Skrining Kesehatan Remaja Kolaborasi Institut Kesehatan Helvetia Medan dan Universiti Sultan Zainal Abidin Malaysia di SMP Amanah 1 Medan
Full text
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Skrining Kesehatan Remaja (Fitri Aidani Ulfa Harahap, dkk.) |159-166 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Volume 4, Nomor 9, Desember 2025, Halaman 159-166 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18041776 Skrining Kesehatan Remaja Kolaborasi Institut Kesehatan Helvetia Medan dan Universiti Sultan Zainal Abidin Malaysia di SMP Amanah 1 Medan Adolescent Health Screening: A Collaborative Program between the Helvetia Institute of Health, Medan, and Universiti Sultan Zainal Abidin, Malaysia, at SMP Amanah 1 Medan Fitri Aidani Ulfa Harahap, Ekawaty Suryani Mastari Fakultas Kedokteran, Institut Kesehatan Helvetia Email: [email protected] Abstrak Skrining kesehatan remaja merupakan langkah penting dalam deteksi dini masalah kesehatan yang umum terjadi pada siswa usia sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kolaborasi akademik antara Institut Kesehetan Helvetia (IKH) Medan dan Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA) Malaysia sebagai bagian dari pengabdian masyarakat berbasis kerja sama internasional. Program skrining yang dilakukan di SMP Amanah 1 meliputi pemeriksaan antropometri, tekanan darah, kebersihan diri, status gizi, dan keluhan kesehatan dasar. Tujuan kegiatan ini adalah memperoleh gambaran status kesehatan siswa sekaligus meningkatkan kesadaran mereka terhadap pentingnya perilaku hidup sehat. Metode pelaksanaan dilakukan secara terstruktur melalui pemeriksaan langsung, wawancara singkat, dan edukasi kesehatan. Hasil skrining menunjukkan masih ditemukannya risiko gangguan gizi dan kebiasaan hidup kurang sehat pada sebagian siswa. Kolaborasi akademik internasional memperkuat kualitas pelaksanaan skrining melalui pertukaran praktik pemeriksaan dan pendekatan edukatif. Kegiatan ini diharapkan menjadi model promotif–preventif yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah lainnya. Secara keseluruhan, program skrining ini memberikan kontribusi nyata dalam upaya peningkatan kesehatan remaja sekolah. Selain itu, kegiatan ini meningkatkan pemahaman siswa terhadap pentingnya pemantauan kesehatan secara berkala. Program ini juga memperkuat kapasitas guru dalam mendukung pembiasaan hidup sehat di sekolah. Kolaborasi lintas negara memberikan pengalaman akademik berharga bagi tim pelaksana. Temuan skrining dapat menjadi dasar pengembangan intervensi kesehatan lanjutan yang lebih terarah. Dengan demikian, skrining kesehatan berbasis kolaborasi internasional memiliki potensi besar untuk memperkuat kesehatan remaja dalam jangka panjang. Kata kunci: Skrining Kesehatan, Remaja Sekolah, Kolaborasi Akademik, Internasional Abstract Adolescent health screening is an important strategy for the early detection of common health problems among school-aged students. This activity was conducted through an academic collaboration between the Institut Kesehatan Helvetia (IKH) Medan, Indonesia, and Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia, as part of an international community engagement program. The health screening program implemented at SMP Amanah 1 included anthropometric measurements, blood pressure assessment, personal hygiene evaluation, nutritional status assessment, and identification of basic health complaints. The purpose of this activity was to obtain an overview of students’ health status while simultaneously increasing their awareness of the importance of healthy lifestyle behaviors. The program was carried out using a structured approach involving direct physical examinations, brief interviews, and health education sessions. The screening results indicated that a proportion of students were still at risk of nutritional problems and exhibited unhealthy lifestyle habits. International academic collaboration enhanced the quality of the screening process through the exchange of examination practices and educational approaches. This activity is expected to serve as a promotive–preventive model that can be implemented in other school settings. Overall, the screening program made a meaningful contribution to efforts to improve adolescent health, increased students’ understanding of the importance of regular health monitoring, and strengthened teachers’ capacity to support healthy habits at school. Furthermore, the screening findings may serve as a basis for developing more targeted follow-up health interventions. Thus, health screening based on international collaboration has significant potential to strengthen adolescent health in the long term. Keywords: Health Screening, Adolescents School, Academic Collaboration, International Article Info Received date: 25 November 2025 Revised date: 30 November 2025 Accepted date: 18 December 2025
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Skrining Kesehatan Remaja (Fitri Aidani Ulfa Harahap, dkk.) |159-166 PENDAHULUAN Remaja sekolah merupakan kelompok yang berada pada tahap perkembangan biologis, psikologis, dan sosial yang cepat sehingga memerlukan perhatian khusus dalam aspek kesehatan. Pada periode ini, berbagai masalah seperti gangguan gizi, kebersihan diri yang kurang optimal, tekanan darah yang tidak stabil, dan keluhan somatik ringan seringkali muncul tanpa disadari. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan belajar, konsentrasi, serta partisipasi siswa dalam kegiatan akademik. Oleh karena itu, pemantauan kesehatan secara teratur menjadi elemen penting dalam mendukung tumbuh kembang remaja secara optimal. Skrining kesehatan berbasis sekolah merupakan salah satu strategi efektif dalam upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan masyarakat. Melalui pemeriksaan sederhana namun sistematis, sekolah dapat mengidentifikasi potensi risiko kesehatan sejak dini, sehingga intervensi dapat segera diberikan sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Program skrining yang dilaksanakan secara berkala juga memberikan gambaran objektif mengenai kondisi kesehatan populasi remaja di suatu wilayah. Pendekatan ini telah diterapkan di berbagai negara sebagai bagian dari komitmen untuk meningkatkan kesehatan anak dan remaja. Selain faktor biologis, kesehatan remaja juga dipengaruhi oleh determinan sosial dan lingkungan sekolah. Pola interaksi sebaya, beban akademik, kebiasaan penggunaan gawai, serta akses terhadap informasi kesehatan berperan penting dalam membentuk perilaku hidup sehari-hari. Tanpa pendampingan yang memadai, remaja berisiko mengembangkan kebiasaan yang berdampak negatif terhadap kesehatan fisik maupun psikososial. Oleh karena itu, sekolah memiliki peran strategis sebagai lingkungan intervensi yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai wahana pembentukan perilaku sehat yang berkelanjutan. Di sisi lain, keterlibatan institusi pendidikan tinggi dalam kegiatan skrining kesehatan sekolah memberikan nilai tambah dalam penguatan evidence-based practice di bidang kesehatan masyarakat. Perguruan tinggi memiliki sumber daya akademik yang memungkinkan pelaksanaan skrining secara sistematis, terdokumentasi, dan berbasis keilmuan. Kegiatan pengabdian masyarakat yang terintegrasi dengan skrining kesehatan juga membuka peluang pemanfaatan data sebagai dasar pengembangan program kesehatan sekolah yang lebih terarah. Dengan demikian, sinergi antara sekolah dan perguruan tinggi menjadi pendekatan strategis dalam memperkuat sistem promosi dan pencegahan kesehatan remaja secara berkelanjutan. Dalam konteks Indonesia, program kesehatan sekolah seperti UKS telah diinisiasi pemerintah untuk mendukung pembentukan perilaku hidup sehat pada peserta didik. Namun, implementasi program tersebut belum merata, terutama dalam aspek pemeriksaan kesehatan yang terstruktur dan terdokumentasi. Banyak sekolah yang belum memiliki tenaga dan fasilitas yang memadai untuk melakukan skrining secara rutin. Kondisi ini menyebabkan beberapa masalah kesehatan ringan tidak terdeteksi dan berpotensi mengganggu proses belajar siswa jika dibiarkan dalam jangka panjang. Kolaborasi akademik antara institusi pendidikan tinggi Indonesia dan institusi pendidikan tinggi internasional menjadi salah satu pendekatan yang dapat mengatasi kesenjangan tersebut. Melalui kerja sama lintas negara, program skrining dapat dilaksanakan dengan standar pemeriksaan yang lebih baik, materi edukasi yang lebih variatif, serta pendekatan komunikasi kesehatan yang lebih efektif. Kemitraan seperti yang terjalin antara tim Institut Kesehatan Helvetia (IKH) Medan dan Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA) Malaysia memberikan nilai tambah dalam pembelajaran mahasiswa, penguatan kapasitas dosen, serta peningkatan mutu pengabdian masyarakat. SMP Amanah 1 dipilih sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan karena sekolah ini belum memiliki program skrining kesehatan rutin dan memerlukan dukungan dalam meningkatkan literasi kesehatan siswa. Lingkungan sekolah yang heterogen, baik dari latar belakang sosial ekonomi maupun kebiasaan hidup siswa, memberikan gambaran yang representatif mengenai kondisi kesehatan remaja di wilayah tersebut. Selain itu, pihak sekolah menunjukkan komitmen tinggi untuk berkolaborasi dalam
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Skrining Kesehatan Remaja (Fitri Aidani Ulfa Harahap, dkk.) |159-166 pengembangan program kesehatan siswa, sehingga kegiatan ini dapat berjalan secara efektif dan partisipatif. Kegiatan skrining yang dilakukan meliputi pemeriksaan antropometri, pengukuran tekanan darah, penilaian kebersihan diri, serta wawancara singkat terkait keluhan kesehatan. Pemeriksaan tersebut dipilih karena merupakan indikator dasar yang mampu memberikan gambaran menyeluruh mengenai status kesehatan remaja. Data hasil pemeriksaan kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi masalah yang paling dominan, seperti gangguan gizi, pola hidup tidak sehat, atau kebiasaan perawatan diri yang kurang. Informasi ini menjadi dasar penting dalam merancang intervensi lanjutan yang sesuai kebutuhan siswa. Selain pemeriksaan, kegiatan ini juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai pentingnya menjaga kesehatan. Edukasi diberikan melalui pendekatan komunikasi yang menarik, interaktif, dan mudah dipahami oleh remaja. Materi yang disampaikan mencakup pola makan sehat, kebersihan diri, aktivitas fisik, dan pentingnya memantau kesehatan secara berkala. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya mendeteksi masalah tetapi juga mendorong perubahan perilaku ke arah yang lebih sehat. Secara keseluruhan, pelaksanaan skrining kesehatan melalui kolaborasi IKH–UniSZA di SMP Amanah 1 bertujuan memperkuat upaya promotif–preventif di lingkungan sekolah. Program ini memberikan manfaat tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi sekolah melalui peningkatan kapasitas UKS dan bagi institusi pendidikan melalui penguatan kerja sama internasional. Melalui kegiatan ini, diharapkan sekolah dapat memiliki gambaran komprehensif mengenai status kesehatan siswanya serta mampu mengembangkan strategi kesehatan berkelanjutan yang relevan dengan kebutuhan remaja. Pendekatan komprehensif dan kolaboratif ini menjadi contoh model pengabdian masyarakat yang dapat direplikasi di sekolah lain. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan melalui pendekatan promotif–preventif yang diarahkan pada upaya deteksi dini kondisi kesehatan siswa melalui skrining berbasis sekolah. Program dirancang oleh tim dosen dan mahasiswa dari Institut Kesehatan Helvetia (IKH) Medan bersama Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA) Malaysia sebagai bagian dari kolaborasi akademik internasional. Metode pelaksanaan melibatkan rangkaian pemeriksaan kesehatan, wawancara singkat mengenai kebiasaan hidup, edukasi kesehatan, serta pendokumentasian hasil pemeriksaan secara sistematis. Seluruh proses dirancang untuk memastikan bahwa data yang diperoleh mampu menggambarkan kondisi kesehatan siswa secara akurat dan dapat digunakan sebagai dasar intervensi kesehatan lanjutan. Pelaksanaan kegiatan juga memperhatikan aspek etis dan partisipatif, di mana siswa diberikan penjelasan mengenai tujuan pemeriksaan dan proses yang akan dilakukan sebelum kegiatan dimulai. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan kenyamanan siswa selama pemeriksaan serta memastikan partisipasi yang bersifat sukarela. Selain itu, keterlibatan kedua institusi akademik memungkinkan penggunaan metode skrining yang lebih terstandar, sekaligus memperkaya pengalaman mahasiswa melalui praktik lapangan lintas negara. Integrasi antara pemeriksaan kesehatan dan edukasi langsung diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap peningkatan perilaku hidup sehat siswa. Tahap Pelaksanaan 1. Pengumpulan data awal dan koordinasi dengan pihak sekolah Tim melakukan identifikasi jumlah siswa, kebutuhan pemeriksaan, dan penjadwalan kegiatan melalui koordinasi dengan pihak sekolah serta tenaga kesehatan setempat. 2. Penyusunan instrumen skrining dan materi edukasi
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Skrining Kesehatan Remaja (Fitri Aidani Ulfa Harahap, dkk.) |159-166 Instrumen pemeriksaan disusun meliputi lembar pengukuran antropometri, pengukuran tekanan darah, penilaian kebersihan diri, status gizi, dan riwayat keluhan kesehatan siswa. Materi edukasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat turut disiapkan. 3. Persiapan alat dan logistik pemeriksaan Tim mempersiapkan alat meliputi timbangan digital, pengukur tinggi badan, tensimeter, formulir skrining, serta media edukasi. Pembagian tugas dilakukan antara tim IKH dan UniSZA. 4. Pelaksanaan skrining kesehatan siswa Pemeriksaan dilakukan secara langsung di ruang kelas dan lapangan sekolah dengan alur: registrasi siswa, pengukuran antropometri, pengukuran tekanan darah, observasi kebersihan diri, dan wawancara singkat mengenai kebiasaan dan keluhan kesehatan. 5. Penyampaian edukasi kesehatan Setelah pemeriksaan, siswa diberikan edukasi mengenai pentingnya pola makan sehat, kebersihan diri, aktivitas fisik, serta pemantauan kesehatan rutin. Pendekatan edukatif dilakukan secara interaktif oleh tim IKH–UniSZA. 6. Pendokumentasian hasil dan pemberian umpan balik Hasil skrining dicatat ke dalam lembar penilaian dan direkap untuk dianalisis. Siswa yang ditemukan memiliki risiko kesehatan tertentu diberikan saran tindak lanjut sederhana dan dianjurkan merujuk ke fasilitas kesehatan bila diperlukan. Setelah seluruh tahapan pelaksanaan dilakukan, tim melaksanakan proses monitoring internal untuk memastikan bahwa setiap rangkaian kegiatan sesuai dengan standar pemeriksaan kesehatan yang telah disepakati. Proses monitoring ini mencakup pengecekan ulang kelengkapan data, konsistensi teknik pemeriksaan, serta validitas hasil pengukuran. Kehadiran tim dari dua institusi akademik memungkinkan adanya cross-check metode sehingga kualitas data yang diperoleh lebih terjamin. Selain itu, dinamika interaksi selama kegiatan menjadi bahan evaluasi penting untuk mengetahui efektivitas strategi komunikasi yang digunakan dalam menyampaikan edukasi kesehatan kepada siswa. Hasil monitoring ini selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk menyusun rekomendasi peningkatan program di masa mendatang. Setelah proses analisis awal dilakukan, tim menyusun laporan hasil skrining yang kemudian disampaikan kepada pihak sekolah sebagai umpan balik komprehensif terkait kondisi kesehatan siswa. Laporan tersebut tidak hanya memuat temuan pemeriksaan, tetapi juga mencakup saran tindak lanjut dan peluang pengembangan program kesehatan sekolah yang berkelanjutan. Pihak sekolah diharapkan dapat memanfaatkan hasil tersebut sebagai dasar penguatan kegiatan UKS, penyusunan program kesehatan tahunan, maupun kolaborasi lanjutan dengan institusi pendidikan atau fasilitas kesehatan setempat. Melalui penyampaian laporan dan diskusi bersama pihak sekolah, program ini berupaya memastikan bahwa kegiatan skrining tidak berhenti sebagai intervensi sesaat, tetapi berkontribusi terhadap pembentukan lingkungan sekolah yang lebih sehat dan responsif terhadap kebutuhan kesehatan siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil skrining kesehatan yang dilakukan pada siswa SMP Amanah 1 menunjukkan variasi kondisi kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian. Pemeriksaan antropometri mengidentifikasi sebagian siswa berada pada kategori indeks massa tubuh yang tidak sesuai dengan rentang usia, baik dalam bentuk berat badan kurang maupun berlebih. Temuan ini sejalan dengan kecenderungan masalah gizi pada remaja yang dipengaruhi oleh pola makan, kebiasaan konsumsi jajanan, serta aktivitas fisik harian. Selain itu, pengukuran tekanan darah menunjukkan bahwa beberapa siswa berada pada batas nilai pra-hipertensi, meskipun belum disertai keluhan klinis. Kondisi ini penting untuk dipantau karena
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Skrining Kesehatan Remaja (Fitri Aidani Ulfa Harahap, dkk.) |159-166 dapat berkembang menjadi masalah kesehatan jangka panjang apabila tidak diberikan edukasi dan perubahan perilaku sejak dini. Aspek kebersihan diri juga menunjukkan variasi yang cukup jelas antar siswa. Masih ditemukan siswa dengan kebersihan kuku dan rambut yang kurang optimal serta penggunaan atribut sekolah yang belum memenuhi standar kebersihan dasar. Faktor ini berkaitan erat dengan pengetahuan mengenai perawatan diri dan kebiasaan sehari-hari di lingkungan rumah. Wawancara singkat mengungkapkan bahwa sebagian siswa memiliki kebiasaan makan tidak teratur, keterbatasan konsumsi sayur dan buah, serta minimnya aktivitas fisik. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan dalam literasi kesehatan dan praktik hidup sehat yang perlu diperkuat melalui program edukasi berkelanjutan. Kolaborasi akademik antara tim IKH Medan dan UniSZA Malaysia memperkuat kualitas pelaksanaan skrining melalui penerapan metode pemeriksaan yang terstandarisasi dan penggunaan pendekatan edukatif yang lebih variatif. Pertukaran pengalaman antar institusi meningkatkan kemampuan tim dalam melakukan asesmen kesehatan secara sistematis serta memperkaya materi edukasi yang disampaikan kepada siswa. Selain itu, kegiatan skrining ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk memahami kondisi kesehatannya secara langsung dan meningkatkan kesadaran mereka terhadap perilaku hidup sehat. Temuan-temuan yang diperoleh sejalan dengan bukti empiris bahwa intervensi berbasis sekolah merupakan strategi efektif dalam memperkuat upaya promotif dan preventif pada remaja. Gambar 1 Pengukuran Tekanan Darah Pengukuran Tekanan Darah Kegiatan pengukuran tekanan darah dilakukan sebagai bagian dari skrining dasar untuk mendeteksi risiko awal gangguan kardiovaskular pada remaja. Pemeriksaan dilakukan menggunakan tensimeter dengan prosedur yang terstandar dan posisi siswa dalam keadaan istirahat. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berada dalam rentang tekanan darah normal, namun ditemukan pula beberapa siswa dengan nilai mendekati batas pra-hipertensi. Temuan ini penting mengingat perubahan gaya hidup, pola makan tinggi garam, serta kurangnya aktivitas fisik pada remaja dapat meningkatkan risiko gangguan tekanan darah di kemudian hari. Oleh karena itu, hasil pengukuran ini menjadi dasar penting dalam pemberian edukasi terkait pola hidup sehat dan pemantauan kesehatan secara berkala.
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Skrining Kesehatan Remaja (Fitri Aidani Ulfa Harahap, dkk.) |159-166 Gambar 2 Pengukuran Antropometri dan Wawancara Pengukuran Atropometri dan Wawancara Pengukuran antropometri yang meliputi tinggi badan dan berat badan dilakukan untuk menilai status gizi siswa berdasarkan indeks massa tubuh sesuai usia. Kegiatan ini memberikan gambaran objektif mengenai kondisi pertumbuhan dan keseimbangan gizi remaja di SMP Amanah 1. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya variasi status gizi, mulai dari kategori normal hingga berat badan kurang dan berlebih. Kondisi tersebut mencerminkan pengaruh kebiasaan makan, konsumsi jajanan, serta aktivitas fisik siswa sehari-hari. Temuan antropometri ini sejalan dengan hasil wawancara kebiasaan hidup dan menegaskan pentingnya intervensi gizi sejak usia sekolah. Wawancara kesehatan dilakukan secara singkat dan terarah untuk menggali informasi mengenai kebiasaan hidup, pola makan, aktivitas fisik, serta keluhan kesehatan yang dirasakan siswa. Melalui pendekatan komunikasi yang ramah dan sesuai usia, siswa dapat menyampaikan informasi secara lebih terbuka. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian siswa memiliki kebiasaan makan tidak teratur, jarang mengonsumsi sayur dan buah, serta kurang melakukan aktivitas fisik. Selain itu, beberapa siswa mengeluhkan keluhan ringan seperti mudah lelah dan pusing. Informasi ini melengkapi data pemeriksaan fisik dan memperkuat pemahaman mengenai faktor perilaku yang memengaruhi kondisi kesehatan siswa. Gambar 3 Pemeriksaan Kesehatan Pemeriksaan Kesehatan Pemeriksaan kesehatan umum meliputi observasi kebersihan diri, kondisi fisik dasar, serta identifikasi keluhan kesehatan sederhana. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai aspek kesehatan yang sering terabaikan namun berpengaruh terhadap kenyamanan dan produktivitas belajar siswa. Hasil pemeriksaan menunjukkan masih ditemukannya siswa dengan kebersihan diri yang kurang optimal, seperti kebersihan kuku dan rambut. Kondisi ini berkaitan dengan kebiasaan perawatan diri di rumah dan tingkat pengetahuan kesehatan siswa. Temuan tersebut menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan di sekolah berperan penting dalam mendeteksi masalah sederhana yang dapat berdampak jangka panjang apabila tidak ditangani.
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Skrining Kesehatan Remaja (Fitri Aidani Ulfa Harahap, dkk.) |159-166 Gambar 4 Edukasi dan Penyuluhan Kesehatan Edukasi dan Penyuluhan Kesehatan Edukasi dan penyuluhan kesehatan diberikan sebagai tindak lanjut dari hasil skrining dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa terhadap pentingnya perilaku hidup sehat. Materi edukasi disampaikan secara interaktif dan disesuaikan dengan kondisi serta temuan pemeriksaan kesehatan siswa. Topik yang dibahas meliputi pola makan seimbang, kebersihan diri, aktivitas fisik, serta pentingnya memantau kesehatan secara rutin. Kegiatan ini tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga mendorong siswa untuk merefleksikan kebiasaan sehari-hari yang berpengaruh terhadap kesehatannya. Dengan adanya edukasi langsung di lingkungan sekolah, diharapkan terjadi perubahan perilaku kesehatan yang lebih positif dan berkelanjutan. Secara keseluruhan, kegiatan ini menunjukkan bahwa skrining kesehatan di sekolah tidak hanya memberikan gambaran situasi kesehatan siswa, tetapi juga menjadi titik awal untuk merancang intervensi berkelanjutan. Pihak sekolah dapat memanfaatkan hasil skrining sebagai dasar untuk memperkuat program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), merancang kegiatan edukasi lanjutan, dan memperluas kerja sama dengan institusi akademik atau fasilitas kesehatan. Dengan demikian, program ini berpotensi menjadi model pengabdian masyarakat berbasis kolaborasi internasional yang relevan untuk diterapkan pada sekolah lain dengan karakteristik serupa. SIMPULAN Pelaksanaan skrining kesehatan melalui kolaborasi akademik IKH–UniSZA di SMP Amanah 1 memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi kesehatan siswa serta menunjukkan adanya kebutuhan intervensi lanjutan dalam aspek gizi, kebersihan diri, dan pemantauan tekanan darah. Kegiatan ini tidak hanya berhasil mengidentifikasi potensi risiko kesehatan pada remaja, tetapi juga meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya perilaku hidup sehat melalui edukasi langsung yang diberikan selama kegiatan berlangsung. Kolaborasi internasional memperkuat mutu pelaksanaan skrining melalui pertukaran pendekatan pemeriksaan dan strategi edukatif yang lebih efektif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa skrining kesehatan berbasis sekolah merupakan langkah strategis dalam mendukung upaya promotif–preventif bagi remaja. Program ini diharapkan dapat menjadi model implementasi berkelanjutan yang mampu memperkuat kapasitas sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan responsif terhadap kebutuhan kesehatan siswa. SARAN Berdasarkan hasil pelaksanaan skrining kesehatan di SMP Amanah 1, disarankan agar pihak sekolah mengembangkan program skrining kesehatan siswa secara rutin dan terintegrasi dengan kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Pemantauan berkala terhadap status gizi, tekanan darah, dan kebersihan diri siswa perlu dilakukan untuk mendeteksi risiko kesehatan sejak dini. Sekolah juga diharapkan dapat meningkatkan peran guru dan petugas UKS dalam mendukung pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah. Hasil skrining sebaiknya dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan kegiatan edukasi kesehatan yang berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Kerja
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Skrining Kesehatan Remaja (Fitri Aidani Ulfa Harahap, dkk.) |159-166 sama dengan fasilitas kesehatan setempat perlu diperkuat untuk mendukung tindak lanjut siswa yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Selain itu, keterlibatan orang tua penting untuk memastikan penerapan perilaku hidup sehat di lingkungan rumah. Perguruan tinggi diharapkan terus berperan aktif dalam pendampingan dan penguatan kapasitas sekolah melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Kolaborasi internasional seperti yang dilakukan antara IKH dan UniSZA perlu dipertahankan dan dikembangkan sebagai model peningkatan mutu program kesehatan sekolah. Pemanfaatan data hasil skrining dapat diarahkan untuk pengembangan intervensi kesehatan berbasis bukti. Penggunaan metode edukasi yang interaktif perlu terus ditingkatkan agar pesan kesehatan lebih mudah dipahami oleh remaja. Evaluasi berkala terhadap efektivitas program kesehatan sekolah juga perlu dilakukan. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan upaya promotif–preventif kesehatan remaja dapat berjalan secara berkelanjutan. UCAPAN TERIMAKASIH Kami mengucapkan terima kasih kepada SMP Swasta Amanah 1 Medan yang telah memberikan dukungan penuh serta memfasilitasi pelaksanaan kegiatan skrining kesehatan ini. Apresiasi yang tinggi juga disampaikan kepada seluruh siswa yang telah berpartisipasi secara aktif dan kooperatif selama proses pemeriksaan kesehatan dan edukasi berlangsung. Partisipasi siswa sangat berperan dalam kelancaran kegiatan serta pencapaian tujuan program. Antusiasme siswa menunjukkan tingginya minat terhadap upaya peningkatan kesehatan di lingkungan sekolah. Dukungan dari pihak sekolah menjadi faktor penting dalam keberhasilan kegiatan ini. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada para guru SMP Swasta Amanah 1 Medan yang telah membantu dalam proses pendampingan siswa selama kegiatan berlangsung. Peran guru sangat membantu dalam menciptakan suasana kegiatan yang tertib dan kondusif. Dukungan tersebut berkontribusi dalam memastikan kegiatan berjalan sesuai dengan perencanaan. Tanpa kerja sama dan dedikasi seluruh pihak yang terlibat, program ini tidak akan terlaksana dengan baik dan optimal. REFERENSI Azwar, A. (2015) Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta: Binarupa Aksara. Budihardjo, S. (2017) Kesehatan Remaja dan Faktor yang Mempengaruhinya. Bandung: Alfabeta. Darmojo, R. & Sulaiman, S. (2016) Dasar-dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta. Depkes RI. (2014) Pedoman Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Notoatmodjo, S. (2012) Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Mubarak, W.I. & Chayatin, N. (2013) Ilmu Kesehatan Masyarakat: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika. Wawan, A. & Dewi, M. (2018) Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika. Soekidjo, N. (2010) Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Mulyadi, M. (2019) Kesehatan Sekolah: Konsep dan Implementasi Program UKS. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Anwar, F. & Prawirohartono, E.P. (2016) Gizi Remaja: Konsep, Masalah, dan Penanggulangannya. Jakarta: EGC. World Health Organization (WHO). (2021) Global School Health Initiative: Promoting Health Through Schools. Geneva: WHO Press. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020) Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Sekolah dan Remaja. Jakarta: Kemenkes RI. Rahmawati, D. & Yuliana, L. (2019) ‘Hubungan Pola Hidup dengan Status Kesehatan Remaja di Sekolah Menengah Pertama’, Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 14(2), pp. 85–93.