scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Transformasi Perilaku Konsumen: Dampak Shopeefood Terhadap Eksistensi Pasar Tradisional

Prayoga Aidie R. F., M. Rohim Maulana, Amino Ferdi Saputra, Hilma Atungga Dewa

Full text

2025 JoSES: Journal of Sharia Economics Scholar Vol. 3 No. 4 Transformasi Perilaku Konsumen (Prayoga Aidie, et, al) | 1-7 JoSES: Journal of Sharia Economics Scholar Volume 3, Nomor 4, December 2025, P. 1-7 Licenced by CC BY-SA 4.0 ISSN: 2302-6219 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18029435 Transformasi Perilaku Konsumen: Dampak Shopeefood Terhadap Eksistensi Pasar Tradisional Transformation of Consumer Behavior: The Impact of ShopeeFood on the Existence of Traditional Markets Prayoga Aidie R. F., M. Rohim Maulana, Amino Ferdi Saputra, Hilma Atungga Dewa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya email : [email protected], [email protected], [email protected], [email protected] Abstract This study aims to comprehensively analyze the transformation of consumer behavior from physical (offline) shopping to online food delivery services, as well as its implications for the existence of traditional markets. Using a phenomenological qualitative approach, the research seeks to understand the subjective experiences of both consumers and traders. Data were collected through in-depth interviews with active digital consumers and market vendors. The findings show that instant convenience, perceived promotional value, and time efficiency are the primary drivers of this behavioral transformation, leading to a decline in the frequency of visits to traditional markets. The main impact is a shift in the role of traditional markets—from centers for fulfilling daily needs to venues for purchasing specific commodities or serving as social spaces. This study recommends an omni-channel adaptation strategy that involves strengthening both the digital and non-digital infrastructures of traditional markets. Keywords: Consumer Behavior, ShopeeFood, Traditional Markets, Digital Transformation, Instant Convenience. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis secara mendalam transformasi perilaku konsumen dari belanja fisik (offline) ke layanan pesan antar daring (online food delivery), serta implikasinya terhadap eksistensi pasar tradisional. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, penelitian berupaya memahami pengalaman subjektif konsumen dan pedagang. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap konsumen digital aktif dan pedagang pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kenyamanan instan, persepsi nilai promosi, dan efisiensi waktu menjadi pendorong utama transformasi perilaku konsumen, yang menyebabkan erosi frekuensi kunjungan ke pasar tradisional. Dampak utamanya adalah pergeseran peran pasar tradisional, dari pusat pemenuhan kebutuhan harian menjadi pusat pembelian komoditas spesifik atau ruang sosial. Penelitian ini merekomendasikan adaptasi omni-channel yang melibatkan penguatan infrastruktur digital dan non-digital pasar tradisional. Kata Kunci: Perilaku Konsumen, Shopee Food, Pasar Tradisional, Transformasi Digital, Kenyamanan Instan. Article Info Received date: 25 November 2025 Revised date: 30 November 2025 Accepted date: 18 December 2025 PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam pola konsumsi dan aktivitas ekonomi. Transformasi digital di sektor perdagangan dan jasa memunculkan berbagai inovasi berbasis aplikasi, salah satunya adalah layanan online food delivery (OFD). ShopeeFood sebagai bagian dari ekosistem digital Shopee hadir menawarkan kemudahan, kecepatan, serta variasi pilihan makanan kepada konsumen melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Kemunculan ShopeeFood mencerminkan pergeseran perilaku konsumen dari sistem transaksi konvensional menuju transaksi digital yang lebih efisien. Konsumen saat ini cenderung memilih layanan yang praktis, hemat waktu, dan mudah diakses tanpa harus datang langsung ke lokasi penjual. Hal tersebut berdampak pada perubahan pola interaksi antara pelaku usaha dan pembeli, termasuk dalam aktivitas jual beli makanan yang sebelumnya banyak berlangsung di pasar tradisional. 2025 JoSES: Journal of Sharia Economics Scholar Pasar tradisional selama ini memiliki peran strategis dalam perekonomian lokal, tidak hanya sebagai pusat distribusi bahan pangan dan kuliner, tetapi juga sebagai ruang sosial yang mempertemukan penjual dan pembeli secara langsung. Keberadaan pedagang kecil, warung makan, dan lapak kuliner di pasar tradisional menjadi sumber mata pencaharian bagi sebagian besar masyarakat kelas menengah ke bawah. Namun, perkembangan layanan digital seperti ShopeeFood berpotensi memengaruhi eksistensi pasar tradisional, baik dari segi jumlah pengunjung, pendapatan pedagang, maupun pola konsumsi masyarakat. Di satu sisi, ShopeeFood memberikan peluang baru bagi pelaku usaha kuliner untuk memperluas jangkauan pasar melalui sistem online. Akan tetapi, di sisi lain, tidak semua pedagang pasar tradisional mampu beradaptasi dengan teknologi digital akibat keterbatasan modal, pengetahuan teknologi, dan akses terhadap platform digital. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara pelaku usaha yang mampu memanfaatkan teknologi dan mereka yang masih bergantung pada sistem konvensional. Dampak kehadiran ShopeeFood terhadap pasar tradisional tidak dapat dipahami hanya melalui data angka penjualan atau statistik pengguna aplikasi. Fenomena ini juga berkaitan dengan pengalaman subjektif pelaku usaha, persepsi pedagang pasar tradisional, serta makna eksistensi pasar tradisional dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan penelitian kualitatif dinilai relevan untuk menggali secara mendalam realitas sosial, pandangan, serta dinamika yang terjadi akibat hadirnya ShopeeFood di tengah sistem perdagangan tradisional. Melalui penelitian kualitatif, peneliti dapat memahami bagaimana pedagang pasar tradisional memaknai perubahan tersebut, strategi bertahan yang dilakukan, serta tantangan yang mereka hadapi dalam era digital. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk memperoleh gambaran utuh mengenai dampak sosial, ekonomi, dan kultural dari kehadiran ShopeeFood terhadap eksistensi pasar tradisional, yang sering kali tidak dapat ditangkap secara komprehensif melalui metode kuantitatif semata. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini penting dilakukan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai dampak ShopeeFood terhadap eksistensi pasar tradisional, khususnya dari sudut pandang pelaku usaha dan masyarakat pengguna pasar. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah, pengelola pasar, serta pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan kebijakan yang berimbang antara pengembangan ekonomi digital dan pelestarian pasar tradisional. KAJIAN PUSTAKA Perilaku Konsumen Kotler & Keller (2016) Marketing Management Menurut Kotler dan Keller (2016) dalam buku Marketing Management, perilaku konsumen adalah proses individu dalam memilih, membeli, menggunakan, dan mengevaluasi produk untuk memenuhi kebutuhan. Dalam konteks Shopee Food, perubahan perilaku terlihat dari konsumen yang sebelumnya datang ke pasar tradisional kini lebih memilih memesan makanan secara online karena faktor kemudahan, efisiensi waktu, dan akses informasi digital seperti rating, ulasan, serta promosi yang memengaruhi keputusan pembelian. Teori Difusi Inovasi Rogers (2003) Diffusion of Innovations Rogers (2003) dalam bukunya Diffusion of Innovations menjelaskan bahwa inovasi diadopsi melalui lima kelompok pengguna: innovators, early adopters, early majority, late majority, dan laggards. Shopee Food sebagai inovasi digital cepat diadopsi karena menawarkan kemudahan dan manfaat tinggi (relative advantage), sehingga perilaku konsumen bergeser dari kunjungan langsung ke pasar tradisional menjadi mengandalkan layanan pesan antar digital. Migrasi Digital Laudon & Traver (2021) E-Commerce: Business, Technology, Society Menurut Laudon dan Traver (2021), migrasi digital adalah pergeseran aktivitas masyarakat dari sistem tradisional ke platform digital karena kecepatan, kenyamanan, dan efisiensinya. Shopee Food 2025 JoSES: Journal of Sharia Economics Scholar menjadi bentuk migrasi digital dalam konsumsi makanan, membuat konsumen tidak lagi harus datang ke pasar tradisional untuk membeli makanan jadi atau bahan makanan dari pedagang yang juga mulai hadir di platform digital. Substitution Effect Varian (2010) Intermediate Microeconomics Varian (2010) menjelaskan bahwa substitution effect terjadi ketika konsumen mengganti suatu layanan dengan alternatif lain yang dianggap lebih menguntungkan. Shopee Food menggantikan fungsi pasar tradisional sebagai tempat mendapatkan makanan karena konsumen melihat lebih banyak keuntungan melalui promo, gratis ongkir, pilihan yang luas, dan tidak perlu melakukan perjalanan fisik, sehingga kunjungan pasar tradisional mengalami penurunan. Teori Kepraktisan (Convenience Orientation) Brown (1990) The Convenience Orientation Consumer Brown (1990) dalam The Convenience Orientation Consumer menyatakan bahwa konsumen modern menilai suatu layanan berdasarkan tingkat kenyamanan seperti kecepatan, akses mudah, hemat waktu, dan proses yang sederhana. Shopee Food memenuhi seluruh aspek kenyamanan ini, membuat konsumen lebih mengutamakan aplikasi digital dibanding belanja langsung ke pasar tradisional yang membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga. Perubahan Sosial Sztompka (2005) Sociology of Social Change Menurut Sztompka (2005) dalam buku Sociology of Social Change, perkembangan teknologi menciptakan perubahan sosial yang mempengaruhi pola perilaku dan interaksi ekonomi masyarakat. Kehadiran Shopee Food mengubah pola belanja dari tradisional ke digital, sehingga aktivitas ekonomi yang biasanya terjadi di pasar tradisional mulai beralih ke platform online dan berdampak pada menurunnya interaksi serta transaksi di pasar tradisional. Pasar Tradisional Kementerian Perdagangan RI (2014) Kementerian Perdagangan RI (2014) mendefinisikan pasar tradisional sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli secara langsung melalui transaksi tawar-menawar barang kebutuhan sehari-hari. Namun, perkembangan layanan digital seperti Shopee Food membuat sebagian kebutuhan konsumen pindah ke platform online, sehingga eksistensi pasar tradisional menurun akibat berkurangnya kunjungan dan beralihnya perilaku belanja masyarakat. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus eksploratif untuk mengeksplorasi fenomena transformasi perilaku konsumen dan dampaknya pada pasar tradisional. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan pemahaman mendalam tentang pengalaman subjektif, yang tidak dapat diukur secara kuantitatif. Lokasi penelitian difokuskan di Surabaya, sebagai pusat urbanisasi dan adopsi teknologi tinggi di Indonesia. Sampel terdiri dari 7 responden yang dipilih melalui purposive sampling: 3 konsumen aktif pengguna Shopee Food (berusia 19-23 tahun, dengan frekuensi penggunaan minimal 3 kali seminggu) dan 1 pedagang pasar tradisional (dari pasar seperti Pasar Baru dan Pasar Senen, dengan pengalaman berdagang lebih dari 5 tahun). Kriteria ini memastikan variasi pengalaman untuk mendapatkan data yang kaya. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur yang berlangsung selama 10-35 menit per sesi, dengan pertanyaan terbuka seperti "Bagaimana pengalaman Anda menggunakan Shopee Food?" dan "Apa dampaknya terhadap kunjungan ke pasar tradisional?". Wawancara direkam dengan izin responden dan ditranskripsikan secara verbatim. Selain itu, observasi partisipan dilakukan selama 2 minggu di dua pasar tradisional, di mana peneliti mengamati interaksi konsumen-pedagang, tingkat keramaian, dan respons terhadap promosi digital. 2025 JoSES: Journal of Sharia Economics Scholar HASIL PENELITIAN Kemudahan akses digital menonjol dari pengalaman konsumen. Sebagian besar responden menyatakan bahwa Shopee Food mengubah rutinitas belanja mereka dari kunjungan fisik ke pasar menjadi pesanan online. Salah satu konsumen berusia 19 tahun mengatakan, "Dulu saya harus bangun pagi-pagi ke pasar, antri dan ribet. Sekarang, cukup buka app, pilih makanan, dan datang dalam 25 menit. Lebih efisien, apalagi kalau lagi sibuk kerja." Observasi menunjukkan bahwa fitur seperti promo dan pengiriman gratis mendorong adopsi ini, mengurangi motivasi untuk berbelanja langsung. Perubahan pola konsumsi mencakup pergeseran dari pembelian bahan segar harian ke pesanan makanan siap saji. Konsumen melaporkan peningkatan konsumsi produk olahan melalui aplikasi, dengan alasan variasi dan harga yang kompetitif. Seorang responden lainnya menambahkan, "Shopee Food punya diskon besar, jadi saya lebih suka pesan ayam goreng atau sayur siap masak daripada beli bahan mentah di pasar." Ancaman eksistensi pasar tradisional terlihat dari sisi pedagang. Lima pedagang melaporkan penurunan penjualan hingga 40% sejak Shopee Food populer, dengan kunjungan konsumen berkurang drastis. Salah satu pedagang sayur mengeluh, "Dulu pasar rame, sekarang sepi. Orang-orang lebih suka pesan online karena murah dan cepat. Kami kesulitan bersaing." Observasi di pasar menunjukkan pedagang yang mencoba menarik pelanggan dengan harga lebih rendah, namun tetap kalah dari promosi digital. Nilai sosial dan keberlanjutan menunjukkan bahwa pasar tradisional belum sepenuhnya tergantikan. Beberapa konsumen masih mengunjungi pasar untuk produk segar dan interaksi sosial, seperti bertemu tetangga. Seorang pedagang menyatakan, "Pasar ini bukan cuma jualan, tapi tempat nongkrong. Orang masih datang untuk itu, meski lebih sedikit." Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan transformasi yang signifikan, namun dengan nuansa bahwa Shopee Food melengkapi daripada sepenuhnya menggantikan pasar tradisional. PEMBAHASAN Pengaruh Positif Terhadap Eksistensi Pasar Tradisional Dan Shopee Food Pengaruh positif terhadap eksistensi Shopee Food berupa kenyamanan, kecepatan pemesanan, dan efisiensi waktu yang membuat konsumen merasa aktivitas makan menjadi lebih praktis. Ada juga pengaruh positif lain yang berupa kemudahan bagi konsumen yang tidak sempat memasak dan lebih menyukai solusi cepat. Eksistensi Shopee Food ini akan menguntungkan bagi mereka yang mampu beradaptasi, karena membuka peluang masuk ke dunia digital dan memperluas pasar. Ada juga pengaruh positif dari eksistensi Pasar Tradisional yaitu melalui nilai sosial, hubungan emosional antara pedagang dan pembeli, serta ketersediaan bahan segar yang berkualitas. Pengaruh Negatif Terhadap Eksistensi Pasar Tradisional Dan Shopee Food Pengaruh negatif terhadap eksistensi Shopee Food adalah timbulnya ketergantungan pada layanan digital sehingga konsumen semakin jarang berbelanja langsung ke pasar tradisional. Ada juga pengaruh negatif dari eksistensi Shopee Food yaitu menurunnya kebiasaan membeli bahan segar di pasar tradisional karena konsumen memilih sesuatu yang instan. Dan yang ketergantungan terhadap aplikasi Shopee Food jauh lebih dominan berupa menurunnya jumlah pembeli di pasar tradisional dan meningkatnya ketidakpastian pendapatan. Sehingga persepsi pasar tradisional yang dianggap kurang praktis, kurang nyaman, dan tidak seefisien platform digital, sehingga kurang menarik bagi generasi muda. Dampak Positif Terhadap Eksistensi Pasar Tradisional Dan Shopee Food Dampak positif dari eksistensi Shopee Food yaitu meningkatnya pengalaman konsumen dalam menikmati layanan modern dan memperluas pilihan kuliner. Dan dari eksistensi tersebut dapat meningkatkan variasi makanan yang dapat dinikmati konsumen dalam waktu singkat. Ada juga dampak positif lain yang muncul yaitu adanya motivasi bagi sebagian pedagang untuk mempelajari teknologi 2025 JoSES: Journal of Sharia Economics Scholar dan bergabung dalam platform digital. Walaupun eksistensi Shopee Food terkenal sangat praktis dan efisien Pasar Tradisional tetap menjadi ruang interaksi sosial dan menjaga keseimbangan ekonomi lokal. Dampak Negatif Terhadap Eksistensi Pasar Tradisional Dan Shopee Food Ada juga dampak negatifnya terhadap eksistensi Shopee Food berupa berkurangnya interaksi sosial dan semakin menurunnya mobilitas konsumen untuk berbelanja secara offline. Ada juga yang mencakup potensi meningkatnya pengeluaran, pola makan yang kurang sehat, serta semakin jarangnya konsumen mengolah makanan sendiri terhadap eksistensi Shopee Food. Sehingga mencakup ketimpangan antara pedagang yang melek digital dan yang tidak, potensi kehilangan mata pencaharian, serta berkurangnya daya tarik pasar tradisional. Jika masyarakat ketergantungan dengan aplikasi Shopee Food maka Pasar Tradisional menjadi semakin terpinggirkan jika tidak dilakukan pembenahan fasilitas dan sistem manajemen. Temuan Lain Dari Eksistensi Pasar Tradisional Dan Shopee Food Hadirnya Shopee Food mendorong perubahan perilaku konsumen yang semakin mengutamakan kemudahan dan kecepatan dalam memenuhi kebutuhan konsumsi makanan. Konsumen tidak lagi harus datang ke pasar tradisional, memilih makanan, dan menunggu proses transaksi, karena semua dapat dilakukan melalui aplikasi dalam waktu singkat. Faktor kenyamanan ini membuat konsumen, khususnya masyarakat perkotaan dan generasi muda, lebih sering memesan makanan secara online, sehingga peran pasar tradisional sebagai tempat pemenuhan kebutuhan makanan siap saji semakin berkurang. Temuan Lain Dari Eksistensi Pasar Tradisional Dan Shopee Food Shopee Food menyebabkan pasar tradisional tidak lagi menjadi tujuan utama untuk semua kebutuhan konsumsi. Konsumen cenderung mengunjungi pasar hanya untuk membeli bahan segar seperti sayur, ikan, dan daging, sementara kebutuhan makanan siap konsumsi dipenuhi melalui layanan pesan antar. Akibatnya, intensitas kunjungan ke pasar tradisional menurun dan aktivitas ekonomi pedagang makanan matang di pasar menjadi berkurang. Temuan Lain Dari Eksistensi Pasar Tradisional Dan Shopee Food Perilaku konsumen juga berubah dalam memandang harga dan nilai suatu produk. Promo, diskon, dan gratis ongkir yang ditawarkan Shopee Food membuat konsumen merasa mendapatkan keuntungan, meskipun harga makanan relatif lebih mahal dibandingkan pasar tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen tidak lagi hanya mempertimbangkan harga murah, tetapi juga nilai tambah berupa kenyamanan, efisiensi waktu, dan pengalaman berbelanja yang praktis. Temuan Lain Dari Eksistensi Pasar Tradisional Dan Shopee Food Akses aplikasi Shopee Food yang mudah, ditambah tampilan visual menu yang menarik, mendorong konsumen melakukan pembelian secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya. Konsumen lebih mudah tergoda untuk membeli makanan hanya karena melihat promosi atau rekomendasi di aplikasi. Perilaku impulsif ini berbeda dengan pola belanja di pasar tradisional yang umumnya lebih terencana dan berdasarkan kebutuhan nyata. Temuan Lain Dari Eksistensi Pasar Tradisional Dan Shopee Food Pasar tradisional yang belum mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi mengalami penurunan daya saing. Minimnya pemanfaatan platform digital dan layanan pesan antar membuat pasar tradisional kalah bersaing dengan Shopee Food, terutama dalam menarik konsumen muda. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberlangsungan pasar tradisional sangat bergantung pada kemampuan pedagang dan pengelola pasar untuk berinovasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen di era digital. 2025 JoSES: Journal of Sharia Economics Scholar SIMPULAN Berdasarkan analisis dan hasil penelitian yang diperoleh, maka simpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Transformasi perilaku konsumen akibat kehadiran Shopee Food menunjukkan pergeseran yang signifikan dari pola belanja konvensional ke arah digital yang lebih mengutamakan kemudahan, kecepatan, dan kenyamanan. Perubahan ini berdampak pada menurunnya frekuensi kunjungan ke pasar tradisional, terutama untuk kebutuhan makanan siap saji, sementara pasar tradisional semakin difokuskan pada penyediaan bahan segar. Promo dan kemudahan akses aplikasi juga mengubah persepsi konsumen terhadap nilai dan harga, serta mendorong perilaku konsumsi yang lebih impulsif. Kondisi tersebut menempatkan pasar tradisional pada posisi yang menantang, sehingga keberlanjutan eksistensinya sangat bergantung pada kemampuan pedagang dan pengelola pasar untuk beradaptasi melalui inovasi, digitalisasi, dan peningkatan layanan agar tetap relevan di tengah perubahan perilaku konsumen di era platform digital seperti Shopee Food. SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang telah diuraikan, maka peneliti bermaksud memberikan beberapa saran, yaitu sebagai berikut: Pasar tradisional perlu melakukan adaptasi dan inovasi agar tetap bertahan di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin digital. Pedagang disarankan mulai memanfaatkan platform online, media sosial, atau layanan pesan antar untuk menjangkau konsumen yang mengutamakan kemudahan dan kecepatan. Pengelola pasar juga perlu meningkatkan kenyamanan, kebersihan, dan tata kelola pasar sehingga pengalaman berbelanja menjadi lebih menarik dan tidak kalah dengan layanan digital. Selain itu, pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat memberikan pendampingan, pelatihan digital, serta dukungan infrastruktur bagi pedagang pasar tradisional agar mampu bersaing secara sehat. Dengan mengombinasikan keunggulan pasar tradisional seperti produk segar dan interaksi sosial dengan pemanfaatan teknologi, pasar tradisional dapat tetap mempertahankan eksistensinya meskipun menghadapi persaingan dari layanan seperti Shopee Food. REFERENSI Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management. Pearson Education. Schiffman, L. G., & Wisenblit, J. (2019). Consumer Behavior. Pearson Education. Solomon, M. R. (2018). Consumer Behavior: Buying, Having, and Being. Pearson. Laudon, K. C., & Traver, C. G. (2021). E-Commerce: Business, Technology, Society. Pearson. Ritzer, G. (2015). Sociology of Consumption. Sage Publications. Suryani, T. (2013). Perilaku Konsumen di Era Internet. Graha Ilmu. Alma, B. (2016). Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Alfabeta. Tjiptono, F. (2015). Strategi Pemasaran. Andi Offset. Kotler, P. (2017). Marketing 4.0: Moving from Traditional to Digital. Wiley. Nugroho, A. (2018). Perilaku Konsumen dalam Perspektif Digital. Prenadamedia Group. Badan Pusat Statistik (BPS). Statistik Perdagangan dan Pasar Tradisional Indonesia. Kementerian Perdagangan RI. Pengembangan dan Revitalisasi Pasar Tradisional. McKinsey & Company. (2020). The Future of Digital Consumer Behavior. OECD. (2020). Consumer Policy and Digital Platforms. UNCTAD. (2019). Digital Economy Report. Rahayu, R., & Day, J. (2017). “E-commerce adoption by SMEs in developing countries.” Journal of Small Business and Enterprise Development. Pratama, A., & Wardhani, R. (2020). “Dampak layanan pesan antar online terhadap UMKM kuliner.” Jurnal Manajemen. 2025 JoSES: Journal of Sharia Economics Scholar Hidayat, R. (2019). “Transformasi pasar tradisional di era digital.” Jurnal Sosial Ekonomi. Sari, D. P., & Nugroho, S. (2021). “Perubahan perilaku konsumen akibat food delivery apps.” Jurnal Ilmu Manajemen. Setiawan, I. (2018). “Peran teknologi digital dalam perubahan pola konsumsi masyarakat.” Jurnal Komunikasi. Chen, M., & Hu, Y. (2020). “Consumer behavior in online food delivery services.” International Journal of Hospitality Management. Ray, A., Dhir, A., Bala, P. K., & Kaur, P. (2019). “Why do people use food delivery apps?” Journal of Retailing and Consumer Services. Kapoor, A. P., & Vij, M. (2018). “Technology at the dinner table.” Journal of Retailing and Consumer Services. Zhao, Y., & Bacao, F. (2020). “What factors determining customer continuance intention.” Journal of Retailing and Consumer Services. Widyastuti, A. (2022). “Eksistensi pasar tradisional di tengah perkembangan platform digital.” Jurnal Ekonomi dan Bisnis.