristik sosial dan budaya masyarakat yang terlibat. Karena setiap komunitas memiliki kemampuan, pengalaman, dan kebutuhan yang berbeda, strategi pemberdayaan harus disusun dengan pendekatan yang fleksibel agar mampu menjawab persoalan nyata sekaligus mendorong terbentuknya kemandirian. Dalam pendekatan ini, peneliti dan masyarakat bekerja bersama untuk membangun pola interaksi yang memungkinkan masyarakat menyadari potensi lokal, memahami permasalahan mereka sendiri, dan mengembangkan solusi yang kontekstual. Pendekatan yang peka terhadap konteks sosial akan membuat pemberdayaan berjalan lebih efektif dan berakar kuat dalam komunitas (Annisa, n.d.). Dalam penguatan pemberdayaan berbasis SAR, strategi yang banyak digunakan meliputi pengakuan terhadap potensi lokal, pendampingan berbasis kelompok, pelatihan kompetensi Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 426-432 Rifqi., at., al/ Analisis Konseptual Society Action sesuai kebutuhan masyarakat, penguatan nilai kearifan lokal, serta penyediaan sarana pendukung yang relevan. Pengakuan terhadap potensi lokal sangat penting karena membantu masyarakat melihat bahwa mereka memiliki kekuatan dan kapasitas yang bisa dikembangkan untuk menyelesaikan persoalan sendiri. Ketika potensi tersebut diidentifikasi dan dihargai, rasa percaya diri masyarakat meningkat, dan proses pemberdayaan menjadi lebih bermakna. Pendampingan berbasis kelompok juga berperan penting karena memberikan ruang bagi masyarakat untuk saling belajar, bertukar pengalaman, dan memperkuat solidaritas dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi secara bersama-sama (Edra, 2025). Pelatihan kompetensi yang relevan berperan penting dalam membantu masyarakat memperoleh keterampilan baru yang dapat meningkatkan kapasitas ekonomi dan sosial mereka. Pelatihan tersebut tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menstimulasi kemampuan dalam pengambilan keputusan, kepemimpinan, dan inovasi. Selain itu, nilai-nilai kearifan lokal turut menjadi bagian integral dari strategi pemberdayaan, karena budaya yang hidup di masyarakat berfungsi sebagai sumber legitimasi sekaligus pedoman moral dalam setiap tindakan sosial. Ketika pemberdayaan dilakukan dengan menghormati budaya lokal, masyarakat cenderung lebih menerima dan merasa nyaman dengan perubahan yang terjadi. Penyediaan sarana pendukung, seperti fasilitas pelatihan atau akses informasi, menjadi penunjang penting agar masyarakat dapat menjalankan program pemberdayaan secara mandiri setelah pendampingan berakhir (Tambunan, 2022). Melalui serangkaian strategi tersebut, SAR mampu menciptakan ruang pembelajaran yang berkesinambungan bagi masyarakat. Proses tindakan dan refleksi yang terus berulang memungkinkan setiap program diperbaiki dan disesuaikan dengan perkembangan kondisi sosial. Ketika strategi pemberdayaan dijalankan secara kolaboratif dan berbasis kebutuhan riil, proses ini menjadi lebih efektif dalam memperkuat kapasitas lokal dan membangun masyarakat yang mandiri. Tantangan dan Implikasi Implementasi Society Action Research (SAR) Implementasi SAR di lapangan sering kali menghadapi tantangan yang beragam dan kompleks. Salah satu tantangan utama adalah rendahnya tingkat partisipasi masyarakat. Sebagian masyarakat enggan terlibat dalam kegiatan sosial karena keterbatasan waktu, kurangnya pemahaman tentang manfaat program, atau adanya pengalaman negatif sebelumnya terhadap program pemberdayaan. Rendahnya partisipasi ini dapat menghambat jalannya siklus SAR, karena keberhasilan pendekatan ini sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat. Di beberapa kasus, perbedaan tujuan atau persepsi antaranggota komunitas juga dapat menimbulkan konflik internal yang menghambat proses pengambilan keputusan Bersama (UMA, 2024). Selain tantangan partisipasi, pelaksanaan SAR juga sering terbentur keterbatasan sumber daya, baik berupa pendanaan, tenaga pendamping, maupun sarana pendukung yang memadai. Proses SAR membutuhkan pendampingan jangka panjang agar masyarakat benar-benar mampu berdiri secara mandiri. Namun kenyataannya, keterbatasan sumber daya sering membuat program terhenti sebelum tujuannya tercapai. Tantangan lain muncul dari relasi kekuasaan yang tidak seimbang antara peneliti dan masyarakat. Ketika peneliti masih memegang kendali penuh terhadap desain program dan keputusan strategis, maka SAR kehilangan esensinya sebagai pendekatan partisipatif yang menempatkan masyarakat sebagai pemilik program. Walaupun demikian, tantangan tersebut dapat diatasi melalui strategi kolaboratif yang berfokus pada transparansi, komunikasi terbuka, dan peningkatan kapasitas lokal. Pelibatan tokoh masyarakat, penguatan struktur sosial, serta pendekatan yang menghargai nilai dan budaya lokal dapat membantu memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap program. Ketika Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 426-432 Socius E-ISSN: 3025-6704 masyarakat mulai merasakan kepemilikan dan memahami manfaat dari setiap tindakan yang dilakukan, keterlibatan mereka dalam program meningkat, sehingga efektivitas pelaksanaan program juga bertambah. Implikasi positif dari implementasi SAR dapat terlihat dari meningkatnya rasa percaya diri, kemampuan reflektif, solidaritas sosial, dan keberanian masyarakat untuk mengambil keputusan secara mandiri. Pada tahap ini, SAR tidak lagi sekadar menjadi metode penelitian, tetapi berkembang menjadi gerakan sosial yang mendorong transformasi berkelanjutan dan kemandirian komunitas (Zahra, n.d.). SIMPULAN Society Action Research (SAR) merupakan pendekatan penelitian sekaligus proses pemberdayaan yang menempatkan masyarakat sebagai pusat perubahan sosial. Melalui keterlibatan aktif dalam identifikasi masalah, perencanaan, tindakan, dan refleksi, SAR membangun kesadaran kritis dan memperkuat kapasitas komunitas untuk mengelola persoalan yang mereka hadapi secara mandiri. Pendekatan ini bukan hanya menghasilkan temuan akademik, tetapi juga menciptakan transformasi sosial yang berbasis pada pengalaman dan kebutuhan riil masyarakat. Pemberdayaan yang dilakukan dalam SAR terbukti mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, rasa percaya diri, solidaritas, serta kapasitas sosial masyarakat untuk mengambil keputusan yang berdampak pada kehidupan mereka. Kemandirian sosial menjadi bukti keberhasilan proses pemberdayaan ini, karena masyarakat tidak lagi bergantung pada pihak luar, tetapi mampu mengelola tindakan kolektif secara berkelanjutan. Strategi penguatan pemberdayaan melalui pengakuan potensi lokal, pendampingan kelompok, pelatihan kompetensi, penguatan nilai kearifan lokal, dan penyediaan sarana pendukung memberikan fondasi kuat bagi tumbuhnya komunitas yang berdaya dan mandiri. Meskipun implementasi SAR menghadapi berbagai tantangan, seperti rendahnya partisipasi, keterbatasan sumber daya, serta ketimpangan relasi kekuasaan, hambatan tersebut dapat diatasi melalui pendekatan yang kolaboratif, transparan, dan kontekstual. Keberhasilan SAR terletak pada kemampuan membangun kepercayaan, komitmen, dan rasa kepemilikan masyarakat terhadap program yang dijalankan. Dengan demikian, SAR bukan hanya menjadi metode penelitian, tetapi juga gerakan sosial yang memperkuat keberlanjutan pemberdayaan serta mendorong terciptanya masyarakat yang lebih mandiri, kritis, dan berdaya. REFERENSI Alim, W. S., Manullang, S. O., Aziz, F., Romadhon, S., Marganingsih, A., Ratnaningtyas, E. M., & Wulandari, R. (2022). Pemberdayaan Masyarakat : Konsep dan Strategi. Ambarsari, R., Dewi, R. K., Darmadja, S., & Maju, U. I. (2022). Pemberdayaan Masyarakat di Desa Berbasis Komunitas Received : 03-06-2022 dikembangkan untuk industri pariwisata sangat menjanjikan . Saat ini , industri pariwisata terbengkalai . Jelas , pertumbuhan industri pariwisata terkait erat dengan peningkatan sert. Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 2(6), 630– 637. Annisa, A. (n.d.). Pemberdayaan Komunitas: Pengertian, Tujuan, Prinsip, Siklus, Tahapan, Strategi dan Faktor [Lengkap + Contoh Soal]. Warung Sains Teknologi. https://share.google/veDLF3DjrU9liKYNO Arumka. (2025). Apa Itu Pemberdayaan Komunitas? Prinsip, Faktor, dan Contoh Nyata di Lapangan. Yayasan Inisiasi Alam Rehabiliasi. https://yiari.or.id/apa-itu-pemberdayaankomunitas/ Darwis, R. S. (2016). MEMBANGUN DESAIN DAN MODEL ACTIN RESEARCH DALAM STUDI DAN Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 426-432 Rifqi., at., al/ Analisis Konseptual Society Action AKASI PEMBERDAYAN MASYARAKAT. Jurnal Komunika, 10(1), 142–153. Edra, R. (2025). Pemberdayaaan Komunitas: Pengertian, Prinsip, Agen, Strategi & Tahapan. ruang guru. https://www.ruangguru.com/blog/prinsip-ruang-lingkup-dan-upayapemberdayaan-komunitas Kesrasetda, A. (2019). Pentingnya Pemberdyaan Sosial Masyarakat Di Masa Globalisasi. Kesrasetda. https://share.google/QEWJ5p9KVLFtbauvg Khoirunnisa, Mering, A., & Fadillah. (2013). PEMBINAAN KEMANDIRIAN SOSIAL PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN DI TK CAHAYA BERSERI PONTIANAK TIMUR. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, 80–85. Margayaningsih, D. I. (2018). PERAN MASYARAKAT DALAM KEGIATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DESADesa,. PUBLICIANA, 11, 72–88. Muslimin, A. I. (2020). Pendahuluan Era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat , semakin terbukanya. Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 16(1), 27–42. Noviar, I., & Priyanti, E. (2023). Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan Desa di Desa Warung Bambu Kecamatan Karawang Timur Kabupaten Karawang. Jurnal Pemerintahan dan Politiik, 8(3), 213–220. Rahmat, A., & Mirnawati, M. (2020). Model Participation Action Research dalam pemberdayaan Masyarakat. Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 06(01), 62–71. Rahmatullah1, A., Alfian, M., Zuhri2, Yani, N., & Yuningsih3. (2025). PERAN AKTOR LOKAL DAN HAMBATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DESA CIHEULANG KABUPATEN BANDUNG DALAM DINAMIKA KEBIJAKAN PUSAT DAN LOKAL TAHUN 2019-2025. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, 8, 5966–5974. Siswadi, & Syaifuddin, A. (2024). PENELITIAN TINDAKAN PARTISIPATIF METODE PAR ( PARTISIPATORY ACTION RESEARCH ) TANTANGAN DAN PELUANG DALAM PEMBERDAYAAN KOMUNITAS. Ummul Quro: Jurnal Institut Pesantren Sunan Drajat (INSUD) Lamongan, 19(02), 111–125. Tambunan, T. S. (2022). Analisis Partisipasi Masyarakat Guna Mendukung Pembangunan Masyarakat di Kota Medan. Jurnal Publisitas, 8(2), 105–115. UMA, B. (2024). Perencanaan Eksperimen dalam Penelitian Sosial; Tantangan dan Strategi untuk Hasil yang Optimal. bpmpp.uma.a.id. https://bpmpp.uma.ac.id/2024/09/26/perancanganeksperimen-dalam-penelitian-sosial-tantangan-dan-strategi-untuk-hasil-yang-optimal/ Wilona, K. A., Uniza, D., Putri, T. C. W., & Alfiani, Y. R. (2024). Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pelatihan Keterampilan Kreatif Untuk Ekonomi Berkelanjutan. JaIM : Jurnal Abdimas Imigrasi, 05. Zahra, S. (n.d.). Strategi Pemberdayaan Komunitas: Pendekatan dan Implementasi. Gramedia Blog. https://www.gramedia.com/literasi/strategi-pemberdayaan-komunitas-pendekatan-danimplementasi/